Juni 2018: Merapi Meletus

Waktu itu kita sedang menuju Magelang ketika aku lihat banyak orang keluar rumah dan melihat langit. Cuaca mendung membuatku berpikir ada gerhana matahari (sekarang baru sadar keren banget ya pemikiranku haha!).

Tak lama kemudian kita behrenti dan seorang Bapak memanggilku, sambil menunjuk arah langit “Mbah’e tas njeblug!”. Hah? Wait, otak loading bentar tapi begitu aku akhirnya melihat langit, aku langsung mengerti. Merapi meletus.

Tidak ada magma keluar, jadi anggaplah sang “Mbah” sedang batuk saja, tapi abunya membumbung tinggi ke angkasa, melewati awan dan menghadang sinar matahari. Inilah yang membuat sekitar Magelang menjadi seolah-olah mendung, karena gelap.

Ini adalah pengalaman pertama melihat gunung berapi mengeluarkan muntahan; live, dari jarak kurang dari 15km.

Kemudian aku teringat peristiwa yang dikabarkan serupa, namun dengan skala yang jauh lebih besar. Toba dan Krakatau. Keduanya membuat dunia menjadi gelap beberapa lama karena abu muntahannya, hingga kemudian datanglah jaman es yang konon membuat para cute dinosaurs punah (ah, ini engga ada bukti ilmiahnya).

Semoga Merapi cuma batuk dan semua baik2 saja :).

Alasan Ogah ke Bazar

Ikke tuh ogah ke bazar karena:

  1. Susah cari parkir
  2. Ogah kruntelan, kena senggol, kemringet dan sesak nafas di ruang ber-AC yang ga berasa sejuknya
  3. Seringnya ga tau jadwal per-bazar-an, haha!
  4. Ga ada yang pernah menggoda buat dicoba
  5. Kalaupun ada yang direkomendasi: pesen online aja (gimana mau makan enak sambil berdiri dan disenggol2 orang)
  6. Review barang/ makanan di bazar: ga guna (secara orang baru bisa beli/ makan kalau tuh produk ikut bazar berikutnya yang entah kapan dan dimana jadwalnya)
  7. Come on, ga bosan tah rek??? Bazar sana bazar sini? Meh ben minggu iniloh..
  8. Anggaplah saya dengan usia segini, dengkul begini dan pergelangan kaki uglak uglik ini bukan target audience mereka (asli ga pernah kegoda)
  9. Sebagai mahluk miskin uang cash, muales tenan bayar ini itu pake duit cash/ kehabisan cash saat masih ada yang dimau
  10. Ga ada yang mau temani ke bazar (kalaupun ada, kembali ke no 1-9)

Peace :D.

Hebatnya Media Pemberitaan Saat Ini

Singkat kata nih, ada artis Indonesia (haha I don’t even know her actually) bernama Isyana Sarasvati, jadi perbincangan publik. Pemberitaan yang memuat bahwa Isyana tak suka belanja online menjadi kontroversi, karena Isyana sebelumnya didapuk oleh sebuah situs belanja online sebagai brand ambassador-nay. Singkat kata, Isyana Saraswati kemudian klarifikasi dan ini kutipannya:

“Pertama2 dengan rendah hati saya menyampaikan maaf kepada pihak2 yang terkena dampak atas apa yang terjadi, dan pemberitaan yang beredar, Isi pemberitaan di sebuah media pada hari Selasa, 15 Mei 2016 ttg saya “Takut Tertipu Saat Belanja Daring” melenceng dari konteks pembicaraan yang sebenarnya terjadi pada proses wawancara singkat itu, Saya diwawancarai secara “door stop” oleh seorang jurnalis sesaat sebelum naik panggung sebuah acara musik pada hari Selasa, 15 Mei 2016, Pada waktu yang sangat pendek itu saya ditanya tentang Fashion,”

“Konteksnya adalah busana untuk manggung. Saya menjawab apa adanya bahwa baju khusus untuk panggung, saya bekerjasama dgn desainer tertentu dan memperoleh bajunya langsung, dari yang bersangkutan atau membeli langsung. Namun pemberitaan yang muncul menjadi seolah-olah saya anti belanja online.”

“Termasuk kutipan pernyataan yang saya tidak merasa memberikan, melenceng dari konteks. Untuk hal ini saya sangat menyayangkannya. Karena dampaknya merugikan pihak-pihak yang selama ini bekerja sama dengan saya. Untuk hal tersebut saya dan pihak manajemen telah berbicara langsung dengan teman media yang memberitakan ini. Terima kasih banyak kami diberi kesempatan untuk memberi penjelasan.”

Isyana pun kembali mengoreksi, “Yang betul adalah saya berbelanja online untuk bermacam-macam kebutuhan sehari-hari. Nyaman, aman, dan praktis, bantu banget apalagi kalau jadwal sedang padat.”

” Alhamdulillah selama ini tidak pernah mengalami hal yang mengecewakan saat berbelanja online. Aman-aman saja. Demikian penjelasan saya. Saya sangat berharap polemik ini tidak jadi berkepanjangan. Terima kasih atas dukungan teman-teman, netizen, fans, klien, media, label, dan manajemen,” tulisnya (taken from here).

Ini ciamiknya media pemberitaan jaman sekarang. Berita disampaikan dengan bumbu/ kalimat ambigu sehingga menimbulkan ‘kegemparan’ yang hanya bertujuan menambah jumlah pembaca (terutama di internet). Bahkan Tempo pun sekarang juga latah  (pada lihat ga rekaman wartawan Tempo diamuk Ahok?)!

Selain itu, mereka terlalu gamblang menyampaikan sesuatu tanpa memperhatikan etika/ sopan santun/ perasaan tokoh (dan kerabat) yang diberitakan. Sebuah situs berita online yang menjabarkan pembunuhan Eno dengan detail gamblang tanpa sensor, beserta hasil rontgen yang menampilkan batang cangkul di paru-paru anak malang itu? Bahkan situs itu kemudian menyarankan pembacanya untuk mencari gambar jenazah Eno dengan menyertakan kata kunci tertentu.

Penyertaan nama dan alamat asli tokoh yang dimuat di koran (termasuk pada kasus Air Asia, tabrakan Lamborgini, dll) juga tidak pernah ada di jaman dulu. Tapi kini, kalau perlu, golongan darah dan nama anjing pun mereka turut sertakan. Ini sih judulnya: sudah kena masalah, privacy hilang, teror pun datang.

Speechless.

This site is protected by wp-copyrightpro.com