Ditelepon orang Menangis? Tutup saja!

Siang tadi, saat suhu kota Surabaya cukup tinggi, kita pun sedang terjebak macet padahal sedang diburu waktu, eh.. ada telepon masuk ke HP Mami, dari nomor tidak dikenal. Untung, Mami menerima telepon itu dengan speaker phone sehingga kita-kita bisa ikut mendengar.

Singkat kata, diseberang sana ada seorang wanita menangis (tanpa tersedu-sedu atau bunyi ingus) memberitahu bahwa ………. (tidak jelas) tertangkap polisi karena kedapatan menyimpan sabu-sabu titipan kawannya.

Entah bagaimana pula, Mami bisa berpikiran bahwa yang menelepon adalah mantan pembantu yang pernah kerja selama belasan tahun di kita.

Tangisan sang wanita dihentikan oleh seorang pria yang mengaku adalah anggota polisi bernama Haryanto. Conversation berlanjut dengan pertanyaan-pertanyaan aneh dari si Haryanto:

  • Polisi (P): Ibu orang tua “mbak ini”? <— aneh, biasanya sebelum telepon kan ditanyai hubungan ‘tersangka’ dengan orang yang hendak ditelepon kan?
  • Mami (M): Bukan
  • P: Lalu, Ibu siapanya?
  • M: Saya mantan majikannya
  • P: Oh, pembantu Ibu namanya siapa? <— aneh, teleponnya kan harusnya bersifat mencocokkan data, bukan mendata *pada moment ini saya dan seorang kawan sudah memberi kode ke Mami agar telepon dihentikan saja*
  • M: Tini
  • P: Ibu namanya siapa?
  • M: Brenda
  • P: Nama lengkap Ibu? <— aneh, buat apa tanya nama lengkap Mami, coba? *kita makin memaksa Mami untuk tutup telepon*
  • M: Brenda saja. Tadi, Tini tertangkap dimana?
  • P: Dirumahnya *kita makin memaksa Mami untuk tutup telepon & telepon keluarga Tini di desa yang semuanya masih kontak baik dengan kita*

Mami galau, tapi anaknya memaksa dia tutup telepon. Akhirnya, ketika signal telepon memburuk, sekalian lah Mami tutup telepon. Segera setelahnya, sang Polisi telepon lagi. Lagi. Dan lagi. Bahkan kirim SMS.

Sedangkan dengan telepon lain, keluarga Tini kita telepon satu-satu. Mami minta mereka check kebenaran berita bahwa Tini ditangkap karena kedapatan membawa shabu. Tak lama setelahnya, berita berdatangan dari desa bahwa Tini bengong dirumah bersama suaminya, tidak tahu apa-apa, tidak juga lagi berurusan dengan polisi.

Jelas lah, bahwa yang menangis menyayat hati tadi adalah Tini palsu dan Polisi bersuara tegas itu adalah Polisi gadungan bin abal-abal.

Selain dari conversation ‘bodoh’ diatas, ada lagi poin janggal (jika yang tertangkap itu adalah ex pembantu kita). Walau kita masih kontak baik, tapi ipar Tini kini menjadi anggota DPRD di kota kelahiran Tini. Jadi, kalau Tini ada apa-apa harusnya kan dia telepon iparnya, bukan Mami, secara kalo urusan dengan Polisi tentu saja lebih ‘sakti’ sang ipar, ya kan?

Pengalamanku, kalau berhubungan dengan scam sejenis ini (yang pakai suara), pelaku hobby melancarkan aksinya di jam-jam kita lengah/ mengantuk (romance scammer yang kontak denganku di 2015 juga memakai cara ini; read here). Misalnya: saat baru bangun tidur, saat saat akan tidur, mendekati jam2 makan. Tujuannya tentu saja, untuk membuat kita menurut begitu saja pada si pelaku, karena secara psikologis kita sedang ‘lemah’.

Sekali lagi, ini tidak pakai ilmu gendam, ini hanya ilmu “jam psikologis”. Dan siapapun HARUS WASPADA.

Believe it or not, Mamiku saja sempat menolak menaruh telepon (karena peduli dengan mantan pembantu kita). Dan seorang kawan memberitahu, kenalannya yang lulus S2 dari Amerika pernah tertipu dengan cara ini.

Mantan atasan juga pernah cerita, dia ditelepon jam 10.30pm dan orang diseberang sana bilang kalau anak perempuannya baru tertangkap razia dan (singkat kata) minta diberi uang dengan nominal tertentu saat itu juga. Demi sayangnya pada anak, maka dia pun keluar rumah, untuk ke ATM. Saat di ATM dia tersadar, anak perempuannya tidak mungkin diluar rumah hingga larut malam. Dia pun telepon ke istri, menanyakan keberadaan anak dan dijawab, si anak sedang tidur dikamarnya. Maka lolos lah, dia.

Ga mengira, masih saja ada yang memakai cara seperti ini. Dan ternyata, kini temanya ke sabu-sabu. Kalau dulu-dulu alasannya: anak (kita) kecelakaan, saudara (kita) sekarat dll. Haish!

 

This site is protected by wp-copyrightpro.com