Mei 2018

Tidak sekalipun terpikir kota yang konon adalah icon keamanan Indonesia, Surabaya, dapat teror bom.

Tidak juga pernah terpikirkan sedikit pun, bahwa aku, akan bersinggungan dekat dengan pengalaman menyedihkan ini. Rumahku, berjarak hanya 20 m saja dari salah satu lokasi bom. Dan mulai hari Minggu sekitar jam 8 WITA, segalanya dimulai.

Saat itu seorang kawan mengirimkan message penuh rasa khawatir, memberitahukan ada bom didepan rumahku & menanyakan kabar kita. Aku yang sedang di Bali, tidak tahu apa-apa, sempat menganggap ini hanyalah sebuah hoax belaka.

Namun puluhan telepon dan message berikutnya, membawaku tersadar bahwa benar-benar telah terjadi bom, didepan rumah! Aku nyalakan TV, belum ada berita apapun. Tapi tak lama kemudian, kawanku datang ke kamar tempatku menginap “Wi, there was a bom in Surabaya”, lalu dia memelukku. Baiklah. Ini adalah sebuah realita.

Entah kenapa pagi itu aku juga tidak bisa akses CCTV rumah dari HP. Untung, teleponku ke pembantu akhirnya dijawab, dia mengabarkan dia & rumahku baik-baik saja, hewan peliharaan juga hidup semua. Kemudian telepon terputus, tidak bisa nyambung lagi tapi hati sudah lebih tenang.

Hari itu juga, aku balik ke Surabaya. Aku sempat pergi breakfast dengan kawan, semuanya asal Surabaya. Semua mengabarkan keluarga mereka selamat, tidak berada di lokasi bom (padahal biasanya semua ibadah Minggu pagi di gereja2 yang di bom itu!). Another good news, tapi sarapan kita berasa hambar. Begitu juga dengan lunch.

Hening. Sementara meja lain begitu ramainya. Anak-anak menggambar, orang2 menyapa dan membagikan makanan. Ah, Bali memang bagaikan negara lain. Disini mereka sibuk berteman, menyapa, membicarakan pantai dan ombak.

Singkat kata akhirnya aku pulang ke Surabaya. Takut? Engga. Aku harus pulang, lah. Di dalam pesawat, aku nangis memikirkan tukang parkir, penjual buah & makanan yang biasa disekitar gereja. Bagaimana kabar orang-orang itu, baik-baik sajakah atau menjadi korban? Nangis juga, lihat foto orang-orang antri donor darah untuk korban bom. Kelihatan sekali, multi ras & etnis, berjilbab dan tidak, semuanya antri menyumbangkan darah! Merinding aku, melihat penduduk Surabaya yang saling peduli.

Sampai di Surabaya, seorang kawan sudah menjemput. Perjalanan dari airport ke rumah terasa sama saja, ramai. Bahkan belakang rumahku masih ramai, penjual makanan pada buka & kita makan disalah satu warung pecel (haha, aku kangen pecel!). Suasana baru berasa beda saat mobil belok ke jalan rumahku. Ada banyak truk polisi, dishub, satpol PP, tim gegana. Aku lihat polisi berjaga dengan memegang senjata laras panjang.

Rumah mengalami kerusakan minor, plafon rumah semuanya retak. Tapi kondisi ini lebih baik, dibandingkan tetangga yang pecah kaca rumahnya. Anjingku stress, sepertinya karena bunyi bom. Dia memang menyambutku datang tapi diam. Dan malamnya aku lihat, dia sembunyi dibawah kursi, tidak mau keluar walau dipanggil. Makanannya pun tidak dihabiskan, tapi akhirnya dia mau keluar & bisa dipeluk lamaaa. Nih beagle ini biasanya ogah dipeluk, eh kali ini dia malah kaya minta dipeluk. Jadinya kita peluk-pelukan di teras rumah, sambil sesekali dengar sirene polisi dan bunyi kaca pecah yang dibersihkan.


Hari ke-dua, Senin, aku memutuskan pergi kerja. Jadi, kudu ninggalin si beagle yang masih melow. Susah dapetin Grab, simply karena sekitar rumah pada ditutup jalannya untuk pembersihan & pengamanan. Dan setelah 45 menit, akhirnya order Grab diterima.

Kita tentu saja melalui lokasi ledakan yang masih dijaga ketat polisi. Hening. Tapi akhirnya sopir Grab engga bisa tahan untuk tidak mengumpat pelaku. Pagi yang berat. Dan melow. Both of us bersedih, untuk duka dan musibah yang dialami orang-orang yang tidak kita kenal in person.

Pada hari ke-2 ini, berita sudah lebih banyak. Mudah sekali mendapatkan nama korban, kronologis, kondisi, bahkan foto-foto detailnya. Seharian kita pada browsing soal bom & korban2nya. Dada sesak, sedih sekali! Hari ke-2 itu kita dapat kabar kalau ada anak-anak menjadi korban dan Ibunya masih di ICU. Juga ibu-ibu yang mengalami luka bakar 90%.

Selang beberapa jam, eeh.. ada bom lagi di Polrestabes Surabaya. Nangislah kita melihat anak pelaku selamat, berdiri terhuyung-huyung dan linglung sebelum diselamatkan polisi. Ayah – ibu macam apa mereka ini? Aku yakin, orang tua tidak ada yang tega menyuapkan makanan basi ke anak, lha ini malah memasangkan rompi bom. Duh Gusti.

Aku pulang kerja dengan Grab, Surabaya tampak ramai namun hening. Mobil pada berjalan pelan, orang berjalan tertunduk. Beagleku kembali menyambut aku pulang, dia sudah lebih ceria.

Pembantu bilang, “Nonik jangan keluar jalan kaki/ naik motor, diujung jalan sana baunya amis. Ini tadi banyak bapak2 bersihin jalan”. Duh Gusti. Terimalah semua jiwa korban bom, peluk mereka dalam kedamaian.


Hari ke-tiga. Selasa.

Aku dapat sopir Grab yang berada dibelakang lokasi bom saat kejadian. Dia pikir ada tabung LPG meledak. Jadi dia spontan starter mobil dan jalan, tanpa tahu apa yang menunggu dia di balik tikungan.

Begitu dia tiba di ujung jalan, terhampar luas 1 area semrawut seperti yang kalian bisa lihat di youtube. Dia buka jendela dan tercium bau yang menyengat, terdengar teriakan-teriakan menyayat hati. Akhirnya dia sempat turun mobil dan membantu beberapa korban luka, bahkan membalik badan 1 korban yang keadaan tubuhnya sudah hancur. Pandangan matanya kadang kosong. Berkali-kali dia bilang, “Kalo sampean liat, Mbak. Kalo sampean liat..”. Aku kemudian beberapa kali mengalihkan pembicaraan, berharap si Bapak fokus dengan kemudi.

Di akhir perjalanan, aku menyarankan si Bapak istrahat dan menghubungi layanan psikologi gratis (trauma healing) yang diadakan oleh fakultas psikologi Ubaya – Unair – Untag dan RS. Bhayangkara. Si Bapak sepakat untuk hari itu dia akan berhenti nge-Grab sementara dan pulang ke kampung halaman, dia ingin ketemu istri dan anak.

Kemudian tukang servis AC pun datang, jam 10pm. Aku tanya, takut ga datang ke lokasi bom, malam-malam pula. Dia bilang engga, karena polisinya banyak. Baguslah. Lingkungan rumah memang dijaga ketat 24 jam, polisi berjaga dalam posisi siaga.

Aku puas-puasin baca berita dari E100, menangisi satu persatu kisah korban, nangis lihat si Ibu datang ke Adijasa untuk upacara tutup peti anaknya, nangis lagi lihat Bu Risma sampai jongkok lemas & nangis dipeluk polisi ketika tahu ada ada bom lagi di Polrestabes Surabaya. Nangisnya lanjut lagi, lihat masyarakat Surabaya kumpul di Tugu Pahlawan membawa lilin. Masih ada kasih & rasa kebersamaan di Surabaya. Itu melegakan.

Malam itu suasana tenang tanpa sirene. And i had dreamless sleep.


Hari ke 4, Rabu.

Aku memutuskan untuk tidak mengakses semua pemberitaan bom. Aku tidak mau melihat foto-foto korban, dsb. Apa yang aku baca di hari pertama dan kedua sudah mulai menggentayangi otak sehingga aku merasa perlu membatasi pemberitaan. Dan alam mendukung.

Aku keluar rumah lebih awal, sengaja untuk bertemu dengan orang-orang sekitar. Aku datangi penjual makanan didepan rumah, aku tanyain kabarnya. Penjual buah juga. Semua bilang kondisi mereka baik-baik, wajah-wajahnya ramah. Lalu si penjual buah memotong beberapa jeruk dan dibagikan kepada kawan-kawannya. Semua tampak mulai kembali normal (walau aku tahu Bapak2 ini mengalami hari-hari berat, satu diantara mereka kejatuhan potongan badan pelaku bom).

Grab pagi itu lebih mudah didapatkan, tarifnya sudah turun dan sopirnya pun memilih bercerita soal awal pertemuannya dengan istri, bahkan pakai memamerkan foto anak istrinya segala.

Beberapa kawan sudah posting tiket Dead Pool. Mereka sudah mulai nge-mall, makan diluar. Kongkow.

Surabaya mulai bangkit, manusianya move on. Walau demikian, aku masih berdoa untuk para korban dan keluarganya. Semoga Tuhan memeluk mereka dalam ketenangan dan menguatkan yang ditinggal. Termasuk mereka yang di Riau.


Hari ke-lima, Kamis. Hari ini.

Grab mulai normal, berkumpul sebanyak-banyaknya didekat rumah. Tarifnya juga normal. Tapi sekitar rumah sepi luar biasa, perjalanan ke kantor jadi sangat cepat. Sepertinya banyak orang memilih untuk tidak beraktifitas di hari pertama bulan puasa. Kawan lain memberitahukan perjalanan ke Malang lancar sekali.

Sekilas dari newsfeed FB, ada saja terduga teroris tertangkap disana sini. Ini minggu-minggu sibuk untuk para polisi. Semoga saja mereka bisa tetap beribadah puasa dan sehat, semoga keluarganya pada kuat merelakan orang yang dikasihi bertugas membela negara.


Dan setelah 5 hari, jujur saja aku bilang bahwa bukan rasa takut yang timbul dari serangan ini. Yang ada tuh, rasa sedih.

Sedih saat tahu ada yang meninggal, sedih saat tahu yang meninggal dalam keadaan mengenaskan, sedih mengetahui bahwa ada kenalan yang menjadi korban (luka), sedih saat melihat kerusakan yang ditimbulkan, sedih saat tahu ada orang tua bunuh diri sambil mengajak anaknya.

Aku tidak takut keluar rumah yang cuma 20m saja dari titik bom. Sopir Grab, tukang servis AC, GoFood, polisi. Mereka semua itu engga takut, mereka datang ke rumahku, mereka tetap kerja seperti biasa dan saling menguatkan sesama. Tapi mereka melow, sedih.

Keluarga yang berduka, kalian tidak sendiri. Lihatlah kota ini dan wajah sedih penduduknya. Kami semua bersamamu. Doa kamu menyertaimu. Dukamu, adalah duka bersama. Kehilanganmu, sangatlah bisa kami rasakan. Kuatlah. Dan berteguh iman.

 

Di balik bencana ini kemudian kita menemukan adanya kebersamaan, rasa persaudaraan dan kesadaran bahwa kita ini manusia, punya perasaan, empati, juga semangat bertahan hidup.

Surabaya akan bangkit bersama-sama.

Leave a Reply

This site is protected by wp-copyrightpro.com