Pertumbuhan Kerajaan Melayu Sampai Masa Adityawarman (by Drs. Alian, M.hum)

Kerajaan Melayu adalah salah satu kerajaan awal di Indonesia yang terletak di Jambi. Ada dua kerajaan di Sumatera yang memiliki masa perkembangan yang relatif sama waktunya, dan memiliki wilayah kekuasaan yang yang hampir bersamaan secacra geografis, kerajaan tersebut adalah Melayu dan Sriwijaya. Sumber utama yang dapat membuka tabir kerajaan ini adalah berasal dari Cina. Menurut berita dari dinasti T’ang pada tahun 644 dan 645 sudah datang utusan Melayu ke Cina. Selanjutnya, Berita I-tsing menjelaskan bahwa pada tahun 671 ia pernah mampir di kerajaan Melayu dalam perjalanannya dari Sriwijaya ke India. Namun pada tahun 685 Melayu sudah menjadi wilayah kerajaan Sriwijaya. Setelah itu lama tidak terdengar beritanya, barulah pada tahun 1275 Kertanegara mengirimkan tentaranya ke Melayu. Pengiriman ini disebut ekspedisi Pamalayu dengan tujuan untuk membebaskan Melayu dari kekuasaan kerajaan Sriwijaya, serta menjalin kerjasama sebagai kerajaan yang berserikat dengan Kertanegara. Puncak kejayaan kerajaan Melayu terjadi pada masa raja Adityawarman yang memerintah dari tahun 1347-1375.

Kata kunci: Kerajaan Melayu, ekspedisi Pamalayu, Adityawarman

PENDAHULUAN

Tidak banyak penulis memuat tulisan tentang sejarah melayu, apa lagi di buku-buku materi pelajaran sekolah menengah hampir tidak ada, karena itu keberadaan sejarah ini sering terlupakan. Hal ini diakui banyak penulis sperti Soekmono (1992: 1) mengatakan sejarah kerajaan melayu masih diliputi kegelapan. Sampai sekarang berita tentang ini masih bersandar kepada berita-berita Cina yang sulit sekali diitafsirkan sehingga gambaran dan cerita sejarahnya yang disajikan oleh para pakar masih tidak menentu.

Hal ini kiranya cukup nampak dari apa yang tertera dalam buku Sejarah Nasional Indonesia jilid II, disebutkan bahwa dari kitab sejarah dinasti Liang kita memperoleh keterangan bahwa antara tahun 430-475 masehi beberapa kali utusan dari Ho-lo-tan dan Kan-t’o-li datang di Cina. Ada juga utusan dari To-lang, P’o-hwang. Kan-t’o-li ini terletak di salah satu pulau di laut selatan. Adat kebiasaannya serupa dengan di kamboja dan Campa. Hasil negerinya yang terutama pinang, kapas dan kain berwarna. Sedangkan dalam kitab sejarah dinasti Ming disebutkan bahwa San-fo-sai dahulu disebut juga Kan-t’o-li. Menurut G. Ferrand Kan-t’o-li di dalam berita Cina ini mungkin sama dengan Kendari yang terdpat di dalam berita dari Ibn Majid yang berasal dari tahun 1462 masehi. Karena San-fo-tsi dahulu disebut juga Kan-t’o-li, sedangkan san-fo-tsi diidentifikasikan dengan Sriwijaya, maka

Ferrand menafsirkan Kan-t’o-li letaknya di Sumatera dengan pusatnya di Palembang. Kemudian To-lang, Po-hwang disamakan dengan Tulangbawang. Dalam hubungan ini Poerbatjaraka juga menduga bahwa To-lang dan Po-hwang yang disebut di dalam sejarah dinasti Liang, merupakan sebuah kerajaan di daerah aliran sungai Tulangbawang, Lampung. Kerajaan Tulangbawang ini kemudian ditaklukan oleh kerajaan lain, karena berita Cina hanya sekali saja menyebut keajaan ini. Sementara itu J.L. Moens mengidentifikasikan Singkil Kandari dalam berita Ibn Majid dengan Kan-t’o-li di dalam kitab sejarah dinasti Liang dan Ming. Sedangkan yang dimaksud dengan San-fot-tsi ialah Melayu (Poesponegoro, 1984: 79).

Dari keterangan di atas jelaslah agak membingungkan, namun demikikan adanya kerajaan melayu ini tidak terlepas dari berita Cina sebagai sumber utama. Tidak pula dapat dipungkiri bahwa berita pertama yang dengan jelas menyebutkan nama Malayu adalah berita Cina juga. Dari kitab sejarah dinasti T’ang didapat keterangan tentang datangnya utusan dari Mo-lo-yeu di Cina pada tahun 644 dan 645 masehi. Sudah barang tentu sulit dicarikan untuk menerima keberatan dalam mengidentifikasi kata Cina ini dengan malayu (Soekmono, 1992: 2).

Berita yang yang berharga dalam mengungkap kerajaan Melayu berasal dari berita I- tsing seorang pendeta Budha dari Cina yang berlayar dari Tamralipti ke Sriwijaya, ia singgah di Malayu (Muljana, 1981:32). Sumber lain menjelaskan bahwa Pelayaran I-tsing dilakukan pada tahun 671 diberitakannya bahwa I-tsing belayar dari Canton (Cina Selatan) ke Palembang (Sumatera Selatan). Menurutnya Palembang ketika itu menjadi kedudukan raja Sriwijaya. Kemudian pada tahun 672 I-tsing berlayar dari Sriwijaya ke India dengan kapal Sriwijaya, raja Sriwijaya juga ikut berlayar, saat ini kata I-tsing Malayu adalah Sriwijaya.Dari uraian I-tsing di atas jelas bahwa dalam abad ke tujuh Melayu memegang peranan penting dalam lalu lintas pelayaran dari Canton ke daerah-daerah di sebelah barat selat Malaka. Malayu adalah nama sebua kerajaan dan pelabuhan yang terletak di suatu tempat di selat Malaka antara Sriwijaya dan Kedah, pada zaman dahulu suatu kebiasaan bahwa nama ibukota sama dengan kerajaan. Kerajaan ini terletak di sebelah selatan Kedah, menurut Boechari Malayu terletak di pantai timur Sumatera dekat sungai Asahan.

Dari beberapa sumber tidak dijelaskan nama-nama raja yang memerintah, seperti yang telah penulis kemukakan hanya waktu berdiri dan letaklah yang dapat dipahami. Setelah ditaklukan Sriwjaya pada tahun 685, untuk jangka waktu yang lama tidak dijumpai nama Melayu. Pada pertengahan abad XIII dijumpai lagi nama Melayu di dalam kitab Pararaton dan kitab Negrakertagama. Di dalam kedua sumber tersebut disebutkan bahwa pada tahun 1275 raja kertanegara mengirimkan tentaranya ke Melayu pengiriman pasukan ini dikenal dengan sebutan Pamalayu. Selain itu dijelaskan dalam beberapa sumber bahwa Kerajaam Melayu mengalami puncak kejayaan pada masa raja Adityawarman.

Dari uraian di atas permasalahan pokok yang akan dibahas dalam makalah ini adalah Kerajaan Melayu sejak pertumbuhan sampai masa Adityawarman. Dari tema pokok ini akan diuraikan tentang: sejarah melayu, kerajaan Melayu dan swriwijaya, ekspedisi Pamalayu serta kerajaan Melayu pada masa raja Adityawarman. Semua ini akan penulis uraikan dengan menggunakan metode kepustakaan (Library Research), hasil kajian pustaka tersebut disusun dalam rangkaian sistematis sehingga terwujud tulisan deskriptif analitik.

KERAJAAN MELAYU

Seperti telah diuraikan pada bagian pendahuluan bahwa tabir pembuka adanya kerajaan Melayu di pantai timur Sumatera tidak terlepas adanya berita Cina. Pada masa awal (sebelum abad ke IV masehi) berita-berita Cina mengenai daerah ini masih sangat langkah. Menginjak abad ke V keterangan mengenai Asia Tenggara khususnya tentang wilayah sekitar selat Malaka, mulai meningkat dan menunjukan bahwa berita tersebut berasal dari pengunjungnya sendiri. Menurut Lapian hal ini membuktikan bahwa pelayaran orang Cina ke daerah ini semakin banyak, dan mencerminkan pula keramaian pelayaran di kawasan ini yang semakin meningkat. Jika sebelumnya pelayaran Cina dan orang asing lainnya dihubungkan dengan perdagangan antara negeri Cina dengan India dan kawasan Asia Barat, kawasan ini hanya berperan sebagai tempat singgah dalam jalur perdagangan masa kuno yang dikenal sebagai jalur sutra (Lapian, 1992: 4).

Berikut ini beberapa berita Cina yang dapat menjadi rujukan tentang keberadaan kerajaan Melayu, pertama berasal dari kitab sejarah dinasti T’ang didapatkan keterangan adanya utusan dari melayu datang ke Cina pada tahun 644 dan 645, jika ini terjadi dapat dikatakan ketika itu kerajaan Melayu sudah menancapkan kekuatan dan kekuasaan sebagai

kerajaan yang telah menjalin hubungan dengan bangsa luar. Kedua, berita yang lebih menarik dan lebih jelas berasal dari kisah perjalanan I-tsing, seorang pendeta Budha dari Cina yang pernah tinggal di Sriwijaya cukup lama. Dalam perjalanannya dari Kanton di Cina ke Nagapattam di India dalam tahun 671/672 ia singgah dulu di She-li-fo-she untuk belajar bahasa sanskerta selama enam bulan. Dari sini ia menuju Mo-lo-yeu, di mana ia tinggal selama dua bulan, untuk kemudian meneruskan perjalanannya ke Chieh-cha (Kedah) dan selanjutnya ke India. Dalam perjalanan pulangnya pada tahun 685 ia singgah lagi di Mo-lo- yeu, “yang telah menjadi She-li-fo-she”, selama enam bulan. Kisah perjalanan I-tsing ini memberi gambaran bahwa melayu adalah tempat persinggahan yang cukup penting, karena tidak dilewati begitu saja, baik dalam pelayaran dari Cina ke India maupun sebaliknya. Adapun letaknya dari bandar Melayu itu, kiranya dapat disimpulkan dari keterangan mengenai arah pelayaran yang diceritakan I-tsing. Pelayaran dari Sriwijaya ke melayu memakan waktu lima belas hari, dan demikian juga dari Melayu ke Kedah. Hanya saja dari melayu ke Kedah orang harus berganti arah (Soekmono, 1992: 2-3).

Menurut Coedes, penentuan letak kerajaan Melayu secara tepat sudah bertahun- tahun lamanya menjadi pokok pembicaraan. Apakah melayu itu ditempatkan di pantai Sumatera sebelah barat atau sebelah timur, ataupun di bagian selatan semenanjung Melayu. Namun demikian, bagaimanapun juga kesaksian musafir I-tsing menjadi petunjuk bahwa letak kerajaan melayu dekat dengan Che-li-fo-che (nama yang dipakai bangsa Cina untuk menyebut kerajaan Palembang sebelum dipakai nama San-fo-tsi). Berkat sebuah pasal dalam tulisan I-tsing, pencaplokan melayu oleh Che-li-fo-che dapat ditentukan waktunya yaitu antara tahun 672-675 (Coedes, 1989: 10). Dalam memoir I-tsing yang menyinggung adanya kerajaan Melayu, yang kemudian menjadi bagian dari kerajaan Sriwijaya dan terletak antara Sriwijaya dengan Kedah. Selanjutnya I-tsing menuliskan negara-negara di laut selatan yang memeluk agama Budha, terutama aliran Hinayana, di antaranya menurut I-tsing melayu. Menyimak dari keterangan I-tsing maupun catatan Cina lainnya, kerajaan Melayu yang dikunjungi I-tsing tahun 672 dalam pelayaraanya ke Nalanda terletak di dekat sungai Batanghari, sama dengan kota Jambi sekarang. Dengan kata lain dalam abad ke-7 kota Jambi bernama Melayu. Nama Jambi baru muncul pada abad ke 9 tepatnya pada tahun 853 masehi (Hanafiah, 1992:1).

Pendapat lain mengenai letak kerajaan Melayu dikemukakan oleh Boechari, ia juaga menganalisa perjalanan I-tsing dari Sriwijaya ke India, terutama perjalanan dari Melayu ke Kedah. Dalam berita I-tsing disebutkan bahwa setelah sampai di melayu, pelayaran berubah arah untuk menuju Kedah. Lebih lanjut Boechari mengatakan Melayu itu letaknya di sebelah selatan Kedah dan pelayaran ke Kedah memakan waktu lima belas hari, seperti halnya pelayaran Sriwijaya ke Melayu. Oleh karena itu Melayu ini haruslah terletak di tengah perjalanan Sriwijaya (di daerah Batang Kuantan) ke Kedah, yaitu kira-kira tiga derajat di sebelah utara khatulistiwa, di pantai timur Sumatera dekat sungai Asahan atau di pantai barat Malaysia dekat Port Swettenham. Tetapi dalam hal ini ia lebih cenderung untuk menempatkan Melayu di panttai timur Sumatera, sebab I-tsing harus merubah arah pelayarannya untuk mencapai Kedah (Pooesponogoro, 1984: 82-83).

Penulis lain yang telah mencoba merumuskan letak kerajaan Melayu adalah Saudagar Fachruddin. Ia mengungkapkan isi perasasti Amoghapasa yang bertarik 1286 masehi, disebutkan bahwa sebuah kerajaan Suwarnabhumi sebuah tempat Dharmasraya serta negeri melayu. Dengan memperhatikan isi prasasti Amoghapasa, yang ditemukan di Jambi serta geomorfologi kawasan Jambi maka kawasan pedalaman Jambi adalah kawasan akhir kerajaan Budha di Jambi. Tumbuh dan berkembangnya kerajaan Melayu di Jambi tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan Agama Budha di daerah ini. Pengaruh Agama Budha masuk ke daerah Jambi diperkirakan sekiatar awal abad I masehi, melalalui pantai timur Jambi dan menyusuri sungai Batanghari (Saudagar, 1992: 16-17).

Pendapat yang sama dikemukakan oleh Saragi (1977: 15) dijelaskan sejak abad I masehi bangsa Indonesia telah berhubungan dengan dua pusat kebudayaan di Asia yaitu India dan Cina. Hubungan dengan Cina kebanyakan berkisar dalam soal perdagangan, sedangkan hubungan dengan India selain dalam soal perdagangan juga dalam kebudayaan. Hubungan pelayaran dan perdagangan yang timbal balik antara India dengan Indonesia bergerak sejalan dengan proses saling mempengaruhi dalam kebudayaan. Proses ini berlangsung dalam waktu yang lama sehinnga lambat laun bangsa Indonesia menerima kebudayaan India karena dasar kebudayaan India dan Indonesia ketika itu banyak yang sama. Bila memperhatikan sisa peninggalan umat Budha di daerah Jambi berupa Candi, arca, dan situs purbakala ternyata Agama Budha memiliki sejarah yang panjang,

perkembangan agama Budha di Jambi mengalami enam masa, yaitu masa pertumbuhan, perkembangan, masa jaya, menurun dan masa tengelam dan muncul kembali.

KERAJAAN MELAYU DAN SRIWIJAYA

Menurut Budi Utomo ( 1992: 23), ada dua nama untuk menyebut kerajaan yang terdapat di Sumatera, Kedua nama tersebut mengacu kepada nama Sriwijaya. Nama itu adalah Shih-li-fo-shih dan San-fo-tsi dikenal oleh para pakar sejarah dan arkeologi sebagai nama dari kerajaan Sriwijaya sebelum abad ke-9 masehi dengan pusatnya di Palembang. Setelah Sriwijaya memindahkan ibukotanya ke Jambi, penyebutan berubah menjadi San-fo- tsi. Lebih lanjut ia mengatakan, untuk nama kerajaan melayu, berita Cina telah telah menyebutkannya dengan nama Mo-lo-yeu, seperti yang diberitakan oleh I-tsing. Antara Melayu dan Sriwijaya agaknya terjadi suatu persaingaan di mana kerajaan yang terlebih dahulu adalah kerajaan Melayu, yaitu pada tahun 644-645 masehi. Keberadaan kerajaan ini sudah diakui dengan diterimanya utusan melayu ke Cina.

Di dalam beberapa sumber dapat diakui bahwa antara kerajaan Melayu dan Kerajaan Sriwijaya sering membingungkan. Kerancuan-kerancuan ini terjadi dalam hal kronologi dan wilayah kerajaan. Seperti dimaklumi kerajaan Melayu dan kerajaan Sriwijaya memiliki masa perkembangan yang relatif sama waktunya, dan dan memiliki wilayah kerajaan yang hampir bersamaan secara geografis. Dari sumber-sumber tertulis yang ada, terutama berita Cina, dapat diketahui suatu fase dalam sejarah kerajaan Melayu yang merupakan fas e pendudukan oleh Sriwijaya. Fase pendudukan ini pada suatu ketika berkahir, dan kerajaan Melayu merdeka kembali. Dengan demikian dapat diketahui bahwa ada tiga fase delam sejarah perkembangan kerajaan Melayu, yaitu: fase I adalah fase awal, sekitar pertengahan abad ke-VII atau tahun 680 masehi. Fase ke II, masa pendudukan kerajaan Sriwijaya, kejadian ini sekitar tahun 680 sampai pertengahan abad ke-11. Fase ke III, adalah masa akhir kerajaan Melayu, sekitar pertengahan abad ke-11 sampai akir abad ke-14 dan awal abad 15 ( Djafar, 1992: 25).

Sehubungan dengan adanya tiga fase perkembangan kerajaan Melayu terebut, timbul masalah terutama yang berhubungan dengan fase ke II, masa pendudukan kerajaan Sriwijaya. Demikian juga masalah wilayah baik kerajaan Melayu maupun kerajaan Sriwijaya. Batasan keruangan dan kronologinya masih belum jelas, pergeseran kekuasaan

dapat saja menyebabkan perubahan dalam tata ruang wilayah kekuasaan, dan hal ini dapat pula menyebabkan salah satu sebab terjadinya kemungkinan pergeseran pusat kekuasaan dari suatu tempat ke tempat yang lain. Gejalah ini terjadi dalam sejarah kerajaan Melayu.

Antara kerajaan Melayu dan Sriwijaya selalu terjadi persaingan dan satu sama lain saling mendominasi. Suatu saat, ketika Sriwijaya lengah Melayu bangkit kembali dengan mengirimkan utusannya kembali ke Cina. Seperti yang terjadi sekitar pertengahanabad ke-II masehi, ketika kerajaan Sriwijaya lemah sebagai akibat dari serangan Cola, Melayu memanfaatkan kesempatan untuk bangkit kembali. Sebuah prasasti yang ditemukan di Srilangka menyebutkan, bahwa pada masa pemerintahan Vijayabahu di Srilangka (1055- 1100, pangeran Suryanarayana di Malayapura (Melayu) berhasil memegang tampuk pemerintahan di Suwarnapura (Sumatera).

Melayu merupakan sebuah kerajaan yang diangggap penting. Eksistensi kerajaan ini selalu diakui oleh beberapa kerajaan. Sebuah kerajaan besar di Nusantara yang mempertahankan keberadaannya sebagai kerajaan, seperti halnya kerajaan Srwijaya dan Majapahit. Dalam kitab Negarakertagama menyebutkan Melayu labih dahulu dan menyebutkan sebagai sebuah negara terpenting dari sebuah negara bawahan Majapahit. Wilayah kekeuasaan kerajaan ini meliputi seluruh daratan pulau Sumatera. Beberapa daerah yang merupakan “bawahan” Melayu seperti Jambi, Dharmashraya, Kandis dan Minangkabau berlokasi di daerah Sungai Batanghari. Karena disebutkan yang pertama, agaknya Jambi meruakan tempat yang penting. Pada waktu itu mungkin merupakan sebuah bandar yang penting dan bekas ibukota kerajaan. Pada masa Majapahit, ibukota kerajaan Melayu sudah berlokasi di Dharmashraya yang lokasinya di daerah hulu sungai Bantanghari (Budi Utomo, 1992: 24).

Menurut Lapian selain informasi I-tsing, berita Cina yang penting juga tentang kerajaan Melayu dan Sriwijaya adalah berasal dari Yi-Jing dari abad ke VII, ia menyebutkan pula nama-nama tempat lain di Nusantara, hal ini menunjukan pengetahuan mereka tentang kepulauan Indonesia telah meluas sampai ke kawasan timur. Ada beberapa tempat yang disebut di samping Sriwijaya dan Melayu, misalnya Po-lu-shi (Barus), He-ling, Po-li (beberapa pakar ada yang menyebut nama ini berada di Jawa dan di Bali), serta Fo-shi-bu- luo yang diperkirakan berada di Kalimantan Barat. Sehubungan dengan nama Fo-shi-bu-luo

dapat ditarik kesimpulan bahwa kawasan ini agaknya telah masuk dalam orbit shi-lifo-shi atau Sriwijaya sebagaimana terdapat kemiripan nama. Selama kira-kira empat abad kawasan ini dikuasai oleh kedatuan Srwijaya, akan tetapi sejak abad ke-II dominasinya atas pelayaran di sini mulai mendapat tantangan dari bebrapa kekuatan tandinggan. Di sebelah timur telah muncul kekuataan baru di bawah Airlangga, sedangkan di sebelah barat ada tantangan dari kerajaan Cola di India Selatan. Sekitar tahun 1024-1025 armada Cola menyerang Srriwijaya. Masa kekacauan yang terjadi sesudahnya, memunculkan berbagai kekuatan baru di kawasan ini (Lapian, 1992: 4).

Setelah kerajaan Sriwijaya mendapat serangan-serangan dari musuh, kekuatan Sriwijaya yang tadinya berpusat di Palembang, kini beralih ke Jambi, namun kedudukannya sebagai kekuatan tunggal tidak lagi dapat dipulihkan seperti sediakala, malahan di beberapa tempat mulai muncul kekuatan baru yang makin mandiri sehingga makin melemahkan kekuatan pusatnya. Pada abad ke XIII wilayah Jambi nampaknya berada di bawah pengaruh Kertanegara.

EKSPEDISI PAMALAYU

Di dalam kitab Pararaton dan Negarakertagama disebutkan bahwa pada tahun 1275 raja Kertanegara mengirimkan tentaranya ke Malayu, pengiriman pasukan ini dikenal dengan sebutan Pamalayu. Dijelaskan bahwa raja Kertanegara adalah sorang raja yang besar. Pada waktu Kertanegara naik menjadi raja tahun 1268-1292, keadaan di Nusantara sedang mengalami pergeseran politik. Di India timbul dengan jayanya kesultanan Delhi, di Tiongkok muncul dynasti Yuan dengan kaisarnya Kublai Khan, raja ini menginginkan agar daerah di Asia Tenggara termasuk pulau Jawa mengakui dan tuduk di bawah kekuasaannya. Keadaan politik ini telah memperkuat kemauan Kertanegara bergerak mempersatukan Nusantara. Utusan (duta) Kubilai Khan yang diutus ke pulau Jawa bernama Meng-ki disuruh pulang oleh Kertanegara dengan kehilangan muka, tindakan ini menyebabkan Kubilai Khan marah dan mempersiapkan tentara ekspedisi menyerang Kertanegara. Setelah keadaan di pusat pemerintahan selesai diatur maka mulailah Kertanegara melangkah mengambil tindakan untuk merealisasi cita-citanya. Kertanegara mengirim ekspedisi Pamalayu tahun 1275, dibawah pimpinan Kebo Anabrang. Tujuannya adalah menolong membangkitkan Melayu membebaskan diri dari Sriwijaya dan sekaligus jadi anggota perserikatan. Sebagai

tanda persahabatan tentara ekspedisi juga membawa tiruan patung Ranggawuri (ayak Kertanegara) dari candi Jago. Sekarang patung itu terdapat di Jambi Hulu, sejak ini Melayu bangkit jadi kerajaan besar di Sumatera, sedang Sriwijaya semakin mundur (Saragih, 1977: 32-33).

Upaya upaya menggalang pertahanan bersama ini rupaya berhasil baik sehingga dalam tahun 1286 raja Kertanegara mengirimkan patung Amoghpasa Lokeswara beserta 14 dewa pengiringnya untuk ditempatkan di Melayu. Prasati yang dipahatkan pada lapik arca itu lebih lanjut menerangkan, bahwa penempatan arca tersebutt di Dharmacraya dipimpin oleh 4 orang pejabat tinggi. Pemeberian hadiah itu membuat seluruh rakyat Melayu sangat gembira terutama rajanya Tribhuawana Maulanawarman. Patung Amoghapaca beserta prasastinya, yang dtemukan kembali di dekat sungai Langsat di daerah hulu sungai Batanghari, merupakan bukti nyata yang pertama berkenaan dengan adanya kerajaan Malayu. Daerah penemuannya itu sudah barang tentu menjadi petunjuk yang luar biasa pentingnya untuk mengarahkan pencarian wilayah kerajaan Melayu. Dari segi lain, lokasi itu jauh jauh di pedalaman bagian tengah Sumatera menimbulkan pemikiran berkenaan dengan cara pengangkutan pada masa itu. Pengiriman patung batu yang demikian besarnya dari Jawa Timur ke daerah Sijunjung itu tentunya hanya dapat diperkirakan kalau dilakukan melalui jalan air (Soekmono, 1992:5).

Setelah peristiwa Pamalayu, lama tidak diperoleh keterangan lainnya mengenai keadaan di Sumatera, baru kemudian pada masa pemerintahan Tribhuwantottunggadewi (1328-1350) diperoleh keterangan tentang daerah Melayu. Rupanya kerajaan Melayu ini muncul kembali sebagai pusat kekuasaan di Sumatera, sedangkan Sriwijaya setelah adanya ekspedisi Pamalayu dari raja Kertanegara, tidak terdengar lagi beritanya.

KERAJAAN MELAYU PADA MASA ADITYAWARMAN

Dari parasasti-prasasti yang banyak ditemukan di daerah Minangkabau, disebutkan bahwa pada pertengahan abad ke XIV ada seorang raja yang memerintahh di Kanakamedinindra (raja pulau emas) yang bernama Adityawarman, anak dari Adwayawarman. Nama ini dikenal dikenal juga di dalam prasasti yang dipahatkan pada arca Mansjuri di candi Jago dan berangka tanhun 1341. Di dalam prasasti ini disebutkan ia bersama-sama dengan Gajah Mada telah menaklukan pulau Bali.

Kerajaan Melayu mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Adityawarman dengan pusat kekuasaannya di daerah hulu Batanghari. Pada masa itu logam emas dimanfaatkan semaksimal mungkin, seperti dipakai sebagai bahan lempengan emas, benang emas, lembaran emas bertulis, kalung dan arca. Meskipun kerajaan berlokasi di daerah hulu Batanghari di wilayah Minangkabau, Adityawarman tidak pernah menyebut daerah kekuasaannya sebagai kerajaan Minangkabau, ia menamakan dirinya sebagai kanakamedinindra, yang berarti penguasa negeri emas. Dengan demikian ia menganggap dirinya sebagai penguasa daerah-daerah yang dulunya menjadi daerah kekuasan kerajaan Srwijaya (Budi Utomo, 1992: 26-27).

Adityawarman adalah putra Majapahit keturunan Melayu, sebelum menjadi raja Melayu ia pernah menjabat kedudukan wrddha-mantri di Majapahit dengan gelar Aryadewata pu Aditya. Setelah ia berkuasa di Sumatera ia menyusun kembali kerajaan yang diwariskan oleh Mauliwarmadewa. Pada tahun 1347 Adityawarman meluaskan daerah kekuasaannya sampai ke daerah Pagarruyung, ia mengangkat dirinya menjadi seoranng maharajadhiraja dengan gelar Udayadityawarman atau Adityawarmodaya pratapaparakramarajendra Maulimaliwarmadewa. Tetapi meskipun demikian Adtyawarman masih tetap menganggap dirinya sebagai sang mantri terkemuka dari Majapahhit. Dari prasasti-prasastinya dapat diketahui bahwa Adityawarman adalah penganut agama Budha dan menganggap dirinya sebagai penjelmaan Lokeswara. Anggapan ini sesuai dengan sistem kalacakra seperti halnya raja-raja Majapahit. Adityawarman memerintah hingga sekitar tahun 1375, sebagai penggantinya adalah anaknya sendiri yang bernama Anangwarman, hanya tidak diketahui dengan jelas kapan ia menggantikan kedudukan ayahnya itu (Poesponegoro, 1984:85).

Meskipun banyak kekurangan dalam pengetahuan tentang raja Adityawarman, akan tetapi menurut Casparis ada dua hal yaang dapat menekan pentingnya peranan Adityawarman. Pertama, raja itu memerintah pada masa kerajaan Majapahit telah mencapai puncak kejayaannya yaitu saat Hayam Huruk berkuasa. Mungkin sekali Adityawarman mengakui kewibawaan kerajaan Majapahit, tetapi hal itu tidak ternyata dari prasastinya, yang tidak pernah menyebutkan ketergantungan Adityawarman dari Majapahit, bahkan nama pulau Jawa pun belum diketemukan dalam prasasti-prasasti raja itu. Kedua, Adityawarman memerintah di bagian pulau Sumatera pada masa bagian utara pulau itu

sudah beragama Islam sejak setengah abad, sebagaimana ternyata dari cerita perjalanan Marco Polo pada tahun 1292, hal ini diperjelas lagi dari batu nisan Sultan Malik Al-Saleh di Samudera Pasai, berangka tahun 1297. Beberapa tahun lagi ternyta bahwa Agama Islam sudah berakar di Trengganu di pantai Timur Semenanjung Malaka. Memang benar bahwa ada perselisihan mengenai tahun Terengganu tersebut, tetapi Casparis sepenuhnya setuju dengan Profesor Fatimi bahwa batu tulis itu berangka tahun 702 A.H atau tahun 1303 masehi (Casparis, 1992: 2).

Adityawarman insaf bahwa ketika ia berkuasa di Sumatera, terlebih dahulu pengaruh Islam telah berkembang di bagian utara dari wilayah kekuasaannya. Perkembangan ini merupakan tantangan bagi Adityawarman. Pada umumnya ajaran Budha menekankan pada sikap kesabaran dan perdamaian sesama manusia. Namun pada masa Adityawarman ajaran Budha yang dianutnya menjadi agresif, seakan-akan ingin memusnahkan lawanya. Hal ini dapat dilihat dari patung Bhairawa yang tingginya 4,41 meter. Di tangan kanannya dipegang pisau besar dengan sikap ingin memakainya, sedangkan di dasar patung dhiasai tengkorak- tengkorak. Dapat diduga bahwa fungsi patung tersebut tidak terbatas kepada agama dalam arti sempit, melainkan merupakan pengancaman terhadap bahaya yang mungkin datang dari sebelah timur.

PENUTUP

Melayu merupakan sebuah kerajaan yang wilayah kekuasaannya meliputi seluruh daratan pulau Sumatera, dari ujung barat laut hingga ujung tenggara. Beberapa daerah yang merupakan bawahan Melayu seperti: Jambi, Dharmashraya, Kandis dan Minangkabau, dari temapt-tempat itu Jambi bandar yang paling penting yang mungkin menjadi ibu kota kerajaan. Kemudian sekitar abad ke-13 di sekitar Rambahan (Sumatera Barat). Munculnya kerajaan ini, menurut berita Cina sudah ada utusan dari Melayu ke Cina pada tahun 644 dan 645. Berita Cina yang lain berasal dari I-tsing yang mampir di Melayu pada tahhun 671, pada tahun 685 wilayah ini sudah menjadi kekuasaan Sriwijaya. Nama Melayu kembali muncul setelah Kertanegara melakukan ekspedisi Pamalayu pada tahun 1275, dengan demikian kedudukan Melayu bertambah kuat karena adanya perserekatan dengan Jawa Timur. Puncak kejayaanya terjadi pada masa raja Adityawarman (1347-1375). Pada masa ini Agama Budha berkembang dengan pesat. Adityawarman adalah seorang pembesar dari

Sumatera, yang singga beberapa lama di Jawa Timur Istana Majapahit. Ia dilahirkan di dalam keluarga Rajapatni: putri Kertanegara dan permaisuri Kertarajasa yang keempat.

DAFTAR PUSTAKA
Budi Utomo Bambang. 1992. Batanghari Riwayatmu Dulu.

Jambi: Kerjasama Pembda Tingkat I Propinsi Jambi Dengan Kantor Wilayah

Depdikbud Propinsi Jambi.
Casparis JG De. 1992. Kerajaan Malayu dan Adityawarman.

Jambi: Kerjasama Pembda Tingkat I Propinsi Jambi Dengan Kantor Wilayah

Depdikbud Propinsi Jambi.
Coedes.G dan Damais L.Ch. 1989. Kedatuan Sriwijaya Penelitian Tentang Sriwijaya.

Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Djafar Hasan.1992. Prasasti Masa Kerajaan Malayu Kuno Dan Beberapa Permasalahan.

Jambi: Kerjasama Pembda Tingkat I Propinsi Jambi Dengan Kantor Wilayah

Depdikbud Propinsi Jambi.
Hanafiah Djohan. 1992. Pulau Berhala, Orang Kaya Itam Dan Si Gunjai Suatu Metos

Ideologi Dan Politik Jambi. Jambi: Kerjasama Pembda Tingkat I Propinsi Jambi

Dengan Kantor Wilayah Debdikbud Propinsi Jambi.
Lapian, A.B. 1992. Jambi Dalam Jaringan Pelayaran Dan Perdagangan Masa Awal.

Jambi: Kerjasama Pembda Tingkat I Propinsi Jambi Dengan Kantor Wilayah

Depdikbud Propinsi Jambi.
Muljana Slamet. 1981. Kuntala, Sriwijaya dan Suwarnabhumi. Jakarta: Idayu Poesponegoro Marwati Djoened, Notosusanto Nugroho. 1984. Sejarah Nasional

Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka.
Saragih. R.H, Sirait J, Simamora.M. 1977. Sejarah Nasional Indonesia I. Medan: Monora Saudagar Fachruddin. 1992. Perkembangan Sejarah Melayu Kuno Di Jambi.

Jambi: Kerjasama Pembda Tingkat I Propinsi Jambi Dengan Kantor Wilayah

Depdikbud Propinsi Jambi.
Soekmono. 1992. Rekonstruksi Sejarah Melayu Kuno Sesuai Tunutan Arkeologi.

Jambi: Kerjasama Pembda Tingkat I Propinsi Jambi Dengan Kantor Wilayah Depdikbud Propinsi Jambi.

Taken from here.

5 comments

  1. Arah pelayaran menurut itsing itu bisa kita pahami sbb. 1. Ia berlayar dari kanton kesriwijaya dan tinggal disriwijaya 6 bulan. Kemudian dari sriwijaya singgah di melayu menetap di melayu 2 bulan. Kemudian berlayar ke kedah . Jarak sama dengan sriwijaya ke melayu. Hanya saja dari melayu ke kedah itsing MERUBAH arah pelayaran. Kata merubah arah pelayaran ini yang akan kita bahas panjang lebar.
    merubah arah pelayaran dari sriwijaya kemelayu dengan melayu ke kedah, kata merubah arah pelayaran bukan berlawanan arah. Itsing tidak menyebut berlawanan arah.
    Jika sriwijaya adalah palembang dan selamanya di palembang dan melayu adalah jambi. Arah pelayaran palembang jambi sama searah dari tenggara (palembang / sriwijaya ) menuju arah barat laut ( jambi/ melayu. ) india. kemudian dari melayu kekedah merubah arah pelayan/ berubah arah dari arah barat laut kearah utara / timur laut. Karena letak kedah tidak searah dengan melayu dan india. Jelas itsing jika sampai kekedah dari melayu harus merubah arah pelayaran kapal harus berbelok bukan berbalik arah. Kalau menempatkan sriwijaya di kelantan semenanjung melayu/ malaysia dan menempatkan melayu di palembang, arah pelayaran dari sriwijaya ke melayu dengan pelayaran dari palembang ke kedah menjadi berlawanan arah bukan lagi merubah arah pelayaran .karena itsing itu mau ke india. Jalurnya searah dari sriwijaya- melayu- india. ( tenggara – barat laut ) tapi itsing belok ke kedah belok ke arah utara/ timur laut.
    tapi kalau sriwijaya di kelantan melayu di palembang arah pelayaran sriwijaya ke melayu ke india menjadi berlawanan arah.
    Dan letak sriwijaya menjadi antara melayu dan kedah. Artinya melayu berada di selatan / tenggara sriwijaya. Padahal itsing mengatakan dari sriwijaya ke melayu baru baru kekedah artinya melayu terletak antara sriwijaya dan kedah. Jadi berdasarkan keterangan itsing itu sriwijaya yang terletak di selatan / tenggara melayu bukan sebaliknya.
    jadi kesimpulannya
    1. arah pelayaran kanton- sriwijaya adalah utara-selatan.
    2. Arah pelayaran sriwijaya- melayu- india adalah searah dari tenggara ke arah barat laut.
    3. Arah pelayaran melayu kedah ber beda arah dengan arah sriwijaya-melayu-india.
    4. Itulah sebabnya kapal yg di tumpangi itsing metubah arah ke arah timur laut atau utara .
    tapi itsing menyebut waktu pelayaran dari sriwijaya kemelayu 15 hari sama dengan jarak waktu melayu kedah.jika sriwijaya palembang melayu adalah jambi terlalu lama di tempuh 15 hari pelayaran dan jarak jambi palembang tidak sama dengan jarak jambi kedah. Begitu juga jika sriwijaya adalah jambi melayu adalah batang kuantan / musra takus riau terlalu lama di tempuh 15 hari karena jarak jambi ke muara takud riau sama dengan jarak jambi palembang.
    Yang lebih masuk akal stiwijaya di palembang melayu di muara takus riau. Jarak muara Takus riau dengan kedah sama persis jarak muara takus tiau – palembang. Dan itu sesuai ditempuh 15 hari pelayaran pada waktu itu yang serba sederhana dan melawan arus sungai .

  2. Situs muara jambi memang banyak candi tapi menyimpulkan muara jambi ibukota sriwijaya terlalu terburu buru. Sebab tidak ada satupun prasasti di kawasan muara jambi yang bertuliskan sriwijaya.
    kalau muara jambi ibukota sriwijaya pastilah banyak tulisan sriwijaya di sana.
    Jika kerajaan melayu yang di maksud itsing adalah muara takus riau jambi adalah kerajaan cenpi/ jambi yang menjadi bawahan sanfotsi/ sriwijaya. Bisa jadi candi di muara jambi itu di bangun oleh kerajaan cenpi/ kerajaan hambi.
    tapi keterangan itsing mengatakan di kota sriwijaya terdapat 1000 biksu. Itsing tidak menyebutkan di ibukota sriwijaya banyak candi. Itsing menyebut di pusat sriwijaya terdapat unipersitas budah dan 1000 biksu. Kita lihat unipersitad nalanda yang waktu itu menjadi pusat unipersitas budah di dunia dan terdapat puluhan ribu biksu pastilah unipersitas nalanda ini lebih besar dan biksunya lebih banyak dari pada di sriwijaya. Di bekas unipersitas nalanda india ini tidak terlalu banyak candi .
    Dan biasanya pembangunan candi jauh dari istana atau pusat kerajaan. Para biksu itu tidak harus berada di candi selamanya. Mereka kecandi hanya waktu waktu tertentu saja. Tidak setiap hari berada di candi. Para biksu juga banyak berada di istana. Dan asrama para biksu tidak harus berada di candi muara jambi.

  3. Tempat aktipitas sehari hari para biksu dan mahasiswa budah itu bukan berada di candi akan tetapi berada di wihara. Dan wihara banyak terbuat dari kayu. Bisa saja wihara / asrama para pelajar agama budah di pusat sriwijaya dipalembang itu di bangun dari kayu hingga sekarang tidak dapat dijumpai lagi karena termakan usia hanyut terbakar dll. Sebab di jepangpun banyak bangunan wihara dari kayu.

  4. Mungkin teoro moens menempatkan klantan malaysia sebagai sriwijaya dan palembang sebagai melayu berpedoman jarak pelayaran dan waktu pelayaran itsing yang mengatakan jarak canton guangdon cina – sriwijaya sekitar lebih kurang satu bulan. Kenudian sriwijaya melayu 15 hari, melayu kedah 15 hari. Jadi jarak pelayaran sriwijaya-kedah 30 hari . Sama dengan jarak sriwijaya guangdon cina.
    jarak tempat guangdong cina sama dengan jarak jlantan malaysia -palembang- kedah. Jika sriwijaya di palembang melayu di muara takus dan muara takus riau – kedah jarak itu sama dengan dari palembang ke hocimin pitnam, bukan jarak ke guangdong cina.
    Tapi jarak guang dong cina ke kelantan memang sama jarak dari kelantan-palembang-kedah.
    Kelihatannya teori mowns ini cukup masuk akal.
    Tapi jika di teluti lagi di lapangan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan sebab
    1. Tidak bisa waktu pelayaran dijadikan patokan jarak suatu tempat karena jika orang yang biasa hidup dilaut dia paham betul situasi kondisi laut. Bagaimana angin kapal dan kedalaman laut ombak laut cuaca itu dangat mempengaruhi pelayaran. Jarak palembang – guangdong cina di tempuh satu bulan pelayaran sesuai karena berada di laut lepad laut cina selatan angin kencang dan ombak besar tidsk terlalu banyak pulau pulau.
    akan berbeda sekali dengan waktu pelayaran dari palembang ke muara takus riau terutama riau laut dangkal angin kecil ombak kecil tambah lagi harus masuk sungai melawan arus dan banyak pulau pulau
    2. Pengalaman saya pribadi daya pernah berlayar dari tanjung balai sumut ke port klang malaysia hanya 8 jam. Tapi ketika saya pulang dari portklang malaysia ke dumai riau iru sampai 4 hari 4 malam. Sebab laut di riau berbeda sekali dengan laut di pesisir timur sumut. Kenapa begitu lama sebab diriau ketika siang laut surut kami tidak bisa melanjutkan pelayaran kami terhenti ditengah laut menunggu laut pasang ditambah bulan tidak ada. Lama sekali kami menunggu laut pasang ia kalau bulan purnama atau bulan besar cepat laut pasang dan pasangnya pun besar. Tapi kalau bulan tidak ada kami harus menunggu bulan muncul. Laut dangkal tidak bisa di lalui kapal saya paham betul bagaimana laut di riau. Ditambahlagi banyak pulau dan pelayaran itu terkadang kelyar jalur atau tersesat itu juga sangat menggangu . Kapal yang terombang ambing fitengah laut dangkal tanpa disadari bisa menarah kelaut dalam ketika laut padang bisa jadi kita sudah diluar jalur pelayaran. Seperti pengalaman saya ketika laut pasang malam hari ombak besar ternyata kami sudah berada di laut cina selatan akhirnya kami balik lagi ke laut di riau sehingga kami sampai di dumai 4hari 4malam.
    Lalu lintas laut itu sama dengan jalan raya di darat .
    3. Sebagai perbandingan 10 menit kita naik mobil di jalan lintas mulus lurus itu akan sangat berbeda jarak yang di tempuh melalui jalan yang rusak sempit berbelok belok banyak lubang jalan tanah pyla.
    4. Kesimpulannya sesuai guangdong cina – palembang satu bulan pelayaran.
    5. Sesuai palembang/ sriwijaya – muara takus riau sekitar 15 hari
    6. Sesuai muara takus riau – kedah 15 hari.
    tidak percsya buktikan sendiri berlayarlah .

Comments are closed.

This site is protected by wp-copyrightpro.com