Arca

Arca dalam bahasa Inggris disebut icon, yang berarti patung atau gambaran orang suci (John M. Echols dan Hassan Shadily, 1983: 309). Kata icon berasal dari bahasaYunani eikon yang searti dengan kata-kata Sansekerta arcã, bera, vigrha, dan pratima.Kata arcã diartikan sebagai gambaran, arca dewa. Kata bera mempunyai arti perwujudan atau arca (dewa), kata vigrha berarti perpaduan, perwujudan (dewa), dan kata pratima yang berarti perwujudan jasmani seorang dewa yang dipuja (Maulana, 1997: 2). Di dalam mempelajari tentang arca dikenal ilmu ikonografi dan ikonometri yang merupakan cabang dari ilmu ikonologi. Ikonografi mempelajari system tanda-tanda sebagai penentu identitas arca, sedangkan ikonometri adalah seni mengukur bagian badan arca dengan menggunakan ikonometer. Ikonometri merupakan hal yang sangat penting bagi seniman pembuat arca, karena merupakan ketentuan pokok yang dijadikan pedoman dalam pembuatan arca. Di India pedoman mengenai ukuran arca termuat dalam kitab Silpasastra, yaitu suatu kitab yang berisi petunjuk penting untuk pembuatan arca. Dalam Ikonometri, ukuran arca ditetapkan dengan sistem talamana, yang merupakan pedoman pengarcaan tokoh dari segi proporsi berdasarkan tala-nya. Tala adalah ukuran relatif menggunakan pedoman wajah atau telapak tangan tokoh yang diarcakan (Pramastuti, 1979: 2, 8). Dalam pembuatan arca dewa terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh si pembuat arca, termasuk bahan-bahan yang digunakan harus memenuhi ketentuan-ketentuan. Jenis-jenis bahan yang dapat digunakan untuk membuat arca di sebut dalam kitab Hayasirsa, Pancacatra, antara lain bahan tanah (mrnmayi), kayu (darughatita), logam (lohaja), permata (ratnaja), batu (sailaja), ramuan wewangian (gandhaja), bunga (kausumi) dan lain-lain. (Pramastuti, 1979: 4). Dalam menggunakan masing-masing bahan tersebut juga berlaku ketentuan-ketentuan yang tidak dapat ditinggalkan oleh seorang pembuat arca. Khusus arca dari bahan batu terdapat ketentuan antara lain : batu harus berwarna tunggal dan berkualias, yang tertanam dalam tanah atau terendam airyang berasal dari sumber air suci, permukaan batu harus rata, dan batu yang tidak mengandung butiran-butiran pasir kasar (Pramastuti,1979: 5). Jenis bahan batu yang digunakan untuk membuat arca adalah batu andesit yang sumber bahannya dari gunung, misalnya Gunung Merapi, Merbabu dan sebagainya. Batu andesit yang dipilih untuk membuat arca adalah yang berkualitas baik.

15350626_1105426196241257_2600374227579301316_n 15350525_1105699789547231_5064876882999690640_n 15350494_1105699886213888_1954141750743875261_n 15350480_1105699809547229_8431036077750940636_n 15349829_1105699899547220_8185113492724114168_n 15338745_1105699979547212_6027824950644658818_n 15327288_1105699916213885_2666142183746956306_n 15319276_1105700026213874_5397991426853539184_n

Source :
Katalog Arca Batu 2014

Merry Christmas!

Dalam suasana yang kurang mengenakkan dengan adanya banyak bom yang digagalkan disana sini *terima kasih Densus 88*, isu perpecahan, politik adu domba, krisis toleransi dan sebagainya, saya ucapkan SELAMAT NATAL sambil mendoakan kalian semua diberkati damai di hati, juga di bumi.

nataldewi

Mari, hidup bertoleransi dan menjadi pribadi yang tidak mudah tersulut.

Stay Safe, Everyone!

Pilkada dan acara Natal – Tahun Baru yang berdekatan momennya benar-bener tidak baik buat kesehatan mental.

Setelah membaca sekian banyak kata “bunuh”, “bakar”, juga jenis-jenis hewan diteriakkan, kini bermunculan ‘petasan’ dengan daya ledak tinggi dimana-mana.

Kemarin saja, ada temuan bom/ barang yang diduga bom dari Tangerang, Payukumbuh Barat, Sumatra Selatan dan Batam. Kemudian hari ini, di Mojokerto.

Saya memahami adanya perbedaan pendapat, tapi kenapa harus pakai cara kekerasan? Kenapa lebih memilih menjadi pribadi yang mirip korek api; pribadi yang mudah terbakar hanya karena sedikit gesekan? Sebegitu sulitnya kah, bertoleransi? Sebegitu inginnya kah menjadikan dunia ini memiliki warna yang sama?

Semoga kita semua dijauhkan dari keinginan berbuat jahat dan menyakiti sesama yang berbeda warna kulit & kepercayaan, semoga kita semua dijauhkan dari segala keburukan yang direncanakan para teroris, semoga semua sehat dan selamat.

Hormat, untuk para pemberani yang berbulan-bulan meninggalkan keluarga dan tempat tinggal mereka yang nyaman demi mencegah aksi teror. Terima kasih, juga untuk keluarga mereka. Kalian semua luar biasa!

Makam Pangeran Diponegoro

Setelah berkunjung ke makam Pangeran Diponegoro di Makassar, saya pun iseng browsing kesana kemari dan tiba-tiba menemukan artikel bahwa ada versi lain yang menyebutkan sang Pangeran dimakamkan di Asta Tinggi, Sumenep!

p1130003-copy

Ini ‘menyebalkan’ sekali, karena saya baru tahu informasi tersebut setelah 3x mengunjungi Asta Tinggi yang nun jauh disana itu, haha!

Kenapa dulu-dulu jaman ke Asta Tinggi berkali-kali, tidak satupun artikel mengenai adanya dugaan bahwa ada makam Pangeran Diponegoro di kompleks makam raja-raja ini, sih?

Memahami Perang Syria

‘Penduduk’ di FB-ku belakangan ini tidak terlalu majemuk (minimal karena aku unfolow beberapa account), namun 1-2x muncul postingan mengenai Syria walau dari sudut pandang yang berbeda.

Dan sebelum post/ menghujat/ berdoa (di wall FB *grin*), mengajak/ menyerukan sesuatu, ada baiknya kita mengenal dahulu apa dan bagaimana perang Syria ini terjadi (diambil dari Al Jazeera)..

Five years since the conflict began, more than 250,000 Syrians have been killed in the fighting, and almost 11 million Syrians – half the country’s prewar population – have been displaced from their homes.

In 2011, what became known as the “Arab Spring” revolts toppled Tunisian President Zine El Abidine Ben Ali and Egyptian President Hosni Mubarak.

That March, peaceful protests erupted in Syria as well, after 15 boys were detained and tortured for having written graffiti in support of the Arab Spring. One of the boys, 13-year-old Hamza al-Khateeb , was killed after having been brutally tortured.

The Syrian government, led by President Bashar al-Assad, responded to the protests by killing hundreds of demonstrators and imprisoning many more. In July 2011, defectors from the military announced the formation of the Free Syrian Army, a rebel group aiming to overthrow the government, and Syria began to slide into civil war.

The word ‘Steadfast’ is seen graffitied on a damaged building in Deraa [Wsam Almokdad/Reuters]

What caused the uprising? 

Initially, lack of freedoms and economic woes fuelled resentment of the Syrian government, and public anger was inflamed by the harsh crackdown on protesters. Successful uprisings in Tunisia and Egypt energised and gave hope to Syrian pro-democracy activists. Many Islamist movements were also strongly opposed to the Assads’ rule.

In 1982, Bashar al-Assad’s father, Hafez, ordered a military crackdown on the Muslim Brotherhood in Hama, which killed between 10,000-40,000 people and flattened much of the city.

A group gathers near a home in al-Latamneh, Hama Province, Syria that was reportedly razed by Syrian Army forces after its owner’s brother defected from the Syrian Army [Austin Tice/Getty Images]

Even global warming has been claimed to have played a role in sparking the 2011 uprising.

A severe drought plagued Syria from 2007-10, spurring as many as 1.5 million people to migrate from the countryside into cities, which exacerbated poverty and social unrest. Although the initial protests were mostly non-sectarian, armed conflict led to the emergence of starker sectarian divisions.

Minority religious groups tend to support the Assad government, while the overwhelming majority of opposition fighters are Sunni Muslims. Although most Syrians are Sunni Muslims, Syria’s security establishment has long been dominated by members of the Alawite sect, of which Assad is a member.

The sectarian split is reflected among regional actors’ stances as well. The governments of majority-Shia Iran and Iraq support Assad, as does Lebanon-based Hezbollah; while Sunni-majority states including Turkey, Qatar, Saudi Arabia and others staunchly support the rebels.

The Syrian civil war is believed to be the deadliest conflict the 21st century has witnessed [Ed Giles/Getty Images]

Foreign involvement 

Foreign backing and open intervention have played a large role in Syria’s civil war. An international coalition led by the United States has bombed targets of the Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL, also known as ISIS) group since 2014.

In September 2015, Russia launched a bombing campaign against what it referred to as “terrorist groups” in Syria, which included ISIL as well as rebel groups backed by Western states. Russia has also deployed military advisers to shore up Assad’s defences. Several Arab states, along with Turkey, have provided weapons and materiel to rebel groups in Syria.

A Russian Mi-28 helicopter patrols the area around Hmeimym airbase in Latakia province, Syria [Sergei Chirikov/EPA]

Many of those fighting come from outside of Syria. The ranks of ISIL include a sizeable number of fighters from around the world. Lebanese members of Hezbollah are fighting on the side of Assad, as are Iranian and Afghan fighter.

Although the US has stated its opposition to the Assad government, it has hesitated to involve itself deeply in the conflict, even after the Assad government allegedly used chemical weapons in 2013, which US President Barack Obama had previously referred to as a “red line” that would prompt intervention.

In October 2015, the US scrapped its controversial programme to train Syrian rebels, after it was revealed that it had spent $500m but only trained 60 fighters.

An ISIL flag flies in the northern Syrian town of Tel Abyad as it is pictured from the Turkish border town of Akcakale, in Sanliurfa province, Turkey [Gokhan Sahin/Getty Images]

The situation today 

The Assad government currently controls the capital, Damascus, parts of southern Syria, portions of Aleppo and Deir Az Zor, much of the area near the Syrian-Lebanese border, and the northwestern coastal region. Rebel groups, ISIL, and Kurdish forces control the rest of the country.

Rebel groups continue to jockey against one another for power, and frequently fight each other. The Free Syrian Army has weakened as the war has progressed, while explicitly Islamist groups, such as the al-Nusra Front, which has pledged allegiance to al-Qaeda, and the Saudi-backed Islamic Front have gained in strength.

In 2013, ISIL  emerged in northern and eastern Syria after overrunning large portions of Iraq. The group quickly gained international notoriety for its brutal executions, its ultra-strict interpretation of Islamic law, and its energetic use of social media.

Meanwhile, Kurdish groups in northern Syria are seeking self-rule in areas under their control. This has alarmed Turkey’s government, which fears its large native Kurdish population may grow more restive and demand greater autonomy as a result.

In response to attacks within Turkey, the Turkish government has bombed Kurdish targets in Syria. Kurdish groups have also clashed with al-Nusra Front and ISIL.

Newly arrived Syrian Kurdish refugees walk with their belongings after crossing into Turkey from the Syrian border town of Kobane, also known as Ayn al-Arab [Stringer/Getty Images]

The Syrian war is creating profound effects far beyond the country’s borders. Lebanon, Turkey, and Jordan are hosting large and growing numbers of Syrian refugees, many of whom have attempted to journey onwards to Europe in search of better conditions. Fighting has occasionally spilled over from Syria into Lebanon, contributing to the country’s political polarisation. Several rounds of peace talks have failed to stop the fighting. Although a ceasefire announced in February 2016 has limited fighting in some parts of Syria, recent government air strikes in Aleppo have prompted uncertainty about the ceasefire’s future.

But with much of the country in ruins , millions of Syrians having fled abroad, and a population deeply traumatised by war, one thing is certain: Rebuilding Syria after the war ends will be a lengthy, extremely difficult process (taken from here).

Kekuatan Cinta; Menumbuhkan Bahagia/ Mendatangkan Maut

Ada cerita menarik di Yahoo!, pagi ini (taken from here):

1. Laila dan Majnun

Kisah kasih dua anak manusia ini dikenal sebagai cerita cinta klasik dari Timur Tengah. Dikutip dari Wikipedia, seorang pemuda bernama Qays Ibn al-Mulawwah disebut jatuh cinta dengan Laila. Ia mulai menuliskan puisi tentang perempuan itu dan menyebut namanya sesering mungkin.

Upaya Qays yang digambarkan tanpa malu untuk mendapatkan Laila membuat ia dijuluki Majnun atau orang gila oleh masyarakat. Suatu hari, Qays meminta ayah Laila menikahkan ia dan putrinya. Namun permintaannya ditolak. Sang ayah tak sudi menikahkan putrinya dengan seseorang yang dianggap memiliki gangguan mental. Tak lama, Laila pun dipersunting seorang pedagang kaya nan tampan dari suku Thaqif.

Peristiwa tersebut semakin membuat Majnun menjadi-jadi. Ia melarikan diri dari tempat tinggalnya dan mulai berkeliaran di gurun. Keluarganya bahkan menyerah atas nasib pria itu. Mereka memilih meninggalkan makanan untuknya di gurun. Sesekali ia masih terlihat tengah menulis atau membaca puisi.

Dalam beberapa versi, Laila disebut meninggal karena patah hati setelah lama tak melihat wajah Majnun. Sementara itu, sang pria dikabarkan menutup mata untuk selama-lamanya pada 688 SM. Ia meninggal di sisi makam sang pujaan hati di mana sebelum kepergiannya ia sempat mengukir tiga puisi di sebuah batu.

Ada banyak versi dari kisah ini. Namun yang pasti selama ini kisah Laila dan Majnun telah mengilhami puluhan puisi dan lagu. Salah satunya lagu milik Eric Clapton, Layla.

2. Anarkali dan Salim

Anarkali adalah seorang budak dan wanita penghibur dari Iran. Dalam sejumlah versi ia disebut lahir dengan nama Nadira Begum atau Sharf-un-Nissa. Kecantikannya yang memukau membuat ia dijuluki Anarkali atau ‘bunga delima mekar’.

Paras rupawan dan keahlian menari Anarkali membuat namanya terdengar sampai ke Mughal. Raja Akbar pun mendatangkannya ke istana dan menjadikan budak wanita itu sebagai penari. Ia tak hanya membuat para penghuni istana terpesona, namun juga berhasil memikat hati Akbar.

Salim dan Anarkali pun disebut merajut asmara. Namun perbedaan kasta membuat percintaan keduanya ditentang oleh sang raja. Salim menjawab penentangan sang raja dengan perang.

Pertempuran sengit terjadi. Namun pada akhirnya Salim harus mengakui kekalahannya. Akbar memerintahkan Salim untuk menyerahkan Anarkali atau ia akan mati. Salim ternyata lebih memilih maut, sementara Anarkali memutuskan sebaliknya. Ia tak rela sang kekasih kehilangan nyawa di tangan ayahnya sendiri. Anarkali pun memutuskan untuk mengorbankan diri. Perempuan itu meminta diberikan satu malam saja untuk bersama Salim. Ini sebagai permintaan terakhirnya.

Keesokan harinya, Akbar memerintahkan budak cantik itu dikubur hidup-hidup di balik tembok. Salim lantas memerintahkan agar di sekeliling tembok tersebut dibangun sebuah makam yang megah. Sampai saat ini makam Anarkali masih berdiri tegak di Lahore, Pakistan.

3. Cleopatra dan Mark Antony

Mark Anthony merupakan salah satu pemimpin militer terbaik di Roma. Sementara Cleopatra adalah seorang ratu Mesir.

Bukan cerita baru jika Cleopatra tak hanya memiliki kecantikan, namun juga kepintaran yang mampu memikat para pria. Sebelum menjalin hubungan dengan Anthony, ia lebih dulu menjadi ‘wanita simpanan’ Julius Caesar. Mereka memiliki seorang putra yang diberi nama Caesarion.

Setelah pembunuhan Caesar, Antony meminta Cleopatra hadir ke Kota Tarsus untuk membahas aliansi Roma dengan Mesir. Ketika bertemu Cleopatra, Anthony pun tersihir oleh kecantikannya. Ia memutuskan untuk menikahi Cleopatra meski di sisi lain ia sudah memiliki istri, Fulvia.

Pernikahan itu diwarnai dengan perselingkuhan Anthony. Namun di tengah berkecamuknya konflik dengan Octavianus, rival yang juga keponakan dari Caesar, Anthony memutuskan untuk kembali ke pangkuan Cleopatra.

Cleopatra dan Mark Antony adalah orang yang sama-sama setia kepada Caesar. Pernikahan mereka mempererat hubungan antara Roma dan Mesir, di mana Antony kembali ke tanah Cleopatra setelah menikahinya. Hal ini pun menimbulkan kekhawatiran bagi Octavianus. Octavianus amat marah mengetahui Anthony memberikan sebagian wilayah Timur Tengah yang meliputi Mesir, Siprus, Kreta dan Suriah, sebagai hadiah pernikahan kepada Cleopatra. Bersama putranya, Caesarion, Cleopatra kemudian menjadi penguasa wilayah tersebut.

Pada 31 SM, Octavianus menyatakan perang terhadap Anthony. Pertempuran pun berlangsung di Actium, Yunani. Antony dan Cleopatra bergabung dalam pertempuran, namun mereka terpaksa harus mengakui keunggulan Octavianus. Dalam perang itu, Octavianus sukses membuat pasukan mereka tercerai berai.

Antony kemudian kembali ke medan perang tak lama setelah itu, namun ia terjebak dengan berita menyesatkan tentang kematian Cleopatra. Mengira kekasihnya telah tewas, Antony lantas bunuh diri menggunakan pedangnya. Mendengar kematian Antony, Cleopatra begitu berduka dan memutuskan ikut mengakhiri hidupnya dengan membiarkan ular berbisa menggigitnya. Anak Cleopatra, Caesarion, kemudian diangkat sebagai Firaun oleh para pendukungnya. Tapi tak lama ia ditangkap dan dieksekusi atas perintah Octavianus.

4. Guinevere dan Lancelot

Kisah cinta Lancelot dan Guinevere mungkin asing bagi sebagian orang. Namun ini termasuk kisah cinta terlarang yang melegenda.

Pada saat kedua anak manusia tersebut jatuh cinta, Guinevere diketahui telah memiliki seorang suami, yaitu Raja Arthur. Disebut-sebut Lancelotlah yang pertama kali jatuh cinta pada Guinevere. Pada awalnya cinta Lancelot tidak berbalas. Demikian seperti dikutip dari laman Amolife.com.

Guinevere sadar bahwa ia memiliki seorang suami. Dan hal itu membuatnya tidak bisa membalas cinta Lancelot. Ia pun memutuskan menjaga jarak dari dari pria itu. Namun, Lancelot tak mampu memendam cintanya lebih lama lagi kepada Guinevere. Mereka tetap memutuskan bersatu dan menjadi sepasang kekasih meski harus menjalin hubungan secara diam-diam.

Kisah cinta mereka berdua itu berjalan cukup lama hingga suatu hari mereka ketahuan oleh dua keponakan laki-laki Raja Arthur. Lancelot bisa melarikan diri, namun tidak dengan Guinevere. Ia ditangkap dan dituduh telah melakukan perzinahan. Raja dan hukum di negara itu memutuskan bahwa Guinevere harus dibakar.

Mendengar kekasihnya akan dibakar hidup-hidup, Lancelot pun nekat. Ia dengan berani datang ke tempat hukuman dan menyelamatkan sang kekasih dari kobaran api.

5. Heloise dan Abelard

Kisah keduanya disebut-sebut merupakan hasil karangan seorang sastrawan Inggris, Alexander Pope. Namun kisah Heloise dan Abelard sebenarnya adalah cerita cinta terlarang yang terjadi pada pertengahan Abad ke-12 di Prancis.

Heloise, seorang gadis cerdas jatuh cinta kepada Peter Abelard, gurunya yang berusia 20 tahun lebih tua. Hubungan ini diketahui dan ditentang oleh paman Heloise, seorang pejabat setempat. Hal ini menyebabkan Abelard dikebiri sementara Heloise diasingkan di sebuah biara terpencil. Hingga akhir hayat keduanya tidak pernah bertemu. Namun surat-surat cinta mereka dianggap sebagai simbol cinta yang mendunia.

6. Beatrice dan Dante

Penyair kenamaan Italia, Durante degli Alighieri mungkin baru dua kali bertemu dengan Beatrice. Namun siapa sangka, pemuda itu mencintai Beatrice di sepanjang sisa hidupnya meski pada saat itu mereka sudah terikat pernikahan dengan pasangan masing-masing.

Pada Abad Pertengahan di Florence, perceraian tidak dimungkinkan. Setelah Beatrice mati muda, Dante pun menuliskan puisi yang ditujukan kepada perempuan yang amat ia cintai itu–kini menjadi karya-karya terkenalnya. Tak hanya itu, sosok Beatrice juga dimunculkan Dante dalam karya legendarisnya, The Divine Comedy.

7. Simpson Wallis dan Pangeran Edward

Sepucuk surat ditulis Edward VIII pada 10 Desember 1936. Kurang dari setahun dimahkotai sebagai Raja Inggris, ia memutuskan untuk turun takhta. Demi seorang perempuan.

“Saya, Edward VIII, Raja Inggris…dengan ini menyatakan keputusan saya yang tak bisa dibatalkan, untuk meninggalkan takhta untuk diri saya sendiri dan juga untuk anak keturunan saya,” tulis dia dalam surat tersebut, seperti Liputan6.com kutip dari Vancouver Sun. Ia menandatangani surat penyerahan takhtanya, Kamis pagi 10 Desember 1936, di depan saudara-saudaranya dan para pengacara.

Kekuasaannya berakhir di hari ke-325. Ia bahkan belum sempat dinobatkan secara resmi sebagai raja.

“Langkah dramatis itu (untuk turun takhta) menjadi klimaks sepekan penuh ketegangan — paling tegang yang pernah dialami Inggris sejak Perang Dunia I,” demikian dilaporkan Canadian Press kala itu. “Cinta sang raja pada Wallis Warfield Simpson, perempuan kelahiran Amerika Serikat yang dua kali bercerai dengan suami sebelumnya, adalah alasan mengapa ia turun takhta.

Di masa mudanya, Edward VIII dikenal sebagai playboy –pecinta banyak wanita — di masa pemerintahan ayahnya Raja George V. Pada tahun 1919 ia bahkan pernah mengirim surat cinta untuk istri seorang anggota parlemen Inggris.

Ia bertemu dengan Wallis Simpson pada Januari 1931, awalnya sama sekali tak tetarik, namun setelah beberapa pertemuan, benih-benih cinta tumbuh di hati sang pangeran. Perempuan asal AS itu bahkan sempat jadi kekasih gelapnya — meski masih berstatus sebagai istri orang.

Masalah mencuat pada 20 Januari 1936, saat Raja George V mangkat, dan sebagai putra mahkota bernama lahir Edward Albert Christian George Andrew Patrick David itu dinobatkan sebagai penguasa dari Wangsa Windsor.

Pada 1 Desember 1936, Edward VIII memberitahukan pada PM Inggris kala itu Stanley Baldwin bahwa ia berniat menikahi kekasihnya — yang secara resmi telah bercerai pada 27 Oktober. Namun Baldwin menentang keras niatnya itu.

“Kabinet Siap Mundur, Itu yang Dikatakan Baldwin pada Raja,” demikian headline Vancouver Sun kala itu.

Geger pun terjadi. Kepala Gereja Inggris tak mengizinkan orang yang bercerai menikah lagi saat pasangannya masih hidup. Uskup Bradford pun mengeluarkan pernyataan menetang.

Sang raja tak menyerah, ia mengajukan “perkawinan morganatic” — yang mengizinkan ia menikahi Simpson, namun istrinya itu tak bakal jadi ratu. Perdana Menteri menolaknya. Hingga akhirnya Edward VIII mundur — sebuah momentum yang dianggap kemenangan konstitusi.

Setelah lengser, Edward meninggalkan Inggris Raya pada 11 Desember 1936, bergabung dengan Simpson di sebuah villa di Cote d’Azur, Prancis. Mereka akhirnya menikah pada 3 Juni 1937. Menjadi Duke dan Duchess of Windsor, terus bersama sampai Edward meninggal dunia pada 1972. Keduanya dimakamkan berdampingan di pemakaman kerajaan di Frogmore, Windsor.

Disaat yang bersamaan dengan membaca kisah luar biasa ini, aku sedang dibikin pusing oleh cinta. Oh no, not about me.

Seorang kawan berkenalan dengan pria, dari media sosial. Nope, bukan romance scammer. Singkat kata, pria ini rela terbang ke Indonesia; tempat domisili kawanku saat ini dan bertemu selama 4 hari. Kemudian si pria kembali ke negaranya untuk kembali bekerja, juga memikirkan kelanjutan hubungan mereka; menikah!

4 hari dan memikirkan – membicarakan perkawinan. Err? Terlalu beresiko, menurut otakku. Mengingat yang mengenal bertahun-tahun pun masih kaget-kaget ketika masuk ke pernikahan (yang ternyata tidak ada yang langsung seindah dongeng 1001 malam/ Disney’s). Tapi disisi lain, bisa saja kan ada cinta yang demikian dasyat yang bisa membawa sepasang manusia menjalani sisa hidup berdua dengan damai, hanya dengan beberapa kali pertemuan (?).

Entah, lah. Yang laki, misterius dan menurutku datang dengan sepaket masalah hidup. Yang perempuan, tanpa dia sadari, sudah mulai terkena penyakit khas wanita jatuh cinta. Maka cukuplah aku memberi tahu 1-2x saja kalau aku ini khawatir, namun selanjutnya.. terserah mereka.

Semoga kekhawatiranku ini salah. Dan semua mahluk berbahagia <3.

Ditelepon orang Menangis? Tutup saja!

Siang tadi, saat suhu kota Surabaya cukup tinggi, kita pun sedang terjebak macet padahal sedang diburu waktu, eh.. ada telepon masuk ke HP Mami, dari nomor tidak dikenal. Untung, Mami menerima telepon itu dengan speaker phone sehingga kita-kita bisa ikut mendengar.

Singkat kata, diseberang sana ada seorang wanita menangis (tanpa tersedu-sedu atau bunyi ingus) memberitahu bahwa ………. (tidak jelas) tertangkap polisi karena kedapatan menyimpan sabu-sabu titipan kawannya.

Entah bagaimana pula, Mami bisa berpikiran bahwa yang menelepon adalah mantan pembantu yang pernah kerja selama belasan tahun di kita.

Tangisan sang wanita dihentikan oleh seorang pria yang mengaku adalah anggota polisi bernama Haryanto. Conversation berlanjut dengan pertanyaan-pertanyaan aneh dari si Haryanto:

  • Polisi (P): Ibu orang tua “mbak ini”? <— aneh, biasanya sebelum telepon kan ditanyai hubungan ‘tersangka’ dengan orang yang hendak ditelepon kan?
  • Mami (M): Bukan
  • P: Lalu, Ibu siapanya?
  • M: Saya mantan majikannya
  • P: Oh, pembantu Ibu namanya siapa? <— aneh, teleponnya kan harusnya bersifat mencocokkan data, bukan mendata *pada moment ini saya dan seorang kawan sudah memberi kode ke Mami agar telepon dihentikan saja*
  • M: Tini
  • P: Ibu namanya siapa?
  • M: Brenda
  • P: Nama lengkap Ibu? <— aneh, buat apa tanya nama lengkap Mami, coba? *kita makin memaksa Mami untuk tutup telepon*
  • M: Brenda saja. Tadi, Tini tertangkap dimana?
  • P: Dirumahnya *kita makin memaksa Mami untuk tutup telepon & telepon keluarga Tini di desa yang semuanya masih kontak baik dengan kita*

Mami galau, tapi anaknya memaksa dia tutup telepon. Akhirnya, ketika signal telepon memburuk, sekalian lah Mami tutup telepon. Segera setelahnya, sang Polisi telepon lagi. Lagi. Dan lagi. Bahkan kirim SMS.

Sedangkan dengan telepon lain, keluarga Tini kita telepon satu-satu. Mami minta mereka check kebenaran berita bahwa Tini ditangkap karena kedapatan membawa shabu. Tak lama setelahnya, berita berdatangan dari desa bahwa Tini bengong dirumah bersama suaminya, tidak tahu apa-apa, tidak juga lagi berurusan dengan polisi.

Jelas lah, bahwa yang menangis menyayat hati tadi adalah Tini palsu dan Polisi bersuara tegas itu adalah Polisi gadungan bin abal-abal.

Selain dari conversation ‘bodoh’ diatas, ada lagi poin janggal (jika yang tertangkap itu adalah ex pembantu kita). Walau kita masih kontak baik, tapi ipar Tini kini menjadi anggota DPRD di kota kelahiran Tini. Jadi, kalau Tini ada apa-apa harusnya kan dia telepon iparnya, bukan Mami, secara kalo urusan dengan Polisi tentu saja lebih ‘sakti’ sang ipar, ya kan?

Pengalamanku, kalau berhubungan dengan scam sejenis ini (yang pakai suara), pelaku hobby melancarkan aksinya di jam-jam kita lengah/ mengantuk (romance scammer yang kontak denganku di 2015 juga memakai cara ini; read here). Misalnya: saat baru bangun tidur, saat saat akan tidur, mendekati jam2 makan. Tujuannya tentu saja, untuk membuat kita menurut begitu saja pada si pelaku, karena secara psikologis kita sedang ‘lemah’.

Sekali lagi, ini tidak pakai ilmu gendam, ini hanya ilmu “jam psikologis”. Dan siapapun HARUS WASPADA.

Believe it or not, Mamiku saja sempat menolak menaruh telepon (karena peduli dengan mantan pembantu kita). Dan seorang kawan memberitahu, kenalannya yang lulus S2 dari Amerika pernah tertipu dengan cara ini.

Mantan atasan juga pernah cerita, dia ditelepon jam 10.30pm dan orang diseberang sana bilang kalau anak perempuannya baru tertangkap razia dan (singkat kata) minta diberi uang dengan nominal tertentu saat itu juga. Demi sayangnya pada anak, maka dia pun keluar rumah, untuk ke ATM. Saat di ATM dia tersadar, anak perempuannya tidak mungkin diluar rumah hingga larut malam. Dia pun telepon ke istri, menanyakan keberadaan anak dan dijawab, si anak sedang tidur dikamarnya. Maka lolos lah, dia.

Ga mengira, masih saja ada yang memakai cara seperti ini. Dan ternyata, kini temanya ke sabu-sabu. Kalau dulu-dulu alasannya: anak (kita) kecelakaan, saudara (kita) sekarat dll. Haish!

 

Gaya Arsitektur Candi di Jawa Abad ke-8 — 15 M

Oleh: Agus Aris Munandar


I

Kajian terhadap bangunan candi telah banyak dilakukan oleh para ahli ilmu purbakala (arkeologi) baik para ahli Belanda ataupun ahli Indonesia sendiri. Istilah “candi” umumnya hanya dikenal di Pulau Jawa saja, walaupun demikian di beberapa daerah di luar Jawa yang pernah mendapat pengaruh kebudayaan Jawa istilah “candi” tetap dikenal sebagai nama bangunan kuno dari zaman Hindu-Buddha Nusantara.

Candi sebenarnya adalah salah satu saja dari bangunan keagaamaan yang pernah digunakan dahulu ketika agama Hindu-Buddha merebak dipeluk masyarakat Jawa Kuno. Berdasarkan bukti-buktinya dapat diketahui bahwa perkembangan kebudayaan Hindu-Buddha di Jawa berlangsung sekitar abad ke-8—15 M. Dalam pembabakan sejarah kebudayaan Jawa, masa itu dinamakan dengan zaman Klasik. Dinamakan dengan zaman Klasik karena adanya 3 parameter, yaitu:

  1. Zaman Hindu-Buddha merupakan periode dikembangkannya tonggak-tonggak kebudayaan penting yang dalam zaman sebelumnya tidak dikenal, seperti aksara, sistem kerajaan, arsitektur monumental, kesenian, penataan wilayah, dan lainnya lagi.
  2. Hasil-hasil pencapaian kebudayaan masa itu terus dikenal hingga sekarang dan tetap dapat dijadikan acuan bagi perkembangan masyarakat masa sekarang. Misalnya penggunaan bahasa Jawa Kuno yang mengacu kepada bahasa Sansekerta, kisah-kisah Mahābharata dan Ramayana, konsep pahlawan, konsep penguasa yang baik, perempuan ideal, masyarakat sejahtera, dan lain-lain.

Melalui penelisikan terhadap bukti-bukti artefaktualnya zaman Hindu-Buddha di Jawa pun terbagi dalam dua periode, yaitu (a) zaman Klasik Tua (abad ke-8—10 M), dan (b) zaman Klasik Muda (abad ke-11—15 M). Zaman Klasik Tua berkembang di wilayah Jawa bagian tengah, bersamaan dengan berkembangnya pusat kerajaan di wilayah tersebut. Kerajaan yang dikenal dalam masa itu adalah Mataram Kuno yang ibu kotanya berpindah-pindah semula di Mdang i Poh Pitu, kemudian pindah ke Mdang i Watu Galuh, dan Mdang i Mamratipura. Adapun zaman Klasik Muda. Kerajaan Mataram Kuno kerapkali dihubungkan dengan dinasti Śailendra yang beragama Buddha Mahayana, namun ada juga kalangan sarjana yang menyatakan bahwa kerajaan itu dikuasai oleh anak keturunan raja Sanjaya (“Sanjayavamsa”) yang menganut agama Hindu. Teori terbaru menyatakan bahwa Mataram Kuno dikuasai oleh anggota Śailendravamsa, di antara anggota-anggotanya ada yang beragama Buddha Mahayana dan ada pula yang memeluk Hindu-śaiva.

Dalam sekitar abad ke-10 M, Wawa raja Mataram Kuno memindahkan kota kedudukan raja ke Jawa bagian timur, alasan pemindahan tersebut masih menjadi perhatian para ahli dan belum ada kata putus yang dapat diterima bersama. Hipotesa telah banyak dikemukakan oleh para ahli, ada yang menyatakan bahwa pemindahan tersebut karena adanya wabah penyakit, rakyat yang melarikan diri ke Jawa bagian timur karena raja-raja masa itu memerintah dengan kejam, perpindahan itu dipicu karena adanya serangan dari Śriwijaya, disebabkan bencana alam letusan Gunung Merapi, serta suatu penjelasan terbaru menyatakan bahwa pemindahan ibu kota itu sebenarnya mencari Mahameru yang lebih ideal di Jawa Timur (Munandar 2004).

Maka selanjutnya berkembanglah kerajaan-kerajaan di Jawa Timur, dimulai dari masa pemerintahan Pu Sindok bersama dinasti Iśananya. Dalam masa pemerintahan Airlangga (1019—1042 M) kerajaan Mataram yang beribukota di Wwatan Mas (abad ke-11 M) itu terpaksa dibagi menjadi dua: Janggala (Kahuripan) dan Panjalu (Kadiri) yang beribu kota di Daha. Kerajaan Kadiri yang kemudian lebih berperanan dalam sejarah sepanjang abad ke-12 M. Menyusul kerajaan Singhasari yang berkembang antara tahun 1222—1292 M yang dibangun oleh Ken Angrok. Akibat adanya serangan dari Jayakatwang penguasa Glang-glang terhadap raja Singhasari terakhir, yaitu Kŗtanagara (1268—1292), kerajaan itu runtuh, untuk kemudian lewat perjuangan panjang Krtarajaśa Jayawarddhana (Raden Wijaya) berdirilah Wilwatikta. Dalam masa pemerintahan Rajaśanagara (1350—1389 M) Majapahit menjelma menjadi penguasa Nusantara, Majapahit merupakan kerajaan Hindu-Buddha terakhir di Jawa, berkembang selama lebih kurang 200 tahun lamanya (1293—1521 M).

Kerajaan Hindu-Buddha yang berkembang silih berganti di Jawa melampaui abad demi abad ada yang banyak meninggalkan “jejaknya”, namun ada pula yang sedikit saja mempunyai peninggalan arkeologis. Kerajaan Mataram Kuno, Singhasari dan Majapahit termasuk yang banyak mewariskan berbagai monumen keagamaan Hindu dan Buddha. Demikianlah monumen yang menjadi perhatian dalam kajian ini adalah bangunan candi yang merupakan salah satu monumen keagamaan penting. Bersama dengan candi terdapat monumen lain yang dipandang sakral adalah petirthaan (patirthān), goa pertapaan, dan altar persajian hanya saja jumlahnya terbatas. Oleh karena itu candi tetap menjadi bahan kajian menarik karena jumlahnya banyak dan memiliki arsitektur unikum, candi tidak akan pernah selesai dibahas dari berbagai aspek, salah satu aspeknya adalah gaya arsitekturnya.


II

R.Soekmono (1997) seorang ahli percandian Indonesia pernah mengadakan tinjauan ringkas terhadap bangunan candi di Jawa, dinyatakan bahwa bangunan candi di Jawa mempunyai dua langgam, yaitu Langgam Jawa Tengah dan Langgam Jawa Timur. Menurutnya Langgam Jawa Tengah antara lain mempunyai ciri penting sebagai berikut: (a) bentuk bangunan tambun, (b) atapnya berundak-undak, (c) gawang pintu dan relung berhiaskan Kala-Makara, (d) reliefnya timbul agak tinggi dan lukisannya naturalis, dan (e) letak candi di tengah halaman. Adapun ciri candi Langgam Jawa Timur yang penting adalah: (a) bentuk bangunannya ramping, (b) atapnya merupakan perpaduan tingkatan, (c) Makara tidak ada, dan pintu serta relung hanya ambang atasnya saja yang diberi kepala Kala, (d) reliefnya timbul sedikit saja dan lukisannya simbolis menyerupai wayang kulit, dan (e) letak candi bagian belakang halaman (Soekmono 1997: 86).

Demikian ciri-ciri penting yang dikemukakan oleh Soekmono selain ciri-ciri lainnya yang sangat relatif sifatnya karena berkenaan dengan arah hadap bangunan dan bahan yang digunakan. Sebagai suatu kajian awal pendapat Soekmono tersebut memang penting untuk dijadikan dasar pijakan selanjutnya manakala hendak menelaah tentang langgam arsitektur bangunan candi di Jawa. Sebenarnya setiap butir ciri yang telah dikemukakan oleh Soekmono dapat dijelaskan lebih lanjut sehingga menjadi lebih tajam pengertiannya. Misalnya bentuk bangunan tambun yang dimiliki oleh candi Langgam Jawa Tengah, kesan itu terjadi akibat adanya bagian lantai kaki candi tempat orang berjalan berkeliling memiliki ruang yang lebar, dengan istilah lain mempunyai pradaksinapatha yang lebar. Bentuk bangunan tambun juga terjadi akibat atap candi Langgam Jawa Tengah tidak tinggi, atapnya memang bertingkat-tingkat, dan hanya berjumlah 3 tingkat termasuk kemuncaknya. Dibandingkan dengan candi Langgam Jawa Timur jumlah tingkatan atapnya lebih dari tiga dan berangsur-angsur tiap tingkatan tersebut mengecil hingga puncaknya, begitupun pradaksinapathanya sempit hanya muat untuk satu orang saja, oleh karena itu kesan bangunannya berbentuk ramping.

Penjelasan lebih rinci juga dapat terjadi dalam hal kepala Kala, selain berpasangan dengan makara (hewan mitos gabungan antara gajah dan ikan, [gajamina]), umumnya Kala pada candi-candi Jawa tengah digambarkan tanpa rahang bawah (tidak berdagu), seringkali juga tidak mempunyai sepasang cakar, dan mengesankan wajah seekor singa simbol wajah kemenangan (kirttimukha). Sedangkan Kala di candi-candi dengan Langgam Jawa Timur digambarkan mempunyai rahang bawah (berdagu), jelas mempunyai sepasang cakar di kanan-kiri kepalanya dalam artian mengancam kejahatan yang akan mengganggu kesucian candi, pada beberapa candi zaman Singhasari dan Majapahit kepala Kala dilengkapi sepasang tanduk dan sepasang taring yang mencuat dari pipi kanan-kirinya. Kala tidak lagi dipasangkan dengan bingkai Makara, melainkan dengan ular atau Naga yang diletakkan di samping kanan-kiri Kala. Dalam penggambaran relief Kala disepadankan dengan sepasang kepala kijang (mŗga) yang menghadap ke arah luar. Pada akhirnya kesan yang didapatkan apabila memperhatikan Kala candi-candi Jawa Timur adalah sebagai kepala raksasa, bukannya wajah singa.

Dalam hal pemahatan relief yang menghias dinding candi, jika disimak dengan seksama terdapat perbedaan yang lebih terinci lagi. Memang secara prinsip di candi-candi Langgam Jawa Tengah pemahatan reliefnya tinggi dan bersifat naturalis, namun terdapat sejumlah ciri lainnya lagi yang bersifat spesifik. Dengan demikian jika diuraikan secara lengkap ciri relief di candi-candi Jawa Tengah adalah:

  1. Pemahatan relief tinggi
  2. Penggambaran bersifat naturalis
  3. Ketebalan pahatan ½ sampai ¾ dari media (balok batu)
  4. Terdapat bidang yang dibiarkan kosong pada panil
  5. Figur manusia dan hewan wajahnya diarahkan kepada pengamat (enface)
  6. Cerita acuan berasal dari kesusastraan India
  7. Tema kisah umumnya wiracarita (epos)
  8. Cerita dipahatkan lengkap dari adegan awal hingga akhir.

Mengenai ciri-ciri penggambaran relief pada candi-candi Langgam Jawa Timur adalah:

  1. Pemahatan relief rendah
  2. Penggambaran figur-figur simbolis, tokoh manusia seperti wayang kulit
  3. Dipahatkan hanya pada ¼ ketebalan media (batu/bata)
  4. Seluruh panil diisi penuh dengan berbagai hiasan, seperti terdapat “ketakutan pada bidang yang kosong”.
  5. Figur manusia dan hewan wajahnya diarahkan menghadap ke samping
  6. Cerita acuan dari kepustakaan Jawa Kuno, di samping beberapa saduran dari karya sastra India.
  7. Tema cerita umumnya romantis (perihal percintaan)
  8. Relief cerita bersifat fragmentaris, tidak lengkap hanya episode tertentu saja dari suatu cerita lengkap (Munandar 2003: 28—29).

Dalam hal letak candi induk di suatu kompleks percandian, Soekmono menyatakan bahwa bangunan candi induk pada Langgam Jawa Tengah memang berada di pusat halaman, sedangkan bangunan candi induk di kompleks percandian dengan Langgam Jawa Timur terletak di halaman paling belakang. Soekmono menjelaskan:

“Maka mengenai bangunan candi harus diketengahkan bahwa candi Roro Jonggrang menghendaki ditariknya seluruh perhatian ke pusat menuju langit (lokasi kayangan tempat bersemayam para dewa), sedangkan Candi Panataran menghendaki penggelaran pandangan secara mendatar (yang sebenarnya merupakan proyeksi datar saja dari susunan vertikal) dengan tujuan pengarahan perhatian ke lokasi nenek moyang di gunung-gunung” (Soekmono 1986: 237).

Sebenarnya secara tidak langsung Soekmono telah menjelaskan adanya fungsi yang berbeda antara bangunan candi-candi dalam masa Klasik Tua yang didirikan di Jawa bagian tengah dan candi-candi masa Klasik Muda di Jawa Timur. Bahwa bangunan candi-candi masa Klasik Tua didirikan untuk keperluan ritus pemujaan kepada dewata, sedangkan candi-candi di masa Klasik Muda terutama era Singhasari dan Majapahit bermaksud untuk didedikasikan bagi pemujaan nenek moyang telah diperdewa. Maka bangunan candi jelas merupakan monumen keagamaan yang bersifat sakral karena diperuntuk sebagai media untuk “berkomunikasi” dengan hal Adikodrati (superhuman beings).

Sebagai bangunan sakral candi tidaklah mengikuti kaidah keagamaan secara ketat, artinya tidak setiap bangunan candi harus didirikan secara seragam. Bangunan-bangunan tersebut mempunyai wujud arsitektur yang berbeda-beda, walaupun mempunyai latar belakang keagamaan yang sama. Wujud arsitektur yang berbeda itulah yang menarik untuk diperbincangkan lebih lanjut, karena perbedaan tersebut sebenarnya menunjukkan adanya kekhasan. Oleh karena itu lazim disebut-sebut bahwa bangunan candi memiliki keistimewaan yang tidak didapatkan pada bangunan candi lainnya. Misalnya keistimewaan Candi Bima di Dieng adalah atapnya, atap dihias dengan bentuk-bentuk seperti buah keben (amalaka) yang tertekan dan oeleh karena itu wujudnya pipih. Candi lain mempunyai keistimewaan lain lagi dan seterusnya setiap candi mempunyai keistimewaan sendiri-sendiri.


III

Berdasarkan bentuk arsitekturnya, sebenarnya candi-candi di wilayah Jawa bagian tengah dapat dibagi ke dalam dua macam gaya yang berlatarbelakangkan nafas keagamaannya, yaitu (1) candi-candi Hindu-śaiva dan (2) candi-candi Bauddha. Walaupun secara prinsip candi-candi itu mempunyai kesamaan, namun terdapat banyak perbedaan pula yang menarik untuk dibicarakan lebih lanjut.

Persamaan antara bangunan candi-candi Hindu-śaiva dan Bauddha di wilayah Jawa Tengah yang didirikan antara abad ke-8—10 M antara lain adalah:

  1. umumnya mempunyai pondasi yang berbentuk sumuran
  2. secara vertikal terdiri dari 3 bagian, yaitu, kaki, tubuh, dan atap bangunan
  3. mempunyai ruang utama di tengah bangunan
  4. dilengkapi dengan sejumlah relung yang kadang-kadang diperbesar menjadi ruang
  5. pipi tangga berbentuk ikal lemah
  6. terdapat gabungan bingkai padma, setengah lingkaran, dan rata
  7. ornamen yang selalu dikenal adalah hiasan Kala dan Makara.

Beberapa persamaan itu dapat ditemukan baik di candi-candi Hindu ataupun Buddha, seakan-akan telah menjadi ciri arsitektur bagi bangunan candi apapun di masa itu. Sebagai contoh pada butir b, baik pada candi Hindu ataupun Buddha pembagian vertikal tersebut selalu dapat dijumpai, yaitu (1) adanya bagian pondasi dan kaki candi dalam ajaran Hindu merupakan simbol dari alam Bhurloka, pada candi Buddha bagian ini dipandang sebagai pencerminan lapisan kehidupan Kamadhatu. (2) Bagian tubuh candi tempat bersemayamnya arca-arca dewa baik di bilik tengah (utama) atau relung-relung (parsvadewata) dalam ajaran Hindu merupakan simbol dari dunia Bhuvarloka, sedangkan dalam ajaran Buddha dapat dipandang sebagai pencerminan dari lapisan kehidupan Rupadhatu, dan (3) atap candi merupakan simbol Svarloka dalam Hinduisme, yaitu alam kehidupan para dewa. Adapun dalam ajaran Buddhisme atap adalah simbol Arupadhatu, suatu suasana tanpa wujud apapun, benar-benar hampa (śunyata).

Jadi berdasarkan pembagian arsitektur secara vertikal baik di candi Hindu ataupun Buddha sebenarnya melambangkan lapisan 3 dunia, yaitu dunia keburukan, dunia yang agak baik, dan dunia kebajikan sepenuhnya. Hal ini dinyatakan secara tegas dalam di bangunan candi, terutama dalam hal penerapan ornamennya, sebab ornamen-ornamen itu ada yang khas menggambarkan suatu dunia tertentu. Misalnya penggambaran figur-figur makhluk kahyangan yang melayang di awan, binatang-binatang mitos, pohon Kalpataru, relief cerita yang mencerminkan lapisan alam tertentu, dan sebagainya.

Sebelum membicarakan cirri penting candi-candi Hindu, berikut didaftarkan dulu candi-candi Hindu penting di wilayah Jawa bagian tengah. Dengan adanya daftar tersebut dapat diketahui adanya sejumlah candi Hindu yang bangunannya masih berdiri, walaupun ada yang tidak lengkap lagi. Candi-candi itu adalah adalah:

1. Kelompok Candi Dieng + abad ke-8 Banjarnegara
2. Kelompok Candi Gedong Songo + abad ke-8 Ambarawa
3. Candi Gunung Wukir tahun 732 M Magelang
4. Candi Pringapus + abad ke-9 Temanggung
5. Kelompok Candi Sengi + abad ke-9 Magelang
6. Candi Selagriya + abad ke-9 Magelang
7. Candi Sambisari + abad ke-9 Sleman
8. Candi Kedulan + abad ke-9 Sleman
9. Candi Morangan + abad ke-9 Sleman
10. Candi Barong + abad ke-9 Sleman
11. Candi Ijo + abad ke-9 Sleman
12. Candi Merak + abad ke-10 Klaten
13. Candi Lawang + abad ke-10 Boyolali
14. Candi Sari + abad ke-10 Boyolali
15. Percandian Prambanan tahun 856 M Sleman

Sebenarnya terdapat juga candi-candi Hindu yang tinggal runtuhannya saja, karena itu tidak dapat diperkirakan kembali wujud lengkapnya semula. Misalnya Candi Gondosuli di Temanggung, Candi Ngempon di Ambarawa, dan Candi Retno di Magelang. Tentunya di masa mendatang diperkirakan masih akan ditemukan candi-candi Hindu lainnya di wilayah Jawa Tengah, terutama di sekitar gunung atau pegunungan, mengingat terdapat konsep kuat bahwa di daerah pegunungan itulah para dewa bersemayam, jadi para pembangun candi diperkirakan akan banyak mendirikan candi di daerah dataran tinggi dan gunung-gemunung.

Berdasarkan pengamatan terhadap sejumlah candi Hindu di wilayah Jawa Tengah dapat diketahui adanya sejumlah ciri khas yang dimiliki oleh bangunan-bangunan candi Hindu, yaitu:

  1. Di bagian tengah pondasi terdapat sumuran (perigi) tempat untuk menyimpan pendaman
  2. Lantai pradaksinapatha tidak terlalu lebar di bagian tepinya tidak ada pagar langkan (vedika).
  3. Terdapat 5 relung di dinding luarnya, 1 relung di setiap sisi dinding dan 2 relung kecil di kanan-kiri pintu (berisikan arca Durga Mahisasuramardini, Ganesa, Rsi Agastya, Mahakala, dan Nandiśvara)
  4. Jika berupa kompleks bangunan, maka terdiri dari 1 candi induk berhadapan dengan 3 Candi Perwara. Candi perwara tengah berisikan arca Nandi.
  5. Di bagian tengah bilik utama terdapat Lingga-Yoni, Yoni menutup mulut perigi yang terdapat di lantai bilik dan menembus pondasi.
  6. Mercu-mercu atap berupa bentuk candi kecil, kemuncaknya berbentuk motif ratna.

Demikian beberapa ciri penting yang terdapat pada bangunan gaya arsitektur candi Hindu-śaiva yang terdapat di Jawa bagian tengah. Ciri-ciri tersebut sebagian besar dapat ditemukan pada hampir semua bangunan candi Hindu-śaiva, namun ada pula yang hanya didapatkan pada 2 bangunan saja, selain dua bangunan tersebut tidak dapat dijumpai ciri yang dimaksudkan. Misalnya di lingkungan percandian Dieng dan Gedong Songo, setiap candi tidak dilengkapi dengan 3 Candi Perwara di hadapannya, melainkan terdapat satu bangunan saja yang denahnya empat persegi panjang, kasus demikian etrjadi pada Candi Arjuno yang berhadapan dengan Candi Semar. Di kompleks Gedong Songo terdapat Candi Gedong Songo II yang berhadapan dengan struktur kaki candi berdenah empat persegi panjang, dahulu mungkin merupakan candi perwaranya. Candi Gedong Songo I, justru tidak terdapat relung di sisi luarnya, dan terlihat adanya sisa pagar langkan di bagian tepian pradaksinapathanya, jadi mirip dengan bentuk arsitektur candi Buddha. Hanya saja karena candi-candi lainnya di kelompok percandian Gedong Songo tersebut bernafaskan agama Hindu-śaiva, maka candi Gedong Songo I pun digolongkan sebagai candi Hindu-śaiva pula.

Dalam pada itu terdapat pula candi-candi Buddha penting di wilayah Jawa bagian tengah, candi-candi itu ada yang dipandang menarik dari sudut arsitekturnya selain stupa Borobudur yang tidak ada duanya lagi di dunia. Candi Borobudur sebenarnya merupakan gabungan antara bentuk punden berundak yang dihiasi dengan stupa-stupa, stupa induk berada di puncak pundek seakan-akan menjelma menjadi mahkota bagi punden berundak khas bangunan suci masa prasejarah Indonesia (Wirjosuparto 1964: 53—54). Candi-candi Buddha ada yang mempunyai denah empat persegi panjang dalam ukuran besar (Candi Sari, Plaosan Lor, dan Banyunibo), sedangkan candi Hindu hanya berukuran kecil saja (Candi Semar dan Gedong Songo IIIc). Terdapat pula candi-candi Buddha yang dilengkapi dengan banyak Perwara, misalnya Candi Lumbung, Sewu, Plaosan Lor, dan Kidal, sedangkan candi Hindu hanya Prambanan saja yang dilengkapi banyak Perwara. Gambaran umum percandian Buddha di Jawa bagian tengah antara lain:

1. Percandian Ngawen + abad ke-9 Magelang
2. Candi Kalasan + abad ke-8 Sleman
3. Candi Sari (candi Bendah) + abad ke-8 Sleman
4. Stupa Borobudur + abad ke-9 Magelang
5. Candi Pawon + abad ke-9 Magelang
6. Candi Mendut + abad ke-9 Magelang
7. Percandian Lumbung + abad ke-9 Sleman
8. Candi Bubrah sekitar tahun 782 M Sleman
9. Percandian Sewu (Manjusrigrha) tahun 792 M Sleman
10. Percandian Plaosan Lor + abad ke-10 Klaten
11. Percandian Plaosan Kidul + abad ke-10 Klaten
12. Candi Sajiwan + abad ke-9 Klaten
13. Percandian Banyunibo + abad ke-9 Sleman
14. Stupa Dawangsari + abad ke-10 Sleman

Setelah membicarakan beberapa candi Buddha penting di wilayah Jawa bagian tengah, kronologi relatif, dan lokasinya sekarang ini, selanjutnya diperhatikan beberapa cirri penting dari candi-candi Buddha. Dinamakan penting karena cirri-ciri itulah yang secara umum hadir pada candi-candi Buddha, yaitu:

Ciri-ciri penting candi Buddha

  1. Bangunan candi induk dikelilingi oleh candi perwara di sekitarnya
  2. Lantai pradaksinapatha relatif lebar dan di bagian tepinya mempunyai pagar langkan (vedika)
  3. Pada bagian tubuh candi terdapat lubang-lubang yang tembus seakan-akan berfungsi sebagai ventilasi, selain terdapat relung-relung di dinding luarnya
  4. Mempunyai komponen bangunan berbentuk stupa, terutama di bagian atap
  5. Dilengkapi dengan arca-arca yang bersifat bauddha
  6. Di bilik candinya, menempel di dinding belakang terdapat “pentas persajian” , untuk meletakkan arca.
  7. Tidak mempunyai perigi sebagaimana yang dijumpai pada candi Hindu
  8. Pada beberapa candi besar halaman percandian diperkeras dengan hamparan balok batu, hal itu dapat ditafsirkan bahwa di masa silam pernah terjadi ritual yang banyak menyita aktivitas di halaman tersebut.

Demikianlah apabila diperhatikan secara seksama terdapat perbedaan antara candi-candi Hindu-śaiva dan Buddha Mahayana di masa Klasik Tua di Jawa bagian tengah. Perbedaan itulah yang dapat disebut langgam atau gaya, jadi di Jawa bagian tengah antara abad ke-8—10 candi-candi dibangun dengan dua langgam, yaitu langgam candi Hindu atau langgam candi Buddha. Pendapat R.Soekmono dalam hal ini dapat dikembangkan lebih lanjut, bahwa langgam candi Jawa tengah itu ternyata dapat dibagi menjadi 2 lagi. Sebenarnya kedua langgam itu telah mengalami gejala perpaduan di kompleks Prambanan, sebab ciri-ciri candi Hindu dan Buddha dapat ditemukan secara bersama-sama di gugusan candi Prambanan. Sejalan dengan pendapat J.G.de Casparis akhirnya terjadi perkawinan antara anggota “keluarga Sanjaya” yang Hindu dan anggota Śailendravamsa yang beragama Buddha. Perkawinan dua keluarga tersebut kemudian diwujudkan dengan mendirikan bangunan suci yang bercorak dua agama, yaitu percandian Prambanan atau Śivagrha dalam tahun 856 M (Sumadio 1984).


IV

Setelah kerajaan berkembang di wilayah Jawa bagian timur, maka bermacam aktivitas keagamaan pun beralih ke wilayah tersebut. Bangunan suci pun kemudian dibangun oleh masyarakat masa itu di lokasi-lokasi yang dipandang sakral melanjutkan tradisi Klasik Tua, seperti di pertemuan dua aliran sungai, daerah dataran tinggi dan pegunungan, dan dekat sumber-sumber air (mata air). Hal yang menarik di daerah malang sampai sekarang masih terdapat bangunan candi dengan Langgam candi Hindu Klasik Tua –sebagaimana yang terdapat pada candi Hindu-saiva di Jawa Tengah, yaitu Candi badut. Candi ini dihubungkan dengan Prasasti Dinoyo yang bertarikh 760 M. Dalam prasasti itu diuraikan adanya Kerajaan Kanjuruhan, Raja yang mengeluarkan prasasti itu adalah Gajayana yang beragama Hindu-saiva. Sehubungan dengan sebab tertentu yang belum dapat dijerlaskan, Kanjuruhan runtuh mungkin masih dalam abad ke-8 juga, kemudian uraian sejarahnya tidak dapat diketahui lagi.

Tinggalan arsitektur tertua setelah Mataram ibu kota berlokasi di Jawa bagian timur antara abad ke-10—11 M sebenarnya cukup langka, dua di antaranya yang penting adalah petirthān kuno, yaitu Jalatunda (abad ke-10 M) yang terletak di lereng barat Gunung Penanggungan dan Belahan terletak di lereng timurnya (abad ke-11 M). Kedua petirthan tersebut sampai sekarang masih mengalirkan air walaupun sudah tidak deras lagi. Menilik gaya arsitektur, relief dan seni arcanya patirthǎn Jalatunda dan Belahan dapat digolongkan sebagai karya arsitektur tertua di Jawa Timur setelah periode Kanjuruhan. Satu runtuhan candi yang semula merupakan patirthǎn pula adalah candi Sanggariti yang berlokasi di daerah Batu, Malang. Hanya saja candi penting dari sekitar abad ke-10 tersebut sudah tidak terurus lagi, sebagian bangunannya (tubuh dan atapnya telah hilang).

Sisa bangunan candi yang diperkirakan didirikan oleh raja Pu Sindok (929—947 M) adalah runtuh candi Lor yang terbuat dari bata di wilayah Kabupaten Nganjuk sekarang. Sisa candi Gurah di wilayah Kediri pernah ditemukan dalam penggalian arkeologi tahun 1969, bangunannya hanya tinggal pondasinya saja, sedangkan arca-arcanya dalam keadaan cukup baik, yaitu arca Brahma, Surya, Candra, dan Nandi. Bangunan Candi Gurah diperkirakan berasal dari Kerajaan Kadiri (abad ke-12 M), candi itu masih berlanggam candi Hindu Klasik Tua karena di depan candi induknya terdapat 3 candi perwara masing-masing mempunyai pondasi yang terpisah. Ujung pipi tangganya dihias dengan makara, suatu yang lazim pada candi-candi Jawa tengah, sedangkan arca-arcanya mirip dengan gaya seni arca Singhasari, oleh karena itu Soekmono menyatakan bahwa arsitektur candi Gurah merupakan mata rantai penghubung antara gaya bangunan candi masa Klasik Tua di Jawa Tengah dan masa Klasik Muda di Jawa bagian timur (Soekmono 1969: 4—5, 16—17).

Bangunan candi di wilayah Jawa bagian timur yang relatif masih utuh kebanyakan berasal dari periode Singhasari (abad ke-13 M) dan Majapahit (abad ke-14–15 M). Candi-candi yang dihubungkan dengan periode Kerajaan Singhasari yang masih bertahan hingga kini adalah Candi Sawentar (Blitar), Kidal, Singhasari, Stupa Sumberawan (Malang), dan candi Jawi (Pasuruan).

Adapun candi-candi dari era Majapahit yang masih dapat diamati wujud bangunannya walaupun banyak yang tidak utuh lagi, adalah:

1. Candi Sumberjati (Simping) Abad ke-14 M Blitar
2. Candi Ngrimbi (Arimbi) s.d.a Jombang
3. Candi Panataran (Rabut Palah) s.d.a Blitar
4. Candi Surawana s.d.a Kediri
5. Candi Tegawangi s.d.a Kediri
6. Candi Kali Cilik s.d.a Blitar
7. Candi Bangkal s.d.a Mojokerto
8. Candi Ngetos s.d.a Nganjuk
9. Candi Kotes s.d.a Blitar
10. Candi Gunung Gangsir s.d.a Pasuruan
11. Candi Jabung s.d.a Probolinggo
12. Candi Kedaton Abad ke-15 M Probolinggo
13. Candi Brahu s.d.a Trowulan/Mojokerto
14. Candi Tikus s.d.a s.d.a
15. Gapura Bajang ratu s.d.a s.d.a
16. Gapura Wringin Lawang s.d.a s.d.a
17. Candi Pari Abad ke-14 M Sidoarjo
18. Candi Pamotan Abad ke-15 M Mojokerto
19. Candi Dermo s.d.a s.d.a
20. Candi Kesiman Tengah s.d.a s.d.a
21. Candi Sanggrahan Abad ke-14 M Tulungagung
22. Candi Mirigambar s.d.a s.d.a
23. Candi Bayalango s.d.a s.d.a
24. Punden berundak di Penanggungan Abad ke-15—16 M Mojokerto

Berdasarkan wujud arsitektur yang masih bertahan hingga kini, maka bangunan suci Hindu-Buddha di wilayah Jawa Timur yang berkembang antara abad ke-13—16 M dapat dibagi ke dalam 5 gaya, yaitu (1) Gaya Singhasari, (2) Gaya Candi Brahu, (3) Gaya Candi Jago, (4) “Candi Batur”, dan (5) Punden berundak. Untuk lebih jelasnya ciri setiap gaya tersebut adalah sebagai berikut:

1.Gaya Singhasari

Dinamakan demikian karena wujud arsitektur yang menjadi ciri gaya ini mulai muncul dalam zaman kerajaan Singhasari dan terus bertahan hingga zaman Majapahit. Ciri yang menonjol dari Gaya Singhasari adalah:

1. Bangunan candi utama terletak di tengah halaman, atau di daerah tengahnya yang sering tidak terlalu tepat.
2. Bangunan candi terbagi 3 yang terdiri dari bagian kaki (upapitha), tubuh (stambha), dan atap yang berbentuk menjulang tinggi dengan tingkatan yang berangsur-angsur mengecil hingga puncak. Seluruh bangunan candi terbuat dari bahan tahan lama, seperti batu, bata, atau campuran batu dan bata.
3. Ruang atau bilik utama terdapat di bagian tengah bangunan, terdapat juga relung di dinding luar tubuh candi tempat meletakkan arca dewata.

Contoh gaya Singhasari adalah: Candi Sawentar, Kidal, Jawi, Singhasari (memiliki keistimewaan), Angka Tahun Panataran, Kali Cilik, Ngetos, dan Bangkal.

2.Gaya Brahu

Brahu adalah nama candi bata yang terletak di situs Trowulan, bentuk bangunannya unik, karena arsitekturnya baru muncul dalam zaman Majapahit. Dalam masa sebelumnya baik di era Singhasari atau Mataram Kuno bentuk arsitektur demikian belum dikenal. Dapat dipandang sebagai corak arsitektur tersendiri karena selain Candi Brahu candi yang sejenis itu masih ada lagi dalam zaman yang sama. Ciri Gaya Brahu adalah:

1. Bagian kaki candi terdiri atas beberapa teras (tingkatan), teras atas lebih sempit dari teras bawahnya).
2. Tubuh candi tempat bilik utama didirikan di bagian belakang denahnya yang bentuk dasarnya empat persegi panjang.
3. Seluruh bangunan dibuat dari bahan yang tahan lama, umumnya bata.

Termasuk kelompok Gaya Brahu adalah Candi Brahu, Jabung, dan Gunung Gangsir. Dalam pada itu di wilayah Padang Lawas, Sumatra Utara terdapat sekelompok bangunan suci dengan Gaya Brahu pula, dinamakan dengan Biaro Bahal yang jumlahnya lebih dari 3 bangunan. Dengan demikian dapat diperkirakan bahwa biaro-biaro di Padang Lawas tersebut didirikan dalam masa perkembangan Majapahit pula.

3.Gaya Jago

Candi Jago terletak di Malang, arca-arcanya berlanggam seni Singhasari dengan adanya tokoh yang diapit oleh sepasang teratai yang keluar dari bonggolnya, namun gaya bangunannya tidak sama dengan dua macam gaya yang telah disebutkan terdahulu. Menilik bentuk bangunannya yang berbeda dengan dua gaya lainnya, maka Candi Jago bersama beberapa candi lainnya yang sejenis termasuk ke dalam gaya seni arsitektur tersendiri. Untuk memudahkannya gaya arsitektur itu dinamakan dengan Gaya Jago, dengan Candi Jago sebagai contoh terbaiknya. Ciri-ciri penting Gaya Jago adalah:

1. Kaki candi berteras 1, 2 atau 3 dengan denah dasar empat persegi panjang.
2. Bilik utama didirikan di bagian tengah teras teratas atau bergeser agak ke belakang teras teratas.
3. Atap tidak dijumpai lagi, diduga terbuat dari bahan yang cepat rusak (ijuk, bambu, kayu, dan lain-lain), bentuknya menjulang tinggi bertingkat-tingkat dalam bahasa Jawa Kuno dikenal dengan prasadha. Bentuk seperti ini masih dikenal di Bali dan digunakan untuk menaungi bangunan meru, pelinggih dan pesimpangan di kompleks pura.

Bangunan candi yang termasuk kelompok Gaya Jago adalah: Candi Jago, Candi Induk Panataran, Sanggrahan, dan Kesiman Tengah.

4. “Candi Batur”

Dinamakan demikian karena bentuknya hanya merupakan suatu bangunan 1 teras sehingga membentuk seperti siti inggil atau batur. Sekarang hanya tersisa batur itu saja dengan tangga di salah satu sisinya, denahnya bias berberntuk bujur sangkar dan dapat pula berbentuk empat persegi panjang. Di bagian permukaan batur biasanya terdapat objek sakral, antara lain berupa lingga-yoni, altar persajian, pedupaan berbentuk candi kecil atau juga arca perwujudan tokoh yang telah meninggal. Contoh bangunan candi seperti itu adalah Candi Kedaton di Probolinggo, Candi Kedaton di Trowulan, Candi Miri Gambar, Tegawangi, Surawana, Papoh (Kotes), dan Pasetran di lereng utara Gunung Penanggungan.

5. Punden berundak

Adalah bangunan teras bertingkat-tingkat meninggi yang menyandar di kemiringan lereng gunung. Ukuran teras semakin mengecil ke atas, jumlah teras umumnya 3 dan di bagian puncak teras teratas berdiri altar-altar persajian yang jumlahnya 3 altar (1 altar induk diapit dua altar pendamping di kanan-kirinya. Tangga naik ke teras teratas terdapat di bagian tengah punden berundak, terdapat kemungkinan dahulu di kanan kiri tangga tersebut berdiri deretan arca menuju ke puncak punden yang berisikan altar tanpa arca apapun. Contoh yang baik bentuk punden berundak masa Majapahit terdapat di lereng barat Gunung Penanggungan, penduduk menamakan punden-punden itu dengan candi juga, misalnya Candi Lurah (Kepurbakalaan No.1), Candi Wayang (Kep. No.VIII), Candi Sinta (Kep.No.17a), Candi Yuddha (Kep.No.LX), dan Candi Kendalisada (Kep.No.LXV). Selain di Gunung Penanggungan terdapat pula beberapa punden berundak di lereng timur Gunung Arjuno, hanya saja dinding teras-terasnya disusun dari batu-batu alami, tanpa dibentuk dahulu menjadi balok-balok batu.

Penggolongan bentuk arsitektur candi-candi di Jawa Timur tersebut berdasarkan pengamatan terhadap sisa bangunan yang masih ada sekarang, mungkin di masa silam lebih banyak lagi bentuk arsitektur yang lebih unik dan menarik, hanya saja tidak tersisa lagi wujudnya. Terdapat juga bangunan candi yang tidak dapat digolongkan ke dalam bentuk arsitektur manapun, misalnya Candi Pari yang bangunannya melebar dan tinggi, mirip dengan bangunan suci yang terdapat di Champa (Indo-China). Mungkin saja dahulu terdapat pengaruh gaya bangunan Champa yang masuk ke Majapahit, hal itu agaknya sejalan dengan berita tradisi yang mengatakan bahwa raja Majapahit pernah menikah dengan seorang putri Champa.Bangunan lain yang juga unik adalah Candi Sumur di dekat Candi Pari, dinamakan demikian karena ruang utamanya berupa lubang sumur yang berair. Candi Sumur mempunyai padanannya pada Candi Sanggariti di Batu, Malang, namun dari kronologi yang jauh berbeda.


V

Aktivitas keagamaan Hindu-Buddha di Jawa masa silam tentunya cukup bergairah, terbukti dengan ditemukannya banyak peninggalan bangunan suci dari kedua agama itu baik di wilayah Jawa bagian tengah ataupun timur. Para ahli arkeologi dan sejarah kuno telah sepakat untuk menyatakan bahwa munculnya berbagai karya arsitektur bangunan suci itu sebenarnya sejalan dengan keberadaan pusat kerajaan sezaman. Ketika pusat kerajaan berada di Jawa Tengah, candi-candi Hindu-Buddha banyak dibangun di wilayah tersebut, dan ketika pusat-pusat kerajaan muncul di Jawa Timur, pembangunan candi-candi pun banyak dilakukan di wilayah Jawa Timur.

Gaya arsitektur bangunan candi ketika pusat Kerajaan Mataram masih berlokasi di Jawa Tengah, lebih didasarkan pada latar belakang agamanya. Maka dari itu terdapat Langgam Candi Hindu-saiva dan Langgam Candi Buddha Mahayana. Lain halnya ketika pusat-pusat kerajaan telah berada di Jawa Timur, perbedaan gaya bangunan suci itu tidak didasarkan kepada perbedaan agama lagi, baik candi Hindu ataupun Buddha gaya arsitekturnya sama, hal yang membedakannya hanya terletak pada arca-arca yang dahulu disemayamkan di dalamnya. Mungkin kenyataan ini sejalan dengan konsep Siwa-Buddha bahwa sebenarnya dalam hakekat tertinggi sebenarnya tidak ada lagi perbedaan antara Siwa dan Buddha, oleh karena itu tidak perlu adanya perbedaan secara tegas terhadap wujud bangunan sucinya.

Satu masalah penting yang perlu kajian lebih lanjut adalah apa yang terjadi di wilayah Jawa bagian tengah ketika Kadiri, Singhasari dan Majapahit berkembang di Jawa Timur?, apakah Jawa Tengah sepi dari aktivitas keagamaan?, apakah masih dihuni oleh penduduk?, mengapa tidak ada sumber sejarah dan arkeologi yang ditemukan di wilayah Jawa Tengah antara abad ke-11—14?. Demikianlah terdapat masalah yang menarik untuk diungkapkan di masa mendatang, bahwa tidak mungkin wilayah tua di Jawa bagian tengah bekas tempat kedudukan para Syailendra itu tiba-tiba sepi saja, ketika kerajaan-kerajaan berkembang di Jawa bagian timur. Penelisika untuk menjelaskan permasalahan itu masih terbuka, dan mengundang para ahli yang berminat untuk mengeksplorasinya lebih lanjut.


PUSTAKA ACUAN

Munandar, Agus Aris, 2003, Aksamala: Bunga Rampai Karya Penelitian. Bogor: Akademia.

—————–, 2004, “Menggapai Titik Suci: Interpretasi Semiotika Perpindahan Pusat Kerajaan Mataram Kuno”, dalam dalam T.Christomy & Untung Yuwono (Penyunting), Semiotika Budaya. Depok: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya, Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia. Halaman 161—180.

Soekmono, R., 1969, Gurah, The Link Between The Central and The East-Javanese Arts. Bulletin of the Archaeological Institute of the Republic of Indonesia No.6. Djakarta: Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional.

——————, 1986, “Local Genius dan Perkembangan Bangunan Sakral di Indonesia”, dalam Ayatrohaedi (Penyunting), Kepribadian Budaya Bangsa (Local Genius). Jakarta: Pustaka Jaya. Halaman 228—246.

—————–, 1997, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Yogyakarta: Kanisius.

Sumadio, Bambang (Penyunting jilid), 1984, Sejarah Nasional Indonesia II: Jaman Kuna. Jakarta: Balai Pustaka.

Wirjosuparto, Sutjipto, 1964, Glimpses of Cultural History of Indonesia. Djakarta: Indira.

Pengajar di Departemen Arkeologi
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia
(taken from here)

Anyer Sebelum 1883

Sebelum Krakatau meletus, Anyer adalah sebuah bandar yang ramai, tempat pertemuan antara kapal-kapal layar Cina yang hendak pulang dengan yang hendak meneruskan pelayaran ke barat.

Letusan Krakatau pada 1883 menyapu habis pantai dan desa-desa. Pelabuhan alamnya menjadi dangkal. Tinggal menjadi tujuan wisata laut. Maka orang sudah tidak mengingat lagi bahwa tempat ini pernah menjadi medan perlawanan rakyat melawan Kompeni Belanda.

13445323_10207817583690625_2599856543273790041_n

Sumber narasi: Jalan Raya Pos Jalan Raya Daendels, Pramoedya, hlm 28.
Gambar ilustrasi: lithograf Anyer karya A. Salm

This site is protected by wp-copyrightpro.com