Prasasti Emas

Prasasti berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti puji-pujian. Pengertian prasasti berkembang menjadi inskripsi atau suatu tinggalan bertulis yang dituliskan pada benda keras, seperti batu, logam, maupun kayu. Isi dari prasasti biasanya berupa peringatan akan suatu kejadian, pada masa Jawa Kuna, prasasti umumnya berisi tentang penetapan tanah perdikan (sima), beberapa prasasti juga berisi tentang keputusan pengadilan (jayapatra/ jayasong), utang-piutang (suddhapatra), kemenangan (jayacikna), kutukan, mantra, angka tahun, dan lain-lain.

Prasasti emas koleksi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Daerah Istimewa Yogyakarta, seluruhya merupakan bagian dari peripih sebuah candi. Berdasarkan isinya, prasasti emas koleksi BPCB Daerah Istimewa Yogyakarta, dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu:

  1. Prasasti Berisi Mantra

Prasasti emas yang berisi mantra, umumnya banyak ditemukan sebagai bagian dari peripih sebuah bangunan suci atau candi. Mantra yang dituliskan biasanya mengacu pada suatu dewa tertentu, yang berkaitan dengan bangunan suci di mana dewa tersebut dipuja atau dimuliakan, sebagai contoh ialah Prasasti emas dari Situs Boko, yang berbunyi: “om rudra ya nama swaha”, di mana mantra tersebut menyebut tokoh Dewa Rudra (salah satu aspek Dewa Siwa), sehinga dikaitkan dengan bangunan suci/candi Hindu, berbeda jika adanya prasasti yang bertuliskan mantra Buddha, seperti formula “Ye Te” mantra.

Prasasti emas dari Situs Boko, yang berbunyi: “om rudra ya nama swaha”. Ditemukan di Kraton Ratu Boko, Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan,
Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada 26 Juni 1989.

2. Prasasti Berisi Nama Dewa

Prasasti emas yang berisi nama-nama dewa, umumnya banyak ditemukan sebagai bagian dari peripih sebuah bangunan suci atau candi. Temuan tersebut dapat mengindikasikan latar belakang keagamaan sebuah bangunan suci atau candi. Pada candi Hindu, umumnya ditemukan prasasti bertuliskan dewa-dewa dari pantheon Hindu, seperti dewa-dewa lokapala, misalnya seperti pada temuan prasasti emas dari Candi B (Garuda) Kompleks Candi Prambanan. Sedangkan pada bangunan suci atau candi berlatar belakang agama Buddha, ditemukan tulisan dewa-dewi dari Agama Buddha, seperti pada temuan Situs Bedingin, yang tertulis nama Dewi Tara.

Lempeng Prasasti Emas Candi Garuda Prambanan 1 bertuliskan huruf Jawa Kuna berbunyi “riniti”. Riniti atau Nirŗti (Nirruti, Nirriti, Nairŗta, Nairŗti) adalah salah satu dewa lokapala (astadikpalaka). Ditemukan di bagian belakang dinding sumuran Candi Garuda, Kompleks Candi Prambanan pada Juni 1991.

3. Prasasti Berisi Aksara

Prasasti emas yang berisi aksara, umumnya tertulis aksara suci (bijaksara) berupa huruf “om”, “ah”, “hrih”, “ang”, “ung”, “mang”, dan sebagainya. Salah satu temuan menarik dan langka yang menjadi koleksi BPCB D.I. Yogyakarta ialah temuan prasasti emas dari Sumberwatu, Sambirejo, Sleman, DIY, di mana prasasti ini terdapat 33 susunan berurutan aksara Jawa Kuna, yang diulang sebanyak dua kali. Temuan prasasti ini merupakan satu-satunya temuan prasasti di Indonesia yang terdapat seluruh aksara Jawa Kuna yang ditulis secara lengkap.

Lempengan Prasasti Emas Sumberwatu bertuliskan urutan abjad Jawa Kuna sebanyak 33 aksara
di mana pada lempeng prasasti ini dituliskan sebanyak dua kali. Adapun aksara tersebut ditulis dua kali yaitu : “ka, kha, ga, gha, na, ca, cha, ja, jha, ña, ta, tha, da, dha, na, ta, tha, da, dha, na, pa, pha, ba, bha, na, ya, ra, la, wa, ça, sa, sha, ha”.

4. Prasasti Berisi Angka

Prasasti berisi angka termasuk prasasti yang langka, di mana prasasti yang memuat angka biasanya terdapat pada prasasti batu, yang menjadi komponen dari sebuah bangunan atau arca, seperti temuan pada Candi Sukuh, misalnya memuat angka tahun. Prasasti emas koleksi BPCB D.I. Yogyakarta, yang berasal dari Candi Barong, memuat angka 5 6 8 yang diulang sebanyak tiga kali, kemungkinan angka ini merupakan angka tahun saka 865 Saka atau 943 Masehi.

Prasasti Emas Candi Barong bertuliskan aksara dan bahasa Jawa Kuna, yang berisi tiga aksara yang diulang sebanyak tiga kali. Ditemukan di Candi Barong, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, DIY, pada Juni 1999.

Kandungan emas pada prasasti emas koleksi BPCB D.I. Yogyakarta, umumnya mengandung tiga unsur logam pada setiap artefak, yaitu logam emas (Au), logam perak (Ag), dan Logam tembaga (Cu). Hal ini berdasarkan data uji kadar emas dengan menggunakan metode nondestructive test, yaitu dengan menggunakan alat X-ray Fluorosence (XRF) untuk analisis precious metal. Adapun kandungan emas pada koleksi prasasti yaitu:

Kadar emas (Au) 67,21 % – 73,69 %  Rata-rata 70,45 %

Kadar perak (Ag) 6,03 % – 27,15 %  Rata-rata 16,59 %

Kadar tembaga (Cu) 2,77 % –   4,02 %  Rata-rata   3,39 %

Dengan demikian, rata-rata prasasti emas memiliki kadar 16,90 karat.

Sumber:

BPCB DIY. 2015. Katalog Koleksi Emas BPCB DIY. Yogyakarta: BPCB DIY (taken from here).

Membangun Puing-Puing Candi Prambanan

MEMBANGUN PUING-PUING CANDI PRAMBANAN
(diambil dari buku Membangun Kembali Prambanan hal. 20-26, BP3 Yogyakarta, 2009)

TERBIT KEMBALI

Pada tahun 1733 seorang pegawai VOC bernama C.A Lons mengadakan kunjungan lawatan di berbagai tempat di Surakarta dan Yogyakarta. Ia mengunjungi sejumlah peninggalan bangunan di kraton Kartasura Kotagede, termasuk pula reruntuhan candi di sekitar Prambanan. Dalam catatannya ia menyebut adanya bukit-bukit dimana bebatuan menyembul di puncaknya. Meski diragukan apakah di dalam deskripsinya tersebut ia bertutur tentang Candi Prambanan atau Candi Sewu? Sampai dengan sekitar awal abad ke 19 setidaknya tercatat sejumlah antiquarian Belanda membuat catatan deskriptif berupa gambar dan peta sekitar Prambanan. Cornelius di tahun 1805 membuat lukisan candi Kalasan, Sari dan Sewu namun tidak ada catatan lain mengenai Prambanan. Baru kemudian di masa kolonial Inggris Raffles (1811-1816) memerintahkan C. Mackenzie dan G. Baker untuk melakukan survei dan deskripsi atas kekunaan di Candi Prambanan. Hasil laporan dari Mackenzie dan Baker di kemudian hari ditindaklanjuti oleh Crawfurd sebagai perintis penelitian arkeologis Candi Prambanan.

Di tahun 1885 untuk pertama kalinya Ijzerman melakukan pembersihan dengan menebang semak belukar dan pepohonan yang menutupi reruntuhan serta membersihkan bilik-bilik candi dari reruntuhan. Di tahun 1889 Groneman juga melakukan pembersihan terhadap reruntuhan, namun sayangnya pembersihan tersebut justru membuat keadaan semakin memburuk. Groneman di dalam membersihkan reruntuhan tidak melakukannya secara sistematis, ia hanya menata potongan batu yang memiliki bentuk sama dan membuang batu yang sekiranya penting ke sungai Opak.

Dengan dikenalnya kembali Candi Prambanan setelah sekian lama tertutup pepohonan dan dan tanah seakan terbitnya kembali peradaban Jawa Kuna yang telah lama hilang. Selama kurun waktu tahun 1920-an yakni ketika Candi Prambanan belum direncanakan untuk dipugar secara total, tercatat sejumlah biro perjalanan wisata telah menawarkan Candi Prambanan sebagai tujuan kunjungan wisatawan Eropa khususnya. Sejumlah biro wisata dari Batavia dan Surabaya telah menerbitkan brosur panduan wisata yang terbit tahun 1900 dan 1918. Di dalamnya telah memasukkan Candi Prambanan sebagai objek yang layak dikunjungi. Brosur-brosur berilustrasi foto tersebut sudah memuat informasi singkat sejarah dan latar belakang agamanya yakni agama Hindu.

Kunjungan wisata tersebut juga didukung oleh semakin berkembangnya sarana transportasi berupa kereta api. Jalur rel yang menghubungkan Yogyakarta-Surakarta (Vorstenlanden) dengan Semarang telah ada sejak tahun 1870-an yang dikelola oleh NISM (Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij). Di sepanjang jalur tersebut dibangun stasiun -stasiun sebagai tempat naik turun penumpang dan komoditas. Catatan E.R Scidmore yang mengunjungi Candi Prambanan di tahun 1895 menyebutkan pada waktu pertama kali datang ke Candi Prambanan ia menggunakan kereta api. Selanjutnya ia juga mendeskripsikan kondisi stasiun Brambanan dengan kepala stasiun yang ramah dan simpatik.

MEMBANGUN PUING

Sejauh catatan historis yang masih tersisa hingga saat ini diyakini bahwa titik awal rekonstruksi atas bangunan Candi Prambanan (Candi Siwa khususnya) dirintis oleh Ijzerman pada tahun 1885. Ia adalah ketua Archeologische Vereeniging van Jogja yakni semacam perkumpulan arkeolog swasta. Meski demikian kita juga tidak bisa mengabaikan peran para pionir sebelum Ijzerman yang telah membuat sketsa, ilustrasi maupun dokumen fotografi mengenai kondisi candi saat itu. J. Mitan dengan sketsa Candi Siwa yang dibuat untuk buku History of Java karya Raffles di tahun 1817, serta tokoh semacam Woodbury & Page serta Kassian Cephas di akhir abad 19 telah menghasilkan dokumentasi foto yang sangat bernilai.

Upaya Ijzerman di tahun 1885 tersebut sebatas membersihkan bilik-bilik dari reruntuhan batu serta melakukan sejumlah penelitian melalui penggalian. Di tahun 1891 terbit tulisannya yang berjudul Beschriving der Oudheden yang hasilnya adalah menegaskan bahwa reruntuhan candi tersebut merupakan candi yang bercorak Siwa bukan Buddha sebagaimana yang diyakini oleh pendahulunya J. Crawfurd.

Pada tahun 1889 Groneman lebih banyak melakukan eksplorasi di candi halaman pusat. Namun usahanya tersebut justru menghasilkan kekacauan bagi upaya pemugaran pada tahun-tahun berikutnya.
Pada saat pembersihan, ia melepas susunan batu-batu yang telah longgar, mengumpulkan sejumlah besar batu tanpa sistematika yang jelas. Hal terburuk yang dilakukannya adalah pembuangan sejumlah blok batu yang tidak jelas asalnya ke ngarai barat sungai Opak. Lebih buruk lagi adalah, Groneman juga terlibat dalam pengambilan keputusan pemerintah Hindia Belanda untuk mengabulkan permintaan Raja Siam Chulalongkorn II agar dapat membawa beberapa relief dan arca sebagai cinderamata atas lawatannya di tahun 1896. Tercatat dua relief Rama dari Candi Brahma dan sebuah relief Kresna dari Candi Wisnu sempat dibawa ke Siam, namun dengan upaya diplomatis oleh Stein Callenfells dan Coedes ketiga relief tersebut dapat dikembalikan (Jordaan, 2009:20).

Tahun 1902-1903, Th. van Erp membuat langkah besar dengan memperbaiki bilik-bilik candi Siwa yang pada waktu itu sudah runtuh. Salah satu hasil pemugaran dari masa van Erp yang dapat dijumpai adalah bagian sungkup-sungkup beton yang terpasang sangat mencolok. Upaya pemugaran yang benar-benar sistematis baru dilaksanakan tahun 1918 oleh Oudheidkundige Dienst (OD) dengan dipimpin langsung oleh P.J Perquin. Pada masa awal tersebut baru sebatas dilakukan pemilahan dan penyeleksian ulang batu-batu yang dikumpulkan oleh Groneman, pembongkaran batu dengan pemberian tanda pada masing-masing batu, serta susun percobaan dengan mengganti batu yang hilang dengan batu baru yang dipahat rata sebagai penanda.

Pekerjaan Perquin kemudian dilanjutkan oleh De Haan yang berhasil membuat susunan percobaan hingga pelipit kaki candi Siwa. Sejak tahun 1927 pada dasarnya De Haan telah merencanakan pemugaran terhadap kedua candi apit. Antara tahun 1930-1933 kedua candi apit telah selesai dipugar. Namun di tahun 1930 De Haan meninggal yang kemudian pimpinan diambil alih oleh van Romondt. Di dalam pekerjaannya van Romondt dibantu oleh van Coolwijk, Soehamir dan Samingoen. Tahun 1937 Welfaartfonds (dana kesejahteraan) memberi bantuan sebesar 25 juta gulden bagi Candi Prambanan untuk melakukan pemugaran yang sesungguhnya. Meski pada kurun waktu tahun 1930 hingga 1942 merupakan masa depresi ekonomi menjelang berkecamuknya Perang Dunia II. Pekerjaan besar ini pada awalnya direncanakan akan selesai dalam waktu 8 tahun.

Pekerjaan yang dilakukan selama periode tahun 1937 hingga sebelum kedatangan Jelang adalah pemilahan teliti batu sesuai bentuk, ukuran dan ciri khasnya, pemugaran sebagian, pembuatan gambar-gambar rekonstruksi, dan susunan percobaan dari bidang-bidang horizontal. Namun di tahun 1942 bersamaan dengan revolusi fisik yang ditandai kalahnya Belanda dari Jepang kegiatan pemugaran sempat sempat terhenti. Pejabat-pejabat Belanda ditawan bala tentara Jepang, termasuk pejabat OD. Sebagai penanggung jawab pekerjaan sehari-hari di Prambanan dipegang oleh Soewarno dan Samingoen. Pada masa-masa itu keadaan sangat sulit, baik dari segi pendanaan maupun bahan-bahan seperti semen yang sukar diperoleh. Terlukis dari laporan kuartal ketiga tahun 2604 (1943) yang diketik oleh Miroen asisten Samingoen betapa kondisi pemugaran candi Siwa sangat tersendat-sendat hanya disebabkan karena kehidupan para pekerja yang serba sulit.

Di tahun 1945 ketika proklamasi kemerdekaan diproklamirkan, pembangunan candi Siwa telah mencapai tinggi 32,5 m (Sam, 1950:4). Namun di tahun 1948 keadaan justru memburuk, Agresi Militer II pada 19 Desember 1948 telah menghentikan semua pekerjaan. Waktu itu pekerjaan candi Siwa baru mencapai 35,25 m. Pertempuran sengit terjadi di sekitar Prambanan, kantor Bagian Arsitektur dihantam granat dan dijarah, sedangkan candi Siwa juga menderita kerusakan akibat ledakan bom. Sekitar 500 lembar gambar pengukuran, penggalian dan rekonstruksi beserta foto hancur sama sekali. Arca Buddha di desa Bogem pecah berkeping-keping terkena ledakan granat.

Pada tanggal 28 Mei 1949, Yogyakarta dan daerah sekitarnya telah kembali lagi ke pangkuan Republik Indonesia tapi OD belumlah pulih sepenuhnya. Hanya Soewarno dan Samingoen yang menata kembali kantor sedangkan Soehamir mendapat tugas belajar di Belanda yang pada akhirnya justru meninggalkan lapangan kepurbakalaan (Atmosudiro, 2002:13)

Pada tanggal 6 Juni 1949, pekerjaan kembali dilanjutkan oleh Bagian Purbakala Djawatan Kebudajaan RI dan dipimpin kembali oleh van Romondt. Pada bulan Januari 1952 pekerjaan telah mencapai puncak candi dan pada 20 Desember 1953 candi Siwa diresmikan oleh Presiden Soekarno. Peresmian sebuah monumen sebagai sebuah simbol bangsa besar yang memiliki peradaban. Dengan selesainya pemugaran candi Siwa Prambanan yang mewakili kemegahan dari keseluruhan kompleks Prambanan berarti puing yang sempat terserak selama beberapa belas abad telah berdiri kembali. Melalui rentang waktu selama 18 tahun lebih untuk pencarian dan penelitian serta 7 tahun masa pembangunan.

Kode Pemugaran Candi Borobudur

Pemugaran candi Borobudur yang terbangun dari sekitar 2 juta balok batu memerlukan pendokumentasian yang masif terstruktur dan sistematis namun di samping itu juga harus gampang di ingat, maka dibuatlah penomoran seperti tampak dalam gambar.

Pemberian kode Pemetaan kerusakan pada setiap blok nomor dimulai dari sisi candi, yaitu: nomor 1 batu untuk sisi utara; 2 untuk sisi selatan; 3 untuk sisi timur; 4 untuk sisi barat, kemudian dilanjutkan dengan kode nomor lorong candi yaitu: 0 untuk selasar; 1 untuk lorong tingkat I; 2 untuk lorong tingkat II; 3 untuk lorong tingkat III; 4 lorong tingkat IV; dan 5 untuk teras bundar.

15289187_10210029048860008_5819259215096711536_o

Situs Keraton Pengging

Situs Keraton Pengging berada di atara Desa Jembungan, Dukuh, dan Ngaru-aru yang termasuk wilayah Kecamatan Banyudono Kabupaten Boyolali Provinsi Jawa Tengah, jika diukur dari permukaan air laut ketinggian situs sekitar 177 meter dengan letak astronomis 40 21 1311Bujur Timur dan 7 0 131 39 ½ 1 Lintang Selatan.

Letak Kraton Pengging tidak lepas dari sumber mata air yang banyak terdapat disekitar wilayah Pengging, oleh masyarakat Hindu dipandang sebagai tempat “tirtha amrta” , maka tidak mustahil banyak bangunan Hinduistik selalu berdekatan dengan sumber air. Salah satunya adalah di Komplek Pemandian Umbul Pengging dan Umbul Kendat.

Disekitar situs Keraton Pengging ini ditemukan berbagai artefak antara lain tiga buah Yoni serta reruntuhan batu bata di pemakaman umum dukuh Bodean, di Desa Dukuh, bahkan Knebel pernah melaporkan bahwa di Dukuh Bantulan, di Desa Jembungan dekat perkebunan tembakau terdapat empat buah arca Ganesha, sebuah arca Padmapani, sebuah arca Nandi, sebuah Yoni, sebuah saluran air dan sebuah Makara. Namun sekarang hanya tersisa sebuah arca Ganesha yang sudah tidak utuh lagi dan 2 arca Rsi Agastya yang sudah terpenggal kepalanya.

Wilayah Pengging mengandung akuifer produktif dengan persebaran yang luas. Akuifer ini mempunyai keterusan sedang dengan muka air tanah yang dangkal (Djaeni : 1982) hingga dipastikan bahwa sejak dahulu kerajaan Pengging meletakkan pertanian sebagai andalan kehidupan masyarakat , mengingat ketersediaan air diwilayah Pengging yang selalu melimpah dan terjadi sebelum masa interaksi budaya Pengging berlangsung. Hal ini dapat dibuktikan dengan pembentukan fragipan yang dijadikan landasan bagi struktur bangunan.

Hasil penelitian Hidrogeomorfologi menunjukkan bahwa erat kaitan antara fragipan dengan bangunan kuno karena bangunan kuno di Pengging diletakkan diatas fragipan maka kemungkinan juga keraton Pengging yang sudah hancur ini masih terpendam pada fragipanseperti halnya struktur bangunan kuno yang pernah ditemukan pada makam Bodean. Jika demikian kemungkinan besar lokasi keraton Pengging berada diantara makam Bodean dan umbul Kendat seperti yang disebut sebut pada Babad Jaka Tingkir bahwa makam adik ratu Pembayun isteri raja Pengging Handayaningrat yang bernama ratu Masrara atau rara Kendat dimakamkan berada sebelah timur kedaton Pengging.

Berdasarkan keyakinan masyarakat, kerajaan Pengging ini dibangun oleh Prabu Aji Pamasa atau Kusumowicitro dari Kediri pada tahun 901 Caka sekitar tahun 979 Masehi (Andjar Any : 1979) namun keterangan ini belum dapat dijadikan landasan sejarah kerajaan Pengging, mengingat kerajaan Kediri itu sendiri baru berdiri pada abad 11. Berdasartkan publikasi van Bemmelen (1956) dalam Verhandelingen van het Koninklijk Nederland Geologie Mijnbouw Genootschap, v. XVI, p. 20-36. Ada satu prasasti berangka tahun 1041 M tentang maklumat Erlangga di tempat pertapaannya di Jawa Timur dan prasasti ini memuat tentang kerusakan kerajaan (Mataram Hindu di Jawa Tengah) pada tahun 928 Syaka (+ 78 = 1006 M ). Dari angka tahun prasasti Kalkuta tersebut menunjukkan bahwa kerajaan Kediri belum berdiri, karena kerajaan Kediri muncul setelah kerajaan Kahuripan pecah menjadi dua yaitu Jenggala dan Kediri atas bantuan empu Bharadah.

Dari persebaran artefak yang ditemukan disekitar situs Pengging ditemukan fragmen piring dari dinasti T’ang (618 – 906 M) dan fragmen mangkok cina tipe Yueh (906-960 M). Serta fragmen lain yang dibuat pada masa dinasti Sung (960–1279 M) Jika dilihat dari persebaran fragmen keramik ini dapat dipastikan bahwa komunitas sosial budaya masyarakat Pengging sejalan dengan kehidupan masyarakat pada masa kerajaan Mataram Hindu yang didirikan oleh wangsa Sanjaya pada tahun 654 Caka (732 M).

Source: here.

Pemungut Pajak di dalam Masyarakat Jawa Kuno

Ulah Para Pemungut Pajak di dalam Masyarakat Jawa Kuno (ringkasan artikel dalam buku Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti)

Sumber penghasilan kerajaan kuno terdiri atas pajak, yaitu pajak tanah/hasil bumi, pajak perdagangan/penjualan, dan pajak atas usaha kerajinan dan denda-denda atas segala tindak pidana yang dijatuhkan di dalam sidang pengadilan. Semua itu disebut dengan istilah drawya haji, yang secara harfiah berarti “milik raja”.

Keterangan mengenai pajak perdagangan/penjualan (masamwya wahāra), usaha kerajinan (miśra) dan denda-denda atas segala tindak pidana (sukhaduḥka) dijumpai di dalam bagian prasasti yang menyebutkan status daerah sīma. Contoh ada dalam Prasasti Muñcaṅ (944 M).

Lain daripada drawya haji, kerajaan juga berhak atas buat haji, yaitu persembahan kepada raja yang dapat berupa tenaga kerja sukarela atau persembahan yang lain. Istilah lain untuk buat haji adalah gawai. Gawai sering dinyatakan dengan jumlah orang, tetapi ada kalanya dengan sejumlah uang. Orang-orang asing dan orang-orang yang mempunyai profesi tertentu juga dikenai pajak. Mereka itu disebut dengan isitilah warga kilalān yang hanya terdapat pada prasasti masa raja Dharmawaṃśa Airlaṅga.

Hal yang menarik perhatian adalah bahwa rupa-rupanya dahulu kala sudah ada catatan tentang perkiraan hasil sebidang tanah di dalam administrasi pemerintahan di tingkat pusat. Hal itu dapat pula disimpulkan dari berbagai prasasti yang menyebutkan bahwa sebidang tanah atau suatu desa yang akan ditetapkan menjadi sima berpenghasilan sekian, atau ditaksir berpenghasilan sekian. Pajak yang dihitung bukan hanya luas berbagai jenis tanah, namun juga jumlah penduduk atau sekurang-kurangnya jumlah kepala keluarga.

Demikianlah maka perumusan tentang status suatu daerah sīma di dalam pelbagai prasasti membayangkan kepada kita bahwa pajak dan pungutan-pungutan yang lain itu ditarik oleh para rāma (ketua desa) dari penduduk desa, kemudian para rama menyerahkan hasilnya kepada rakai atau pamgat yang membawahi desanya, setelah mengambil bagian masing-masing kemudian memberikan drawya haji dari daerah lungguhnya kepada raja, juga setelah menyisihkan bagian masing-masing.

Dalam pemungutan pajak pun ternyata ada banyak penyimpangan. Data tersebut dapat dilihat di Prasasti Palepaṅan (906 M), Prasasti Luītan (901 M), dan Prasasti Kinewu (907 M). Salah satu contoh yaitu Prasasti Kinewu memberikan kepada kita keterangan tambahan yang menarik, yaitu hierarki dalam pemerintahan dan prosedur pengajuan permohonan dari rakyat kepada raja. Dapat dilihat bahwa pertama-tama para pejabat desa Kinǝwu mengajukan protes kepada penguasa daerah yang membawahi desanya, yaitu Rakryān i Raṇḍaman dengan membayar sejumlah uang. Protes tersebut tidak sempat diselesaikan karena penguasa tersebut telah meninggal. Tanpa menunggu sampai ada rakai pengganti di wilayah Raṇḍaman, para pejabat desa meneruskan protesnya kepada raja dengan perantaraan pratyaya dari wilayah Raṇḍaman. Kali ini mereka harus membayar sejumlah uang yang lebih banyak dari yang dibayarkannya di tingkat watak. Di ibu kota kerajan mereka diterima oleh Saṅ Pamgat Momahumah, yaitu Pamgat Mamrata. Pejabat itulah yang mengantar mereka menghadap putra mahkota dan raja.

Sebagai singkatnya, kasus-kasus dari ketiga prasasti tersebut menunjukkan adanya penyelewengan dalam penetapan pajak. Jika rakyat tidak mengajukan protes karena tidak tahu mana ukuran luas yang dijadikan dasar penetapan pajak, atau karena tidak diberi kesempatan untuk mengajukan protes, penarik pajak atau sang nāyaka akan memperoleh keuntungan sepertiga dari jumlah yang dibayarkan oleh rakyat, karena ia menggunakan satuan tampah yang luasnya hanya 2/3 tampah haji yang baku.

Dalam ketiga kasus tersebut sebenarnya masih perlu dipertanyakan apakah para nāyaka yang menggunakan satuan tampah yang lebih kecil dari tampah haji yang baku memang sengaja mau memperkaya diri atau karena salah pengertian. Rupa-rupanya dalam ketiga kasus tersebut, para nāyaka menghitung luas sawah para rāma dengan ukuran tampah tradisional Jawa yang luasnya kira-kira sama dengan 1 bahu sekarang, sedang semestinya ia menggunakan satuan tampah haji yang didasarkan atas satuan luas dari India, yang luasnya kira-kira sama dengan 1 hektar sekarang. Jika demikian halnya maka dalam ketiga kasus itu tidak terjadi penyelewengan yang disengaja, melainkan hanya salah pengertian. Apakah tidak disebutkannya sanksi hukum terhadap para nāyaka itu merupakan petunjuk tentang kebenaran dugaan ini????Tetapi tentu orang akan bertanya mengapa justru para pejabat desa yang tahu tentang peraturan pajak tanah yang benar, sedang sang nāyaka tidak???.

Sumber :

Boechari, 2012, Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti, Jakarta: KPG. hlm:291-306

Candi Ngawen Bermetamorfosis(?)

Misteri Di Desa Ngawen, Candi Ngawen yang bermetamorfosis
Lokasi : Desa Ngawen, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang
Tipe : Bangunan Suci Budha
Masa Pembangunan : Abad ke-8 Masa Wangsa Sailendra

Didaerah Muntilan tepatnya Desa Ngawen menyimpan misteri akan peninggalan kerajaan medang dahulu di era Wangsa Sailendra, candi ini berlatar belakang agama Buddha, bangunan ini tertulis dalam prasasti Karang Tengah bertahun 824 M yaitu Venuvana (hutan bambu), terdiri dari 5 buah candi kecil dan hanya satu candi yang bisa di pugar secara “sempurna”, ekskavasi candi ini dilakukan oleh Van Erp (peneliti asal belanda) pada tahun 1920 mengawali nya dengan mengeringkan lahan sawah tempat reruntuhan candi ini berada, akan tetapi apakah pemugaran yang dilakukan Van Erp telah sesuai dengan wujud aslinya? Atau masih banyak misteri tentang wujud asli dari bangunan Candi Ngawen ini?

1. Wujud puncak candi yang mengkerucut mirip dengan bentuk bangunan candi yang beraliran Hindu.
Dalam perjalanan ke candi ngawen ini bisa ditemukan sisa sisa stupa yang berada di pinggiran besaran stupa ini apabila dirakit adalah antara 5 – 7 meter menurut juru pelihara Candi Ngawen stupa ini berukuran besar andai stupa itu diletakkan pada leher candi maka bentuk bangunan candi ini menjulang lebih tinggi dari candi yang ada sekarang ini dan bentuk stupa yang ada membuat nya tampak lebih berbentuk candi Buddha daripada yang sekarang, beberapa bukti terlihat bahwa penataaan batuan sisi tengah candi I ini dilekatkan dengan perekat dikarenakan struktur nya yang ramping maka kaidah pemugaran Candi Ngawen ini dahulu pasti tidak menggunakan batuan aslinya secara utuh tapi merekayasa bentuk terdekatnya sehingga masih banyak bahan stupa yang tertinggal tidak bisa terpasang.

2. Fungsi Jaladwara berbentuk singha
Ketika kita melihat struktur bawah candi ini maka tak luput dari pandangan mata kita jaladwara yang berbentuk singha, jaladwara sendiri berfungsi sebagai tempat mengalirnya air (talang) akan tetapi di candi ngawen ini berbentuk singha berdiri dengan lubang dimulutnya akan tetapi dalam pengamatan penulis dulu talang air ini fungsi nya bukan mengalirkan air akibat hujan akan tetapi memang berfungsi sebagai air mancur yang mengitari candi ini, bukti penguat dari hipotesis ini adalah pada waktu ekskavasi dan pemugaran candi ini dahulu ketika proses penggalian kira kira 1 meter kedalam tanah sudah mulai mengeluarkan air , hal ini didukung dengan temuan beberapa waktu lalu setelah letusan merapi tentang adanya aliran sungai purba di sekitar Candi Ngawen, dari penuturan juru pelihara candi ngawen untuk memperkuat pondasi candi terpaksa mata air di bawah candi ini di tutup (dicor) dengan semen dan dilapisi ulang dengan pasir agar pondasi candi ini kuat dan tidak ambles. bukti ini memperkaya hipotesa penulis bahwa dahulu candi ini berada di tengah air atau diliputi air dengan posisi singha sebagai tempat keluarnya mata air.

Apakah Van Erp dulu melakukan pemugaran secara tergesa-gesa atau di pengaruhi oleh bangunan-bangunan candi lain dan memperkirakan bahwa bentuknya hampir sama? Apabila sama kenapa batuan pembentuk ini masih tersisa banyak dan puzzle ini belum dapat di bentuk ulang. semua ini masih menjadi misteri dimana kelak pemelihara pemelihara dan pejuang – pejuang sejarah ini dapat merekonstruksi secara utuh bentuk bangunan Candi Ngawen.

Note Laurentia Dewi: tulisan ini adalah opini pribadi seseorang yang perlu dicocokkan kebenarannya.

Gedong Songo

Gedong Songo (Gedong = Bangunan, Songo = Sembilan , Bangunan Sembilan) adalah nama candi yang berada di bukit pegunungan Ungaran.

Candi Gedong Songo terletak pada ketinggian sekitar 1.200 DPL dengan suhu sekitar 19 – 27 °C. Lokasi Candi Gedong Songo sangat mudah di jangkau dari berbagai kota yang ada di sekitarnya. Lokasinya merupakan jalur deretan alternatif Ungaran – Temanggung. Apabila memulai dari Kota Semarang cukup ke selatan menuju Kota Ungaran – Bandungan – Gedong Songo. Bisa di tempuh dengan waktu 1 jam perjalanan. Apabila dari Yogyakarta bisa melalui Kota Ambarawa (Tugu Palagan Ambarawa) – Bandungan – Gedong Songo, waktu perjalanan sekitar 2 jam. Candi Gedong Songo yang dibangun konon pada era Wangsa Sanjaya ini terletak di lereng Gunung Ungaran, pada koordinat 110°20’27” BT dan 07°14’3” LS di desa Darum, Kelurahan Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Propinsi Jawa Tengah.

Gedong Songo berasal dari bahasa Jawa, Gedong (rumah/bangunan) dan Songo (sembilan) yang berarti Sembilan (Kelompok) Bangunan. Apakah sejak awal candi ini ada sembilan kelompok? Atau memiliki arti lain? Hmm, belum dapat dijawab. Namun saat ini hanya ada 5 komplek candi yang terlihat. Candi Gedong Songo ini banyak kemiripan dengan candi yang ada di Dieng yang berada di Kabupaten Banjarnegara (petualangan selanjutnya). Komplek candi ini di buat berderet dari bawah ke atas perbukitan mengintari kawah sumber air panas. Dimana komplek candi di Dieng juga banyak kawah air panas yang berada tak jauh dari pusat candi.

Pembuatan candi yang simetris dan berada atas bukit menunjukan perpaduan dari dua religi yaitu lokal yang menganut kepercayaan terhadap nenek moyang dan budaya hindu dimana candi sebagai tempat tinggal para dewa. Candi yang dibuat kuncup ke atas mirip dengan budaya jaman batu yaitu punden berundak-undak. Prinsipnya bawah semakin ke puncak, maka roh nenek moyang semakin dekat dengan manusia. Nah, kedua budaya ini menyatu di Candi Gedong Songo dengan mendefinisikan sebagai tempat persembahan untuk roh nenek moyang dimana tempat untuk melakukan prosesi tersebut berada di komplek candi yang berada di atas perbukitan. Arca-Arca di komplek Candi Gedong Songo yang dibuat pada abad ke 8 Masehi tidak lagi lengkap.

Arca-arca yang di jumpai hanya beberapa yang tersisa, seperti Durga (Istri Siwa), Ghanesa (Anak Siwa), Agastya (Seorang Resi) Serta dua pengawal dewa Siwa yaitu Nandiswara dan Mahakala yang bertugas menjaga pintu candi. Komplek Candi Gedong Songo sendiri di temukan oleh Loten, pada tahun 1740. Pada masa setelahnya, Rafles mulai mencatatnya dengan memberi nama gedong pitoe (tujuh) karena hanya menemukan 7 kelompok bangunan sekitar tahun 1804. Namun baru pada tahun 1925, Van Braam membuat publikasi adanya candi di sekitar perbukitan Ungaran. Lalu Friederich dan Hopermans menulis tentang Gedong Songo, dan Van Stein Calefells melakukan penelitian di sekitar Komplek Candi Gedong Songo pada tahun 1908. Sekitar tahun 1911-1912 Knebel melakukan inventarisasi semua komplek candi Gedong Songo. Pada tahun 1916, Pemerintah Belanda secara resmi mulai melakukan penelitian di komplek candi yang diserahkan tugas pada saat itu adalah oleh Dinas Purbakala Belanda. Pada tahun 1928-1929, dilakukan pemugaran candi Gedong 1. Pada tahun 1930-1932 dilakukan pemugaran pada candi Gedong 2.

Pemerintah Indonesia memulai pemugaran pada tahun 1977-1983, yang dipugar pada pada komplek candi gedong 3 , 4 dan 5. Pada saat itu yang melakukan tugas pemugaran adalah SPSP, pada saat ini namanya berubah menjadi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala. Pada tahun 2009 Pemerintah Indonesia mulai melakukan pemetaan ulang semua komplek candi Gedong Songo. Setelah masuk kita akan disuguhi dengan Candi I . Disini kalian akan mendapatkan sebuah pemandangan yang indah khas pegunungan dengan nuansa sejuk masih terasa.

Kemudian untuk menuju komplek candi II, harus ekstra kuat dan semangat. Letaknya sekitar 500 meter lebih dari komplek candi I. Pada saat ini, pengelola candi Gedong Songo membuat jalur baru yang memisahkan antara jalur Hikingers dan jalur kuda. Jalur Hikingers akan di belokkan ke kanan, melewati perbukitan dan warung makan. Beberapa Gazebo di siapkan untuk tempat istirahat para Petualang yang lelah naik ke perbukitan. Jalannya cukup bersih karena (maaf) tidak ada kotoran kuda disana-sini. Untuk jalur kuda berada di sebelah kiri yang letaknya agak berjauhan.

Setelah puas dengan komplek candi yang kedua, hanya berjarak beberapa meter ke atas. Anda akan menemukan komplek candi yang ketiga. Komplek candi yang ketiga ini cukup lengkap berjumlah 3 buah candi yang saling berdekatan. Kalau petualang pernah ke Dieng, maka akan di temukan kemiripan dengan komplek candi Arjuna di Dieng. Dengan beberapa candi yang mengerucut ke atas dan satu buah candi berbentuk kotak di depannya. Di komplek candi ketiga ini beberapa patung masih ada seperti patung Durga, Ganesa dan pengawal dewa siwa Nandiswara dan Mahakala yang berada di samping kanan kiri pintu candi.

Kemudian bila masih kuat, kita bisa melakukan perjalanan lagi menuju komplek candi keempat yang letaknya agak jauh dari komplek candi ke dua dan ke tiga. Hanya perlu berjalan beberapa menit mengintari bukit, maka akan tiba di komplek candi ke empat.

Dan candi kelima jaraknya juga tidak jauh dari tempat tersebut. Pada komplek candi yang kelima, beberapa bangunan candi nampak rusak karena sesuatu sehingga hanya sebuah candi kecil saja yang tersisa.

15337584_1347602305272586_316363579864639771_n 15289238_1347602398605910_2859299113752088998_o 15288582_1347602375272579_7161944166269173849_o 15271782_1347602385272578_1387102951004279102_o 15349625_1347601035272713_2557327686290953394_n

Souce: Unik

Para Pejabat; Pusat & Daerah

Para Pejabat Pusat dan Pejabat Daerah

Kerajaan Medang (Mataram Kuno) terdiri atas desa-desa yang disebut wanua dengan dukuh-dukuhnya yang disebut anak iṅ wanua dan sejumlah desa itu masuk ke dalam wilayah kekuasaan para pejabat pusat dan daerah (watak). Karena pejabat-pejabat itu mempunyai pembantu-pembantunya yang juga tidak dibayar dengan uang, maka para pembantu itu mempunyai ‘lungguh’ di dalam wilayah watak. Di tingkat pusat ada raja yang dibantu oleh putra mahkota (rakryān mahāmantri i hino), tiga putra raja yang lain (rakryān mahāmantri i halu, i sirikan dan i wka) dan seorang pejabat keagamaan (saṅ pamgat tiruan). Dibawah mereka ada sejumlah pejabat lagi, kalau lengkap disebut di dalam prasasti ada dua belas orang, yaitu:

  1. Rake halaran
  2. Rake palarhyang atau rake panggilhyang
  3. Rake wlahan
  4. Pamgat manghuri
  5. Rake dalinan
  6. Rake langka
  7. Rake tañjun
  8. Paṅkur
  9. Tawān
  10. Tirip
  11. Pamgat wadihati
  12. Pamgat makudur.

Tinggi rendah kedudukan mereka di dalam pemerintahan terbayang dari jumlah pasak-pasak (pasǝk-pasǝk) yang mereka terima.

Dengan perkataan lain, disamping putra mahkota, ada enam belas orang pejabat tinggi kerajaan. Ada kemungkinan bahwa sang pamgat tiruan juga anak raja atau sekurang-kurangnya anggota keluarga raja yang dekat, karena ada prasasti yang menyebutkannya sebagai kṣatriyakula. Dalam semua prasasti kelima pejabat tertinggi kerajaan itu menerima pasak-pasak yang lebih banyak dari keduabelas pejabat di bawah mereka, dengan catatan bahwa rakryān mahāmantri i hino memperoleh yang terbanyak di dalam beberapa prasasti.

Tugas masing-masing pejabat itu kurang jelas dari data prasasti. Yang agak jelas hanyalah tugas pangkur, tawān, tirip yang rupa-rupanya berurusan dengan “kas negara”. Mereka itulah yang mengurusi berbagai macam pemasukan pajak dan hasil rampasan perang (tawān=hañangan) serta hadiah dari kerajaan-kerajaan yang bersahabat. Anehnya mereka itu tidak pernah disebut dengan gelar rakai atau pamgat dan hingga sekarang tidak pernah mendengar ungkapan wanua i watak pangkur, watak tawān, dan watak tirip, kecuali di dalam prasasti tinulad, dimana dijumpai watak tirip. Juga pamgat wadihati dan pamgat makudur tampak agak jelas tugasnya, yaitu mengurusi tanah-tanah yang ditetapkan menjai sīma.

Para pejabat tinggi itu tinggal di ibu kota kerajaan. Mereka dibantu oleh patih, parujar dengan pituṅtuṅ-nya, citralekha, dan paṅuraṅ. Patih biasa mengurus masalah administrasi pemerintahan, parujar semacam “juru bicara” dan pituṅtuṅ mungkin orang yang bertugas menyiarkan hal-hal yang harus diketahui rakyat, citralekha ialah “juru tulis” dan paṅuraṅ kemungkinan besar petugas yang mengurusi perpajakan.

Para rakai dan pamgat yang merupakan penguasa daerah dan bukan pejabat tingkat pusat, mempunyai sebagai bawahan: patih, juruniṅ kanāyakān, wahuta, citralekha, dan mataṇḍa. Patih membawahi parujar, tuṅgu duruṅ dan pratyaya, tuhaniṅ kanāyakān membawahi juruniṅ wadwa rarai, juruniṅ kalula, juruniṅ maṅkarat, juruniṅ mawuat haji, dan wahuta membawahi pituṅtuṅ, wahuta lampuran dan wahuta wiṅkas wkas. Mataṇḍa adalah pejabat yang membawa cap pejabat rakai dan pamgat atau yang membawa panji-panji pejabat tersebut. Diantara beberapa jabatan yang telah disebutkan dan masih banyak lagi, hanya sepuluh nama yang sering disebut dalam prasasti. Istilah untuk pejabat desa ialah rāma ‘ayah yang terhormat’. Kesepuluh jabatan itu ialah gusti, kalaṅ atau tuha kalaṅ, wiṅkas, tuha banua, parujar, hulair, wariga, tuhālas, tuha wǝrǝh dan hulu wras. Arti dari istilah gusti hingga sekarang belum jelas. Kalaṅ atau tuha kalaṅ sering dihubungkan dengan orang-orang yang mengerjakan kayu dari hutan; tetapi ada juga kemungkinan bahwa kalaṅ atau kalaṅan berhubungan dengan lingkaran, yaitu tempat menyabung binatang untuk adu ketangkasan antar warga ataupun untuk upacara tertentu. Istilah wiṅkas berasal dari kata wǝkas yang dapat berarti “akhir”, “tujuan”, atau “pesan”; tetapi apa tugas seorang winǝkas belum dapat diketahui. Tuha banua ialah orang yang dianggap “tetua desa”, tapi bukan “kepala desa”, karena disebuah desa sering dijumpai beberapa tuha banua. Jabatan parujar sudah kita jumpai sejak di pusat kerajaan sebagai pembantu dari para pejabat tinggi; juga di daerah watak. Hulair ialah kontraksi dari istilah hulu dan air; artinya jabatan yang mengurusi pengairan di sawah-sawah desa (paṅhulu bañu). Wariga sebenarnya semacam ‘kitab primbon’ untuk mengetahui hari baik bulan baik bagi permulaan suatu pekerjaan, jadi pada jabatan ini ialah orang yang memahami ‘kitab primbon’. Tuha alas ialah orang yang ditugasi mengurus hasil perburuan di hutan, dan hasil hutan lainnya. Tuha wǝrǝh ialah petugas yang mengurusi para pemuda dan pemudi, sedang hulu wras ialah petugas yang mengurusi hasil panen padi atau lumbung padi.

Data prasasti sebenarnya masih memberi petunjuk tentang adanya para pejabat rendahan di pusat kerajaan. Pada beberapa isi prasasti disebutkan bahwa daerah yang dijadikan sīma itu tidak boleh lagi ‘dimasuki’ oleh paṅkur, tawān, tirip, patih, wahuta, rāma, nāyaka dan oleh mereka yang disebut mangilala drawya haji (yang kira-kira berkisar 28-50 orang). Menurut para sarjana, maṅilala drawya haji ialah para “pemungut pajak”. Tetapi menurut tafsir kami istilah itu kurang tepat, karena diantara kelompok itu terdapat misalnya widu maṅiduṅ (pesinden), para pandai (emas, perak, perunggu, tembaga), mereka yang mengurusi kendaraan gajah dan kuda (mahaliman, makuda), anggota pasukan pengawal raja yang bersenjatakan panah, tombak, dan gada (mamanah, magalah dan magaṇḍi), bahkan sampai kepada mamŗṣi (tukang cuci). Lebih tepat jika maṅilala drawya haji ditafsirkan sebagai “abdi istana yang tidak memperoleh daerah lunggah sebagai imbalan jasanya, tapi memperoleh gaji berupa uang”. Namun mereka lain dari apa yang ada di dalam berbagai prasasti yang disebut sebagai wadwā haji dan wadwā para putra raja, wadwā permaisuri dan para selir. Mungkin para abdi ini sama sekali tidak memperoleh “gaji” dalam bentuk uang; mereka itu tinggal di istana dalam kamar-kamar yang dibuat untuk mereka dan mendapatkan makan, minum dan pakaian.

Sumber :
Boechari.2012. Kerajaan Mataram Sebagaimana Terbayang dari Data Prasasti, dalam Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti: kumpulan tulisan Boechari. Jakarta: KPG, hlm: 183-196.

This site is protected by wp-copyrightpro.com