Ladies..

Buat semua wanita yang galau gundah gulana karena pria..

If a man wants you, nothing can keep him away.
If he doesn’t want you, nothing can make him stay.
Stop making excuses for a man and his behavior.
Allow your intuition (or spirit) to save you from heartache.
Stop trying to change yourselves for a relationship that’s not meant to be.

Slower is better.

Never live your life for a man before you find what makes you truly happy.
If a relationship ends because the man was not treating you as you deserve
then heck no, you can’t “be friends.”
A friend wouldn’t mistreat a friend.

Don’t settle. If you feel like he is stringing you along, then he probably is.
Don’t stay because you think “it will get better.” You’ll be mad at yourself a year later for staying when things are not better.
The only person you can control in a relationship is you.

Avoid men who’ve got a bunch of children by a bunch of different women.
He didn’t marry them when he got them pregnant,
Why would he treat you any differently?
Always have your own set of friends separate from his.
Maintain boundaries in how a guy treats you.
If something bothers you, speak up.
Never let a man know everything. He will use it against you later.

You cannot change a man’s behavior. Change comes from within.
Don’t EVER make him feel he is more important than you are…even if he has more education or in a better job. Do not make him into a quasi-god.

He is a man, nothing more nothing less.
Never let a man define who you are.

Never borrow someone else’s man.
Oh Lord! If he cheated with you, he’ll cheat on you.

A man will only treat you the way you allow him to treat you.
All men are not dogs.
You should not be the one doing all the bending…compromise is a two-way street.

You need time to heal between relationships…There is nothing cute about baggage. Deal with your issues before pursuing a new relationship.
You should never look for someone to complete you.
A relationship consists of two whole individuals.
Look for someone complimentary, not supplementary.
Dating is fun; even if he doesn’t turn out to be Mr. Right.

Make him miss you sometimes. When a man always know where you are, and you’re always readily available to him—he takes it for granted.

Don’t fully commit to a man who doesn’t give you everything that you need.
Keep him in your radar but get to know others.

~ MaryRone Shell ~

Selamat Berbuka!

Menarik, lihat bagaimana orang buka puasa.

Mereka duduk diam menghadap makanan minuman, tangan pegang HP menanti tanda2 alam (yang dikirimkan HP masing2) kemudian serentak seperti di barak militer, semua minum, langsung lanjut makan!

Aku pernah coba puasa tanpa sahur, buka saat Maghrib dannnn engga segitunya lapar. Haus sih, iya. Dan setelah minum (itupun cuma air hangat), rasanya ga pengen makan dulu.
Kalau pun makan, mulai makan kecil, manis2 gitu. Jam 7, baru deh makan yang lebih berat.

Lha ini? Sembayang, engga. Dan berbuka dengan sego (segunung) babat (full minyak) + sambal puedes.
Woooh.. turut prihatin untuk lambung2 yang malang itu .

Selamat berbuka!

Aku Orang Indonesia

 

Aku sebenarnya sempat lama meninggalkan media sosial. Kalau kalian amati, instagram laurentiadewi_blog cenderung stagnan jumlah postingan (juga followers-nya). Facebook? Malah deactive (2 bulan lebih).

Kemudian, karena beberapa hal, maka FB kembali dibuka dan nampang lagi deh segala cerita, status, berita, foto, dll mengenai pilkada Jakarta dan segala pihak yang terkait (dan melebar).

Aku pribadi, sudah eneg dengan semua pemberitaan politik tersebut. Walau pro Ahok (bukan karena ras dan agamanya), aku sadari bahwa kekalahan/ kemenangan Beliau sama sekali engga ngefek buatku yang tidak pegang KTP Jakarta. Jadi, sudahlah. Let it be.

Aku lebih mengkawatirkan hal lain. Munculnya kembali istilah pribumi dan Cina (yang ternyata cuma mati suri saja, selama ini..).

OK, seperti yang kalian ketahui, namaku Laurentia Dewi. Identitas sebagai Katolik, jelas terpampang walau bolak balik blusukan Klenteng – Vihara – Kuil – Pura – Candi – Masjid.

Dalam darahku, ada turunan Cina – Belanda – Ambon – Jawa. Dari salah satu leluhur, bisa diketahui bahwa aku sudah generasi ke 5 yang lahir di Nusantara. Masih kurang layak kah disebut WNI?

Aku tidak kenal tanah Cina, juga Belanda. Keduanya belum aku injak (tapi segera akan aku datangi!). Aku tidak bisa berbahasa Cina, tidak mengenal budayanya *kamsia Pak Harto*. Sakit hatiku sama seperti sakitnya mereka yang mengaku sebagai pribumi, ketika beberapa kesenian Indonesia di claim milik negara lain. Khawatirku sama, seperti khawatirnya mereka yang mengaku sebagai pribumi ketika ekonomi negara ini lesu.

Karena di tanah ini, aku lahir dan kemungkinan besar akan dikuburkan; seperti 5 generasi keluargaku yang lain.

Lagian, kenapa selalu si Cina yang disorot sebagai si pendatang. Kenapa tidak sekalipun kalian menyebut mereka yang keturunan Arab? Kenapa si Cina (pernah) menyandang status WNI Keturunan di berbagai surat identitas, namun para Arab tidak?

Lupakah kalian bahwa orang Cina yang membawa Islam datang ke Nusantara? Cheng Ho, misalnya. Masihkah kalian mau menyangkal bahwa beberapa Sunan yang kalian puja dan datangi makamnya itu adalah orang dari Cina? Masihkah kalian bisa berlagak tidak tahu bahwa yang mengajarkan seni ukir di Jepara adalah seorang (muslim) Cina?

Apa salah (orang keturunan) Cina? Saat diserang Belanda, warga turunan Cina juga menggotong senjata, membela Indonesia, tanah yang saat itu belum memberinya status warga negara.

Salah, karena kaya? Baca tulisan Alberthiene Endah berikut:

Aku agak gatel nih kalo gak nulis. Yg berpendapat bahwa Cina tuh enak krn gampang kaya semua…kalian keliru banget. Aku udah nulis 47 biografi dan hampir separuhnya pengusaha Tionghoa. Semuaaaanya pernah hidup susah. Bahkan amat susah.

Ciputra dari kecil sampai remaja harus berburu ke hutan dan kerja keras di kebun utk bisa makan. Ayahnya tewas di penjara. Tahir melewati kemiskinan sebagai anak juragan becak miskin. Sebelum mampu membangun bank Mayapada, ia bertahun-tahun berjualan minuman kaleng dan kue bulan. Djoko Susanto bos Alfamart yg juga orang terkaya ke sekian belas adalah lulusan SMP yg memulai usaha dari kios kecil. Ia bahkan mengangkut dus besar rokok di punggungnya tiap hari spt kuli. Dan yg terbaru…bos larutan Cap Badak, Budi Juwono. Dia mengalami masa remaja yg berat. Jadi sales obat dan dipukuli sampai babak belur oleh pesaingnya. Jualan kue pake dua keranjang di tengah banjir sampai harus angkat keranjang sekepala agar tak jatuh. Ia juga mendorong gerobak jati sbg pedagang kaki lima.

Pikirkanlah sesuatu yg logis dan masuk akal. Mereka bekerja sangat keras dan ulet. Tahan penghinaan dan tahan deraan hidup susah. Itulah yg membuat mereka kaya. Bukan ras. Yg masih hidup susah dan berjuang juga sangat banyak.

Jadi yg cemburu kenapa “banyak Cina kaya” tirulah etos kerja keras mereka. Lihat proses juangnya dan bukan hasil akhirnya.

Aku pun jadi penulis produktif karena kuserap hal positif dari cara kerja mereka. Gak cengeng. Gak gampang ngeluh. Disiplin.

Aku ingat betul, bagaimana cerita Opa mendapatkan status WNI, sedangkan tetangga rumah yang keturunan Arab, melenggang santai untuk berganti warga negara. Tahukah kalian, bahwa dulu kalau saja ada kebaran, maka satu-satunya surat yang akan diselamatkan adalah surat WNI, bukan deposito/ akta lahir, dll. Ya, (dulu) sebegitu berharganya surat WNI bagi kita yang sudah 5 generasi lahir dan mati di Indonesia.

Yuk, siapa yang lagi/ pernah sekolah kedokteran? Masih merasa kan, bahwa jatah kursi untuk “keturunan Cina” kurang dari 10% dari total mahasiswa/i bermerk “pribumi”? Ya, di 2017 hal ini masih ada diskriminasi seperti itu!!! Bahkan ada beberapa jurusan spesialis kedokteran yang menutup diri dari adanya para “keturunan Cina”. Keturunan Arab? Bebas masuk, bro.

Ayo, sekolah-sekolah negeri (apalagi yang di era sebelum tahun 2000), siapa berani mengaku bahwa mereka sangat membatasi adanya para keturunan Cina? Karena itulah dahulu, kita-kita yang di cap turunan Cina ini sekolah di sekolah swasta yang biayanya 10x lipat dari sekolah pemerintah. Karena itu pula lah, para ortu kita kudu bekerja minimal 10x lipat lebih cerdik dan keras dari kaum (yang menggolongkan dirinya sebagai) pribumi.

Pernahkah kalian dengar, orang berkulit apapun di Amerika sana memperkenalkan dirinya “I am American”. Indonesia, yang sudah sekian puluh tahun merdeka masih saja bilang “Aku orang Batak”, “Aku orang Arab”. Kenapa tidak menyebut, “Aku orang Indonesia”?

Aku, orang Indonesia. Sekali lagi: aku adalah orang Indonesia. Kamu?

 

Strategi Perang Raja-raja Jawa pada Abad ke-8–ke-15 Masehi

Strategi Perang Raja-raja Jawa pada Abad ke-8–ke-15 Masehi

Oleh: Titi Surti Nastiti
Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional

1. Pendahuluan

Dari data prasasti masa Jawa Kuna diperoleh gambaran bahwa sejak berdirinya kerajaan Matarām Kuna, tahun 717 M. sampai dengan runtuhnya kerajaan Majapahit pada awal abad ke-16 Masehi, sering terjadi peperangan, baik peperangan yang terjadi antar kerajaan, peperangan antara kerajaan pusat dengan kerajaan vasal, maupun peperangan di dalam kerajaan itu sendiri. Adapun motivasi terjadinya peperangan dapat saja karena perebutan takhta, perluasan wilayah (ekspansi), maupun karena balas dendam.

Menurut pengertian populer, perang ialah suatu konflik antara beberapa kelompok politik yang terlibat dalam suatu permusuhan yang lama dan dalam skala besar, sedangkan menurut Carl von Clausewitz (1780-1831) perang ialah perkembangan social dan tindakan politik. Perang bukan hanya tindakan politik melainkan juga sebuah alat politik yang konkrit, suatu kelanjutan kebijaksanaan yang dilanjutkan ke yang lain (Lapian t.t.:1, 20). Dilihat dari beberapa teori tentang perang, dalam dua aliran pemikiran, yaitu teori yang menghubungkan perang dengan faktor biologis dan psikologis tertentu yang melekat pada manusia, dan teori yang menghubungkan perang dengan hubungan sosial dan pranata sosial tertentu.

Berbicara mengenai perang maka tidak terlepas dari strategi perang yang dipakai dalam suatu peperangan. Kata strategi itu sendiri berasal dari bahasa Yunani strategos, yang secara sempit dirumuskan sebagai “seni seorang jenderal”. Istilah itu muncul karena pada mulana strategi berkaitan dengan siasat militer bagaimana seorang jenderal berusaha mengelabui musuh, dan membagi-bagi pasukannya dalam perang. Dalam teori perang, strategi dan taktik umumnya ditempatkan dalam dua kategori yang berbeda. Dua bidang ini secara tradisional dirumuskan menurut dimensi yang berbeda. Strategi berkenaan dengan raung yang luas, jangka waktu yang lama, serta gerak militer besar-besaran; sedangkan tatktik merupakan aplikasi dari strategi. Dengan demikian strategi diartikan prelude (pendahuluan) sebelum terjun ke medan pertempuran, sedangkan taktik adalah kegiatan di medan perang. Oleh karena itu, lanjut Lapian (t.t.:12–14), kebanyakan pustaka dan teori mengenai strategi di masa lampau memusatkan perhatian kepada persiapan yang sebaik-baiknya sebelum berangkat ke medan perang, bagaimana memimpin pasukan sampai saatnya bertemu musuh. Keadaan ini menjelaskan mengapa lebih banyak perhatian diberikan kepada manuver strategis, yang ditujukan untuk menempatkan pasukan sendiri dalam posisi yang menguntungkan agar memaksa musuh berada dalam posisi yang merugikan dan membatasi musuh untuk bergerak secara bebas.

Dari kesusateraan Jawa Kuna terdapat bukti bahwa orang pada masa itu telah mengenal strategi perang, antara lain dari kakawin Bhāratayūddha, yang ditulis oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh pada masa pemerintahan Jayabhaya dari kerajaan Kadiri pada tahun 1019 Śaka (1157 M.)*1. Kakawin ini menuliskan tentang bermacam-macam jenis byūha/wyūha (strategi perang) yang dilakukan oleh Pandawa dan Kaurawa dalam peperangan yang langsung berhadapan dengan musuh atau serangan frontal (lihat gambar di bawah ini).

———-
  • *1. Angka tahun dalam kakawin Bhāratayūddha ditulis dalam bentuk candra sangkala yang berbunyi śāka kāla ri sanga kuda śuddha candrama (Poerbatjaraka dan Tardjan Hadidjaja 1957:24; Wirjosuparro 1968:41).
———-

Sehubungan dengan strategi perang, Wirjosuparto (1968:21–22) berpendapat bahwa di Indonesia telah dikenal strategi perang sāma-bheda-dańůa yang bersumber dari kesusateraan India yang berjudul Arthaśāstra antara lain menuliskan tentang pengetahuan politik, termasuk politik menghancurkan musuh, yang juga merupakan kitab pegangan keluarga raja-raja Gupta yang pernah mempersatukan sebagian besar India. Selanjutya Wirjosuparto menjelaskan bahwa meskipun sāma-bheda-dańůa diambil dari kitab Arthaśāstra, akan tetapi pengertian strategi tersebut dituliskan dalam kakawin Arjunawiwāha yang digubah oleh Mpu Kanwa pada masa pemerintahan raja Airlangga (1019–1049) dan kakawin nitiśāstra yang diperkirakan berasal dari akhir masa Majapahit*2, maka strategi perang sāma-bheda-dańůa itu dikenal dan dipelajari di Jawa.

———-
  • *2. Penggubah kakawin Nitiśāstra tidak diketahui, tetapi dari gaya bahasa dan susunan katanya diperkirakan berasal dari masa Majapahit akhir.
———-

Adapun inti ajaran yang dikemukakan dalam sāma-bheda-dańůa adalah: pertama bahwa setiap raja yang ingin membinasakan musuh-musuhnya wajib mencari sekutu (sāma) di antara kerajaan-kerajaan yang berhubungan baik, dengan perhitungan bahwa jika terjadi perang maka kerajaan yang menjadi sekutunya diharapkan memberikan bantuan atau setidak-tidaknya bersikap netral; kedua ialah dengan memecah belah (bheda); dan terakhir apabila memecah belah kerajaan-kerajaan musuh telah tercapai maka yang dilakukan ialah memukul (dańůa) musuhnya yang telah lemah (Wirjosuparto 1968:22).

Untuk masa lebih kemudian kita mendapatkan keterangan mengenai beberapa strategi perang dari Dagh-Register VOC antara strategi militer Jawa dalam berperang, yaitu: (1) penyerbuan secara tiba-tiba (surprises attack); (2) merubuhkan pohon-pohon ke jalan raya sehingga jalan tertutup dan menghalangi serangan musuh, terutama menghalangi konvoi kereta barang; (3) memutuskan suplai makanan yang merupakan titik lemah sehingga dapat memaksa musuh menyerah karena kelaparab; dan (4) memutuskan suplai air dari bendungan sungai (Schrieke 1957:132–135).

Sehubungan dengan itu, maka dalam tulisan makalah ini akan dicoba membuktikan asumsi Wirjosuparto yang menyebutkan bahwa strategi dan taktik perang sāma-bheda-dańůa telah dikenal dan dipelajari di Jawa, yang dalam kasus ini akan diterapkan pada raja-raja Jawa pada abad ke-8–15 Masehi. Di samping itu juga akan dibicarakan mengenai beberapa strategi perang yang dipakai pada masa Jawa Kuna. Untuk keperluan tersebut dipakai data tekstual berupa prasasti, karya sastera, dan berita Cina dari masa yang sezaman.
2. Strategi Perang Raja-raja Jawa pada Abad ke-8–15 Masehi

Seperti telah diutarakan sebelumnya, dari data prasasti diketahui adanya peperangan, baik karena perebutan takhta, perluasan wilayah, atau balas dendam. Dalam peperangan-peperangan tersebut dapat dilihat strategi-strategi perang yang dipakai pada masa Jawa Kuna. Pertama, strategi yang dipakai adalah serangan yang mendadak atau surprise attack. Sebagai contoh ialah peperangan yang terjadi antara Śrī Dharmmawangśa Těguh Anantawikramottunggadewa (991–1016 M.) dari kerajaan Matarām Kuna dengan raja Wurawari*3 yang merupakan salah satu raja bawahannya.

———-
  • *3. Daerah Wurawari diperkirakan di sebelah selatan Karang Kobar, Banyumas (Schrieke 1959:215, 294).
———-

Serangan raja Wurawari terjadi tidak lama setelah perkawinan puteri Dharmmawangśa Těguh dengan Airlangga, sehingga para pakar Sejarah Kuna memperkirakan bahwa raja Wurari tadinya mempunyai ambisi untuk menikah dengan puteri mahkota dan menggantikan Dharmmawangśa Těguh. Akan tetapi yang dipilih oleh Dharmmawangśa Těguh sebagai menantu adalah kemenakannya yang berasal dari Bali. Seperti disebutkan dalam sumber tertulis, Airlangga adalah putera Mahendradattā Guńapriyadharmmapatnī, adik Dharmmawangśa Těguh yang menikah dengan raja Udāyana dari wangsa Warmmadewa di Bali. Oleh karena tidak berhasil menikahi puteri Dharmmawangśa Těguh, raja Wurawari merasa kecewa dan dalam melampiaskan kekecewaannya, ia melakukan serangan mendadak ke istana Dharmmawangśa Těguh. Adanya serangan mendadak menyebabkan Dharmmawangśa Těguh tidak berdaya dan menemukan ajalnya dalam peperangan itu, sedangkan Airlangga berhasil melarikan diri ke hutan ditemani pelayannya yang setia bernama Narottama*4.

Contoh serangan mendadak lainnya ialah peperangan yang terjadi antara Kěrtanagara (1268–1292 M.), raja kerajaan Singhasāri yang terakhir, dengan Jayakatwang (1271–1293 M.) dari kerajaan Gělang-gělang atau Gěgělang*5. Kěrtanagara tidak menyangka akan adanya serangan mendadak dari raja Jayakatwang yang merupakan raja bawahannya dan juga masih iparnya. Pada saat adanya serangan, Kěrtanagara sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi ancaman Kubhilai Khan dari Mongol. Adapun sebabnya ia berseteru dengan Mongol ialah ketika utusan Kubhilai Khan bernama Meng-ch’i datang ke Singhasāri pada tahun 1298 M untuk minta pengakuan tunduk kepada kerajaan Kubhilai Khan, permintaan itu ditolak dan Meng-ch’i dilukai mukanya. Penganiayaan terhadap utusannya itu oleh Kubhilai Khan dianggap sebagai penghinaan besar dan pernyataan perang dari Kěrtanagara. Maka pada awal tahun 1292 M. berangkatlah tentara Mongol untuk menaklukkan Jawa yang dipimpin tiga panglima perang, yaitu Shih-pi, Ike Mese (Iseh-mi-shih), dan Kao-hsing.

———-
  • *4. Setelah Airlangga menjadi raja, Narottama diangkat sebagai rakryān kanuruhan dengan gelar Mpu Dharmmamurti Narottama Danasura.
  • *5. Dalam Sěrat Pararaton, Kaůiri disebut sebagai Gěgělang yang beribukota di Daha, padahal dalam prasasti Mūla Malurung yang berangka tahun 1177 Śaka (1255 M.), Gělang-gělang adalah ibukota dari kerajaan Wurawan. Nama Kadiri sendiri telah dikenal sejak masa Airlangga. Pada masa Airlangga Daha merupakan ibukota kerajaan Pangjalu yang kemudian dikenal dengan nama Kadiri (Djafar 1978:112).
———-

Pada saat itulah Jayakatwang menyerang Kěrtanagara. Atas hasutan patihnya, Aryya Wiraraja, yang mengatakan bahwa kewajiban seorang ksatrya adalah menghapus aib seperti yang diderita oleh leluhurnya. Seperti ditulis dalam Sěrat Pararaton*6 , Kěrtajaya atau Dandang Gěndis, raja Kadiri terakhir, dikalahkan oleh Ken Angrok dari Tumapel pada tahun 1144 Śaka (1222 M.). Pada tahun itu juga Ken Angrok mendirikan kerajaan Singhasāri dan Kadiri menjadi bagian dari kerajaan Singhasāri. Dengan adanya hasutan Aryya Wiraraja, Jayakatwang, bertekad membalas dendam kematian leluhurnya (Kěrtajaya) oleh leluhur raja Kěrtanagara (Ken Angrok). Sebenarnya Jayakatwang adalah salah satu raja daerah kerajaan Singhasāri yang berkuasa di Wurawan. Ia juga adik ipar Kěrtanagara karena ia menikah dengan puteri dari Wisnuwarddhana yang bernama Turuk Balī.

———-
  • *6. Sěrat Pararaton atau Katutunira Ken Angrok ditulis dalam bentuk gancaran (prosa) berbahasa Jawa Tengahan, berasal dari masa Majapahit akhir. Hasan Djafar (1978:25) berpendapat bahwa Sěrat Pararaton ditulis tidak lama setelah tahun 1481 M., pada masa pemerintahan raja Girīndrawarddhana Dyah Rańawijaya. Pendapatnya ini dilandaskan pada peristiwa terakhir yang disebutkan yaitu gunung meletus yang terjadi pada tahun 1403 Śaka (1481 M.). Adapun isi Sěrat Pararton ialah tentang kronik raja-raja sejak kerajaan Singhasāri sampai kerajaan Majapahit.
———-

Menurut Sěrat Pararaton, dalam usaha meruntuhkan kerajaan Singhasāri, Aryya Wiraraja atau Banyak Wide tadinya adalah pejabat tinggi yang berkedudukan di pusat, akan tetapi karena ie mempunyai pandangan politik yang berbeda dengan Kěrtanagara, oleh Kěrtanagara ia dipindahkan menjadi asipati di Sumenep, Madura. Ia merasa sakit hati oleh perlakuan Kěrtanagara tersebut sehingga ia menghasut Jayakatwang untuk membalas dendam kepada Kěrtanagara dan berjanji akan memberitahu Jayakatwang saat yang tepat untuk menyerang Singhasāri. Pada waktu sebagian kekuatan tentara Singhasāri sedang berada di Malayu, Aryya Wiraraja menulis surat kepada Jayakatwang sebagai berikut:

“Pukulun, patih aji matur ing paduka aji, aněnggěh paduka aji ayun abuburu maring těgal lama, mangke ta paduka aji abuburua, duwěg kaladeçanipun tambontěn wontěn baya, tambontěn macanipun, tambontěn bańőengipun, muwah ulanipun, rinipun, wontěn macanipun anging guguh” (Brandes 1826:18).

Artinya:

Hamba, patih Yang Mulia, memberitahukan Paduka Raja, apabila Paduka ingin berburu ke tegal lama, sekaranglah saat yang tepat Paduka berburu, pada saat ada kesempatan baik. Tidak ada bahaya, tidak ada harimau, tidak ada banteng, juga ular (dan) musuh, ada harimau tapi giginya sudah ompong.

Jayakatwang tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, dalam penyerangannya ia memakai siasat makara wyūha (Sumadio 1993:418, cat. no, 89) yaitu dengan melancarkan serangan dari dua arah, dari utara dan selatan. Pasukan yang menyerang dari utara hanya merupakan siasat yang memancing agar pasukan kerajaan Singhasāri keluar dari keraton. Siasatnya ini berhasil, karena dengan adanya serangan dari utara, maka pasukan Singhasāri di bawah pimpinan Raden Wijaya*7 dan Arddharaja, anak Jayakatwang yang juga menantu Kěrtanagara, menyerbu ke utara dan mengejar musuh yang selalu bergerak mundur. Pada waktu kekuatan di keraton Singhasāri lemah lalu pasukan. Jayakatwang yang berada di selatan menyerang keraton dan dapat membunuh Kěrtanagara yang sedang melakukan upacara keagamaan*8.

———-
  • *7. Raden Wijaya atau Narāryya Sanggramawijaya adalah nama anak Dyah Lěmbu Tal. Ia adalah pendiri kerajaan Majapahit yang naik takhta pada tahun 1293. Setelah ia menjadi raja bergelar Śrī Kěrtarājasa Jayawarddhana.
  • *8. Dalam Sěrat Pararaton (Brandes 1897:19), ketika ada serangan dari Jayakatwang, Kěrtanagara disebutkan sedang bermabuk-mabukan (sira bhaőāra çiwa buddha pijěr anadah sajöng = Beliau Bhatara Siwa Buddha terus menerus meminum tuak). Sebenarnya pada saat itu ia sedang melakukan upacara keagamaan. Oleh karena ia adalah penganut agama Buddha Tantrayana yang telah mencapai tingkatan sūnyaparamānanda atau tingkatan hidup sebagai Adibuddha yang abadi, yang mengecap kebahagiaan tertinggi. Dalam tingkatan ini tidak ada lagi yang terlarang baginya, juga menikmati pañcamakara, yaitu maithuna (hubungan seksual), madya (minuman keras), mamsa (daging), matsya (ikan), dan mudra (sikap tangan yang menimbulkan kekuatan gaib) (Sumadio dkk. 1993:416–417).
———-

Bahwa Kěrtanagara tidak menyangka dapat serangan mendadak dari Jayakatwang, terlihat dari ketidakpercayaannya ketika diberitahu ada serangan dari Daha, ia malah berkata: “kadi pira sirāji Jaya Katong mangkonon ring isun, apan sira huwus apakenak lawan isun, artinya betapa tega Jayakatong berbuat begitu kepadaku, padahal ia bersaudara denganku (Brandes 1896:19).

Selain strategi yang melakukan serangan secara tiba-tiba, juga ada strategi perang yang dilakukans secara frontal, yaitu serangan yang dilakukan dengan berhadap-hadapan dan terbuka. Dari kesusateraan Jawa Kuna didapatkan gambaran bahwa dalam perang frontal, pasukan yang maju ke medan perang diiringi oleh tetabuhan. Sebagai contoh dalam kakawin Arjunawiwāha pupuh 23.2–3 digambarkan situasi bagaimana di antara ramainya suara barisan tentara yang bersorak-sorak terdengar bunyi gendang, ketipung (terompet), gong, dan gemuruh tambur (Poerbatjaraka 1926:45–46; Wiryamartana 1990:104, 160).

Selama peperangan, tabuh-tabuhan tersebut terus dibunyikan, ini terlihat dari kalimat pada pupuh 25.5 yang menggambarkan bagaimana bunyi gong dan riuh genderang tidak lagi terdengar karena terkalahkan oleh oleh bunyi perisai berdentang-dentang, gemerincingnya golok, dan gelegar konta mengenai gajah. Ditambah dengan lenguhan orang yang menghembuskan nyawa, yang mengaduh, dan pekikan orang yang menyerang (Poerbatjaraka 1926:49; Wiryamartana 1990:107, 164).

Gambaran adanya pasukan perang yang sedang berjalan menuju medan perang dengan membawa tetabuhan digambarkan pada Candi Panataran (abad 12–14 M.). Dalam relief yang menceritakan kisah Rāmayana terdapat adegan pasukan kera yang akan berperang dengan pasukan raksasa dari Alengka, di antara pasukan kera itu ada dua ekor kera yang membawa tetabuhan yang berupa gong.

J.L.A. Brandes (1904)
Foto 1. Pasukan kera yang membawa gong

Peperangan secara frontal ini dapat dilihat dalam perebutan takhta kerajaan Matarām yang terjadi sekitar abad ke-9 M. antara Rakai Pikatan (850–856 M.) dan Rakai Walaing Pu Kumbhayoni. Menurut prasasti Siwagěrha yang berangka tahun 778 (856 M.), peperangan ini berjalan selama satu tahun. Dalam peperangan ini, anak bungsu Rakai Pikatan yang bernama Rakai Kayuwangi Dyah Lokapāla (856–882) sebagai pemimpin pasukan yang gagah berani berhadapan dengan pasukan Rakai Walaing Pu Kumbhayoni. Sekali waktu Rakai Kayuwangi berhasil memukul mundur Rakai Walaing yang menyebabkan Rakai Walaing mengungsi sampai ke atas bukit Ratu Baka dan membuat benteng di sana. Lokasi bukit ini sangat strategis sehingga Rakai Kayuwangi mengalami kesulitan untuk menggempurnya, tetapi berkat keuletannya, akhirnya ia berhasil menggempur pertahanan Rakai Walaing di bukit Ratu Baka.

Relief Candi Borobudur panil I.b. 47 yang menggambarkan perang frontal

Contoh perang frontal lainnya ialah perang antar saudara yang dikenal dengan peristiwa parěgrěg. Peperangan ini terjadi antara Wikramawarddhana atau Bhra Hyang Wiśesa (1389–1400 M.) yaitu keponakan sekaligus menantu raja Hayam Wuruk (1350–1389 M.) yang berkuasa di kedaton kulon dengan Bhre Wirabhūmi, anak Hayam Wuruk dari selir yang berkuasa di kedaton wetan. Menurut Sěrat Pararaton, persengketaan antar keduanya mulai terjadi pada tahun 1323 Śaka (1401 M.), dan tiga tahun kemudian persengketaan makin memuncak sehingga terjadi peperangan. Pada awalnya Wikramawarddhana dapat dikalahkan oleh Bhre Wirabhūmi, tetapi setelah mendapat sokongan dari Bhre Tumapel Bhra Hyang Parameśwara, peperangan ini diahiri oleh kekalahan Bhre Wirabhūmi pada tahun1328 Śaka (1406 M.). Bertepatan dengan peristiwa tersebut, kaisar Ch’ěng-tsu dari Cina mengirimkan utusannya, Laksamana Chěng-Ho, ke Jawa pada tahun 1405 M. Setahun kemudian Chěng-ho menyaksikan kedua raja di Jawa sedang berperang, kerajaan bagian Timur kalah dan keratonnya dirusak. Pada saat terjadi pertempuran, utusan Cina sedang berada di kerajaan bagian Timur dan 170 tentara Cina tewas karenanya. Kaisar Cina sangat marah atas kejadian tersebut, dan ia menuntut Wikramawarddhana agar membaya denda sebanyak 60 ribu tail emas. Pada tahun 1408 M., ketika Chěng-ho diutus lagi ke Jawa, ia menerima pembayaran denda 10 ribu tail emas. Meskipun jumlah yang diberikan oleh Wikramawarddhana tidak sesuai dengan tuntutannya, Kaisar Cina tidak marah malah mengembalikan uang tersebut, karena bagian yang penting bukan uangnya melainkan Wikramawarddhana mengetahui kesalahannya (Groeneveldt 1960:36–37).

Dalam kesusasteraan Jawa Kuna disebutkan adanya strategi perang frontal yang disebut wyūha. Misalnya kakawin Bhāratayūddha menyebutkan adanya 10 macam wyūha, yaitu (1) wukir sagara wyūha (susunan pasukan berbentuk bukit dan samudera), (2) wajratikśna wyūha (susunan pasukan berbentuk wajra), (3) kagapati/garuda wyūha (susunan pasukan berbentuk garuda), (4) gajendramatta/gajamatta wyūha (susunan pasukan berbentuk gajah ngamuk), (5) cakra wyūha (susunan tentara berbentuk cakra), (6) makara wyūha (susunan pasukan berbentuk makara), (7) sūcimukha wyūha (susunan pasukan yang ujungnya seperti jarum), (8) padma wyūha (susunan pasukan berbentuk bunga teratai), (9) ardhacandra wyūha (susunan pasukan berbentuk bulan sabit), dan (10) kānannya wyūha (susunan pasukan berbentuk lingkaran berlapis) (Wiryosuparto 1968:30–40). Menurut Kats dan Wirjosuparto, jumlah wyūha yang disebutkan dalam kakawin Bhāratayūddha berbeda dengan yang disebutkan dalam karya sastera Kamandaka yang hanya menyebutkan 8 macam wyūha, yaitu (1) garuda wyūha, (2) singha wyūha (susunan pasukan berbentuk singa), (3) makara wyūha, (4) cakra wyūha, (5) padma wyūha, (6) wukir sagara wyūha, (7) arddhacandra wyūha, dan (8) wajratikśna wyūha (Wirjosuparto 1968:29; Kats 1923:240)*9.

Dari hasil perbandingan, ternyata hanya ada empat jenis wyūha yang telah disebutkan di muka yang sama dengan kitab Arthaśāstra, yaitu kitab tentang strategi perang yang berasal dari India*10. Keempat strategi perang itu adalah garuda wyūha, sūcimukha wyūha, wajra(tikśna) wyūha, dan ardhacandrika wyūha; sedangkan jenis-jenis wyūha lainnya, yaitu wukir sagara wyūha, gajendramatta/gajamatta wyūha, padma wyūha, cakra wyūha, makara wyūha, dan kānannya wyūha tidak terrdapat dalam kitab Arthaśāstra (lihat tabel 1). Bisa saja jenis-jenis wyūha tersebut merupakan strategi perang asli Jawa yang kemudian namanya diubah ke dalam bahasa Sanskerta.

———-
  • *9. Ternyata dalam karya sastera Kamandaka yang dikemukakan oleh Kats tentang strategi perang tidak ditemukan. Dalam hal ini , Wiryosuparto agaknya hanya mengutip Kats tanpa menelusuri ke naskah aslinya lagi.
  • *10. Jenis-jenis strategi perang yang disebutkan dalam Arthaśāstra adalah: dańůa (susunan pasukan seperti alat pemukul), (2) bhoga (susunan pasukan seperti ular), (3) mańůala (susunan pasukan seperti lingkaran), (4) asamhata (susunan pasukan yang bagian-bagiannya terpisah), (5) pradara (susunan pasukan untuk menggempur musuh), (6) ůŕůhaka (susunan pasukan dengan sayap dan lambung tertarik ke belakang), (7) asahya (susunan pasukan yang tidak dapat ditembus), (8) garuůa (susunan pasukan berbentuk garuda), (9) sañjaya (susunan pasukan berbentuk busur), (10) wijaya (susunan pasukan menyerupai busur dengan bagian depan menjolok), (11) sthūlakarńna (susunan pasukan yang berbentuk telinga besar), (12) wiśālawijaya (susunan pasukan yang disebut kemenangan mutlak, susunannnya sama dengan sthūlakarńna, hanya bagian depan disusun dua kali lebih kuat), (13) camūmukha (susunan pasukan dengan bentuk dua sayap yang berhadapan muka dengan musuh), (14) jhashāsya (susunan pasukan seperti camūmukha, hanya sayapnya ditarik ke belakang), (15) sūcimukha (susunan pasukan yang ujungnya seperti jarum), (16) walaya (susunan pasukan seperti sūcimukha hanya barisannya terdiri dari dua lapis), (17) ajaya (susunan pasukan yang tidak terkalahkan), (18) sarpāsarīi (susunan pasukan seperti ular yang bergerak), (19) gomūtrika (susunan pasukan yang berbentuk arah terbuangnya air seni sapi), (20) syandana (susunan pasukan yang menyerupai kereta), (21) godha (susunan pasukan berbentuk buaya), (22) wāripatantaka (susunan pasukan sama degan syandana, hanya semua pasukannya terdiri dari barisan gajah, kuda, dan kereta perang), (23) sarwatomukha (susunan tentara berbentuk lingkaran), (24) sarwatobhadra (susunan pasukan yang serba menguntungkan), (25) ashőānīkā (susunan pasukan yang terdiri dari 8 divisi), (26) wajra (susunan pasukan berbentuk wajra), (27) udyānaka (susunan pasukan berbentuk taman yang terdiri dari 4 divisi), (28) ardhacandrika (susunan pasukan berbentuk bulan sabit yang terdiri dari 3 divisi), (29) karkāőakaśrěnggi (susunan pasukan berbentuk kepala udang), (30) ariśőa (susunan pasukan dengan garis depan ditempati pasukan kereta perang, pasukan gajah, sedangkan pasukan berkuda menempati baris belakang), (31) acala (susunan pasukan yang menempatkan barisan infanteri, pasukan gajah, pasukan kuda, dan pasukan kereta perang, berbaris ke belakang), (32) śyena (susunan pasukannya sama dengan garuda), (33) apratihata (pasukan kuda, pasukan kereta perang, dan pasukan infanteri berbaris ke belakang), (34) chāpa (susunan pasukan berbentuk busur), dan (35) madhya chāpa (susunan pasukan berbentuk busur dengan inti kekuatan berada di bagian tengah) (Sharmasastry 1923:434–435; Wirjosuparto 1968:27–29).

———-

Patut disayangkan, karena terbatasnya data tekstual (prasasti dan karya sastera), kita tidak dapat mengetahui strtaegi serangan frontal yang dilakukan Rakai Kayuwangi terhadap Rakai Walaing Pu Kumbhayoni. Demikian pula strategi perang yang dijalankan oleh Wikramawarddhana dalam menghadapi Bhre Wirabhūmi. Hanya satu hal yang dapat dipastikan bahwa dalam peperangan tersebut mereka menggunakan strategi perang tertentu, dan bisa saja memakai salah satu wyūha yang telah disebutkan di atas.

Strategi perang lainnya ialah strategi perang yang dilakukan oleh Raden Wijaya. Raden Wijaya ialah kemenakan sekaligus menantu Kěrtanagara, karena ia menikahi keempat puteri Kěrtanagara. Setelah Kěrtanagara berhasil dibunuh oleh Jayakatwang, atas saran Aryya Wiraraja, ia berpura-pura tunduk kepada Jayakatwang. Setelah mendapatkan kepercayaan penuh dari Jayakatwang, ia meminta hutan di daerah Trik*11 sebagai pertahanan dalam menghadapi musuh yang menyerang melalui Sungai Brantas. Kemudian, setelah permohonannya dikabulkan ia membuka daerah itu dengan bantuan Aryya Wiraraja menjadi desa yang dinamakan Majapahit. Di tempat itu, ia secara diam-diam memperkuat diri sambil menunggu saat yang tepat untuk menyerang Kadiri. Di Madura, Aryya Wiraraja sudah bersiap-siap pula dengan pasukannya untuk membantu Majapahit melawan Jayakatwang.

———-
  • *11. Daerah Trik diidentfikasikan dengan Desa Tarik, Kecamatan Tarik, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur
———-

Bersamaan dengan selesainya persiapan-persiapan untuk mengadakan perlawanan terhadap Jayakatwang pada awal tahun 1293, datanglah tentara Kubhilai Khan yang akan membalas perlakuan Kěrtanagara terhadap utusannya. Mereka tidak mengetahui jika kerajaan Singhasāri telah hancur dan rajanya, Kěrtanagara telah gugur. Bagi Raden Wijaya kedatangan pasukan Cina merupakan kesempatan yang baik untuk menyusun suatu strategi. Oleh karena itu dengan segera ia mengirimkan utusan kepada panglima pasukan Cina yang membawa pesan bahwa ia bersedia tunduk dan bergabung dengan pasukan Cina untuk menggempur Daha. Selain itu ia pun mengirimkan pengikut yang dipercayainya untuk memberikan informasi kepada pasukan Cina tentang jalan, sungai, dan sumber-sumber yang ada di negeri itu (Groeneveldt 1960:33).

Pasukan Cina menyerang Daha yang menjadi ibukota Kadiri dalam tiga gelombang. Gelombang pertama dilakukan pada awal bulan ketiga (April-Mei) di muara Kali Mas (Pa-tsieh), pasukan Cina menyerang pasukan Daha yang selalu siap menghadapi musuh dari luar. Dalam pertempuran ini pasukan Daha dapat dikalahkan. Setelah mendapatkan kemenangan, pasukan Cina dibagi menjadi dua: sebagian berjaga-jaga di muara Kali Mas dan sebagian lagi menyerang Daha. Akan tetapi sebelum mereka berangkat ke Daha, datang utusan Raden Wijaya yang meminta bantuan karena Majapahit akan diserang oleh pasukan Daha. Pada tanggal delapan bulan ketiga, terjadi pertempuran di Majapahit yang berakhir dengan kekalahan pasukan Daha. Tidak puas dengan kesuksesan yang dicapainya, pasukan Cina bergerak menuju Daha, dan pada tanggal 19 bulan yang sama mereka menyerang Daha. Jayakatwang telah siap menghadapi musuh dengan pasukan yang terdiri dari seratus ribu orang. Setelah pertempuran berjalan dengan dahsyatnya, akhirnya Jayakatwang menyerahkan diri dan ditawan bersama semua anggota keluarganya serta para pejabat tinggi kerajaan (Groeneveldt 1960:33–4; Sumadio dkk. 1993:425).

Salah satu adegan pada relief Borobudur panil Ib 44 yang menggambarkan prajurit yang terdiri dari tiga pasukan, yaitu pasukan berkendaraan gajah, pasukan berkendaraan kuda, dan pasukan berjalan kaki

Setelah pertempuran antara pasukan Kadiri dengan Cina berakhir, Raden wijaya kembali ke Majapahit dengan alasan mengambil upeti yang akan dipersembahkan kepada Kaisar Cina. Dalam perjalanannya ke Majapahit ia dikawal oleh dua opsir dan duaratus tentara Cina. Di tengah perjalanan, ia berhasil mengelabui dan membunuh kedua opsir, kemudian menyerang pengawal-pengawalnya. Setelah mengalahkan pengawal-pengawal Cina, pasukan Raden Wijaya kembali ke Daha untuk menyerang tentara Cina. Dalam peperangan ini, tentara Cina mengalami kekalahan dan sisanya terpaksa melarikan diri meninggalkan Pulau Jawa.

Dari data tekstual, tidak pernah ada keterangan yang menyebutkan Raden Wijaya melakukan strategi perang sāma-bheda-dańůa, akan tetapi dari tahapan-tahapan perang yang dilakukan oleh Raden Wijaya, ia menjalankan strategi itu. Dalam menjalankan strateginya, pertama kali yang dilakukan oleh Raden Wijaya ialah berteman dengan Aryya Wiraraja, dalam hal ini strategi yang dijalankan ialah mencari pendukung agar ada yang membantu ketika ia menyerang Jayakatwang (sāma). Lalu ia menghasut tentara Cina dengan mengatakan bahwa Jayakatwanglah musuh yang dicari oleh balatentara tersebuut (bheda), dan setelah terjadi peperangan antara Jayakatwang dengan pasukan Cina yang diakhiri dengan kekalahan Jayakatwang, tindakannya yang terakhir adalah memukul balatentara Cina (dańůa).
3. Penutup

Dari beberapa contoh peperangan yang terjadi pada masa Jawa Kuna dapat diambil kesimpulan bahwa strategi perang yang berupa serangan mendadak pada umumnya dilakukan oleh raja-raja yang mempunyai motivasi balas dendam, seperti yang dilakukan oleh raja Wurari terhadap Dharmmawangsa Těguh atau Jayakatwang terhadap Kěrtanagara. Tampaknya alasan mereka melakukan serangan mendadak adalah karena jika memakai strategi perang frontal, mereka pasti kalah sebab musuh yang dihadapinya jauh lebih kuat. Adapun strategi serangan frontal biasanya terjadi dalam perang saudara yang kekuatannya seimbang, seperti peperangan yang terjadi antara Rakai Kayuwangi an Rakai Walaing Pu Kumbhayoni atau Wikramawarddhana dan Bhre Wirabhūmi.

Mengenai strategi perang sāma-bheda-dańůa, seperti telah diutarakan sebelumnya mungkin dilakukan oleh Raden Wijaya. Akan tetapi yang masih menjadi pertanyaan adalah apakah Raden Wijaya melakukan strategi itu karena dia mempelajari strategi tersebut ataukah hanya kebetulan tahapan-tahapan dalam menjalankan strategi perangnya sesuai dengan sāma-bheda-dańůa. Karena jika kita teliti kembali kakawin Arjunawiwāha dan Nitiśāstra maka dapat diketahui bahwa dalam kedua kakawin tersebut, sāma-bheda-dańůa tidak khusus menjelaskan mengenai strategi perang. Dalam Arjunawiwāha pupuh 21.1 terdapat kata sāma-bheda-dańůa dan bukan sāma-bheda-dańůa yang menjelaskan Niwatakawaca yang sudah tidak mau lagi mau berdamai, yaitu perdamaian yang didamaikan dengan uang, akan tetapi hanya mau menyelesaikan masalahnya dengan perang; sedangkan Nitiśāstra, menekankan pentingnya uang/harta benda (dhana) dalam menjalankan sāma-bheda-dańůa, tanpa dhana maka sāma-bheda-dańůa tidak berhasil. Oleh karena itu asumsi Wirjosuparto yang menyebutkan sāma-bheda-dańůa telah dikenal dan dipelajari di Indonesia harus diuji kembali dan harus dicari bukti-bukti yang lebih kuat dan akurat untuk mendukung asumsi tersebut.

Jika dilihat faktor-faktor yang menjadi pemicu perang, maka dapat disebutkan terjadinya perang pada masa Jawa Kuna terutama disebabkan oleh faktor-faktor biologis dan psikologis. Faktor-faktor biologis ini dapat disebabkan oleh persaingan untuk memiliki sesuatu, pelanggaran oleh orang luar, atau frustasi dalam kegiatan tertentu; sedangkan faktor psikologis didasarkan oleh sifat manusia yang secara lahiriah agresif (Lapian t.t.:5–6). Faktor-faktor itulah maka Kěrtanagara untuk menyatukan Nusantara melakukan ekspansi dengan peperangan. Atau perang antar sudara karena memperebutkan takhta kerajaan, seperti peperangan yang terjadi antara Rakai Kayuwangi yang dipimpin oleh anaknya, Rakai Kayuwangi dengan Rakai Walaing Pu Kumbhayoni, atau antara Wikramawarddhana dan Bhre Wirabhūmi; sedangkan faktor psikologisnya lebih menyangkut pada balas dendam, seperti yang dilakukan oleh raja Wurari terhadap Dharmmawangsa Těguh.

Baik faktor biologis maupun psikologis tersebut menunjukkan bahwa kehidupan pada masa Jawa Kuna menggambarkan adanya interest (kepentingan) yang tidak dapat diselesaikan melalui kompromi yang bersifat konsensus. Oleh karena itu terlihat adanya unsur pemaksaan kepentingan dari satu pihak terhadap pihak lain.

Dari kondisi seperti itu, perang yang menjadi salah satu bentuk penyaluran kepentingan dari satu pihak terhadap pihak lain, adalah juga merupakan bentuk konflik yang termasuk dalam kriteria yang paling tinggi dan fatal. Dengan demikian esensi konflik yang diimplementasikan melalui perang agaknya sejak masa lalu merupakan gejala yang paling efektif, daripada mengandalkan cara-cara perundingan atau pencapaian kesepakatan antara dua pihak yang bermusuhan, dan menyangkut persoalan di antara mereka yang berseteru tersebut.

Dari pembahasan mengenai peperangan yang terjadi pada masa Jawa Kuna dapat diambil kesimpulan bahwa perang yang terjadi karena dorongan psikologi maupun biologis mengandung suatu interaksi yang tidak selalu menguntungkan antara aspek kekuasaan (realitas) dan moral (idealis). Seharusnya aspek moral dapat mengawasi ambisi yang terlalu berlebihan dari kekuasaan. Tetapi ternyata aspek moral itu agak terabaikan. Secara argumentatif memang harus diakui bahwa aspek moral selalu menghadapi banyak persoalan, termasuk persoalan sangsi atau ganjaran yang tidak pernah jelas jika kita membicarakan efektifitas moral dalam memecahkan persoalan kehidupan manusia. Akhirnya, masih lebih efektif bagi manusia atau sekelompok manusia untuk menyelesaikan persoalan-persoalannya melalui jalan kekerasan, yaitu perang.

DAFTAR PUSTAKA

Brandes, J. 1986. “Pararaton (Ken Arok) of het Boek der Koningen van Tumapel en van Majapahit. Uitgegeven en Toeglicht door J. Brandes”, VBG XLIX.

Djafar, Hasan. 1978. Girīndrawarddhana. Beberapa Masalah Majapahit Akhir. Jakarta: Yayasan Dana Pendidikan Buddhis Nalanda.

Groeneveldt, W.P. 1960. Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled from Chinese Sources. Jakarta: Bhratara.

Kartoatmodjo, M.M. Soekarto. 1984. “Sekitar Masalah Sejarah Kadiri Kuna”, dalam Simposium Sejarah Kadiri Kuna, Yogyakarta, 28—29 September.

Kats, J. 1923. Het Javaansche Tooneel I. Wayang Poerwa. Weltevreden.

Lapian, A.B. t.t. “Perihal Perang”. Tidak terbit.

Magetsari, Nurhadi dkk. 1979. Kamus Arkeologi Indonesia 2. Jakarta: Proyek Penelitian Bahsa dan Sastra Indonesia dan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Poerbatjaraka, R.M.Ng. 1926. Arjuna-wiwāha. Teks en Vertaling. s’-Gravenhage: Martinus Nijhoff.

Poerbatjaraka, R.M.Ng. dan Tardjan Hadidjaja. 1957. Kepustakaan Djawa. Djakarta: Penerbit Djambatan.

Schrieke, B. 1959. Indonesian Sosiological Studies. Jilid II. Brussel: Uitgevermaatschappij A. Manteau N.V.

Shamasastry, R. 1923. Kauttilya’s Arthaçāstra. Mysore. Cetakan kedua.

Sumadio, Bambang dkk. 1993. “Jaman Kuna”, dalam Marwati Djoened Poesponegoro dkk (ed.), Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: P.N. Balai Pustaka.

Wirjosuparto, Sutjipto. 1968. Kakawin Bharata-Yuddha. Jakarta: Bharata.

Wiryamartana, I. Kuntara. 1990. Arjunawiwāha. Seri ILDEP. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

Abstrak

Dari karya-karya sastera masa Jawa Kuna terdapat gambaran bahwa pada masa itu telah dikenal strategi perang yang disebut byūha atau wyūha. Strategi perang yang disebutkan dalam karya-karya sastera itu hanya empat berasal dari Arthaśāstra (India) dan sisanya adalah strategi perang Jawa asli.

Berdasarkan beberapa kasus peperangan yang terjadi pada masa Jawa Kuna dapat diketahui bahwa strategi perang berupa serangan mendadak merupakan strategi yang paling banyak dipakai oleh raja-raja Jawa.

Kata Kunci: perang, wyūha, Jawa Kuna, Kadiri, Singhasāri, Majapahit

Abstract

Old Javanese manuscripts had depicted about the war strategies which were known as byūha or wyūha. Old Javanese people had known around ten byūhas, four of them derived from Arthaśāstra (India) and the rest were Old Javanese original tactics of war.

Based on the cases of war which were happened in the past, we had known that the frontal strategy was the most used by the kings of Old Javanese kingdoms.

Keywords: war, wyūha, Old Javanese, Kadiri, Singhasāri, Majapahit

Jenis-jenis wyūha yang terdapat dalam kakawin Bhāratayūddha (Wiryosuparto 1968:31–40):

Wajratiksna wyūha (kiri) dan wukir sagara wyūha (kanan)
Garuda wyūha
Makara wyūha & Cakra wyūha
Padma wyūha
Ardhacandra wyūha
Kānana wyūha

Membangun Puing-Puing Candi Prambanan

MEMBANGUN PUING-PUING CANDI PRAMBANAN
(diambil dari buku Membangun Kembali Prambanan hal. 20-26, BP3 Yogyakarta, 2009)

TERBIT KEMBALI

Pada tahun 1733 seorang pegawai VOC bernama C.A Lons mengadakan kunjungan lawatan di berbagai tempat di Surakarta dan Yogyakarta. Ia mengunjungi sejumlah peninggalan bangunan di kraton Kartasura Kotagede, termasuk pula reruntuhan candi di sekitar Prambanan. Dalam catatannya ia menyebut adanya bukit-bukit dimana bebatuan menyembul di puncaknya. Meski diragukan apakah di dalam deskripsinya tersebut ia bertutur tentang Candi Prambanan atau Candi Sewu? Sampai dengan sekitar awal abad ke 19 setidaknya tercatat sejumlah antiquarian Belanda membuat catatan deskriptif berupa gambar dan peta sekitar Prambanan. Cornelius di tahun 1805 membuat lukisan candi Kalasan, Sari dan Sewu namun tidak ada catatan lain mengenai Prambanan. Baru kemudian di masa kolonial Inggris Raffles (1811-1816) memerintahkan C. Mackenzie dan G. Baker untuk melakukan survei dan deskripsi atas kekunaan di Candi Prambanan. Hasil laporan dari Mackenzie dan Baker di kemudian hari ditindaklanjuti oleh Crawfurd sebagai perintis penelitian arkeologis Candi Prambanan.

Di tahun 1885 untuk pertama kalinya Ijzerman melakukan pembersihan dengan menebang semak belukar dan pepohonan yang menutupi reruntuhan serta membersihkan bilik-bilik candi dari reruntuhan. Di tahun 1889 Groneman juga melakukan pembersihan terhadap reruntuhan, namun sayangnya pembersihan tersebut justru membuat keadaan semakin memburuk. Groneman di dalam membersihkan reruntuhan tidak melakukannya secara sistematis, ia hanya menata potongan batu yang memiliki bentuk sama dan membuang batu yang sekiranya penting ke sungai Opak.

Dengan dikenalnya kembali Candi Prambanan setelah sekian lama tertutup pepohonan dan dan tanah seakan terbitnya kembali peradaban Jawa Kuna yang telah lama hilang. Selama kurun waktu tahun 1920-an yakni ketika Candi Prambanan belum direncanakan untuk dipugar secara total, tercatat sejumlah biro perjalanan wisata telah menawarkan Candi Prambanan sebagai tujuan kunjungan wisatawan Eropa khususnya. Sejumlah biro wisata dari Batavia dan Surabaya telah menerbitkan brosur panduan wisata yang terbit tahun 1900 dan 1918. Di dalamnya telah memasukkan Candi Prambanan sebagai objek yang layak dikunjungi. Brosur-brosur berilustrasi foto tersebut sudah memuat informasi singkat sejarah dan latar belakang agamanya yakni agama Hindu.

Kunjungan wisata tersebut juga didukung oleh semakin berkembangnya sarana transportasi berupa kereta api. Jalur rel yang menghubungkan Yogyakarta-Surakarta (Vorstenlanden) dengan Semarang telah ada sejak tahun 1870-an yang dikelola oleh NISM (Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij). Di sepanjang jalur tersebut dibangun stasiun -stasiun sebagai tempat naik turun penumpang dan komoditas. Catatan E.R Scidmore yang mengunjungi Candi Prambanan di tahun 1895 menyebutkan pada waktu pertama kali datang ke Candi Prambanan ia menggunakan kereta api. Selanjutnya ia juga mendeskripsikan kondisi stasiun Brambanan dengan kepala stasiun yang ramah dan simpatik.

MEMBANGUN PUING

Sejauh catatan historis yang masih tersisa hingga saat ini diyakini bahwa titik awal rekonstruksi atas bangunan Candi Prambanan (Candi Siwa khususnya) dirintis oleh Ijzerman pada tahun 1885. Ia adalah ketua Archeologische Vereeniging van Jogja yakni semacam perkumpulan arkeolog swasta. Meski demikian kita juga tidak bisa mengabaikan peran para pionir sebelum Ijzerman yang telah membuat sketsa, ilustrasi maupun dokumen fotografi mengenai kondisi candi saat itu. J. Mitan dengan sketsa Candi Siwa yang dibuat untuk buku History of Java karya Raffles di tahun 1817, serta tokoh semacam Woodbury & Page serta Kassian Cephas di akhir abad 19 telah menghasilkan dokumentasi foto yang sangat bernilai.

Upaya Ijzerman di tahun 1885 tersebut sebatas membersihkan bilik-bilik dari reruntuhan batu serta melakukan sejumlah penelitian melalui penggalian. Di tahun 1891 terbit tulisannya yang berjudul Beschriving der Oudheden yang hasilnya adalah menegaskan bahwa reruntuhan candi tersebut merupakan candi yang bercorak Siwa bukan Buddha sebagaimana yang diyakini oleh pendahulunya J. Crawfurd.

Pada tahun 1889 Groneman lebih banyak melakukan eksplorasi di candi halaman pusat. Namun usahanya tersebut justru menghasilkan kekacauan bagi upaya pemugaran pada tahun-tahun berikutnya.
Pada saat pembersihan, ia melepas susunan batu-batu yang telah longgar, mengumpulkan sejumlah besar batu tanpa sistematika yang jelas. Hal terburuk yang dilakukannya adalah pembuangan sejumlah blok batu yang tidak jelas asalnya ke ngarai barat sungai Opak. Lebih buruk lagi adalah, Groneman juga terlibat dalam pengambilan keputusan pemerintah Hindia Belanda untuk mengabulkan permintaan Raja Siam Chulalongkorn II agar dapat membawa beberapa relief dan arca sebagai cinderamata atas lawatannya di tahun 1896. Tercatat dua relief Rama dari Candi Brahma dan sebuah relief Kresna dari Candi Wisnu sempat dibawa ke Siam, namun dengan upaya diplomatis oleh Stein Callenfells dan Coedes ketiga relief tersebut dapat dikembalikan (Jordaan, 2009:20).

Tahun 1902-1903, Th. van Erp membuat langkah besar dengan memperbaiki bilik-bilik candi Siwa yang pada waktu itu sudah runtuh. Salah satu hasil pemugaran dari masa van Erp yang dapat dijumpai adalah bagian sungkup-sungkup beton yang terpasang sangat mencolok. Upaya pemugaran yang benar-benar sistematis baru dilaksanakan tahun 1918 oleh Oudheidkundige Dienst (OD) dengan dipimpin langsung oleh P.J Perquin. Pada masa awal tersebut baru sebatas dilakukan pemilahan dan penyeleksian ulang batu-batu yang dikumpulkan oleh Groneman, pembongkaran batu dengan pemberian tanda pada masing-masing batu, serta susun percobaan dengan mengganti batu yang hilang dengan batu baru yang dipahat rata sebagai penanda.

Pekerjaan Perquin kemudian dilanjutkan oleh De Haan yang berhasil membuat susunan percobaan hingga pelipit kaki candi Siwa. Sejak tahun 1927 pada dasarnya De Haan telah merencanakan pemugaran terhadap kedua candi apit. Antara tahun 1930-1933 kedua candi apit telah selesai dipugar. Namun di tahun 1930 De Haan meninggal yang kemudian pimpinan diambil alih oleh van Romondt. Di dalam pekerjaannya van Romondt dibantu oleh van Coolwijk, Soehamir dan Samingoen. Tahun 1937 Welfaartfonds (dana kesejahteraan) memberi bantuan sebesar 25 juta gulden bagi Candi Prambanan untuk melakukan pemugaran yang sesungguhnya. Meski pada kurun waktu tahun 1930 hingga 1942 merupakan masa depresi ekonomi menjelang berkecamuknya Perang Dunia II. Pekerjaan besar ini pada awalnya direncanakan akan selesai dalam waktu 8 tahun.

Pekerjaan yang dilakukan selama periode tahun 1937 hingga sebelum kedatangan Jelang adalah pemilahan teliti batu sesuai bentuk, ukuran dan ciri khasnya, pemugaran sebagian, pembuatan gambar-gambar rekonstruksi, dan susunan percobaan dari bidang-bidang horizontal. Namun di tahun 1942 bersamaan dengan revolusi fisik yang ditandai kalahnya Belanda dari Jepang kegiatan pemugaran sempat sempat terhenti. Pejabat-pejabat Belanda ditawan bala tentara Jepang, termasuk pejabat OD. Sebagai penanggung jawab pekerjaan sehari-hari di Prambanan dipegang oleh Soewarno dan Samingoen. Pada masa-masa itu keadaan sangat sulit, baik dari segi pendanaan maupun bahan-bahan seperti semen yang sukar diperoleh. Terlukis dari laporan kuartal ketiga tahun 2604 (1943) yang diketik oleh Miroen asisten Samingoen betapa kondisi pemugaran candi Siwa sangat tersendat-sendat hanya disebabkan karena kehidupan para pekerja yang serba sulit.

Di tahun 1945 ketika proklamasi kemerdekaan diproklamirkan, pembangunan candi Siwa telah mencapai tinggi 32,5 m (Sam, 1950:4). Namun di tahun 1948 keadaan justru memburuk, Agresi Militer II pada 19 Desember 1948 telah menghentikan semua pekerjaan. Waktu itu pekerjaan candi Siwa baru mencapai 35,25 m. Pertempuran sengit terjadi di sekitar Prambanan, kantor Bagian Arsitektur dihantam granat dan dijarah, sedangkan candi Siwa juga menderita kerusakan akibat ledakan bom. Sekitar 500 lembar gambar pengukuran, penggalian dan rekonstruksi beserta foto hancur sama sekali. Arca Buddha di desa Bogem pecah berkeping-keping terkena ledakan granat.

Pada tanggal 28 Mei 1949, Yogyakarta dan daerah sekitarnya telah kembali lagi ke pangkuan Republik Indonesia tapi OD belumlah pulih sepenuhnya. Hanya Soewarno dan Samingoen yang menata kembali kantor sedangkan Soehamir mendapat tugas belajar di Belanda yang pada akhirnya justru meninggalkan lapangan kepurbakalaan (Atmosudiro, 2002:13)

Pada tanggal 6 Juni 1949, pekerjaan kembali dilanjutkan oleh Bagian Purbakala Djawatan Kebudajaan RI dan dipimpin kembali oleh van Romondt. Pada bulan Januari 1952 pekerjaan telah mencapai puncak candi dan pada 20 Desember 1953 candi Siwa diresmikan oleh Presiden Soekarno. Peresmian sebuah monumen sebagai sebuah simbol bangsa besar yang memiliki peradaban. Dengan selesainya pemugaran candi Siwa Prambanan yang mewakili kemegahan dari keseluruhan kompleks Prambanan berarti puing yang sempat terserak selama beberapa belas abad telah berdiri kembali. Melalui rentang waktu selama 18 tahun lebih untuk pencarian dan penelitian serta 7 tahun masa pembangunan.

Situs Keraton Pengging

Situs Keraton Pengging berada di atara Desa Jembungan, Dukuh, dan Ngaru-aru yang termasuk wilayah Kecamatan Banyudono Kabupaten Boyolali Provinsi Jawa Tengah, jika diukur dari permukaan air laut ketinggian situs sekitar 177 meter dengan letak astronomis 40 21 1311Bujur Timur dan 7 0 131 39 ½ 1 Lintang Selatan.

Letak Kraton Pengging tidak lepas dari sumber mata air yang banyak terdapat disekitar wilayah Pengging, oleh masyarakat Hindu dipandang sebagai tempat “tirtha amrta” , maka tidak mustahil banyak bangunan Hinduistik selalu berdekatan dengan sumber air. Salah satunya adalah di Komplek Pemandian Umbul Pengging dan Umbul Kendat.

Disekitar situs Keraton Pengging ini ditemukan berbagai artefak antara lain tiga buah Yoni serta reruntuhan batu bata di pemakaman umum dukuh Bodean, di Desa Dukuh, bahkan Knebel pernah melaporkan bahwa di Dukuh Bantulan, di Desa Jembungan dekat perkebunan tembakau terdapat empat buah arca Ganesha, sebuah arca Padmapani, sebuah arca Nandi, sebuah Yoni, sebuah saluran air dan sebuah Makara. Namun sekarang hanya tersisa sebuah arca Ganesha yang sudah tidak utuh lagi dan 2 arca Rsi Agastya yang sudah terpenggal kepalanya.

Wilayah Pengging mengandung akuifer produktif dengan persebaran yang luas. Akuifer ini mempunyai keterusan sedang dengan muka air tanah yang dangkal (Djaeni : 1982) hingga dipastikan bahwa sejak dahulu kerajaan Pengging meletakkan pertanian sebagai andalan kehidupan masyarakat , mengingat ketersediaan air diwilayah Pengging yang selalu melimpah dan terjadi sebelum masa interaksi budaya Pengging berlangsung. Hal ini dapat dibuktikan dengan pembentukan fragipan yang dijadikan landasan bagi struktur bangunan.

Hasil penelitian Hidrogeomorfologi menunjukkan bahwa erat kaitan antara fragipan dengan bangunan kuno karena bangunan kuno di Pengging diletakkan diatas fragipan maka kemungkinan juga keraton Pengging yang sudah hancur ini masih terpendam pada fragipanseperti halnya struktur bangunan kuno yang pernah ditemukan pada makam Bodean. Jika demikian kemungkinan besar lokasi keraton Pengging berada diantara makam Bodean dan umbul Kendat seperti yang disebut sebut pada Babad Jaka Tingkir bahwa makam adik ratu Pembayun isteri raja Pengging Handayaningrat yang bernama ratu Masrara atau rara Kendat dimakamkan berada sebelah timur kedaton Pengging.

Berdasarkan keyakinan masyarakat, kerajaan Pengging ini dibangun oleh Prabu Aji Pamasa atau Kusumowicitro dari Kediri pada tahun 901 Caka sekitar tahun 979 Masehi (Andjar Any : 1979) namun keterangan ini belum dapat dijadikan landasan sejarah kerajaan Pengging, mengingat kerajaan Kediri itu sendiri baru berdiri pada abad 11. Berdasartkan publikasi van Bemmelen (1956) dalam Verhandelingen van het Koninklijk Nederland Geologie Mijnbouw Genootschap, v. XVI, p. 20-36. Ada satu prasasti berangka tahun 1041 M tentang maklumat Erlangga di tempat pertapaannya di Jawa Timur dan prasasti ini memuat tentang kerusakan kerajaan (Mataram Hindu di Jawa Tengah) pada tahun 928 Syaka (+ 78 = 1006 M ). Dari angka tahun prasasti Kalkuta tersebut menunjukkan bahwa kerajaan Kediri belum berdiri, karena kerajaan Kediri muncul setelah kerajaan Kahuripan pecah menjadi dua yaitu Jenggala dan Kediri atas bantuan empu Bharadah.

Dari persebaran artefak yang ditemukan disekitar situs Pengging ditemukan fragmen piring dari dinasti T’ang (618 – 906 M) dan fragmen mangkok cina tipe Yueh (906-960 M). Serta fragmen lain yang dibuat pada masa dinasti Sung (960–1279 M) Jika dilihat dari persebaran fragmen keramik ini dapat dipastikan bahwa komunitas sosial budaya masyarakat Pengging sejalan dengan kehidupan masyarakat pada masa kerajaan Mataram Hindu yang didirikan oleh wangsa Sanjaya pada tahun 654 Caka (732 M).

Source: here.

Borobudur; Mandala & Macan Dyanni Buddha

BOROBUDUR SEBAGAI MANDALA DAN MACAM DYANNI BUDDHA
Orang yang awam akan menikmati Candi Borobudur dengan mengagumi keindahan bangunan candi, termasuk mengagumi keindahan di sekitarnya ketika menaiki candi. Banyak foto yang beredar saat ini, yang mengambil sudut pandang patung Buddha dengan latar belakang pemandangan alam yang indah. Namun apabila candi tersebut dilihat dari atas, terlihat ada bentuk mandala. Borobudur adalah bangunan berupa mandala raksasa yang pernah dibangun oleh manusia. Diseluruh dunia, hanya satu mandala sebesar itu dan mandala itu ada di bumi nusantara ini.

15393014_1104852756298601_7366186841278440427_o

APA ITU MANDALA?
Mandala adalah bentuk visual atau simbol dari alam semesta. Dalam tantra, mandala dijadikan sebagai salah satu bagian alat bantu kontemplasi dan meditasi. Bangunan candi pada umumnya adalah untuk pemujaan, namun Borobudur lebih dari itu. Jika hanya sebagai candi untuk pemujaan, maka tidak perlu dibangun dalam bentuk mandala seperti itu. Buat saja kompleks candi-candi pemujaan seperti pada umumnya. Tapi nyatanya borobudur bentuknya memang berupa mandala. Mestinya pengunjung / peziarah candi Borobudur di masa lalu bukan sekedar berkunjung di monumen besar, tapi seiringan juga mempraktikkan laku spiritual. Menapaki candi borobudur dengan penuh kesadaran (eling), merenungkan dan melakukan kontemplasi. Puncaknya adalah bermeditasi dengan sangat mendalam. Ya, itu mungkin hanya imajinasi saya, namun penggunaan mandala dalam meditasi memang seperti itu. Imajinasi saya tentang borobudur tentu tidaklah berlebihan, dengan mempertimbangkan fungsi dari mandala itu sendiri.

Mandala sebagai simbol alam semesta meliputi micro cosmos (jagad cilik) dan macro cosmos (jagad gede). Artinya simbol-simbol yang menunjuk hal-hal luar (jagad gede) itu pada dasarnya adalah simbol tentang diri kita sendiri (jagad cilik). Terlalu panjang membahas makna simbolik Borobudur, saya hanya membatasi pada Panca Dhyani Buddha saja.

Dalam Buddhisme dikenal 5 Buddha Masa Lampau Yang melambangkan 5 Kebijaksanaan Buddha Masa Lampau yang biasa disebut dengan 5 Dhyani Buddha. 5 Buddha tersebut dapat dikenali dari mudra (formasi tangan) yang berbeda satu dengan yang lain. Selain wujud buddha dalam kosmologi buddhis yang terukir di dinding, di Borobudur terdapat banyak arca buddha duduk bersila dalam posisi lotus serta menampilkan mudra atau sikap tangan simbolis tertentu. Secara sepintas semua arca buddha ini terlihat serupa, akan tetapi terdapat perbedaan halus diantaranya, yaitu pada mudra atau posisi sikap tangan.

Di candi Borobudur sendiri terdapat lima golongan mudra: Utara, Timur, Selatan, Barat, dan Tengah, kesemuanya berdasarkan lima arah utama kompas menurut ajaran Buddha. Keempat pagar langkan memiliki empat mudra: Utara, Timur, Selatan, dan Barat, dimana masing-masing arca buddha yang menghadap arah tersebut menampilkan mudra yang khas. Arca Buddha pada pagar langkan kelima dan arca buddha di dalam 72 stupa berterawang di pelataran atas menampilkan mudra: Tengah atau Pusat. Masing-masing mudra melambangkan lima Dhyani Buddha; masing-masing dengan makna simbolisnya tersendiri.

Mengikuti urutan Pradakshina yaitu gerakan mengelilingi searah jarum jam dimulai dari sisi Timur, maka mudra arca-arca buddha di Borobudur adalah:

1. Buddha Aksobhya Timur (Mudra Bhumisparsa)
Arti dari Mudra Buddha Akhsobya adalah menjaga dan menghancurkan kemarahan dan kebencian

15350565_1104853129631897_3633058332792355275_n

2. Buddha Ratnasambhava Selatan (Mudra Wara)
Arti dari Mudra Buddha Ratnasambhava adalah memperkaya dan meningkatkan nilai spritual untuk melenyapkan kesombongan dan keserakahan

15327337_1104853216298555_2590857852755429755_n

3. Buddha Amitabha di sebelah Barat (Mudra Dhyana)
Arti dari Mudra Buddha Amitabha adalah menundukkan keegoisan

15401019_1104853309631879_2155496875423167336_n

4. Buddha Amoghasiddhi Utara (Mudra Abhaya)
Arti dari mudra Buddha Amogasiddhi adalah menenangkan diri untuk melenyapkan iri dengki

15390736_1104853359631874_5515920581996741565_n

5 Buddha Vairocana Tengah (Mudra Dharmachakra)
Arti dari mudra Buddha Vairocana adalah memutar Dharma untuk melenyapkan kebodohan batin

15267751_1104853419631868_3823284199286172616_n

Foto Koleksi Hasil Google dan Troppen Museum.

Sumber Penghasilan Kerajaan

Sumber Penghasilan Kerajaan

Mengenai sumber penghasilan kerajaan, pada umumnya semua penduduk wajib membayar pajak (drawya haji) dan melakukan kerja bakti untuk raja atau kerajaan (buat haji). Pajak harus dibayar dari tanah dan hasilnya, termasuk tanah rawa, tepian, bendungan, hutan, dan hasil perdagangan dari hasil kerajinan dan keahlian tertentu yang digunakan untuk mencari nafkah seperti pesinden, pelawak, penabuh gamelan, dalang, dsb. Di pusat kerajaan ada pejabat yang mengurusi “jumlah desa” dan “jumlah tanah” (wilaṅ wanua, wilaṅ thani). Tentunya mereka mempunyai catatan tentang jumlah penduduk di setiap desa, karena tiap desa mempunyai kewajiban menunjuk berapa orang tiap tahun yang harus melakukan kerja bakti untuk raja/kerajaan. Jumlah pajak yang harus dibayar rakyat biasanya ditetapkan oleh pejabat di tingkat watak (nāyaka). 

Ada beberapa prasasti yang menunjukkan protes rakyat atas beban pajak yang ditetapkan itu, lalu pejabat desa mengajukan permohonan kepada raja melalui pemerintah daerahnya agar ketetapan pajak diubah.

Selain itu pemungutan pajak juga ditentukan berdasar macam-macam barang dagangan dan hasil industri rumah tangga mengenai ketentuan batas yang dikenai pajak. Barang dagangan dibawa dari desa ke desa yang lain dengan cara dipikul atau dibawa dengan gerobak, bahkan jika memungkinkan dengan menggunakan perahu (perbatasan desa satu dengan lainnya melalui sungai). Mengenai para pesinden, dalang, penabuh gamelan, pelawak dll. Para pemainnya memperoleh imbalan uang dalam upacara penetapan sīma. Kelompok tersebut disebut wargga kilalāṅ, termasuk di dalamnya pedagang-pedagang asing yang menetap di Jawa. Yang masuk juga kedalam ‘kas’ kerajaan ialah hasil rampasan perang (para pejabatnya disebut tawān atau hañaṅan di ibu kota kerajaan) dan pemberian cendera mata dari negara-negara sahabat. Pajak diserahkan ke pusat kota dua kali dalam setahun. Disebutkan dalam prasasti pada bulan Māgha dan Saṅsaṅān, sedangkan dalam naskah Nawanatya yang dimaksud Saṅsaṅān ialah Galuṅan.

Boechari.2012. Kerajaan Mataram Sebagaimana Terbayang dari Data Prasasti, dalam Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti: kumpulan tulisan Boechari. Jakarta: KPG, hlm: 183-196.

Dear Blog, I Love You..

Dear blog,

Kalau aku ini ibu dan kamu anakku, kamu seharusnya tahu bahwa aku mencintaimu dan mungkin berlebihan. Mencintai dengan cara yang salah.

Aku seperti ibu yang melihat anaknya tumbuh, berkembang, berkembang, berkembang dan kemudian tanpa disadari, kamu bersinar sendiri. Sesuatu yang tidak pernah ibumu ini target, sesuatu yang tidak pernah ibumu bayangkan, sesuatu yang pernah ibumu tidak percayai. Bahkan aku, sebagai ibumu, malah jadi anggota ‘kloter’ terakhir yang sadar bahwa anaknya ini telah memiliki sinarnya sendiri (FYI, aku baru sadar kalau laurentiadewi.com ternyata ‘terkenal’ baru di tahun 2015an!!!).

Dan dengan ego seorang ibu, aku bukannya melepasmu menjadi salah satu bintang di antariksa, melainkan mendekap erat.

Aku ibu yang gagal menuntun anaknya berubah mengikuti perkembangan. Aku ibu yang gagal, membuat anaknya bisa meraih segala potensi yang awalnya terbuka lebar, yang ditawarkan lebih dulu ketimbang ‘kompetitor’ lain yang kini menempati posisi-posisi itu.

Kamu, masih menjadi salah satu yang terbaik dengan traffic tertinggi, bahkan konon mengalahkan sekian ‘kompetitor’ (yang tidak pernah aku anggap sebagai saingan). Kamu, blog yang masih sering aku dengar namanya dari orang lain (yang tidak tahu bahwa aku adalah ibumu). Kamu, masih menjadi blog kebanggaku yang sampai kapanpun akan menjadi kebanggaan.

Tapi ibumu ini sekarang sedang berpikir.

Apakah sebaiknya aku menidurkanmu? Sehingga dalam istirahatmu, masih ada kebanggaan dan kenangan indah?

Apakah aku harus meneruskan perjalanan ini, bergandengan tangan hanya berdua denganmu, melawan arus?

Atau ibumu ini harus melepas sekian ego, menerima iklan demi membuatmu setenar account instagram lain?

Arca: Asli/ Palsu

Seiring maraknya bisnis arca-arca kuno, tentulah ada pikiran negatif untuk menipu konsumen. Dari sejumlah perajin arca di Desa Prumpung, Magelang, diketahui ada berbagai cara untuk membuat suatu arca agar berkesan antik. Selain diberi perasan air kunyit atau air teh, arca pun harus dipendam di dalam tanah selama beberapa bulan.

Buat masyarakat awam, termasuk para arkeolog, memang terasa sulit apabila harus mengidentifikasi mana arca asli dan mana arca palsu. Apalagi jika seorang pakar hanya melihat gambarnya, tanpa mengamati detil, tekstur, atau kelenturan (plastisitas) koleksi. Namun sekadar gambaran, menurut penelitian para pakar ikonografi (pengetahuan tentang seni arca kuno), setiap arca Buddha dan Hindu sudah memiliki gaya dan ciri tertentu.

Penggambaran arca Buddha diketahui sangat sederhana. Tanpa sesuatu hiasan, hanya memakai jubah. Tanda-tanda utamanya adalah rambutnya selalu keriting, di atas kepala ada tonjolan seperti sanggul (usnisa), dan di antara keningnya ada semacam jerawat (urna).

Tokoh (dewa) mana yang dilukiskan oleh arca Buddha itu, diketahui lewat sikap tangan (mudra) dan ciri khusus lain (laksana) setiap tokoh. Agama Buddha mengenal Dhyanni-Buddha, Dhyanni-Boddhisattwa, dan Manusi-Buddha. Masing-masing berjumlah lima dan menempati empat arah mata angin pokok (Utara, Selatan, Barat, Timur) ditambah satu di pusat.

Dalam agama Hindu, arca dihubungkan dengan seorang raja yang telah wafat. Arca tersebut ditempatkan di dalam candi karena dianggap titisan dewa. Sebagai pendamping, kemudian dibuatkan beberapa arca dewa-dewi. Untuk membedakan dewa yang satu dengan dewa lainnya, maka setiap arca digambarkan dengan laksana sendiri-sendiri.

Setiap arca dewa pun memiliki ciri dan menempati lokasi tertentu sesuai dengan delapan arah mata angin, seperti halnya arca Buddha. Dengan demikian mudah diidentifikasi bila terjadi pencurian, pemenggalan, atau perbuatan negatif lainnya terhadap arca-arca kuno itu.

Dua Langgam

Umumnya arca merupakan bagian dari suatu candi. Karena terbuat dari batu, tentulah bobotnya terlalu berat. Maka agar lebih ringan, sebagai gantinya masyarakat kuno membuat arca logam yang relatif kecil untuk persembahan atau pemujaan di rumah. Justru bagi para peneliti zaman sekarang, mengidentifikasi arca logam memiliki sedikit kendala dibandingkan arca batu.

Arca logam mudah sekali diangkut ke sana ke mari, sehingga sukar ditetapkan apakah arca logam itu benar-benar diperoleh dari suatu situs arkeologi atau bukan. Kesulitan lainnya adalah menentukan masa sejarah arca tersebut, kecuali kalau ada tulisan atau angka tahun. Karena itu, perkiraan umur arca logam biasanya hanya berdasarkan pada corak atau bentuknya.

Lagi pula, umumnya kesenian India terikat oleh beberapa peraturan, meskipun peraturan-peraturan itu tidak membekukan daya cipta para seniman. Semuanya tersirat pada sejumlah kitab, seperti Silpasastra, Visnudharmottaram, dan Vastusastra (Sutjipto Wirjosuparto, Sedjarah Seni Artja India, 1956).

Keindahan seni India bisa dilihat dari bagian-bagian badan arca yang proporsional. Misalnya jarak antara mata harus sekian tala (semacam ukuran panjang). Begitu juga jarak dari mata ke hidung, hidung ke mulut, mulut ke dagu, dan seterusnya.

Selain itu, bagian-bagian arca harus menyerupai atau mendekati bentuk sesuatu yang dijadikan “patokan utama”. Beberapa persyaratan itu, harus menyerupai hewan atau tumbuhan yang dianggap fantastis. Bagian-bagian badan yang dianggap paling vital adalah muka, kening, mata, telinga, hidung, bibir, leher, dagu, dada, bahu, tangan, jari, pinggang, kaki, dan lutut.

Pada dasarnya seni pahat arca kuno di Indonesia terbagi atas dua langgam, yakni langgam Jawa Tengah dan langgam Jawa Timur. Arca langgam Jawa Tengah dinilai sangat indah, betul-betul menggambarkan seorang dewa dengan segala-galanya. Arca langgam Jawa Timur agak kaku, mungkin karena sengaja disesuaikan untuk menggambarkan seorang raja atau pembesar negara yang telah wafat (Soekmono, Sejarah Kebudayaan Indonesia 2, 1973).

Berbagai ciri pada arca juga menjadi petunjuk untuk menempatkannya dalam masa sejarah tertentu. Arca-arca dari masa Singasari, misalnya, mempunyai kekhususan dibandingkan arca-arca dari masa Majapahit. Begitu pula sebaliknya.

Mudah-mudahan dengan pengenalan singkat ini, Anda tidak tertipu oleh arca kuno yang ternyata palsu.

15350626_1105426196241257_2600374227579301316_n 15326604_1105427186241158_2987104392093190377_n 15355849_1105426832907860_3615965281808727751_n 15380622_1105426219574588_5041336502255424124_n 15285087_1105427012907842_7117874460527247868_n 15391200_1105426719574538_4520683758823270586_n 15267790_1105426186241258_8801683702303522000_n

Sumber :
Djulianto Susantio

This site is protected by wp-copyrightpro.com