Mei 2018

Tidak sekalipun terpikir kota yang konon adalah icon keamanan Indonesia, Surabaya, dapat teror bom.

Tidak juga pernah terpikirkan sedikit pun, bahwa aku, akan bersinggungan dekat dengan pengalaman menyedihkan ini. Rumahku, berjarak hanya 20 m saja dari salah satu lokasi bom. Dan mulai hari Minggu sekitar jam 8 WITA, segalanya dimulai.

Saat itu seorang kawan mengirimkan message penuh rasa khawatir, memberitahukan ada bom didepan rumahku & menanyakan kabar kita. Aku yang sedang di Bali, tidak tahu apa-apa, sempat menganggap ini hanyalah sebuah hoax belaka.

Namun puluhan telepon dan message berikutnya, membawaku tersadar bahwa benar-benar telah terjadi bom, didepan rumah! Aku nyalakan TV, belum ada berita apapun. Tapi tak lama kemudian, kawanku datang ke kamar tempatku menginap “Wi, there was a bom in Surabaya”, lalu dia memelukku. Baiklah. Ini adalah sebuah realita.

Entah kenapa pagi itu aku juga tidak bisa akses CCTV rumah dari HP. Untung, teleponku ke pembantu akhirnya dijawab, dia mengabarkan dia & rumahku baik-baik saja, hewan peliharaan juga hidup semua. Kemudian telepon terputus, tidak bisa nyambung lagi tapi hati sudah lebih tenang.

Hari itu juga, aku balik ke Surabaya. Aku sempat pergi breakfast dengan kawan, semuanya asal Surabaya. Semua mengabarkan keluarga mereka selamat, tidak berada di lokasi bom (padahal biasanya semua ibadah Minggu pagi di gereja2 yang di bom itu!). Another good news, tapi sarapan kita berasa hambar. Begitu juga dengan lunch.

Hening. Sementara meja lain begitu ramainya. Anak-anak menggambar, orang2 menyapa dan membagikan makanan. Ah, Bali memang bagaikan negara lain. Disini mereka sibuk berteman, menyapa, membicarakan pantai dan ombak.

Singkat kata akhirnya aku pulang ke Surabaya. Takut? Engga. Aku harus pulang, lah. Di dalam pesawat, aku nangis memikirkan tukang parkir, penjual buah & makanan yang biasa disekitar gereja. Bagaimana kabar orang-orang itu, baik-baik sajakah atau menjadi korban? Nangis juga, lihat foto orang-orang antri donor darah untuk korban bom. Kelihatan sekali, multi ras & etnis, berjilbab dan tidak, semuanya antri menyumbangkan darah! Merinding aku, melihat penduduk Surabaya yang saling peduli.

Sampai di Surabaya, seorang kawan sudah menjemput. Perjalanan dari airport ke rumah terasa sama saja, ramai. Bahkan belakang rumahku masih ramai, penjual makanan pada buka & kita makan disalah satu warung pecel (haha, aku kangen pecel!). Suasana baru berasa beda saat mobil belok ke jalan rumahku. Ada banyak truk polisi, dishub, satpol PP, tim gegana. Aku lihat polisi berjaga dengan memegang senjata laras panjang.

Rumah mengalami kerusakan minor, plafon rumah semuanya retak. Tapi kondisi ini lebih baik, dibandingkan tetangga yang pecah kaca rumahnya. Anjingku stress, sepertinya karena bunyi bom. Dia memang menyambutku datang tapi diam. Dan malamnya aku lihat, dia sembunyi dibawah kursi, tidak mau keluar walau dipanggil. Makanannya pun tidak dihabiskan, tapi akhirnya dia mau keluar & bisa dipeluk lamaaa. Nih beagle ini biasanya ogah dipeluk, eh kali ini dia malah kaya minta dipeluk. Jadinya kita peluk-pelukan di teras rumah, sambil sesekali dengar sirene polisi dan bunyi kaca pecah yang dibersihkan.


Hari ke-dua, Senin, aku memutuskan pergi kerja. Jadi, kudu ninggalin si beagle yang masih melow. Susah dapetin Grab, simply karena sekitar rumah pada ditutup jalannya untuk pembersihan & pengamanan. Dan setelah 45 menit, akhirnya order Grab diterima.

Kita tentu saja melalui lokasi ledakan yang masih dijaga ketat polisi. Hening. Tapi akhirnya sopir Grab engga bisa tahan untuk tidak mengumpat pelaku. Pagi yang berat. Dan melow. Both of us bersedih, untuk duka dan musibah yang dialami orang-orang yang tidak kita kenal in person.

Pada hari ke-2 ini, berita sudah lebih banyak. Mudah sekali mendapatkan nama korban, kronologis, kondisi, bahkan foto-foto detailnya. Seharian kita pada browsing soal bom & korban2nya. Dada sesak, sedih sekali! Hari ke-2 itu kita dapat kabar kalau ada anak-anak menjadi korban dan Ibunya masih di ICU. Juga ibu-ibu yang mengalami luka bakar 90%.

Selang beberapa jam, eeh.. ada bom lagi di Polrestabes Surabaya. Nangislah kita melihat anak pelaku selamat, berdiri terhuyung-huyung dan linglung sebelum diselamatkan polisi. Ayah – ibu macam apa mereka ini? Aku yakin, orang tua tidak ada yang tega menyuapkan makanan basi ke anak, lha ini malah memasangkan rompi bom. Duh Gusti.

Aku pulang kerja dengan Grab, Surabaya tampak ramai namun hening. Mobil pada berjalan pelan, orang berjalan tertunduk. Beagleku kembali menyambut aku pulang, dia sudah lebih ceria.

Pembantu bilang, “Nonik jangan keluar jalan kaki/ naik motor, diujung jalan sana baunya amis. Ini tadi banyak bapak2 bersihin jalan”. Duh Gusti. Terimalah semua jiwa korban bom, peluk mereka dalam kedamaian.


Hari ke-tiga. Selasa.

Aku dapat sopir Grab yang berada dibelakang lokasi bom saat kejadian. Dia pikir ada tabung LPG meledak. Jadi dia spontan starter mobil dan jalan, tanpa tahu apa yang menunggu dia di balik tikungan.

Begitu dia tiba di ujung jalan, terhampar luas 1 area semrawut seperti yang kalian bisa lihat di youtube. Dia buka jendela dan tercium bau yang menyengat, terdengar teriakan-teriakan menyayat hati. Akhirnya dia sempat turun mobil dan membantu beberapa korban luka, bahkan membalik badan 1 korban yang keadaan tubuhnya sudah hancur. Pandangan matanya kadang kosong. Berkali-kali dia bilang, “Kalo sampean liat, Mbak. Kalo sampean liat..”. Aku kemudian beberapa kali mengalihkan pembicaraan, berharap si Bapak fokus dengan kemudi.

Di akhir perjalanan, aku menyarankan si Bapak istrahat dan menghubungi layanan psikologi gratis (trauma healing) yang diadakan oleh fakultas psikologi Ubaya – Unair – Untag dan RS. Bhayangkara. Si Bapak sepakat untuk hari itu dia akan berhenti nge-Grab sementara dan pulang ke kampung halaman, dia ingin ketemu istri dan anak.

Kemudian tukang servis AC pun datang, jam 10pm. Aku tanya, takut ga datang ke lokasi bom, malam-malam pula. Dia bilang engga, karena polisinya banyak. Baguslah. Lingkungan rumah memang dijaga ketat 24 jam, polisi berjaga dalam posisi siaga.

Aku puas-puasin baca berita dari E100, menangisi satu persatu kisah korban, nangis lihat si Ibu datang ke Adijasa untuk upacara tutup peti anaknya, nangis lagi lihat Bu Risma sampai jongkok lemas & nangis dipeluk polisi ketika tahu ada ada bom lagi di Polrestabes Surabaya. Nangisnya lanjut lagi, lihat masyarakat Surabaya kumpul di Tugu Pahlawan membawa lilin. Masih ada kasih & rasa kebersamaan di Surabaya. Itu melegakan.

Malam itu suasana tenang tanpa sirene. And i had dreamless sleep.


Hari ke 4, Rabu.

Aku memutuskan untuk tidak mengakses semua pemberitaan bom. Aku tidak mau melihat foto-foto korban, dsb. Apa yang aku baca di hari pertama dan kedua sudah mulai menggentayangi otak sehingga aku merasa perlu membatasi pemberitaan. Dan alam mendukung.

Aku keluar rumah lebih awal, sengaja untuk bertemu dengan orang-orang sekitar. Aku datangi penjual makanan didepan rumah, aku tanyain kabarnya. Penjual buah juga. Semua bilang kondisi mereka baik-baik, wajah-wajahnya ramah. Lalu si penjual buah memotong beberapa jeruk dan dibagikan kepada kawan-kawannya. Semua tampak mulai kembali normal (walau aku tahu Bapak2 ini mengalami hari-hari berat, satu diantara mereka kejatuhan potongan badan pelaku bom).

Grab pagi itu lebih mudah didapatkan, tarifnya sudah turun dan sopirnya pun memilih bercerita soal awal pertemuannya dengan istri, bahkan pakai memamerkan foto anak istrinya segala.

Beberapa kawan sudah posting tiket Dead Pool. Mereka sudah mulai nge-mall, makan diluar. Kongkow.

Surabaya mulai bangkit, manusianya move on. Walau demikian, aku masih berdoa untuk para korban dan keluarganya. Semoga Tuhan memeluk mereka dalam ketenangan dan menguatkan yang ditinggal. Termasuk mereka yang di Riau.


Hari ke-lima, Kamis. Hari ini.

Grab mulai normal, berkumpul sebanyak-banyaknya didekat rumah. Tarifnya juga normal. Tapi sekitar rumah sepi luar biasa, perjalanan ke kantor jadi sangat cepat. Sepertinya banyak orang memilih untuk tidak beraktifitas di hari pertama bulan puasa. Kawan lain memberitahukan perjalanan ke Malang lancar sekali.

Sekilas dari newsfeed FB, ada saja terduga teroris tertangkap disana sini. Ini minggu-minggu sibuk untuk para polisi. Semoga saja mereka bisa tetap beribadah puasa dan sehat, semoga keluarganya pada kuat merelakan orang yang dikasihi bertugas membela negara.


Dan setelah 5 hari, jujur saja aku bilang bahwa bukan rasa takut yang timbul dari serangan ini. Yang ada tuh, rasa sedih.

Sedih saat tahu ada yang meninggal, sedih saat tahu yang meninggal dalam keadaan mengenaskan, sedih mengetahui bahwa ada kenalan yang menjadi korban (luka), sedih saat melihat kerusakan yang ditimbulkan, sedih saat tahu ada orang tua bunuh diri sambil mengajak anaknya.

Aku tidak takut keluar rumah yang cuma 20m saja dari titik bom. Sopir Grab, tukang servis AC, GoFood, polisi. Mereka semua itu engga takut, mereka datang ke rumahku, mereka tetap kerja seperti biasa dan saling menguatkan sesama. Tapi mereka melow, sedih.

Keluarga yang berduka, kalian tidak sendiri. Lihatlah kota ini dan wajah sedih penduduknya. Kami semua bersamamu. Doa kamu menyertaimu. Dukamu, adalah duka bersama. Kehilanganmu, sangatlah bisa kami rasakan. Kuatlah. Dan berteguh iman.

 

Di balik bencana ini kemudian kita menemukan adanya kebersamaan, rasa persaudaraan dan kesadaran bahwa kita ini manusia, punya perasaan, empati, juga semangat bertahan hidup.

Surabaya akan bangkit bersama-sama.

17.04.18

Ada seorang pria yang cerdas luar biasa, yang aku prediksi akan menjadi pemimpin besar jika Tuhan memberinya waktu lebih. Bijak. Juga pengayom.

Kalo jalan di lorong gelap yang kita yakini berhantu, dia atur posisiku jalan ditengah/ didepan (karena bagian belakang tuh gelap).

Pernah pas aku makan sendirian jaman belum punya temen, dia bawa piringnya ke mejaku lalu ngawe2 ajak temen2nya & jadilah aku punya banyak temen. Kemudian disetiap akhir acara makan dia akan ngucap mantra: jangan sisakan 1 butir nasipun, karena menyia2kan 1 butir nasi itu = menyia2kan keringat petani.

Waktu ga kenal apa/ siapapun di pabrik yang segede gaban itu, orang ini yang antar keliling, kenalin ke tiap2 orang, kasih lihat ini itu, dll. Ngasih tips. Ngasih semangat. Ngasih nasehat. Semua dibilang, “Nek ono opo2 arek ini bantuen yo”.

Waktu hadapi HRD gila jaman ‘penjajahan India’, dia keruanganku dan literally berdiri didepanku, mbela!

Waktu aku tiap hari minta Mylantha karena stress, dia bilang “Wes to kamu itu resign aja, keluar dengan terhormat, nih.. kontak A, B, C, bilang kamu temenku & lagi cari kerja (dan A-B-C itu semua udah dia kontak untuk bantu aku)”.

Waktu aku akhirnya sudah dapat kerjaan lain, kalo siang dia SMS “makan sama sapa kamu, temennya baik gak, jangan sia2kan 1 butir nasi, dst” sampai akhirnya dia yakin aku baik2, barulah SMSnya berhenti.

Waktu keadaan sudah nyebelin luar biasa, dia belom resign & aku tanya kenapa dia ga keluar.

Jawabnya, “Aku kudu lepas Firman sek ke tempat yang baik, lalu si X, si Y.
Kalo aku keluar dulu, trus mereka dipersulit, sapa yang bantu? Sapa yang nolongi”.
Dan begitu anak2 buahnya diterima di tempat2 yang baik, dia langsung resign!
Yeah. Captain keluar terakhir.

Dia juga yang bilangi aku: 1 orang tua bisa urus 7 anaknya, tapi 7 anak jarang ada yang bisa rawat orang tuanya. Sebisa mungkin tuh kita harus rawat orang tua, nyenengin mereka lo gampang.

Bertahun2 dia jajaran orang pertama yang kasih ucapan CNY, Natal, dll. Selalu! Ga pake absen.

Imlek kemarin setelah dia hilang rada lama, dia kontak kasih selamat CNY & kita janjian makan ikan, tapi kemudian ga bisa dikontak lagi.

Awal April aku kepikiran orang ini, kontak, namun ga dibalas. Weekend kemaren aku mau kirim message lagi, tapi ga jadi kirim karena ternyata message sebelumnya belum dia baca.

Lalu kabar itu pun datang.

Susi..
17.04.18

Akur

Aku rasa Oma bisa tertawa dari surga sana, karena 4 anak – cucunya hingga saat ini baik-baik saja dan akur. “Akur” bukan kata yang dimiliki semua keluarga, terutama yang kemudian anaknya berpencar – kuliah beda jurusan – menikah – beranak – dsb. Pasti banyak hal terjadi yang membuat setiap individu menjadi pribadi yang berbeda dari sebelumnya, ada banyak debat & diskusi, tapi selalu ada lebiiiih banyak lagi stock maaf dan kasih sehingga ujung-ujungnya kumpul lagi, ngakak lagi, pelukan lagi.

Begitulah sebuah keluarga; kalau basicnya bagus, dasarnya kuat & hangat, maka akan selalu ada kata “akur”. Dan ada Oma dibalik keberhasilan keluarga ini solid puluhan tahun.

Ah, we love you Oma.

 

Kekejaman Terhadap Makanan :p

Menarik melihat beberapa orang makan makanan Jepang.

Diublek (seperti makan bibimbab). Kemudian dipenyet (seperti bikin lemper). Kemudian disendok.

Lalu dia berjalan, ambil baaaaaaanyak sekali rajangan cabe. Plus cabe bubuk. Diakhiri dengan menuang ‘kecap’ sebanyak-banyaknya (lu pikir soto?!).

‘Kekejaman’ ini setara dengan mengetahui ada orang pesan steak, daging import, well done dan dimakan dengan saus sambal botolan.

Tapi aku masih menghargai siapapun yang ‘merusak’ makanannya dengan 1001 cara demi bisa mendapatkan kenikmatan yang dia inginkan, sehingga makanan tersebut akhirnya habis (dibandingkan dengan orang yang membuang-buang makanan begitu saja..).

Sekian :p.

Ladies..

Buat semua wanita yang galau gundah gulana karena pria..

If a man wants you, nothing can keep him away.
If he doesn’t want you, nothing can make him stay.
Stop making excuses for a man and his behavior.
Allow your intuition (or spirit) to save you from heartache.
Stop trying to change yourselves for a relationship that’s not meant to be.

Slower is better.

Never live your life for a man before you find what makes you truly happy.
If a relationship ends because the man was not treating you as you deserve
then heck no, you can’t “be friends.”
A friend wouldn’t mistreat a friend.

Don’t settle. If you feel like he is stringing you along, then he probably is.
Don’t stay because you think “it will get better.” You’ll be mad at yourself a year later for staying when things are not better.
The only person you can control in a relationship is you.

Avoid men who’ve got a bunch of children by a bunch of different women.
He didn’t marry them when he got them pregnant,
Why would he treat you any differently?
Always have your own set of friends separate from his.
Maintain boundaries in how a guy treats you.
If something bothers you, speak up.
Never let a man know everything. He will use it against you later.

You cannot change a man’s behavior. Change comes from within.
Don’t EVER make him feel he is more important than you are…even if he has more education or in a better job. Do not make him into a quasi-god.

He is a man, nothing more nothing less.
Never let a man define who you are.

Never borrow someone else’s man.
Oh Lord! If he cheated with you, he’ll cheat on you.

A man will only treat you the way you allow him to treat you.
All men are not dogs.
You should not be the one doing all the bending…compromise is a two-way street.

You need time to heal between relationships…There is nothing cute about baggage. Deal with your issues before pursuing a new relationship.
You should never look for someone to complete you.
A relationship consists of two whole individuals.
Look for someone complimentary, not supplementary.
Dating is fun; even if he doesn’t turn out to be Mr. Right.

Make him miss you sometimes. When a man always know where you are, and you’re always readily available to him—he takes it for granted.

Don’t fully commit to a man who doesn’t give you everything that you need.
Keep him in your radar but get to know others.

~ MaryRone Shell ~

Selamat Berbuka!

Menarik, lihat bagaimana orang buka puasa.

Mereka duduk diam menghadap makanan minuman, tangan pegang HP menanti tanda2 alam (yang dikirimkan HP masing2) kemudian serentak seperti di barak militer, semua minum, langsung lanjut makan!

Aku pernah coba puasa tanpa sahur, buka saat Maghrib dannnn engga segitunya lapar. Haus sih, iya. Dan setelah minum (itupun cuma air hangat), rasanya ga pengen makan dulu.
Kalau pun makan, mulai makan kecil, manis2 gitu. Jam 7, baru deh makan yang lebih berat.

Lha ini? Sembayang, engga. Dan berbuka dengan sego (segunung) babat (full minyak) + sambal puedes.
Woooh.. turut prihatin untuk lambung2 yang malang itu .

Selamat berbuka!

Aku Orang Indonesia

 

Aku sebenarnya sempat lama meninggalkan media sosial. Kalau kalian amati, instagram laurentiadewi_blog cenderung stagnan jumlah postingan (juga followers-nya). Facebook? Malah deactive (2 bulan lebih).

Kemudian, karena beberapa hal, maka FB kembali dibuka dan nampang lagi deh segala cerita, status, berita, foto, dll mengenai pilkada Jakarta dan segala pihak yang terkait (dan melebar).

Aku pribadi, sudah eneg dengan semua pemberitaan politik tersebut. Walau pro Ahok (bukan karena ras dan agamanya), aku sadari bahwa kekalahan/ kemenangan Beliau sama sekali engga ngefek buatku yang tidak pegang KTP Jakarta. Jadi, sudahlah. Let it be.

Aku lebih mengkawatirkan hal lain. Munculnya kembali istilah pribumi dan Cina (yang ternyata cuma mati suri saja, selama ini..).

OK, seperti yang kalian ketahui, namaku Laurentia Dewi. Identitas sebagai Katolik, jelas terpampang walau bolak balik blusukan Klenteng – Vihara – Kuil – Pura – Candi – Masjid.

Dalam darahku, ada turunan Cina – Belanda – Ambon – Jawa. Dari salah satu leluhur, bisa diketahui bahwa aku sudah generasi ke 5 yang lahir di Nusantara. Masih kurang layak kah disebut WNI?

Aku tidak kenal tanah Cina, juga Belanda. Keduanya belum aku injak (tapi segera akan aku datangi!). Aku tidak bisa berbahasa Cina, tidak mengenal budayanya *kamsia Pak Harto*. Sakit hatiku sama seperti sakitnya mereka yang mengaku sebagai pribumi, ketika beberapa kesenian Indonesia di claim milik negara lain. Khawatirku sama, seperti khawatirnya mereka yang mengaku sebagai pribumi ketika ekonomi negara ini lesu.

Karena di tanah ini, aku lahir dan kemungkinan besar akan dikuburkan; seperti 5 generasi keluargaku yang lain.

Lagian, kenapa selalu si Cina yang disorot sebagai si pendatang. Kenapa tidak sekalipun kalian menyebut mereka yang keturunan Arab? Kenapa si Cina (pernah) menyandang status WNI Keturunan di berbagai surat identitas, namun para Arab tidak?

Lupakah kalian bahwa orang Cina yang membawa Islam datang ke Nusantara? Cheng Ho, misalnya. Masihkah kalian mau menyangkal bahwa beberapa Sunan yang kalian puja dan datangi makamnya itu adalah orang dari Cina? Masihkah kalian bisa berlagak tidak tahu bahwa yang mengajarkan seni ukir di Jepara adalah seorang (muslim) Cina?

Apa salah (orang keturunan) Cina? Saat diserang Belanda, warga turunan Cina juga menggotong senjata, membela Indonesia, tanah yang saat itu belum memberinya status warga negara.

Salah, karena kaya? Baca tulisan Alberthiene Endah berikut:

Aku agak gatel nih kalo gak nulis. Yg berpendapat bahwa Cina tuh enak krn gampang kaya semua…kalian keliru banget. Aku udah nulis 47 biografi dan hampir separuhnya pengusaha Tionghoa. Semuaaaanya pernah hidup susah. Bahkan amat susah.

Ciputra dari kecil sampai remaja harus berburu ke hutan dan kerja keras di kebun utk bisa makan. Ayahnya tewas di penjara. Tahir melewati kemiskinan sebagai anak juragan becak miskin. Sebelum mampu membangun bank Mayapada, ia bertahun-tahun berjualan minuman kaleng dan kue bulan. Djoko Susanto bos Alfamart yg juga orang terkaya ke sekian belas adalah lulusan SMP yg memulai usaha dari kios kecil. Ia bahkan mengangkut dus besar rokok di punggungnya tiap hari spt kuli. Dan yg terbaru…bos larutan Cap Badak, Budi Juwono. Dia mengalami masa remaja yg berat. Jadi sales obat dan dipukuli sampai babak belur oleh pesaingnya. Jualan kue pake dua keranjang di tengah banjir sampai harus angkat keranjang sekepala agar tak jatuh. Ia juga mendorong gerobak jati sbg pedagang kaki lima.

Pikirkanlah sesuatu yg logis dan masuk akal. Mereka bekerja sangat keras dan ulet. Tahan penghinaan dan tahan deraan hidup susah. Itulah yg membuat mereka kaya. Bukan ras. Yg masih hidup susah dan berjuang juga sangat banyak.

Jadi yg cemburu kenapa “banyak Cina kaya” tirulah etos kerja keras mereka. Lihat proses juangnya dan bukan hasil akhirnya.

Aku pun jadi penulis produktif karena kuserap hal positif dari cara kerja mereka. Gak cengeng. Gak gampang ngeluh. Disiplin.

Aku ingat betul, bagaimana cerita Opa mendapatkan status WNI, sedangkan tetangga rumah yang keturunan Arab, melenggang santai untuk berganti warga negara. Tahukah kalian, bahwa dulu kalau saja ada kebaran, maka satu-satunya surat yang akan diselamatkan adalah surat WNI, bukan deposito/ akta lahir, dll. Ya, (dulu) sebegitu berharganya surat WNI bagi kita yang sudah 5 generasi lahir dan mati di Indonesia.

Yuk, siapa yang lagi/ pernah sekolah kedokteran? Masih merasa kan, bahwa jatah kursi untuk “keturunan Cina” kurang dari 10% dari total mahasiswa/i bermerk “pribumi”? Ya, di 2017 hal ini masih ada diskriminasi seperti itu!!! Bahkan ada beberapa jurusan spesialis kedokteran yang menutup diri dari adanya para “keturunan Cina”. Keturunan Arab? Bebas masuk, bro.

Ayo, sekolah-sekolah negeri (apalagi yang di era sebelum tahun 2000), siapa berani mengaku bahwa mereka sangat membatasi adanya para keturunan Cina? Karena itulah dahulu, kita-kita yang di cap turunan Cina ini sekolah di sekolah swasta yang biayanya 10x lipat dari sekolah pemerintah. Karena itu pula lah, para ortu kita kudu bekerja minimal 10x lipat lebih cerdik dan keras dari kaum (yang menggolongkan dirinya sebagai) pribumi.

Pernahkah kalian dengar, orang berkulit apapun di Amerika sana memperkenalkan dirinya “I am American”. Indonesia, yang sudah sekian puluh tahun merdeka masih saja bilang “Aku orang Batak”, “Aku orang Arab”. Kenapa tidak menyebut, “Aku orang Indonesia”?

Aku, orang Indonesia. Sekali lagi: aku adalah orang Indonesia. Kamu?

 

Strategi Perang Raja-raja Jawa pada Abad ke-8–ke-15 Masehi

Strategi Perang Raja-raja Jawa pada Abad ke-8–ke-15 Masehi

Oleh: Titi Surti Nastiti
Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional

1. Pendahuluan

Dari data prasasti masa Jawa Kuna diperoleh gambaran bahwa sejak berdirinya kerajaan Matarām Kuna, tahun 717 M. sampai dengan runtuhnya kerajaan Majapahit pada awal abad ke-16 Masehi, sering terjadi peperangan, baik peperangan yang terjadi antar kerajaan, peperangan antara kerajaan pusat dengan kerajaan vasal, maupun peperangan di dalam kerajaan itu sendiri. Adapun motivasi terjadinya peperangan dapat saja karena perebutan takhta, perluasan wilayah (ekspansi), maupun karena balas dendam.

Menurut pengertian populer, perang ialah suatu konflik antara beberapa kelompok politik yang terlibat dalam suatu permusuhan yang lama dan dalam skala besar, sedangkan menurut Carl von Clausewitz (1780-1831) perang ialah perkembangan social dan tindakan politik. Perang bukan hanya tindakan politik melainkan juga sebuah alat politik yang konkrit, suatu kelanjutan kebijaksanaan yang dilanjutkan ke yang lain (Lapian t.t.:1, 20). Dilihat dari beberapa teori tentang perang, dalam dua aliran pemikiran, yaitu teori yang menghubungkan perang dengan faktor biologis dan psikologis tertentu yang melekat pada manusia, dan teori yang menghubungkan perang dengan hubungan sosial dan pranata sosial tertentu.

Berbicara mengenai perang maka tidak terlepas dari strategi perang yang dipakai dalam suatu peperangan. Kata strategi itu sendiri berasal dari bahasa Yunani strategos, yang secara sempit dirumuskan sebagai “seni seorang jenderal”. Istilah itu muncul karena pada mulana strategi berkaitan dengan siasat militer bagaimana seorang jenderal berusaha mengelabui musuh, dan membagi-bagi pasukannya dalam perang. Dalam teori perang, strategi dan taktik umumnya ditempatkan dalam dua kategori yang berbeda. Dua bidang ini secara tradisional dirumuskan menurut dimensi yang berbeda. Strategi berkenaan dengan raung yang luas, jangka waktu yang lama, serta gerak militer besar-besaran; sedangkan tatktik merupakan aplikasi dari strategi. Dengan demikian strategi diartikan prelude (pendahuluan) sebelum terjun ke medan pertempuran, sedangkan taktik adalah kegiatan di medan perang. Oleh karena itu, lanjut Lapian (t.t.:12–14), kebanyakan pustaka dan teori mengenai strategi di masa lampau memusatkan perhatian kepada persiapan yang sebaik-baiknya sebelum berangkat ke medan perang, bagaimana memimpin pasukan sampai saatnya bertemu musuh. Keadaan ini menjelaskan mengapa lebih banyak perhatian diberikan kepada manuver strategis, yang ditujukan untuk menempatkan pasukan sendiri dalam posisi yang menguntungkan agar memaksa musuh berada dalam posisi yang merugikan dan membatasi musuh untuk bergerak secara bebas.

Dari kesusateraan Jawa Kuna terdapat bukti bahwa orang pada masa itu telah mengenal strategi perang, antara lain dari kakawin Bhāratayūddha, yang ditulis oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh pada masa pemerintahan Jayabhaya dari kerajaan Kadiri pada tahun 1019 Śaka (1157 M.)*1. Kakawin ini menuliskan tentang bermacam-macam jenis byūha/wyūha (strategi perang) yang dilakukan oleh Pandawa dan Kaurawa dalam peperangan yang langsung berhadapan dengan musuh atau serangan frontal (lihat gambar di bawah ini).

———-
  • *1. Angka tahun dalam kakawin Bhāratayūddha ditulis dalam bentuk candra sangkala yang berbunyi śāka kāla ri sanga kuda śuddha candrama (Poerbatjaraka dan Tardjan Hadidjaja 1957:24; Wirjosuparro 1968:41).
———-

Sehubungan dengan strategi perang, Wirjosuparto (1968:21–22) berpendapat bahwa di Indonesia telah dikenal strategi perang sāma-bheda-dańůa yang bersumber dari kesusateraan India yang berjudul Arthaśāstra antara lain menuliskan tentang pengetahuan politik, termasuk politik menghancurkan musuh, yang juga merupakan kitab pegangan keluarga raja-raja Gupta yang pernah mempersatukan sebagian besar India. Selanjutya Wirjosuparto menjelaskan bahwa meskipun sāma-bheda-dańůa diambil dari kitab Arthaśāstra, akan tetapi pengertian strategi tersebut dituliskan dalam kakawin Arjunawiwāha yang digubah oleh Mpu Kanwa pada masa pemerintahan raja Airlangga (1019–1049) dan kakawin nitiśāstra yang diperkirakan berasal dari akhir masa Majapahit*2, maka strategi perang sāma-bheda-dańůa itu dikenal dan dipelajari di Jawa.

———-
  • *2. Penggubah kakawin Nitiśāstra tidak diketahui, tetapi dari gaya bahasa dan susunan katanya diperkirakan berasal dari masa Majapahit akhir.
———-

Adapun inti ajaran yang dikemukakan dalam sāma-bheda-dańůa adalah: pertama bahwa setiap raja yang ingin membinasakan musuh-musuhnya wajib mencari sekutu (sāma) di antara kerajaan-kerajaan yang berhubungan baik, dengan perhitungan bahwa jika terjadi perang maka kerajaan yang menjadi sekutunya diharapkan memberikan bantuan atau setidak-tidaknya bersikap netral; kedua ialah dengan memecah belah (bheda); dan terakhir apabila memecah belah kerajaan-kerajaan musuh telah tercapai maka yang dilakukan ialah memukul (dańůa) musuhnya yang telah lemah (Wirjosuparto 1968:22).

Untuk masa lebih kemudian kita mendapatkan keterangan mengenai beberapa strategi perang dari Dagh-Register VOC antara strategi militer Jawa dalam berperang, yaitu: (1) penyerbuan secara tiba-tiba (surprises attack); (2) merubuhkan pohon-pohon ke jalan raya sehingga jalan tertutup dan menghalangi serangan musuh, terutama menghalangi konvoi kereta barang; (3) memutuskan suplai makanan yang merupakan titik lemah sehingga dapat memaksa musuh menyerah karena kelaparab; dan (4) memutuskan suplai air dari bendungan sungai (Schrieke 1957:132–135).

Sehubungan dengan itu, maka dalam tulisan makalah ini akan dicoba membuktikan asumsi Wirjosuparto yang menyebutkan bahwa strategi dan taktik perang sāma-bheda-dańůa telah dikenal dan dipelajari di Jawa, yang dalam kasus ini akan diterapkan pada raja-raja Jawa pada abad ke-8–15 Masehi. Di samping itu juga akan dibicarakan mengenai beberapa strategi perang yang dipakai pada masa Jawa Kuna. Untuk keperluan tersebut dipakai data tekstual berupa prasasti, karya sastera, dan berita Cina dari masa yang sezaman.
2. Strategi Perang Raja-raja Jawa pada Abad ke-8–15 Masehi

Seperti telah diutarakan sebelumnya, dari data prasasti diketahui adanya peperangan, baik karena perebutan takhta, perluasan wilayah, atau balas dendam. Dalam peperangan-peperangan tersebut dapat dilihat strategi-strategi perang yang dipakai pada masa Jawa Kuna. Pertama, strategi yang dipakai adalah serangan yang mendadak atau surprise attack. Sebagai contoh ialah peperangan yang terjadi antara Śrī Dharmmawangśa Těguh Anantawikramottunggadewa (991–1016 M.) dari kerajaan Matarām Kuna dengan raja Wurawari*3 yang merupakan salah satu raja bawahannya.

———-
  • *3. Daerah Wurawari diperkirakan di sebelah selatan Karang Kobar, Banyumas (Schrieke 1959:215, 294).
———-

Serangan raja Wurawari terjadi tidak lama setelah perkawinan puteri Dharmmawangśa Těguh dengan Airlangga, sehingga para pakar Sejarah Kuna memperkirakan bahwa raja Wurari tadinya mempunyai ambisi untuk menikah dengan puteri mahkota dan menggantikan Dharmmawangśa Těguh. Akan tetapi yang dipilih oleh Dharmmawangśa Těguh sebagai menantu adalah kemenakannya yang berasal dari Bali. Seperti disebutkan dalam sumber tertulis, Airlangga adalah putera Mahendradattā Guńapriyadharmmapatnī, adik Dharmmawangśa Těguh yang menikah dengan raja Udāyana dari wangsa Warmmadewa di Bali. Oleh karena tidak berhasil menikahi puteri Dharmmawangśa Těguh, raja Wurawari merasa kecewa dan dalam melampiaskan kekecewaannya, ia melakukan serangan mendadak ke istana Dharmmawangśa Těguh. Adanya serangan mendadak menyebabkan Dharmmawangśa Těguh tidak berdaya dan menemukan ajalnya dalam peperangan itu, sedangkan Airlangga berhasil melarikan diri ke hutan ditemani pelayannya yang setia bernama Narottama*4.

Contoh serangan mendadak lainnya ialah peperangan yang terjadi antara Kěrtanagara (1268–1292 M.), raja kerajaan Singhasāri yang terakhir, dengan Jayakatwang (1271–1293 M.) dari kerajaan Gělang-gělang atau Gěgělang*5. Kěrtanagara tidak menyangka akan adanya serangan mendadak dari raja Jayakatwang yang merupakan raja bawahannya dan juga masih iparnya. Pada saat adanya serangan, Kěrtanagara sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi ancaman Kubhilai Khan dari Mongol. Adapun sebabnya ia berseteru dengan Mongol ialah ketika utusan Kubhilai Khan bernama Meng-ch’i datang ke Singhasāri pada tahun 1298 M untuk minta pengakuan tunduk kepada kerajaan Kubhilai Khan, permintaan itu ditolak dan Meng-ch’i dilukai mukanya. Penganiayaan terhadap utusannya itu oleh Kubhilai Khan dianggap sebagai penghinaan besar dan pernyataan perang dari Kěrtanagara. Maka pada awal tahun 1292 M. berangkatlah tentara Mongol untuk menaklukkan Jawa yang dipimpin tiga panglima perang, yaitu Shih-pi, Ike Mese (Iseh-mi-shih), dan Kao-hsing.

———-
  • *4. Setelah Airlangga menjadi raja, Narottama diangkat sebagai rakryān kanuruhan dengan gelar Mpu Dharmmamurti Narottama Danasura.
  • *5. Dalam Sěrat Pararaton, Kaůiri disebut sebagai Gěgělang yang beribukota di Daha, padahal dalam prasasti Mūla Malurung yang berangka tahun 1177 Śaka (1255 M.), Gělang-gělang adalah ibukota dari kerajaan Wurawan. Nama Kadiri sendiri telah dikenal sejak masa Airlangga. Pada masa Airlangga Daha merupakan ibukota kerajaan Pangjalu yang kemudian dikenal dengan nama Kadiri (Djafar 1978:112).
———-

Pada saat itulah Jayakatwang menyerang Kěrtanagara. Atas hasutan patihnya, Aryya Wiraraja, yang mengatakan bahwa kewajiban seorang ksatrya adalah menghapus aib seperti yang diderita oleh leluhurnya. Seperti ditulis dalam Sěrat Pararaton*6 , Kěrtajaya atau Dandang Gěndis, raja Kadiri terakhir, dikalahkan oleh Ken Angrok dari Tumapel pada tahun 1144 Śaka (1222 M.). Pada tahun itu juga Ken Angrok mendirikan kerajaan Singhasāri dan Kadiri menjadi bagian dari kerajaan Singhasāri. Dengan adanya hasutan Aryya Wiraraja, Jayakatwang, bertekad membalas dendam kematian leluhurnya (Kěrtajaya) oleh leluhur raja Kěrtanagara (Ken Angrok). Sebenarnya Jayakatwang adalah salah satu raja daerah kerajaan Singhasāri yang berkuasa di Wurawan. Ia juga adik ipar Kěrtanagara karena ia menikah dengan puteri dari Wisnuwarddhana yang bernama Turuk Balī.

———-
  • *6. Sěrat Pararaton atau Katutunira Ken Angrok ditulis dalam bentuk gancaran (prosa) berbahasa Jawa Tengahan, berasal dari masa Majapahit akhir. Hasan Djafar (1978:25) berpendapat bahwa Sěrat Pararaton ditulis tidak lama setelah tahun 1481 M., pada masa pemerintahan raja Girīndrawarddhana Dyah Rańawijaya. Pendapatnya ini dilandaskan pada peristiwa terakhir yang disebutkan yaitu gunung meletus yang terjadi pada tahun 1403 Śaka (1481 M.). Adapun isi Sěrat Pararton ialah tentang kronik raja-raja sejak kerajaan Singhasāri sampai kerajaan Majapahit.
———-

Menurut Sěrat Pararaton, dalam usaha meruntuhkan kerajaan Singhasāri, Aryya Wiraraja atau Banyak Wide tadinya adalah pejabat tinggi yang berkedudukan di pusat, akan tetapi karena ie mempunyai pandangan politik yang berbeda dengan Kěrtanagara, oleh Kěrtanagara ia dipindahkan menjadi asipati di Sumenep, Madura. Ia merasa sakit hati oleh perlakuan Kěrtanagara tersebut sehingga ia menghasut Jayakatwang untuk membalas dendam kepada Kěrtanagara dan berjanji akan memberitahu Jayakatwang saat yang tepat untuk menyerang Singhasāri. Pada waktu sebagian kekuatan tentara Singhasāri sedang berada di Malayu, Aryya Wiraraja menulis surat kepada Jayakatwang sebagai berikut:

“Pukulun, patih aji matur ing paduka aji, aněnggěh paduka aji ayun abuburu maring těgal lama, mangke ta paduka aji abuburua, duwěg kaladeçanipun tambontěn wontěn baya, tambontěn macanipun, tambontěn bańőengipun, muwah ulanipun, rinipun, wontěn macanipun anging guguh” (Brandes 1826:18).

Artinya:

Hamba, patih Yang Mulia, memberitahukan Paduka Raja, apabila Paduka ingin berburu ke tegal lama, sekaranglah saat yang tepat Paduka berburu, pada saat ada kesempatan baik. Tidak ada bahaya, tidak ada harimau, tidak ada banteng, juga ular (dan) musuh, ada harimau tapi giginya sudah ompong.

Jayakatwang tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, dalam penyerangannya ia memakai siasat makara wyūha (Sumadio 1993:418, cat. no, 89) yaitu dengan melancarkan serangan dari dua arah, dari utara dan selatan. Pasukan yang menyerang dari utara hanya merupakan siasat yang memancing agar pasukan kerajaan Singhasāri keluar dari keraton. Siasatnya ini berhasil, karena dengan adanya serangan dari utara, maka pasukan Singhasāri di bawah pimpinan Raden Wijaya*7 dan Arddharaja, anak Jayakatwang yang juga menantu Kěrtanagara, menyerbu ke utara dan mengejar musuh yang selalu bergerak mundur. Pada waktu kekuatan di keraton Singhasāri lemah lalu pasukan. Jayakatwang yang berada di selatan menyerang keraton dan dapat membunuh Kěrtanagara yang sedang melakukan upacara keagamaan*8.

———-
  • *7. Raden Wijaya atau Narāryya Sanggramawijaya adalah nama anak Dyah Lěmbu Tal. Ia adalah pendiri kerajaan Majapahit yang naik takhta pada tahun 1293. Setelah ia menjadi raja bergelar Śrī Kěrtarājasa Jayawarddhana.
  • *8. Dalam Sěrat Pararaton (Brandes 1897:19), ketika ada serangan dari Jayakatwang, Kěrtanagara disebutkan sedang bermabuk-mabukan (sira bhaőāra çiwa buddha pijěr anadah sajöng = Beliau Bhatara Siwa Buddha terus menerus meminum tuak). Sebenarnya pada saat itu ia sedang melakukan upacara keagamaan. Oleh karena ia adalah penganut agama Buddha Tantrayana yang telah mencapai tingkatan sūnyaparamānanda atau tingkatan hidup sebagai Adibuddha yang abadi, yang mengecap kebahagiaan tertinggi. Dalam tingkatan ini tidak ada lagi yang terlarang baginya, juga menikmati pañcamakara, yaitu maithuna (hubungan seksual), madya (minuman keras), mamsa (daging), matsya (ikan), dan mudra (sikap tangan yang menimbulkan kekuatan gaib) (Sumadio dkk. 1993:416–417).
———-

Bahwa Kěrtanagara tidak menyangka dapat serangan mendadak dari Jayakatwang, terlihat dari ketidakpercayaannya ketika diberitahu ada serangan dari Daha, ia malah berkata: “kadi pira sirāji Jaya Katong mangkonon ring isun, apan sira huwus apakenak lawan isun, artinya betapa tega Jayakatong berbuat begitu kepadaku, padahal ia bersaudara denganku (Brandes 1896:19).

Selain strategi yang melakukan serangan secara tiba-tiba, juga ada strategi perang yang dilakukans secara frontal, yaitu serangan yang dilakukan dengan berhadap-hadapan dan terbuka. Dari kesusateraan Jawa Kuna didapatkan gambaran bahwa dalam perang frontal, pasukan yang maju ke medan perang diiringi oleh tetabuhan. Sebagai contoh dalam kakawin Arjunawiwāha pupuh 23.2–3 digambarkan situasi bagaimana di antara ramainya suara barisan tentara yang bersorak-sorak terdengar bunyi gendang, ketipung (terompet), gong, dan gemuruh tambur (Poerbatjaraka 1926:45–46; Wiryamartana 1990:104, 160).

Selama peperangan, tabuh-tabuhan tersebut terus dibunyikan, ini terlihat dari kalimat pada pupuh 25.5 yang menggambarkan bagaimana bunyi gong dan riuh genderang tidak lagi terdengar karena terkalahkan oleh oleh bunyi perisai berdentang-dentang, gemerincingnya golok, dan gelegar konta mengenai gajah. Ditambah dengan lenguhan orang yang menghembuskan nyawa, yang mengaduh, dan pekikan orang yang menyerang (Poerbatjaraka 1926:49; Wiryamartana 1990:107, 164).

Gambaran adanya pasukan perang yang sedang berjalan menuju medan perang dengan membawa tetabuhan digambarkan pada Candi Panataran (abad 12–14 M.). Dalam relief yang menceritakan kisah Rāmayana terdapat adegan pasukan kera yang akan berperang dengan pasukan raksasa dari Alengka, di antara pasukan kera itu ada dua ekor kera yang membawa tetabuhan yang berupa gong.

J.L.A. Brandes (1904)
Foto 1. Pasukan kera yang membawa gong

Peperangan secara frontal ini dapat dilihat dalam perebutan takhta kerajaan Matarām yang terjadi sekitar abad ke-9 M. antara Rakai Pikatan (850–856 M.) dan Rakai Walaing Pu Kumbhayoni. Menurut prasasti Siwagěrha yang berangka tahun 778 (856 M.), peperangan ini berjalan selama satu tahun. Dalam peperangan ini, anak bungsu Rakai Pikatan yang bernama Rakai Kayuwangi Dyah Lokapāla (856–882) sebagai pemimpin pasukan yang gagah berani berhadapan dengan pasukan Rakai Walaing Pu Kumbhayoni. Sekali waktu Rakai Kayuwangi berhasil memukul mundur Rakai Walaing yang menyebabkan Rakai Walaing mengungsi sampai ke atas bukit Ratu Baka dan membuat benteng di sana. Lokasi bukit ini sangat strategis sehingga Rakai Kayuwangi mengalami kesulitan untuk menggempurnya, tetapi berkat keuletannya, akhirnya ia berhasil menggempur pertahanan Rakai Walaing di bukit Ratu Baka.

Relief Candi Borobudur panil I.b. 47 yang menggambarkan perang frontal

Contoh perang frontal lainnya ialah perang antar saudara yang dikenal dengan peristiwa parěgrěg. Peperangan ini terjadi antara Wikramawarddhana atau Bhra Hyang Wiśesa (1389–1400 M.) yaitu keponakan sekaligus menantu raja Hayam Wuruk (1350–1389 M.) yang berkuasa di kedaton kulon dengan Bhre Wirabhūmi, anak Hayam Wuruk dari selir yang berkuasa di kedaton wetan. Menurut Sěrat Pararaton, persengketaan antar keduanya mulai terjadi pada tahun 1323 Śaka (1401 M.), dan tiga tahun kemudian persengketaan makin memuncak sehingga terjadi peperangan. Pada awalnya Wikramawarddhana dapat dikalahkan oleh Bhre Wirabhūmi, tetapi setelah mendapat sokongan dari Bhre Tumapel Bhra Hyang Parameśwara, peperangan ini diahiri oleh kekalahan Bhre Wirabhūmi pada tahun1328 Śaka (1406 M.). Bertepatan dengan peristiwa tersebut, kaisar Ch’ěng-tsu dari Cina mengirimkan utusannya, Laksamana Chěng-Ho, ke Jawa pada tahun 1405 M. Setahun kemudian Chěng-ho menyaksikan kedua raja di Jawa sedang berperang, kerajaan bagian Timur kalah dan keratonnya dirusak. Pada saat terjadi pertempuran, utusan Cina sedang berada di kerajaan bagian Timur dan 170 tentara Cina tewas karenanya. Kaisar Cina sangat marah atas kejadian tersebut, dan ia menuntut Wikramawarddhana agar membaya denda sebanyak 60 ribu tail emas. Pada tahun 1408 M., ketika Chěng-ho diutus lagi ke Jawa, ia menerima pembayaran denda 10 ribu tail emas. Meskipun jumlah yang diberikan oleh Wikramawarddhana tidak sesuai dengan tuntutannya, Kaisar Cina tidak marah malah mengembalikan uang tersebut, karena bagian yang penting bukan uangnya melainkan Wikramawarddhana mengetahui kesalahannya (Groeneveldt 1960:36–37).

Dalam kesusasteraan Jawa Kuna disebutkan adanya strategi perang frontal yang disebut wyūha. Misalnya kakawin Bhāratayūddha menyebutkan adanya 10 macam wyūha, yaitu (1) wukir sagara wyūha (susunan pasukan berbentuk bukit dan samudera), (2) wajratikśna wyūha (susunan pasukan berbentuk wajra), (3) kagapati/garuda wyūha (susunan pasukan berbentuk garuda), (4) gajendramatta/gajamatta wyūha (susunan pasukan berbentuk gajah ngamuk), (5) cakra wyūha (susunan tentara berbentuk cakra), (6) makara wyūha (susunan pasukan berbentuk makara), (7) sūcimukha wyūha (susunan pasukan yang ujungnya seperti jarum), (8) padma wyūha (susunan pasukan berbentuk bunga teratai), (9) ardhacandra wyūha (susunan pasukan berbentuk bulan sabit), dan (10) kānannya wyūha (susunan pasukan berbentuk lingkaran berlapis) (Wiryosuparto 1968:30–40). Menurut Kats dan Wirjosuparto, jumlah wyūha yang disebutkan dalam kakawin Bhāratayūddha berbeda dengan yang disebutkan dalam karya sastera Kamandaka yang hanya menyebutkan 8 macam wyūha, yaitu (1) garuda wyūha, (2) singha wyūha (susunan pasukan berbentuk singa), (3) makara wyūha, (4) cakra wyūha, (5) padma wyūha, (6) wukir sagara wyūha, (7) arddhacandra wyūha, dan (8) wajratikśna wyūha (Wirjosuparto 1968:29; Kats 1923:240)*9.

Dari hasil perbandingan, ternyata hanya ada empat jenis wyūha yang telah disebutkan di muka yang sama dengan kitab Arthaśāstra, yaitu kitab tentang strategi perang yang berasal dari India*10. Keempat strategi perang itu adalah garuda wyūha, sūcimukha wyūha, wajra(tikśna) wyūha, dan ardhacandrika wyūha; sedangkan jenis-jenis wyūha lainnya, yaitu wukir sagara wyūha, gajendramatta/gajamatta wyūha, padma wyūha, cakra wyūha, makara wyūha, dan kānannya wyūha tidak terrdapat dalam kitab Arthaśāstra (lihat tabel 1). Bisa saja jenis-jenis wyūha tersebut merupakan strategi perang asli Jawa yang kemudian namanya diubah ke dalam bahasa Sanskerta.

———-
  • *9. Ternyata dalam karya sastera Kamandaka yang dikemukakan oleh Kats tentang strategi perang tidak ditemukan. Dalam hal ini , Wiryosuparto agaknya hanya mengutip Kats tanpa menelusuri ke naskah aslinya lagi.
  • *10. Jenis-jenis strategi perang yang disebutkan dalam Arthaśāstra adalah: dańůa (susunan pasukan seperti alat pemukul), (2) bhoga (susunan pasukan seperti ular), (3) mańůala (susunan pasukan seperti lingkaran), (4) asamhata (susunan pasukan yang bagian-bagiannya terpisah), (5) pradara (susunan pasukan untuk menggempur musuh), (6) ůŕůhaka (susunan pasukan dengan sayap dan lambung tertarik ke belakang), (7) asahya (susunan pasukan yang tidak dapat ditembus), (8) garuůa (susunan pasukan berbentuk garuda), (9) sañjaya (susunan pasukan berbentuk busur), (10) wijaya (susunan pasukan menyerupai busur dengan bagian depan menjolok), (11) sthūlakarńna (susunan pasukan yang berbentuk telinga besar), (12) wiśālawijaya (susunan pasukan yang disebut kemenangan mutlak, susunannnya sama dengan sthūlakarńna, hanya bagian depan disusun dua kali lebih kuat), (13) camūmukha (susunan pasukan dengan bentuk dua sayap yang berhadapan muka dengan musuh), (14) jhashāsya (susunan pasukan seperti camūmukha, hanya sayapnya ditarik ke belakang), (15) sūcimukha (susunan pasukan yang ujungnya seperti jarum), (16) walaya (susunan pasukan seperti sūcimukha hanya barisannya terdiri dari dua lapis), (17) ajaya (susunan pasukan yang tidak terkalahkan), (18) sarpāsarīi (susunan pasukan seperti ular yang bergerak), (19) gomūtrika (susunan pasukan yang berbentuk arah terbuangnya air seni sapi), (20) syandana (susunan pasukan yang menyerupai kereta), (21) godha (susunan pasukan berbentuk buaya), (22) wāripatantaka (susunan pasukan sama degan syandana, hanya semua pasukannya terdiri dari barisan gajah, kuda, dan kereta perang), (23) sarwatomukha (susunan tentara berbentuk lingkaran), (24) sarwatobhadra (susunan pasukan yang serba menguntungkan), (25) ashőānīkā (susunan pasukan yang terdiri dari 8 divisi), (26) wajra (susunan pasukan berbentuk wajra), (27) udyānaka (susunan pasukan berbentuk taman yang terdiri dari 4 divisi), (28) ardhacandrika (susunan pasukan berbentuk bulan sabit yang terdiri dari 3 divisi), (29) karkāőakaśrěnggi (susunan pasukan berbentuk kepala udang), (30) ariśőa (susunan pasukan dengan garis depan ditempati pasukan kereta perang, pasukan gajah, sedangkan pasukan berkuda menempati baris belakang), (31) acala (susunan pasukan yang menempatkan barisan infanteri, pasukan gajah, pasukan kuda, dan pasukan kereta perang, berbaris ke belakang), (32) śyena (susunan pasukannya sama dengan garuda), (33) apratihata (pasukan kuda, pasukan kereta perang, dan pasukan infanteri berbaris ke belakang), (34) chāpa (susunan pasukan berbentuk busur), dan (35) madhya chāpa (susunan pasukan berbentuk busur dengan inti kekuatan berada di bagian tengah) (Sharmasastry 1923:434–435; Wirjosuparto 1968:27–29).

———-

Patut disayangkan, karena terbatasnya data tekstual (prasasti dan karya sastera), kita tidak dapat mengetahui strtaegi serangan frontal yang dilakukan Rakai Kayuwangi terhadap Rakai Walaing Pu Kumbhayoni. Demikian pula strategi perang yang dijalankan oleh Wikramawarddhana dalam menghadapi Bhre Wirabhūmi. Hanya satu hal yang dapat dipastikan bahwa dalam peperangan tersebut mereka menggunakan strategi perang tertentu, dan bisa saja memakai salah satu wyūha yang telah disebutkan di atas.

Strategi perang lainnya ialah strategi perang yang dilakukan oleh Raden Wijaya. Raden Wijaya ialah kemenakan sekaligus menantu Kěrtanagara, karena ia menikahi keempat puteri Kěrtanagara. Setelah Kěrtanagara berhasil dibunuh oleh Jayakatwang, atas saran Aryya Wiraraja, ia berpura-pura tunduk kepada Jayakatwang. Setelah mendapatkan kepercayaan penuh dari Jayakatwang, ia meminta hutan di daerah Trik*11 sebagai pertahanan dalam menghadapi musuh yang menyerang melalui Sungai Brantas. Kemudian, setelah permohonannya dikabulkan ia membuka daerah itu dengan bantuan Aryya Wiraraja menjadi desa yang dinamakan Majapahit. Di tempat itu, ia secara diam-diam memperkuat diri sambil menunggu saat yang tepat untuk menyerang Kadiri. Di Madura, Aryya Wiraraja sudah bersiap-siap pula dengan pasukannya untuk membantu Majapahit melawan Jayakatwang.

———-
  • *11. Daerah Trik diidentfikasikan dengan Desa Tarik, Kecamatan Tarik, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur
———-

Bersamaan dengan selesainya persiapan-persiapan untuk mengadakan perlawanan terhadap Jayakatwang pada awal tahun 1293, datanglah tentara Kubhilai Khan yang akan membalas perlakuan Kěrtanagara terhadap utusannya. Mereka tidak mengetahui jika kerajaan Singhasāri telah hancur dan rajanya, Kěrtanagara telah gugur. Bagi Raden Wijaya kedatangan pasukan Cina merupakan kesempatan yang baik untuk menyusun suatu strategi. Oleh karena itu dengan segera ia mengirimkan utusan kepada panglima pasukan Cina yang membawa pesan bahwa ia bersedia tunduk dan bergabung dengan pasukan Cina untuk menggempur Daha. Selain itu ia pun mengirimkan pengikut yang dipercayainya untuk memberikan informasi kepada pasukan Cina tentang jalan, sungai, dan sumber-sumber yang ada di negeri itu (Groeneveldt 1960:33).

Pasukan Cina menyerang Daha yang menjadi ibukota Kadiri dalam tiga gelombang. Gelombang pertama dilakukan pada awal bulan ketiga (April-Mei) di muara Kali Mas (Pa-tsieh), pasukan Cina menyerang pasukan Daha yang selalu siap menghadapi musuh dari luar. Dalam pertempuran ini pasukan Daha dapat dikalahkan. Setelah mendapatkan kemenangan, pasukan Cina dibagi menjadi dua: sebagian berjaga-jaga di muara Kali Mas dan sebagian lagi menyerang Daha. Akan tetapi sebelum mereka berangkat ke Daha, datang utusan Raden Wijaya yang meminta bantuan karena Majapahit akan diserang oleh pasukan Daha. Pada tanggal delapan bulan ketiga, terjadi pertempuran di Majapahit yang berakhir dengan kekalahan pasukan Daha. Tidak puas dengan kesuksesan yang dicapainya, pasukan Cina bergerak menuju Daha, dan pada tanggal 19 bulan yang sama mereka menyerang Daha. Jayakatwang telah siap menghadapi musuh dengan pasukan yang terdiri dari seratus ribu orang. Setelah pertempuran berjalan dengan dahsyatnya, akhirnya Jayakatwang menyerahkan diri dan ditawan bersama semua anggota keluarganya serta para pejabat tinggi kerajaan (Groeneveldt 1960:33–4; Sumadio dkk. 1993:425).

Salah satu adegan pada relief Borobudur panil Ib 44 yang menggambarkan prajurit yang terdiri dari tiga pasukan, yaitu pasukan berkendaraan gajah, pasukan berkendaraan kuda, dan pasukan berjalan kaki

Setelah pertempuran antara pasukan Kadiri dengan Cina berakhir, Raden wijaya kembali ke Majapahit dengan alasan mengambil upeti yang akan dipersembahkan kepada Kaisar Cina. Dalam perjalanannya ke Majapahit ia dikawal oleh dua opsir dan duaratus tentara Cina. Di tengah perjalanan, ia berhasil mengelabui dan membunuh kedua opsir, kemudian menyerang pengawal-pengawalnya. Setelah mengalahkan pengawal-pengawal Cina, pasukan Raden Wijaya kembali ke Daha untuk menyerang tentara Cina. Dalam peperangan ini, tentara Cina mengalami kekalahan dan sisanya terpaksa melarikan diri meninggalkan Pulau Jawa.

Dari data tekstual, tidak pernah ada keterangan yang menyebutkan Raden Wijaya melakukan strategi perang sāma-bheda-dańůa, akan tetapi dari tahapan-tahapan perang yang dilakukan oleh Raden Wijaya, ia menjalankan strategi itu. Dalam menjalankan strateginya, pertama kali yang dilakukan oleh Raden Wijaya ialah berteman dengan Aryya Wiraraja, dalam hal ini strategi yang dijalankan ialah mencari pendukung agar ada yang membantu ketika ia menyerang Jayakatwang (sāma). Lalu ia menghasut tentara Cina dengan mengatakan bahwa Jayakatwanglah musuh yang dicari oleh balatentara tersebuut (bheda), dan setelah terjadi peperangan antara Jayakatwang dengan pasukan Cina yang diakhiri dengan kekalahan Jayakatwang, tindakannya yang terakhir adalah memukul balatentara Cina (dańůa).
3. Penutup

Dari beberapa contoh peperangan yang terjadi pada masa Jawa Kuna dapat diambil kesimpulan bahwa strategi perang yang berupa serangan mendadak pada umumnya dilakukan oleh raja-raja yang mempunyai motivasi balas dendam, seperti yang dilakukan oleh raja Wurari terhadap Dharmmawangsa Těguh atau Jayakatwang terhadap Kěrtanagara. Tampaknya alasan mereka melakukan serangan mendadak adalah karena jika memakai strategi perang frontal, mereka pasti kalah sebab musuh yang dihadapinya jauh lebih kuat. Adapun strategi serangan frontal biasanya terjadi dalam perang saudara yang kekuatannya seimbang, seperti peperangan yang terjadi antara Rakai Kayuwangi an Rakai Walaing Pu Kumbhayoni atau Wikramawarddhana dan Bhre Wirabhūmi.

Mengenai strategi perang sāma-bheda-dańůa, seperti telah diutarakan sebelumnya mungkin dilakukan oleh Raden Wijaya. Akan tetapi yang masih menjadi pertanyaan adalah apakah Raden Wijaya melakukan strategi itu karena dia mempelajari strategi tersebut ataukah hanya kebetulan tahapan-tahapan dalam menjalankan strategi perangnya sesuai dengan sāma-bheda-dańůa. Karena jika kita teliti kembali kakawin Arjunawiwāha dan Nitiśāstra maka dapat diketahui bahwa dalam kedua kakawin tersebut, sāma-bheda-dańůa tidak khusus menjelaskan mengenai strategi perang. Dalam Arjunawiwāha pupuh 21.1 terdapat kata sāma-bheda-dańůa dan bukan sāma-bheda-dańůa yang menjelaskan Niwatakawaca yang sudah tidak mau lagi mau berdamai, yaitu perdamaian yang didamaikan dengan uang, akan tetapi hanya mau menyelesaikan masalahnya dengan perang; sedangkan Nitiśāstra, menekankan pentingnya uang/harta benda (dhana) dalam menjalankan sāma-bheda-dańůa, tanpa dhana maka sāma-bheda-dańůa tidak berhasil. Oleh karena itu asumsi Wirjosuparto yang menyebutkan sāma-bheda-dańůa telah dikenal dan dipelajari di Indonesia harus diuji kembali dan harus dicari bukti-bukti yang lebih kuat dan akurat untuk mendukung asumsi tersebut.

Jika dilihat faktor-faktor yang menjadi pemicu perang, maka dapat disebutkan terjadinya perang pada masa Jawa Kuna terutama disebabkan oleh faktor-faktor biologis dan psikologis. Faktor-faktor biologis ini dapat disebabkan oleh persaingan untuk memiliki sesuatu, pelanggaran oleh orang luar, atau frustasi dalam kegiatan tertentu; sedangkan faktor psikologis didasarkan oleh sifat manusia yang secara lahiriah agresif (Lapian t.t.:5–6). Faktor-faktor itulah maka Kěrtanagara untuk menyatukan Nusantara melakukan ekspansi dengan peperangan. Atau perang antar sudara karena memperebutkan takhta kerajaan, seperti peperangan yang terjadi antara Rakai Kayuwangi yang dipimpin oleh anaknya, Rakai Kayuwangi dengan Rakai Walaing Pu Kumbhayoni, atau antara Wikramawarddhana dan Bhre Wirabhūmi; sedangkan faktor psikologisnya lebih menyangkut pada balas dendam, seperti yang dilakukan oleh raja Wurari terhadap Dharmmawangsa Těguh.

Baik faktor biologis maupun psikologis tersebut menunjukkan bahwa kehidupan pada masa Jawa Kuna menggambarkan adanya interest (kepentingan) yang tidak dapat diselesaikan melalui kompromi yang bersifat konsensus. Oleh karena itu terlihat adanya unsur pemaksaan kepentingan dari satu pihak terhadap pihak lain.

Dari kondisi seperti itu, perang yang menjadi salah satu bentuk penyaluran kepentingan dari satu pihak terhadap pihak lain, adalah juga merupakan bentuk konflik yang termasuk dalam kriteria yang paling tinggi dan fatal. Dengan demikian esensi konflik yang diimplementasikan melalui perang agaknya sejak masa lalu merupakan gejala yang paling efektif, daripada mengandalkan cara-cara perundingan atau pencapaian kesepakatan antara dua pihak yang bermusuhan, dan menyangkut persoalan di antara mereka yang berseteru tersebut.

Dari pembahasan mengenai peperangan yang terjadi pada masa Jawa Kuna dapat diambil kesimpulan bahwa perang yang terjadi karena dorongan psikologi maupun biologis mengandung suatu interaksi yang tidak selalu menguntungkan antara aspek kekuasaan (realitas) dan moral (idealis). Seharusnya aspek moral dapat mengawasi ambisi yang terlalu berlebihan dari kekuasaan. Tetapi ternyata aspek moral itu agak terabaikan. Secara argumentatif memang harus diakui bahwa aspek moral selalu menghadapi banyak persoalan, termasuk persoalan sangsi atau ganjaran yang tidak pernah jelas jika kita membicarakan efektifitas moral dalam memecahkan persoalan kehidupan manusia. Akhirnya, masih lebih efektif bagi manusia atau sekelompok manusia untuk menyelesaikan persoalan-persoalannya melalui jalan kekerasan, yaitu perang.

DAFTAR PUSTAKA

Brandes, J. 1986. “Pararaton (Ken Arok) of het Boek der Koningen van Tumapel en van Majapahit. Uitgegeven en Toeglicht door J. Brandes”, VBG XLIX.

Djafar, Hasan. 1978. Girīndrawarddhana. Beberapa Masalah Majapahit Akhir. Jakarta: Yayasan Dana Pendidikan Buddhis Nalanda.

Groeneveldt, W.P. 1960. Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled from Chinese Sources. Jakarta: Bhratara.

Kartoatmodjo, M.M. Soekarto. 1984. “Sekitar Masalah Sejarah Kadiri Kuna”, dalam Simposium Sejarah Kadiri Kuna, Yogyakarta, 28—29 September.

Kats, J. 1923. Het Javaansche Tooneel I. Wayang Poerwa. Weltevreden.

Lapian, A.B. t.t. “Perihal Perang”. Tidak terbit.

Magetsari, Nurhadi dkk. 1979. Kamus Arkeologi Indonesia 2. Jakarta: Proyek Penelitian Bahsa dan Sastra Indonesia dan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Poerbatjaraka, R.M.Ng. 1926. Arjuna-wiwāha. Teks en Vertaling. s’-Gravenhage: Martinus Nijhoff.

Poerbatjaraka, R.M.Ng. dan Tardjan Hadidjaja. 1957. Kepustakaan Djawa. Djakarta: Penerbit Djambatan.

Schrieke, B. 1959. Indonesian Sosiological Studies. Jilid II. Brussel: Uitgevermaatschappij A. Manteau N.V.

Shamasastry, R. 1923. Kauttilya’s Arthaçāstra. Mysore. Cetakan kedua.

Sumadio, Bambang dkk. 1993. “Jaman Kuna”, dalam Marwati Djoened Poesponegoro dkk (ed.), Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: P.N. Balai Pustaka.

Wirjosuparto, Sutjipto. 1968. Kakawin Bharata-Yuddha. Jakarta: Bharata.

Wiryamartana, I. Kuntara. 1990. Arjunawiwāha. Seri ILDEP. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

Abstrak

Dari karya-karya sastera masa Jawa Kuna terdapat gambaran bahwa pada masa itu telah dikenal strategi perang yang disebut byūha atau wyūha. Strategi perang yang disebutkan dalam karya-karya sastera itu hanya empat berasal dari Arthaśāstra (India) dan sisanya adalah strategi perang Jawa asli.

Berdasarkan beberapa kasus peperangan yang terjadi pada masa Jawa Kuna dapat diketahui bahwa strategi perang berupa serangan mendadak merupakan strategi yang paling banyak dipakai oleh raja-raja Jawa.

Kata Kunci: perang, wyūha, Jawa Kuna, Kadiri, Singhasāri, Majapahit

Abstract

Old Javanese manuscripts had depicted about the war strategies which were known as byūha or wyūha. Old Javanese people had known around ten byūhas, four of them derived from Arthaśāstra (India) and the rest were Old Javanese original tactics of war.

Based on the cases of war which were happened in the past, we had known that the frontal strategy was the most used by the kings of Old Javanese kingdoms.

Keywords: war, wyūha, Old Javanese, Kadiri, Singhasāri, Majapahit

Jenis-jenis wyūha yang terdapat dalam kakawin Bhāratayūddha (Wiryosuparto 1968:31–40):

Wajratiksna wyūha (kiri) dan wukir sagara wyūha (kanan)
Garuda wyūha
Makara wyūha & Cakra wyūha
Padma wyūha
Ardhacandra wyūha
Kānana wyūha

Membangun Puing-Puing Candi Prambanan

MEMBANGUN PUING-PUING CANDI PRAMBANAN
(diambil dari buku Membangun Kembali Prambanan hal. 20-26, BP3 Yogyakarta, 2009)

TERBIT KEMBALI

Pada tahun 1733 seorang pegawai VOC bernama C.A Lons mengadakan kunjungan lawatan di berbagai tempat di Surakarta dan Yogyakarta. Ia mengunjungi sejumlah peninggalan bangunan di kraton Kartasura Kotagede, termasuk pula reruntuhan candi di sekitar Prambanan. Dalam catatannya ia menyebut adanya bukit-bukit dimana bebatuan menyembul di puncaknya. Meski diragukan apakah di dalam deskripsinya tersebut ia bertutur tentang Candi Prambanan atau Candi Sewu? Sampai dengan sekitar awal abad ke 19 setidaknya tercatat sejumlah antiquarian Belanda membuat catatan deskriptif berupa gambar dan peta sekitar Prambanan. Cornelius di tahun 1805 membuat lukisan candi Kalasan, Sari dan Sewu namun tidak ada catatan lain mengenai Prambanan. Baru kemudian di masa kolonial Inggris Raffles (1811-1816) memerintahkan C. Mackenzie dan G. Baker untuk melakukan survei dan deskripsi atas kekunaan di Candi Prambanan. Hasil laporan dari Mackenzie dan Baker di kemudian hari ditindaklanjuti oleh Crawfurd sebagai perintis penelitian arkeologis Candi Prambanan.

Di tahun 1885 untuk pertama kalinya Ijzerman melakukan pembersihan dengan menebang semak belukar dan pepohonan yang menutupi reruntuhan serta membersihkan bilik-bilik candi dari reruntuhan. Di tahun 1889 Groneman juga melakukan pembersihan terhadap reruntuhan, namun sayangnya pembersihan tersebut justru membuat keadaan semakin memburuk. Groneman di dalam membersihkan reruntuhan tidak melakukannya secara sistematis, ia hanya menata potongan batu yang memiliki bentuk sama dan membuang batu yang sekiranya penting ke sungai Opak.

Dengan dikenalnya kembali Candi Prambanan setelah sekian lama tertutup pepohonan dan dan tanah seakan terbitnya kembali peradaban Jawa Kuna yang telah lama hilang. Selama kurun waktu tahun 1920-an yakni ketika Candi Prambanan belum direncanakan untuk dipugar secara total, tercatat sejumlah biro perjalanan wisata telah menawarkan Candi Prambanan sebagai tujuan kunjungan wisatawan Eropa khususnya. Sejumlah biro wisata dari Batavia dan Surabaya telah menerbitkan brosur panduan wisata yang terbit tahun 1900 dan 1918. Di dalamnya telah memasukkan Candi Prambanan sebagai objek yang layak dikunjungi. Brosur-brosur berilustrasi foto tersebut sudah memuat informasi singkat sejarah dan latar belakang agamanya yakni agama Hindu.

Kunjungan wisata tersebut juga didukung oleh semakin berkembangnya sarana transportasi berupa kereta api. Jalur rel yang menghubungkan Yogyakarta-Surakarta (Vorstenlanden) dengan Semarang telah ada sejak tahun 1870-an yang dikelola oleh NISM (Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij). Di sepanjang jalur tersebut dibangun stasiun -stasiun sebagai tempat naik turun penumpang dan komoditas. Catatan E.R Scidmore yang mengunjungi Candi Prambanan di tahun 1895 menyebutkan pada waktu pertama kali datang ke Candi Prambanan ia menggunakan kereta api. Selanjutnya ia juga mendeskripsikan kondisi stasiun Brambanan dengan kepala stasiun yang ramah dan simpatik.

MEMBANGUN PUING

Sejauh catatan historis yang masih tersisa hingga saat ini diyakini bahwa titik awal rekonstruksi atas bangunan Candi Prambanan (Candi Siwa khususnya) dirintis oleh Ijzerman pada tahun 1885. Ia adalah ketua Archeologische Vereeniging van Jogja yakni semacam perkumpulan arkeolog swasta. Meski demikian kita juga tidak bisa mengabaikan peran para pionir sebelum Ijzerman yang telah membuat sketsa, ilustrasi maupun dokumen fotografi mengenai kondisi candi saat itu. J. Mitan dengan sketsa Candi Siwa yang dibuat untuk buku History of Java karya Raffles di tahun 1817, serta tokoh semacam Woodbury & Page serta Kassian Cephas di akhir abad 19 telah menghasilkan dokumentasi foto yang sangat bernilai.

Upaya Ijzerman di tahun 1885 tersebut sebatas membersihkan bilik-bilik dari reruntuhan batu serta melakukan sejumlah penelitian melalui penggalian. Di tahun 1891 terbit tulisannya yang berjudul Beschriving der Oudheden yang hasilnya adalah menegaskan bahwa reruntuhan candi tersebut merupakan candi yang bercorak Siwa bukan Buddha sebagaimana yang diyakini oleh pendahulunya J. Crawfurd.

Pada tahun 1889 Groneman lebih banyak melakukan eksplorasi di candi halaman pusat. Namun usahanya tersebut justru menghasilkan kekacauan bagi upaya pemugaran pada tahun-tahun berikutnya.
Pada saat pembersihan, ia melepas susunan batu-batu yang telah longgar, mengumpulkan sejumlah besar batu tanpa sistematika yang jelas. Hal terburuk yang dilakukannya adalah pembuangan sejumlah blok batu yang tidak jelas asalnya ke ngarai barat sungai Opak. Lebih buruk lagi adalah, Groneman juga terlibat dalam pengambilan keputusan pemerintah Hindia Belanda untuk mengabulkan permintaan Raja Siam Chulalongkorn II agar dapat membawa beberapa relief dan arca sebagai cinderamata atas lawatannya di tahun 1896. Tercatat dua relief Rama dari Candi Brahma dan sebuah relief Kresna dari Candi Wisnu sempat dibawa ke Siam, namun dengan upaya diplomatis oleh Stein Callenfells dan Coedes ketiga relief tersebut dapat dikembalikan (Jordaan, 2009:20).

Tahun 1902-1903, Th. van Erp membuat langkah besar dengan memperbaiki bilik-bilik candi Siwa yang pada waktu itu sudah runtuh. Salah satu hasil pemugaran dari masa van Erp yang dapat dijumpai adalah bagian sungkup-sungkup beton yang terpasang sangat mencolok. Upaya pemugaran yang benar-benar sistematis baru dilaksanakan tahun 1918 oleh Oudheidkundige Dienst (OD) dengan dipimpin langsung oleh P.J Perquin. Pada masa awal tersebut baru sebatas dilakukan pemilahan dan penyeleksian ulang batu-batu yang dikumpulkan oleh Groneman, pembongkaran batu dengan pemberian tanda pada masing-masing batu, serta susun percobaan dengan mengganti batu yang hilang dengan batu baru yang dipahat rata sebagai penanda.

Pekerjaan Perquin kemudian dilanjutkan oleh De Haan yang berhasil membuat susunan percobaan hingga pelipit kaki candi Siwa. Sejak tahun 1927 pada dasarnya De Haan telah merencanakan pemugaran terhadap kedua candi apit. Antara tahun 1930-1933 kedua candi apit telah selesai dipugar. Namun di tahun 1930 De Haan meninggal yang kemudian pimpinan diambil alih oleh van Romondt. Di dalam pekerjaannya van Romondt dibantu oleh van Coolwijk, Soehamir dan Samingoen. Tahun 1937 Welfaartfonds (dana kesejahteraan) memberi bantuan sebesar 25 juta gulden bagi Candi Prambanan untuk melakukan pemugaran yang sesungguhnya. Meski pada kurun waktu tahun 1930 hingga 1942 merupakan masa depresi ekonomi menjelang berkecamuknya Perang Dunia II. Pekerjaan besar ini pada awalnya direncanakan akan selesai dalam waktu 8 tahun.

Pekerjaan yang dilakukan selama periode tahun 1937 hingga sebelum kedatangan Jelang adalah pemilahan teliti batu sesuai bentuk, ukuran dan ciri khasnya, pemugaran sebagian, pembuatan gambar-gambar rekonstruksi, dan susunan percobaan dari bidang-bidang horizontal. Namun di tahun 1942 bersamaan dengan revolusi fisik yang ditandai kalahnya Belanda dari Jepang kegiatan pemugaran sempat sempat terhenti. Pejabat-pejabat Belanda ditawan bala tentara Jepang, termasuk pejabat OD. Sebagai penanggung jawab pekerjaan sehari-hari di Prambanan dipegang oleh Soewarno dan Samingoen. Pada masa-masa itu keadaan sangat sulit, baik dari segi pendanaan maupun bahan-bahan seperti semen yang sukar diperoleh. Terlukis dari laporan kuartal ketiga tahun 2604 (1943) yang diketik oleh Miroen asisten Samingoen betapa kondisi pemugaran candi Siwa sangat tersendat-sendat hanya disebabkan karena kehidupan para pekerja yang serba sulit.

Di tahun 1945 ketika proklamasi kemerdekaan diproklamirkan, pembangunan candi Siwa telah mencapai tinggi 32,5 m (Sam, 1950:4). Namun di tahun 1948 keadaan justru memburuk, Agresi Militer II pada 19 Desember 1948 telah menghentikan semua pekerjaan. Waktu itu pekerjaan candi Siwa baru mencapai 35,25 m. Pertempuran sengit terjadi di sekitar Prambanan, kantor Bagian Arsitektur dihantam granat dan dijarah, sedangkan candi Siwa juga menderita kerusakan akibat ledakan bom. Sekitar 500 lembar gambar pengukuran, penggalian dan rekonstruksi beserta foto hancur sama sekali. Arca Buddha di desa Bogem pecah berkeping-keping terkena ledakan granat.

Pada tanggal 28 Mei 1949, Yogyakarta dan daerah sekitarnya telah kembali lagi ke pangkuan Republik Indonesia tapi OD belumlah pulih sepenuhnya. Hanya Soewarno dan Samingoen yang menata kembali kantor sedangkan Soehamir mendapat tugas belajar di Belanda yang pada akhirnya justru meninggalkan lapangan kepurbakalaan (Atmosudiro, 2002:13)

Pada tanggal 6 Juni 1949, pekerjaan kembali dilanjutkan oleh Bagian Purbakala Djawatan Kebudajaan RI dan dipimpin kembali oleh van Romondt. Pada bulan Januari 1952 pekerjaan telah mencapai puncak candi dan pada 20 Desember 1953 candi Siwa diresmikan oleh Presiden Soekarno. Peresmian sebuah monumen sebagai sebuah simbol bangsa besar yang memiliki peradaban. Dengan selesainya pemugaran candi Siwa Prambanan yang mewakili kemegahan dari keseluruhan kompleks Prambanan berarti puing yang sempat terserak selama beberapa belas abad telah berdiri kembali. Melalui rentang waktu selama 18 tahun lebih untuk pencarian dan penelitian serta 7 tahun masa pembangunan.

Situs Keraton Pengging

Situs Keraton Pengging berada di atara Desa Jembungan, Dukuh, dan Ngaru-aru yang termasuk wilayah Kecamatan Banyudono Kabupaten Boyolali Provinsi Jawa Tengah, jika diukur dari permukaan air laut ketinggian situs sekitar 177 meter dengan letak astronomis 40 21 1311Bujur Timur dan 7 0 131 39 ½ 1 Lintang Selatan.

Letak Kraton Pengging tidak lepas dari sumber mata air yang banyak terdapat disekitar wilayah Pengging, oleh masyarakat Hindu dipandang sebagai tempat “tirtha amrta” , maka tidak mustahil banyak bangunan Hinduistik selalu berdekatan dengan sumber air. Salah satunya adalah di Komplek Pemandian Umbul Pengging dan Umbul Kendat.

Disekitar situs Keraton Pengging ini ditemukan berbagai artefak antara lain tiga buah Yoni serta reruntuhan batu bata di pemakaman umum dukuh Bodean, di Desa Dukuh, bahkan Knebel pernah melaporkan bahwa di Dukuh Bantulan, di Desa Jembungan dekat perkebunan tembakau terdapat empat buah arca Ganesha, sebuah arca Padmapani, sebuah arca Nandi, sebuah Yoni, sebuah saluran air dan sebuah Makara. Namun sekarang hanya tersisa sebuah arca Ganesha yang sudah tidak utuh lagi dan 2 arca Rsi Agastya yang sudah terpenggal kepalanya.

Wilayah Pengging mengandung akuifer produktif dengan persebaran yang luas. Akuifer ini mempunyai keterusan sedang dengan muka air tanah yang dangkal (Djaeni : 1982) hingga dipastikan bahwa sejak dahulu kerajaan Pengging meletakkan pertanian sebagai andalan kehidupan masyarakat , mengingat ketersediaan air diwilayah Pengging yang selalu melimpah dan terjadi sebelum masa interaksi budaya Pengging berlangsung. Hal ini dapat dibuktikan dengan pembentukan fragipan yang dijadikan landasan bagi struktur bangunan.

Hasil penelitian Hidrogeomorfologi menunjukkan bahwa erat kaitan antara fragipan dengan bangunan kuno karena bangunan kuno di Pengging diletakkan diatas fragipan maka kemungkinan juga keraton Pengging yang sudah hancur ini masih terpendam pada fragipanseperti halnya struktur bangunan kuno yang pernah ditemukan pada makam Bodean. Jika demikian kemungkinan besar lokasi keraton Pengging berada diantara makam Bodean dan umbul Kendat seperti yang disebut sebut pada Babad Jaka Tingkir bahwa makam adik ratu Pembayun isteri raja Pengging Handayaningrat yang bernama ratu Masrara atau rara Kendat dimakamkan berada sebelah timur kedaton Pengging.

Berdasarkan keyakinan masyarakat, kerajaan Pengging ini dibangun oleh Prabu Aji Pamasa atau Kusumowicitro dari Kediri pada tahun 901 Caka sekitar tahun 979 Masehi (Andjar Any : 1979) namun keterangan ini belum dapat dijadikan landasan sejarah kerajaan Pengging, mengingat kerajaan Kediri itu sendiri baru berdiri pada abad 11. Berdasartkan publikasi van Bemmelen (1956) dalam Verhandelingen van het Koninklijk Nederland Geologie Mijnbouw Genootschap, v. XVI, p. 20-36. Ada satu prasasti berangka tahun 1041 M tentang maklumat Erlangga di tempat pertapaannya di Jawa Timur dan prasasti ini memuat tentang kerusakan kerajaan (Mataram Hindu di Jawa Tengah) pada tahun 928 Syaka (+ 78 = 1006 M ). Dari angka tahun prasasti Kalkuta tersebut menunjukkan bahwa kerajaan Kediri belum berdiri, karena kerajaan Kediri muncul setelah kerajaan Kahuripan pecah menjadi dua yaitu Jenggala dan Kediri atas bantuan empu Bharadah.

Dari persebaran artefak yang ditemukan disekitar situs Pengging ditemukan fragmen piring dari dinasti T’ang (618 – 906 M) dan fragmen mangkok cina tipe Yueh (906-960 M). Serta fragmen lain yang dibuat pada masa dinasti Sung (960–1279 M) Jika dilihat dari persebaran fragmen keramik ini dapat dipastikan bahwa komunitas sosial budaya masyarakat Pengging sejalan dengan kehidupan masyarakat pada masa kerajaan Mataram Hindu yang didirikan oleh wangsa Sanjaya pada tahun 654 Caka (732 M).

Source: here.

This site is protected by wp-copyrightpro.com