Borobudur; Mandala & Macan Dyanni Buddha

BOROBUDUR SEBAGAI MANDALA DAN MACAM DYANNI BUDDHA
Orang yang awam akan menikmati Candi Borobudur dengan mengagumi keindahan bangunan candi, termasuk mengagumi keindahan di sekitarnya ketika menaiki candi. Banyak foto yang beredar saat ini, yang mengambil sudut pandang patung Buddha dengan latar belakang pemandangan alam yang indah. Namun apabila candi tersebut dilihat dari atas, terlihat ada bentuk mandala. Borobudur adalah bangunan berupa mandala raksasa yang pernah dibangun oleh manusia. Diseluruh dunia, hanya satu mandala sebesar itu dan mandala itu ada di bumi nusantara ini.

15393014_1104852756298601_7366186841278440427_o

APA ITU MANDALA?
Mandala adalah bentuk visual atau simbol dari alam semesta. Dalam tantra, mandala dijadikan sebagai salah satu bagian alat bantu kontemplasi dan meditasi. Bangunan candi pada umumnya adalah untuk pemujaan, namun Borobudur lebih dari itu. Jika hanya sebagai candi untuk pemujaan, maka tidak perlu dibangun dalam bentuk mandala seperti itu. Buat saja kompleks candi-candi pemujaan seperti pada umumnya. Tapi nyatanya borobudur bentuknya memang berupa mandala. Mestinya pengunjung / peziarah candi Borobudur di masa lalu bukan sekedar berkunjung di monumen besar, tapi seiringan juga mempraktikkan laku spiritual. Menapaki candi borobudur dengan penuh kesadaran (eling), merenungkan dan melakukan kontemplasi. Puncaknya adalah bermeditasi dengan sangat mendalam. Ya, itu mungkin hanya imajinasi saya, namun penggunaan mandala dalam meditasi memang seperti itu. Imajinasi saya tentang borobudur tentu tidaklah berlebihan, dengan mempertimbangkan fungsi dari mandala itu sendiri.

Mandala sebagai simbol alam semesta meliputi micro cosmos (jagad cilik) dan macro cosmos (jagad gede). Artinya simbol-simbol yang menunjuk hal-hal luar (jagad gede) itu pada dasarnya adalah simbol tentang diri kita sendiri (jagad cilik). Terlalu panjang membahas makna simbolik Borobudur, saya hanya membatasi pada Panca Dhyani Buddha saja.

Dalam Buddhisme dikenal 5 Buddha Masa Lampau Yang melambangkan 5 Kebijaksanaan Buddha Masa Lampau yang biasa disebut dengan 5 Dhyani Buddha. 5 Buddha tersebut dapat dikenali dari mudra (formasi tangan) yang berbeda satu dengan yang lain. Selain wujud buddha dalam kosmologi buddhis yang terukir di dinding, di Borobudur terdapat banyak arca buddha duduk bersila dalam posisi lotus serta menampilkan mudra atau sikap tangan simbolis tertentu. Secara sepintas semua arca buddha ini terlihat serupa, akan tetapi terdapat perbedaan halus diantaranya, yaitu pada mudra atau posisi sikap tangan.

Di candi Borobudur sendiri terdapat lima golongan mudra: Utara, Timur, Selatan, Barat, dan Tengah, kesemuanya berdasarkan lima arah utama kompas menurut ajaran Buddha. Keempat pagar langkan memiliki empat mudra: Utara, Timur, Selatan, dan Barat, dimana masing-masing arca buddha yang menghadap arah tersebut menampilkan mudra yang khas. Arca Buddha pada pagar langkan kelima dan arca buddha di dalam 72 stupa berterawang di pelataran atas menampilkan mudra: Tengah atau Pusat. Masing-masing mudra melambangkan lima Dhyani Buddha; masing-masing dengan makna simbolisnya tersendiri.

Mengikuti urutan Pradakshina yaitu gerakan mengelilingi searah jarum jam dimulai dari sisi Timur, maka mudra arca-arca buddha di Borobudur adalah:

1. Buddha Aksobhya Timur (Mudra Bhumisparsa)
Arti dari Mudra Buddha Akhsobya adalah menjaga dan menghancurkan kemarahan dan kebencian

15350565_1104853129631897_3633058332792355275_n

2. Buddha Ratnasambhava Selatan (Mudra Wara)
Arti dari Mudra Buddha Ratnasambhava adalah memperkaya dan meningkatkan nilai spritual untuk melenyapkan kesombongan dan keserakahan

15327337_1104853216298555_2590857852755429755_n

3. Buddha Amitabha di sebelah Barat (Mudra Dhyana)
Arti dari Mudra Buddha Amitabha adalah menundukkan keegoisan

15401019_1104853309631879_2155496875423167336_n

4. Buddha Amoghasiddhi Utara (Mudra Abhaya)
Arti dari mudra Buddha Amogasiddhi adalah menenangkan diri untuk melenyapkan iri dengki

15390736_1104853359631874_5515920581996741565_n

5 Buddha Vairocana Tengah (Mudra Dharmachakra)
Arti dari mudra Buddha Vairocana adalah memutar Dharma untuk melenyapkan kebodohan batin

15267751_1104853419631868_3823284199286172616_n

Foto Koleksi Hasil Google dan Troppen Museum.

Sumber Penghasilan Kerajaan

Sumber Penghasilan Kerajaan

Mengenai sumber penghasilan kerajaan, pada umumnya semua penduduk wajib membayar pajak (drawya haji) dan melakukan kerja bakti untuk raja atau kerajaan (buat haji). Pajak harus dibayar dari tanah dan hasilnya, termasuk tanah rawa, tepian, bendungan, hutan, dan hasil perdagangan dari hasil kerajinan dan keahlian tertentu yang digunakan untuk mencari nafkah seperti pesinden, pelawak, penabuh gamelan, dalang, dsb. Di pusat kerajaan ada pejabat yang mengurusi “jumlah desa” dan “jumlah tanah” (wilaṅ wanua, wilaṅ thani). Tentunya mereka mempunyai catatan tentang jumlah penduduk di setiap desa, karena tiap desa mempunyai kewajiban menunjuk berapa orang tiap tahun yang harus melakukan kerja bakti untuk raja/kerajaan. Jumlah pajak yang harus dibayar rakyat biasanya ditetapkan oleh pejabat di tingkat watak (nāyaka). 

Ada beberapa prasasti yang menunjukkan protes rakyat atas beban pajak yang ditetapkan itu, lalu pejabat desa mengajukan permohonan kepada raja melalui pemerintah daerahnya agar ketetapan pajak diubah.

Selain itu pemungutan pajak juga ditentukan berdasar macam-macam barang dagangan dan hasil industri rumah tangga mengenai ketentuan batas yang dikenai pajak. Barang dagangan dibawa dari desa ke desa yang lain dengan cara dipikul atau dibawa dengan gerobak, bahkan jika memungkinkan dengan menggunakan perahu (perbatasan desa satu dengan lainnya melalui sungai). Mengenai para pesinden, dalang, penabuh gamelan, pelawak dll. Para pemainnya memperoleh imbalan uang dalam upacara penetapan sīma. Kelompok tersebut disebut wargga kilalāṅ, termasuk di dalamnya pedagang-pedagang asing yang menetap di Jawa. Yang masuk juga kedalam ‘kas’ kerajaan ialah hasil rampasan perang (para pejabatnya disebut tawān atau hañaṅan di ibu kota kerajaan) dan pemberian cendera mata dari negara-negara sahabat. Pajak diserahkan ke pusat kota dua kali dalam setahun. Disebutkan dalam prasasti pada bulan Māgha dan Saṅsaṅān, sedangkan dalam naskah Nawanatya yang dimaksud Saṅsaṅān ialah Galuṅan.

Boechari.2012. Kerajaan Mataram Sebagaimana Terbayang dari Data Prasasti, dalam Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti: kumpulan tulisan Boechari. Jakarta: KPG, hlm: 183-196.

Dear Blog, I Love You..

Dear blog,

Kalau aku ini ibu dan kamu anakku, kamu seharusnya tahu bahwa aku mencintaimu dan mungkin berlebihan. Mencintai dengan cara yang salah.

Aku seperti ibu yang melihat anaknya tumbuh, berkembang, berkembang, berkembang dan kemudian tanpa disadari, kamu bersinar sendiri. Sesuatu yang tidak pernah ibumu ini target, sesuatu yang tidak pernah ibumu bayangkan, sesuatu yang pernah ibumu tidak percayai. Bahkan aku, sebagai ibumu, malah jadi anggota ‘kloter’ terakhir yang sadar bahwa anaknya ini telah memiliki sinarnya sendiri (FYI, aku baru sadar kalau laurentiadewi.com ternyata ‘terkenal’ baru di tahun 2015an!!!).

Dan dengan ego seorang ibu, aku bukannya melepasmu menjadi salah satu bintang di antariksa, melainkan mendekap erat.

Aku ibu yang gagal menuntun anaknya berubah mengikuti perkembangan. Aku ibu yang gagal, membuat anaknya bisa meraih segala potensi yang awalnya terbuka lebar, yang ditawarkan lebih dulu ketimbang ‘kompetitor’ lain yang kini menempati posisi-posisi itu.

Kamu, masih menjadi salah satu yang terbaik dengan traffic tertinggi, bahkan konon mengalahkan sekian ‘kompetitor’ (yang tidak pernah aku anggap sebagai saingan). Kamu, blog yang masih sering aku dengar namanya dari orang lain (yang tidak tahu bahwa aku adalah ibumu). Kamu, masih menjadi blog kebanggaku yang sampai kapanpun akan menjadi kebanggaan.

Tapi ibumu ini sekarang sedang berpikir.

Apakah sebaiknya aku menidurkanmu? Sehingga dalam istirahatmu, masih ada kebanggaan dan kenangan indah?

Apakah aku harus meneruskan perjalanan ini, bergandengan tangan hanya berdua denganmu, melawan arus?

Atau ibumu ini harus melepas sekian ego, menerima iklan demi membuatmu setenar account instagram lain?

Arca: Asli/ Palsu

Seiring maraknya bisnis arca-arca kuno, tentulah ada pikiran negatif untuk menipu konsumen. Dari sejumlah perajin arca di Desa Prumpung, Magelang, diketahui ada berbagai cara untuk membuat suatu arca agar berkesan antik. Selain diberi perasan air kunyit atau air teh, arca pun harus dipendam di dalam tanah selama beberapa bulan.

Buat masyarakat awam, termasuk para arkeolog, memang terasa sulit apabila harus mengidentifikasi mana arca asli dan mana arca palsu. Apalagi jika seorang pakar hanya melihat gambarnya, tanpa mengamati detil, tekstur, atau kelenturan (plastisitas) koleksi. Namun sekadar gambaran, menurut penelitian para pakar ikonografi (pengetahuan tentang seni arca kuno), setiap arca Buddha dan Hindu sudah memiliki gaya dan ciri tertentu.

Penggambaran arca Buddha diketahui sangat sederhana. Tanpa sesuatu hiasan, hanya memakai jubah. Tanda-tanda utamanya adalah rambutnya selalu keriting, di atas kepala ada tonjolan seperti sanggul (usnisa), dan di antara keningnya ada semacam jerawat (urna).

Tokoh (dewa) mana yang dilukiskan oleh arca Buddha itu, diketahui lewat sikap tangan (mudra) dan ciri khusus lain (laksana) setiap tokoh. Agama Buddha mengenal Dhyanni-Buddha, Dhyanni-Boddhisattwa, dan Manusi-Buddha. Masing-masing berjumlah lima dan menempati empat arah mata angin pokok (Utara, Selatan, Barat, Timur) ditambah satu di pusat.

Dalam agama Hindu, arca dihubungkan dengan seorang raja yang telah wafat. Arca tersebut ditempatkan di dalam candi karena dianggap titisan dewa. Sebagai pendamping, kemudian dibuatkan beberapa arca dewa-dewi. Untuk membedakan dewa yang satu dengan dewa lainnya, maka setiap arca digambarkan dengan laksana sendiri-sendiri.

Setiap arca dewa pun memiliki ciri dan menempati lokasi tertentu sesuai dengan delapan arah mata angin, seperti halnya arca Buddha. Dengan demikian mudah diidentifikasi bila terjadi pencurian, pemenggalan, atau perbuatan negatif lainnya terhadap arca-arca kuno itu.

Dua Langgam

Umumnya arca merupakan bagian dari suatu candi. Karena terbuat dari batu, tentulah bobotnya terlalu berat. Maka agar lebih ringan, sebagai gantinya masyarakat kuno membuat arca logam yang relatif kecil untuk persembahan atau pemujaan di rumah. Justru bagi para peneliti zaman sekarang, mengidentifikasi arca logam memiliki sedikit kendala dibandingkan arca batu.

Arca logam mudah sekali diangkut ke sana ke mari, sehingga sukar ditetapkan apakah arca logam itu benar-benar diperoleh dari suatu situs arkeologi atau bukan. Kesulitan lainnya adalah menentukan masa sejarah arca tersebut, kecuali kalau ada tulisan atau angka tahun. Karena itu, perkiraan umur arca logam biasanya hanya berdasarkan pada corak atau bentuknya.

Lagi pula, umumnya kesenian India terikat oleh beberapa peraturan, meskipun peraturan-peraturan itu tidak membekukan daya cipta para seniman. Semuanya tersirat pada sejumlah kitab, seperti Silpasastra, Visnudharmottaram, dan Vastusastra (Sutjipto Wirjosuparto, Sedjarah Seni Artja India, 1956).

Keindahan seni India bisa dilihat dari bagian-bagian badan arca yang proporsional. Misalnya jarak antara mata harus sekian tala (semacam ukuran panjang). Begitu juga jarak dari mata ke hidung, hidung ke mulut, mulut ke dagu, dan seterusnya.

Selain itu, bagian-bagian arca harus menyerupai atau mendekati bentuk sesuatu yang dijadikan “patokan utama”. Beberapa persyaratan itu, harus menyerupai hewan atau tumbuhan yang dianggap fantastis. Bagian-bagian badan yang dianggap paling vital adalah muka, kening, mata, telinga, hidung, bibir, leher, dagu, dada, bahu, tangan, jari, pinggang, kaki, dan lutut.

Pada dasarnya seni pahat arca kuno di Indonesia terbagi atas dua langgam, yakni langgam Jawa Tengah dan langgam Jawa Timur. Arca langgam Jawa Tengah dinilai sangat indah, betul-betul menggambarkan seorang dewa dengan segala-galanya. Arca langgam Jawa Timur agak kaku, mungkin karena sengaja disesuaikan untuk menggambarkan seorang raja atau pembesar negara yang telah wafat (Soekmono, Sejarah Kebudayaan Indonesia 2, 1973).

Berbagai ciri pada arca juga menjadi petunjuk untuk menempatkannya dalam masa sejarah tertentu. Arca-arca dari masa Singasari, misalnya, mempunyai kekhususan dibandingkan arca-arca dari masa Majapahit. Begitu pula sebaliknya.

Mudah-mudahan dengan pengenalan singkat ini, Anda tidak tertipu oleh arca kuno yang ternyata palsu.

15350626_1105426196241257_2600374227579301316_n 15326604_1105427186241158_2987104392093190377_n 15355849_1105426832907860_3615965281808727751_n 15380622_1105426219574588_5041336502255424124_n 15285087_1105427012907842_7117874460527247868_n 15391200_1105426719574538_4520683758823270586_n 15267790_1105426186241258_8801683702303522000_n

Sumber :
Djulianto Susantio

Arca

Arca dalam bahasa Inggris disebut icon, yang berarti patung atau gambaran orang suci (John M. Echols dan Hassan Shadily, 1983: 309). Kata icon berasal dari bahasaYunani eikon yang searti dengan kata-kata Sansekerta arcã, bera, vigrha, dan pratima.Kata arcã diartikan sebagai gambaran, arca dewa. Kata bera mempunyai arti perwujudan atau arca (dewa), kata vigrha berarti perpaduan, perwujudan (dewa), dan kata pratima yang berarti perwujudan jasmani seorang dewa yang dipuja (Maulana, 1997: 2). Di dalam mempelajari tentang arca dikenal ilmu ikonografi dan ikonometri yang merupakan cabang dari ilmu ikonologi. Ikonografi mempelajari system tanda-tanda sebagai penentu identitas arca, sedangkan ikonometri adalah seni mengukur bagian badan arca dengan menggunakan ikonometer. Ikonometri merupakan hal yang sangat penting bagi seniman pembuat arca, karena merupakan ketentuan pokok yang dijadikan pedoman dalam pembuatan arca. Di India pedoman mengenai ukuran arca termuat dalam kitab Silpasastra, yaitu suatu kitab yang berisi petunjuk penting untuk pembuatan arca. Dalam Ikonometri, ukuran arca ditetapkan dengan sistem talamana, yang merupakan pedoman pengarcaan tokoh dari segi proporsi berdasarkan tala-nya. Tala adalah ukuran relatif menggunakan pedoman wajah atau telapak tangan tokoh yang diarcakan (Pramastuti, 1979: 2, 8). Dalam pembuatan arca dewa terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh si pembuat arca, termasuk bahan-bahan yang digunakan harus memenuhi ketentuan-ketentuan. Jenis-jenis bahan yang dapat digunakan untuk membuat arca di sebut dalam kitab Hayasirsa, Pancacatra, antara lain bahan tanah (mrnmayi), kayu (darughatita), logam (lohaja), permata (ratnaja), batu (sailaja), ramuan wewangian (gandhaja), bunga (kausumi) dan lain-lain. (Pramastuti, 1979: 4). Dalam menggunakan masing-masing bahan tersebut juga berlaku ketentuan-ketentuan yang tidak dapat ditinggalkan oleh seorang pembuat arca. Khusus arca dari bahan batu terdapat ketentuan antara lain : batu harus berwarna tunggal dan berkualias, yang tertanam dalam tanah atau terendam airyang berasal dari sumber air suci, permukaan batu harus rata, dan batu yang tidak mengandung butiran-butiran pasir kasar (Pramastuti,1979: 5). Jenis bahan batu yang digunakan untuk membuat arca adalah batu andesit yang sumber bahannya dari gunung, misalnya Gunung Merapi, Merbabu dan sebagainya. Batu andesit yang dipilih untuk membuat arca adalah yang berkualitas baik.

15350626_1105426196241257_2600374227579301316_n 15350525_1105699789547231_5064876882999690640_n 15350494_1105699886213888_1954141750743875261_n 15350480_1105699809547229_8431036077750940636_n 15349829_1105699899547220_8185113492724114168_n 15338745_1105699979547212_6027824950644658818_n 15327288_1105699916213885_2666142183746956306_n 15319276_1105700026213874_5397991426853539184_n

Source :
Katalog Arca Batu 2014

Merry Christmas!

Dalam suasana yang kurang mengenakkan dengan adanya banyak bom yang digagalkan disana sini *terima kasih Densus 88*, isu perpecahan, politik adu domba, krisis toleransi dan sebagainya, saya ucapkan SELAMAT NATAL sambil mendoakan kalian semua diberkati damai di hati, juga di bumi.

nataldewi

Mari, hidup bertoleransi dan menjadi pribadi yang tidak mudah tersulut.

Stay Safe, Everyone!

Pilkada dan acara Natal – Tahun Baru yang berdekatan momennya benar-bener tidak baik buat kesehatan mental.

Setelah membaca sekian banyak kata “bunuh”, “bakar”, juga jenis-jenis hewan diteriakkan, kini bermunculan ‘petasan’ dengan daya ledak tinggi dimana-mana.

Kemarin saja, ada temuan bom/ barang yang diduga bom dari Tangerang, Payukumbuh Barat, Sumatra Selatan dan Batam. Kemudian hari ini, di Mojokerto.

Saya memahami adanya perbedaan pendapat, tapi kenapa harus pakai cara kekerasan? Kenapa lebih memilih menjadi pribadi yang mirip korek api; pribadi yang mudah terbakar hanya karena sedikit gesekan? Sebegitu sulitnya kah, bertoleransi? Sebegitu inginnya kah menjadikan dunia ini memiliki warna yang sama?

Semoga kita semua dijauhkan dari keinginan berbuat jahat dan menyakiti sesama yang berbeda warna kulit & kepercayaan, semoga kita semua dijauhkan dari segala keburukan yang direncanakan para teroris, semoga semua sehat dan selamat.

Hormat, untuk para pemberani yang berbulan-bulan meninggalkan keluarga dan tempat tinggal mereka yang nyaman demi mencegah aksi teror. Terima kasih, juga untuk keluarga mereka. Kalian semua luar biasa!

Makam Pangeran Diponegoro

Setelah berkunjung ke makam Pangeran Diponegoro di Makassar, saya pun iseng browsing kesana kemari dan tiba-tiba menemukan artikel bahwa ada versi lain yang menyebutkan sang Pangeran dimakamkan di Asta Tinggi, Sumenep!

p1130003-copy

Ini ‘menyebalkan’ sekali, karena saya baru tahu informasi tersebut setelah 3x mengunjungi Asta Tinggi yang nun jauh disana itu, haha!

Kenapa dulu-dulu jaman ke Asta Tinggi berkali-kali, tidak satupun artikel mengenai adanya dugaan bahwa ada makam Pangeran Diponegoro di kompleks makam raja-raja ini, sih?

Memahami Perang Syria

‘Penduduk’ di FB-ku belakangan ini tidak terlalu majemuk (minimal karena aku unfolow beberapa account), namun 1-2x muncul postingan mengenai Syria walau dari sudut pandang yang berbeda.

Dan sebelum post/ menghujat/ berdoa (di wall FB *grin*), mengajak/ menyerukan sesuatu, ada baiknya kita mengenal dahulu apa dan bagaimana perang Syria ini terjadi (diambil dari Al Jazeera)..

Five years since the conflict began, more than 250,000 Syrians have been killed in the fighting, and almost 11 million Syrians – half the country’s prewar population – have been displaced from their homes.

In 2011, what became known as the “Arab Spring” revolts toppled Tunisian President Zine El Abidine Ben Ali and Egyptian President Hosni Mubarak.

That March, peaceful protests erupted in Syria as well, after 15 boys were detained and tortured for having written graffiti in support of the Arab Spring. One of the boys, 13-year-old Hamza al-Khateeb , was killed after having been brutally tortured.

The Syrian government, led by President Bashar al-Assad, responded to the protests by killing hundreds of demonstrators and imprisoning many more. In July 2011, defectors from the military announced the formation of the Free Syrian Army, a rebel group aiming to overthrow the government, and Syria began to slide into civil war.

The word ‘Steadfast’ is seen graffitied on a damaged building in Deraa [Wsam Almokdad/Reuters]

What caused the uprising? 

Initially, lack of freedoms and economic woes fuelled resentment of the Syrian government, and public anger was inflamed by the harsh crackdown on protesters. Successful uprisings in Tunisia and Egypt energised and gave hope to Syrian pro-democracy activists. Many Islamist movements were also strongly opposed to the Assads’ rule.

In 1982, Bashar al-Assad’s father, Hafez, ordered a military crackdown on the Muslim Brotherhood in Hama, which killed between 10,000-40,000 people and flattened much of the city.

A group gathers near a home in al-Latamneh, Hama Province, Syria that was reportedly razed by Syrian Army forces after its owner’s brother defected from the Syrian Army [Austin Tice/Getty Images]

Even global warming has been claimed to have played a role in sparking the 2011 uprising.

A severe drought plagued Syria from 2007-10, spurring as many as 1.5 million people to migrate from the countryside into cities, which exacerbated poverty and social unrest. Although the initial protests were mostly non-sectarian, armed conflict led to the emergence of starker sectarian divisions.

Minority religious groups tend to support the Assad government, while the overwhelming majority of opposition fighters are Sunni Muslims. Although most Syrians are Sunni Muslims, Syria’s security establishment has long been dominated by members of the Alawite sect, of which Assad is a member.

The sectarian split is reflected among regional actors’ stances as well. The governments of majority-Shia Iran and Iraq support Assad, as does Lebanon-based Hezbollah; while Sunni-majority states including Turkey, Qatar, Saudi Arabia and others staunchly support the rebels.

The Syrian civil war is believed to be the deadliest conflict the 21st century has witnessed [Ed Giles/Getty Images]

Foreign involvement 

Foreign backing and open intervention have played a large role in Syria’s civil war. An international coalition led by the United States has bombed targets of the Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL, also known as ISIS) group since 2014.

In September 2015, Russia launched a bombing campaign against what it referred to as “terrorist groups” in Syria, which included ISIL as well as rebel groups backed by Western states. Russia has also deployed military advisers to shore up Assad’s defences. Several Arab states, along with Turkey, have provided weapons and materiel to rebel groups in Syria.

A Russian Mi-28 helicopter patrols the area around Hmeimym airbase in Latakia province, Syria [Sergei Chirikov/EPA]

Many of those fighting come from outside of Syria. The ranks of ISIL include a sizeable number of fighters from around the world. Lebanese members of Hezbollah are fighting on the side of Assad, as are Iranian and Afghan fighter.

Although the US has stated its opposition to the Assad government, it has hesitated to involve itself deeply in the conflict, even after the Assad government allegedly used chemical weapons in 2013, which US President Barack Obama had previously referred to as a “red line” that would prompt intervention.

In October 2015, the US scrapped its controversial programme to train Syrian rebels, after it was revealed that it had spent $500m but only trained 60 fighters.

An ISIL flag flies in the northern Syrian town of Tel Abyad as it is pictured from the Turkish border town of Akcakale, in Sanliurfa province, Turkey [Gokhan Sahin/Getty Images]

The situation today 

The Assad government currently controls the capital, Damascus, parts of southern Syria, portions of Aleppo and Deir Az Zor, much of the area near the Syrian-Lebanese border, and the northwestern coastal region. Rebel groups, ISIL, and Kurdish forces control the rest of the country.

Rebel groups continue to jockey against one another for power, and frequently fight each other. The Free Syrian Army has weakened as the war has progressed, while explicitly Islamist groups, such as the al-Nusra Front, which has pledged allegiance to al-Qaeda, and the Saudi-backed Islamic Front have gained in strength.

In 2013, ISIL  emerged in northern and eastern Syria after overrunning large portions of Iraq. The group quickly gained international notoriety for its brutal executions, its ultra-strict interpretation of Islamic law, and its energetic use of social media.

Meanwhile, Kurdish groups in northern Syria are seeking self-rule in areas under their control. This has alarmed Turkey’s government, which fears its large native Kurdish population may grow more restive and demand greater autonomy as a result.

In response to attacks within Turkey, the Turkish government has bombed Kurdish targets in Syria. Kurdish groups have also clashed with al-Nusra Front and ISIL.

Newly arrived Syrian Kurdish refugees walk with their belongings after crossing into Turkey from the Syrian border town of Kobane, also known as Ayn al-Arab [Stringer/Getty Images]

The Syrian war is creating profound effects far beyond the country’s borders. Lebanon, Turkey, and Jordan are hosting large and growing numbers of Syrian refugees, many of whom have attempted to journey onwards to Europe in search of better conditions. Fighting has occasionally spilled over from Syria into Lebanon, contributing to the country’s political polarisation. Several rounds of peace talks have failed to stop the fighting. Although a ceasefire announced in February 2016 has limited fighting in some parts of Syria, recent government air strikes in Aleppo have prompted uncertainty about the ceasefire’s future.

But with much of the country in ruins , millions of Syrians having fled abroad, and a population deeply traumatised by war, one thing is certain: Rebuilding Syria after the war ends will be a lengthy, extremely difficult process (taken from here).

This site is protected by wp-copyrightpro.com