Sumber Penghasilan Kerajaan

Sumber Penghasilan Kerajaan

Mengenai sumber penghasilan kerajaan, pada umumnya semua penduduk wajib membayar pajak (drawya haji) dan melakukan kerja bakti untuk raja atau kerajaan (buat haji). Pajak harus dibayar dari tanah dan hasilnya, termasuk tanah rawa, tepian, bendungan, hutan, dan hasil perdagangan dari hasil kerajinan dan keahlian tertentu yang digunakan untuk mencari nafkah seperti pesinden, pelawak, penabuh gamelan, dalang, dsb. Di pusat kerajaan ada pejabat yang mengurusi “jumlah desa” dan “jumlah tanah” (wilaṅ wanua, wilaṅ thani). Tentunya mereka mempunyai catatan tentang jumlah penduduk di setiap desa, karena tiap desa mempunyai kewajiban menunjuk berapa orang tiap tahun yang harus melakukan kerja bakti untuk raja/kerajaan. Jumlah pajak yang harus dibayar rakyat biasanya ditetapkan oleh pejabat di tingkat watak (nāyaka). 

Ada beberapa prasasti yang menunjukkan protes rakyat atas beban pajak yang ditetapkan itu, lalu pejabat desa mengajukan permohonan kepada raja melalui pemerintah daerahnya agar ketetapan pajak diubah.

Selain itu pemungutan pajak juga ditentukan berdasar macam-macam barang dagangan dan hasil industri rumah tangga mengenai ketentuan batas yang dikenai pajak. Barang dagangan dibawa dari desa ke desa yang lain dengan cara dipikul atau dibawa dengan gerobak, bahkan jika memungkinkan dengan menggunakan perahu (perbatasan desa satu dengan lainnya melalui sungai). Mengenai para pesinden, dalang, penabuh gamelan, pelawak dll. Para pemainnya memperoleh imbalan uang dalam upacara penetapan sīma. Kelompok tersebut disebut wargga kilalāṅ, termasuk di dalamnya pedagang-pedagang asing yang menetap di Jawa. Yang masuk juga kedalam ‘kas’ kerajaan ialah hasil rampasan perang (para pejabatnya disebut tawān atau hañaṅan di ibu kota kerajaan) dan pemberian cendera mata dari negara-negara sahabat. Pajak diserahkan ke pusat kota dua kali dalam setahun. Disebutkan dalam prasasti pada bulan Māgha dan Saṅsaṅān, sedangkan dalam naskah Nawanatya yang dimaksud Saṅsaṅān ialah Galuṅan.

Boechari.2012. Kerajaan Mataram Sebagaimana Terbayang dari Data Prasasti, dalam Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti: kumpulan tulisan Boechari. Jakarta: KPG, hlm: 183-196.

This site is protected by wp-copyrightpro.com