Sumber Penghasilan Kerajaan

Sumber Penghasilan Kerajaan

Mengenai sumber penghasilan kerajaan, pada umumnya semua penduduk wajib membayar pajak (drawya haji) dan melakukan kerja bakti untuk raja atau kerajaan (buat haji). Pajak harus dibayar dari tanah dan hasilnya, termasuk tanah rawa, tepian, bendungan, hutan, dan hasil perdagangan dari hasil kerajinan dan keahlian tertentu yang digunakan untuk mencari nafkah seperti pesinden, pelawak, penabuh gamelan, dalang, dsb. Di pusat kerajaan ada pejabat yang mengurusi “jumlah desa” dan “jumlah tanah” (wilaṅ wanua, wilaṅ thani). Tentunya mereka mempunyai catatan tentang jumlah penduduk di setiap desa, karena tiap desa mempunyai kewajiban menunjuk berapa orang tiap tahun yang harus melakukan kerja bakti untuk raja/kerajaan. Jumlah pajak yang harus dibayar rakyat biasanya ditetapkan oleh pejabat di tingkat watak (nāyaka). 

Ada beberapa prasasti yang menunjukkan protes rakyat atas beban pajak yang ditetapkan itu, lalu pejabat desa mengajukan permohonan kepada raja melalui pemerintah daerahnya agar ketetapan pajak diubah.

Selain itu pemungutan pajak juga ditentukan berdasar macam-macam barang dagangan dan hasil industri rumah tangga mengenai ketentuan batas yang dikenai pajak. Barang dagangan dibawa dari desa ke desa yang lain dengan cara dipikul atau dibawa dengan gerobak, bahkan jika memungkinkan dengan menggunakan perahu (perbatasan desa satu dengan lainnya melalui sungai). Mengenai para pesinden, dalang, penabuh gamelan, pelawak dll. Para pemainnya memperoleh imbalan uang dalam upacara penetapan sīma. Kelompok tersebut disebut wargga kilalāṅ, termasuk di dalamnya pedagang-pedagang asing yang menetap di Jawa. Yang masuk juga kedalam ‘kas’ kerajaan ialah hasil rampasan perang (para pejabatnya disebut tawān atau hañaṅan di ibu kota kerajaan) dan pemberian cendera mata dari negara-negara sahabat. Pajak diserahkan ke pusat kota dua kali dalam setahun. Disebutkan dalam prasasti pada bulan Māgha dan Saṅsaṅān, sedangkan dalam naskah Nawanatya yang dimaksud Saṅsaṅān ialah Galuṅan.

Boechari.2012. Kerajaan Mataram Sebagaimana Terbayang dari Data Prasasti, dalam Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti: kumpulan tulisan Boechari. Jakarta: KPG, hlm: 183-196.

Dear Blog, I Love You..

Dear blog,

Kalau aku ini ibu dan kamu anakku, kamu seharusnya tahu bahwa aku mencintaimu dan mungkin berlebihan. Mencintai dengan cara yang salah.

Aku seperti ibu yang melihat anaknya tumbuh, berkembang, berkembang, berkembang dan kemudian tanpa disadari, kamu bersinar sendiri. Sesuatu yang tidak pernah ibumu ini target, sesuatu yang tidak pernah ibumu bayangkan, sesuatu yang pernah ibumu tidak percayai. Bahkan aku, sebagai ibumu, malah jadi anggota ‘kloter’ terakhir yang sadar bahwa anaknya ini telah memiliki sinarnya sendiri (FYI, aku baru sadar kalau laurentiadewi.com ternyata ‘terkenal’ baru di tahun 2015an!!!).

Dan dengan ego seorang ibu, aku bukannya melepasmu menjadi salah satu bintang di antariksa, melainkan mendekap erat.

Aku ibu yang gagal menuntun anaknya berubah mengikuti perkembangan. Aku ibu yang gagal, membuat anaknya bisa meraih segala potensi yang awalnya terbuka lebar, yang ditawarkan lebih dulu ketimbang ‘kompetitor’ lain yang kini menempati posisi-posisi itu.

Kamu, masih menjadi salah satu yang terbaik dengan traffic tertinggi, bahkan konon mengalahkan sekian ‘kompetitor’ (yang tidak pernah aku anggap sebagai saingan). Kamu, blog yang masih sering aku dengar namanya dari orang lain (yang tidak tahu bahwa aku adalah ibumu). Kamu, masih menjadi blog kebanggaku yang sampai kapanpun akan menjadi kebanggaan.

Tapi ibumu ini sekarang sedang berpikir.

Apakah sebaiknya aku menidurkanmu? Sehingga dalam istirahatmu, masih ada kebanggaan dan kenangan indah?

Apakah aku harus meneruskan perjalanan ini, bergandengan tangan hanya berdua denganmu, melawan arus?

Atau ibumu ini harus melepas sekian ego, menerima iklan demi membuatmu setenar account instagram lain?

Arca: Asli/ Palsu

Seiring maraknya bisnis arca-arca kuno, tentulah ada pikiran negatif untuk menipu konsumen. Dari sejumlah perajin arca di Desa Prumpung, Magelang, diketahui ada berbagai cara untuk membuat suatu arca agar berkesan antik. Selain diberi perasan air kunyit atau air teh, arca pun harus dipendam di dalam tanah selama beberapa bulan.

Buat masyarakat awam, termasuk para arkeolog, memang terasa sulit apabila harus mengidentifikasi mana arca asli dan mana arca palsu. Apalagi jika seorang pakar hanya melihat gambarnya, tanpa mengamati detil, tekstur, atau kelenturan (plastisitas) koleksi. Namun sekadar gambaran, menurut penelitian para pakar ikonografi (pengetahuan tentang seni arca kuno), setiap arca Buddha dan Hindu sudah memiliki gaya dan ciri tertentu.

Penggambaran arca Buddha diketahui sangat sederhana. Tanpa sesuatu hiasan, hanya memakai jubah. Tanda-tanda utamanya adalah rambutnya selalu keriting, di atas kepala ada tonjolan seperti sanggul (usnisa), dan di antara keningnya ada semacam jerawat (urna).

Tokoh (dewa) mana yang dilukiskan oleh arca Buddha itu, diketahui lewat sikap tangan (mudra) dan ciri khusus lain (laksana) setiap tokoh. Agama Buddha mengenal Dhyanni-Buddha, Dhyanni-Boddhisattwa, dan Manusi-Buddha. Masing-masing berjumlah lima dan menempati empat arah mata angin pokok (Utara, Selatan, Barat, Timur) ditambah satu di pusat.

Dalam agama Hindu, arca dihubungkan dengan seorang raja yang telah wafat. Arca tersebut ditempatkan di dalam candi karena dianggap titisan dewa. Sebagai pendamping, kemudian dibuatkan beberapa arca dewa-dewi. Untuk membedakan dewa yang satu dengan dewa lainnya, maka setiap arca digambarkan dengan laksana sendiri-sendiri.

Setiap arca dewa pun memiliki ciri dan menempati lokasi tertentu sesuai dengan delapan arah mata angin, seperti halnya arca Buddha. Dengan demikian mudah diidentifikasi bila terjadi pencurian, pemenggalan, atau perbuatan negatif lainnya terhadap arca-arca kuno itu.

Dua Langgam

Umumnya arca merupakan bagian dari suatu candi. Karena terbuat dari batu, tentulah bobotnya terlalu berat. Maka agar lebih ringan, sebagai gantinya masyarakat kuno membuat arca logam yang relatif kecil untuk persembahan atau pemujaan di rumah. Justru bagi para peneliti zaman sekarang, mengidentifikasi arca logam memiliki sedikit kendala dibandingkan arca batu.

Arca logam mudah sekali diangkut ke sana ke mari, sehingga sukar ditetapkan apakah arca logam itu benar-benar diperoleh dari suatu situs arkeologi atau bukan. Kesulitan lainnya adalah menentukan masa sejarah arca tersebut, kecuali kalau ada tulisan atau angka tahun. Karena itu, perkiraan umur arca logam biasanya hanya berdasarkan pada corak atau bentuknya.

Lagi pula, umumnya kesenian India terikat oleh beberapa peraturan, meskipun peraturan-peraturan itu tidak membekukan daya cipta para seniman. Semuanya tersirat pada sejumlah kitab, seperti Silpasastra, Visnudharmottaram, dan Vastusastra (Sutjipto Wirjosuparto, Sedjarah Seni Artja India, 1956).

Keindahan seni India bisa dilihat dari bagian-bagian badan arca yang proporsional. Misalnya jarak antara mata harus sekian tala (semacam ukuran panjang). Begitu juga jarak dari mata ke hidung, hidung ke mulut, mulut ke dagu, dan seterusnya.

Selain itu, bagian-bagian arca harus menyerupai atau mendekati bentuk sesuatu yang dijadikan “patokan utama”. Beberapa persyaratan itu, harus menyerupai hewan atau tumbuhan yang dianggap fantastis. Bagian-bagian badan yang dianggap paling vital adalah muka, kening, mata, telinga, hidung, bibir, leher, dagu, dada, bahu, tangan, jari, pinggang, kaki, dan lutut.

Pada dasarnya seni pahat arca kuno di Indonesia terbagi atas dua langgam, yakni langgam Jawa Tengah dan langgam Jawa Timur. Arca langgam Jawa Tengah dinilai sangat indah, betul-betul menggambarkan seorang dewa dengan segala-galanya. Arca langgam Jawa Timur agak kaku, mungkin karena sengaja disesuaikan untuk menggambarkan seorang raja atau pembesar negara yang telah wafat (Soekmono, Sejarah Kebudayaan Indonesia 2, 1973).

Berbagai ciri pada arca juga menjadi petunjuk untuk menempatkannya dalam masa sejarah tertentu. Arca-arca dari masa Singasari, misalnya, mempunyai kekhususan dibandingkan arca-arca dari masa Majapahit. Begitu pula sebaliknya.

Mudah-mudahan dengan pengenalan singkat ini, Anda tidak tertipu oleh arca kuno yang ternyata palsu.

15350626_1105426196241257_2600374227579301316_n 15326604_1105427186241158_2987104392093190377_n 15355849_1105426832907860_3615965281808727751_n 15380622_1105426219574588_5041336502255424124_n 15285087_1105427012907842_7117874460527247868_n 15391200_1105426719574538_4520683758823270586_n 15267790_1105426186241258_8801683702303522000_n

Sumber :
Djulianto Susantio

Arca

Arca dalam bahasa Inggris disebut icon, yang berarti patung atau gambaran orang suci (John M. Echols dan Hassan Shadily, 1983: 309). Kata icon berasal dari bahasaYunani eikon yang searti dengan kata-kata Sansekerta arcã, bera, vigrha, dan pratima.Kata arcã diartikan sebagai gambaran, arca dewa. Kata bera mempunyai arti perwujudan atau arca (dewa), kata vigrha berarti perpaduan, perwujudan (dewa), dan kata pratima yang berarti perwujudan jasmani seorang dewa yang dipuja (Maulana, 1997: 2). Di dalam mempelajari tentang arca dikenal ilmu ikonografi dan ikonometri yang merupakan cabang dari ilmu ikonologi. Ikonografi mempelajari system tanda-tanda sebagai penentu identitas arca, sedangkan ikonometri adalah seni mengukur bagian badan arca dengan menggunakan ikonometer. Ikonometri merupakan hal yang sangat penting bagi seniman pembuat arca, karena merupakan ketentuan pokok yang dijadikan pedoman dalam pembuatan arca. Di India pedoman mengenai ukuran arca termuat dalam kitab Silpasastra, yaitu suatu kitab yang berisi petunjuk penting untuk pembuatan arca. Dalam Ikonometri, ukuran arca ditetapkan dengan sistem talamana, yang merupakan pedoman pengarcaan tokoh dari segi proporsi berdasarkan tala-nya. Tala adalah ukuran relatif menggunakan pedoman wajah atau telapak tangan tokoh yang diarcakan (Pramastuti, 1979: 2, 8). Dalam pembuatan arca dewa terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh si pembuat arca, termasuk bahan-bahan yang digunakan harus memenuhi ketentuan-ketentuan. Jenis-jenis bahan yang dapat digunakan untuk membuat arca di sebut dalam kitab Hayasirsa, Pancacatra, antara lain bahan tanah (mrnmayi), kayu (darughatita), logam (lohaja), permata (ratnaja), batu (sailaja), ramuan wewangian (gandhaja), bunga (kausumi) dan lain-lain. (Pramastuti, 1979: 4). Dalam menggunakan masing-masing bahan tersebut juga berlaku ketentuan-ketentuan yang tidak dapat ditinggalkan oleh seorang pembuat arca. Khusus arca dari bahan batu terdapat ketentuan antara lain : batu harus berwarna tunggal dan berkualias, yang tertanam dalam tanah atau terendam airyang berasal dari sumber air suci, permukaan batu harus rata, dan batu yang tidak mengandung butiran-butiran pasir kasar (Pramastuti,1979: 5). Jenis bahan batu yang digunakan untuk membuat arca adalah batu andesit yang sumber bahannya dari gunung, misalnya Gunung Merapi, Merbabu dan sebagainya. Batu andesit yang dipilih untuk membuat arca adalah yang berkualitas baik.

15350626_1105426196241257_2600374227579301316_n 15350525_1105699789547231_5064876882999690640_n 15350494_1105699886213888_1954141750743875261_n 15350480_1105699809547229_8431036077750940636_n 15349829_1105699899547220_8185113492724114168_n 15338745_1105699979547212_6027824950644658818_n 15327288_1105699916213885_2666142183746956306_n 15319276_1105700026213874_5397991426853539184_n

Source :
Katalog Arca Batu 2014

Merry Christmas!

Dalam suasana yang kurang mengenakkan dengan adanya banyak bom yang digagalkan disana sini *terima kasih Densus 88*, isu perpecahan, politik adu domba, krisis toleransi dan sebagainya, saya ucapkan SELAMAT NATAL sambil mendoakan kalian semua diberkati damai di hati, juga di bumi.

nataldewi

Mari, hidup bertoleransi dan menjadi pribadi yang tidak mudah tersulut.

Stay Safe, Everyone!

Pilkada dan acara Natal – Tahun Baru yang berdekatan momennya benar-bener tidak baik buat kesehatan mental.

Setelah membaca sekian banyak kata “bunuh”, “bakar”, juga jenis-jenis hewan diteriakkan, kini bermunculan ‘petasan’ dengan daya ledak tinggi dimana-mana.

Kemarin saja, ada temuan bom/ barang yang diduga bom dari Tangerang, Payukumbuh Barat, Sumatra Selatan dan Batam. Kemudian hari ini, di Mojokerto.

Saya memahami adanya perbedaan pendapat, tapi kenapa harus pakai cara kekerasan? Kenapa lebih memilih menjadi pribadi yang mirip korek api; pribadi yang mudah terbakar hanya karena sedikit gesekan? Sebegitu sulitnya kah, bertoleransi? Sebegitu inginnya kah menjadikan dunia ini memiliki warna yang sama?

Semoga kita semua dijauhkan dari keinginan berbuat jahat dan menyakiti sesama yang berbeda warna kulit & kepercayaan, semoga kita semua dijauhkan dari segala keburukan yang direncanakan para teroris, semoga semua sehat dan selamat.

Hormat, untuk para pemberani yang berbulan-bulan meninggalkan keluarga dan tempat tinggal mereka yang nyaman demi mencegah aksi teror. Terima kasih, juga untuk keluarga mereka. Kalian semua luar biasa!

Makam Pangeran Diponegoro

Setelah berkunjung ke makam Pangeran Diponegoro di Makassar, saya pun iseng browsing kesana kemari dan tiba-tiba menemukan artikel bahwa ada versi lain yang menyebutkan sang Pangeran dimakamkan di Asta Tinggi, Sumenep!

p1130003-copy

Ini ‘menyebalkan’ sekali, karena saya baru tahu informasi tersebut setelah 3x mengunjungi Asta Tinggi yang nun jauh disana itu, haha!

Kenapa dulu-dulu jaman ke Asta Tinggi berkali-kali, tidak satupun artikel mengenai adanya dugaan bahwa ada makam Pangeran Diponegoro di kompleks makam raja-raja ini, sih?

Memahami Perang Syria

‘Penduduk’ di FB-ku belakangan ini tidak terlalu majemuk (minimal karena aku unfolow beberapa account), namun 1-2x muncul postingan mengenai Syria walau dari sudut pandang yang berbeda.

Dan sebelum post/ menghujat/ berdoa (di wall FB *grin*), mengajak/ menyerukan sesuatu, ada baiknya kita mengenal dahulu apa dan bagaimana perang Syria ini terjadi (diambil dari Al Jazeera)..

Five years since the conflict began, more than 250,000 Syrians have been killed in the fighting, and almost 11 million Syrians – half the country’s prewar population – have been displaced from their homes.

In 2011, what became known as the “Arab Spring” revolts toppled Tunisian President Zine El Abidine Ben Ali and Egyptian President Hosni Mubarak.

That March, peaceful protests erupted in Syria as well, after 15 boys were detained and tortured for having written graffiti in support of the Arab Spring. One of the boys, 13-year-old Hamza al-Khateeb , was killed after having been brutally tortured.

The Syrian government, led by President Bashar al-Assad, responded to the protests by killing hundreds of demonstrators and imprisoning many more. In July 2011, defectors from the military announced the formation of the Free Syrian Army, a rebel group aiming to overthrow the government, and Syria began to slide into civil war.

The word ‘Steadfast’ is seen graffitied on a damaged building in Deraa [Wsam Almokdad/Reuters]

What caused the uprising? 

Initially, lack of freedoms and economic woes fuelled resentment of the Syrian government, and public anger was inflamed by the harsh crackdown on protesters. Successful uprisings in Tunisia and Egypt energised and gave hope to Syrian pro-democracy activists. Many Islamist movements were also strongly opposed to the Assads’ rule.

In 1982, Bashar al-Assad’s father, Hafez, ordered a military crackdown on the Muslim Brotherhood in Hama, which killed between 10,000-40,000 people and flattened much of the city.

A group gathers near a home in al-Latamneh, Hama Province, Syria that was reportedly razed by Syrian Army forces after its owner’s brother defected from the Syrian Army [Austin Tice/Getty Images]

Even global warming has been claimed to have played a role in sparking the 2011 uprising.

A severe drought plagued Syria from 2007-10, spurring as many as 1.5 million people to migrate from the countryside into cities, which exacerbated poverty and social unrest. Although the initial protests were mostly non-sectarian, armed conflict led to the emergence of starker sectarian divisions.

Minority religious groups tend to support the Assad government, while the overwhelming majority of opposition fighters are Sunni Muslims. Although most Syrians are Sunni Muslims, Syria’s security establishment has long been dominated by members of the Alawite sect, of which Assad is a member.

The sectarian split is reflected among regional actors’ stances as well. The governments of majority-Shia Iran and Iraq support Assad, as does Lebanon-based Hezbollah; while Sunni-majority states including Turkey, Qatar, Saudi Arabia and others staunchly support the rebels.

The Syrian civil war is believed to be the deadliest conflict the 21st century has witnessed [Ed Giles/Getty Images]

Foreign involvement 

Foreign backing and open intervention have played a large role in Syria’s civil war. An international coalition led by the United States has bombed targets of the Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL, also known as ISIS) group since 2014.

In September 2015, Russia launched a bombing campaign against what it referred to as “terrorist groups” in Syria, which included ISIL as well as rebel groups backed by Western states. Russia has also deployed military advisers to shore up Assad’s defences. Several Arab states, along with Turkey, have provided weapons and materiel to rebel groups in Syria.

A Russian Mi-28 helicopter patrols the area around Hmeimym airbase in Latakia province, Syria [Sergei Chirikov/EPA]

Many of those fighting come from outside of Syria. The ranks of ISIL include a sizeable number of fighters from around the world. Lebanese members of Hezbollah are fighting on the side of Assad, as are Iranian and Afghan fighter.

Although the US has stated its opposition to the Assad government, it has hesitated to involve itself deeply in the conflict, even after the Assad government allegedly used chemical weapons in 2013, which US President Barack Obama had previously referred to as a “red line” that would prompt intervention.

In October 2015, the US scrapped its controversial programme to train Syrian rebels, after it was revealed that it had spent $500m but only trained 60 fighters.

An ISIL flag flies in the northern Syrian town of Tel Abyad as it is pictured from the Turkish border town of Akcakale, in Sanliurfa province, Turkey [Gokhan Sahin/Getty Images]

The situation today 

The Assad government currently controls the capital, Damascus, parts of southern Syria, portions of Aleppo and Deir Az Zor, much of the area near the Syrian-Lebanese border, and the northwestern coastal region. Rebel groups, ISIL, and Kurdish forces control the rest of the country.

Rebel groups continue to jockey against one another for power, and frequently fight each other. The Free Syrian Army has weakened as the war has progressed, while explicitly Islamist groups, such as the al-Nusra Front, which has pledged allegiance to al-Qaeda, and the Saudi-backed Islamic Front have gained in strength.

In 2013, ISIL  emerged in northern and eastern Syria after overrunning large portions of Iraq. The group quickly gained international notoriety for its brutal executions, its ultra-strict interpretation of Islamic law, and its energetic use of social media.

Meanwhile, Kurdish groups in northern Syria are seeking self-rule in areas under their control. This has alarmed Turkey’s government, which fears its large native Kurdish population may grow more restive and demand greater autonomy as a result.

In response to attacks within Turkey, the Turkish government has bombed Kurdish targets in Syria. Kurdish groups have also clashed with al-Nusra Front and ISIL.

Newly arrived Syrian Kurdish refugees walk with their belongings after crossing into Turkey from the Syrian border town of Kobane, also known as Ayn al-Arab [Stringer/Getty Images]

The Syrian war is creating profound effects far beyond the country’s borders. Lebanon, Turkey, and Jordan are hosting large and growing numbers of Syrian refugees, many of whom have attempted to journey onwards to Europe in search of better conditions. Fighting has occasionally spilled over from Syria into Lebanon, contributing to the country’s political polarisation. Several rounds of peace talks have failed to stop the fighting. Although a ceasefire announced in February 2016 has limited fighting in some parts of Syria, recent government air strikes in Aleppo have prompted uncertainty about the ceasefire’s future.

But with much of the country in ruins , millions of Syrians having fled abroad, and a population deeply traumatised by war, one thing is certain: Rebuilding Syria after the war ends will be a lengthy, extremely difficult process (taken from here).

Kekuatan Cinta; Menumbuhkan Bahagia/ Mendatangkan Maut

Ada cerita menarik di Yahoo!, pagi ini (taken from here):

1. Laila dan Majnun

Kisah kasih dua anak manusia ini dikenal sebagai cerita cinta klasik dari Timur Tengah. Dikutip dari Wikipedia, seorang pemuda bernama Qays Ibn al-Mulawwah disebut jatuh cinta dengan Laila. Ia mulai menuliskan puisi tentang perempuan itu dan menyebut namanya sesering mungkin.

Upaya Qays yang digambarkan tanpa malu untuk mendapatkan Laila membuat ia dijuluki Majnun atau orang gila oleh masyarakat. Suatu hari, Qays meminta ayah Laila menikahkan ia dan putrinya. Namun permintaannya ditolak. Sang ayah tak sudi menikahkan putrinya dengan seseorang yang dianggap memiliki gangguan mental. Tak lama, Laila pun dipersunting seorang pedagang kaya nan tampan dari suku Thaqif.

Peristiwa tersebut semakin membuat Majnun menjadi-jadi. Ia melarikan diri dari tempat tinggalnya dan mulai berkeliaran di gurun. Keluarganya bahkan menyerah atas nasib pria itu. Mereka memilih meninggalkan makanan untuknya di gurun. Sesekali ia masih terlihat tengah menulis atau membaca puisi.

Dalam beberapa versi, Laila disebut meninggal karena patah hati setelah lama tak melihat wajah Majnun. Sementara itu, sang pria dikabarkan menutup mata untuk selama-lamanya pada 688 SM. Ia meninggal di sisi makam sang pujaan hati di mana sebelum kepergiannya ia sempat mengukir tiga puisi di sebuah batu.

Ada banyak versi dari kisah ini. Namun yang pasti selama ini kisah Laila dan Majnun telah mengilhami puluhan puisi dan lagu. Salah satunya lagu milik Eric Clapton, Layla.

2. Anarkali dan Salim

Anarkali adalah seorang budak dan wanita penghibur dari Iran. Dalam sejumlah versi ia disebut lahir dengan nama Nadira Begum atau Sharf-un-Nissa. Kecantikannya yang memukau membuat ia dijuluki Anarkali atau ‘bunga delima mekar’.

Paras rupawan dan keahlian menari Anarkali membuat namanya terdengar sampai ke Mughal. Raja Akbar pun mendatangkannya ke istana dan menjadikan budak wanita itu sebagai penari. Ia tak hanya membuat para penghuni istana terpesona, namun juga berhasil memikat hati Akbar.

Salim dan Anarkali pun disebut merajut asmara. Namun perbedaan kasta membuat percintaan keduanya ditentang oleh sang raja. Salim menjawab penentangan sang raja dengan perang.

Pertempuran sengit terjadi. Namun pada akhirnya Salim harus mengakui kekalahannya. Akbar memerintahkan Salim untuk menyerahkan Anarkali atau ia akan mati. Salim ternyata lebih memilih maut, sementara Anarkali memutuskan sebaliknya. Ia tak rela sang kekasih kehilangan nyawa di tangan ayahnya sendiri. Anarkali pun memutuskan untuk mengorbankan diri. Perempuan itu meminta diberikan satu malam saja untuk bersama Salim. Ini sebagai permintaan terakhirnya.

Keesokan harinya, Akbar memerintahkan budak cantik itu dikubur hidup-hidup di balik tembok. Salim lantas memerintahkan agar di sekeliling tembok tersebut dibangun sebuah makam yang megah. Sampai saat ini makam Anarkali masih berdiri tegak di Lahore, Pakistan.

3. Cleopatra dan Mark Antony

Mark Anthony merupakan salah satu pemimpin militer terbaik di Roma. Sementara Cleopatra adalah seorang ratu Mesir.

Bukan cerita baru jika Cleopatra tak hanya memiliki kecantikan, namun juga kepintaran yang mampu memikat para pria. Sebelum menjalin hubungan dengan Anthony, ia lebih dulu menjadi ‘wanita simpanan’ Julius Caesar. Mereka memiliki seorang putra yang diberi nama Caesarion.

Setelah pembunuhan Caesar, Antony meminta Cleopatra hadir ke Kota Tarsus untuk membahas aliansi Roma dengan Mesir. Ketika bertemu Cleopatra, Anthony pun tersihir oleh kecantikannya. Ia memutuskan untuk menikahi Cleopatra meski di sisi lain ia sudah memiliki istri, Fulvia.

Pernikahan itu diwarnai dengan perselingkuhan Anthony. Namun di tengah berkecamuknya konflik dengan Octavianus, rival yang juga keponakan dari Caesar, Anthony memutuskan untuk kembali ke pangkuan Cleopatra.

Cleopatra dan Mark Antony adalah orang yang sama-sama setia kepada Caesar. Pernikahan mereka mempererat hubungan antara Roma dan Mesir, di mana Antony kembali ke tanah Cleopatra setelah menikahinya. Hal ini pun menimbulkan kekhawatiran bagi Octavianus. Octavianus amat marah mengetahui Anthony memberikan sebagian wilayah Timur Tengah yang meliputi Mesir, Siprus, Kreta dan Suriah, sebagai hadiah pernikahan kepada Cleopatra. Bersama putranya, Caesarion, Cleopatra kemudian menjadi penguasa wilayah tersebut.

Pada 31 SM, Octavianus menyatakan perang terhadap Anthony. Pertempuran pun berlangsung di Actium, Yunani. Antony dan Cleopatra bergabung dalam pertempuran, namun mereka terpaksa harus mengakui keunggulan Octavianus. Dalam perang itu, Octavianus sukses membuat pasukan mereka tercerai berai.

Antony kemudian kembali ke medan perang tak lama setelah itu, namun ia terjebak dengan berita menyesatkan tentang kematian Cleopatra. Mengira kekasihnya telah tewas, Antony lantas bunuh diri menggunakan pedangnya. Mendengar kematian Antony, Cleopatra begitu berduka dan memutuskan ikut mengakhiri hidupnya dengan membiarkan ular berbisa menggigitnya. Anak Cleopatra, Caesarion, kemudian diangkat sebagai Firaun oleh para pendukungnya. Tapi tak lama ia ditangkap dan dieksekusi atas perintah Octavianus.

4. Guinevere dan Lancelot

Kisah cinta Lancelot dan Guinevere mungkin asing bagi sebagian orang. Namun ini termasuk kisah cinta terlarang yang melegenda.

Pada saat kedua anak manusia tersebut jatuh cinta, Guinevere diketahui telah memiliki seorang suami, yaitu Raja Arthur. Disebut-sebut Lancelotlah yang pertama kali jatuh cinta pada Guinevere. Pada awalnya cinta Lancelot tidak berbalas. Demikian seperti dikutip dari laman Amolife.com.

Guinevere sadar bahwa ia memiliki seorang suami. Dan hal itu membuatnya tidak bisa membalas cinta Lancelot. Ia pun memutuskan menjaga jarak dari dari pria itu. Namun, Lancelot tak mampu memendam cintanya lebih lama lagi kepada Guinevere. Mereka tetap memutuskan bersatu dan menjadi sepasang kekasih meski harus menjalin hubungan secara diam-diam.

Kisah cinta mereka berdua itu berjalan cukup lama hingga suatu hari mereka ketahuan oleh dua keponakan laki-laki Raja Arthur. Lancelot bisa melarikan diri, namun tidak dengan Guinevere. Ia ditangkap dan dituduh telah melakukan perzinahan. Raja dan hukum di negara itu memutuskan bahwa Guinevere harus dibakar.

Mendengar kekasihnya akan dibakar hidup-hidup, Lancelot pun nekat. Ia dengan berani datang ke tempat hukuman dan menyelamatkan sang kekasih dari kobaran api.

5. Heloise dan Abelard

Kisah keduanya disebut-sebut merupakan hasil karangan seorang sastrawan Inggris, Alexander Pope. Namun kisah Heloise dan Abelard sebenarnya adalah cerita cinta terlarang yang terjadi pada pertengahan Abad ke-12 di Prancis.

Heloise, seorang gadis cerdas jatuh cinta kepada Peter Abelard, gurunya yang berusia 20 tahun lebih tua. Hubungan ini diketahui dan ditentang oleh paman Heloise, seorang pejabat setempat. Hal ini menyebabkan Abelard dikebiri sementara Heloise diasingkan di sebuah biara terpencil. Hingga akhir hayat keduanya tidak pernah bertemu. Namun surat-surat cinta mereka dianggap sebagai simbol cinta yang mendunia.

6. Beatrice dan Dante

Penyair kenamaan Italia, Durante degli Alighieri mungkin baru dua kali bertemu dengan Beatrice. Namun siapa sangka, pemuda itu mencintai Beatrice di sepanjang sisa hidupnya meski pada saat itu mereka sudah terikat pernikahan dengan pasangan masing-masing.

Pada Abad Pertengahan di Florence, perceraian tidak dimungkinkan. Setelah Beatrice mati muda, Dante pun menuliskan puisi yang ditujukan kepada perempuan yang amat ia cintai itu–kini menjadi karya-karya terkenalnya. Tak hanya itu, sosok Beatrice juga dimunculkan Dante dalam karya legendarisnya, The Divine Comedy.

7. Simpson Wallis dan Pangeran Edward

Sepucuk surat ditulis Edward VIII pada 10 Desember 1936. Kurang dari setahun dimahkotai sebagai Raja Inggris, ia memutuskan untuk turun takhta. Demi seorang perempuan.

“Saya, Edward VIII, Raja Inggris…dengan ini menyatakan keputusan saya yang tak bisa dibatalkan, untuk meninggalkan takhta untuk diri saya sendiri dan juga untuk anak keturunan saya,” tulis dia dalam surat tersebut, seperti Liputan6.com kutip dari Vancouver Sun. Ia menandatangani surat penyerahan takhtanya, Kamis pagi 10 Desember 1936, di depan saudara-saudaranya dan para pengacara.

Kekuasaannya berakhir di hari ke-325. Ia bahkan belum sempat dinobatkan secara resmi sebagai raja.

“Langkah dramatis itu (untuk turun takhta) menjadi klimaks sepekan penuh ketegangan — paling tegang yang pernah dialami Inggris sejak Perang Dunia I,” demikian dilaporkan Canadian Press kala itu. “Cinta sang raja pada Wallis Warfield Simpson, perempuan kelahiran Amerika Serikat yang dua kali bercerai dengan suami sebelumnya, adalah alasan mengapa ia turun takhta.

Di masa mudanya, Edward VIII dikenal sebagai playboy –pecinta banyak wanita — di masa pemerintahan ayahnya Raja George V. Pada tahun 1919 ia bahkan pernah mengirim surat cinta untuk istri seorang anggota parlemen Inggris.

Ia bertemu dengan Wallis Simpson pada Januari 1931, awalnya sama sekali tak tetarik, namun setelah beberapa pertemuan, benih-benih cinta tumbuh di hati sang pangeran. Perempuan asal AS itu bahkan sempat jadi kekasih gelapnya — meski masih berstatus sebagai istri orang.

Masalah mencuat pada 20 Januari 1936, saat Raja George V mangkat, dan sebagai putra mahkota bernama lahir Edward Albert Christian George Andrew Patrick David itu dinobatkan sebagai penguasa dari Wangsa Windsor.

Pada 1 Desember 1936, Edward VIII memberitahukan pada PM Inggris kala itu Stanley Baldwin bahwa ia berniat menikahi kekasihnya — yang secara resmi telah bercerai pada 27 Oktober. Namun Baldwin menentang keras niatnya itu.

“Kabinet Siap Mundur, Itu yang Dikatakan Baldwin pada Raja,” demikian headline Vancouver Sun kala itu.

Geger pun terjadi. Kepala Gereja Inggris tak mengizinkan orang yang bercerai menikah lagi saat pasangannya masih hidup. Uskup Bradford pun mengeluarkan pernyataan menetang.

Sang raja tak menyerah, ia mengajukan “perkawinan morganatic” — yang mengizinkan ia menikahi Simpson, namun istrinya itu tak bakal jadi ratu. Perdana Menteri menolaknya. Hingga akhirnya Edward VIII mundur — sebuah momentum yang dianggap kemenangan konstitusi.

Setelah lengser, Edward meninggalkan Inggris Raya pada 11 Desember 1936, bergabung dengan Simpson di sebuah villa di Cote d’Azur, Prancis. Mereka akhirnya menikah pada 3 Juni 1937. Menjadi Duke dan Duchess of Windsor, terus bersama sampai Edward meninggal dunia pada 1972. Keduanya dimakamkan berdampingan di pemakaman kerajaan di Frogmore, Windsor.

Disaat yang bersamaan dengan membaca kisah luar biasa ini, aku sedang dibikin pusing oleh cinta. Oh no, not about me.

Seorang kawan berkenalan dengan pria, dari media sosial. Nope, bukan romance scammer. Singkat kata, pria ini rela terbang ke Indonesia; tempat domisili kawanku saat ini dan bertemu selama 4 hari. Kemudian si pria kembali ke negaranya untuk kembali bekerja, juga memikirkan kelanjutan hubungan mereka; menikah!

4 hari dan memikirkan – membicarakan perkawinan. Err? Terlalu beresiko, menurut otakku. Mengingat yang mengenal bertahun-tahun pun masih kaget-kaget ketika masuk ke pernikahan (yang ternyata tidak ada yang langsung seindah dongeng 1001 malam/ Disney’s). Tapi disisi lain, bisa saja kan ada cinta yang demikian dasyat yang bisa membawa sepasang manusia menjalani sisa hidup berdua dengan damai, hanya dengan beberapa kali pertemuan (?).

Entah, lah. Yang laki, misterius dan menurutku datang dengan sepaket masalah hidup. Yang perempuan, tanpa dia sadari, sudah mulai terkena penyakit khas wanita jatuh cinta. Maka cukuplah aku memberi tahu 1-2x saja kalau aku ini khawatir, namun selanjutnya.. terserah mereka.

Semoga kekhawatiranku ini salah. Dan semua mahluk berbahagia <3.

This site is protected by wp-copyrightpro.com