Situs Keraton Pengging

Situs Keraton Pengging berada di atara Desa Jembungan, Dukuh, dan Ngaru-aru yang termasuk wilayah Kecamatan Banyudono Kabupaten Boyolali Provinsi Jawa Tengah, jika diukur dari permukaan air laut ketinggian situs sekitar 177 meter dengan letak astronomis 40 21 1311Bujur Timur dan 7 0 131 39 ½ 1 Lintang Selatan.

Letak Kraton Pengging tidak lepas dari sumber mata air yang banyak terdapat disekitar wilayah Pengging, oleh masyarakat Hindu dipandang sebagai tempat “tirtha amrta” , maka tidak mustahil banyak bangunan Hinduistik selalu berdekatan dengan sumber air. Salah satunya adalah di Komplek Pemandian Umbul Pengging dan Umbul Kendat.

Disekitar situs Keraton Pengging ini ditemukan berbagai artefak antara lain tiga buah Yoni serta reruntuhan batu bata di pemakaman umum dukuh Bodean, di Desa Dukuh, bahkan Knebel pernah melaporkan bahwa di Dukuh Bantulan, di Desa Jembungan dekat perkebunan tembakau terdapat empat buah arca Ganesha, sebuah arca Padmapani, sebuah arca Nandi, sebuah Yoni, sebuah saluran air dan sebuah Makara. Namun sekarang hanya tersisa sebuah arca Ganesha yang sudah tidak utuh lagi dan 2 arca Rsi Agastya yang sudah terpenggal kepalanya.

Wilayah Pengging mengandung akuifer produktif dengan persebaran yang luas. Akuifer ini mempunyai keterusan sedang dengan muka air tanah yang dangkal (Djaeni : 1982) hingga dipastikan bahwa sejak dahulu kerajaan Pengging meletakkan pertanian sebagai andalan kehidupan masyarakat , mengingat ketersediaan air diwilayah Pengging yang selalu melimpah dan terjadi sebelum masa interaksi budaya Pengging berlangsung. Hal ini dapat dibuktikan dengan pembentukan fragipan yang dijadikan landasan bagi struktur bangunan.

Hasil penelitian Hidrogeomorfologi menunjukkan bahwa erat kaitan antara fragipan dengan bangunan kuno karena bangunan kuno di Pengging diletakkan diatas fragipan maka kemungkinan juga keraton Pengging yang sudah hancur ini masih terpendam pada fragipanseperti halnya struktur bangunan kuno yang pernah ditemukan pada makam Bodean. Jika demikian kemungkinan besar lokasi keraton Pengging berada diantara makam Bodean dan umbul Kendat seperti yang disebut sebut pada Babad Jaka Tingkir bahwa makam adik ratu Pembayun isteri raja Pengging Handayaningrat yang bernama ratu Masrara atau rara Kendat dimakamkan berada sebelah timur kedaton Pengging.

Berdasarkan keyakinan masyarakat, kerajaan Pengging ini dibangun oleh Prabu Aji Pamasa atau Kusumowicitro dari Kediri pada tahun 901 Caka sekitar tahun 979 Masehi (Andjar Any : 1979) namun keterangan ini belum dapat dijadikan landasan sejarah kerajaan Pengging, mengingat kerajaan Kediri itu sendiri baru berdiri pada abad 11. Berdasartkan publikasi van Bemmelen (1956) dalam Verhandelingen van het Koninklijk Nederland Geologie Mijnbouw Genootschap, v. XVI, p. 20-36. Ada satu prasasti berangka tahun 1041 M tentang maklumat Erlangga di tempat pertapaannya di Jawa Timur dan prasasti ini memuat tentang kerusakan kerajaan (Mataram Hindu di Jawa Tengah) pada tahun 928 Syaka (+ 78 = 1006 M ). Dari angka tahun prasasti Kalkuta tersebut menunjukkan bahwa kerajaan Kediri belum berdiri, karena kerajaan Kediri muncul setelah kerajaan Kahuripan pecah menjadi dua yaitu Jenggala dan Kediri atas bantuan empu Bharadah.

Dari persebaran artefak yang ditemukan disekitar situs Pengging ditemukan fragmen piring dari dinasti T’ang (618 – 906 M) dan fragmen mangkok cina tipe Yueh (906-960 M). Serta fragmen lain yang dibuat pada masa dinasti Sung (960–1279 M) Jika dilihat dari persebaran fragmen keramik ini dapat dipastikan bahwa komunitas sosial budaya masyarakat Pengging sejalan dengan kehidupan masyarakat pada masa kerajaan Mataram Hindu yang didirikan oleh wangsa Sanjaya pada tahun 654 Caka (732 M).

Source: here.

Pemungut Pajak di dalam Masyarakat Jawa Kuno

Ulah Para Pemungut Pajak di dalam Masyarakat Jawa Kuno (ringkasan artikel dalam buku Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti)

Sumber penghasilan kerajaan kuno terdiri atas pajak, yaitu pajak tanah/hasil bumi, pajak perdagangan/penjualan, dan pajak atas usaha kerajinan dan denda-denda atas segala tindak pidana yang dijatuhkan di dalam sidang pengadilan. Semua itu disebut dengan istilah drawya haji, yang secara harfiah berarti “milik raja”.

Keterangan mengenai pajak perdagangan/penjualan (masamwya wahāra), usaha kerajinan (miśra) dan denda-denda atas segala tindak pidana (sukhaduḥka) dijumpai di dalam bagian prasasti yang menyebutkan status daerah sīma. Contoh ada dalam Prasasti Muñcaṅ (944 M).

Lain daripada drawya haji, kerajaan juga berhak atas buat haji, yaitu persembahan kepada raja yang dapat berupa tenaga kerja sukarela atau persembahan yang lain. Istilah lain untuk buat haji adalah gawai. Gawai sering dinyatakan dengan jumlah orang, tetapi ada kalanya dengan sejumlah uang. Orang-orang asing dan orang-orang yang mempunyai profesi tertentu juga dikenai pajak. Mereka itu disebut dengan isitilah warga kilalān yang hanya terdapat pada prasasti masa raja Dharmawaṃśa Airlaṅga.

Hal yang menarik perhatian adalah bahwa rupa-rupanya dahulu kala sudah ada catatan tentang perkiraan hasil sebidang tanah di dalam administrasi pemerintahan di tingkat pusat. Hal itu dapat pula disimpulkan dari berbagai prasasti yang menyebutkan bahwa sebidang tanah atau suatu desa yang akan ditetapkan menjadi sima berpenghasilan sekian, atau ditaksir berpenghasilan sekian. Pajak yang dihitung bukan hanya luas berbagai jenis tanah, namun juga jumlah penduduk atau sekurang-kurangnya jumlah kepala keluarga.

Demikianlah maka perumusan tentang status suatu daerah sīma di dalam pelbagai prasasti membayangkan kepada kita bahwa pajak dan pungutan-pungutan yang lain itu ditarik oleh para rāma (ketua desa) dari penduduk desa, kemudian para rama menyerahkan hasilnya kepada rakai atau pamgat yang membawahi desanya, setelah mengambil bagian masing-masing kemudian memberikan drawya haji dari daerah lungguhnya kepada raja, juga setelah menyisihkan bagian masing-masing.

Dalam pemungutan pajak pun ternyata ada banyak penyimpangan. Data tersebut dapat dilihat di Prasasti Palepaṅan (906 M), Prasasti Luītan (901 M), dan Prasasti Kinewu (907 M). Salah satu contoh yaitu Prasasti Kinewu memberikan kepada kita keterangan tambahan yang menarik, yaitu hierarki dalam pemerintahan dan prosedur pengajuan permohonan dari rakyat kepada raja. Dapat dilihat bahwa pertama-tama para pejabat desa Kinǝwu mengajukan protes kepada penguasa daerah yang membawahi desanya, yaitu Rakryān i Raṇḍaman dengan membayar sejumlah uang. Protes tersebut tidak sempat diselesaikan karena penguasa tersebut telah meninggal. Tanpa menunggu sampai ada rakai pengganti di wilayah Raṇḍaman, para pejabat desa meneruskan protesnya kepada raja dengan perantaraan pratyaya dari wilayah Raṇḍaman. Kali ini mereka harus membayar sejumlah uang yang lebih banyak dari yang dibayarkannya di tingkat watak. Di ibu kota kerajan mereka diterima oleh Saṅ Pamgat Momahumah, yaitu Pamgat Mamrata. Pejabat itulah yang mengantar mereka menghadap putra mahkota dan raja.

Sebagai singkatnya, kasus-kasus dari ketiga prasasti tersebut menunjukkan adanya penyelewengan dalam penetapan pajak. Jika rakyat tidak mengajukan protes karena tidak tahu mana ukuran luas yang dijadikan dasar penetapan pajak, atau karena tidak diberi kesempatan untuk mengajukan protes, penarik pajak atau sang nāyaka akan memperoleh keuntungan sepertiga dari jumlah yang dibayarkan oleh rakyat, karena ia menggunakan satuan tampah yang luasnya hanya 2/3 tampah haji yang baku.

Dalam ketiga kasus tersebut sebenarnya masih perlu dipertanyakan apakah para nāyaka yang menggunakan satuan tampah yang lebih kecil dari tampah haji yang baku memang sengaja mau memperkaya diri atau karena salah pengertian. Rupa-rupanya dalam ketiga kasus tersebut, para nāyaka menghitung luas sawah para rāma dengan ukuran tampah tradisional Jawa yang luasnya kira-kira sama dengan 1 bahu sekarang, sedang semestinya ia menggunakan satuan tampah haji yang didasarkan atas satuan luas dari India, yang luasnya kira-kira sama dengan 1 hektar sekarang. Jika demikian halnya maka dalam ketiga kasus itu tidak terjadi penyelewengan yang disengaja, melainkan hanya salah pengertian. Apakah tidak disebutkannya sanksi hukum terhadap para nāyaka itu merupakan petunjuk tentang kebenaran dugaan ini????Tetapi tentu orang akan bertanya mengapa justru para pejabat desa yang tahu tentang peraturan pajak tanah yang benar, sedang sang nāyaka tidak???.

Sumber :

Boechari, 2012, Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti, Jakarta: KPG. hlm:291-306

Candi Ngawen Bermetamorfosis(?)

Misteri Di Desa Ngawen, Candi Ngawen yang bermetamorfosis
Lokasi : Desa Ngawen, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang
Tipe : Bangunan Suci Budha
Masa Pembangunan : Abad ke-8 Masa Wangsa Sailendra

Didaerah Muntilan tepatnya Desa Ngawen menyimpan misteri akan peninggalan kerajaan medang dahulu di era Wangsa Sailendra, candi ini berlatar belakang agama Buddha, bangunan ini tertulis dalam prasasti Karang Tengah bertahun 824 M yaitu Venuvana (hutan bambu), terdiri dari 5 buah candi kecil dan hanya satu candi yang bisa di pugar secara “sempurna”, ekskavasi candi ini dilakukan oleh Van Erp (peneliti asal belanda) pada tahun 1920 mengawali nya dengan mengeringkan lahan sawah tempat reruntuhan candi ini berada, akan tetapi apakah pemugaran yang dilakukan Van Erp telah sesuai dengan wujud aslinya? Atau masih banyak misteri tentang wujud asli dari bangunan Candi Ngawen ini?

1. Wujud puncak candi yang mengkerucut mirip dengan bentuk bangunan candi yang beraliran Hindu.
Dalam perjalanan ke candi ngawen ini bisa ditemukan sisa sisa stupa yang berada di pinggiran besaran stupa ini apabila dirakit adalah antara 5 – 7 meter menurut juru pelihara Candi Ngawen stupa ini berukuran besar andai stupa itu diletakkan pada leher candi maka bentuk bangunan candi ini menjulang lebih tinggi dari candi yang ada sekarang ini dan bentuk stupa yang ada membuat nya tampak lebih berbentuk candi Buddha daripada yang sekarang, beberapa bukti terlihat bahwa penataaan batuan sisi tengah candi I ini dilekatkan dengan perekat dikarenakan struktur nya yang ramping maka kaidah pemugaran Candi Ngawen ini dahulu pasti tidak menggunakan batuan aslinya secara utuh tapi merekayasa bentuk terdekatnya sehingga masih banyak bahan stupa yang tertinggal tidak bisa terpasang.

2. Fungsi Jaladwara berbentuk singha
Ketika kita melihat struktur bawah candi ini maka tak luput dari pandangan mata kita jaladwara yang berbentuk singha, jaladwara sendiri berfungsi sebagai tempat mengalirnya air (talang) akan tetapi di candi ngawen ini berbentuk singha berdiri dengan lubang dimulutnya akan tetapi dalam pengamatan penulis dulu talang air ini fungsi nya bukan mengalirkan air akibat hujan akan tetapi memang berfungsi sebagai air mancur yang mengitari candi ini, bukti penguat dari hipotesis ini adalah pada waktu ekskavasi dan pemugaran candi ini dahulu ketika proses penggalian kira kira 1 meter kedalam tanah sudah mulai mengeluarkan air , hal ini didukung dengan temuan beberapa waktu lalu setelah letusan merapi tentang adanya aliran sungai purba di sekitar Candi Ngawen, dari penuturan juru pelihara candi ngawen untuk memperkuat pondasi candi terpaksa mata air di bawah candi ini di tutup (dicor) dengan semen dan dilapisi ulang dengan pasir agar pondasi candi ini kuat dan tidak ambles. bukti ini memperkaya hipotesa penulis bahwa dahulu candi ini berada di tengah air atau diliputi air dengan posisi singha sebagai tempat keluarnya mata air.

Apakah Van Erp dulu melakukan pemugaran secara tergesa-gesa atau di pengaruhi oleh bangunan-bangunan candi lain dan memperkirakan bahwa bentuknya hampir sama? Apabila sama kenapa batuan pembentuk ini masih tersisa banyak dan puzzle ini belum dapat di bentuk ulang. semua ini masih menjadi misteri dimana kelak pemelihara pemelihara dan pejuang – pejuang sejarah ini dapat merekonstruksi secara utuh bentuk bangunan Candi Ngawen.

Note Laurentia Dewi: tulisan ini adalah opini pribadi seseorang yang perlu dicocokkan kebenarannya.

Gedong Songo

Gedong Songo (Gedong = Bangunan, Songo = Sembilan , Bangunan Sembilan) adalah nama candi yang berada di bukit pegunungan Ungaran.

Candi Gedong Songo terletak pada ketinggian sekitar 1.200 DPL dengan suhu sekitar 19 – 27 °C. Lokasi Candi Gedong Songo sangat mudah di jangkau dari berbagai kota yang ada di sekitarnya. Lokasinya merupakan jalur deretan alternatif Ungaran – Temanggung. Apabila memulai dari Kota Semarang cukup ke selatan menuju Kota Ungaran – Bandungan – Gedong Songo. Bisa di tempuh dengan waktu 1 jam perjalanan. Apabila dari Yogyakarta bisa melalui Kota Ambarawa (Tugu Palagan Ambarawa) – Bandungan – Gedong Songo, waktu perjalanan sekitar 2 jam. Candi Gedong Songo yang dibangun konon pada era Wangsa Sanjaya ini terletak di lereng Gunung Ungaran, pada koordinat 110°20’27” BT dan 07°14’3” LS di desa Darum, Kelurahan Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Propinsi Jawa Tengah.

Gedong Songo berasal dari bahasa Jawa, Gedong (rumah/bangunan) dan Songo (sembilan) yang berarti Sembilan (Kelompok) Bangunan. Apakah sejak awal candi ini ada sembilan kelompok? Atau memiliki arti lain? Hmm, belum dapat dijawab. Namun saat ini hanya ada 5 komplek candi yang terlihat. Candi Gedong Songo ini banyak kemiripan dengan candi yang ada di Dieng yang berada di Kabupaten Banjarnegara (petualangan selanjutnya). Komplek candi ini di buat berderet dari bawah ke atas perbukitan mengintari kawah sumber air panas. Dimana komplek candi di Dieng juga banyak kawah air panas yang berada tak jauh dari pusat candi.

Pembuatan candi yang simetris dan berada atas bukit menunjukan perpaduan dari dua religi yaitu lokal yang menganut kepercayaan terhadap nenek moyang dan budaya hindu dimana candi sebagai tempat tinggal para dewa. Candi yang dibuat kuncup ke atas mirip dengan budaya jaman batu yaitu punden berundak-undak. Prinsipnya bawah semakin ke puncak, maka roh nenek moyang semakin dekat dengan manusia. Nah, kedua budaya ini menyatu di Candi Gedong Songo dengan mendefinisikan sebagai tempat persembahan untuk roh nenek moyang dimana tempat untuk melakukan prosesi tersebut berada di komplek candi yang berada di atas perbukitan. Arca-Arca di komplek Candi Gedong Songo yang dibuat pada abad ke 8 Masehi tidak lagi lengkap.

Arca-arca yang di jumpai hanya beberapa yang tersisa, seperti Durga (Istri Siwa), Ghanesa (Anak Siwa), Agastya (Seorang Resi) Serta dua pengawal dewa Siwa yaitu Nandiswara dan Mahakala yang bertugas menjaga pintu candi. Komplek Candi Gedong Songo sendiri di temukan oleh Loten, pada tahun 1740. Pada masa setelahnya, Rafles mulai mencatatnya dengan memberi nama gedong pitoe (tujuh) karena hanya menemukan 7 kelompok bangunan sekitar tahun 1804. Namun baru pada tahun 1925, Van Braam membuat publikasi adanya candi di sekitar perbukitan Ungaran. Lalu Friederich dan Hopermans menulis tentang Gedong Songo, dan Van Stein Calefells melakukan penelitian di sekitar Komplek Candi Gedong Songo pada tahun 1908. Sekitar tahun 1911-1912 Knebel melakukan inventarisasi semua komplek candi Gedong Songo. Pada tahun 1916, Pemerintah Belanda secara resmi mulai melakukan penelitian di komplek candi yang diserahkan tugas pada saat itu adalah oleh Dinas Purbakala Belanda. Pada tahun 1928-1929, dilakukan pemugaran candi Gedong 1. Pada tahun 1930-1932 dilakukan pemugaran pada candi Gedong 2.

Pemerintah Indonesia memulai pemugaran pada tahun 1977-1983, yang dipugar pada pada komplek candi gedong 3 , 4 dan 5. Pada saat itu yang melakukan tugas pemugaran adalah SPSP, pada saat ini namanya berubah menjadi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala. Pada tahun 2009 Pemerintah Indonesia mulai melakukan pemetaan ulang semua komplek candi Gedong Songo. Setelah masuk kita akan disuguhi dengan Candi I . Disini kalian akan mendapatkan sebuah pemandangan yang indah khas pegunungan dengan nuansa sejuk masih terasa.

Kemudian untuk menuju komplek candi II, harus ekstra kuat dan semangat. Letaknya sekitar 500 meter lebih dari komplek candi I. Pada saat ini, pengelola candi Gedong Songo membuat jalur baru yang memisahkan antara jalur Hikingers dan jalur kuda. Jalur Hikingers akan di belokkan ke kanan, melewati perbukitan dan warung makan. Beberapa Gazebo di siapkan untuk tempat istirahat para Petualang yang lelah naik ke perbukitan. Jalannya cukup bersih karena (maaf) tidak ada kotoran kuda disana-sini. Untuk jalur kuda berada di sebelah kiri yang letaknya agak berjauhan.

Setelah puas dengan komplek candi yang kedua, hanya berjarak beberapa meter ke atas. Anda akan menemukan komplek candi yang ketiga. Komplek candi yang ketiga ini cukup lengkap berjumlah 3 buah candi yang saling berdekatan. Kalau petualang pernah ke Dieng, maka akan di temukan kemiripan dengan komplek candi Arjuna di Dieng. Dengan beberapa candi yang mengerucut ke atas dan satu buah candi berbentuk kotak di depannya. Di komplek candi ketiga ini beberapa patung masih ada seperti patung Durga, Ganesa dan pengawal dewa siwa Nandiswara dan Mahakala yang berada di samping kanan kiri pintu candi.

Kemudian bila masih kuat, kita bisa melakukan perjalanan lagi menuju komplek candi keempat yang letaknya agak jauh dari komplek candi ke dua dan ke tiga. Hanya perlu berjalan beberapa menit mengintari bukit, maka akan tiba di komplek candi ke empat.

Dan candi kelima jaraknya juga tidak jauh dari tempat tersebut. Pada komplek candi yang kelima, beberapa bangunan candi nampak rusak karena sesuatu sehingga hanya sebuah candi kecil saja yang tersisa.

15337584_1347602305272586_316363579864639771_n 15289238_1347602398605910_2859299113752088998_o 15288582_1347602375272579_7161944166269173849_o 15271782_1347602385272578_1387102951004279102_o 15349625_1347601035272713_2557327686290953394_n

Souce: Unik

Para Pejabat; Pusat & Daerah

Para Pejabat Pusat dan Pejabat Daerah

Kerajaan Medang (Mataram Kuno) terdiri atas desa-desa yang disebut wanua dengan dukuh-dukuhnya yang disebut anak iṅ wanua dan sejumlah desa itu masuk ke dalam wilayah kekuasaan para pejabat pusat dan daerah (watak). Karena pejabat-pejabat itu mempunyai pembantu-pembantunya yang juga tidak dibayar dengan uang, maka para pembantu itu mempunyai ‘lungguh’ di dalam wilayah watak. Di tingkat pusat ada raja yang dibantu oleh putra mahkota (rakryān mahāmantri i hino), tiga putra raja yang lain (rakryān mahāmantri i halu, i sirikan dan i wka) dan seorang pejabat keagamaan (saṅ pamgat tiruan). Dibawah mereka ada sejumlah pejabat lagi, kalau lengkap disebut di dalam prasasti ada dua belas orang, yaitu:

  1. Rake halaran
  2. Rake palarhyang atau rake panggilhyang
  3. Rake wlahan
  4. Pamgat manghuri
  5. Rake dalinan
  6. Rake langka
  7. Rake tañjun
  8. Paṅkur
  9. Tawān
  10. Tirip
  11. Pamgat wadihati
  12. Pamgat makudur.

Tinggi rendah kedudukan mereka di dalam pemerintahan terbayang dari jumlah pasak-pasak (pasǝk-pasǝk) yang mereka terima.

Dengan perkataan lain, disamping putra mahkota, ada enam belas orang pejabat tinggi kerajaan. Ada kemungkinan bahwa sang pamgat tiruan juga anak raja atau sekurang-kurangnya anggota keluarga raja yang dekat, karena ada prasasti yang menyebutkannya sebagai kṣatriyakula. Dalam semua prasasti kelima pejabat tertinggi kerajaan itu menerima pasak-pasak yang lebih banyak dari keduabelas pejabat di bawah mereka, dengan catatan bahwa rakryān mahāmantri i hino memperoleh yang terbanyak di dalam beberapa prasasti.

Tugas masing-masing pejabat itu kurang jelas dari data prasasti. Yang agak jelas hanyalah tugas pangkur, tawān, tirip yang rupa-rupanya berurusan dengan “kas negara”. Mereka itulah yang mengurusi berbagai macam pemasukan pajak dan hasil rampasan perang (tawān=hañangan) serta hadiah dari kerajaan-kerajaan yang bersahabat. Anehnya mereka itu tidak pernah disebut dengan gelar rakai atau pamgat dan hingga sekarang tidak pernah mendengar ungkapan wanua i watak pangkur, watak tawān, dan watak tirip, kecuali di dalam prasasti tinulad, dimana dijumpai watak tirip. Juga pamgat wadihati dan pamgat makudur tampak agak jelas tugasnya, yaitu mengurusi tanah-tanah yang ditetapkan menjai sīma.

Para pejabat tinggi itu tinggal di ibu kota kerajaan. Mereka dibantu oleh patih, parujar dengan pituṅtuṅ-nya, citralekha, dan paṅuraṅ. Patih biasa mengurus masalah administrasi pemerintahan, parujar semacam “juru bicara” dan pituṅtuṅ mungkin orang yang bertugas menyiarkan hal-hal yang harus diketahui rakyat, citralekha ialah “juru tulis” dan paṅuraṅ kemungkinan besar petugas yang mengurusi perpajakan.

Para rakai dan pamgat yang merupakan penguasa daerah dan bukan pejabat tingkat pusat, mempunyai sebagai bawahan: patih, juruniṅ kanāyakān, wahuta, citralekha, dan mataṇḍa. Patih membawahi parujar, tuṅgu duruṅ dan pratyaya, tuhaniṅ kanāyakān membawahi juruniṅ wadwa rarai, juruniṅ kalula, juruniṅ maṅkarat, juruniṅ mawuat haji, dan wahuta membawahi pituṅtuṅ, wahuta lampuran dan wahuta wiṅkas wkas. Mataṇḍa adalah pejabat yang membawa cap pejabat rakai dan pamgat atau yang membawa panji-panji pejabat tersebut. Diantara beberapa jabatan yang telah disebutkan dan masih banyak lagi, hanya sepuluh nama yang sering disebut dalam prasasti. Istilah untuk pejabat desa ialah rāma ‘ayah yang terhormat’. Kesepuluh jabatan itu ialah gusti, kalaṅ atau tuha kalaṅ, wiṅkas, tuha banua, parujar, hulair, wariga, tuhālas, tuha wǝrǝh dan hulu wras. Arti dari istilah gusti hingga sekarang belum jelas. Kalaṅ atau tuha kalaṅ sering dihubungkan dengan orang-orang yang mengerjakan kayu dari hutan; tetapi ada juga kemungkinan bahwa kalaṅ atau kalaṅan berhubungan dengan lingkaran, yaitu tempat menyabung binatang untuk adu ketangkasan antar warga ataupun untuk upacara tertentu. Istilah wiṅkas berasal dari kata wǝkas yang dapat berarti “akhir”, “tujuan”, atau “pesan”; tetapi apa tugas seorang winǝkas belum dapat diketahui. Tuha banua ialah orang yang dianggap “tetua desa”, tapi bukan “kepala desa”, karena disebuah desa sering dijumpai beberapa tuha banua. Jabatan parujar sudah kita jumpai sejak di pusat kerajaan sebagai pembantu dari para pejabat tinggi; juga di daerah watak. Hulair ialah kontraksi dari istilah hulu dan air; artinya jabatan yang mengurusi pengairan di sawah-sawah desa (paṅhulu bañu). Wariga sebenarnya semacam ‘kitab primbon’ untuk mengetahui hari baik bulan baik bagi permulaan suatu pekerjaan, jadi pada jabatan ini ialah orang yang memahami ‘kitab primbon’. Tuha alas ialah orang yang ditugasi mengurus hasil perburuan di hutan, dan hasil hutan lainnya. Tuha wǝrǝh ialah petugas yang mengurusi para pemuda dan pemudi, sedang hulu wras ialah petugas yang mengurusi hasil panen padi atau lumbung padi.

Data prasasti sebenarnya masih memberi petunjuk tentang adanya para pejabat rendahan di pusat kerajaan. Pada beberapa isi prasasti disebutkan bahwa daerah yang dijadikan sīma itu tidak boleh lagi ‘dimasuki’ oleh paṅkur, tawān, tirip, patih, wahuta, rāma, nāyaka dan oleh mereka yang disebut mangilala drawya haji (yang kira-kira berkisar 28-50 orang). Menurut para sarjana, maṅilala drawya haji ialah para “pemungut pajak”. Tetapi menurut tafsir kami istilah itu kurang tepat, karena diantara kelompok itu terdapat misalnya widu maṅiduṅ (pesinden), para pandai (emas, perak, perunggu, tembaga), mereka yang mengurusi kendaraan gajah dan kuda (mahaliman, makuda), anggota pasukan pengawal raja yang bersenjatakan panah, tombak, dan gada (mamanah, magalah dan magaṇḍi), bahkan sampai kepada mamŗṣi (tukang cuci). Lebih tepat jika maṅilala drawya haji ditafsirkan sebagai “abdi istana yang tidak memperoleh daerah lunggah sebagai imbalan jasanya, tapi memperoleh gaji berupa uang”. Namun mereka lain dari apa yang ada di dalam berbagai prasasti yang disebut sebagai wadwā haji dan wadwā para putra raja, wadwā permaisuri dan para selir. Mungkin para abdi ini sama sekali tidak memperoleh “gaji” dalam bentuk uang; mereka itu tinggal di istana dalam kamar-kamar yang dibuat untuk mereka dan mendapatkan makan, minum dan pakaian.

Sumber :
Boechari.2012. Kerajaan Mataram Sebagaimana Terbayang dari Data Prasasti, dalam Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti: kumpulan tulisan Boechari. Jakarta: KPG, hlm: 183-196.

Arca: Asli/ Palsu

Seiring maraknya bisnis arca-arca kuno, tentulah ada pikiran negatif untuk menipu konsumen. Dari sejumlah perajin arca di Desa Prumpung, Magelang, diketahui ada berbagai cara untuk membuat suatu arca agar berkesan antik. Selain diberi perasan air kunyit atau air teh, arca pun harus dipendam di dalam tanah selama beberapa bulan.

Buat masyarakat awam, termasuk para arkeolog, memang terasa sulit apabila harus mengidentifikasi mana arca asli dan mana arca palsu. Apalagi jika seorang pakar hanya melihat gambarnya, tanpa mengamati detil, tekstur, atau kelenturan (plastisitas) koleksi. Namun sekadar gambaran, menurut penelitian para pakar ikonografi (pengetahuan tentang seni arca kuno), setiap arca Buddha dan Hindu sudah memiliki gaya dan ciri tertentu.

Penggambaran arca Buddha diketahui sangat sederhana. Tanpa sesuatu hiasan, hanya memakai jubah. Tanda-tanda utamanya adalah rambutnya selalu keriting, di atas kepala ada tonjolan seperti sanggul (usnisa), dan di antara keningnya ada semacam jerawat (urna).

Tokoh (dewa) mana yang dilukiskan oleh arca Buddha itu, diketahui lewat sikap tangan (mudra) dan ciri khusus lain (laksana) setiap tokoh. Agama Buddha mengenal Dhyanni-Buddha, Dhyanni-Boddhisattwa, dan Manusi-Buddha. Masing-masing berjumlah lima dan menempati empat arah mata angin pokok (Utara, Selatan, Barat, Timur) ditambah satu di pusat.

Dalam agama Hindu, arca dihubungkan dengan seorang raja yang telah wafat. Arca tersebut ditempatkan di dalam candi karena dianggap titisan dewa. Sebagai pendamping, kemudian dibuatkan beberapa arca dewa-dewi. Untuk membedakan dewa yang satu dengan dewa lainnya, maka setiap arca digambarkan dengan laksana sendiri-sendiri.

Setiap arca dewa pun memiliki ciri dan menempati lokasi tertentu sesuai dengan delapan arah mata angin, seperti halnya arca Buddha. Dengan demikian mudah diidentifikasi bila terjadi pencurian, pemenggalan, atau perbuatan negatif lainnya terhadap arca-arca kuno itu.

Dua Langgam

Umumnya arca merupakan bagian dari suatu candi. Karena terbuat dari batu, tentulah bobotnya terlalu berat. Maka agar lebih ringan, sebagai gantinya masyarakat kuno membuat arca logam yang relatif kecil untuk persembahan atau pemujaan di rumah. Justru bagi para peneliti zaman sekarang, mengidentifikasi arca logam memiliki sedikit kendala dibandingkan arca batu.

Arca logam mudah sekali diangkut ke sana ke mari, sehingga sukar ditetapkan apakah arca logam itu benar-benar diperoleh dari suatu situs arkeologi atau bukan. Kesulitan lainnya adalah menentukan masa sejarah arca tersebut, kecuali kalau ada tulisan atau angka tahun. Karena itu, perkiraan umur arca logam biasanya hanya berdasarkan pada corak atau bentuknya.

Lagi pula, umumnya kesenian India terikat oleh beberapa peraturan, meskipun peraturan-peraturan itu tidak membekukan daya cipta para seniman. Semuanya tersirat pada sejumlah kitab, seperti Silpasastra, Visnudharmottaram, dan Vastusastra (Sutjipto Wirjosuparto, Sedjarah Seni Artja India, 1956).

Keindahan seni India bisa dilihat dari bagian-bagian badan arca yang proporsional. Misalnya jarak antara mata harus sekian tala (semacam ukuran panjang). Begitu juga jarak dari mata ke hidung, hidung ke mulut, mulut ke dagu, dan seterusnya.

Selain itu, bagian-bagian arca harus menyerupai atau mendekati bentuk sesuatu yang dijadikan “patokan utama”. Beberapa persyaratan itu, harus menyerupai hewan atau tumbuhan yang dianggap fantastis. Bagian-bagian badan yang dianggap paling vital adalah muka, kening, mata, telinga, hidung, bibir, leher, dagu, dada, bahu, tangan, jari, pinggang, kaki, dan lutut.

Pada dasarnya seni pahat arca kuno di Indonesia terbagi atas dua langgam, yakni langgam Jawa Tengah dan langgam Jawa Timur. Arca langgam Jawa Tengah dinilai sangat indah, betul-betul menggambarkan seorang dewa dengan segala-galanya. Arca langgam Jawa Timur agak kaku, mungkin karena sengaja disesuaikan untuk menggambarkan seorang raja atau pembesar negara yang telah wafat (Soekmono, Sejarah Kebudayaan Indonesia 2, 1973).

Berbagai ciri pada arca juga menjadi petunjuk untuk menempatkannya dalam masa sejarah tertentu. Arca-arca dari masa Singasari, misalnya, mempunyai kekhususan dibandingkan arca-arca dari masa Majapahit. Begitu pula sebaliknya.

Mudah-mudahan dengan pengenalan singkat ini, Anda tidak tertipu oleh arca kuno yang ternyata palsu.

15350626_1105426196241257_2600374227579301316_n 15326604_1105427186241158_2987104392093190377_n 15355849_1105426832907860_3615965281808727751_n 15380622_1105426219574588_5041336502255424124_n 15285087_1105427012907842_7117874460527247868_n 15391200_1105426719574538_4520683758823270586_n 15267790_1105426186241258_8801683702303522000_n

Sumber :
Djulianto Susantio

Arca

Arca dalam bahasa Inggris disebut icon, yang berarti patung atau gambaran orang suci (John M. Echols dan Hassan Shadily, 1983: 309). Kata icon berasal dari bahasaYunani eikon yang searti dengan kata-kata Sansekerta arcã, bera, vigrha, dan pratima.Kata arcã diartikan sebagai gambaran, arca dewa. Kata bera mempunyai arti perwujudan atau arca (dewa), kata vigrha berarti perpaduan, perwujudan (dewa), dan kata pratima yang berarti perwujudan jasmani seorang dewa yang dipuja (Maulana, 1997: 2). Di dalam mempelajari tentang arca dikenal ilmu ikonografi dan ikonometri yang merupakan cabang dari ilmu ikonologi. Ikonografi mempelajari system tanda-tanda sebagai penentu identitas arca, sedangkan ikonometri adalah seni mengukur bagian badan arca dengan menggunakan ikonometer. Ikonometri merupakan hal yang sangat penting bagi seniman pembuat arca, karena merupakan ketentuan pokok yang dijadikan pedoman dalam pembuatan arca. Di India pedoman mengenai ukuran arca termuat dalam kitab Silpasastra, yaitu suatu kitab yang berisi petunjuk penting untuk pembuatan arca. Dalam Ikonometri, ukuran arca ditetapkan dengan sistem talamana, yang merupakan pedoman pengarcaan tokoh dari segi proporsi berdasarkan tala-nya. Tala adalah ukuran relatif menggunakan pedoman wajah atau telapak tangan tokoh yang diarcakan (Pramastuti, 1979: 2, 8). Dalam pembuatan arca dewa terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh si pembuat arca, termasuk bahan-bahan yang digunakan harus memenuhi ketentuan-ketentuan. Jenis-jenis bahan yang dapat digunakan untuk membuat arca di sebut dalam kitab Hayasirsa, Pancacatra, antara lain bahan tanah (mrnmayi), kayu (darughatita), logam (lohaja), permata (ratnaja), batu (sailaja), ramuan wewangian (gandhaja), bunga (kausumi) dan lain-lain. (Pramastuti, 1979: 4). Dalam menggunakan masing-masing bahan tersebut juga berlaku ketentuan-ketentuan yang tidak dapat ditinggalkan oleh seorang pembuat arca. Khusus arca dari bahan batu terdapat ketentuan antara lain : batu harus berwarna tunggal dan berkualias, yang tertanam dalam tanah atau terendam airyang berasal dari sumber air suci, permukaan batu harus rata, dan batu yang tidak mengandung butiran-butiran pasir kasar (Pramastuti,1979: 5). Jenis bahan batu yang digunakan untuk membuat arca adalah batu andesit yang sumber bahannya dari gunung, misalnya Gunung Merapi, Merbabu dan sebagainya. Batu andesit yang dipilih untuk membuat arca adalah yang berkualitas baik.

15350626_1105426196241257_2600374227579301316_n 15350525_1105699789547231_5064876882999690640_n 15350494_1105699886213888_1954141750743875261_n 15350480_1105699809547229_8431036077750940636_n 15349829_1105699899547220_8185113492724114168_n 15338745_1105699979547212_6027824950644658818_n 15327288_1105699916213885_2666142183746956306_n 15319276_1105700026213874_5397991426853539184_n

Source :
Katalog Arca Batu 2014

Deskripsi dokumen Sutasoma (by Perpustakaan Universitas Indonesia)

Sebuah deskripsi dokumen:

Lontar ini berisi teks Kakawin Sutasoma, yaitu kisah upaya Sang Sutasoma sebagai titisan Sang Hyang Buddha untuk menegakkan dharma. Sutasoma, putra Prabu Mahaketu dari kerajaan Astina, lebih menyukai memperdalam ajaran Buddha Mahayana daripada harus menggantikan ayahandanya menjadi raja. Sutasoma pergi ke hutan untuk melakukan semadi di sebuah candi dan mendapat anugerah. Kemudian beliau pergi ke gunung Himalaya bersama beberapa pendeta. Di sebuah pertapaan, beliau mendengar cerita tentang raja raksasa bernama Prabu Purusada yang gemar makan daging manusia. Para pendeta dan Batari Pretiwi membujuk Sutasoma agar membunuh Prabu Purusada. Sutasoma menolak bujukan tersebut karena ingin melanjutkan perjalanan. Beliau bertemu dengan raksasa berkepala gajah pemakan manusia dan ular naga. Keduanya takluk dan bersedia menjadi muridnya untuk mempelajari agama Budha. Sutasoma juga bertemu dengan harimau betina yang akan memakan anaknya sendiri. Dalam perkelahian ini Sutasoma mati tetapi dihidupkan kembali oleh Batara Indra. Tersebutlah sepupu Sutasoma bernama Prabu Dasabahu, berperang dengan anak buah Prabu Kalmasapada (Purusada). Anak buah Prabu Kalmasapada kalah dan minta perlindungan Sutasoma. Prabu Dasabahu yang terus mengejar, akhirnya tahu bahwa Sutasoma itu sepupunya, lalu diajak ke negerinya dan dijadikan ipar. Setelah kembali ke Astina, Sutasoma dinobatkan sebagai raja bergelar Prabu Sutasoma. Cerita dilanjutkan dengan kisah Prabu Purusada dalam membayar kaul kepada Batara Kala. Prabu Sutasoma bersedia menjadi santapan Batara Kala, sebagai ganti atas ke-100 orang raja sitaan Purusada. Mendengar permintaan raja Astina tersebut, Prabu Purusada menjadi sadar akan perbuatannya dan berjanji tidak makan daing manusia lagi. Judul luar teks yang berbunyi Sri Bajra Jnana (tulisan latin), rupanya keliru, karena sesungguhnya merupakan baris pertama dari bait pertama, yang dituangkan ke dalam pupuh Sragdhara (pupuh I). Naskah ini dikarang oleh Mpu Tantular pada jaman Majapahit (h.l47a baris ke-4). Nampak beberapa teks telah diperbaiki dengan tulisan pensil. Keterangan penulisan atau penyalinan teks ini tidak diketahui secara jelas, hanya disebutkan tempat penyalinan wesma Sri Gandi, oleh sangapatra: awirbhuja putraka siwa sudda (?). Informasi tentang daftar pupuh dari Kakawin Sutasoma ini, lihat Kakawin Sutasoma suntingan I G. B. Sugriwa, yang diterbitkan oleh toko buku Bali Mas Denpasar Bali, dan dalam Kalangwan karya P.J. Zoetmulder. Informasi mengenai teks Sutasoma ini dapat dilihat pada Pigeaud 1970: 402; MSB/L.449; Kirtya/114, 974, 910, 2352, 1148, 2290; Brandes. III: 147-157; PNRI/000 L 557; Juynboll I: 140-143.

Taken from here.

Pertumbuhan Kerajaan Melayu Sampai Masa Adityawarman (by Drs. Alian, M.hum)

Kerajaan Melayu adalah salah satu kerajaan awal di Indonesia yang terletak di Jambi. Ada dua kerajaan di Sumatera yang memiliki masa perkembangan yang relatif sama waktunya, dan memiliki wilayah kekuasaan yang yang hampir bersamaan secacra geografis, kerajaan tersebut adalah Melayu dan Sriwijaya. Sumber utama yang dapat membuka tabir kerajaan ini adalah berasal dari Cina. Menurut berita dari dinasti T’ang pada tahun 644 dan 645 sudah datang utusan Melayu ke Cina. Selanjutnya, Berita I-tsing menjelaskan bahwa pada tahun 671 ia pernah mampir di kerajaan Melayu dalam perjalanannya dari Sriwijaya ke India. Namun pada tahun 685 Melayu sudah menjadi wilayah kerajaan Sriwijaya. Setelah itu lama tidak terdengar beritanya, barulah pada tahun 1275 Kertanegara mengirimkan tentaranya ke Melayu. Pengiriman ini disebut ekspedisi Pamalayu dengan tujuan untuk membebaskan Melayu dari kekuasaan kerajaan Sriwijaya, serta menjalin kerjasama sebagai kerajaan yang berserikat dengan Kertanegara. Puncak kejayaan kerajaan Melayu terjadi pada masa raja Adityawarman yang memerintah dari tahun 1347-1375.

Kata kunci: Kerajaan Melayu, ekspedisi Pamalayu, Adityawarman

PENDAHULUAN

Tidak banyak penulis memuat tulisan tentang sejarah melayu, apa lagi di buku-buku materi pelajaran sekolah menengah hampir tidak ada, karena itu keberadaan sejarah ini sering terlupakan. Hal ini diakui banyak penulis sperti Soekmono (1992: 1) mengatakan sejarah kerajaan melayu masih diliputi kegelapan. Sampai sekarang berita tentang ini masih bersandar kepada berita-berita Cina yang sulit sekali diitafsirkan sehingga gambaran dan cerita sejarahnya yang disajikan oleh para pakar masih tidak menentu.

Hal ini kiranya cukup nampak dari apa yang tertera dalam buku Sejarah Nasional Indonesia jilid II, disebutkan bahwa dari kitab sejarah dinasti Liang kita memperoleh keterangan bahwa antara tahun 430-475 masehi beberapa kali utusan dari Ho-lo-tan dan Kan-t’o-li datang di Cina. Ada juga utusan dari To-lang, P’o-hwang. Kan-t’o-li ini terletak di salah satu pulau di laut selatan. Adat kebiasaannya serupa dengan di kamboja dan Campa. Hasil negerinya yang terutama pinang, kapas dan kain berwarna. Sedangkan dalam kitab sejarah dinasti Ming disebutkan bahwa San-fo-sai dahulu disebut juga Kan-t’o-li. Menurut G. Ferrand Kan-t’o-li di dalam berita Cina ini mungkin sama dengan Kendari yang terdpat di dalam berita dari Ibn Majid yang berasal dari tahun 1462 masehi. Karena San-fo-tsi dahulu disebut juga Kan-t’o-li, sedangkan san-fo-tsi diidentifikasikan dengan Sriwijaya, maka

Ferrand menafsirkan Kan-t’o-li letaknya di Sumatera dengan pusatnya di Palembang. Kemudian To-lang, Po-hwang disamakan dengan Tulangbawang. Dalam hubungan ini Poerbatjaraka juga menduga bahwa To-lang dan Po-hwang yang disebut di dalam sejarah dinasti Liang, merupakan sebuah kerajaan di daerah aliran sungai Tulangbawang, Lampung. Kerajaan Tulangbawang ini kemudian ditaklukan oleh kerajaan lain, karena berita Cina hanya sekali saja menyebut keajaan ini. Sementara itu J.L. Moens mengidentifikasikan Singkil Kandari dalam berita Ibn Majid dengan Kan-t’o-li di dalam kitab sejarah dinasti Liang dan Ming. Sedangkan yang dimaksud dengan San-fot-tsi ialah Melayu (Poesponegoro, 1984: 79).

Dari keterangan di atas jelaslah agak membingungkan, namun demikikan adanya kerajaan melayu ini tidak terlepas dari berita Cina sebagai sumber utama. Tidak pula dapat dipungkiri bahwa berita pertama yang dengan jelas menyebutkan nama Malayu adalah berita Cina juga. Dari kitab sejarah dinasti T’ang didapat keterangan tentang datangnya utusan dari Mo-lo-yeu di Cina pada tahun 644 dan 645 masehi. Sudah barang tentu sulit dicarikan untuk menerima keberatan dalam mengidentifikasi kata Cina ini dengan malayu (Soekmono, 1992: 2).

Berita yang yang berharga dalam mengungkap kerajaan Melayu berasal dari berita I- tsing seorang pendeta Budha dari Cina yang berlayar dari Tamralipti ke Sriwijaya, ia singgah di Malayu (Muljana, 1981:32). Sumber lain menjelaskan bahwa Pelayaran I-tsing dilakukan pada tahun 671 diberitakannya bahwa I-tsing belayar dari Canton (Cina Selatan) ke Palembang (Sumatera Selatan). Menurutnya Palembang ketika itu menjadi kedudukan raja Sriwijaya. Kemudian pada tahun 672 I-tsing berlayar dari Sriwijaya ke India dengan kapal Sriwijaya, raja Sriwijaya juga ikut berlayar, saat ini kata I-tsing Malayu adalah Sriwijaya.Dari uraian I-tsing di atas jelas bahwa dalam abad ke tujuh Melayu memegang peranan penting dalam lalu lintas pelayaran dari Canton ke daerah-daerah di sebelah barat selat Malaka. Malayu adalah nama sebua kerajaan dan pelabuhan yang terletak di suatu tempat di selat Malaka antara Sriwijaya dan Kedah, pada zaman dahulu suatu kebiasaan bahwa nama ibukota sama dengan kerajaan. Kerajaan ini terletak di sebelah selatan Kedah, menurut Boechari Malayu terletak di pantai timur Sumatera dekat sungai Asahan.

Dari beberapa sumber tidak dijelaskan nama-nama raja yang memerintah, seperti yang telah penulis kemukakan hanya waktu berdiri dan letaklah yang dapat dipahami. Setelah ditaklukan Sriwjaya pada tahun 685, untuk jangka waktu yang lama tidak dijumpai nama Melayu. Pada pertengahan abad XIII dijumpai lagi nama Melayu di dalam kitab Pararaton dan kitab Negrakertagama. Di dalam kedua sumber tersebut disebutkan bahwa pada tahun 1275 raja kertanegara mengirimkan tentaranya ke Melayu pengiriman pasukan ini dikenal dengan sebutan Pamalayu. Selain itu dijelaskan dalam beberapa sumber bahwa Kerajaam Melayu mengalami puncak kejayaan pada masa raja Adityawarman.

Dari uraian di atas permasalahan pokok yang akan dibahas dalam makalah ini adalah Kerajaan Melayu sejak pertumbuhan sampai masa Adityawarman. Dari tema pokok ini akan diuraikan tentang: sejarah melayu, kerajaan Melayu dan swriwijaya, ekspedisi Pamalayu serta kerajaan Melayu pada masa raja Adityawarman. Semua ini akan penulis uraikan dengan menggunakan metode kepustakaan (Library Research), hasil kajian pustaka tersebut disusun dalam rangkaian sistematis sehingga terwujud tulisan deskriptif analitik.

KERAJAAN MELAYU

Seperti telah diuraikan pada bagian pendahuluan bahwa tabir pembuka adanya kerajaan Melayu di pantai timur Sumatera tidak terlepas adanya berita Cina. Pada masa awal (sebelum abad ke IV masehi) berita-berita Cina mengenai daerah ini masih sangat langkah. Menginjak abad ke V keterangan mengenai Asia Tenggara khususnya tentang wilayah sekitar selat Malaka, mulai meningkat dan menunjukan bahwa berita tersebut berasal dari pengunjungnya sendiri. Menurut Lapian hal ini membuktikan bahwa pelayaran orang Cina ke daerah ini semakin banyak, dan mencerminkan pula keramaian pelayaran di kawasan ini yang semakin meningkat. Jika sebelumnya pelayaran Cina dan orang asing lainnya dihubungkan dengan perdagangan antara negeri Cina dengan India dan kawasan Asia Barat, kawasan ini hanya berperan sebagai tempat singgah dalam jalur perdagangan masa kuno yang dikenal sebagai jalur sutra (Lapian, 1992: 4).

Berikut ini beberapa berita Cina yang dapat menjadi rujukan tentang keberadaan kerajaan Melayu, pertama berasal dari kitab sejarah dinasti T’ang didapatkan keterangan adanya utusan dari melayu datang ke Cina pada tahun 644 dan 645, jika ini terjadi dapat dikatakan ketika itu kerajaan Melayu sudah menancapkan kekuatan dan kekuasaan sebagai

kerajaan yang telah menjalin hubungan dengan bangsa luar. Kedua, berita yang lebih menarik dan lebih jelas berasal dari kisah perjalanan I-tsing, seorang pendeta Budha dari Cina yang pernah tinggal di Sriwijaya cukup lama. Dalam perjalanannya dari Kanton di Cina ke Nagapattam di India dalam tahun 671/672 ia singgah dulu di She-li-fo-she untuk belajar bahasa sanskerta selama enam bulan. Dari sini ia menuju Mo-lo-yeu, di mana ia tinggal selama dua bulan, untuk kemudian meneruskan perjalanannya ke Chieh-cha (Kedah) dan selanjutnya ke India. Dalam perjalanan pulangnya pada tahun 685 ia singgah lagi di Mo-lo- yeu, “yang telah menjadi She-li-fo-she”, selama enam bulan. Kisah perjalanan I-tsing ini memberi gambaran bahwa melayu adalah tempat persinggahan yang cukup penting, karena tidak dilewati begitu saja, baik dalam pelayaran dari Cina ke India maupun sebaliknya. Adapun letaknya dari bandar Melayu itu, kiranya dapat disimpulkan dari keterangan mengenai arah pelayaran yang diceritakan I-tsing. Pelayaran dari Sriwijaya ke melayu memakan waktu lima belas hari, dan demikian juga dari Melayu ke Kedah. Hanya saja dari melayu ke Kedah orang harus berganti arah (Soekmono, 1992: 2-3).

Menurut Coedes, penentuan letak kerajaan Melayu secara tepat sudah bertahun- tahun lamanya menjadi pokok pembicaraan. Apakah melayu itu ditempatkan di pantai Sumatera sebelah barat atau sebelah timur, ataupun di bagian selatan semenanjung Melayu. Namun demikian, bagaimanapun juga kesaksian musafir I-tsing menjadi petunjuk bahwa letak kerajaan melayu dekat dengan Che-li-fo-che (nama yang dipakai bangsa Cina untuk menyebut kerajaan Palembang sebelum dipakai nama San-fo-tsi). Berkat sebuah pasal dalam tulisan I-tsing, pencaplokan melayu oleh Che-li-fo-che dapat ditentukan waktunya yaitu antara tahun 672-675 (Coedes, 1989: 10). Dalam memoir I-tsing yang menyinggung adanya kerajaan Melayu, yang kemudian menjadi bagian dari kerajaan Sriwijaya dan terletak antara Sriwijaya dengan Kedah. Selanjutnya I-tsing menuliskan negara-negara di laut selatan yang memeluk agama Budha, terutama aliran Hinayana, di antaranya menurut I-tsing melayu. Menyimak dari keterangan I-tsing maupun catatan Cina lainnya, kerajaan Melayu yang dikunjungi I-tsing tahun 672 dalam pelayaraanya ke Nalanda terletak di dekat sungai Batanghari, sama dengan kota Jambi sekarang. Dengan kata lain dalam abad ke-7 kota Jambi bernama Melayu. Nama Jambi baru muncul pada abad ke 9 tepatnya pada tahun 853 masehi (Hanafiah, 1992:1).

Pendapat lain mengenai letak kerajaan Melayu dikemukakan oleh Boechari, ia juaga menganalisa perjalanan I-tsing dari Sriwijaya ke India, terutama perjalanan dari Melayu ke Kedah. Dalam berita I-tsing disebutkan bahwa setelah sampai di melayu, pelayaran berubah arah untuk menuju Kedah. Lebih lanjut Boechari mengatakan Melayu itu letaknya di sebelah selatan Kedah dan pelayaran ke Kedah memakan waktu lima belas hari, seperti halnya pelayaran Sriwijaya ke Melayu. Oleh karena itu Melayu ini haruslah terletak di tengah perjalanan Sriwijaya (di daerah Batang Kuantan) ke Kedah, yaitu kira-kira tiga derajat di sebelah utara khatulistiwa, di pantai timur Sumatera dekat sungai Asahan atau di pantai barat Malaysia dekat Port Swettenham. Tetapi dalam hal ini ia lebih cenderung untuk menempatkan Melayu di panttai timur Sumatera, sebab I-tsing harus merubah arah pelayarannya untuk mencapai Kedah (Pooesponogoro, 1984: 82-83).

Penulis lain yang telah mencoba merumuskan letak kerajaan Melayu adalah Saudagar Fachruddin. Ia mengungkapkan isi perasasti Amoghapasa yang bertarik 1286 masehi, disebutkan bahwa sebuah kerajaan Suwarnabhumi sebuah tempat Dharmasraya serta negeri melayu. Dengan memperhatikan isi prasasti Amoghapasa, yang ditemukan di Jambi serta geomorfologi kawasan Jambi maka kawasan pedalaman Jambi adalah kawasan akhir kerajaan Budha di Jambi. Tumbuh dan berkembangnya kerajaan Melayu di Jambi tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan Agama Budha di daerah ini. Pengaruh Agama Budha masuk ke daerah Jambi diperkirakan sekiatar awal abad I masehi, melalalui pantai timur Jambi dan menyusuri sungai Batanghari (Saudagar, 1992: 16-17).

Pendapat yang sama dikemukakan oleh Saragi (1977: 15) dijelaskan sejak abad I masehi bangsa Indonesia telah berhubungan dengan dua pusat kebudayaan di Asia yaitu India dan Cina. Hubungan dengan Cina kebanyakan berkisar dalam soal perdagangan, sedangkan hubungan dengan India selain dalam soal perdagangan juga dalam kebudayaan. Hubungan pelayaran dan perdagangan yang timbal balik antara India dengan Indonesia bergerak sejalan dengan proses saling mempengaruhi dalam kebudayaan. Proses ini berlangsung dalam waktu yang lama sehinnga lambat laun bangsa Indonesia menerima kebudayaan India karena dasar kebudayaan India dan Indonesia ketika itu banyak yang sama. Bila memperhatikan sisa peninggalan umat Budha di daerah Jambi berupa Candi, arca, dan situs purbakala ternyata Agama Budha memiliki sejarah yang panjang,

perkembangan agama Budha di Jambi mengalami enam masa, yaitu masa pertumbuhan, perkembangan, masa jaya, menurun dan masa tengelam dan muncul kembali.

KERAJAAN MELAYU DAN SRIWIJAYA

Menurut Budi Utomo ( 1992: 23), ada dua nama untuk menyebut kerajaan yang terdapat di Sumatera, Kedua nama tersebut mengacu kepada nama Sriwijaya. Nama itu adalah Shih-li-fo-shih dan San-fo-tsi dikenal oleh para pakar sejarah dan arkeologi sebagai nama dari kerajaan Sriwijaya sebelum abad ke-9 masehi dengan pusatnya di Palembang. Setelah Sriwijaya memindahkan ibukotanya ke Jambi, penyebutan berubah menjadi San-fo- tsi. Lebih lanjut ia mengatakan, untuk nama kerajaan melayu, berita Cina telah telah menyebutkannya dengan nama Mo-lo-yeu, seperti yang diberitakan oleh I-tsing. Antara Melayu dan Sriwijaya agaknya terjadi suatu persaingaan di mana kerajaan yang terlebih dahulu adalah kerajaan Melayu, yaitu pada tahun 644-645 masehi. Keberadaan kerajaan ini sudah diakui dengan diterimanya utusan melayu ke Cina.

Di dalam beberapa sumber dapat diakui bahwa antara kerajaan Melayu dan Kerajaan Sriwijaya sering membingungkan. Kerancuan-kerancuan ini terjadi dalam hal kronologi dan wilayah kerajaan. Seperti dimaklumi kerajaan Melayu dan kerajaan Sriwijaya memiliki masa perkembangan yang relatif sama waktunya, dan dan memiliki wilayah kerajaan yang hampir bersamaan secara geografis. Dari sumber-sumber tertulis yang ada, terutama berita Cina, dapat diketahui suatu fase dalam sejarah kerajaan Melayu yang merupakan fas e pendudukan oleh Sriwijaya. Fase pendudukan ini pada suatu ketika berkahir, dan kerajaan Melayu merdeka kembali. Dengan demikian dapat diketahui bahwa ada tiga fase delam sejarah perkembangan kerajaan Melayu, yaitu: fase I adalah fase awal, sekitar pertengahan abad ke-VII atau tahun 680 masehi. Fase ke II, masa pendudukan kerajaan Sriwijaya, kejadian ini sekitar tahun 680 sampai pertengahan abad ke-11. Fase ke III, adalah masa akhir kerajaan Melayu, sekitar pertengahan abad ke-11 sampai akir abad ke-14 dan awal abad 15 ( Djafar, 1992: 25).

Sehubungan dengan adanya tiga fase perkembangan kerajaan Melayu terebut, timbul masalah terutama yang berhubungan dengan fase ke II, masa pendudukan kerajaan Sriwijaya. Demikian juga masalah wilayah baik kerajaan Melayu maupun kerajaan Sriwijaya. Batasan keruangan dan kronologinya masih belum jelas, pergeseran kekuasaan

dapat saja menyebabkan perubahan dalam tata ruang wilayah kekuasaan, dan hal ini dapat pula menyebabkan salah satu sebab terjadinya kemungkinan pergeseran pusat kekuasaan dari suatu tempat ke tempat yang lain. Gejalah ini terjadi dalam sejarah kerajaan Melayu.

Antara kerajaan Melayu dan Sriwijaya selalu terjadi persaingan dan satu sama lain saling mendominasi. Suatu saat, ketika Sriwijaya lengah Melayu bangkit kembali dengan mengirimkan utusannya kembali ke Cina. Seperti yang terjadi sekitar pertengahanabad ke-II masehi, ketika kerajaan Sriwijaya lemah sebagai akibat dari serangan Cola, Melayu memanfaatkan kesempatan untuk bangkit kembali. Sebuah prasasti yang ditemukan di Srilangka menyebutkan, bahwa pada masa pemerintahan Vijayabahu di Srilangka (1055- 1100, pangeran Suryanarayana di Malayapura (Melayu) berhasil memegang tampuk pemerintahan di Suwarnapura (Sumatera).

Melayu merupakan sebuah kerajaan yang diangggap penting. Eksistensi kerajaan ini selalu diakui oleh beberapa kerajaan. Sebuah kerajaan besar di Nusantara yang mempertahankan keberadaannya sebagai kerajaan, seperti halnya kerajaan Srwijaya dan Majapahit. Dalam kitab Negarakertagama menyebutkan Melayu labih dahulu dan menyebutkan sebagai sebuah negara terpenting dari sebuah negara bawahan Majapahit. Wilayah kekeuasaan kerajaan ini meliputi seluruh daratan pulau Sumatera. Beberapa daerah yang merupakan “bawahan” Melayu seperti Jambi, Dharmashraya, Kandis dan Minangkabau berlokasi di daerah Sungai Batanghari. Karena disebutkan yang pertama, agaknya Jambi meruakan tempat yang penting. Pada waktu itu mungkin merupakan sebuah bandar yang penting dan bekas ibukota kerajaan. Pada masa Majapahit, ibukota kerajaan Melayu sudah berlokasi di Dharmashraya yang lokasinya di daerah hulu sungai Bantanghari (Budi Utomo, 1992: 24).

Menurut Lapian selain informasi I-tsing, berita Cina yang penting juga tentang kerajaan Melayu dan Sriwijaya adalah berasal dari Yi-Jing dari abad ke VII, ia menyebutkan pula nama-nama tempat lain di Nusantara, hal ini menunjukan pengetahuan mereka tentang kepulauan Indonesia telah meluas sampai ke kawasan timur. Ada beberapa tempat yang disebut di samping Sriwijaya dan Melayu, misalnya Po-lu-shi (Barus), He-ling, Po-li (beberapa pakar ada yang menyebut nama ini berada di Jawa dan di Bali), serta Fo-shi-bu- luo yang diperkirakan berada di Kalimantan Barat. Sehubungan dengan nama Fo-shi-bu-luo

dapat ditarik kesimpulan bahwa kawasan ini agaknya telah masuk dalam orbit shi-lifo-shi atau Sriwijaya sebagaimana terdapat kemiripan nama. Selama kira-kira empat abad kawasan ini dikuasai oleh kedatuan Srwijaya, akan tetapi sejak abad ke-II dominasinya atas pelayaran di sini mulai mendapat tantangan dari bebrapa kekuatan tandinggan. Di sebelah timur telah muncul kekuataan baru di bawah Airlangga, sedangkan di sebelah barat ada tantangan dari kerajaan Cola di India Selatan. Sekitar tahun 1024-1025 armada Cola menyerang Srriwijaya. Masa kekacauan yang terjadi sesudahnya, memunculkan berbagai kekuatan baru di kawasan ini (Lapian, 1992: 4).

Setelah kerajaan Sriwijaya mendapat serangan-serangan dari musuh, kekuatan Sriwijaya yang tadinya berpusat di Palembang, kini beralih ke Jambi, namun kedudukannya sebagai kekuatan tunggal tidak lagi dapat dipulihkan seperti sediakala, malahan di beberapa tempat mulai muncul kekuatan baru yang makin mandiri sehingga makin melemahkan kekuatan pusatnya. Pada abad ke XIII wilayah Jambi nampaknya berada di bawah pengaruh Kertanegara.

EKSPEDISI PAMALAYU

Di dalam kitab Pararaton dan Negarakertagama disebutkan bahwa pada tahun 1275 raja Kertanegara mengirimkan tentaranya ke Malayu, pengiriman pasukan ini dikenal dengan sebutan Pamalayu. Dijelaskan bahwa raja Kertanegara adalah sorang raja yang besar. Pada waktu Kertanegara naik menjadi raja tahun 1268-1292, keadaan di Nusantara sedang mengalami pergeseran politik. Di India timbul dengan jayanya kesultanan Delhi, di Tiongkok muncul dynasti Yuan dengan kaisarnya Kublai Khan, raja ini menginginkan agar daerah di Asia Tenggara termasuk pulau Jawa mengakui dan tuduk di bawah kekuasaannya. Keadaan politik ini telah memperkuat kemauan Kertanegara bergerak mempersatukan Nusantara. Utusan (duta) Kubilai Khan yang diutus ke pulau Jawa bernama Meng-ki disuruh pulang oleh Kertanegara dengan kehilangan muka, tindakan ini menyebabkan Kubilai Khan marah dan mempersiapkan tentara ekspedisi menyerang Kertanegara. Setelah keadaan di pusat pemerintahan selesai diatur maka mulailah Kertanegara melangkah mengambil tindakan untuk merealisasi cita-citanya. Kertanegara mengirim ekspedisi Pamalayu tahun 1275, dibawah pimpinan Kebo Anabrang. Tujuannya adalah menolong membangkitkan Melayu membebaskan diri dari Sriwijaya dan sekaligus jadi anggota perserikatan. Sebagai

tanda persahabatan tentara ekspedisi juga membawa tiruan patung Ranggawuri (ayak Kertanegara) dari candi Jago. Sekarang patung itu terdapat di Jambi Hulu, sejak ini Melayu bangkit jadi kerajaan besar di Sumatera, sedang Sriwijaya semakin mundur (Saragih, 1977: 32-33).

Upaya upaya menggalang pertahanan bersama ini rupaya berhasil baik sehingga dalam tahun 1286 raja Kertanegara mengirimkan patung Amoghpasa Lokeswara beserta 14 dewa pengiringnya untuk ditempatkan di Melayu. Prasati yang dipahatkan pada lapik arca itu lebih lanjut menerangkan, bahwa penempatan arca tersebutt di Dharmacraya dipimpin oleh 4 orang pejabat tinggi. Pemeberian hadiah itu membuat seluruh rakyat Melayu sangat gembira terutama rajanya Tribhuawana Maulanawarman. Patung Amoghapaca beserta prasastinya, yang dtemukan kembali di dekat sungai Langsat di daerah hulu sungai Batanghari, merupakan bukti nyata yang pertama berkenaan dengan adanya kerajaan Malayu. Daerah penemuannya itu sudah barang tentu menjadi petunjuk yang luar biasa pentingnya untuk mengarahkan pencarian wilayah kerajaan Melayu. Dari segi lain, lokasi itu jauh jauh di pedalaman bagian tengah Sumatera menimbulkan pemikiran berkenaan dengan cara pengangkutan pada masa itu. Pengiriman patung batu yang demikian besarnya dari Jawa Timur ke daerah Sijunjung itu tentunya hanya dapat diperkirakan kalau dilakukan melalui jalan air (Soekmono, 1992:5).

Setelah peristiwa Pamalayu, lama tidak diperoleh keterangan lainnya mengenai keadaan di Sumatera, baru kemudian pada masa pemerintahan Tribhuwantottunggadewi (1328-1350) diperoleh keterangan tentang daerah Melayu. Rupanya kerajaan Melayu ini muncul kembali sebagai pusat kekuasaan di Sumatera, sedangkan Sriwijaya setelah adanya ekspedisi Pamalayu dari raja Kertanegara, tidak terdengar lagi beritanya.

KERAJAAN MELAYU PADA MASA ADITYAWARMAN

Dari parasasti-prasasti yang banyak ditemukan di daerah Minangkabau, disebutkan bahwa pada pertengahan abad ke XIV ada seorang raja yang memerintahh di Kanakamedinindra (raja pulau emas) yang bernama Adityawarman, anak dari Adwayawarman. Nama ini dikenal dikenal juga di dalam prasasti yang dipahatkan pada arca Mansjuri di candi Jago dan berangka tanhun 1341. Di dalam prasasti ini disebutkan ia bersama-sama dengan Gajah Mada telah menaklukan pulau Bali.

Kerajaan Melayu mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Adityawarman dengan pusat kekuasaannya di daerah hulu Batanghari. Pada masa itu logam emas dimanfaatkan semaksimal mungkin, seperti dipakai sebagai bahan lempengan emas, benang emas, lembaran emas bertulis, kalung dan arca. Meskipun kerajaan berlokasi di daerah hulu Batanghari di wilayah Minangkabau, Adityawarman tidak pernah menyebut daerah kekuasaannya sebagai kerajaan Minangkabau, ia menamakan dirinya sebagai kanakamedinindra, yang berarti penguasa negeri emas. Dengan demikian ia menganggap dirinya sebagai penguasa daerah-daerah yang dulunya menjadi daerah kekuasan kerajaan Srwijaya (Budi Utomo, 1992: 26-27).

Adityawarman adalah putra Majapahit keturunan Melayu, sebelum menjadi raja Melayu ia pernah menjabat kedudukan wrddha-mantri di Majapahit dengan gelar Aryadewata pu Aditya. Setelah ia berkuasa di Sumatera ia menyusun kembali kerajaan yang diwariskan oleh Mauliwarmadewa. Pada tahun 1347 Adityawarman meluaskan daerah kekuasaannya sampai ke daerah Pagarruyung, ia mengangkat dirinya menjadi seoranng maharajadhiraja dengan gelar Udayadityawarman atau Adityawarmodaya pratapaparakramarajendra Maulimaliwarmadewa. Tetapi meskipun demikian Adtyawarman masih tetap menganggap dirinya sebagai sang mantri terkemuka dari Majapahhit. Dari prasasti-prasastinya dapat diketahui bahwa Adityawarman adalah penganut agama Budha dan menganggap dirinya sebagai penjelmaan Lokeswara. Anggapan ini sesuai dengan sistem kalacakra seperti halnya raja-raja Majapahit. Adityawarman memerintah hingga sekitar tahun 1375, sebagai penggantinya adalah anaknya sendiri yang bernama Anangwarman, hanya tidak diketahui dengan jelas kapan ia menggantikan kedudukan ayahnya itu (Poesponegoro, 1984:85).

Meskipun banyak kekurangan dalam pengetahuan tentang raja Adityawarman, akan tetapi menurut Casparis ada dua hal yaang dapat menekan pentingnya peranan Adityawarman. Pertama, raja itu memerintah pada masa kerajaan Majapahit telah mencapai puncak kejayaannya yaitu saat Hayam Huruk berkuasa. Mungkin sekali Adityawarman mengakui kewibawaan kerajaan Majapahit, tetapi hal itu tidak ternyata dari prasastinya, yang tidak pernah menyebutkan ketergantungan Adityawarman dari Majapahit, bahkan nama pulau Jawa pun belum diketemukan dalam prasasti-prasasti raja itu. Kedua, Adityawarman memerintah di bagian pulau Sumatera pada masa bagian utara pulau itu

sudah beragama Islam sejak setengah abad, sebagaimana ternyata dari cerita perjalanan Marco Polo pada tahun 1292, hal ini diperjelas lagi dari batu nisan Sultan Malik Al-Saleh di Samudera Pasai, berangka tahun 1297. Beberapa tahun lagi ternyta bahwa Agama Islam sudah berakar di Trengganu di pantai Timur Semenanjung Malaka. Memang benar bahwa ada perselisihan mengenai tahun Terengganu tersebut, tetapi Casparis sepenuhnya setuju dengan Profesor Fatimi bahwa batu tulis itu berangka tahun 702 A.H atau tahun 1303 masehi (Casparis, 1992: 2).

Adityawarman insaf bahwa ketika ia berkuasa di Sumatera, terlebih dahulu pengaruh Islam telah berkembang di bagian utara dari wilayah kekuasaannya. Perkembangan ini merupakan tantangan bagi Adityawarman. Pada umumnya ajaran Budha menekankan pada sikap kesabaran dan perdamaian sesama manusia. Namun pada masa Adityawarman ajaran Budha yang dianutnya menjadi agresif, seakan-akan ingin memusnahkan lawanya. Hal ini dapat dilihat dari patung Bhairawa yang tingginya 4,41 meter. Di tangan kanannya dipegang pisau besar dengan sikap ingin memakainya, sedangkan di dasar patung dhiasai tengkorak- tengkorak. Dapat diduga bahwa fungsi patung tersebut tidak terbatas kepada agama dalam arti sempit, melainkan merupakan pengancaman terhadap bahaya yang mungkin datang dari sebelah timur.

PENUTUP

Melayu merupakan sebuah kerajaan yang wilayah kekuasaannya meliputi seluruh daratan pulau Sumatera, dari ujung barat laut hingga ujung tenggara. Beberapa daerah yang merupakan bawahan Melayu seperti: Jambi, Dharmashraya, Kandis dan Minangkabau, dari temapt-tempat itu Jambi bandar yang paling penting yang mungkin menjadi ibu kota kerajaan. Kemudian sekitar abad ke-13 di sekitar Rambahan (Sumatera Barat). Munculnya kerajaan ini, menurut berita Cina sudah ada utusan dari Melayu ke Cina pada tahun 644 dan 645. Berita Cina yang lain berasal dari I-tsing yang mampir di Melayu pada tahhun 671, pada tahun 685 wilayah ini sudah menjadi kekuasaan Sriwijaya. Nama Melayu kembali muncul setelah Kertanegara melakukan ekspedisi Pamalayu pada tahun 1275, dengan demikian kedudukan Melayu bertambah kuat karena adanya perserekatan dengan Jawa Timur. Puncak kejayaanya terjadi pada masa raja Adityawarman (1347-1375). Pada masa ini Agama Budha berkembang dengan pesat. Adityawarman adalah seorang pembesar dari

Sumatera, yang singga beberapa lama di Jawa Timur Istana Majapahit. Ia dilahirkan di dalam keluarga Rajapatni: putri Kertanegara dan permaisuri Kertarajasa yang keempat.

DAFTAR PUSTAKA
Budi Utomo Bambang. 1992. Batanghari Riwayatmu Dulu.

Jambi: Kerjasama Pembda Tingkat I Propinsi Jambi Dengan Kantor Wilayah

Depdikbud Propinsi Jambi.
Casparis JG De. 1992. Kerajaan Malayu dan Adityawarman.

Jambi: Kerjasama Pembda Tingkat I Propinsi Jambi Dengan Kantor Wilayah

Depdikbud Propinsi Jambi.
Coedes.G dan Damais L.Ch. 1989. Kedatuan Sriwijaya Penelitian Tentang Sriwijaya.

Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Djafar Hasan.1992. Prasasti Masa Kerajaan Malayu Kuno Dan Beberapa Permasalahan.

Jambi: Kerjasama Pembda Tingkat I Propinsi Jambi Dengan Kantor Wilayah

Depdikbud Propinsi Jambi.
Hanafiah Djohan. 1992. Pulau Berhala, Orang Kaya Itam Dan Si Gunjai Suatu Metos

Ideologi Dan Politik Jambi. Jambi: Kerjasama Pembda Tingkat I Propinsi Jambi

Dengan Kantor Wilayah Debdikbud Propinsi Jambi.
Lapian, A.B. 1992. Jambi Dalam Jaringan Pelayaran Dan Perdagangan Masa Awal.

Jambi: Kerjasama Pembda Tingkat I Propinsi Jambi Dengan Kantor Wilayah

Depdikbud Propinsi Jambi.
Muljana Slamet. 1981. Kuntala, Sriwijaya dan Suwarnabhumi. Jakarta: Idayu Poesponegoro Marwati Djoened, Notosusanto Nugroho. 1984. Sejarah Nasional

Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka.
Saragih. R.H, Sirait J, Simamora.M. 1977. Sejarah Nasional Indonesia I. Medan: Monora Saudagar Fachruddin. 1992. Perkembangan Sejarah Melayu Kuno Di Jambi.

Jambi: Kerjasama Pembda Tingkat I Propinsi Jambi Dengan Kantor Wilayah

Depdikbud Propinsi Jambi.
Soekmono. 1992. Rekonstruksi Sejarah Melayu Kuno Sesuai Tunutan Arkeologi.

Jambi: Kerjasama Pembda Tingkat I Propinsi Jambi Dengan Kantor Wilayah Depdikbud Propinsi Jambi.

Taken from here.

This site is protected by wp-copyrightpro.com