Aku Orang Indonesia

 

Aku sebenarnya sempat lama meninggalkan media sosial. Kalau kalian amati, instagram laurentiadewi_blog cenderung stagnan jumlah postingan (juga followers-nya). Facebook? Malah deactive (2 bulan lebih).

Kemudian, karena beberapa hal, maka FB kembali dibuka dan nampang lagi deh segala cerita, status, berita, foto, dll mengenai pilkada Jakarta dan segala pihak yang terkait (dan melebar).

Aku pribadi, sudah eneg dengan semua pemberitaan politik tersebut. Walau pro Ahok (bukan karena ras dan agamanya), aku sadari bahwa kekalahan/ kemenangan Beliau sama sekali engga ngefek buatku yang tidak pegang KTP Jakarta. Jadi, sudahlah. Let it be.

Aku lebih mengkawatirkan hal lain. Munculnya kembali istilah pribumi dan Cina (yang ternyata cuma mati suri saja, selama ini..).

OK, seperti yang kalian ketahui, namaku Laurentia Dewi. Identitas sebagai Katolik, jelas terpampang walau bolak balik blusukan Klenteng – Vihara – Kuil – Pura – Candi – Masjid.

Dalam darahku, ada turunan Cina – Belanda – Ambon – Jawa. Dari salah satu leluhur, bisa diketahui bahwa aku sudah generasi ke 5 yang lahir di Nusantara. Masih kurang layak kah disebut WNI?

Aku tidak kenal tanah Cina, juga Belanda. Keduanya belum aku injak (tapi segera akan aku datangi!). Aku tidak bisa berbahasa Cina, tidak mengenal budayanya *kamsia Pak Harto*. Sakit hatiku sama seperti sakitnya mereka yang mengaku sebagai pribumi, ketika beberapa kesenian Indonesia di claim milik negara lain. Khawatirku sama, seperti khawatirnya mereka yang mengaku sebagai pribumi ketika ekonomi negara ini lesu.

Karena di tanah ini, aku lahir dan kemungkinan besar akan dikuburkan; seperti 5 generasi keluargaku yang lain.

Lagian, kenapa selalu si Cina yang disorot sebagai si pendatang. Kenapa tidak sekalipun kalian menyebut mereka yang keturunan Arab? Kenapa si Cina (pernah) menyandang status WNI Keturunan di berbagai surat identitas, namun para Arab tidak?

Lupakah kalian bahwa orang Cina yang membawa Islam datang ke Nusantara? Cheng Ho, misalnya. Masihkah kalian mau menyangkal bahwa beberapa Sunan yang kalian puja dan datangi makamnya itu adalah orang dari Cina? Masihkah kalian bisa berlagak tidak tahu bahwa yang mengajarkan seni ukir di Jepara adalah seorang (muslim) Cina?

Apa salah (orang keturunan) Cina? Saat diserang Belanda, warga turunan Cina juga menggotong senjata, membela Indonesia, tanah yang saat itu belum memberinya status warga negara.

Salah, karena kaya? Baca tulisan Alberthiene Endah berikut:

Aku agak gatel nih kalo gak nulis. Yg berpendapat bahwa Cina tuh enak krn gampang kaya semua…kalian keliru banget. Aku udah nulis 47 biografi dan hampir separuhnya pengusaha Tionghoa. Semuaaaanya pernah hidup susah. Bahkan amat susah.

Ciputra dari kecil sampai remaja harus berburu ke hutan dan kerja keras di kebun utk bisa makan. Ayahnya tewas di penjara. Tahir melewati kemiskinan sebagai anak juragan becak miskin. Sebelum mampu membangun bank Mayapada, ia bertahun-tahun berjualan minuman kaleng dan kue bulan. Djoko Susanto bos Alfamart yg juga orang terkaya ke sekian belas adalah lulusan SMP yg memulai usaha dari kios kecil. Ia bahkan mengangkut dus besar rokok di punggungnya tiap hari spt kuli. Dan yg terbaru…bos larutan Cap Badak, Budi Juwono. Dia mengalami masa remaja yg berat. Jadi sales obat dan dipukuli sampai babak belur oleh pesaingnya. Jualan kue pake dua keranjang di tengah banjir sampai harus angkat keranjang sekepala agar tak jatuh. Ia juga mendorong gerobak jati sbg pedagang kaki lima.

Pikirkanlah sesuatu yg logis dan masuk akal. Mereka bekerja sangat keras dan ulet. Tahan penghinaan dan tahan deraan hidup susah. Itulah yg membuat mereka kaya. Bukan ras. Yg masih hidup susah dan berjuang juga sangat banyak.

Jadi yg cemburu kenapa “banyak Cina kaya” tirulah etos kerja keras mereka. Lihat proses juangnya dan bukan hasil akhirnya.

Aku pun jadi penulis produktif karena kuserap hal positif dari cara kerja mereka. Gak cengeng. Gak gampang ngeluh. Disiplin.

Aku ingat betul, bagaimana cerita Opa mendapatkan status WNI, sedangkan tetangga rumah yang keturunan Arab, melenggang santai untuk berganti warga negara. Tahukah kalian, bahwa dulu kalau saja ada kebaran, maka satu-satunya surat yang akan diselamatkan adalah surat WNI, bukan deposito/ akta lahir, dll. Ya, (dulu) sebegitu berharganya surat WNI bagi kita yang sudah 5 generasi lahir dan mati di Indonesia.

Yuk, siapa yang lagi/ pernah sekolah kedokteran? Masih merasa kan, bahwa jatah kursi untuk “keturunan Cina” kurang dari 10% dari total mahasiswa/i bermerk “pribumi”? Ya, di 2017 hal ini masih ada diskriminasi seperti itu!!! Bahkan ada beberapa jurusan spesialis kedokteran yang menutup diri dari adanya para “keturunan Cina”. Keturunan Arab? Bebas masuk, bro.

Ayo, sekolah-sekolah negeri (apalagi yang di era sebelum tahun 2000), siapa berani mengaku bahwa mereka sangat membatasi adanya para keturunan Cina? Karena itulah dahulu, kita-kita yang di cap turunan Cina ini sekolah di sekolah swasta yang biayanya 10x lipat dari sekolah pemerintah. Karena itu pula lah, para ortu kita kudu bekerja minimal 10x lipat lebih cerdik dan keras dari kaum (yang menggolongkan dirinya sebagai) pribumi.

Pernahkah kalian dengar, orang berkulit apapun di Amerika sana memperkenalkan dirinya “I am American”. Indonesia, yang sudah sekian puluh tahun merdeka masih saja bilang “Aku orang Batak”, “Aku orang Arab”. Kenapa tidak menyebut, “Aku orang Indonesia”?

Aku, orang Indonesia. Sekali lagi: aku adalah orang Indonesia. Kamu?

 

This site is protected by wp-copyrightpro.com