Akur

Aku rasa Oma bisa tertawa dari surga sana, karena 4 anak – cucunya hingga saat ini baik-baik saja dan akur. “Akur” bukan kata yang dimiliki semua keluarga, terutama yang kemudian anaknya berpencar – kuliah beda jurusan – menikah – beranak – dsb. Pasti banyak hal terjadi yang membuat setiap individu menjadi pribadi yang berbeda dari sebelumnya, ada banyak debat & diskusi, tapi selalu ada lebiiiih banyak lagi stock maaf dan kasih sehingga ujung-ujungnya kumpul lagi, ngakak lagi, pelukan lagi.

Begitulah sebuah keluarga; kalau basicnya bagus, dasarnya kuat & hangat, maka akan selalu ada kata “akur”. Dan ada Oma dibalik keberhasilan keluarga ini solid puluhan tahun.

Ah, we love you Oma.

 

Kekejaman Terhadap Makanan :p

Menarik melihat beberapa orang makan makanan Jepang.

Diublek (seperti makan bibimbab). Kemudian dipenyet (seperti bikin lemper). Kemudian disendok.

Lalu dia berjalan, ambil baaaaaaanyak sekali rajangan cabe. Plus cabe bubuk. Diakhiri dengan menuang ‘kecap’ sebanyak-banyaknya (lu pikir soto?!).

‘Kekejaman’ ini setara dengan mengetahui ada orang pesan steak, daging import, well done dan dimakan dengan saus sambal botolan.

Tapi aku masih menghargai siapapun yang ‘merusak’ makanannya dengan 1001 cara demi bisa mendapatkan kenikmatan yang dia inginkan, sehingga makanan tersebut akhirnya habis (dibandingkan dengan orang yang membuang-buang makanan begitu saja..).

Sekian :p.

Candi Tebing Gunung Kawi

Candi Tebing Gunung Kawi diperkirakan telah dibangun sejak pertengahan abad ke-11 Masehi, pada masa dinasti Warmadewa. Pembangunan candi ini diperkirakan dimulai pada masa pemerintahan Raja Sri Haji Paduka Dharmawangsa Marakata Pangkaja Stanattunggadewa (944-948 Ç) dan berakhir pada pemerintahan Raja Anak Wungsu (971-999 Ç). Candi ini ditemukan kembali oleh peneliti Belanda sekitar tahun 1920.

Prasasti Tengkulak 945 Ç menyebut bahwa di tepi Sungai Pakerisan terdapat sebuah kompleks pertapaan (kantyangan) bernama Amarawati. Para arkeolog berpendapat, Amarawati mengacu pada kawasan tempat Candi Tebing Gunung Kawi ini berada.

Secara garis besar, Prasasti Tengkulak A menyatakan bahwa pada tahun 945 Saka, wakil-wakil desa Songan Tambahan menyampaikan kepada raja Marakata bahwa sejak masa pemerintahan Gunapriyadharmapatni dan Udayana Warmadewa, mereka ditugasi menyelenggarakan atau memelihara katyagan (asrama pendeta) Amarawati di tepi sungai Pakrisan.

Sejak titah turun, penduduk desa itu belum pernah diberikan prasasti yang memuat rincian kewajiban serta hak mereka. Supaya segala sesuatunya menjadi jelas, sehingga mereka dapat meneruskan pengabdian kepada raja dan ratu almarhum, begitu pula kepada raja yang tengah memerintah, maka mereka memohon kepada Raja Marakata agar berkenaan menganugerahkan prasasti kepada mereka. Raja pun memenuhi permohonan itu. Dalam prasasti itu ditegaskan bahwa penduduk supaya tetap melaksanakan tugas-tugasnya sebagaimana sediakala (magehakna sapurbwastitinya nguni).

Menurut sejarah, Raja Udayana dan permaisuri Gunapriya Dharmapatni memiliki tiga anak, yaitu Airlangga, Marakata, dan Anak Wungsu. Sang sulung, Airlangga, kemudian diangkat menjadi Raja Mdang. Masih dari prasasti Tengkulak A, dikatakan bahwa Marakata adalah putra raja Almarhum yang dicandikan di Air Wka (yakni Sri Dharmodayana Warmadewa). Keterangan itu juga berarti bahwa Marakata tergolong anggota dinasti Warmadewa. Bagian teks prasasti mengenai hal itu berbunyi:

“… mangkai pwan menget ikanag karaman i songan tambahan sapanambahan, an wka haji dewata sang lumah ring air wka sajalu stri, prasiddha kumalilirig kulit kaki, siniwi ring desa banten molih tekang karaman maprarthana ri bhatara, yata hetunya papulung rahi manambah i paduka haji, umajaraken sakramanya nguni mwang pagehnyanugraha haji dewata, … (Ib.5-IÏa.2)”

Artinya :
”… kini ingatlah para tetua desa Songan Tambahan yang terikat dalam satu kesatuan pemujaan, bahwa putra raja almarhum yang icandikan di Air Wka beserta permaisurinya, telah berhasil mewarisi (takhta kerajaan) dari garis keturunan, laki-laki, dimuliakan di wilayah Banten (Bali). Supaya mereka dapat melanjutkan pengabdian kepada betara (di Air Wka) maka mereka bersama-sama menghadap paduka raja, mempermaklumkan segala sesuatu yang mereka laksanakan pada masa-masa lalu, dalam upaya mengukuhkan anugrah (baca : titah) raja yang telah almarhum,…”

Kutipan di atas menunjukkan bahwa menurut garis keturunan dari pihak ayah, Marakata termasuk dinasti Warmadewa. Akan tetapi, kenyataannya unsur warmadewa tidak digunakan dalam gelar raja itu. Sebaliknya dalam gelar itu terdapat unsur dharmawangsa, yang sebagaimana telah dikatakan, mengingatkan kepada tokoh Dharmawangsa Teguh di Jawa Timur. Keadaan demikian dapat dipahami, jika diingat bahwa ibu suri Marakata, yakni Gunariyadharmapatni adalah putri Jawa Timur. Bukan mustahil Gunariyadharmapatni bersaudara kandung dengan Dharmawangsa Teguh, atau paling tidak berkerabat dekat. Unsur dharma yang terdapat dalam nama masing-masing tokoh itu dapat digunakan sebagai faktor penunjang pendapat di atas. Dalam menanggapi gelar Marakata yang tanpa unsur warmadewa, lebih jauh dapat dikemukakan bahwa hal itu tidak mesti dipandang sebagai bukti bahwa Marakata mengingkari dirinya termasuk dinasti Warmadewa. Sebagai putra Udayana, tentu baginda menyadari kedudukannya dalam dinasti itu. Penggunaan unsur dharmawangsa dalam gelarnya, agaknya hanya masalah pilihan belaka.

Saat Udayana wafat, tahta diserahkan kepada Marakata – yang kemudian diteruskan kepada Anak Wungsu. Kompleks Candi Tebing Gunung Kawi awalnya dibangun oleh Raja Marakata sebagai tempat pemujaan bagi arwah sang ayah, Raja Udayana. Raja Marakata diganti oleh adiknya, yaitu Anak Wungsu yang memerintah tahun 971-999 Ç. Gelarnya sebagai raja, begitu pula nama kecil tokoh ini sesungguhnya tidak diketahui secara pasti, kecuali hendak diyakini bahwa Anak Wungsu juga merupakan nama kecil tokoh itu. Secara harfiah anak wungsu berarti ”anak bungsu”, jadi hanya menyatakan urutan kelahiran belaka. Dalam hal ini, tokoh itu adalah anak bungsu suami-istri Udayana dan Gunapriyadharmapatni.

Pernyataan mengenai hal tersebut terbaca dalam sejumlah prasasti yang dikeluarkan oleh Anak Wungsu. Dalam prasasti Pandak Bandung 933 Ç misalnya, terbaca bagian yang berbunyi ”… ”paduka haji, anak wungsunirakalih bhatari lumah i burwan, bhatara lumah i banu wka, …”, yang artinya ”… paduka raja anak bungsu baginda berdua (suami-istri), yaitu ratu yang dicandikan di Burwan dan raja yang dicandikan di Banu Wka, …”.

Dikaitkan dengan keterangan dalam prasasti Pucangan yang menyatakan bahwa Airlangga adalah putra suami-istri tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa suami-istri itu berputra tiga orang, yakni Airlangga, Marakata, dan Anak Wungsu. Hal ini juga berarti bahwa Airlangga dan Anak Wungsu, seperti halnya Marakata, termasuk dinasti Warmadewa pula.

Raja Anak Wungsu memerintah Bali cukup lama, bahkan terlama di antara raja-raja pada zaman Bali Kuno, yakni selama tidak kurang dari 28 tahun. Ada 31 buah prasasti dikeluarkannya, atau yang dapat diidentifikasikan sebagai prasasti-prasasti yang terbit pada masa pemerintahannya. Sembilan belas di antara prasasti-prasasti itu memuat ”gelar” seperti disebutkan, yang lainnya tanpa muatan ”gelar”, baik karena prasasti yang bersangkutan tidak lengkap atau karena tergolong prasasti singkat.

Masa pemerintahannya yang lama serta prasasti yang dikeluarkan cukup banyak dapat digunakan sebagai petunjuk bahwa raja itu memerintah dengan bijaksana dan kerajaan dalam keadaan stabil. Dugaan itu ditunjang pula oleh sejumlah ungkapan yang terbaca dalam prasasti, yang pada intinya menyatakan kepekaan serta kearifan Anak Wungsu dalam melaksanakan pemerintahan.

Menurut cerita rakyat daerah tersebut Candi Tebing Kawi dibuat oleh orang sakti yang bernama Kebo Iwa. Dengan kesaktiannya, konon Kebo Iwa menatahkan kuku-kukunya yang tajam dan kuat pada dinding batu cadas di Tukad Pakerisan itu. Dinding batu cadas tersebut seolah dipahat dengan halus dan baik, sehingga membentuk gugusan dinding candi yang indah. Pekerjaan yang seharusnya dikerjakan orang banyak dengan waktu yang relatif lama itu, konon mampu diselesaikan oleh Kebo Iwa selama sehari semalam.

Kapal Majapahit Besarnya 3 Kali Kapal Cheng Ho

Kapal Majapahit Besarnya 3 Kali Kapal Cheng Ho.

Catatan tentang kapal Cheng Ho yang selama ini berasal dari catatan Cina ternyata tidak akurat. Penulisan sejarah adalah bagian dari perang asimetris sehingga beberapa peradaban di dunia membesarkan data-data sejarahnya. Riset yang dilakukan oleh Irawan Djoko Nugroho lewat berebagi referensi membuktikan bahwa kapal-kapal Majapahit jauh lebih besar dari kapal Cheng Ho. Inilah analisa dari Irawan Djoko Nugroho. Dan juga terdapat analisa tentang riset kapal raksasa yang ditemukan di Gunung Arafat Turki yang ternyata dibuat dengan kayu Jati. Dan pohon Jati hingga sekarang hanya ditemukan di Jawa.

[Baca sampai akhir , akan menemukan sejarah nuswantara yang tersembunyi. Kisah Sang Mahaprabu Kano yang tidak ditemukan dalam sejarah mainstream]

Kapal Majapahit Besarnya 3 Kali Kapal Cheng HoJong adalah sebuah kata Jawa Kuno yang berarti sebangsa perahu (P.J. Zoetmulder, 1995: 427). Dalam khazanah Melayu, kata Jong disebut juga dengan istilah Jung (SM.V: 47 dan SM. X: 77). Menurut khazanah Melayu pula, Jong adalah kapal yang hanya dimiliki oleh Jawa (HRRP: 95, HHT: XII: 228). Keterangan ini sangat berbeda dengan keterangan sejarawan Eropa umumnya. Mereka menyebut kapal-kapal Cina juga dengan istilah jung. Para sejarawan Eropa dan nasional menengarai kapal-kapal Majapahit dalam beberapa penelitian, menggunakan cadik sebagaimana kapal Borobudur.

Di dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Kapal_jung disebutkan bila pada abad ke-15 hingga ke-16 kapal Jung tidak hanya digunakan pada pelaut Jawa. Para pelaut Melayu dan Tionghoa juga menggunakan kapal layar jenis ini. Keterangan itu tidak sepenuhnya tepat. Para pelaut Melayu menggunakan kapal Jung dicatat dalam Hikayat Hang Tuah setelah Putri Raja Majapahit menikah dengan Sultan Malaka. Kapal yang dimilikinya pun hanya 1. Kapal yang digunakan pelaut Melayu adalah kapal Ghali atau Galleon. Sedangkan kapal yang digunakan pelaut Cina dalam catatan Melayu baik Sejarah Melayu dan Hikayat Banjar adalah Pilu dan Wangkang.

Menurut catatan para penulis Portugis, Jong disebut dengan Junco. Sedangkan para penulis Italia menyebut dengan istilah zonchi. Istilah jung dipakai pertama kali dalam catatan perjalanan Rahib Odrico, Jonhan de Marignolli (http://id.wikipedia.org/wiki/Kapal_jung).

Secara umum, kapal Junco merupakan sebuah kapal yang memiliki 4 tiang. Kapal Junco memiliki bentuk yang sangat berbeda dengan jenis-jenis kapal Portugis umumnya. Dinding Jong terbuat dari 4 lapis papan tebal, (Paul Michel Munoz, 2009: 396-397). Kapal Jong juga memiliki dua dayung kemudi besar di kedua buritan kapal. Kedua dayung kemudi itu hanya bisa dihancurkan dengan meriam. Dinding Jong mampu menahan tembakan meriam kapal-kapal Portugis yang mengepungnya dalam jarak yang sangat dekat, (Robert Dick-Reid, 2008: 69).

Dimensi Jong Jawa

Ukuran Jong menurut catatan Tome Pires dan Gaspar Correia sangat besar. Menurut Tome Pires, kapal Jong tidak dapat merapat ke dermaga karena besarnya. Perlu ada kapal kecil yang diperlukan untuk memuat atau membongkar muatannya. Menurut Gaspar Correia, Jong memiliki ukuran melebihi kapal Flor de La Mar, kapal Portugis yang tertinggi dan terbesar tahun 1511-1512. Menurut Gaspar Correia pula, bagian belakang kapal Flor de La Mar yang sangat tinggi, tidak dapat mencapai jembatan kapal yang berada dibawah geladak kapal Junco.

Saat menyerang Malaka, Portugis dicatat menggunakan 40 buah kapal menurut Hikayat Hang Tuah, atau 43 buah kapal menurut Sejarah Melayu. Setiap kapal mampu mengangkut 500 pasukan dan 50 buah meriam. Dengan demikian saat menyerang Malaka Portugis mengerahkan pasukan sebanyak 20.000 – 21.500 pasukan. Kapal Flor de La Mar dicatat memiliki ukuran di atas kapal-kapal itu.

Menurut Irawan Djoko Nugroho, kapal Junco memiliki ukuran panjang, lebar dan tinggi 4-5 kali kapal Flor de la Mar. Dengan kata lain panjang Junco Jawa adalah 313,2 m – 391,5 m. Hal ini karena kapal Flor de La Mar diperkirakan memiliki panjang 78,30 m dan kapal-kapal yang menyerang Malaka menurut Hikayat Hang Tuah dan Sejarah Melayu memiliki ukuran panjang 69 meter, (Irawan Djoko Nugroho, 2011: 304-307).

Kapal Jong atau Jung atau Junco merupakan kapal kayu operasional terbesar dunia hingga abad ke 20 awal, bahkan hingga saat ini. Kapal terbesar Amerika Serikat pada abad ke-19 bernama Great Republik pun hanya mampu dibuat sepanjang 100,5 m (John R. Hale, 1984: 86). Tehnologi kapal ini hingga kini menjadi misteri. Seperti misalnya: tehnik sambung seperti apa yang digunakan sehingga kapal Jong tahan akan tembakan meriam. Selain itu, bahan apa yang digunakan untuk merapatkan kayu sehingga kapal Jong aman dari merembesnya air. Juga seperti apa operational maintenance kapal Jong itu karena sifat kapal yang dapat di knock down.

Fungsi Jong Jawa

Kapal Jong Jawa adalah kapal dagang dan dapat digunakan sebagai kapal angkut militer. Kapal ini merupakan kapal utama pengangkut perdagangan hingga abad ke-16. Menurut catatan Duarte Barosa, kapal Jong Jawa ini membawa barang perdagangan seluruh Asia Tenggara dan Asia Timur untuk diperdagangkan hingga ke Asia Barat (Arab). Dari Arab, barang dagangan tersebut disebarkan ke Eropa, ((Paul Michel Munoz, 2009: 396-397).

Rute perdagangan ke Asia Barat yang dilalui Jong Jawa menurut Duarte Barosa adalah Tenasserim, Pegu, Bengal, Palicat, Coromandel, Malabar, Cambay, dan Aden, (Paul Michel Munoz, 2009: 396-397). Barang dagangan yang dibawa Jong Jawa menurut Duarte Barosa pula, diantaranya adalah: beras, daging sapi, kambing, babi, dan menjangan yang dikeringkan dan diasinkan, ayam, bawang putih, dan bawang merah, senjata seperti tombak, belati, dan pedang-pedang yang dibuat dari campuran logam dan terbuat dari baja yang sangat bagus, pewarna kuning atau cazumba (Kasumba), emas, lada, sutra, kemenyan, kamper serta kayu gaharu (taken from here).

Ladies..

Buat semua wanita yang galau gundah gulana karena pria..

If a man wants you, nothing can keep him away.
If he doesn’t want you, nothing can make him stay.
Stop making excuses for a man and his behavior.
Allow your intuition (or spirit) to save you from heartache.
Stop trying to change yourselves for a relationship that’s not meant to be.

Slower is better.

Never live your life for a man before you find what makes you truly happy.
If a relationship ends because the man was not treating you as you deserve
then heck no, you can’t “be friends.”
A friend wouldn’t mistreat a friend.

Don’t settle. If you feel like he is stringing you along, then he probably is.
Don’t stay because you think “it will get better.” You’ll be mad at yourself a year later for staying when things are not better.
The only person you can control in a relationship is you.

Avoid men who’ve got a bunch of children by a bunch of different women.
He didn’t marry them when he got them pregnant,
Why would he treat you any differently?
Always have your own set of friends separate from his.
Maintain boundaries in how a guy treats you.
If something bothers you, speak up.
Never let a man know everything. He will use it against you later.

You cannot change a man’s behavior. Change comes from within.
Don’t EVER make him feel he is more important than you are…even if he has more education or in a better job. Do not make him into a quasi-god.

He is a man, nothing more nothing less.
Never let a man define who you are.

Never borrow someone else’s man.
Oh Lord! If he cheated with you, he’ll cheat on you.

A man will only treat you the way you allow him to treat you.
All men are not dogs.
You should not be the one doing all the bending…compromise is a two-way street.

You need time to heal between relationships…There is nothing cute about baggage. Deal with your issues before pursuing a new relationship.
You should never look for someone to complete you.
A relationship consists of two whole individuals.
Look for someone complimentary, not supplementary.
Dating is fun; even if he doesn’t turn out to be Mr. Right.

Make him miss you sometimes. When a man always know where you are, and you’re always readily available to him—he takes it for granted.

Don’t fully commit to a man who doesn’t give you everything that you need.
Keep him in your radar but get to know others.

~ MaryRone Shell ~

Selamat Berbuka!

Menarik, lihat bagaimana orang buka puasa.

Mereka duduk diam menghadap makanan minuman, tangan pegang HP menanti tanda2 alam (yang dikirimkan HP masing2) kemudian serentak seperti di barak militer, semua minum, langsung lanjut makan!

Aku pernah coba puasa tanpa sahur, buka saat Maghrib dannnn engga segitunya lapar. Haus sih, iya. Dan setelah minum (itupun cuma air hangat), rasanya ga pengen makan dulu.
Kalau pun makan, mulai makan kecil, manis2 gitu. Jam 7, baru deh makan yang lebih berat.

Lha ini? Sembayang, engga. Dan berbuka dengan sego (segunung) babat (full minyak) + sambal puedes.
Woooh.. turut prihatin untuk lambung2 yang malang itu .

Selamat berbuka!

Aku Orang Indonesia

 

Aku sebenarnya sempat lama meninggalkan media sosial. Kalau kalian amati, instagram laurentiadewi_blog cenderung stagnan jumlah postingan (juga followers-nya). Facebook? Malah deactive (2 bulan lebih).

Kemudian, karena beberapa hal, maka FB kembali dibuka dan nampang lagi deh segala cerita, status, berita, foto, dll mengenai pilkada Jakarta dan segala pihak yang terkait (dan melebar).

Aku pribadi, sudah eneg dengan semua pemberitaan politik tersebut. Walau pro Ahok (bukan karena ras dan agamanya), aku sadari bahwa kekalahan/ kemenangan Beliau sama sekali engga ngefek buatku yang tidak pegang KTP Jakarta. Jadi, sudahlah. Let it be.

Aku lebih mengkawatirkan hal lain. Munculnya kembali istilah pribumi dan Cina (yang ternyata cuma mati suri saja, selama ini..).

OK, seperti yang kalian ketahui, namaku Laurentia Dewi. Identitas sebagai Katolik, jelas terpampang walau bolak balik blusukan Klenteng – Vihara – Kuil – Pura – Candi – Masjid.

Dalam darahku, ada turunan Cina – Belanda – Ambon – Jawa. Dari salah satu leluhur, bisa diketahui bahwa aku sudah generasi ke 5 yang lahir di Nusantara. Masih kurang layak kah disebut WNI?

Aku tidak kenal tanah Cina, juga Belanda. Keduanya belum aku injak (tapi segera akan aku datangi!). Aku tidak bisa berbahasa Cina, tidak mengenal budayanya *kamsia Pak Harto*. Sakit hatiku sama seperti sakitnya mereka yang mengaku sebagai pribumi, ketika beberapa kesenian Indonesia di claim milik negara lain. Khawatirku sama, seperti khawatirnya mereka yang mengaku sebagai pribumi ketika ekonomi negara ini lesu.

Karena di tanah ini, aku lahir dan kemungkinan besar akan dikuburkan; seperti 5 generasi keluargaku yang lain.

Lagian, kenapa selalu si Cina yang disorot sebagai si pendatang. Kenapa tidak sekalipun kalian menyebut mereka yang keturunan Arab? Kenapa si Cina (pernah) menyandang status WNI Keturunan di berbagai surat identitas, namun para Arab tidak?

Lupakah kalian bahwa orang Cina yang membawa Islam datang ke Nusantara? Cheng Ho, misalnya. Masihkah kalian mau menyangkal bahwa beberapa Sunan yang kalian puja dan datangi makamnya itu adalah orang dari Cina? Masihkah kalian bisa berlagak tidak tahu bahwa yang mengajarkan seni ukir di Jepara adalah seorang (muslim) Cina?

Apa salah (orang keturunan) Cina? Saat diserang Belanda, warga turunan Cina juga menggotong senjata, membela Indonesia, tanah yang saat itu belum memberinya status warga negara.

Salah, karena kaya? Baca tulisan Alberthiene Endah berikut:

Aku agak gatel nih kalo gak nulis. Yg berpendapat bahwa Cina tuh enak krn gampang kaya semua…kalian keliru banget. Aku udah nulis 47 biografi dan hampir separuhnya pengusaha Tionghoa. Semuaaaanya pernah hidup susah. Bahkan amat susah.

Ciputra dari kecil sampai remaja harus berburu ke hutan dan kerja keras di kebun utk bisa makan. Ayahnya tewas di penjara. Tahir melewati kemiskinan sebagai anak juragan becak miskin. Sebelum mampu membangun bank Mayapada, ia bertahun-tahun berjualan minuman kaleng dan kue bulan. Djoko Susanto bos Alfamart yg juga orang terkaya ke sekian belas adalah lulusan SMP yg memulai usaha dari kios kecil. Ia bahkan mengangkut dus besar rokok di punggungnya tiap hari spt kuli. Dan yg terbaru…bos larutan Cap Badak, Budi Juwono. Dia mengalami masa remaja yg berat. Jadi sales obat dan dipukuli sampai babak belur oleh pesaingnya. Jualan kue pake dua keranjang di tengah banjir sampai harus angkat keranjang sekepala agar tak jatuh. Ia juga mendorong gerobak jati sbg pedagang kaki lima.

Pikirkanlah sesuatu yg logis dan masuk akal. Mereka bekerja sangat keras dan ulet. Tahan penghinaan dan tahan deraan hidup susah. Itulah yg membuat mereka kaya. Bukan ras. Yg masih hidup susah dan berjuang juga sangat banyak.

Jadi yg cemburu kenapa “banyak Cina kaya” tirulah etos kerja keras mereka. Lihat proses juangnya dan bukan hasil akhirnya.

Aku pun jadi penulis produktif karena kuserap hal positif dari cara kerja mereka. Gak cengeng. Gak gampang ngeluh. Disiplin.

Aku ingat betul, bagaimana cerita Opa mendapatkan status WNI, sedangkan tetangga rumah yang keturunan Arab, melenggang santai untuk berganti warga negara. Tahukah kalian, bahwa dulu kalau saja ada kebaran, maka satu-satunya surat yang akan diselamatkan adalah surat WNI, bukan deposito/ akta lahir, dll. Ya, (dulu) sebegitu berharganya surat WNI bagi kita yang sudah 5 generasi lahir dan mati di Indonesia.

Yuk, siapa yang lagi/ pernah sekolah kedokteran? Masih merasa kan, bahwa jatah kursi untuk “keturunan Cina” kurang dari 10% dari total mahasiswa/i bermerk “pribumi”? Ya, di 2017 hal ini masih ada diskriminasi seperti itu!!! Bahkan ada beberapa jurusan spesialis kedokteran yang menutup diri dari adanya para “keturunan Cina”. Keturunan Arab? Bebas masuk, bro.

Ayo, sekolah-sekolah negeri (apalagi yang di era sebelum tahun 2000), siapa berani mengaku bahwa mereka sangat membatasi adanya para keturunan Cina? Karena itulah dahulu, kita-kita yang di cap turunan Cina ini sekolah di sekolah swasta yang biayanya 10x lipat dari sekolah pemerintah. Karena itu pula lah, para ortu kita kudu bekerja minimal 10x lipat lebih cerdik dan keras dari kaum (yang menggolongkan dirinya sebagai) pribumi.

Pernahkah kalian dengar, orang berkulit apapun di Amerika sana memperkenalkan dirinya “I am American”. Indonesia, yang sudah sekian puluh tahun merdeka masih saja bilang “Aku orang Batak”, “Aku orang Arab”. Kenapa tidak menyebut, “Aku orang Indonesia”?

Aku, orang Indonesia. Sekali lagi: aku adalah orang Indonesia. Kamu?

 

Perhiasan Nenek Moyang

Ternyata darah kreatif orang Indonesia bisa dirunut sejak nenek moyang. Saat zaman es, nenek moyang orang Indonesia sudah membuat perhiasan.

Riset yang dilakukan sekelompok ilmuwan lintas negara dari Australia dan Indonesia ini mengungkapkan penemuan artefak berupa liontin dan manik-manik yang dibuat dari tulang hewan. Seperti liontin dari tulang jari hingga kuku hewan kuskus dan manik-manik dari taring babirusa, hewan endemik di Sulawesi.

Para ilmuwan menemukan tulang hewan kuskus yang dilubangi di salah satu sisinya untuk menjadi liontin serta taring babirusa yang dipotong-potong melintang dan dilubangi bagian tengahnya seperti donat menjadi manik-manik, kemudian dirangkai menjadi kalung.

Riset: Zaman Es, Nenek Moyang Orang Indonesia Sudah Buat PerhiasanFoto: Artefak perhiasan dari tulang belulang hewan ditemukan di Sulawesi, diperkirakan dari Zaman Es (Foto: M Langley; A Brumm via Live Science)

Menariknya, penelitian ini mengungkapkan bahwa perhiasan itu diperkirakan berusia 22 ribu – 30 ribu tahun lalu. Semua artefak ini ditemukan di Leang Bulu Bettue, sebuah gua di Sulawesi yang kaya peninggalan arkeologis, termasuk lukisan gua.

Para ilmuwan gabungan ini memang sedang meneliti artefak di kawasan Garis Wallace, garis imajiner yang dibuat Alfred Russel Wallace tahun 1859. Garis Wallace ini menandakan adanya fauna endemik yang merupakan zona transisi antara Asia dan Australia selebar 1.600 km.

Sebelumnya para peneliti menemukan bahwa manusia modern mencapai wilayah Garis Wallace sekitar 47 ribu tahun lalu. Meski banyak di antara 2 ribuan pulau di kawasan Garis Wallace ini sudah dihuni saat zaman Pleistosen yang dikenal juga Zaman Es, rekaman arkeologi terkini menunjukkan bahwa manusia hanya menghuni 7 pulau di antaranya saja.

“Wallacea adalah tempat ditemukannya fosil ‘hobbit’ pada tahun 2003 dan beberapa seni bebatuan tertua di dunia pada 2014,” kata pemimpin penulisan penelitian ini Adam Brumm, yang juga ilmuwan dari Australian Research Centre for Human Evolution, Environmental Futures Research Institute, Griffith University, Brisbane, Queensland Australia.

Penemuan ini, imbuhnya, adalah jelas sangat penting untuk memberi pemahaman evolusi manusia dan budaya dari orang pertama yang mendiami Australia lebih dari 50 ribu tahun lalu.

“Namun dari perspektif arkeologi, kita hanya memiliki pemahaman yang paling dasar,” imbuhnya dilansir dari Live Science edisi 3 April 2017 lalu.

Ada sekitar 20-an ilmuwan Indonesia-Australia yang tergabung dalam riset ini. Dari Indonesia di antaranya adalah dari Arkeologi Nasional RI (Arkenas) dan Balai Arkeologi Makassar.

Hasil riset itu telah diterbitkan pada Senin, 3 April 2017 lalu di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.

Taken from here. Aah, proud to be Indonesian!

Bangsa Kekar Tiang

Bangsa Kekar Tiang disebut sebagai pembangun peradaban di Gunung Padang. Penelitian arkeolog UI Ali Akbar, bangsa Kekar Tiang ini juga hadir di situs Gunung Tangkil di kawasan Pelabuhan Ratu.

Ali mengungkapkan, temuan di situs Pelabuhan Ratu, yang berupa punden berundak ternyata memang menggunakan batuan kekar tiang atau columnar joint.

“Mereka pastinya masyarakat yang mendiami wilayah Jawa bagian barat,” jelas Ali, Selasa (26/7/2016).

Bangunan punden berundak di Pelabuhan Ratu, kemudian temuan situs kawasan Geopark Ciletuh Sukabumi dan Gunung Padang Cianjur diduga merupakan satu kesatuan. Punden berundak ini digunakan masyarakat kala itu untuk beribadah. Tak heran di situs Pelabuhan Ratu juga ditemukan arca Semar walau dengan bentuk yang masih kasar.

“Semar asli Indonesia. Berdasarkan bukti artefak ternyata terdapat bukti bahwa Semar telah dikenal sejak periode yang lebih tua, yakni prasejarah,” ujar dia.

Gambar mirip Semar juga ditemukan di batuan Menhir di situs purbakala Batu Naga di Kabupaten Kuningan. Ali mengungkapkan, Semar memang sudah ada sejak era sebelum Hindu Budha masuk.

“Banyak mitos soal Semar ini. Biasanya mitos tersebut terkait Batara Tunggal dan juga Togog,” tutup Ali.

Peninggalan sejaran arca Semar kini disimpan di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sukabumi. Temuan-temuan artefak lainnya juga sudah diselamatkan dari gangguan tangan jahil.

Taken from here.

Strategi Perang Raja-raja Jawa pada Abad ke-8–ke-15 Masehi

Strategi Perang Raja-raja Jawa pada Abad ke-8–ke-15 Masehi

Oleh: Titi Surti Nastiti
Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional

1. Pendahuluan

Dari data prasasti masa Jawa Kuna diperoleh gambaran bahwa sejak berdirinya kerajaan Matarām Kuna, tahun 717 M. sampai dengan runtuhnya kerajaan Majapahit pada awal abad ke-16 Masehi, sering terjadi peperangan, baik peperangan yang terjadi antar kerajaan, peperangan antara kerajaan pusat dengan kerajaan vasal, maupun peperangan di dalam kerajaan itu sendiri. Adapun motivasi terjadinya peperangan dapat saja karena perebutan takhta, perluasan wilayah (ekspansi), maupun karena balas dendam.

Menurut pengertian populer, perang ialah suatu konflik antara beberapa kelompok politik yang terlibat dalam suatu permusuhan yang lama dan dalam skala besar, sedangkan menurut Carl von Clausewitz (1780-1831) perang ialah perkembangan social dan tindakan politik. Perang bukan hanya tindakan politik melainkan juga sebuah alat politik yang konkrit, suatu kelanjutan kebijaksanaan yang dilanjutkan ke yang lain (Lapian t.t.:1, 20). Dilihat dari beberapa teori tentang perang, dalam dua aliran pemikiran, yaitu teori yang menghubungkan perang dengan faktor biologis dan psikologis tertentu yang melekat pada manusia, dan teori yang menghubungkan perang dengan hubungan sosial dan pranata sosial tertentu.

Berbicara mengenai perang maka tidak terlepas dari strategi perang yang dipakai dalam suatu peperangan. Kata strategi itu sendiri berasal dari bahasa Yunani strategos, yang secara sempit dirumuskan sebagai “seni seorang jenderal”. Istilah itu muncul karena pada mulana strategi berkaitan dengan siasat militer bagaimana seorang jenderal berusaha mengelabui musuh, dan membagi-bagi pasukannya dalam perang. Dalam teori perang, strategi dan taktik umumnya ditempatkan dalam dua kategori yang berbeda. Dua bidang ini secara tradisional dirumuskan menurut dimensi yang berbeda. Strategi berkenaan dengan raung yang luas, jangka waktu yang lama, serta gerak militer besar-besaran; sedangkan tatktik merupakan aplikasi dari strategi. Dengan demikian strategi diartikan prelude (pendahuluan) sebelum terjun ke medan pertempuran, sedangkan taktik adalah kegiatan di medan perang. Oleh karena itu, lanjut Lapian (t.t.:12–14), kebanyakan pustaka dan teori mengenai strategi di masa lampau memusatkan perhatian kepada persiapan yang sebaik-baiknya sebelum berangkat ke medan perang, bagaimana memimpin pasukan sampai saatnya bertemu musuh. Keadaan ini menjelaskan mengapa lebih banyak perhatian diberikan kepada manuver strategis, yang ditujukan untuk menempatkan pasukan sendiri dalam posisi yang menguntungkan agar memaksa musuh berada dalam posisi yang merugikan dan membatasi musuh untuk bergerak secara bebas.

Dari kesusateraan Jawa Kuna terdapat bukti bahwa orang pada masa itu telah mengenal strategi perang, antara lain dari kakawin Bhāratayūddha, yang ditulis oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh pada masa pemerintahan Jayabhaya dari kerajaan Kadiri pada tahun 1019 Śaka (1157 M.)*1. Kakawin ini menuliskan tentang bermacam-macam jenis byūha/wyūha (strategi perang) yang dilakukan oleh Pandawa dan Kaurawa dalam peperangan yang langsung berhadapan dengan musuh atau serangan frontal (lihat gambar di bawah ini).

———-
  • *1. Angka tahun dalam kakawin Bhāratayūddha ditulis dalam bentuk candra sangkala yang berbunyi śāka kāla ri sanga kuda śuddha candrama (Poerbatjaraka dan Tardjan Hadidjaja 1957:24; Wirjosuparro 1968:41).
———-

Sehubungan dengan strategi perang, Wirjosuparto (1968:21–22) berpendapat bahwa di Indonesia telah dikenal strategi perang sāma-bheda-dańůa yang bersumber dari kesusateraan India yang berjudul Arthaśāstra antara lain menuliskan tentang pengetahuan politik, termasuk politik menghancurkan musuh, yang juga merupakan kitab pegangan keluarga raja-raja Gupta yang pernah mempersatukan sebagian besar India. Selanjutya Wirjosuparto menjelaskan bahwa meskipun sāma-bheda-dańůa diambil dari kitab Arthaśāstra, akan tetapi pengertian strategi tersebut dituliskan dalam kakawin Arjunawiwāha yang digubah oleh Mpu Kanwa pada masa pemerintahan raja Airlangga (1019–1049) dan kakawin nitiśāstra yang diperkirakan berasal dari akhir masa Majapahit*2, maka strategi perang sāma-bheda-dańůa itu dikenal dan dipelajari di Jawa.

———-
  • *2. Penggubah kakawin Nitiśāstra tidak diketahui, tetapi dari gaya bahasa dan susunan katanya diperkirakan berasal dari masa Majapahit akhir.
———-

Adapun inti ajaran yang dikemukakan dalam sāma-bheda-dańůa adalah: pertama bahwa setiap raja yang ingin membinasakan musuh-musuhnya wajib mencari sekutu (sāma) di antara kerajaan-kerajaan yang berhubungan baik, dengan perhitungan bahwa jika terjadi perang maka kerajaan yang menjadi sekutunya diharapkan memberikan bantuan atau setidak-tidaknya bersikap netral; kedua ialah dengan memecah belah (bheda); dan terakhir apabila memecah belah kerajaan-kerajaan musuh telah tercapai maka yang dilakukan ialah memukul (dańůa) musuhnya yang telah lemah (Wirjosuparto 1968:22).

Untuk masa lebih kemudian kita mendapatkan keterangan mengenai beberapa strategi perang dari Dagh-Register VOC antara strategi militer Jawa dalam berperang, yaitu: (1) penyerbuan secara tiba-tiba (surprises attack); (2) merubuhkan pohon-pohon ke jalan raya sehingga jalan tertutup dan menghalangi serangan musuh, terutama menghalangi konvoi kereta barang; (3) memutuskan suplai makanan yang merupakan titik lemah sehingga dapat memaksa musuh menyerah karena kelaparab; dan (4) memutuskan suplai air dari bendungan sungai (Schrieke 1957:132–135).

Sehubungan dengan itu, maka dalam tulisan makalah ini akan dicoba membuktikan asumsi Wirjosuparto yang menyebutkan bahwa strategi dan taktik perang sāma-bheda-dańůa telah dikenal dan dipelajari di Jawa, yang dalam kasus ini akan diterapkan pada raja-raja Jawa pada abad ke-8–15 Masehi. Di samping itu juga akan dibicarakan mengenai beberapa strategi perang yang dipakai pada masa Jawa Kuna. Untuk keperluan tersebut dipakai data tekstual berupa prasasti, karya sastera, dan berita Cina dari masa yang sezaman.
2. Strategi Perang Raja-raja Jawa pada Abad ke-8–15 Masehi

Seperti telah diutarakan sebelumnya, dari data prasasti diketahui adanya peperangan, baik karena perebutan takhta, perluasan wilayah, atau balas dendam. Dalam peperangan-peperangan tersebut dapat dilihat strategi-strategi perang yang dipakai pada masa Jawa Kuna. Pertama, strategi yang dipakai adalah serangan yang mendadak atau surprise attack. Sebagai contoh ialah peperangan yang terjadi antara Śrī Dharmmawangśa Těguh Anantawikramottunggadewa (991–1016 M.) dari kerajaan Matarām Kuna dengan raja Wurawari*3 yang merupakan salah satu raja bawahannya.

———-
  • *3. Daerah Wurawari diperkirakan di sebelah selatan Karang Kobar, Banyumas (Schrieke 1959:215, 294).
———-

Serangan raja Wurawari terjadi tidak lama setelah perkawinan puteri Dharmmawangśa Těguh dengan Airlangga, sehingga para pakar Sejarah Kuna memperkirakan bahwa raja Wurari tadinya mempunyai ambisi untuk menikah dengan puteri mahkota dan menggantikan Dharmmawangśa Těguh. Akan tetapi yang dipilih oleh Dharmmawangśa Těguh sebagai menantu adalah kemenakannya yang berasal dari Bali. Seperti disebutkan dalam sumber tertulis, Airlangga adalah putera Mahendradattā Guńapriyadharmmapatnī, adik Dharmmawangśa Těguh yang menikah dengan raja Udāyana dari wangsa Warmmadewa di Bali. Oleh karena tidak berhasil menikahi puteri Dharmmawangśa Těguh, raja Wurawari merasa kecewa dan dalam melampiaskan kekecewaannya, ia melakukan serangan mendadak ke istana Dharmmawangśa Těguh. Adanya serangan mendadak menyebabkan Dharmmawangśa Těguh tidak berdaya dan menemukan ajalnya dalam peperangan itu, sedangkan Airlangga berhasil melarikan diri ke hutan ditemani pelayannya yang setia bernama Narottama*4.

Contoh serangan mendadak lainnya ialah peperangan yang terjadi antara Kěrtanagara (1268–1292 M.), raja kerajaan Singhasāri yang terakhir, dengan Jayakatwang (1271–1293 M.) dari kerajaan Gělang-gělang atau Gěgělang*5. Kěrtanagara tidak menyangka akan adanya serangan mendadak dari raja Jayakatwang yang merupakan raja bawahannya dan juga masih iparnya. Pada saat adanya serangan, Kěrtanagara sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi ancaman Kubhilai Khan dari Mongol. Adapun sebabnya ia berseteru dengan Mongol ialah ketika utusan Kubhilai Khan bernama Meng-ch’i datang ke Singhasāri pada tahun 1298 M untuk minta pengakuan tunduk kepada kerajaan Kubhilai Khan, permintaan itu ditolak dan Meng-ch’i dilukai mukanya. Penganiayaan terhadap utusannya itu oleh Kubhilai Khan dianggap sebagai penghinaan besar dan pernyataan perang dari Kěrtanagara. Maka pada awal tahun 1292 M. berangkatlah tentara Mongol untuk menaklukkan Jawa yang dipimpin tiga panglima perang, yaitu Shih-pi, Ike Mese (Iseh-mi-shih), dan Kao-hsing.

———-
  • *4. Setelah Airlangga menjadi raja, Narottama diangkat sebagai rakryān kanuruhan dengan gelar Mpu Dharmmamurti Narottama Danasura.
  • *5. Dalam Sěrat Pararaton, Kaůiri disebut sebagai Gěgělang yang beribukota di Daha, padahal dalam prasasti Mūla Malurung yang berangka tahun 1177 Śaka (1255 M.), Gělang-gělang adalah ibukota dari kerajaan Wurawan. Nama Kadiri sendiri telah dikenal sejak masa Airlangga. Pada masa Airlangga Daha merupakan ibukota kerajaan Pangjalu yang kemudian dikenal dengan nama Kadiri (Djafar 1978:112).
———-

Pada saat itulah Jayakatwang menyerang Kěrtanagara. Atas hasutan patihnya, Aryya Wiraraja, yang mengatakan bahwa kewajiban seorang ksatrya adalah menghapus aib seperti yang diderita oleh leluhurnya. Seperti ditulis dalam Sěrat Pararaton*6 , Kěrtajaya atau Dandang Gěndis, raja Kadiri terakhir, dikalahkan oleh Ken Angrok dari Tumapel pada tahun 1144 Śaka (1222 M.). Pada tahun itu juga Ken Angrok mendirikan kerajaan Singhasāri dan Kadiri menjadi bagian dari kerajaan Singhasāri. Dengan adanya hasutan Aryya Wiraraja, Jayakatwang, bertekad membalas dendam kematian leluhurnya (Kěrtajaya) oleh leluhur raja Kěrtanagara (Ken Angrok). Sebenarnya Jayakatwang adalah salah satu raja daerah kerajaan Singhasāri yang berkuasa di Wurawan. Ia juga adik ipar Kěrtanagara karena ia menikah dengan puteri dari Wisnuwarddhana yang bernama Turuk Balī.

———-
  • *6. Sěrat Pararaton atau Katutunira Ken Angrok ditulis dalam bentuk gancaran (prosa) berbahasa Jawa Tengahan, berasal dari masa Majapahit akhir. Hasan Djafar (1978:25) berpendapat bahwa Sěrat Pararaton ditulis tidak lama setelah tahun 1481 M., pada masa pemerintahan raja Girīndrawarddhana Dyah Rańawijaya. Pendapatnya ini dilandaskan pada peristiwa terakhir yang disebutkan yaitu gunung meletus yang terjadi pada tahun 1403 Śaka (1481 M.). Adapun isi Sěrat Pararton ialah tentang kronik raja-raja sejak kerajaan Singhasāri sampai kerajaan Majapahit.
———-

Menurut Sěrat Pararaton, dalam usaha meruntuhkan kerajaan Singhasāri, Aryya Wiraraja atau Banyak Wide tadinya adalah pejabat tinggi yang berkedudukan di pusat, akan tetapi karena ie mempunyai pandangan politik yang berbeda dengan Kěrtanagara, oleh Kěrtanagara ia dipindahkan menjadi asipati di Sumenep, Madura. Ia merasa sakit hati oleh perlakuan Kěrtanagara tersebut sehingga ia menghasut Jayakatwang untuk membalas dendam kepada Kěrtanagara dan berjanji akan memberitahu Jayakatwang saat yang tepat untuk menyerang Singhasāri. Pada waktu sebagian kekuatan tentara Singhasāri sedang berada di Malayu, Aryya Wiraraja menulis surat kepada Jayakatwang sebagai berikut:

“Pukulun, patih aji matur ing paduka aji, aněnggěh paduka aji ayun abuburu maring těgal lama, mangke ta paduka aji abuburua, duwěg kaladeçanipun tambontěn wontěn baya, tambontěn macanipun, tambontěn bańőengipun, muwah ulanipun, rinipun, wontěn macanipun anging guguh” (Brandes 1826:18).

Artinya:

Hamba, patih Yang Mulia, memberitahukan Paduka Raja, apabila Paduka ingin berburu ke tegal lama, sekaranglah saat yang tepat Paduka berburu, pada saat ada kesempatan baik. Tidak ada bahaya, tidak ada harimau, tidak ada banteng, juga ular (dan) musuh, ada harimau tapi giginya sudah ompong.

Jayakatwang tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, dalam penyerangannya ia memakai siasat makara wyūha (Sumadio 1993:418, cat. no, 89) yaitu dengan melancarkan serangan dari dua arah, dari utara dan selatan. Pasukan yang menyerang dari utara hanya merupakan siasat yang memancing agar pasukan kerajaan Singhasāri keluar dari keraton. Siasatnya ini berhasil, karena dengan adanya serangan dari utara, maka pasukan Singhasāri di bawah pimpinan Raden Wijaya*7 dan Arddharaja, anak Jayakatwang yang juga menantu Kěrtanagara, menyerbu ke utara dan mengejar musuh yang selalu bergerak mundur. Pada waktu kekuatan di keraton Singhasāri lemah lalu pasukan. Jayakatwang yang berada di selatan menyerang keraton dan dapat membunuh Kěrtanagara yang sedang melakukan upacara keagamaan*8.

———-
  • *7. Raden Wijaya atau Narāryya Sanggramawijaya adalah nama anak Dyah Lěmbu Tal. Ia adalah pendiri kerajaan Majapahit yang naik takhta pada tahun 1293. Setelah ia menjadi raja bergelar Śrī Kěrtarājasa Jayawarddhana.
  • *8. Dalam Sěrat Pararaton (Brandes 1897:19), ketika ada serangan dari Jayakatwang, Kěrtanagara disebutkan sedang bermabuk-mabukan (sira bhaőāra çiwa buddha pijěr anadah sajöng = Beliau Bhatara Siwa Buddha terus menerus meminum tuak). Sebenarnya pada saat itu ia sedang melakukan upacara keagamaan. Oleh karena ia adalah penganut agama Buddha Tantrayana yang telah mencapai tingkatan sūnyaparamānanda atau tingkatan hidup sebagai Adibuddha yang abadi, yang mengecap kebahagiaan tertinggi. Dalam tingkatan ini tidak ada lagi yang terlarang baginya, juga menikmati pañcamakara, yaitu maithuna (hubungan seksual), madya (minuman keras), mamsa (daging), matsya (ikan), dan mudra (sikap tangan yang menimbulkan kekuatan gaib) (Sumadio dkk. 1993:416–417).
———-

Bahwa Kěrtanagara tidak menyangka dapat serangan mendadak dari Jayakatwang, terlihat dari ketidakpercayaannya ketika diberitahu ada serangan dari Daha, ia malah berkata: “kadi pira sirāji Jaya Katong mangkonon ring isun, apan sira huwus apakenak lawan isun, artinya betapa tega Jayakatong berbuat begitu kepadaku, padahal ia bersaudara denganku (Brandes 1896:19).

Selain strategi yang melakukan serangan secara tiba-tiba, juga ada strategi perang yang dilakukans secara frontal, yaitu serangan yang dilakukan dengan berhadap-hadapan dan terbuka. Dari kesusateraan Jawa Kuna didapatkan gambaran bahwa dalam perang frontal, pasukan yang maju ke medan perang diiringi oleh tetabuhan. Sebagai contoh dalam kakawin Arjunawiwāha pupuh 23.2–3 digambarkan situasi bagaimana di antara ramainya suara barisan tentara yang bersorak-sorak terdengar bunyi gendang, ketipung (terompet), gong, dan gemuruh tambur (Poerbatjaraka 1926:45–46; Wiryamartana 1990:104, 160).

Selama peperangan, tabuh-tabuhan tersebut terus dibunyikan, ini terlihat dari kalimat pada pupuh 25.5 yang menggambarkan bagaimana bunyi gong dan riuh genderang tidak lagi terdengar karena terkalahkan oleh oleh bunyi perisai berdentang-dentang, gemerincingnya golok, dan gelegar konta mengenai gajah. Ditambah dengan lenguhan orang yang menghembuskan nyawa, yang mengaduh, dan pekikan orang yang menyerang (Poerbatjaraka 1926:49; Wiryamartana 1990:107, 164).

Gambaran adanya pasukan perang yang sedang berjalan menuju medan perang dengan membawa tetabuhan digambarkan pada Candi Panataran (abad 12–14 M.). Dalam relief yang menceritakan kisah Rāmayana terdapat adegan pasukan kera yang akan berperang dengan pasukan raksasa dari Alengka, di antara pasukan kera itu ada dua ekor kera yang membawa tetabuhan yang berupa gong.

J.L.A. Brandes (1904)
Foto 1. Pasukan kera yang membawa gong

Peperangan secara frontal ini dapat dilihat dalam perebutan takhta kerajaan Matarām yang terjadi sekitar abad ke-9 M. antara Rakai Pikatan (850–856 M.) dan Rakai Walaing Pu Kumbhayoni. Menurut prasasti Siwagěrha yang berangka tahun 778 (856 M.), peperangan ini berjalan selama satu tahun. Dalam peperangan ini, anak bungsu Rakai Pikatan yang bernama Rakai Kayuwangi Dyah Lokapāla (856–882) sebagai pemimpin pasukan yang gagah berani berhadapan dengan pasukan Rakai Walaing Pu Kumbhayoni. Sekali waktu Rakai Kayuwangi berhasil memukul mundur Rakai Walaing yang menyebabkan Rakai Walaing mengungsi sampai ke atas bukit Ratu Baka dan membuat benteng di sana. Lokasi bukit ini sangat strategis sehingga Rakai Kayuwangi mengalami kesulitan untuk menggempurnya, tetapi berkat keuletannya, akhirnya ia berhasil menggempur pertahanan Rakai Walaing di bukit Ratu Baka.

Relief Candi Borobudur panil I.b. 47 yang menggambarkan perang frontal

Contoh perang frontal lainnya ialah perang antar saudara yang dikenal dengan peristiwa parěgrěg. Peperangan ini terjadi antara Wikramawarddhana atau Bhra Hyang Wiśesa (1389–1400 M.) yaitu keponakan sekaligus menantu raja Hayam Wuruk (1350–1389 M.) yang berkuasa di kedaton kulon dengan Bhre Wirabhūmi, anak Hayam Wuruk dari selir yang berkuasa di kedaton wetan. Menurut Sěrat Pararaton, persengketaan antar keduanya mulai terjadi pada tahun 1323 Śaka (1401 M.), dan tiga tahun kemudian persengketaan makin memuncak sehingga terjadi peperangan. Pada awalnya Wikramawarddhana dapat dikalahkan oleh Bhre Wirabhūmi, tetapi setelah mendapat sokongan dari Bhre Tumapel Bhra Hyang Parameśwara, peperangan ini diahiri oleh kekalahan Bhre Wirabhūmi pada tahun1328 Śaka (1406 M.). Bertepatan dengan peristiwa tersebut, kaisar Ch’ěng-tsu dari Cina mengirimkan utusannya, Laksamana Chěng-Ho, ke Jawa pada tahun 1405 M. Setahun kemudian Chěng-ho menyaksikan kedua raja di Jawa sedang berperang, kerajaan bagian Timur kalah dan keratonnya dirusak. Pada saat terjadi pertempuran, utusan Cina sedang berada di kerajaan bagian Timur dan 170 tentara Cina tewas karenanya. Kaisar Cina sangat marah atas kejadian tersebut, dan ia menuntut Wikramawarddhana agar membaya denda sebanyak 60 ribu tail emas. Pada tahun 1408 M., ketika Chěng-ho diutus lagi ke Jawa, ia menerima pembayaran denda 10 ribu tail emas. Meskipun jumlah yang diberikan oleh Wikramawarddhana tidak sesuai dengan tuntutannya, Kaisar Cina tidak marah malah mengembalikan uang tersebut, karena bagian yang penting bukan uangnya melainkan Wikramawarddhana mengetahui kesalahannya (Groeneveldt 1960:36–37).

Dalam kesusasteraan Jawa Kuna disebutkan adanya strategi perang frontal yang disebut wyūha. Misalnya kakawin Bhāratayūddha menyebutkan adanya 10 macam wyūha, yaitu (1) wukir sagara wyūha (susunan pasukan berbentuk bukit dan samudera), (2) wajratikśna wyūha (susunan pasukan berbentuk wajra), (3) kagapati/garuda wyūha (susunan pasukan berbentuk garuda), (4) gajendramatta/gajamatta wyūha (susunan pasukan berbentuk gajah ngamuk), (5) cakra wyūha (susunan tentara berbentuk cakra), (6) makara wyūha (susunan pasukan berbentuk makara), (7) sūcimukha wyūha (susunan pasukan yang ujungnya seperti jarum), (8) padma wyūha (susunan pasukan berbentuk bunga teratai), (9) ardhacandra wyūha (susunan pasukan berbentuk bulan sabit), dan (10) kānannya wyūha (susunan pasukan berbentuk lingkaran berlapis) (Wiryosuparto 1968:30–40). Menurut Kats dan Wirjosuparto, jumlah wyūha yang disebutkan dalam kakawin Bhāratayūddha berbeda dengan yang disebutkan dalam karya sastera Kamandaka yang hanya menyebutkan 8 macam wyūha, yaitu (1) garuda wyūha, (2) singha wyūha (susunan pasukan berbentuk singa), (3) makara wyūha, (4) cakra wyūha, (5) padma wyūha, (6) wukir sagara wyūha, (7) arddhacandra wyūha, dan (8) wajratikśna wyūha (Wirjosuparto 1968:29; Kats 1923:240)*9.

Dari hasil perbandingan, ternyata hanya ada empat jenis wyūha yang telah disebutkan di muka yang sama dengan kitab Arthaśāstra, yaitu kitab tentang strategi perang yang berasal dari India*10. Keempat strategi perang itu adalah garuda wyūha, sūcimukha wyūha, wajra(tikśna) wyūha, dan ardhacandrika wyūha; sedangkan jenis-jenis wyūha lainnya, yaitu wukir sagara wyūha, gajendramatta/gajamatta wyūha, padma wyūha, cakra wyūha, makara wyūha, dan kānannya wyūha tidak terrdapat dalam kitab Arthaśāstra (lihat tabel 1). Bisa saja jenis-jenis wyūha tersebut merupakan strategi perang asli Jawa yang kemudian namanya diubah ke dalam bahasa Sanskerta.

———-
  • *9. Ternyata dalam karya sastera Kamandaka yang dikemukakan oleh Kats tentang strategi perang tidak ditemukan. Dalam hal ini , Wiryosuparto agaknya hanya mengutip Kats tanpa menelusuri ke naskah aslinya lagi.
  • *10. Jenis-jenis strategi perang yang disebutkan dalam Arthaśāstra adalah: dańůa (susunan pasukan seperti alat pemukul), (2) bhoga (susunan pasukan seperti ular), (3) mańůala (susunan pasukan seperti lingkaran), (4) asamhata (susunan pasukan yang bagian-bagiannya terpisah), (5) pradara (susunan pasukan untuk menggempur musuh), (6) ůŕůhaka (susunan pasukan dengan sayap dan lambung tertarik ke belakang), (7) asahya (susunan pasukan yang tidak dapat ditembus), (8) garuůa (susunan pasukan berbentuk garuda), (9) sañjaya (susunan pasukan berbentuk busur), (10) wijaya (susunan pasukan menyerupai busur dengan bagian depan menjolok), (11) sthūlakarńna (susunan pasukan yang berbentuk telinga besar), (12) wiśālawijaya (susunan pasukan yang disebut kemenangan mutlak, susunannnya sama dengan sthūlakarńna, hanya bagian depan disusun dua kali lebih kuat), (13) camūmukha (susunan pasukan dengan bentuk dua sayap yang berhadapan muka dengan musuh), (14) jhashāsya (susunan pasukan seperti camūmukha, hanya sayapnya ditarik ke belakang), (15) sūcimukha (susunan pasukan yang ujungnya seperti jarum), (16) walaya (susunan pasukan seperti sūcimukha hanya barisannya terdiri dari dua lapis), (17) ajaya (susunan pasukan yang tidak terkalahkan), (18) sarpāsarīi (susunan pasukan seperti ular yang bergerak), (19) gomūtrika (susunan pasukan yang berbentuk arah terbuangnya air seni sapi), (20) syandana (susunan pasukan yang menyerupai kereta), (21) godha (susunan pasukan berbentuk buaya), (22) wāripatantaka (susunan pasukan sama degan syandana, hanya semua pasukannya terdiri dari barisan gajah, kuda, dan kereta perang), (23) sarwatomukha (susunan tentara berbentuk lingkaran), (24) sarwatobhadra (susunan pasukan yang serba menguntungkan), (25) ashőānīkā (susunan pasukan yang terdiri dari 8 divisi), (26) wajra (susunan pasukan berbentuk wajra), (27) udyānaka (susunan pasukan berbentuk taman yang terdiri dari 4 divisi), (28) ardhacandrika (susunan pasukan berbentuk bulan sabit yang terdiri dari 3 divisi), (29) karkāőakaśrěnggi (susunan pasukan berbentuk kepala udang), (30) ariśőa (susunan pasukan dengan garis depan ditempati pasukan kereta perang, pasukan gajah, sedangkan pasukan berkuda menempati baris belakang), (31) acala (susunan pasukan yang menempatkan barisan infanteri, pasukan gajah, pasukan kuda, dan pasukan kereta perang, berbaris ke belakang), (32) śyena (susunan pasukannya sama dengan garuda), (33) apratihata (pasukan kuda, pasukan kereta perang, dan pasukan infanteri berbaris ke belakang), (34) chāpa (susunan pasukan berbentuk busur), dan (35) madhya chāpa (susunan pasukan berbentuk busur dengan inti kekuatan berada di bagian tengah) (Sharmasastry 1923:434–435; Wirjosuparto 1968:27–29).

———-

Patut disayangkan, karena terbatasnya data tekstual (prasasti dan karya sastera), kita tidak dapat mengetahui strtaegi serangan frontal yang dilakukan Rakai Kayuwangi terhadap Rakai Walaing Pu Kumbhayoni. Demikian pula strategi perang yang dijalankan oleh Wikramawarddhana dalam menghadapi Bhre Wirabhūmi. Hanya satu hal yang dapat dipastikan bahwa dalam peperangan tersebut mereka menggunakan strategi perang tertentu, dan bisa saja memakai salah satu wyūha yang telah disebutkan di atas.

Strategi perang lainnya ialah strategi perang yang dilakukan oleh Raden Wijaya. Raden Wijaya ialah kemenakan sekaligus menantu Kěrtanagara, karena ia menikahi keempat puteri Kěrtanagara. Setelah Kěrtanagara berhasil dibunuh oleh Jayakatwang, atas saran Aryya Wiraraja, ia berpura-pura tunduk kepada Jayakatwang. Setelah mendapatkan kepercayaan penuh dari Jayakatwang, ia meminta hutan di daerah Trik*11 sebagai pertahanan dalam menghadapi musuh yang menyerang melalui Sungai Brantas. Kemudian, setelah permohonannya dikabulkan ia membuka daerah itu dengan bantuan Aryya Wiraraja menjadi desa yang dinamakan Majapahit. Di tempat itu, ia secara diam-diam memperkuat diri sambil menunggu saat yang tepat untuk menyerang Kadiri. Di Madura, Aryya Wiraraja sudah bersiap-siap pula dengan pasukannya untuk membantu Majapahit melawan Jayakatwang.

———-
  • *11. Daerah Trik diidentfikasikan dengan Desa Tarik, Kecamatan Tarik, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur
———-

Bersamaan dengan selesainya persiapan-persiapan untuk mengadakan perlawanan terhadap Jayakatwang pada awal tahun 1293, datanglah tentara Kubhilai Khan yang akan membalas perlakuan Kěrtanagara terhadap utusannya. Mereka tidak mengetahui jika kerajaan Singhasāri telah hancur dan rajanya, Kěrtanagara telah gugur. Bagi Raden Wijaya kedatangan pasukan Cina merupakan kesempatan yang baik untuk menyusun suatu strategi. Oleh karena itu dengan segera ia mengirimkan utusan kepada panglima pasukan Cina yang membawa pesan bahwa ia bersedia tunduk dan bergabung dengan pasukan Cina untuk menggempur Daha. Selain itu ia pun mengirimkan pengikut yang dipercayainya untuk memberikan informasi kepada pasukan Cina tentang jalan, sungai, dan sumber-sumber yang ada di negeri itu (Groeneveldt 1960:33).

Pasukan Cina menyerang Daha yang menjadi ibukota Kadiri dalam tiga gelombang. Gelombang pertama dilakukan pada awal bulan ketiga (April-Mei) di muara Kali Mas (Pa-tsieh), pasukan Cina menyerang pasukan Daha yang selalu siap menghadapi musuh dari luar. Dalam pertempuran ini pasukan Daha dapat dikalahkan. Setelah mendapatkan kemenangan, pasukan Cina dibagi menjadi dua: sebagian berjaga-jaga di muara Kali Mas dan sebagian lagi menyerang Daha. Akan tetapi sebelum mereka berangkat ke Daha, datang utusan Raden Wijaya yang meminta bantuan karena Majapahit akan diserang oleh pasukan Daha. Pada tanggal delapan bulan ketiga, terjadi pertempuran di Majapahit yang berakhir dengan kekalahan pasukan Daha. Tidak puas dengan kesuksesan yang dicapainya, pasukan Cina bergerak menuju Daha, dan pada tanggal 19 bulan yang sama mereka menyerang Daha. Jayakatwang telah siap menghadapi musuh dengan pasukan yang terdiri dari seratus ribu orang. Setelah pertempuran berjalan dengan dahsyatnya, akhirnya Jayakatwang menyerahkan diri dan ditawan bersama semua anggota keluarganya serta para pejabat tinggi kerajaan (Groeneveldt 1960:33–4; Sumadio dkk. 1993:425).

Salah satu adegan pada relief Borobudur panil Ib 44 yang menggambarkan prajurit yang terdiri dari tiga pasukan, yaitu pasukan berkendaraan gajah, pasukan berkendaraan kuda, dan pasukan berjalan kaki

Setelah pertempuran antara pasukan Kadiri dengan Cina berakhir, Raden wijaya kembali ke Majapahit dengan alasan mengambil upeti yang akan dipersembahkan kepada Kaisar Cina. Dalam perjalanannya ke Majapahit ia dikawal oleh dua opsir dan duaratus tentara Cina. Di tengah perjalanan, ia berhasil mengelabui dan membunuh kedua opsir, kemudian menyerang pengawal-pengawalnya. Setelah mengalahkan pengawal-pengawal Cina, pasukan Raden Wijaya kembali ke Daha untuk menyerang tentara Cina. Dalam peperangan ini, tentara Cina mengalami kekalahan dan sisanya terpaksa melarikan diri meninggalkan Pulau Jawa.

Dari data tekstual, tidak pernah ada keterangan yang menyebutkan Raden Wijaya melakukan strategi perang sāma-bheda-dańůa, akan tetapi dari tahapan-tahapan perang yang dilakukan oleh Raden Wijaya, ia menjalankan strategi itu. Dalam menjalankan strateginya, pertama kali yang dilakukan oleh Raden Wijaya ialah berteman dengan Aryya Wiraraja, dalam hal ini strategi yang dijalankan ialah mencari pendukung agar ada yang membantu ketika ia menyerang Jayakatwang (sāma). Lalu ia menghasut tentara Cina dengan mengatakan bahwa Jayakatwanglah musuh yang dicari oleh balatentara tersebuut (bheda), dan setelah terjadi peperangan antara Jayakatwang dengan pasukan Cina yang diakhiri dengan kekalahan Jayakatwang, tindakannya yang terakhir adalah memukul balatentara Cina (dańůa).
3. Penutup

Dari beberapa contoh peperangan yang terjadi pada masa Jawa Kuna dapat diambil kesimpulan bahwa strategi perang yang berupa serangan mendadak pada umumnya dilakukan oleh raja-raja yang mempunyai motivasi balas dendam, seperti yang dilakukan oleh raja Wurari terhadap Dharmmawangsa Těguh atau Jayakatwang terhadap Kěrtanagara. Tampaknya alasan mereka melakukan serangan mendadak adalah karena jika memakai strategi perang frontal, mereka pasti kalah sebab musuh yang dihadapinya jauh lebih kuat. Adapun strategi serangan frontal biasanya terjadi dalam perang saudara yang kekuatannya seimbang, seperti peperangan yang terjadi antara Rakai Kayuwangi an Rakai Walaing Pu Kumbhayoni atau Wikramawarddhana dan Bhre Wirabhūmi.

Mengenai strategi perang sāma-bheda-dańůa, seperti telah diutarakan sebelumnya mungkin dilakukan oleh Raden Wijaya. Akan tetapi yang masih menjadi pertanyaan adalah apakah Raden Wijaya melakukan strategi itu karena dia mempelajari strategi tersebut ataukah hanya kebetulan tahapan-tahapan dalam menjalankan strategi perangnya sesuai dengan sāma-bheda-dańůa. Karena jika kita teliti kembali kakawin Arjunawiwāha dan Nitiśāstra maka dapat diketahui bahwa dalam kedua kakawin tersebut, sāma-bheda-dańůa tidak khusus menjelaskan mengenai strategi perang. Dalam Arjunawiwāha pupuh 21.1 terdapat kata sāma-bheda-dańůa dan bukan sāma-bheda-dańůa yang menjelaskan Niwatakawaca yang sudah tidak mau lagi mau berdamai, yaitu perdamaian yang didamaikan dengan uang, akan tetapi hanya mau menyelesaikan masalahnya dengan perang; sedangkan Nitiśāstra, menekankan pentingnya uang/harta benda (dhana) dalam menjalankan sāma-bheda-dańůa, tanpa dhana maka sāma-bheda-dańůa tidak berhasil. Oleh karena itu asumsi Wirjosuparto yang menyebutkan sāma-bheda-dańůa telah dikenal dan dipelajari di Indonesia harus diuji kembali dan harus dicari bukti-bukti yang lebih kuat dan akurat untuk mendukung asumsi tersebut.

Jika dilihat faktor-faktor yang menjadi pemicu perang, maka dapat disebutkan terjadinya perang pada masa Jawa Kuna terutama disebabkan oleh faktor-faktor biologis dan psikologis. Faktor-faktor biologis ini dapat disebabkan oleh persaingan untuk memiliki sesuatu, pelanggaran oleh orang luar, atau frustasi dalam kegiatan tertentu; sedangkan faktor psikologis didasarkan oleh sifat manusia yang secara lahiriah agresif (Lapian t.t.:5–6). Faktor-faktor itulah maka Kěrtanagara untuk menyatukan Nusantara melakukan ekspansi dengan peperangan. Atau perang antar sudara karena memperebutkan takhta kerajaan, seperti peperangan yang terjadi antara Rakai Kayuwangi yang dipimpin oleh anaknya, Rakai Kayuwangi dengan Rakai Walaing Pu Kumbhayoni, atau antara Wikramawarddhana dan Bhre Wirabhūmi; sedangkan faktor psikologisnya lebih menyangkut pada balas dendam, seperti yang dilakukan oleh raja Wurari terhadap Dharmmawangsa Těguh.

Baik faktor biologis maupun psikologis tersebut menunjukkan bahwa kehidupan pada masa Jawa Kuna menggambarkan adanya interest (kepentingan) yang tidak dapat diselesaikan melalui kompromi yang bersifat konsensus. Oleh karena itu terlihat adanya unsur pemaksaan kepentingan dari satu pihak terhadap pihak lain.

Dari kondisi seperti itu, perang yang menjadi salah satu bentuk penyaluran kepentingan dari satu pihak terhadap pihak lain, adalah juga merupakan bentuk konflik yang termasuk dalam kriteria yang paling tinggi dan fatal. Dengan demikian esensi konflik yang diimplementasikan melalui perang agaknya sejak masa lalu merupakan gejala yang paling efektif, daripada mengandalkan cara-cara perundingan atau pencapaian kesepakatan antara dua pihak yang bermusuhan, dan menyangkut persoalan di antara mereka yang berseteru tersebut.

Dari pembahasan mengenai peperangan yang terjadi pada masa Jawa Kuna dapat diambil kesimpulan bahwa perang yang terjadi karena dorongan psikologi maupun biologis mengandung suatu interaksi yang tidak selalu menguntungkan antara aspek kekuasaan (realitas) dan moral (idealis). Seharusnya aspek moral dapat mengawasi ambisi yang terlalu berlebihan dari kekuasaan. Tetapi ternyata aspek moral itu agak terabaikan. Secara argumentatif memang harus diakui bahwa aspek moral selalu menghadapi banyak persoalan, termasuk persoalan sangsi atau ganjaran yang tidak pernah jelas jika kita membicarakan efektifitas moral dalam memecahkan persoalan kehidupan manusia. Akhirnya, masih lebih efektif bagi manusia atau sekelompok manusia untuk menyelesaikan persoalan-persoalannya melalui jalan kekerasan, yaitu perang.

DAFTAR PUSTAKA

Brandes, J. 1986. “Pararaton (Ken Arok) of het Boek der Koningen van Tumapel en van Majapahit. Uitgegeven en Toeglicht door J. Brandes”, VBG XLIX.

Djafar, Hasan. 1978. Girīndrawarddhana. Beberapa Masalah Majapahit Akhir. Jakarta: Yayasan Dana Pendidikan Buddhis Nalanda.

Groeneveldt, W.P. 1960. Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled from Chinese Sources. Jakarta: Bhratara.

Kartoatmodjo, M.M. Soekarto. 1984. “Sekitar Masalah Sejarah Kadiri Kuna”, dalam Simposium Sejarah Kadiri Kuna, Yogyakarta, 28—29 September.

Kats, J. 1923. Het Javaansche Tooneel I. Wayang Poerwa. Weltevreden.

Lapian, A.B. t.t. “Perihal Perang”. Tidak terbit.

Magetsari, Nurhadi dkk. 1979. Kamus Arkeologi Indonesia 2. Jakarta: Proyek Penelitian Bahsa dan Sastra Indonesia dan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Poerbatjaraka, R.M.Ng. 1926. Arjuna-wiwāha. Teks en Vertaling. s’-Gravenhage: Martinus Nijhoff.

Poerbatjaraka, R.M.Ng. dan Tardjan Hadidjaja. 1957. Kepustakaan Djawa. Djakarta: Penerbit Djambatan.

Schrieke, B. 1959. Indonesian Sosiological Studies. Jilid II. Brussel: Uitgevermaatschappij A. Manteau N.V.

Shamasastry, R. 1923. Kauttilya’s Arthaçāstra. Mysore. Cetakan kedua.

Sumadio, Bambang dkk. 1993. “Jaman Kuna”, dalam Marwati Djoened Poesponegoro dkk (ed.), Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: P.N. Balai Pustaka.

Wirjosuparto, Sutjipto. 1968. Kakawin Bharata-Yuddha. Jakarta: Bharata.

Wiryamartana, I. Kuntara. 1990. Arjunawiwāha. Seri ILDEP. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

Abstrak

Dari karya-karya sastera masa Jawa Kuna terdapat gambaran bahwa pada masa itu telah dikenal strategi perang yang disebut byūha atau wyūha. Strategi perang yang disebutkan dalam karya-karya sastera itu hanya empat berasal dari Arthaśāstra (India) dan sisanya adalah strategi perang Jawa asli.

Berdasarkan beberapa kasus peperangan yang terjadi pada masa Jawa Kuna dapat diketahui bahwa strategi perang berupa serangan mendadak merupakan strategi yang paling banyak dipakai oleh raja-raja Jawa.

Kata Kunci: perang, wyūha, Jawa Kuna, Kadiri, Singhasāri, Majapahit

Abstract

Old Javanese manuscripts had depicted about the war strategies which were known as byūha or wyūha. Old Javanese people had known around ten byūhas, four of them derived from Arthaśāstra (India) and the rest were Old Javanese original tactics of war.

Based on the cases of war which were happened in the past, we had known that the frontal strategy was the most used by the kings of Old Javanese kingdoms.

Keywords: war, wyūha, Old Javanese, Kadiri, Singhasāri, Majapahit

Jenis-jenis wyūha yang terdapat dalam kakawin Bhāratayūddha (Wiryosuparto 1968:31–40):

Wajratiksna wyūha (kiri) dan wukir sagara wyūha (kanan)
Garuda wyūha
Makara wyūha & Cakra wyūha
Padma wyūha
Ardhacandra wyūha
Kānana wyūha

This site is protected by wp-copyrightpro.com