Pemungut Pajak di dalam Masyarakat Jawa Kuno

Ulah Para Pemungut Pajak di dalam Masyarakat Jawa Kuno (ringkasan artikel dalam buku Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti)

Sumber penghasilan kerajaan kuno terdiri atas pajak, yaitu pajak tanah/hasil bumi, pajak perdagangan/penjualan, dan pajak atas usaha kerajinan dan denda-denda atas segala tindak pidana yang dijatuhkan di dalam sidang pengadilan. Semua itu disebut dengan istilah drawya haji, yang secara harfiah berarti “milik raja”.

Keterangan mengenai pajak perdagangan/penjualan (masamwya wahāra), usaha kerajinan (miśra) dan denda-denda atas segala tindak pidana (sukhaduḥka) dijumpai di dalam bagian prasasti yang menyebutkan status daerah sīma. Contoh ada dalam Prasasti Muñcaṅ (944 M).

Lain daripada drawya haji, kerajaan juga berhak atas buat haji, yaitu persembahan kepada raja yang dapat berupa tenaga kerja sukarela atau persembahan yang lain. Istilah lain untuk buat haji adalah gawai. Gawai sering dinyatakan dengan jumlah orang, tetapi ada kalanya dengan sejumlah uang. Orang-orang asing dan orang-orang yang mempunyai profesi tertentu juga dikenai pajak. Mereka itu disebut dengan isitilah warga kilalān yang hanya terdapat pada prasasti masa raja Dharmawaṃśa Airlaṅga.

Hal yang menarik perhatian adalah bahwa rupa-rupanya dahulu kala sudah ada catatan tentang perkiraan hasil sebidang tanah di dalam administrasi pemerintahan di tingkat pusat. Hal itu dapat pula disimpulkan dari berbagai prasasti yang menyebutkan bahwa sebidang tanah atau suatu desa yang akan ditetapkan menjadi sima berpenghasilan sekian, atau ditaksir berpenghasilan sekian. Pajak yang dihitung bukan hanya luas berbagai jenis tanah, namun juga jumlah penduduk atau sekurang-kurangnya jumlah kepala keluarga.

Demikianlah maka perumusan tentang status suatu daerah sīma di dalam pelbagai prasasti membayangkan kepada kita bahwa pajak dan pungutan-pungutan yang lain itu ditarik oleh para rāma (ketua desa) dari penduduk desa, kemudian para rama menyerahkan hasilnya kepada rakai atau pamgat yang membawahi desanya, setelah mengambil bagian masing-masing kemudian memberikan drawya haji dari daerah lungguhnya kepada raja, juga setelah menyisihkan bagian masing-masing.

Dalam pemungutan pajak pun ternyata ada banyak penyimpangan. Data tersebut dapat dilihat di Prasasti Palepaṅan (906 M), Prasasti Luītan (901 M), dan Prasasti Kinewu (907 M). Salah satu contoh yaitu Prasasti Kinewu memberikan kepada kita keterangan tambahan yang menarik, yaitu hierarki dalam pemerintahan dan prosedur pengajuan permohonan dari rakyat kepada raja. Dapat dilihat bahwa pertama-tama para pejabat desa Kinǝwu mengajukan protes kepada penguasa daerah yang membawahi desanya, yaitu Rakryān i Raṇḍaman dengan membayar sejumlah uang. Protes tersebut tidak sempat diselesaikan karena penguasa tersebut telah meninggal. Tanpa menunggu sampai ada rakai pengganti di wilayah Raṇḍaman, para pejabat desa meneruskan protesnya kepada raja dengan perantaraan pratyaya dari wilayah Raṇḍaman. Kali ini mereka harus membayar sejumlah uang yang lebih banyak dari yang dibayarkannya di tingkat watak. Di ibu kota kerajan mereka diterima oleh Saṅ Pamgat Momahumah, yaitu Pamgat Mamrata. Pejabat itulah yang mengantar mereka menghadap putra mahkota dan raja.

Sebagai singkatnya, kasus-kasus dari ketiga prasasti tersebut menunjukkan adanya penyelewengan dalam penetapan pajak. Jika rakyat tidak mengajukan protes karena tidak tahu mana ukuran luas yang dijadikan dasar penetapan pajak, atau karena tidak diberi kesempatan untuk mengajukan protes, penarik pajak atau sang nāyaka akan memperoleh keuntungan sepertiga dari jumlah yang dibayarkan oleh rakyat, karena ia menggunakan satuan tampah yang luasnya hanya 2/3 tampah haji yang baku.

Dalam ketiga kasus tersebut sebenarnya masih perlu dipertanyakan apakah para nāyaka yang menggunakan satuan tampah yang lebih kecil dari tampah haji yang baku memang sengaja mau memperkaya diri atau karena salah pengertian. Rupa-rupanya dalam ketiga kasus tersebut, para nāyaka menghitung luas sawah para rāma dengan ukuran tampah tradisional Jawa yang luasnya kira-kira sama dengan 1 bahu sekarang, sedang semestinya ia menggunakan satuan tampah haji yang didasarkan atas satuan luas dari India, yang luasnya kira-kira sama dengan 1 hektar sekarang. Jika demikian halnya maka dalam ketiga kasus itu tidak terjadi penyelewengan yang disengaja, melainkan hanya salah pengertian. Apakah tidak disebutkannya sanksi hukum terhadap para nāyaka itu merupakan petunjuk tentang kebenaran dugaan ini????Tetapi tentu orang akan bertanya mengapa justru para pejabat desa yang tahu tentang peraturan pajak tanah yang benar, sedang sang nāyaka tidak???.

Sumber :

Boechari, 2012, Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti, Jakarta: KPG. hlm:291-306

Candi Ngawen Bermetamorfosis(?)

Misteri Di Desa Ngawen, Candi Ngawen yang bermetamorfosis
Lokasi : Desa Ngawen, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang
Tipe : Bangunan Suci Budha
Masa Pembangunan : Abad ke-8 Masa Wangsa Sailendra

Didaerah Muntilan tepatnya Desa Ngawen menyimpan misteri akan peninggalan kerajaan medang dahulu di era Wangsa Sailendra, candi ini berlatar belakang agama Buddha, bangunan ini tertulis dalam prasasti Karang Tengah bertahun 824 M yaitu Venuvana (hutan bambu), terdiri dari 5 buah candi kecil dan hanya satu candi yang bisa di pugar secara “sempurna”, ekskavasi candi ini dilakukan oleh Van Erp (peneliti asal belanda) pada tahun 1920 mengawali nya dengan mengeringkan lahan sawah tempat reruntuhan candi ini berada, akan tetapi apakah pemugaran yang dilakukan Van Erp telah sesuai dengan wujud aslinya? Atau masih banyak misteri tentang wujud asli dari bangunan Candi Ngawen ini?

1. Wujud puncak candi yang mengkerucut mirip dengan bentuk bangunan candi yang beraliran Hindu.
Dalam perjalanan ke candi ngawen ini bisa ditemukan sisa sisa stupa yang berada di pinggiran besaran stupa ini apabila dirakit adalah antara 5 – 7 meter menurut juru pelihara Candi Ngawen stupa ini berukuran besar andai stupa itu diletakkan pada leher candi maka bentuk bangunan candi ini menjulang lebih tinggi dari candi yang ada sekarang ini dan bentuk stupa yang ada membuat nya tampak lebih berbentuk candi Buddha daripada yang sekarang, beberapa bukti terlihat bahwa penataaan batuan sisi tengah candi I ini dilekatkan dengan perekat dikarenakan struktur nya yang ramping maka kaidah pemugaran Candi Ngawen ini dahulu pasti tidak menggunakan batuan aslinya secara utuh tapi merekayasa bentuk terdekatnya sehingga masih banyak bahan stupa yang tertinggal tidak bisa terpasang.

2. Fungsi Jaladwara berbentuk singha
Ketika kita melihat struktur bawah candi ini maka tak luput dari pandangan mata kita jaladwara yang berbentuk singha, jaladwara sendiri berfungsi sebagai tempat mengalirnya air (talang) akan tetapi di candi ngawen ini berbentuk singha berdiri dengan lubang dimulutnya akan tetapi dalam pengamatan penulis dulu talang air ini fungsi nya bukan mengalirkan air akibat hujan akan tetapi memang berfungsi sebagai air mancur yang mengitari candi ini, bukti penguat dari hipotesis ini adalah pada waktu ekskavasi dan pemugaran candi ini dahulu ketika proses penggalian kira kira 1 meter kedalam tanah sudah mulai mengeluarkan air , hal ini didukung dengan temuan beberapa waktu lalu setelah letusan merapi tentang adanya aliran sungai purba di sekitar Candi Ngawen, dari penuturan juru pelihara candi ngawen untuk memperkuat pondasi candi terpaksa mata air di bawah candi ini di tutup (dicor) dengan semen dan dilapisi ulang dengan pasir agar pondasi candi ini kuat dan tidak ambles. bukti ini memperkaya hipotesa penulis bahwa dahulu candi ini berada di tengah air atau diliputi air dengan posisi singha sebagai tempat keluarnya mata air.

Apakah Van Erp dulu melakukan pemugaran secara tergesa-gesa atau di pengaruhi oleh bangunan-bangunan candi lain dan memperkirakan bahwa bentuknya hampir sama? Apabila sama kenapa batuan pembentuk ini masih tersisa banyak dan puzzle ini belum dapat di bentuk ulang. semua ini masih menjadi misteri dimana kelak pemelihara pemelihara dan pejuang – pejuang sejarah ini dapat merekonstruksi secara utuh bentuk bangunan Candi Ngawen.

Note Laurentia Dewi: tulisan ini adalah opini pribadi seseorang yang perlu dicocokkan kebenarannya.

Gedong Songo

Gedong Songo (Gedong = Bangunan, Songo = Sembilan , Bangunan Sembilan) adalah nama candi yang berada di bukit pegunungan Ungaran.

Candi Gedong Songo terletak pada ketinggian sekitar 1.200 DPL dengan suhu sekitar 19 – 27 °C. Lokasi Candi Gedong Songo sangat mudah di jangkau dari berbagai kota yang ada di sekitarnya. Lokasinya merupakan jalur deretan alternatif Ungaran – Temanggung. Apabila memulai dari Kota Semarang cukup ke selatan menuju Kota Ungaran – Bandungan – Gedong Songo. Bisa di tempuh dengan waktu 1 jam perjalanan. Apabila dari Yogyakarta bisa melalui Kota Ambarawa (Tugu Palagan Ambarawa) – Bandungan – Gedong Songo, waktu perjalanan sekitar 2 jam. Candi Gedong Songo yang dibangun konon pada era Wangsa Sanjaya ini terletak di lereng Gunung Ungaran, pada koordinat 110°20’27” BT dan 07°14’3” LS di desa Darum, Kelurahan Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Propinsi Jawa Tengah.

Gedong Songo berasal dari bahasa Jawa, Gedong (rumah/bangunan) dan Songo (sembilan) yang berarti Sembilan (Kelompok) Bangunan. Apakah sejak awal candi ini ada sembilan kelompok? Atau memiliki arti lain? Hmm, belum dapat dijawab. Namun saat ini hanya ada 5 komplek candi yang terlihat. Candi Gedong Songo ini banyak kemiripan dengan candi yang ada di Dieng yang berada di Kabupaten Banjarnegara (petualangan selanjutnya). Komplek candi ini di buat berderet dari bawah ke atas perbukitan mengintari kawah sumber air panas. Dimana komplek candi di Dieng juga banyak kawah air panas yang berada tak jauh dari pusat candi.

Pembuatan candi yang simetris dan berada atas bukit menunjukan perpaduan dari dua religi yaitu lokal yang menganut kepercayaan terhadap nenek moyang dan budaya hindu dimana candi sebagai tempat tinggal para dewa. Candi yang dibuat kuncup ke atas mirip dengan budaya jaman batu yaitu punden berundak-undak. Prinsipnya bawah semakin ke puncak, maka roh nenek moyang semakin dekat dengan manusia. Nah, kedua budaya ini menyatu di Candi Gedong Songo dengan mendefinisikan sebagai tempat persembahan untuk roh nenek moyang dimana tempat untuk melakukan prosesi tersebut berada di komplek candi yang berada di atas perbukitan. Arca-Arca di komplek Candi Gedong Songo yang dibuat pada abad ke 8 Masehi tidak lagi lengkap.

Arca-arca yang di jumpai hanya beberapa yang tersisa, seperti Durga (Istri Siwa), Ghanesa (Anak Siwa), Agastya (Seorang Resi) Serta dua pengawal dewa Siwa yaitu Nandiswara dan Mahakala yang bertugas menjaga pintu candi. Komplek Candi Gedong Songo sendiri di temukan oleh Loten, pada tahun 1740. Pada masa setelahnya, Rafles mulai mencatatnya dengan memberi nama gedong pitoe (tujuh) karena hanya menemukan 7 kelompok bangunan sekitar tahun 1804. Namun baru pada tahun 1925, Van Braam membuat publikasi adanya candi di sekitar perbukitan Ungaran. Lalu Friederich dan Hopermans menulis tentang Gedong Songo, dan Van Stein Calefells melakukan penelitian di sekitar Komplek Candi Gedong Songo pada tahun 1908. Sekitar tahun 1911-1912 Knebel melakukan inventarisasi semua komplek candi Gedong Songo. Pada tahun 1916, Pemerintah Belanda secara resmi mulai melakukan penelitian di komplek candi yang diserahkan tugas pada saat itu adalah oleh Dinas Purbakala Belanda. Pada tahun 1928-1929, dilakukan pemugaran candi Gedong 1. Pada tahun 1930-1932 dilakukan pemugaran pada candi Gedong 2.

Pemerintah Indonesia memulai pemugaran pada tahun 1977-1983, yang dipugar pada pada komplek candi gedong 3 , 4 dan 5. Pada saat itu yang melakukan tugas pemugaran adalah SPSP, pada saat ini namanya berubah menjadi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala. Pada tahun 2009 Pemerintah Indonesia mulai melakukan pemetaan ulang semua komplek candi Gedong Songo. Setelah masuk kita akan disuguhi dengan Candi I . Disini kalian akan mendapatkan sebuah pemandangan yang indah khas pegunungan dengan nuansa sejuk masih terasa.

Kemudian untuk menuju komplek candi II, harus ekstra kuat dan semangat. Letaknya sekitar 500 meter lebih dari komplek candi I. Pada saat ini, pengelola candi Gedong Songo membuat jalur baru yang memisahkan antara jalur Hikingers dan jalur kuda. Jalur Hikingers akan di belokkan ke kanan, melewati perbukitan dan warung makan. Beberapa Gazebo di siapkan untuk tempat istirahat para Petualang yang lelah naik ke perbukitan. Jalannya cukup bersih karena (maaf) tidak ada kotoran kuda disana-sini. Untuk jalur kuda berada di sebelah kiri yang letaknya agak berjauhan.

Setelah puas dengan komplek candi yang kedua, hanya berjarak beberapa meter ke atas. Anda akan menemukan komplek candi yang ketiga. Komplek candi yang ketiga ini cukup lengkap berjumlah 3 buah candi yang saling berdekatan. Kalau petualang pernah ke Dieng, maka akan di temukan kemiripan dengan komplek candi Arjuna di Dieng. Dengan beberapa candi yang mengerucut ke atas dan satu buah candi berbentuk kotak di depannya. Di komplek candi ketiga ini beberapa patung masih ada seperti patung Durga, Ganesa dan pengawal dewa siwa Nandiswara dan Mahakala yang berada di samping kanan kiri pintu candi.

Kemudian bila masih kuat, kita bisa melakukan perjalanan lagi menuju komplek candi keempat yang letaknya agak jauh dari komplek candi ke dua dan ke tiga. Hanya perlu berjalan beberapa menit mengintari bukit, maka akan tiba di komplek candi ke empat.

Dan candi kelima jaraknya juga tidak jauh dari tempat tersebut. Pada komplek candi yang kelima, beberapa bangunan candi nampak rusak karena sesuatu sehingga hanya sebuah candi kecil saja yang tersisa.

15337584_1347602305272586_316363579864639771_n 15289238_1347602398605910_2859299113752088998_o 15288582_1347602375272579_7161944166269173849_o 15271782_1347602385272578_1387102951004279102_o 15349625_1347601035272713_2557327686290953394_n

Souce: Unik

Para Pejabat; Pusat & Daerah

Para Pejabat Pusat dan Pejabat Daerah

Kerajaan Medang (Mataram Kuno) terdiri atas desa-desa yang disebut wanua dengan dukuh-dukuhnya yang disebut anak iṅ wanua dan sejumlah desa itu masuk ke dalam wilayah kekuasaan para pejabat pusat dan daerah (watak). Karena pejabat-pejabat itu mempunyai pembantu-pembantunya yang juga tidak dibayar dengan uang, maka para pembantu itu mempunyai ‘lungguh’ di dalam wilayah watak. Di tingkat pusat ada raja yang dibantu oleh putra mahkota (rakryān mahāmantri i hino), tiga putra raja yang lain (rakryān mahāmantri i halu, i sirikan dan i wka) dan seorang pejabat keagamaan (saṅ pamgat tiruan). Dibawah mereka ada sejumlah pejabat lagi, kalau lengkap disebut di dalam prasasti ada dua belas orang, yaitu:

  1. Rake halaran
  2. Rake palarhyang atau rake panggilhyang
  3. Rake wlahan
  4. Pamgat manghuri
  5. Rake dalinan
  6. Rake langka
  7. Rake tañjun
  8. Paṅkur
  9. Tawān
  10. Tirip
  11. Pamgat wadihati
  12. Pamgat makudur.

Tinggi rendah kedudukan mereka di dalam pemerintahan terbayang dari jumlah pasak-pasak (pasǝk-pasǝk) yang mereka terima.

Dengan perkataan lain, disamping putra mahkota, ada enam belas orang pejabat tinggi kerajaan. Ada kemungkinan bahwa sang pamgat tiruan juga anak raja atau sekurang-kurangnya anggota keluarga raja yang dekat, karena ada prasasti yang menyebutkannya sebagai kṣatriyakula. Dalam semua prasasti kelima pejabat tertinggi kerajaan itu menerima pasak-pasak yang lebih banyak dari keduabelas pejabat di bawah mereka, dengan catatan bahwa rakryān mahāmantri i hino memperoleh yang terbanyak di dalam beberapa prasasti.

Tugas masing-masing pejabat itu kurang jelas dari data prasasti. Yang agak jelas hanyalah tugas pangkur, tawān, tirip yang rupa-rupanya berurusan dengan “kas negara”. Mereka itulah yang mengurusi berbagai macam pemasukan pajak dan hasil rampasan perang (tawān=hañangan) serta hadiah dari kerajaan-kerajaan yang bersahabat. Anehnya mereka itu tidak pernah disebut dengan gelar rakai atau pamgat dan hingga sekarang tidak pernah mendengar ungkapan wanua i watak pangkur, watak tawān, dan watak tirip, kecuali di dalam prasasti tinulad, dimana dijumpai watak tirip. Juga pamgat wadihati dan pamgat makudur tampak agak jelas tugasnya, yaitu mengurusi tanah-tanah yang ditetapkan menjai sīma.

Para pejabat tinggi itu tinggal di ibu kota kerajaan. Mereka dibantu oleh patih, parujar dengan pituṅtuṅ-nya, citralekha, dan paṅuraṅ. Patih biasa mengurus masalah administrasi pemerintahan, parujar semacam “juru bicara” dan pituṅtuṅ mungkin orang yang bertugas menyiarkan hal-hal yang harus diketahui rakyat, citralekha ialah “juru tulis” dan paṅuraṅ kemungkinan besar petugas yang mengurusi perpajakan.

Para rakai dan pamgat yang merupakan penguasa daerah dan bukan pejabat tingkat pusat, mempunyai sebagai bawahan: patih, juruniṅ kanāyakān, wahuta, citralekha, dan mataṇḍa. Patih membawahi parujar, tuṅgu duruṅ dan pratyaya, tuhaniṅ kanāyakān membawahi juruniṅ wadwa rarai, juruniṅ kalula, juruniṅ maṅkarat, juruniṅ mawuat haji, dan wahuta membawahi pituṅtuṅ, wahuta lampuran dan wahuta wiṅkas wkas. Mataṇḍa adalah pejabat yang membawa cap pejabat rakai dan pamgat atau yang membawa panji-panji pejabat tersebut. Diantara beberapa jabatan yang telah disebutkan dan masih banyak lagi, hanya sepuluh nama yang sering disebut dalam prasasti. Istilah untuk pejabat desa ialah rāma ‘ayah yang terhormat’. Kesepuluh jabatan itu ialah gusti, kalaṅ atau tuha kalaṅ, wiṅkas, tuha banua, parujar, hulair, wariga, tuhālas, tuha wǝrǝh dan hulu wras. Arti dari istilah gusti hingga sekarang belum jelas. Kalaṅ atau tuha kalaṅ sering dihubungkan dengan orang-orang yang mengerjakan kayu dari hutan; tetapi ada juga kemungkinan bahwa kalaṅ atau kalaṅan berhubungan dengan lingkaran, yaitu tempat menyabung binatang untuk adu ketangkasan antar warga ataupun untuk upacara tertentu. Istilah wiṅkas berasal dari kata wǝkas yang dapat berarti “akhir”, “tujuan”, atau “pesan”; tetapi apa tugas seorang winǝkas belum dapat diketahui. Tuha banua ialah orang yang dianggap “tetua desa”, tapi bukan “kepala desa”, karena disebuah desa sering dijumpai beberapa tuha banua. Jabatan parujar sudah kita jumpai sejak di pusat kerajaan sebagai pembantu dari para pejabat tinggi; juga di daerah watak. Hulair ialah kontraksi dari istilah hulu dan air; artinya jabatan yang mengurusi pengairan di sawah-sawah desa (paṅhulu bañu). Wariga sebenarnya semacam ‘kitab primbon’ untuk mengetahui hari baik bulan baik bagi permulaan suatu pekerjaan, jadi pada jabatan ini ialah orang yang memahami ‘kitab primbon’. Tuha alas ialah orang yang ditugasi mengurus hasil perburuan di hutan, dan hasil hutan lainnya. Tuha wǝrǝh ialah petugas yang mengurusi para pemuda dan pemudi, sedang hulu wras ialah petugas yang mengurusi hasil panen padi atau lumbung padi.

Data prasasti sebenarnya masih memberi petunjuk tentang adanya para pejabat rendahan di pusat kerajaan. Pada beberapa isi prasasti disebutkan bahwa daerah yang dijadikan sīma itu tidak boleh lagi ‘dimasuki’ oleh paṅkur, tawān, tirip, patih, wahuta, rāma, nāyaka dan oleh mereka yang disebut mangilala drawya haji (yang kira-kira berkisar 28-50 orang). Menurut para sarjana, maṅilala drawya haji ialah para “pemungut pajak”. Tetapi menurut tafsir kami istilah itu kurang tepat, karena diantara kelompok itu terdapat misalnya widu maṅiduṅ (pesinden), para pandai (emas, perak, perunggu, tembaga), mereka yang mengurusi kendaraan gajah dan kuda (mahaliman, makuda), anggota pasukan pengawal raja yang bersenjatakan panah, tombak, dan gada (mamanah, magalah dan magaṇḍi), bahkan sampai kepada mamŗṣi (tukang cuci). Lebih tepat jika maṅilala drawya haji ditafsirkan sebagai “abdi istana yang tidak memperoleh daerah lunggah sebagai imbalan jasanya, tapi memperoleh gaji berupa uang”. Namun mereka lain dari apa yang ada di dalam berbagai prasasti yang disebut sebagai wadwā haji dan wadwā para putra raja, wadwā permaisuri dan para selir. Mungkin para abdi ini sama sekali tidak memperoleh “gaji” dalam bentuk uang; mereka itu tinggal di istana dalam kamar-kamar yang dibuat untuk mereka dan mendapatkan makan, minum dan pakaian.

Sumber :
Boechari.2012. Kerajaan Mataram Sebagaimana Terbayang dari Data Prasasti, dalam Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti: kumpulan tulisan Boechari. Jakarta: KPG, hlm: 183-196.

Arca: Asli/ Palsu

Seiring maraknya bisnis arca-arca kuno, tentulah ada pikiran negatif untuk menipu konsumen. Dari sejumlah perajin arca di Desa Prumpung, Magelang, diketahui ada berbagai cara untuk membuat suatu arca agar berkesan antik. Selain diberi perasan air kunyit atau air teh, arca pun harus dipendam di dalam tanah selama beberapa bulan.

Buat masyarakat awam, termasuk para arkeolog, memang terasa sulit apabila harus mengidentifikasi mana arca asli dan mana arca palsu. Apalagi jika seorang pakar hanya melihat gambarnya, tanpa mengamati detil, tekstur, atau kelenturan (plastisitas) koleksi. Namun sekadar gambaran, menurut penelitian para pakar ikonografi (pengetahuan tentang seni arca kuno), setiap arca Buddha dan Hindu sudah memiliki gaya dan ciri tertentu.

Penggambaran arca Buddha diketahui sangat sederhana. Tanpa sesuatu hiasan, hanya memakai jubah. Tanda-tanda utamanya adalah rambutnya selalu keriting, di atas kepala ada tonjolan seperti sanggul (usnisa), dan di antara keningnya ada semacam jerawat (urna).

Tokoh (dewa) mana yang dilukiskan oleh arca Buddha itu, diketahui lewat sikap tangan (mudra) dan ciri khusus lain (laksana) setiap tokoh. Agama Buddha mengenal Dhyanni-Buddha, Dhyanni-Boddhisattwa, dan Manusi-Buddha. Masing-masing berjumlah lima dan menempati empat arah mata angin pokok (Utara, Selatan, Barat, Timur) ditambah satu di pusat.

Dalam agama Hindu, arca dihubungkan dengan seorang raja yang telah wafat. Arca tersebut ditempatkan di dalam candi karena dianggap titisan dewa. Sebagai pendamping, kemudian dibuatkan beberapa arca dewa-dewi. Untuk membedakan dewa yang satu dengan dewa lainnya, maka setiap arca digambarkan dengan laksana sendiri-sendiri.

Setiap arca dewa pun memiliki ciri dan menempati lokasi tertentu sesuai dengan delapan arah mata angin, seperti halnya arca Buddha. Dengan demikian mudah diidentifikasi bila terjadi pencurian, pemenggalan, atau perbuatan negatif lainnya terhadap arca-arca kuno itu.

Dua Langgam

Umumnya arca merupakan bagian dari suatu candi. Karena terbuat dari batu, tentulah bobotnya terlalu berat. Maka agar lebih ringan, sebagai gantinya masyarakat kuno membuat arca logam yang relatif kecil untuk persembahan atau pemujaan di rumah. Justru bagi para peneliti zaman sekarang, mengidentifikasi arca logam memiliki sedikit kendala dibandingkan arca batu.

Arca logam mudah sekali diangkut ke sana ke mari, sehingga sukar ditetapkan apakah arca logam itu benar-benar diperoleh dari suatu situs arkeologi atau bukan. Kesulitan lainnya adalah menentukan masa sejarah arca tersebut, kecuali kalau ada tulisan atau angka tahun. Karena itu, perkiraan umur arca logam biasanya hanya berdasarkan pada corak atau bentuknya.

Lagi pula, umumnya kesenian India terikat oleh beberapa peraturan, meskipun peraturan-peraturan itu tidak membekukan daya cipta para seniman. Semuanya tersirat pada sejumlah kitab, seperti Silpasastra, Visnudharmottaram, dan Vastusastra (Sutjipto Wirjosuparto, Sedjarah Seni Artja India, 1956).

Keindahan seni India bisa dilihat dari bagian-bagian badan arca yang proporsional. Misalnya jarak antara mata harus sekian tala (semacam ukuran panjang). Begitu juga jarak dari mata ke hidung, hidung ke mulut, mulut ke dagu, dan seterusnya.

Selain itu, bagian-bagian arca harus menyerupai atau mendekati bentuk sesuatu yang dijadikan “patokan utama”. Beberapa persyaratan itu, harus menyerupai hewan atau tumbuhan yang dianggap fantastis. Bagian-bagian badan yang dianggap paling vital adalah muka, kening, mata, telinga, hidung, bibir, leher, dagu, dada, bahu, tangan, jari, pinggang, kaki, dan lutut.

Pada dasarnya seni pahat arca kuno di Indonesia terbagi atas dua langgam, yakni langgam Jawa Tengah dan langgam Jawa Timur. Arca langgam Jawa Tengah dinilai sangat indah, betul-betul menggambarkan seorang dewa dengan segala-galanya. Arca langgam Jawa Timur agak kaku, mungkin karena sengaja disesuaikan untuk menggambarkan seorang raja atau pembesar negara yang telah wafat (Soekmono, Sejarah Kebudayaan Indonesia 2, 1973).

Berbagai ciri pada arca juga menjadi petunjuk untuk menempatkannya dalam masa sejarah tertentu. Arca-arca dari masa Singasari, misalnya, mempunyai kekhususan dibandingkan arca-arca dari masa Majapahit. Begitu pula sebaliknya.

Mudah-mudahan dengan pengenalan singkat ini, Anda tidak tertipu oleh arca kuno yang ternyata palsu.

15350626_1105426196241257_2600374227579301316_n 15326604_1105427186241158_2987104392093190377_n 15355849_1105426832907860_3615965281808727751_n 15380622_1105426219574588_5041336502255424124_n 15285087_1105427012907842_7117874460527247868_n 15391200_1105426719574538_4520683758823270586_n 15267790_1105426186241258_8801683702303522000_n

Sumber :
Djulianto Susantio

Arca

Arca dalam bahasa Inggris disebut icon, yang berarti patung atau gambaran orang suci (John M. Echols dan Hassan Shadily, 1983: 309). Kata icon berasal dari bahasaYunani eikon yang searti dengan kata-kata Sansekerta arcã, bera, vigrha, dan pratima.Kata arcã diartikan sebagai gambaran, arca dewa. Kata bera mempunyai arti perwujudan atau arca (dewa), kata vigrha berarti perpaduan, perwujudan (dewa), dan kata pratima yang berarti perwujudan jasmani seorang dewa yang dipuja (Maulana, 1997: 2). Di dalam mempelajari tentang arca dikenal ilmu ikonografi dan ikonometri yang merupakan cabang dari ilmu ikonologi. Ikonografi mempelajari system tanda-tanda sebagai penentu identitas arca, sedangkan ikonometri adalah seni mengukur bagian badan arca dengan menggunakan ikonometer. Ikonometri merupakan hal yang sangat penting bagi seniman pembuat arca, karena merupakan ketentuan pokok yang dijadikan pedoman dalam pembuatan arca. Di India pedoman mengenai ukuran arca termuat dalam kitab Silpasastra, yaitu suatu kitab yang berisi petunjuk penting untuk pembuatan arca. Dalam Ikonometri, ukuran arca ditetapkan dengan sistem talamana, yang merupakan pedoman pengarcaan tokoh dari segi proporsi berdasarkan tala-nya. Tala adalah ukuran relatif menggunakan pedoman wajah atau telapak tangan tokoh yang diarcakan (Pramastuti, 1979: 2, 8). Dalam pembuatan arca dewa terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh si pembuat arca, termasuk bahan-bahan yang digunakan harus memenuhi ketentuan-ketentuan. Jenis-jenis bahan yang dapat digunakan untuk membuat arca di sebut dalam kitab Hayasirsa, Pancacatra, antara lain bahan tanah (mrnmayi), kayu (darughatita), logam (lohaja), permata (ratnaja), batu (sailaja), ramuan wewangian (gandhaja), bunga (kausumi) dan lain-lain. (Pramastuti, 1979: 4). Dalam menggunakan masing-masing bahan tersebut juga berlaku ketentuan-ketentuan yang tidak dapat ditinggalkan oleh seorang pembuat arca. Khusus arca dari bahan batu terdapat ketentuan antara lain : batu harus berwarna tunggal dan berkualias, yang tertanam dalam tanah atau terendam airyang berasal dari sumber air suci, permukaan batu harus rata, dan batu yang tidak mengandung butiran-butiran pasir kasar (Pramastuti,1979: 5). Jenis bahan batu yang digunakan untuk membuat arca adalah batu andesit yang sumber bahannya dari gunung, misalnya Gunung Merapi, Merbabu dan sebagainya. Batu andesit yang dipilih untuk membuat arca adalah yang berkualitas baik.

15350626_1105426196241257_2600374227579301316_n 15350525_1105699789547231_5064876882999690640_n 15350494_1105699886213888_1954141750743875261_n 15350480_1105699809547229_8431036077750940636_n 15349829_1105699899547220_8185113492724114168_n 15338745_1105699979547212_6027824950644658818_n 15327288_1105699916213885_2666142183746956306_n 15319276_1105700026213874_5397991426853539184_n

Source :
Katalog Arca Batu 2014

Deskripsi dokumen Sutasoma (by Perpustakaan Universitas Indonesia)

Sebuah deskripsi dokumen:

Lontar ini berisi teks Kakawin Sutasoma, yaitu kisah upaya Sang Sutasoma sebagai titisan Sang Hyang Buddha untuk menegakkan dharma. Sutasoma, putra Prabu Mahaketu dari kerajaan Astina, lebih menyukai memperdalam ajaran Buddha Mahayana daripada harus menggantikan ayahandanya menjadi raja. Sutasoma pergi ke hutan untuk melakukan semadi di sebuah candi dan mendapat anugerah. Kemudian beliau pergi ke gunung Himalaya bersama beberapa pendeta. Di sebuah pertapaan, beliau mendengar cerita tentang raja raksasa bernama Prabu Purusada yang gemar makan daging manusia. Para pendeta dan Batari Pretiwi membujuk Sutasoma agar membunuh Prabu Purusada. Sutasoma menolak bujukan tersebut karena ingin melanjutkan perjalanan. Beliau bertemu dengan raksasa berkepala gajah pemakan manusia dan ular naga. Keduanya takluk dan bersedia menjadi muridnya untuk mempelajari agama Budha. Sutasoma juga bertemu dengan harimau betina yang akan memakan anaknya sendiri. Dalam perkelahian ini Sutasoma mati tetapi dihidupkan kembali oleh Batara Indra. Tersebutlah sepupu Sutasoma bernama Prabu Dasabahu, berperang dengan anak buah Prabu Kalmasapada (Purusada). Anak buah Prabu Kalmasapada kalah dan minta perlindungan Sutasoma. Prabu Dasabahu yang terus mengejar, akhirnya tahu bahwa Sutasoma itu sepupunya, lalu diajak ke negerinya dan dijadikan ipar. Setelah kembali ke Astina, Sutasoma dinobatkan sebagai raja bergelar Prabu Sutasoma. Cerita dilanjutkan dengan kisah Prabu Purusada dalam membayar kaul kepada Batara Kala. Prabu Sutasoma bersedia menjadi santapan Batara Kala, sebagai ganti atas ke-100 orang raja sitaan Purusada. Mendengar permintaan raja Astina tersebut, Prabu Purusada menjadi sadar akan perbuatannya dan berjanji tidak makan daing manusia lagi. Judul luar teks yang berbunyi Sri Bajra Jnana (tulisan latin), rupanya keliru, karena sesungguhnya merupakan baris pertama dari bait pertama, yang dituangkan ke dalam pupuh Sragdhara (pupuh I). Naskah ini dikarang oleh Mpu Tantular pada jaman Majapahit (h.l47a baris ke-4). Nampak beberapa teks telah diperbaiki dengan tulisan pensil. Keterangan penulisan atau penyalinan teks ini tidak diketahui secara jelas, hanya disebutkan tempat penyalinan wesma Sri Gandi, oleh sangapatra: awirbhuja putraka siwa sudda (?). Informasi tentang daftar pupuh dari Kakawin Sutasoma ini, lihat Kakawin Sutasoma suntingan I G. B. Sugriwa, yang diterbitkan oleh toko buku Bali Mas Denpasar Bali, dan dalam Kalangwan karya P.J. Zoetmulder. Informasi mengenai teks Sutasoma ini dapat dilihat pada Pigeaud 1970: 402; MSB/L.449; Kirtya/114, 974, 910, 2352, 1148, 2290; Brandes. III: 147-157; PNRI/000 L 557; Juynboll I: 140-143.

Taken from here.

Pertumbuhan Kerajaan Melayu Sampai Masa Adityawarman (by Drs. Alian, M.hum)

Kerajaan Melayu adalah salah satu kerajaan awal di Indonesia yang terletak di Jambi. Ada dua kerajaan di Sumatera yang memiliki masa perkembangan yang relatif sama waktunya, dan memiliki wilayah kekuasaan yang yang hampir bersamaan secacra geografis, kerajaan tersebut adalah Melayu dan Sriwijaya. Sumber utama yang dapat membuka tabir kerajaan ini adalah berasal dari Cina. Menurut berita dari dinasti T’ang pada tahun 644 dan 645 sudah datang utusan Melayu ke Cina. Selanjutnya, Berita I-tsing menjelaskan bahwa pada tahun 671 ia pernah mampir di kerajaan Melayu dalam perjalanannya dari Sriwijaya ke India. Namun pada tahun 685 Melayu sudah menjadi wilayah kerajaan Sriwijaya. Setelah itu lama tidak terdengar beritanya, barulah pada tahun 1275 Kertanegara mengirimkan tentaranya ke Melayu. Pengiriman ini disebut ekspedisi Pamalayu dengan tujuan untuk membebaskan Melayu dari kekuasaan kerajaan Sriwijaya, serta menjalin kerjasama sebagai kerajaan yang berserikat dengan Kertanegara. Puncak kejayaan kerajaan Melayu terjadi pada masa raja Adityawarman yang memerintah dari tahun 1347-1375.

Kata kunci: Kerajaan Melayu, ekspedisi Pamalayu, Adityawarman

PENDAHULUAN

Tidak banyak penulis memuat tulisan tentang sejarah melayu, apa lagi di buku-buku materi pelajaran sekolah menengah hampir tidak ada, karena itu keberadaan sejarah ini sering terlupakan. Hal ini diakui banyak penulis sperti Soekmono (1992: 1) mengatakan sejarah kerajaan melayu masih diliputi kegelapan. Sampai sekarang berita tentang ini masih bersandar kepada berita-berita Cina yang sulit sekali diitafsirkan sehingga gambaran dan cerita sejarahnya yang disajikan oleh para pakar masih tidak menentu.

Hal ini kiranya cukup nampak dari apa yang tertera dalam buku Sejarah Nasional Indonesia jilid II, disebutkan bahwa dari kitab sejarah dinasti Liang kita memperoleh keterangan bahwa antara tahun 430-475 masehi beberapa kali utusan dari Ho-lo-tan dan Kan-t’o-li datang di Cina. Ada juga utusan dari To-lang, P’o-hwang. Kan-t’o-li ini terletak di salah satu pulau di laut selatan. Adat kebiasaannya serupa dengan di kamboja dan Campa. Hasil negerinya yang terutama pinang, kapas dan kain berwarna. Sedangkan dalam kitab sejarah dinasti Ming disebutkan bahwa San-fo-sai dahulu disebut juga Kan-t’o-li. Menurut G. Ferrand Kan-t’o-li di dalam berita Cina ini mungkin sama dengan Kendari yang terdpat di dalam berita dari Ibn Majid yang berasal dari tahun 1462 masehi. Karena San-fo-tsi dahulu disebut juga Kan-t’o-li, sedangkan san-fo-tsi diidentifikasikan dengan Sriwijaya, maka

Ferrand menafsirkan Kan-t’o-li letaknya di Sumatera dengan pusatnya di Palembang. Kemudian To-lang, Po-hwang disamakan dengan Tulangbawang. Dalam hubungan ini Poerbatjaraka juga menduga bahwa To-lang dan Po-hwang yang disebut di dalam sejarah dinasti Liang, merupakan sebuah kerajaan di daerah aliran sungai Tulangbawang, Lampung. Kerajaan Tulangbawang ini kemudian ditaklukan oleh kerajaan lain, karena berita Cina hanya sekali saja menyebut keajaan ini. Sementara itu J.L. Moens mengidentifikasikan Singkil Kandari dalam berita Ibn Majid dengan Kan-t’o-li di dalam kitab sejarah dinasti Liang dan Ming. Sedangkan yang dimaksud dengan San-fot-tsi ialah Melayu (Poesponegoro, 1984: 79).

Dari keterangan di atas jelaslah agak membingungkan, namun demikikan adanya kerajaan melayu ini tidak terlepas dari berita Cina sebagai sumber utama. Tidak pula dapat dipungkiri bahwa berita pertama yang dengan jelas menyebutkan nama Malayu adalah berita Cina juga. Dari kitab sejarah dinasti T’ang didapat keterangan tentang datangnya utusan dari Mo-lo-yeu di Cina pada tahun 644 dan 645 masehi. Sudah barang tentu sulit dicarikan untuk menerima keberatan dalam mengidentifikasi kata Cina ini dengan malayu (Soekmono, 1992: 2).

Berita yang yang berharga dalam mengungkap kerajaan Melayu berasal dari berita I- tsing seorang pendeta Budha dari Cina yang berlayar dari Tamralipti ke Sriwijaya, ia singgah di Malayu (Muljana, 1981:32). Sumber lain menjelaskan bahwa Pelayaran I-tsing dilakukan pada tahun 671 diberitakannya bahwa I-tsing belayar dari Canton (Cina Selatan) ke Palembang (Sumatera Selatan). Menurutnya Palembang ketika itu menjadi kedudukan raja Sriwijaya. Kemudian pada tahun 672 I-tsing berlayar dari Sriwijaya ke India dengan kapal Sriwijaya, raja Sriwijaya juga ikut berlayar, saat ini kata I-tsing Malayu adalah Sriwijaya.Dari uraian I-tsing di atas jelas bahwa dalam abad ke tujuh Melayu memegang peranan penting dalam lalu lintas pelayaran dari Canton ke daerah-daerah di sebelah barat selat Malaka. Malayu adalah nama sebua kerajaan dan pelabuhan yang terletak di suatu tempat di selat Malaka antara Sriwijaya dan Kedah, pada zaman dahulu suatu kebiasaan bahwa nama ibukota sama dengan kerajaan. Kerajaan ini terletak di sebelah selatan Kedah, menurut Boechari Malayu terletak di pantai timur Sumatera dekat sungai Asahan.

Dari beberapa sumber tidak dijelaskan nama-nama raja yang memerintah, seperti yang telah penulis kemukakan hanya waktu berdiri dan letaklah yang dapat dipahami. Setelah ditaklukan Sriwjaya pada tahun 685, untuk jangka waktu yang lama tidak dijumpai nama Melayu. Pada pertengahan abad XIII dijumpai lagi nama Melayu di dalam kitab Pararaton dan kitab Negrakertagama. Di dalam kedua sumber tersebut disebutkan bahwa pada tahun 1275 raja kertanegara mengirimkan tentaranya ke Melayu pengiriman pasukan ini dikenal dengan sebutan Pamalayu. Selain itu dijelaskan dalam beberapa sumber bahwa Kerajaam Melayu mengalami puncak kejayaan pada masa raja Adityawarman.

Dari uraian di atas permasalahan pokok yang akan dibahas dalam makalah ini adalah Kerajaan Melayu sejak pertumbuhan sampai masa Adityawarman. Dari tema pokok ini akan diuraikan tentang: sejarah melayu, kerajaan Melayu dan swriwijaya, ekspedisi Pamalayu serta kerajaan Melayu pada masa raja Adityawarman. Semua ini akan penulis uraikan dengan menggunakan metode kepustakaan (Library Research), hasil kajian pustaka tersebut disusun dalam rangkaian sistematis sehingga terwujud tulisan deskriptif analitik.

KERAJAAN MELAYU

Seperti telah diuraikan pada bagian pendahuluan bahwa tabir pembuka adanya kerajaan Melayu di pantai timur Sumatera tidak terlepas adanya berita Cina. Pada masa awal (sebelum abad ke IV masehi) berita-berita Cina mengenai daerah ini masih sangat langkah. Menginjak abad ke V keterangan mengenai Asia Tenggara khususnya tentang wilayah sekitar selat Malaka, mulai meningkat dan menunjukan bahwa berita tersebut berasal dari pengunjungnya sendiri. Menurut Lapian hal ini membuktikan bahwa pelayaran orang Cina ke daerah ini semakin banyak, dan mencerminkan pula keramaian pelayaran di kawasan ini yang semakin meningkat. Jika sebelumnya pelayaran Cina dan orang asing lainnya dihubungkan dengan perdagangan antara negeri Cina dengan India dan kawasan Asia Barat, kawasan ini hanya berperan sebagai tempat singgah dalam jalur perdagangan masa kuno yang dikenal sebagai jalur sutra (Lapian, 1992: 4).

Berikut ini beberapa berita Cina yang dapat menjadi rujukan tentang keberadaan kerajaan Melayu, pertama berasal dari kitab sejarah dinasti T’ang didapatkan keterangan adanya utusan dari melayu datang ke Cina pada tahun 644 dan 645, jika ini terjadi dapat dikatakan ketika itu kerajaan Melayu sudah menancapkan kekuatan dan kekuasaan sebagai

kerajaan yang telah menjalin hubungan dengan bangsa luar. Kedua, berita yang lebih menarik dan lebih jelas berasal dari kisah perjalanan I-tsing, seorang pendeta Budha dari Cina yang pernah tinggal di Sriwijaya cukup lama. Dalam perjalanannya dari Kanton di Cina ke Nagapattam di India dalam tahun 671/672 ia singgah dulu di She-li-fo-she untuk belajar bahasa sanskerta selama enam bulan. Dari sini ia menuju Mo-lo-yeu, di mana ia tinggal selama dua bulan, untuk kemudian meneruskan perjalanannya ke Chieh-cha (Kedah) dan selanjutnya ke India. Dalam perjalanan pulangnya pada tahun 685 ia singgah lagi di Mo-lo- yeu, “yang telah menjadi She-li-fo-she”, selama enam bulan. Kisah perjalanan I-tsing ini memberi gambaran bahwa melayu adalah tempat persinggahan yang cukup penting, karena tidak dilewati begitu saja, baik dalam pelayaran dari Cina ke India maupun sebaliknya. Adapun letaknya dari bandar Melayu itu, kiranya dapat disimpulkan dari keterangan mengenai arah pelayaran yang diceritakan I-tsing. Pelayaran dari Sriwijaya ke melayu memakan waktu lima belas hari, dan demikian juga dari Melayu ke Kedah. Hanya saja dari melayu ke Kedah orang harus berganti arah (Soekmono, 1992: 2-3).

Menurut Coedes, penentuan letak kerajaan Melayu secara tepat sudah bertahun- tahun lamanya menjadi pokok pembicaraan. Apakah melayu itu ditempatkan di pantai Sumatera sebelah barat atau sebelah timur, ataupun di bagian selatan semenanjung Melayu. Namun demikian, bagaimanapun juga kesaksian musafir I-tsing menjadi petunjuk bahwa letak kerajaan melayu dekat dengan Che-li-fo-che (nama yang dipakai bangsa Cina untuk menyebut kerajaan Palembang sebelum dipakai nama San-fo-tsi). Berkat sebuah pasal dalam tulisan I-tsing, pencaplokan melayu oleh Che-li-fo-che dapat ditentukan waktunya yaitu antara tahun 672-675 (Coedes, 1989: 10). Dalam memoir I-tsing yang menyinggung adanya kerajaan Melayu, yang kemudian menjadi bagian dari kerajaan Sriwijaya dan terletak antara Sriwijaya dengan Kedah. Selanjutnya I-tsing menuliskan negara-negara di laut selatan yang memeluk agama Budha, terutama aliran Hinayana, di antaranya menurut I-tsing melayu. Menyimak dari keterangan I-tsing maupun catatan Cina lainnya, kerajaan Melayu yang dikunjungi I-tsing tahun 672 dalam pelayaraanya ke Nalanda terletak di dekat sungai Batanghari, sama dengan kota Jambi sekarang. Dengan kata lain dalam abad ke-7 kota Jambi bernama Melayu. Nama Jambi baru muncul pada abad ke 9 tepatnya pada tahun 853 masehi (Hanafiah, 1992:1).

Pendapat lain mengenai letak kerajaan Melayu dikemukakan oleh Boechari, ia juaga menganalisa perjalanan I-tsing dari Sriwijaya ke India, terutama perjalanan dari Melayu ke Kedah. Dalam berita I-tsing disebutkan bahwa setelah sampai di melayu, pelayaran berubah arah untuk menuju Kedah. Lebih lanjut Boechari mengatakan Melayu itu letaknya di sebelah selatan Kedah dan pelayaran ke Kedah memakan waktu lima belas hari, seperti halnya pelayaran Sriwijaya ke Melayu. Oleh karena itu Melayu ini haruslah terletak di tengah perjalanan Sriwijaya (di daerah Batang Kuantan) ke Kedah, yaitu kira-kira tiga derajat di sebelah utara khatulistiwa, di pantai timur Sumatera dekat sungai Asahan atau di pantai barat Malaysia dekat Port Swettenham. Tetapi dalam hal ini ia lebih cenderung untuk menempatkan Melayu di panttai timur Sumatera, sebab I-tsing harus merubah arah pelayarannya untuk mencapai Kedah (Pooesponogoro, 1984: 82-83).

Penulis lain yang telah mencoba merumuskan letak kerajaan Melayu adalah Saudagar Fachruddin. Ia mengungkapkan isi perasasti Amoghapasa yang bertarik 1286 masehi, disebutkan bahwa sebuah kerajaan Suwarnabhumi sebuah tempat Dharmasraya serta negeri melayu. Dengan memperhatikan isi prasasti Amoghapasa, yang ditemukan di Jambi serta geomorfologi kawasan Jambi maka kawasan pedalaman Jambi adalah kawasan akhir kerajaan Budha di Jambi. Tumbuh dan berkembangnya kerajaan Melayu di Jambi tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan Agama Budha di daerah ini. Pengaruh Agama Budha masuk ke daerah Jambi diperkirakan sekiatar awal abad I masehi, melalalui pantai timur Jambi dan menyusuri sungai Batanghari (Saudagar, 1992: 16-17).

Pendapat yang sama dikemukakan oleh Saragi (1977: 15) dijelaskan sejak abad I masehi bangsa Indonesia telah berhubungan dengan dua pusat kebudayaan di Asia yaitu India dan Cina. Hubungan dengan Cina kebanyakan berkisar dalam soal perdagangan, sedangkan hubungan dengan India selain dalam soal perdagangan juga dalam kebudayaan. Hubungan pelayaran dan perdagangan yang timbal balik antara India dengan Indonesia bergerak sejalan dengan proses saling mempengaruhi dalam kebudayaan. Proses ini berlangsung dalam waktu yang lama sehinnga lambat laun bangsa Indonesia menerima kebudayaan India karena dasar kebudayaan India dan Indonesia ketika itu banyak yang sama. Bila memperhatikan sisa peninggalan umat Budha di daerah Jambi berupa Candi, arca, dan situs purbakala ternyata Agama Budha memiliki sejarah yang panjang,

perkembangan agama Budha di Jambi mengalami enam masa, yaitu masa pertumbuhan, perkembangan, masa jaya, menurun dan masa tengelam dan muncul kembali.

KERAJAAN MELAYU DAN SRIWIJAYA

Menurut Budi Utomo ( 1992: 23), ada dua nama untuk menyebut kerajaan yang terdapat di Sumatera, Kedua nama tersebut mengacu kepada nama Sriwijaya. Nama itu adalah Shih-li-fo-shih dan San-fo-tsi dikenal oleh para pakar sejarah dan arkeologi sebagai nama dari kerajaan Sriwijaya sebelum abad ke-9 masehi dengan pusatnya di Palembang. Setelah Sriwijaya memindahkan ibukotanya ke Jambi, penyebutan berubah menjadi San-fo- tsi. Lebih lanjut ia mengatakan, untuk nama kerajaan melayu, berita Cina telah telah menyebutkannya dengan nama Mo-lo-yeu, seperti yang diberitakan oleh I-tsing. Antara Melayu dan Sriwijaya agaknya terjadi suatu persaingaan di mana kerajaan yang terlebih dahulu adalah kerajaan Melayu, yaitu pada tahun 644-645 masehi. Keberadaan kerajaan ini sudah diakui dengan diterimanya utusan melayu ke Cina.

Di dalam beberapa sumber dapat diakui bahwa antara kerajaan Melayu dan Kerajaan Sriwijaya sering membingungkan. Kerancuan-kerancuan ini terjadi dalam hal kronologi dan wilayah kerajaan. Seperti dimaklumi kerajaan Melayu dan kerajaan Sriwijaya memiliki masa perkembangan yang relatif sama waktunya, dan dan memiliki wilayah kerajaan yang hampir bersamaan secara geografis. Dari sumber-sumber tertulis yang ada, terutama berita Cina, dapat diketahui suatu fase dalam sejarah kerajaan Melayu yang merupakan fas e pendudukan oleh Sriwijaya. Fase pendudukan ini pada suatu ketika berkahir, dan kerajaan Melayu merdeka kembali. Dengan demikian dapat diketahui bahwa ada tiga fase delam sejarah perkembangan kerajaan Melayu, yaitu: fase I adalah fase awal, sekitar pertengahan abad ke-VII atau tahun 680 masehi. Fase ke II, masa pendudukan kerajaan Sriwijaya, kejadian ini sekitar tahun 680 sampai pertengahan abad ke-11. Fase ke III, adalah masa akhir kerajaan Melayu, sekitar pertengahan abad ke-11 sampai akir abad ke-14 dan awal abad 15 ( Djafar, 1992: 25).

Sehubungan dengan adanya tiga fase perkembangan kerajaan Melayu terebut, timbul masalah terutama yang berhubungan dengan fase ke II, masa pendudukan kerajaan Sriwijaya. Demikian juga masalah wilayah baik kerajaan Melayu maupun kerajaan Sriwijaya. Batasan keruangan dan kronologinya masih belum jelas, pergeseran kekuasaan

dapat saja menyebabkan perubahan dalam tata ruang wilayah kekuasaan, dan hal ini dapat pula menyebabkan salah satu sebab terjadinya kemungkinan pergeseran pusat kekuasaan dari suatu tempat ke tempat yang lain. Gejalah ini terjadi dalam sejarah kerajaan Melayu.

Antara kerajaan Melayu dan Sriwijaya selalu terjadi persaingan dan satu sama lain saling mendominasi. Suatu saat, ketika Sriwijaya lengah Melayu bangkit kembali dengan mengirimkan utusannya kembali ke Cina. Seperti yang terjadi sekitar pertengahanabad ke-II masehi, ketika kerajaan Sriwijaya lemah sebagai akibat dari serangan Cola, Melayu memanfaatkan kesempatan untuk bangkit kembali. Sebuah prasasti yang ditemukan di Srilangka menyebutkan, bahwa pada masa pemerintahan Vijayabahu di Srilangka (1055- 1100, pangeran Suryanarayana di Malayapura (Melayu) berhasil memegang tampuk pemerintahan di Suwarnapura (Sumatera).

Melayu merupakan sebuah kerajaan yang diangggap penting. Eksistensi kerajaan ini selalu diakui oleh beberapa kerajaan. Sebuah kerajaan besar di Nusantara yang mempertahankan keberadaannya sebagai kerajaan, seperti halnya kerajaan Srwijaya dan Majapahit. Dalam kitab Negarakertagama menyebutkan Melayu labih dahulu dan menyebutkan sebagai sebuah negara terpenting dari sebuah negara bawahan Majapahit. Wilayah kekeuasaan kerajaan ini meliputi seluruh daratan pulau Sumatera. Beberapa daerah yang merupakan “bawahan” Melayu seperti Jambi, Dharmashraya, Kandis dan Minangkabau berlokasi di daerah Sungai Batanghari. Karena disebutkan yang pertama, agaknya Jambi meruakan tempat yang penting. Pada waktu itu mungkin merupakan sebuah bandar yang penting dan bekas ibukota kerajaan. Pada masa Majapahit, ibukota kerajaan Melayu sudah berlokasi di Dharmashraya yang lokasinya di daerah hulu sungai Bantanghari (Budi Utomo, 1992: 24).

Menurut Lapian selain informasi I-tsing, berita Cina yang penting juga tentang kerajaan Melayu dan Sriwijaya adalah berasal dari Yi-Jing dari abad ke VII, ia menyebutkan pula nama-nama tempat lain di Nusantara, hal ini menunjukan pengetahuan mereka tentang kepulauan Indonesia telah meluas sampai ke kawasan timur. Ada beberapa tempat yang disebut di samping Sriwijaya dan Melayu, misalnya Po-lu-shi (Barus), He-ling, Po-li (beberapa pakar ada yang menyebut nama ini berada di Jawa dan di Bali), serta Fo-shi-bu- luo yang diperkirakan berada di Kalimantan Barat. Sehubungan dengan nama Fo-shi-bu-luo

dapat ditarik kesimpulan bahwa kawasan ini agaknya telah masuk dalam orbit shi-lifo-shi atau Sriwijaya sebagaimana terdapat kemiripan nama. Selama kira-kira empat abad kawasan ini dikuasai oleh kedatuan Srwijaya, akan tetapi sejak abad ke-II dominasinya atas pelayaran di sini mulai mendapat tantangan dari bebrapa kekuatan tandinggan. Di sebelah timur telah muncul kekuataan baru di bawah Airlangga, sedangkan di sebelah barat ada tantangan dari kerajaan Cola di India Selatan. Sekitar tahun 1024-1025 armada Cola menyerang Srriwijaya. Masa kekacauan yang terjadi sesudahnya, memunculkan berbagai kekuatan baru di kawasan ini (Lapian, 1992: 4).

Setelah kerajaan Sriwijaya mendapat serangan-serangan dari musuh, kekuatan Sriwijaya yang tadinya berpusat di Palembang, kini beralih ke Jambi, namun kedudukannya sebagai kekuatan tunggal tidak lagi dapat dipulihkan seperti sediakala, malahan di beberapa tempat mulai muncul kekuatan baru yang makin mandiri sehingga makin melemahkan kekuatan pusatnya. Pada abad ke XIII wilayah Jambi nampaknya berada di bawah pengaruh Kertanegara.

EKSPEDISI PAMALAYU

Di dalam kitab Pararaton dan Negarakertagama disebutkan bahwa pada tahun 1275 raja Kertanegara mengirimkan tentaranya ke Malayu, pengiriman pasukan ini dikenal dengan sebutan Pamalayu. Dijelaskan bahwa raja Kertanegara adalah sorang raja yang besar. Pada waktu Kertanegara naik menjadi raja tahun 1268-1292, keadaan di Nusantara sedang mengalami pergeseran politik. Di India timbul dengan jayanya kesultanan Delhi, di Tiongkok muncul dynasti Yuan dengan kaisarnya Kublai Khan, raja ini menginginkan agar daerah di Asia Tenggara termasuk pulau Jawa mengakui dan tuduk di bawah kekuasaannya. Keadaan politik ini telah memperkuat kemauan Kertanegara bergerak mempersatukan Nusantara. Utusan (duta) Kubilai Khan yang diutus ke pulau Jawa bernama Meng-ki disuruh pulang oleh Kertanegara dengan kehilangan muka, tindakan ini menyebabkan Kubilai Khan marah dan mempersiapkan tentara ekspedisi menyerang Kertanegara. Setelah keadaan di pusat pemerintahan selesai diatur maka mulailah Kertanegara melangkah mengambil tindakan untuk merealisasi cita-citanya. Kertanegara mengirim ekspedisi Pamalayu tahun 1275, dibawah pimpinan Kebo Anabrang. Tujuannya adalah menolong membangkitkan Melayu membebaskan diri dari Sriwijaya dan sekaligus jadi anggota perserikatan. Sebagai

tanda persahabatan tentara ekspedisi juga membawa tiruan patung Ranggawuri (ayak Kertanegara) dari candi Jago. Sekarang patung itu terdapat di Jambi Hulu, sejak ini Melayu bangkit jadi kerajaan besar di Sumatera, sedang Sriwijaya semakin mundur (Saragih, 1977: 32-33).

Upaya upaya menggalang pertahanan bersama ini rupaya berhasil baik sehingga dalam tahun 1286 raja Kertanegara mengirimkan patung Amoghpasa Lokeswara beserta 14 dewa pengiringnya untuk ditempatkan di Melayu. Prasati yang dipahatkan pada lapik arca itu lebih lanjut menerangkan, bahwa penempatan arca tersebutt di Dharmacraya dipimpin oleh 4 orang pejabat tinggi. Pemeberian hadiah itu membuat seluruh rakyat Melayu sangat gembira terutama rajanya Tribhuawana Maulanawarman. Patung Amoghapaca beserta prasastinya, yang dtemukan kembali di dekat sungai Langsat di daerah hulu sungai Batanghari, merupakan bukti nyata yang pertama berkenaan dengan adanya kerajaan Malayu. Daerah penemuannya itu sudah barang tentu menjadi petunjuk yang luar biasa pentingnya untuk mengarahkan pencarian wilayah kerajaan Melayu. Dari segi lain, lokasi itu jauh jauh di pedalaman bagian tengah Sumatera menimbulkan pemikiran berkenaan dengan cara pengangkutan pada masa itu. Pengiriman patung batu yang demikian besarnya dari Jawa Timur ke daerah Sijunjung itu tentunya hanya dapat diperkirakan kalau dilakukan melalui jalan air (Soekmono, 1992:5).

Setelah peristiwa Pamalayu, lama tidak diperoleh keterangan lainnya mengenai keadaan di Sumatera, baru kemudian pada masa pemerintahan Tribhuwantottunggadewi (1328-1350) diperoleh keterangan tentang daerah Melayu. Rupanya kerajaan Melayu ini muncul kembali sebagai pusat kekuasaan di Sumatera, sedangkan Sriwijaya setelah adanya ekspedisi Pamalayu dari raja Kertanegara, tidak terdengar lagi beritanya.

KERAJAAN MELAYU PADA MASA ADITYAWARMAN

Dari parasasti-prasasti yang banyak ditemukan di daerah Minangkabau, disebutkan bahwa pada pertengahan abad ke XIV ada seorang raja yang memerintahh di Kanakamedinindra (raja pulau emas) yang bernama Adityawarman, anak dari Adwayawarman. Nama ini dikenal dikenal juga di dalam prasasti yang dipahatkan pada arca Mansjuri di candi Jago dan berangka tanhun 1341. Di dalam prasasti ini disebutkan ia bersama-sama dengan Gajah Mada telah menaklukan pulau Bali.

Kerajaan Melayu mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Adityawarman dengan pusat kekuasaannya di daerah hulu Batanghari. Pada masa itu logam emas dimanfaatkan semaksimal mungkin, seperti dipakai sebagai bahan lempengan emas, benang emas, lembaran emas bertulis, kalung dan arca. Meskipun kerajaan berlokasi di daerah hulu Batanghari di wilayah Minangkabau, Adityawarman tidak pernah menyebut daerah kekuasaannya sebagai kerajaan Minangkabau, ia menamakan dirinya sebagai kanakamedinindra, yang berarti penguasa negeri emas. Dengan demikian ia menganggap dirinya sebagai penguasa daerah-daerah yang dulunya menjadi daerah kekuasan kerajaan Srwijaya (Budi Utomo, 1992: 26-27).

Adityawarman adalah putra Majapahit keturunan Melayu, sebelum menjadi raja Melayu ia pernah menjabat kedudukan wrddha-mantri di Majapahit dengan gelar Aryadewata pu Aditya. Setelah ia berkuasa di Sumatera ia menyusun kembali kerajaan yang diwariskan oleh Mauliwarmadewa. Pada tahun 1347 Adityawarman meluaskan daerah kekuasaannya sampai ke daerah Pagarruyung, ia mengangkat dirinya menjadi seoranng maharajadhiraja dengan gelar Udayadityawarman atau Adityawarmodaya pratapaparakramarajendra Maulimaliwarmadewa. Tetapi meskipun demikian Adtyawarman masih tetap menganggap dirinya sebagai sang mantri terkemuka dari Majapahhit. Dari prasasti-prasastinya dapat diketahui bahwa Adityawarman adalah penganut agama Budha dan menganggap dirinya sebagai penjelmaan Lokeswara. Anggapan ini sesuai dengan sistem kalacakra seperti halnya raja-raja Majapahit. Adityawarman memerintah hingga sekitar tahun 1375, sebagai penggantinya adalah anaknya sendiri yang bernama Anangwarman, hanya tidak diketahui dengan jelas kapan ia menggantikan kedudukan ayahnya itu (Poesponegoro, 1984:85).

Meskipun banyak kekurangan dalam pengetahuan tentang raja Adityawarman, akan tetapi menurut Casparis ada dua hal yaang dapat menekan pentingnya peranan Adityawarman. Pertama, raja itu memerintah pada masa kerajaan Majapahit telah mencapai puncak kejayaannya yaitu saat Hayam Huruk berkuasa. Mungkin sekali Adityawarman mengakui kewibawaan kerajaan Majapahit, tetapi hal itu tidak ternyata dari prasastinya, yang tidak pernah menyebutkan ketergantungan Adityawarman dari Majapahit, bahkan nama pulau Jawa pun belum diketemukan dalam prasasti-prasasti raja itu. Kedua, Adityawarman memerintah di bagian pulau Sumatera pada masa bagian utara pulau itu

sudah beragama Islam sejak setengah abad, sebagaimana ternyata dari cerita perjalanan Marco Polo pada tahun 1292, hal ini diperjelas lagi dari batu nisan Sultan Malik Al-Saleh di Samudera Pasai, berangka tahun 1297. Beberapa tahun lagi ternyta bahwa Agama Islam sudah berakar di Trengganu di pantai Timur Semenanjung Malaka. Memang benar bahwa ada perselisihan mengenai tahun Terengganu tersebut, tetapi Casparis sepenuhnya setuju dengan Profesor Fatimi bahwa batu tulis itu berangka tahun 702 A.H atau tahun 1303 masehi (Casparis, 1992: 2).

Adityawarman insaf bahwa ketika ia berkuasa di Sumatera, terlebih dahulu pengaruh Islam telah berkembang di bagian utara dari wilayah kekuasaannya. Perkembangan ini merupakan tantangan bagi Adityawarman. Pada umumnya ajaran Budha menekankan pada sikap kesabaran dan perdamaian sesama manusia. Namun pada masa Adityawarman ajaran Budha yang dianutnya menjadi agresif, seakan-akan ingin memusnahkan lawanya. Hal ini dapat dilihat dari patung Bhairawa yang tingginya 4,41 meter. Di tangan kanannya dipegang pisau besar dengan sikap ingin memakainya, sedangkan di dasar patung dhiasai tengkorak- tengkorak. Dapat diduga bahwa fungsi patung tersebut tidak terbatas kepada agama dalam arti sempit, melainkan merupakan pengancaman terhadap bahaya yang mungkin datang dari sebelah timur.

PENUTUP

Melayu merupakan sebuah kerajaan yang wilayah kekuasaannya meliputi seluruh daratan pulau Sumatera, dari ujung barat laut hingga ujung tenggara. Beberapa daerah yang merupakan bawahan Melayu seperti: Jambi, Dharmashraya, Kandis dan Minangkabau, dari temapt-tempat itu Jambi bandar yang paling penting yang mungkin menjadi ibu kota kerajaan. Kemudian sekitar abad ke-13 di sekitar Rambahan (Sumatera Barat). Munculnya kerajaan ini, menurut berita Cina sudah ada utusan dari Melayu ke Cina pada tahun 644 dan 645. Berita Cina yang lain berasal dari I-tsing yang mampir di Melayu pada tahhun 671, pada tahun 685 wilayah ini sudah menjadi kekuasaan Sriwijaya. Nama Melayu kembali muncul setelah Kertanegara melakukan ekspedisi Pamalayu pada tahun 1275, dengan demikian kedudukan Melayu bertambah kuat karena adanya perserekatan dengan Jawa Timur. Puncak kejayaanya terjadi pada masa raja Adityawarman (1347-1375). Pada masa ini Agama Budha berkembang dengan pesat. Adityawarman adalah seorang pembesar dari

Sumatera, yang singga beberapa lama di Jawa Timur Istana Majapahit. Ia dilahirkan di dalam keluarga Rajapatni: putri Kertanegara dan permaisuri Kertarajasa yang keempat.

DAFTAR PUSTAKA
Budi Utomo Bambang. 1992. Batanghari Riwayatmu Dulu.

Jambi: Kerjasama Pembda Tingkat I Propinsi Jambi Dengan Kantor Wilayah

Depdikbud Propinsi Jambi.
Casparis JG De. 1992. Kerajaan Malayu dan Adityawarman.

Jambi: Kerjasama Pembda Tingkat I Propinsi Jambi Dengan Kantor Wilayah

Depdikbud Propinsi Jambi.
Coedes.G dan Damais L.Ch. 1989. Kedatuan Sriwijaya Penelitian Tentang Sriwijaya.

Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Djafar Hasan.1992. Prasasti Masa Kerajaan Malayu Kuno Dan Beberapa Permasalahan.

Jambi: Kerjasama Pembda Tingkat I Propinsi Jambi Dengan Kantor Wilayah

Depdikbud Propinsi Jambi.
Hanafiah Djohan. 1992. Pulau Berhala, Orang Kaya Itam Dan Si Gunjai Suatu Metos

Ideologi Dan Politik Jambi. Jambi: Kerjasama Pembda Tingkat I Propinsi Jambi

Dengan Kantor Wilayah Debdikbud Propinsi Jambi.
Lapian, A.B. 1992. Jambi Dalam Jaringan Pelayaran Dan Perdagangan Masa Awal.

Jambi: Kerjasama Pembda Tingkat I Propinsi Jambi Dengan Kantor Wilayah

Depdikbud Propinsi Jambi.
Muljana Slamet. 1981. Kuntala, Sriwijaya dan Suwarnabhumi. Jakarta: Idayu Poesponegoro Marwati Djoened, Notosusanto Nugroho. 1984. Sejarah Nasional

Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka.
Saragih. R.H, Sirait J, Simamora.M. 1977. Sejarah Nasional Indonesia I. Medan: Monora Saudagar Fachruddin. 1992. Perkembangan Sejarah Melayu Kuno Di Jambi.

Jambi: Kerjasama Pembda Tingkat I Propinsi Jambi Dengan Kantor Wilayah

Depdikbud Propinsi Jambi.
Soekmono. 1992. Rekonstruksi Sejarah Melayu Kuno Sesuai Tunutan Arkeologi.

Jambi: Kerjasama Pembda Tingkat I Propinsi Jambi Dengan Kantor Wilayah Depdikbud Propinsi Jambi.

Taken from here.

Terjemahan Lengkap Nagarakertagama

Pujasastra Negarakretagama terdiri dari 98 pupuh. Isi pembagiannya dilakukan dengan sangat rapi. Negarakretagama terdiri atas dua bagian. Bagian pertama dimulai dari pupuh 1 – 49. Sedangkan bagian kedua dimulai dari pupuh 50 – 98.
Judul asli dari manuskrip ini adalah Desawarnana yang artinya Sejarah Desa-Desa. Sejak ditemukan kembali oleh para arkeolog, naskah ini kemudian dinamakan Negarakretagama yang artinya Kisah Pembangunan Negara.
Naskah ini selesai ditulis pada bulan Aswina tahun Saka 1287 (September – Oktober 1365 Masehi), penulisnya menggunakan nama samaran Prapanca, berdasarkan hasil analisis kesejarahan yang telah dilakukan diketahui bahwa penulis naskah ini adalah Dang Acarya Nadendra , bekas pembesar urusan agama Budha di istana Majapahit. Beliau adalah putera dari seorang  pejabat istana di Majapahit dengan pangkat jabatan Dharmadyaksa Kasogatan. Penulis naskah ini menyelesaikan naskah kakawin Negarakretagama diusia senja dalam pertapaan di lereng gunung di sebuah desa bernama Kamalasana. Berikut adalah terjemahan lengkapnya dalam Bahasa Indonesia.

Download Terjemahan Lengkap Nagarakertagama Versi PDF (1,07 MB)

Pupuh 1

  1. Om! Sembah pujiku orang hina ke bawah telapak kaki pelindung jagat. Siwa-Budha Janma-Bhatara senantiasa tenang tenggelam dalam samadi. Sang Sri Prawatanata, pelindung para miskin, raja adiraja di dunia. Dewa-Bhatara, lebih khayal dari yang khayal, tapi tampak di atas tanah.
  2. Merata serta meresapi segala makhluq, nirguna bagi kaum Wisnawa. Iswara bagi Yogi, Purusa bagi Kapila, Hartawan bagi Jambala. Wagindra dalam segala ilmu, Dewa Asmara di dalam cinta berahi. Dewa Yama di dalam menghilangkan penghalang dan menjamin damai dunia.
  3. Begitulah pujian pujangga penggubah sejarah, kepada Sri Nata Rajasanagara, Sri Nata Wilwatikta yang sedang memegang tampuk Negara bagai titisan Dewa-Bhatara beliau menyapu duka rakyat semua. Tunduk setia segenap bumi Jawa, bahkan malah seluruh Nusantara.
  4. Tahun Saka masa memanah surya (1256) beliau lahir untuk jadi narpati. Selama dalam kandungan di Kahuripan, telah tampak tanda keluhuran Gempa bumi, kepul asap, hujan abu, guruh halilintar menyambar-nyambar. Gunung meletus, gemuruh membunuh durjana, penjahat musnah dari Negara.
  5. Itulah tanda bahwa Bhatara Girinata menjelma bagai raja besar terbukti selama bertahta, seluruh Jawa tunduk menadah perintah. Wipra, ksatria, waisya, sudra, keempat kasta sempurna dalam pengabdian. Durjana berhenti berbuat jahat, takut akan keberanian Sri Nata.

Pupuh 2

  1. Sang Sri Rajapatni yang ternama adalah nenekanda Sri Baginda. Seperti titisan Parama Bagawati memayungi jagat raya. Selaku Wikuni tua tekun berlatih yoga menyembah Budha. Tahun Saka dresti saptaruna (1272) kembali beliau ke Budhaloka.
  2. Ketika Sri Rajapatni pulang ke Jinapada, dunia berkabung. Kembali girang bersembah bakti semenjak Baginda mendaki tahta. Bagai rani di Jiwana resmi mewakili Sri Narendra-putera.

Pupuh 3

  1. Beliau bersembah bakti kepada ibunda Sri Rajapatni. Setia mengikuti ajaran Budha, menyekar yang telah mangkat. Ayahanda Baginda raja ialah Sri Kertawardana raja. Keduanya teguh beriman Budha demi perdamaian praja.
  2. Ayahnya Sri Baginda raja bersemayam di Singasari. Bagai Ratnasambawa menambah kesejahteraan bersama. Teguh tawakal memajukan kemakmuran rakyat dan Negara. Mahir mengemudikan perdata, bijak dalam segala kerja.

Pupuh 4

  1. Puteri Rajadewi Maharajasa, ternama rupawan. Bertahta di Daha, cantik tak bertara, bersandar nam guna. Adalah bibi Baginda, adik maharani di Jiwana. Rani Daha dan Rani Jiwana bagai bidadari kembar.
  2. Laki sang rani Sri Wijayarajasa dari negeri Wengker. Rupawan bagai titisan Upendra, masyhur bagai sarjana. Setara raja Singasari, sama teguh di dalam agama. Sangat masyuhrlah nama beliau di seluruh tanah Jawa.

Pupuh 5

  1. Adinda Baginda raja di Wilwatikta. Puteri jelita, bersemayam di Lasem. Puteri jelita Daha, cantik ternama. Indudewi puteri Wijayarajasa.
  2. Dan lagi puteri bungsu Kertawardana. Bertahta di Pajang, cantik tak bertara. Puteri Sri Narapati Jiwana yang termasyhur. Terkenal sebagai adinda Sri Baginda.

Pupuh 6

  1. Telah dinobatkan sebagai raja tepat menurut rencana. Laki tangkas rani Lasem bagai raja daerah Matahun. Bergelar Rajasawardana sangat bagus lagi putus dalam naya. Raja dan rani terpuji laksana Asmara dengan Pinggala.
  2. Sri Singawardana, rupawan, bagus, muda, sopan dan perwira. Bergelar raja Paguhan, beliaulah suami rani Pajang. Mulia perkawinannya laksana Sanatkumara dan Dewi Ida. Bakti kepada raja, cinta sesama, membuat puas rakyat.
  3. Bhre Lasem menurunkan puteri jelita Nagarawardani. Bersemayam sebagai permaisuri pangeran di Wirabumi. Raja Pajang menurunkan Bhre Mataram Sri Wikramawardhana. Bagai titisan Hyang Kumara, wakil utama Sri Narendra.
  4. Puteri bungsu rani Pajang memerintah daerah Pawanuhan. Berjuluk Surawardani masih muda indah laksana gambar. Para raja Pulau Jawa masing-masing mempunyai Negara. Dan Wilwatikta tempat mereka bersama-sama menghamba Sri Nata.

Pupuh 7

  1. Melambung kidung merdu pujian sang prabu, beliau membunuh musuh-musuh. Bagai matahari menghembus kabut, menghimpun Negara di dalam kuasa. Girang najma utama bagai bunga tunjung, musnah durjana kumuda. Dari semua desa di wilayah Negara pajak mengalir bagai air.
  2. Raja menghapus duka si murba sebagai Satamanyu menghujani bumi. Menghukum penjahat bagai Dewa Yama, menimbun harta bagai Waruna. Para telik menembus segala tempat laksana Hyang Bhatara Bayu. Menjaga pura sebagai Dewi Pertiwi, rupanya bagus seperti bulan.
  3. Seolah-olah Sang Hyang Kama menjelma, tertarik oleh keindahan pura. Semua para puteri dan isteri sibiran dahi Sri Ratih. Namun sang permaisuri keturunan Wijayarajasa, tetap paling cantik. Paling jelita bagaikan Susumna, memang pantas jadi imbangan baginda.
  4. Berputeralah beliau puteri mahkota Kusumawardhani, sangat cantik. Sangat rupawan jelita mata, lengkung lampai, bersemayam di Kabalan. Sang menantu Sri Wikramawardana memegang perdata seluruh Negara. Sebagai dewa-dewi mereka bertemu tangan, menggirangkan pandang.

Pupuh 8

  1. Tersebut keajaiban kota: tembok bata merah, tebal tinggi, mengitari pura. Pintu barat bernama Pura Waktra, menghadap ke lapangan luas, bersabuk parit. Pohon brahmastana berkaki bodi, berjajar panjang, rapi berbentuk aneka ragam. Di situlah tempat tunggu para tanda terus menerus meronda jaga paseban.
  2. Di sebelah utara, bertegak gapura permai dengan pintu besi penuh berukir. Di sebelah timur, panggung luhur, lantainya berlapis batu, putih-putih mengkilat. Di bagian utara, disebelah pecan, rumah berjejal jauh memanjang sangat indah. Di selatan jalan perempatan, balai prajurit tempat pertemuan tiap caitra.
  3. Balai agung Manguntur dengan balai Witana di tengah menghadap padang watangan. Yang meluas ke empat arah: bagian utara, paseban pujangga dan menteri. Bagian timur, paseban pendeta Siwa-Budha, yang bertugas membahas upacara. Pada masa gerhana bulan Palguna demi keselamatan seluruh dunia.
  4. Di sebelah timur, pahoman berkelompok tiga-tiga mengitari kuil siwa. Di selatan, tempat tinggal wipra utama, tinggi bertingkat menghadap panggung korban. Bertegak di halaman sebelah barat; di utara, tempat Budha bersusun tiga. Puncaknya penuh berukir; berhamburan bunga waktu raja turun berkorban.
  5. Di dalam, sebelah selatan Manguntur tersekat dengan pintu, itulah paseban. Rumah bagus berjajar mengapit jalan ke barat, di sela tanjung berbunga lebat. Agak jauh di sebelah barat daya: panggung tempat berkeliaran para perwira. Tepat ditengah-tengah halaman, bertegak mandapa penuh burung ramai berkicau.
  6. Di dalam, di selatan ada lagi paseban memanjang ke pintu keluar pura yang kedua. Dibuat bertingkat-tangga, tersekat-sekat, masing-masing berpintu sendiri. Semua balai bertulang kuat bertiang kokoh, papan rusuknya tiada tercela. Para prajurit silih berganti, bergilir menjaga pintu, sambil bertukar tutur.

Pupuh 9

  1. Inilah para penghadap: pengalasan Ngaran, jumlahnya tak terbilang. Nyu Gading Janggala-Kediri, Panglarang, Rajadewi, tanpa upama Waisangka Kapanewon Sinelir, para perwira Jayengprang Jayagung. Dan utusan Pareyok Kayu Apu, orang Gajahan, dan banyak lagi.
  2. Begini keindahan lapang watangan luas bagaikan tak terbatas. Menteri, bangsawan, pembantu raja di Jawa, di deret paling muka. Bhayangkari tingkat tinggi berjejal menyusul di deret yang kedua.
  3. Di bagian barat, beberapa balai memanjang sampai mercudesa. Penuh sesak pegawai dan pembantu serta para perwira penjaga. Di bagian selatan agak jauh, beberapa ruang, mandapa dan balai. Tempat tinggal abdi Sri Narapati Paguhan, bertugas menghadap.
  4. Masuk pintu kedua, terbentang halaman istana berseri-seri. Rata dan luas, dengan rumah indah berisi kursi-kursi berhias. Di sebelah timur, menjulang rumah tinggi berhias lambing kerajaan. Itulah balai tempat terima tatamu Sri Nata di Wilwatikta.

Pupuh 10

  1. Inilah pembesar yang sering menghadap dibalai Witana. Wreda menteri, tanda menteri pasangguhan dengan pengiring. Sang Panca Wilwatikta: mapatih, demung, kanaruhan, rangga, tumenggung, lima priyayi agung yang akrab dengan istana.
  2. Semua patih, demung Negara bawahan dan pengalasan.  Semua pembesar daerah yang berhati tetap dan teguh. Jika datang, berkumpul di kepatihan seluruh Negara. Lima menteri utama, yang mengawal urusan Negara.
  3. Ksatria, pendeta, pujangga, para wipra, jika menghadap. Berdiri di bawah lindungan asoka di sisi Witana. Begitu juga dua dharmadyaksa dan tujuh pembantunya. Bergelar arya, tangkas tingkahnya, pantas menjadi teladan.

Pupuh 11

  1. Itulah penghadap balai Witana, tempat tahta, yang berhias serba bergas. Pantangan masuk ke dalam istana timur, agak jauh dari pintu pertama. Ke istana Selatan, tempat Singawardhana, permaisuri putra dan putrinya. Ke istana utara, tempat Kertawardana. Ketiganya bagai kahyangan.
  2. Semua rumah bertiang kuat, berukir indah, dibuat berwarna-warni. Kainya dari bata merah pating berunjul, bergambar aneka lukisan. Genting atapnya bersemarak serba meresapkan pandang, menarik perhatian. Bunga tanjung, kesara, campaka, dan lain-lainnya terpencar di halaman.

Pupuh 12

  1. Teratur rapi semua perumahan sepanjang tepi benteng. Timur tempat tinggal pemuka pendeta Siwa Hyang Brahmaraja. Selatan Budha-sangga dengan Rangkanadi sebagai pemuka. Barat tempat para arya, menteri dan sanak kadang adiraja.
  2. Di timur, tersekat lapangan, menjulang istana ajaib. Raja Wengker dan rani Daha penaka Indra dan Dewi Saci. Berdekatan dengan istana raja Matahun dan rani Lasem. Tak jauh di sebelah selatan raja Wilwatikta.
  3. Di sebelah utara pasar: rumah besar bagus lagi tinggi. Di situ menetap patih Daha, adinda baginda di Wengker. Bhatara Narapati, termasyhur sebagai tulang punggung praja. Cinta taat kepada raja, perwira, sangat tangkas dan bijak.
  4. Di timur laut, rumah patih Wilwatikta, bernama Gajah Mada. Menteri wira, bijaksana, serta bakti kepada Negara. Fasih bicara, teguh tangkas, tenang cerdas, cerdik lagi jujur. Tangan kanan maharaja sebagai penggerak roda Negara.
  5. Sebelah selatan puri, gedung kejaksaan tinggi bagus. Sebelah timur perumahan Siwa, sebelah barat Budha. Terlangkahi rumah para menteri, para arya dan ksatria. Perbedaan ragam pelbagai rumah menambah indahnya pura.
  6. Semua rumah memancarkan sinar warnanya gilang-cemerlang. Menandingi bulan dan matahari, indah tanpa umpama. Negara-negara di Nusantara dengan Daha bagai pemuka. Tunduk menengadah, berlindung di bawah kuasa Wilwatikta.

Pupuh 13

  1. Terperinci pulau Negara bawahan, paling dulu M’layu, Jambi, Palembang, Toba dan Darmasraya pun ikut juga disebut Daerah Kandis, Kahwas, Minangkabau, Siak, Rokan, Kampar dan Pane.
  2. Lwas dengan Samudra serta Lamuri, Batan, Lampung dan juga Barus. Itulah terutama Negara-negara melayu yang telah tunduk. Negara-negara di Pulau Tanjungnegara; Kapuas-Katingan, Sampit, Kota Lingga, Kota Waringin, Sambas, Lawai ikut tersebut

Pupuh 14

  1.  Kandandangan, Landa, Samadang dan Tirem tak terlupakan. Sedu, Barune (ng), Kalka, Saludung, Solor dan juga Pasir. Barito, Sawaku, Tabalung, ikut juga Tanjung Kutei. Malano tetap yang terpenting di pulau Tanjungpura.
  2. Di Hujung Medini Pahang yang disebut paling dahulu. Berikut Langkasuka, Saimwang, Kelantan, serta Trengganu Johor, Paka, Muar, Dungun, Tumasik, Kelang serta Kedah. Jerai, Kanjapiniran, semua sudah lama terhimpun.
  3. Disebelah timur Jawa, seperti yang berikut: Bali dengan Negara yang penting Badahulu dan Lo Gajah. Gurun serta Sukun, Taliwang, Pulau Sapi, dan Dompo. Sang Hyang Api, Bima, Seran, Hutan Kendali sekaligus.
  4. Pulau Gurun, yang juga biasa disebut Lombok Merah. Dengan daerah makmur Sasak diperintah seluruhnya. Bantalayan di wilayah Bantayan beserta Kota Luwuk. Sampai Udamaktraya dan pulau lain-lainnya tunduk
  5. Tersebut pula pulau-pulau Makasar, Buton, Bangawi Kunir, Galian, serta Salayar, Sumba, Solot, Muar. Lagi pula, Wanda (n), Ambon atau pulau Maluku, Wanin, Seran, Timor, dan beberapa lagi pulau-pulau lain.

Pupuh 15

  1. Inilah nama Negara asing yang mempunyai hubungan. Siam dengan Ayudyapura, begitu pun Darmanagari Marutma, Rajapura, begitu juga Singanagari. Campa, Kamboja, dan Yawana ialah Negara sahabat.
  2. Tentang pulau Madura, tidak dipandang Negara asing. Karena sejak dahulu dengan Jawa menjadi satu. Konon tahun Saka lautan menantang bumi, itu saat Jawa dan Madura terpisah meskipun tidak sangat jauh.
  3. Semenjak Nusantara menadah perintah Sri Baginda. Tiap musim tertentu mempersembahkan pajak upeti. Terdorong keinginan akan menambah kebahagiaan. Pujangga dan pegawai diperintah menarik upeti

Pupuh 16

  1. Pujangga-pujangga yang lama berkunjung di Nusantara. Dilarang mengabaikan urusan Negara, mengejar untung. Seyogianya, jika mengemban perintah ke mana juga. Menegakkan agama Siwa, menolak ajaran sesat
  2. Konon, kabarnya, para penderita penganut Sang Sugata. Dalam perjalanan mengemban perintah Baginda Nata. Dilarang menginjak tanah sebelah barat Pulau Jawa. Karena penghuninya bukan penganut ajaran Budha.
  3. Tanah sebelah timur Jawa terutama Gurun, Bali boleh dijelajah tanpa ada yang dikecualikan. Bahkan, menurut kabaran mahamuni Empu Barada serta raja pendeta Kuturan telah bersumpah teguh
  4. Para pendeta yang mendapat perintah untuk bekerja. Dikirim ke timur ke barat; dimana mereka sempat. Melakukan persajian seperti perintah Sri Nata. Resap terpandang mata jika mereka sedang mengajar
  5. Semua Negara yang tunduk setia menganut perintah. Dijaga dan dilindungi Sri Nata dari Pulau Jawa. Tapi, yang membangkang, melanggar perintah, dibinasakan pimpinan angkatan laut, yang telah masyhur lagi berjasa

Pupuh 17

  1. Telah tegak teguh kuasa Sri Nata di Jawa dan wilayah Nusantara. Di Sripalatikta tempat beliau bersemayam, menggerakkan roda dunia. Tersebar luas nama beliau, semua penduduk puas, girang dan lega. Wipra, pujangga dan semua penguasa ikut menumpang menjadi masyhur
  2. Sungguh besar kuasa dan jasa beliau, raja agung dan raja utama. Lepas dari segala duka, mengenyam hidup penuh segala kenikmatan. Terpilih semua gadis manis di seluruh wilayah Janggala Kediri. Berkumpul di istana bersama yang terampas dari Negara tetangga.
  3. Segenap tanah Jawa bagaikan satu kota di bawah kuasa Baginda. Ribuan orang berkunjung laksana bilangan tentara yang mengepung pura. Semua pulau laksana daerah pedusunan tempat menimbun bahan makanan. Gunung dan rimba hutan penaka taman hiburan terlintas tak berbahaya
  4. Tiap bulan sehabis musim hujan beliau biasa pesiar keliling Desa Sima di sebelah selatan Jalagiri, di sebelah timur pura. Ramai tak ada hentinya selama pertemuan dan upacara prasetyan. Girang melancong mengunjungi Wewe Pikatan setempat dengan candi lima
  5. Atau pergilah beliau bersembah bakti kehadapan Hyang Acalapati. Biasanya terus menuju Blitar, Jinur, mengunjungi gunung-gunung permai. Di Daha terutama ke Polaman, ke Kuwu, dan Lingga hingga Desa Bangin. Jika sampai di Jenggala, singgah di Surabaya, terus menuju Buwun.
  6. Tahun Aksatisura (1275), Sang Prabu menuju Pajang membawa banyak pengiring. Tahun Saka angga-naga-aryama (1276), ke Lasem, melintasi pantai samudra. Tahun Saka pintu-gunung-mendengar-indu (1279), ke laut selatan menembus hutan. Lega menikmati pemandangan alam indah Lodaya, Tetu, dan Sideman.
  7. Tahun Saka seekor-naga-menelan bulan (1281), di Badrapada bulan tambah Sri Nata pesiar keliling seluruh Negara menuju Kota Lumajang naik kereta diiringi semua raja Jawa serta permaisuri dan abdi, menteri, tanda, pendeta, pujangga, semua para pembesar ikut serta.
  8. Juga yang menyamar Prapanca girang turut serta mengiring paduka Maharaja. Tak tersangkal girang sang kawi, putera pujangga, juga pencinta kakawin. Dipilih Sri Baginda sebagai pembesar kebudhaan mengganti sang ayah. Semua pendeta Budha umerak membicarakan tingkah lakunya dulu.
  9. Tingkah sang kawi waktu muda menghadap raja, berkata berdampingan, tak lain. Maksudnya mengambil hati, agar disuruh ikut beliau ke mana juga. Namun, belum mampu menikmati alam, membinanya, mengolah, dan menggubah karya kakawin; begitu warna desa sepanjang marga terkarang berturut.
  10. Mula-mula melalui Japan dengan asrama dan candi-candi ruk rebah. Sebelah timur Tebu, hutan Pandawa, Duluwang, Bebala di dekat Kanci, Ratnapangkaja serta Kuti Haji Pangkala memanjang bersambung-sambungan. Mandala Panjrak, Pongging serta Jingan, Kuwu Hanyar letaknya di tepi jalan.
  11. Habis berkunjung pada candi makam Pancasara, menginap di Kapulungan. Selanjutnya, sang kawi bermalam di Waru, di Hering, tidak jauh dari pantai. Yang mengikuti ketetapan hukum jadi milik kepala asrama Saraya. Tetapi masih tetap di tangan lain, rindu termenung-menunggu

Pupuh 18

  1. Seberangkat Sri Nata dari Kapulungan, berdesak abdi berarak. Sepanjang jalan penuh kereta, penumpangnya duduk berimpit-impitan. Pedati di muka dan di belakang, di tengah prajurit berjalan kaki. Berdesak-desakan, berebut jalan dengan binatang gajah dan kuda.
  2. Tak terhingga jumlah kereta, tapi berbeda-beda tanda cirinya. Meleret berkelompok-kelompok, karena tiap menteri lain lambangnya. Rakrian sang menteri patih amangkubumi penatang kerajaan keretanya beberapa ratus berkelompok dengan aneka tanda.
  3. Segala kereta Sri Nata Pajang semua bergambar matahari. Semua kereta Sri Nata Lasem bergambar cemerlang banteng putih. Kendaraan Sri Nata Daha bergambar Dahakusuma emas mengkilat.

Pupuh 19

  1. Paginya berangkat lagi menuju Baya, rehat tiga hari tiga malam. Dari Baya melalui Katang, Kedung Dawa, Rame, Menuju Lampes, Times. Serta biara pendeta di Pogara mengikuti jalan pasir lemak – lembut. Menuju daerah Beringin Tiga di Dadap, kereta masih terus lari.
  2. Tersebut dukuh Kasogatan Madakaripura dengan pemandangan indah. Tanahnya anugerah Sri Baginda kepada Gadjah Mada, teratur indah. Disitulah Baginda menempati pasanggrahan yang terhias sangat bergas. Sementara mengunjungi mata air, dengan ramah melakukan mandibakti.

Pupuh 20

  1. Sampai di desa Kasogatan, Baginda dijamu makan minum Pelbagai penduduk Gapuk, Sada, Wisisaya, Isanabajra, Ganten, Poh, Capahan, Kalampitan, Lambang, Kuran, Pancar We Petang. Yang letaknya di lingkungan biara, semua datang menghadap.
  2. Begitu pula Desa Tunggilis, Pabayeman ikut berkumpul termasuk Ratnapangkaja di Carcan, berupa desa perdikan. Itulah empat belas desa kasogatan yang ber-akuwu Sejak dahulu, delapan saja yang menghasilkan bahan makanan.

Pupuh 21

  1. Fajar menyingsing: berangkat lagi Baginda melalui Lo Pandak, Ranu Kuning, Balerah, Bare-bare, Dawohan, Kapayeman, Telpak, Baremi, Sapang, serta Kasaduran. Kereta berjalan cepat-cepat menuju Pawijungan.
  2. Menuruni Lurah, melintasi sawah, lari menuju Jaladipa, Talapika, Padali, Ambon dan Panggulan. Langsung ke Payaman, Tepasana ke arah Kota Rembang. Sampai di kemirahan yang letakknya di pantai lautan.

Pupuh 22

  1. Di Dampar dan Patunjungan, Sri Baginda bercengkrama menyisir tepi lautan. Ke jurusan timur turut pesisir darat, lembut limbur di lintas kereta. Berhenti beliau di tepi danau penuh teratai, tunjung sedang berbunga. Asyik memandang udang berenang dalam air tenang memperlihatkan dasarnya.
  2. Terlangkahi keindahan air telaga yang lambai melambai dengan lautan. Danau ditinggalkan menuju Wedi dan Guntur tersembunyi di tepi jalan. Kasogatan Bajraka termasuk wilayah Taladwaja sejak dulu kala. Seperti juga Patunjungan, akibat perang, belum kembali ke asrama.
  3. Terlintas tempat tersebut, ke timur mengikuti hutan sepanjang tepi lautan. Berhenti di Palumbon, berangkat setelah surya laut. Menyeberangi sungai Rabutlawang yang kebetulan airnya sedang surut. Menuruni lurah Balater menuju pantai lautan, lalu bermalam lagi.
  4. Pada waktu fajar menyingsing, menuju Kunir Basini, di Sadeng bermalam. Malam berganti malam Baginda pesiar menikmati alam Sarampuan. Sepeninggalnya beliau menjelang Kota Bacok bersenang-senang di pantai. Heran memandang karang tersiram riak gelombang berpancar seperti hutan.
  5.  Tapi sang rakawi tidak ikut berkunjung di Bacok, pergi menyidat jalan. Dari Sadeng ke utara menjelang Balung, terus menuju Tumbu dan Habet. Galagah, Tampaling, beristirahatlah di Renes seraya menanti Baginda. Segera berjumpa lagi dalam perjalanan ke Jayakreta – Wanagriya.

Pupuh 23

  1. Melalui Doni Bontong, Puruhan, Bacek, Pakisaji, Padangan terus ke Secang. Terlintas Jati Gumelar, Silabango. Ke utara ke Dewa Rame dan Dukun.
  2. Lalu berangkat ke Pakembangan. Di situ bermalam; segera berangkat. Sampailah beliau ke ujung lurah Daya. Yang segera dituruni sampai jurang.

Pupuh 24

  1. Terlalu lancer lari kereta melintasi Palayangan dan Bengkong, dua desa tanpa cerita, terus menuju Sarana, mereka yang merasa lelah ingin berehat. Lainnya bergegas berebut jalan menuju Surabasa.
  2. Terpalang matahari terbenam berhenti di padang lalang. Senja pun turun, sapi lelah dilepas dari pasangan. Perjalanan membelok ke utara melintasi Turayan. Beramai-ramai lekas-lekas ingin mencapai Patukangan.

Pupuh 25

  1. Panjang lamun dikisahkan kelakuan para menteri dan abdi. Beramai-ramai Baginda telah sampai di Desa Patukangan. Di tepi laut lebar tenang rata terbentang di barat Talakrep. Sebelah utara pakuwuan pesanggrahan Baginda Nata.
  2. Semua menteri mancanagara hadir di Pakuwuan. Juga Jaksa Pasungguhan Sang Wangsadiraja ikut menghadap. Para Upapati yang tanpa cela, para pembesar agama. Panji siwa dan Panji budha, faham hukum dan putus sastra.

 

Pupuh 26

  1. Sang Adipati Suradikara memimpin upacara sambutan. Diikuti segenap penduduk daerah wilayah Patukangan. Menyampaikan persembahan, girang bergilir dianugerahi kain. Girang rakyat girang raja, Pakuwuan berlimpah kegirangan.

Pupuh 27

  1. Untuk mengurangi sumuk akibat teriknya matahari. Baginda mendekati permaisuri seperti dewa dewi. Para puteri laksana apsari  turun dari kahyangan. Hilangnya keganjlan berganti pandang penuh heran cengang.
  2. Berbagai-bagai permainan diadakan demi kesukaan. Berbuat segala apa yang membuat gembira penduduk. Menari topeng, bergumul, bergulat, membuat orang kagum. Sungguh beliau dewa menjelma, sedang mengedari dunia.

Pupuh 28

  1. Selama kunjungan di Desa Patukangan. Para menteri dari Bali dan Madura. Dari Balumbung, kepercayaan Baginda. Menteri seluruh Jawa Timur berkumpul.
  2. Persembahan bulu bekti bertumpah limpah. Babi, gudel, kerbau, sapi, ayam dan anjing. Bahan kain yang diterima bertumpuk timbun. Para penonton tercengang-cengang memandang.
  3. Tersebut keesokan hari pagi-pagi. Baginda keluar di tengah-tengah rakyat. Diiringi para kawi serta pujangga. Menabur harta, membuat gembira rakyat.

Pupuh 29

  1. Hanya pujangga yang menyamar Prapanca sedih tanpa upama. Berkabung kehilangan kawan kawi-Budha Panji Kertajaya. Teman bersuka ria, teman karib dalam upacara gama. Beliau dipanggil pulang, sedang mulai menggubah karya megah.
  2. Kusangka tetap sehat, sanggup mengantar aku ke mana juga. Beliau tahu tempat-tempat mana yang layak pantas dilihat. Rupanya sang pujangga ingin mewariskan karya megah indah. Namun mangkatlah beliau, ketika aku tiba, tak terduga.
  3. Itulah lantarannya aku turut berangkat ke Desa Keta. Melewati Tal tunggal, Halalang-panjang, Pacaran dari Bungatan. Sampai Toya Rungun, Walanding, terus Terapas, lalu bermalam. Paginya berangkat ke Lemah Abang, segera tiba di Keta.

Pupuh 30

  1. Tersebutlah perjalanan Sri Narapati kea rah barat. Segera sampai Keta dan tinggal disana lima hari. Girang beliau melihat lautan, memandang balai kambang. Tidak lupa menghirup kesenangan lain hingga puas.
  2. Atas perintah sang arya semua menteri menghadap. Wiraprana bagai kepala, upapati Siwa-Budha. Mengalir rakyat yang datang sukarela tanpa diundang. Membawa bahan santapan, girang menerima balasan.

Pupuh 31

  1. Keta telah ditinggalkan. Jumlah pengiring makin bertambah. Melintasi Banyu Hening, perjalanan sampai Sampora. Terus ke Daleman menuju Wawaru, Gerbang, Krebilan. Sampai di Kalayu Baginda berhenti ingin menyekar.
  2. Kalayu adalah nama desa perdikan kasogatan. Tempat candi makam sanak kadang Baginda raja. Penyekaran di makam dilakukan dengan sangat hormat. “Memegat Sigi” nama upacara penyekaran itu.
  3. Upacara berlangsung menepati segenap aturan. Mulai dengan jamuan makan meriah tanpa upama. Para patih mengarak Sri Baginda menuju paseban. Genderang dan kendang bergetar mengikuti gerak tandak.
  4. Habis penyekaran raja menghirup segala kesukaan. Mengunjungi desa-desa disekitarnya genap lengkap. Beberapa malam lamanya berlomba dalam kesukaan. Memeluk wanita cantik dan meriba gadis remaja.
  5. Kalayu ditinggalkan, perjalanan menuju Kutugan. Melalui Kebon Agung, menuju Kambangrawi, bermalam. Tanah anugerah Sri Nata kepada Tumenggung Nala. Candinya Budha menjulang tinggi, sangat elok bentuknya.
  6. Perjamuan Tumenggung Nala jauh dari cela. Tidak diuraikan betapa lahap Baginda Nala bersantap. Paginya berangkat lagi ke Halses, B’rurang. Patunjungan. Terus langsung melintasi Patentanan, Tarub dan Lesan.

Pupuh 32

  1. Segera Sri Baginda sampai di Pajarakan, di sana bermalam empat hari. Di tanah lapang sebelah candi Budha beliau memasang tenda. Dipimpin Arya Sujanottama para menteri dan pendeta datang menghadap. Menghaturkan pacitan dan santapan, girang menerima anugerah uang.
  2. Berangkat dari situ Sri Baginda menuju asrama di rimba Sagara. Mendaki bukit-bukit ke arah selatan dan melintasi terusan Buluh. Melalui wilayah Gede, sebentar lagi sampai di asrama sagara. Letaknya gaib ajaib di tengah-tengah hutan membangkitkan rasa kagum rindu.
  3. Sang pujangga Prapanca yang memang senang bermenung tidak selalu menghadap. Girang melancong ke taman melepaskan lelah melupakan segala duka. Rela melalaikan paseban mengabaikan tata tertib para pendeta. Memburu nafsu menjelajah rumah berbanjar-banjar dalam deretan berjajar.
  4. Tiba di taman bertingkat, di tepi pesanggrahan tempat bunga tumbuh lebat. Suka cita Prapanca membaca cacahan (pahatan) dengan slokanya di dalam cita. Di atas atap terpahat ucapan sloka yang disertai nama. Pancaksara pada penghabisan tempat terpahat samar-samar, menggirangkan.
  5. Pemandiannya penuh lukisan dongengan berpagar batu gosok tinggi. Berhamburan bunga nagakusuma di halaman yang dilingkupi selokan. Andung, karawita, kayu mas, menur serta kayu puring dan lain-lainnya. Kelapa gading kuning rendah, menguntai di sudut mengharu rindu pandangan.
  6. Tiada sampailah kata merah keindahan asrama yang gaib dan ajaib. Beratapkan hijuk, dari dalam dan luar berkesan kerasnya tata tertib. Semua para pertapa, wanita dan pria, tua-muda, nampaknya bijak. Luput dari cela dan klesa, seolah-olah Siwapada di atas dunia.

Pupuh 33

  1. Habis berkeliling asrama, Baginda lalu dijamu. Para pendeta pertapa yang ucapannya sedap resap. Segala santapan yang tersedia dalam pertapaan. Baginda membalas harta, membuat mereka gembira.
  2. Dalam pertukaran kata tentang arti kependetaan. Mereka mencurahkan isi hati, tiada tertahan. Akhirnya cengkerama ke taman penuh dengan kesukaan. Kegirang-girangan para pendeta tercengang memandang.
  3. Habis kesukaan memberi isyarat akan berangkat. Pandang sayang yang ditinggal mengikuti langkah yang pergi. Bahkan yang masih remaja puteri sengaja merenung. Batinnya: dewa asmara turun untuk datang menggoda.

Pupuh 34

  1. Baginda berangkat, asrama tinggal berkabung. Bambu menutup mata, sedih melepas selubung. Sirih menangis merintih, ayam roga menjerit. Tiung mengeluh sedih, menitikkan air matanya.
  2. Kereta lari cepat, karena jalan menurun. Melintasi rumah dan sawah ditepi jalan. Segera sampai Arya, menginap satu malam. Paginya ke utara menuju Desa Gading.
  3. Para menteri mancanegara dikepalai Singadikara, serta pendeta Siwa-Budha. Membawa santapan sedap dengan upacara. Gembira dibalas Baginda dengan emas dan kain.
  4. Agak lama berhenti seraya istirahat. Mengunjungi para penduduk segenap desa. Kemudian menuju Sungai Gawe, Sumanding, Borang, Banger, Baremi lalu lurus ke barat.

Pupuh 35

  1. Sampai Pasuruan menyimpang jalan ke selatan menuju Kepanjangan. Menganut jalan raya, kereta lari beriring-iring ke Andoh Wawang. Ke Kedung Peluk dan Ke Hambal, desa penghabisan dalam ingatan. Segera Baginda menuju Kota Singasari bermalam dib alai kota.
  2. Prapanca tinggal disebelah barat Pasuruan ingin terus melancong. Menuju Indarbaru yang letaknya di daerah Desa Hujung. Berkunjung di rumah pengawasnya, menanyakan perkara tanah asrama. Lempengan piagam pengukuh diperlihatkan, jelas setelah dibaca.
  3. Isi piagam: tanah datar serta lembah dan gunungnya milik wihara. Begitu pula dengan Markaman, lading balunghura, sawah hujung. Isi piagam membujuk sang pujangga untuk tinggal jauh dari pura. Bila telah habis kerja di Putusingin, ia menyingkir ke Indarbaru.
  4. Sebabnya terburu-buru berangkat setelah dijamu bapa asrama. Karena ingat akan giliran menghadap di balai Singasari. Habis menyekar di candi makam, Baginda mengumbar nafsu kesukaan. Menghirup sari pemandangan di Kedung Biru, Kasurangganan dan Bureng.

Pupuh 36

  1. Pada Subakala, Baginda berangkat ke selatan menuju Kagenengan. Akan berbakti kepada makam Bhatara bersama segala pengiringnya. Harta, perlengkapan, makanan, dan bunga mengikuti jalannya kendaraan. Didahului kibaran bendera, disambut sorak sorai dari penonton.
  2. Habis penyekaran, narapati keluar, dikerumuni segenap rakyat. Pendeta Siwa-Budha dan para bangsawan berderet leret di sisi beliau. Tidak diceritakan betapa lahab Baginda bersantap sampai puas. Segenap rakyat girang menerima anugerah bahan pakaian yang indah.

Pupuh 37

  1. Tersebutlah keindahan candi makam, bentuknya tiada bertara. Pintu masuk terlalu lebar lagi tinggi, bersabuk dari luar di dalam, terbentang halaman dengan rumah berderet di tepinya. Ditanami aneka ragam bunga, tanjung, nagasari ajaib.
  2. Menara lampai menjulang tinggi di tengah-tengah, terlalu indah. Seperti gunung Meru, dengan arca Bhatara Siwa di dalamnya. Karena Girinata putera disembah bagai Dewa Bhatara. Datu leluhur Sri Naranata yang disembah di seluruh dunia.
  3. Sebelah selatan candi makam ada candi sunyi terbengkalai. Tembok serta pintunya masih berdiri, berciri kasogatan. Lantai di dalam, hilang kakinya bagian barat, tinggal yang timur. Sangar dan pemujaan yang utuh, bertembok tinggi dari batu merah.
  4. Disebelah utara, tanah bekas kaki rumah sudahlah rata. Terpancar tanamannya nagapuspa serta salaga di halaman. Diluar gapura pabaktan luhur, tapi longsor tanahnya. Halaman luas tertutup rumput, jalannya penuh dengan lumut.
  5. Laksana perempuan sakit merana lukisannya lesu-pucat. Berhamburan daun cemara yang ditempuh angin, kusut bergelung. Kelapa gading melulur tapasnya, pinang letih lusuh merayu. Buluh gading melepas kainnya, layu merana tak ada hentinya.
  6. Sedih mata memandang, tak berdaya untuk menyembuhkannya. Kecuali menanti Hayam Wuruk sumber hidup segala makhluk. Beliau masyhur bagai raja utama, bijak memperbaiki jagat. Pengasih bagi yang menderita sedih, sungguh titisan Bhatara.
  7. Tersebut lagi, paginya Baginda berkunjung ke Candi Kidal. Sesudah menyembah Bhatara, larut hari berangkat ke Jajago. Habis menyembah arca Jina, beliau berangkat ke penginapan. Paginya menuju Singasari, belum lelah telah sampai Bureng.

Pupuh 38

  1. Keindahan Bureng: telaga bergumpal air jernih. Kebiru-biruan, ditengah: candi karang bermekala. Tepinya rumah berderet, penuh pelbagai ragam bunga. Tujuan para pelancong penyerap sari kesenangan.
  2. Terlewati keindahannya; berganti cerita narpati. Setelah reda terik matahari, melintas tegal tinggi. Rumputnya tebal rata, hijau mengkilat, indah terpandang. Luas terlihat laksana lautan kecil berombak jurang.
  3. Seraya berkeliling kereta lari tergesa-gesa. Menuju Singasari, segera masuk ke pesanggrahan. Sang pujangga singgah di rumah pendeta Budha, sarjana pengawas candid an silsilah raja, pantas dikunjungi.
  4. Telah lanjut umurnya, jauh melintasi seribu bulan. Setia, sopan, darah luhur, keluarga raja dan masyhur. Meskipun sempurna dalam karya, jauh dari tingkah takabur. Terpuji pekerjaannya, pantas ditiru keinsyafannya.
  5. Tamu mendadak diterima dengan girang dan ditegur: “Wahai, orang bahagia, pujangga besar pengiring raja. Pelindung dan pengasih keluarga yang mengharap kasih. Jamuan apa yang layak bagi paduka dan tersedia?”
  6. Maksud kedatanganya: ingin tahu sejarah leluhur para raja yang dicandikan. Masih selalu dihadap. Ceritakanlah mulai dengan Bhatara Kagenengan. Ceritakan sejarahnya jadi putera Girinata.

Pupuh 39

  1. Paduka empuku menjawab: “Rakawi Maksud paduka sungguh merayu hati. Sungguh paduka pujangga lepas budi. Tak putus menambah ilmu, mahkota hidup”
  2. Izinkan saya akan segera mulai. Cita disucikan dengan air sendang tujuh. Terpuji Siwa! Terpuji Girinata! Semoga terhindar aral, waktu bertutur.
  3. Semoga rakawi bersifat pengampun. Diantara kata terselip salah. Harap percaya kepada orangtua. Kurang atau lebih janganlah dicela.

Pupuh 40

  1. Pada tahun Saka Lautan Dasa Bulan (1104) ada raja perwira yuda. Putera Girinata, konon kabarnya, lahir di dunia tanpa ibu. Semua orang tunduk, sujud menyembah kaki bagai tanda bakti. Rangga Rajasa nama beliau, penggempur musuh pahlawan bijak.
  2. Daerah luas sebelah timur Gunung Kawi terkenal subur makmur. Di situlah tempat putera sang Girinata menunaikan darmanya. Menggirangkan budiman, menyirnakan penjahat, meneguhkan Negara. Ibu Negara bernama Kutaraja, penduduknya sangat terganggu.
  3. Tahun Saka Lautan Dadu Siwa (1144) beliau melawan raja Kediri. Sang adiperwira Kretajaya, putus sastra serta tatwopadesa. Kalah ketakutan, melarikan diri ke dalam biara kecil. Semua pengawal dan perwira tentara yang tinggal, mati terbunuh.
  4. Setelah kalah narapati Kediri, Jawa di dalam ketakutan. Semua raja datang menyembah membawa tanda bakti hasil tanah. Bersatu Janggala Kediri dibawah kuasa satu raja sakti. Cikal bakal para raja agung yang akan memerintah Pulau Jawa.
  5. Makin bertambah besar kuasa dan megah putera sang Girinata. Terjamin keselamatan Pulau Jawa selama menyembah kakinya. Tahun Saka Muka Lautan Rudra (1149) beliau kembali ke Siwapada. Dicandikan di Kagenengan bagai Siwa, di Usaha bagai Budha.

Pupuh 41

  1. Bhatara Anusapati, putera Baginda, berganti dalam kekuasaan. Selama pemerintahannya, tanah Jawa kokoh sentosa, bersembah bakti. Tahun Saka Perhiasan Gunung Sambu (1170) beliau pulang ke Siwaloka. Cahaya beliau diwujudkan arca Siwa gemilang di candi makam Kidal.
  2. Bhatara Wisnuwardhana, putera Baginda, berganti dalam kekuasaan. Beserta Narasinga bagai Madawa dengan Indra memerintah serta segenap pengikutnya. Takut semua musuh kepada beliau, sungguh titisan Siwa di Bumi.
  3. Tahun Saka Rasa Gunung Bulan (1176) Bhatara Wisnu menobatkan puteranya. Segenap rakyat Kediri Janggala berduyun-duyun ke pura mangastubagia.
  4. Raja Kertanegara nama gelarannya, tetap demikian seterusnya. Daerah Kutaraja bertambah makmur, berganti nama Praja Singasari.
  5. Tahun Saka Awan Sembilan Mengebumikan Tanah (1192) raja Wisnu berpulang. Dicandikan di Waleri berlambang arca Siwa, di Jajago arca Budha. Sementara itu Bhatara Narasingamurti pun pulang ke Surapada. Dicandikan di Wengker, di Kumeper  diarcakan bagai Siwa Mahadewa.
  6. Tersebutlah Sri Baginda Kertanegara membinasakan perusuh penjahat. Bernama Cayaraja, musnah pada tahun Saka naga mengalahkan bulan (1192). Tahun Saka naga bermuka rupa (1197) Baginda menyuruh menundukkan Melayu. Berharap Melayu takut kedewaan beliau tunduk begitu sahaja.

Pupuh 42

  1. Tahun Saka janma suny surya (1202) Baginda raja memberantas penjahat Mahisa Rangga, karena jahat tingkahnya dibenci seluruh Negara. Tahun Saka badan langit surya (1206) mengirim utusan menghancurkan Bali. Setelah kalah rajanya menghadap Baginda sebagai seorang tawanan.
  2. Begitulah dari empat penjuru orang lari berlindung dibawah Baginda. Seluruh Pahang, segenap Melayu tunduk menekur dihadapan beliau. Seluruh Gurun, segenap Bakulapura lari mencari perlindungan. Sunda Madura tak perlu dikatakan, sebab sudah terang setanah Jawa.
  3. Jauh dari tingkah alpa dan congkak, Baginda waspada tawakal dan bijak. Faham akan segala seluk beluk pemerintahan sejak zaman Kali. Karenanya, tawakal dalam agama dan tapa untuk teguhnya ajaran Budha. Menganut jejak para leluhur demi keselamatan seluruh praja.

Pupuh 43

  1. Menurut kabaran sastra raja Pandawa memerintah sejak zaman Dwapara. Tahun saka lembu gunung indu tiga (3179) beliau pulang ke Budhaloka. Sepeninggalnya datang zaman kali, dunia murka, timbul huru-hara. Hanya Bhatara raja yang faham dalam nam guna, dapat menjaga jagat.
  2. Itulah sebabnya baginda teguh bakti menyembah kaki Sakyamuni. Teguh tawakal memegang pancasila, laku utama, upacara suci gelaran Jina beliau yang sangat masyhur ialah Sri Jnyanabadreswara. Putus dalam filsafat, ilmu bahasa dan lain pengetahuan agama.
  3. Berlomba-lomba beliau menghirup sari segala ilmu kebatinan. Pertama tantra Subuti diselami, intinya masuk ke hati. Melakukan puja, yoga, samadi demi keselamatan seluruh praja. Menghindarkan tenung, mengindahkan anugerah kepada rakyat murba.
  4. Diantara para raja yang lampau tidak ada yang setara beliau. Faham akan nam guna, sastra, tatwopadesa, pengetahuan agama adil, teguh dan Jinabrata dan tawakal kepada laku utama. Itulah sebabnya beliau turun temurun menjadi raja pelindung.
  5. Tahun saka laut janma bangsawan yama (1214) Baginda pulang ke Jinalaya. Berkat pengetahuan beliau tentang upacara, ajaran agama, beliau diberi gelaran: Yang mulia bersemayam di alam Siwa-Budha. Di makam beliau bertegak arca Siwa-Budha terlampau indah permai.
  6. Di sagala ditegakkan pula arca Jina sangat bagus dan berkesan. Serta arca Ardanareswari bertunggal dengan Sri Bajradewi. Teman kerja dan tapa demi keselamatan dan kesuburan Negara. Hyang Wairocana-Locana bagai lambangnya pada arca tunggal, terkenal.

Pupuh 44

  1. Tatkala Sri Baginda Kertanagara pulang ke Budhabuana, merata takut, duka, huru hara, laksana zaman kali kembali. Raja bawahan bernama Jayakatwang, berwatak terlalu jahat berkhianat karena ingin berkuasa di wilayah Kediri.
  2. Tahun saka laut manusia (1144) itulah sirnanya raja Kertajaya. Atas perintah Siwaputera Jayasaba berganti jadi raja. Tahun saka delapan satu satu (1180) Sastrajaya raja Kediri. Tahun tiga Sembilan siwa raja (1193) Jayakatwang raja terakhir.
  3. Semua raja berbakti kepada cucu Girinata. Segenap pulau tunduk kepada kuasa Raja Kertanagara. Tetapi raja Kediri Jayakatwang membuta dan mendurhaka. Ternyata dunia tak baka akibat bahaya anak piara Kali.
  4. Berkat keulungan sastra dan keuletannya jadi raja sebentar saja. Lalu ditundukan putera Baginda; ketentraman kembali. Sang menantu Dyah Wijaya, itu gelarnya yang terkenal di dunia. Bersekutu dengan bangsa Tartar, menyerang melebut Jayakatwang.

Pupuh 45

  1. Sepeninggal Jayakatwang jagat gilang cemerlang kembali. Tahun saka masa rupa surya (1216) beliau menjadi raja. Disembah di Majapahit, kesayangan rakyat, pelebur musuh bergelar Sri Narapati Kretarajasa Jayawardana.
  2. Selama Kretarajasa Jayawardana duduk di tahta, seluruh Jawa bersatu padu, tunduk menengadah. Girang memandang pasangan Baginda empat jumlahnya. Puteri Kertanegara cantik-cantik bagai bidadari.

Pupuh 46

  1. Sang Prameswari Tribuwana yang sulung, luput dari cela. Lalu Prameswari Mahadewi, rupawan tak bertara. Prajnyaparamita Jayendra dewi, cantik manis menawan hati. Gayatri yang bungsu, paling terkasih digelari Rajapatni.
  2. Perkawinan beliau dalam kekeluargaan tingkat tiga. Karena Bhatara Wisnu dengan Bhatara Narasingamurti. Akrab tingkat pertama; Narasingamurti menurunkan Dyah Lembu Tal. Sang perwira yuda, dicandikan di Mireng dengan arca Budha.

Pupuh 47

  1. Dyah Lembu Tal itulah bapa Baginda Nata. Dalam hidup atut runtut sepakat sehati. Setitah raja diturut, menggirangkan pandang. Tingkah laku mereka semua meresapkan.
  2. Tersebut tahun saka tujuh orang dan surya (1217) Baginda menobatkan puteranya di Kediri. Perwira, bijak, pandai, putera Indreswari. Bergelar Sang Raja Putera Jayanagara.
  3. Tahun saka surya mengitari tiga bulan (1231) Sang orabu mangkat, ditanam di dalam pura Antahpura, begitu nama makam beliau. Dan di makam Simping ditegakkan arca Siwa.

Pupuh 48

  1. Beliau meninggalkan Jayanagara sebagai raja Wilwatikta. Dan dua orang puteri keturunan Rajapatni, terlalu cantik. Bagai Dewi Ratih kembar, mengalahkan rupa semua bidadari. Yang sulung jadi rani di Jiwana, yang bungsu jadi rani di Daha.
  2. Tersebut pada tahun saka mukti guna memaksa rupa (1238) bulan madu baginda Jayanagara berangkat ke Lumajang menyirnakan musuh. Kotanya Pajarakan dirusak, Nambi sekeluarga dibinasakan. Giris miris segenap jagat melihat keperwiraan Sri Baginda.
  3. Tahun saka bulatan memanah surya (1250) beliau berpulang. Segera dimakamkan di dalam pura berlambang arca Wisnuparama. Di sila petak dan Bubat ditegakkan arca Wisnu terlalu indah. Di sukalila terpahat arca Budha sebagai jelmaan Amogasidi.

Pupuh 49

  1. Tahun saka uma memanah dwi rupa (1256) Rani Jiwana Wijayatunggadewi bergilir mendaki tahta Wilwatikta didampingi raja putera Singasari.
  2. Atas perintah ibunda Rajapatni sumber bahagia dan pangkal kuasa. Beliau jadi pengemban dan pengawas raja muda, Sri Baginda Wilwatikta.
  3. Tahun Saka Api memanah ari (1253) Sirna musuh di sadeng, Keta diserang. Selama bertahta, semua terserah kepada menteri bijak, Mada namanya.
  4. Tahun saka panah musim mata pusat (1265) Raja Bali yang alpa dan rendah budi diperangi, gugur bersama balanya menjauh segala yang jahat, tenteram.
  5. Begitu ujar Dang Acarya Ratnamsah. Sungguh mengharukan ujar Sang Kaki. Jelas keunggulan Baginda di dunia. Dewa asalnya, titisan Girinata.
  6. Barangsiapa mendengar kisah raja, tak puas hatinya. Pasti takut melakukan tindak jahat, menjauhkan diri dari tindak durhaka.
  7. Paduka empu minta maaf berkata: “Hingga sekian kataku, sang rakawi. Semoga bertambah pengetahuanmu, Bagai buahnya gubahlah pujasastra”
  8. Habis jamuan rakawi dengan sopan minta diri kembali ke Singasari. Hari surut sampai pesanggrahan lagi. Paginya berangkat menghadap Baginda.

Pupuh 50

  1. Tersebut Baginda Raja berangkat berburu. Berlengkap dengan senjata, kuda dan kereta. Dengan bala ke hutan Nandawa, rimba belantara. Rungkut rimbun penuh gelagah rumput rampak.
  2. Bala bulat beredar membentuk lingkaran. Segera siap kereta berderet rapat. Hutan terkepung, terperanjat kera menjerit. Burung ribut beterbangan berebut dulu.
  3. Bergabung sorak orang berseru dan membakar. Gemuruh bagaikan deru lautan mendebur. Api tinggi menyala menjilat udara. Seperti waktu hutan Kandawa terbakar.
  4. Lihat rusa-rusa lari lupa daratan. Bingung berebut dahulu dalam rombongan. Takut miris menyebar, ingin lekas lari malah menengah berkumpul tumpuk timbun.
  5. Banyaknya bagai benteng di dalam Gobajra. Penuh sesak bagai lembu di Wresabapura. Celeng, banteng, rusa, kerbau, kelinci, biawak, kucing, kera, badak dan lainnya.
  6. Tertangkap segala binatang dalam hutan. Tak ada yang menentang, semua bersatu. Srigala gagah, yang bersikap tegak-teguh. Berunding dengan singa sebagai ketua.

Pupuh 51

  1. Izinkanlah saya bertanya kepada raja satwa. Sekarang raja merayah hutan, apa yang diperbuat? Menanti mati sambil berdiri ataukah kita lari Atau tak gentar serentak melawan, jikalau diserang?
  2. Seolah-olah demikian kata serigala dalam rapat. Kijang, kasuari, rusa dan kelinci serempak menjawab: “Hemat patik, tidak ada jalan lain kecuali lari. Lari mencari keselamatan diri sedapat mungkin.”
  3. Banteng, kerbau, lembu serta harimau serentak berkata: “Amboi! Celaka bang kijang, sungguh binatang hina lemah. Bukanlah sifat perwira lari atau menanti mati. Melawan dengan harapan menang, itulah kewajiban.”
  4. Jawab singa: “Usulmu berdua memang pantas diturut. Tapi harap dibedakan yang dihadapi baik atau buruk. Jika penjahat, terang kita lari atau kita lawan. Karena sia-sia belaka jika mati terbunuh olehnya.
  5. Jika kita menghadapi tripaksa, resi Siwa-Budha seyogyanya kita ikuti saja jejak sang pendeta. Jika menghadapi raja terburu, tunggu mati saja. Tak usah engkau merasa enggan menyerahkan hidupmu.
  6. Karena raja berkuasa mengakhiri hidup makhluk, Sebagai titisan Bhatara Siwa berupa narpati. Hilang segala dosanya makhluk yang dibunuh beliau. Lebih utama daripada terjun ke dalam telaga.
  7. Siapa diantara sesame akan jadi musuhku? Kepada Tripaksa aku takut, lebih utama menjauh. Niatku jika berjumpa raja, akan menyerahkan hidup. Mati olehnya, tak akan lagi bagai binatang.”

Pupuh 52

  1. Bagaikan katanya: “Marilah berkumpul!” Kemudian serentak maju berdesak. Prajurit darat yang terlanjur langkahnya tertahan tanduk satwa, lari kembali.
  2. Tersebut adalah prajurit berkuda. Bertemu celeng sedang berdesuk kumpul. Kasihan! Beberapa mati terbunuh dengan anaknya dirayah tak berdaya.
  3. Lihatlah celeng jalang maju menerjang. Berempat, berlima, gemuk, tinggi, marah, buas membekos-bekos, matanya merah liar dahsyat, saingnya seruncing golok.

Pupuh 53

  1. Tersebut pemburu kijang rusa riuh seru menyeru. Ada satu yang tertusuk tanduk, lelah lambat jalannya. Karena luka kakinya, darah deras meluap-luap. Lainnya mati terinjak-injak, menggelimpang kesakitan.
  2. Bala kembali berburu, berlengkap tombak serta lembing. Berserak kijang rusa di samping bangkai bertumpuk timbun. Banteng serta binatang galak lainnya bergerak menyerang. Terperanjat bala raja bercicir lari tunggang langgang.
  3. Ada yang lari berlindung di jurang, semak, kayu rimbun. Ada yang memanjat pohon, ramai mereka berebut puncak. Kasihanilah yang memanjat pohon tergelincir ke bawah! Betisnya segera diseruduk dengan tanduk, pingsanlah!
  4. Segera kawan-kawan datang menolong dengan kereta. Menombak, melembing, menikam, melanting, menjejak-jejak. Karenanya badak mundur, meluncur berdebak gemuruh. Lari terburu, terkejar; yang terbunuh bertumpuk timbun.
  5. Ada pendeta Siwa-Budha yang turut menombak, mengejar disengau harimau, lari diburu binatang mengancam. Lupa akan segala darma, lupa akan tata sila, turut melakukan kejahatan, melupakan darmanya.

Pupuh 54

  1. Tersebutlah baginda telah mengendarai kereta kencana. Tinggi lagi indah ditarik lembu yang tidak takut bahaya. Menuju hutan belantara, mengejar buruan ketakutan. Yang menjauhkan diri lari bercerai-berai meninggalkan bangkai.
  2. Celeng, kaswari, rusa, dan kelinci tinggal dalam ketakutan. Baginda berkuda mengejar yang riuh lari bercerai-berai. Menteri, tanda, dan pujangga di punggung kuda turut memburu. Binatang jatuh terbunuh, tertombak, terpotong, tertusuk, tertikam.
  3. Tanahnya luas lagi rata, hutannya rungkut, di bawah terang. Itulah sebabnya kijang dengan mudah dapat diburu kuda. Puaslah hati baginda, sambil bersantap dihadap pendeta. Bercerita tentang caranya berburu, menimbulkan gelak tawa.

Pupuh 55

  1. Terlangkahi betapa narpati  sambil berburu menyerap sari keindahan. Gunung dan hutan, kadang-kadang kepayahan kembali ke rumah perkemahan. Membawa wanita seperti cengkerama; di hutan bagai menggempur Negara. Tahu kejahatan satwa, beliau tak berdosa terhadap darma ahimsa.
  2. Tersebutlah beliau bersiap akan pulang, rindu kepada keindahan pura. Tatkala subakala berangkat menuju Banyu Hanget, Banir dan Talijungan. Bermalam di Wedwawedan, siangnya menuju Kuwarahan, Celong dan Dadamar. Garuntang, Pagar Telaga, Pahanjangan, sampai disitu perjalanan beliau.
  3. Siangnya perjalanan melalui Tambak, Rabut, Wayuha terus ke Belanak. Menuju Pandakan, Banaragi, sampai Pandamayan beliau lalu bermalam. Kembali ke Selatan, ke Barat menuju Jejawar di kaki gunung berapi. Disambut penonton bersorak gembira, menyekar sebentar di candi makam.

Pupuh 56

  1. Adanya candi makam tersebut sudah sejak zaman dahulu. Didirikan oleh Sri Kertanegara, moyang baginda raja. Di situ hanya jenazah beliau saja yang dimakamkan. Karena beliau dulu memeluk dua agama Siwa-Budha.
  2. Bentuk candi berkaki Siwa, berpuncak Budha, sangat tinggi. Didalamnya terdapat arca Siwa, indah tak dapat dinilai. Dan arca Maha Aksobhya bermahkota tinggi tak bertara. Namun telah hilang; memang sudah layak, tempatnya di nirwana.

Pupuh 57

  1. Konon kabarnya tepat ketika arca Hyang Aksobya hilang. Ada pada Baginda guru besar, masyhur, pada Paduka. Putus tapa, sopan suci penganut pendeta Sakyamuni. Telah terbukti bagai mahapendeta, terpundi sasantri.
  2. Senang berziarah ke tempat suci, bermalam di candi. Hormat mendekati Hyang arca suci, khidmat berbakti sembah. Menimbulkan iri di dalam hati pengawas candi suci. Ditanya, mengapa berbakti kepada arca dewa Siwa.
  3. Pada Paduka menjelaskan sejarah candi makam suci. Tentang adanya arca Aksobya indah, dahulu di atas. Sepulangnya kembali lagi ke candi menyampaikan bakti, kecewa! Tercengang memandang arca Maha Aksobya hilang.
  4. Tahun Saka Api Memanah Halilintar (1253) itu hilangnya arca. Waktu hilangnya halilintar menyambar candi ke dalam. Benarlah kabaran pendeta besar bebas dari prasangka. Bagaimana membangun kembali candi tua terbengkalai?
  5. Tiada ternilai indahnya, sungguh seperti surge turun. Gapura luar, mekala serta bangunanya serba permai. Hiasang di dalamnya nagapuspa yang sedang berbunga. Disisinya lukisan puteri istana berseri-seri.
  6. Sementara Baginda girang cengkrama menyerap pemandangan. Pakis berserak di tengah tebar bagai bulu dada. Ketimur arahnya dibawah terik matahari, Baginda meninggalkan candi, pekalongan girang ikut jurang curam.

Pupuh 58

  1. Tersebut dari Jajawa Baginda berangkat ke Desa Padameyan. Berhenti di Cunggrang, mencari pemandangan, masuk hutan rindang. Kea rah asrama para pertapa di lereng kaki gunung menghadap jurang. Luang jurang ternganga-nganga ingin menelan orang yang memandang.
  2. Habis menyerap pemandangan, masih pagi kereta telah siap. Ke Barat arahnya menuju gunung melalui jalannya dahulu. Tiba di penginapan Japan, barisan tentara datang menjemput. Yang tinggal di pura iri kepada yang gembira pergi menghadap.
  3. Pukul tiga itulah waktu baginda bersantap bersama-sama. Paling muka duduk baginda, lalu dua paman berturut tingkat. Raja Matahun dan Paguhan bersama permaisuri agak jauhan di sisi Sri Baginda; terlangkahi betapa lamanya bersantap.

Pupuh 59

  1. Paginya pasukan kereta Baginda berangkat lagi. Sang pujangga menyidat jalan ke Rabut, Tugu, Pengiring. Singgah di Pahyangan, menemui kelompok sanak kadang. Dijamu sekadarnya, karena kunjungannya mendadak.
  2. Banasara dan Sangkan Adoh telah dilalui. Pukul dua Baginda telah sampai di perbatasan kota. Sepanjang jalan berdesuk-desuk, gajah, kuda, pedati, kerbau, banteng dan prajurit darat sibuk berebut jalan.
  3. Teratur rapi mereka berarak di dalam deretan. Narpati Pajang, permaisuri dan pengiring paling muka. Di belakangnya, tidak jauh , berikut narapati Lasem. Terlampau indah keretanya, menyilaukan yang memandang.
  4. Rani Daha, Rani Wengker semuanya urut belakang. Disusul rani Jiwana bersama laki dan pengiring. Bagai penutup kereta Baginda serombongan besar. Diiringi beberapa ribu oerwira dan para menteri.
  5. Tersebutlah orang yang rapat tampak menambak tepi jalan. Berjejal ribut menanti kereta Baginda berlintas. Tergopoh-gopoh perempuan ke pintu berebut tempat. Malahan ada yang lari telanjang lepas sabuk lainnya.
  6. Yang jauh tempatnya, memanjat kekayu berebut tinggi. Duduk berdesak-desakan di dahan, tak pandang tua muda. Bahkan ada juga yang memanjat batang kelapa kuning. Lupa malu dilihat orang, karena terpekur memandang.
  7. Gemuruh dengung gong menampuk Sri Baginda raja datang. Terdiam duduk merunduk segenap orang di jalanan. Setelah raja lalu, berarak pengiring di belakang. Gajah, kuda, keledai, kerbau berduyun beruntun-runtun.

Pupuh 60

  1. Yang berjalan rampak berarak-arak. Barisan pikulan berjalan belakang. Lada, kesumbu, kapas, buah kelapa, buah pinang, asam dan wijen terpikul.
  2. Di belakangnya oemikul barang berat. Sengkeyegan lambat berbimbingan tangan kanan menuntun kirik dan kiri genjik. Dengan ayam itik di keranjang merunduk.
  3. Jenis barang terkumpul dalam pikulan. Buah kecubung, rebung, slundang, cempaluk, nyiru, kerucut, tempayan, dulang, periuk gelaknya seperti hujan panah jatuh.
  4. Tersebut Baginda telah masuk pura. Semua bubar ke rumah masing-masing. Ramai bercerita tentang hal yang lalu. Membuat girang semua sanak kadang.

Pupuh 61

  1. Waktu lalu; Baginda tak lama di istana. Tahun saka dua gajah bulan (1282) Badrapada, beliau berangkat menuju Tirib dan Sempur. Nampak sangat banyak binatang di dalam hutan.
  2. Tahun saka tiga badan dan bulan (1283) Waisaka, baginda raja berangkat menyekar ke Palah. Dan mengunjungi Jumble untuk menghibur hati. Di Lawang Wentar, Blitar menentramkan cita.
  3. Dari Blitar ke selaan jalannya mendaki. Puhonnya jarang, layu lesu kekurangan air. Sampai Lodaya bermalam beberapa hari. Tertarik keindahan lautan, menyisir pantai.
  4. Meninggalkan Lodaya menuju desa Simping. Ingin memperbaiki candi makam leluhur. Menaranya rusak, dilihat miring ke barat. Perlu ditegakkan kembali agak ke timur.

 

Pupuh 62

  1. Perbaikan disesuaikan dengan bunyi prasasti, yang dibaca lagi. Diukur panjang lebarnya; disebelah timur sudah ada tugu asrama gurung-gurung diambil sebagai denah candi makam. Untuk gantinya diberikan Ginting, Wisnurare di Bajradara.
  2. Waktu pulang mengambil jalan Jukung, Jnyanabadra terus ke timur. Berhenti di Bajralaksmi dan bermalam di candi Surabawana. Paginya berangkat lagi, berhenti di Bekel, sore sampai pura. Semua pengiring bersowang sowing pulang ke rumah masing-masing.

Pupuh 63

  1. Tersebut paginya Sri Naranata dihadapan para menteri semua. Dimuka para Arya, lalu Pepatih, duduk teratur di Manguntur. Patih Amangkubumi Gadjah Mada tampil ke muka sambil berkata: “Baginda akan melakukan kewajiban yang tak boleh diabaikan”.
  2. Atas perintah Sang Rani Sri Tribuwana Wijayatunggadewi, supaya pesta Serada Sri Rajapatni dilangsungkan Sri Baginda. Di istana pada tahun saka bersirah empat (1284) bulan Badrapada. Semua pembesar dan wredda menteri diharap memberi sumbangan.”
  3. Begitu kata sang patih dengan ramah, membuat gembira Baginda. Sorenya datang para pendeta, para budiman, sarjana dan menteri yang dapat pinjaman tanah dengan Ranadiraja sebagai kepala. Bersama-sama membicarakan biaya di hadapan Sri Baginda.
  4. Tersebutlah sebelum bulan Badrapada menjelang surutnya Srawana. Semua pelukis berlipat giat menghias “tempat singa” di setinggil. Ada yang mengetam baik makanan, bokor-bokoran, membuat arca. Pandai emas dan perak turut sibuk bekerja membuat persiapan.

Pupuh 64

  1. Ketika saatnya tiba, tempat telah teratur sangat rapi. Balai Witana terhias indah, dihadapan rumah-rumahan. Satu diantaranya berkaki batu karang, bertiang merah. Indah dipandang, semua menghadap kea rah tahta Baginda.
  2. Barat, mandapa dihias janur rumbai, tempat duduk para raja. Utara, serambi dihias berlapis ke timur, tempat duduk. Para isteri, pembesar, menteri dan pujangga, serta pendeta. Selatan, beberapa serambi berhias bergas untuk abdi.
  3. Demikian persiapan Sri Baginda memuja Budha Sakti. Semua pendeta Budha berdiri dalam lingkaran bagai saksi. Melakukan upacara, dipimpin oleh pendeta Stapaka. Tenang, sopan, budiman faham tentang sastra tiga tantra.
  4. Umumnya melintasi seribu bulan, masih belajar tutur. Tubuhnya sudah rapuh, selama upacara harus dibantu. Empu dari Paruh selaku pembantu berjalan di lingkaran. Mudra, tantra, dan japa dilakukan tepat menurut aturan.
  5. Tanggal dua belas nyawa dipanggil dari surge dengan doa. Disuruh kembali atas doa dan upacara yang sempurna. Malamnya memuja arca bunga bagai penampung jiwa mulia. Dipimpin Dang Acarya, mengheningkan cipta, mengucapkan puja.

Pupuh 65

  1. Pagi purnamakala arca bunga dikeluarkan untuk upacara/ Gemuruh disambut dengan dengung salung, tambur, terompet serta gendering. Didudukkan diatas singgasana, besarnya setinggi orang berdiri. Berderet beruntun-runtun semua pendeta tua muda memuja.
  2. Berikut para raja, parameswari dan putera mendekati arca. Lalu patih dipimpin Gadjah Mada maju ke muka berdatangan sembah. Para bupati pesisir dan pembesar daerah dari empat penjuru. Habis berbakti sembah, kembali mereka semua duduk rapi teratur.
  3. Sri Nata Paguhan paling dahulu menghaturkan sajian makanan sedap. Bersusun timbun seperti pohon dan sirih bertutup kain sutera. Persembahan raja Matahun arca banteng putih seperti lembu Nandini. Terus menerus memuntahkan harta dan makanan dari mulutnya.
  4. Raja wengker mempersembahkan sajian berupa rumah dengan taman bertingkat. Disertai penyebaran harta di lantai balai besar berhambur-hamburan. Elok persembahan raja Tumapel berupa perempuan cantik manis dipertunjukkan selama upacara untuk menharu-rindukan hati.
  5. Paling hebat persembahan Sri Baginda berupa gunung besar Mandara. Digerakkan oleh sejumlah dewa dana danawa dhsyat menggusarkan pandang. Ikan lembora besar berlembak-lembak mengebaki kolam bujur lebar. Bagaikan sedang mabuk diayun gelombang ditengah-tengah lautan besar.
  6. Tiap hari persajian makanan yang dipersembahkan dibagi-bagi. Agar para wanita, menteri, pendeta dapat makanan sekenyangnya. Tidak terlangkahi para ksatria, arya dan abdi di pura. Tak putusnya makanan sedap nyaman diedarkan kepada bala tentara.

Pupuh 66

  1. Pada hari keenam pagi Sri Baginda bersiap mempersembahkan persajian. Pun para ksatria  dan pembesar mempersembahkan rumah-rumahan yang terpikul. Dua orang pembesar mempersembahkan perahu yang melukiskan kutipan kidung. Seperahu sungguh besarnya, diiringi gong dan bubar mengguntur menggembirakan.
  2. Esoknya Patih Mangkubumi Gadjah Mada sore-sore menghadap sambil menghaturkan persajian. Berbagai ragamnya, berduyun-duyun, ada yang berupa perahu, gunung, rumah, ikan…
  3. Sungguh-sungguh mengagumkan persembahan Baginda raja pada hari yang ketujuh. Beliau menabur harta, membagi-bagi bahan pakaian dan hidangan makanan. Luas merata kepada empat kasta, dan terutama kepada para pendeta. Hidangan jamuan kepada pembesar abdi dan niata mengalir bagai air.
  4. Gemeruduk dan gemuruh para penonton dari segenap arah, berdesak-sesak. Ribut berebut tempat melihat peristiwa di balai agung serta pura leluhur. Sri Nata menari di balai Witana khusus untuk para puteri dan para istri. Yang duduk rapat rapi berimpit, ada yang ngelamun karena tercengang memamndang.
  5. Segala macam kesenangan yang menggembirakan hati rakyat diselenggarakan. Nyanyian, wayang, topeng silih berganti setiap hari dengan paduan suara. Tari perang prajurit, yang dahsyat berpukul-pukulan, menimbulkan gelak mengakak. Terutama derma kepada orang yang menderita membangkitkan gembira rakyat.

Pupuh 67

  1. Pesta serada yang diselenggarakan serba meriah dan khidmat. Pasti membuat gembira jiwa Sri Rajapatni yang sudah mangkat. Semoga beliau melimpahkan berkat kepada Baginda raja. Sehingga jaya terhadap musuh selama ada bulan dan surya.
  2. Paginya pendeta Budha datang menghormati, memuja dengan sloka. Arwah Prajnyaparamita yang sudah berpulang ke Budhaloka. Segera arca bunga diturunkan kembali dengan upacara. Segala macam makanan dibagikan kepada segenap abdi.
  3. Lodang lega rasa Baginda melihat perayaan langsung lancer. Karya yang masih menunggu, menyempurnakan candi di Kamal Pandak. Tanahnya telah disucikan tahun dahana tujuh surya (1274) dengan persajian dan puja kepada Brahma oleh Jnyanawidi.

Pupuh 68

  1. Demikian sejarah Kamal menurut tutur yang dipercaya. Dan Sri Nata Panjalu di Daha, waktu bumi Jawa dibelah karena cinta raja Erlangga kepada kedua puteranya.
  2. Ada pendeta Budhamajana putus dalam tantra dan yoga. Diam di tengah kuburan Lemah Cittra, jadi pelindung rakyat. Waktu ke Bali berjalan kaki, tenang menapak di air lautan. Hyang Mpu Barada nama beliau, faham tentang tiga zaman.
  3. Girang beliau menyambut permintaan Erlangga membelah Negara. Tapal batas Negara ditandai air kendi, mancur dari langit. Dari barat ke timur sampai laut; sebelah utara, selatan. Yang tidak jauh, bagaikan dipisahkan oleh samudera besar.
  4. Turun dari angkasa sang pendeta berhenti di pohon asam. Selesai tugas kendi suci ditaruhkan di dusun Palungan. Marah terhambat pohon asam tinggi yang puncaknya mengait jubah. Mpu Barada terbang lagi, mengutuk asam agar jadi kerdil.
  5. Itulah tugu batas gaib yang tidak akan mereka lalui. Itu pula sebabnya dibangun candi, memadu Jawa lagi. Semoga baginda serta rakyat tetap tegak, teguh, waspada. Berjaya dalam memimpin Negara, yang sudah bersatu padu.

Pupuh 69

  1. Prajnaparamitapuri itulah nama candi makam yang dibangun. Arca Sri Rajapatni diberkahi oleh pendeta Jnyanawidi. Telah lanjut usia, faham akan tantra, menghimpun ilmu Negara. Laksana titisan Empu Bharada, menggembirakan hati Baginda.
  2. Di Bayalangu akan dibangun pula candi makam Sri Rajapatni. Pendeta Jnyanawidi lagi yang ditugaskan memberkahi tanahnya. Rencananya telah disetujui oleh sang menteri demung Boja. Wisesapura namanya, jika candi sudah berdiri sempurna dibangun.
  3. Candi makam Sri Rajapatni tersohor sebagai tempat keramat. Tiap bulan Badrapada disekar oleh para menteri dan pendeta. Di tiap daerah, rakyat serentak membuat peringatan dan memuja. Itulah surganya, berkat berputera, bercucu narendra utama.

Pupuh 70

  1. Tersebut pada tahun saka angin delapan utama (1285) baginda menuju Simping demi pemindahan candi makam. Siap lengkap segala persajian tepat menurut adat. Pengawasnya Rajaparakrama memimpin upacara.
  2. Faham tentang tatwopadesa dan kepercayaan Siwa. Memangku jabatannya semenjak mangkat Kertarajasa. Ketika menegakkan menara dan mekala gapura. Bangsawan agung Arya Krung, yang diserahi menjaganya.
  3. Sekembalinya dari Simping, segera masuk pura. Terpaku mendengar Adimenteri Gadjah Mada sakit. Pernah mencurahkan tenaga untuk keluhuran Jawa. Di Pulau Bali serta Kota Sadeng memusnahkan musuh.

Pupuh 71

  1. Tahun saka tiga angin utama (1253) beliau mulai memikul tanggung jawab. Tahun rasa (1286) beliau mangkat; Baginda gundah, terharu bahkan putus asa. Sang Dibyacita Gadjah Mada cinta kepada sesame tanpa pandang bulu. Insaf bahwa hidup tidak baka, karenanya beramal tiap hari.
  2. Baginda segera bermusyawarah dengan kedua rama serta ibunda. Kedua adik dan kedua ipar tentang calon pengganti Ki Patih Mada yang layak akan diangkat hanya calon yang sungguh mengenal tabiat rakyat. Lama timbang menimbang, tetapi seribu sayang tidak ada yang memuaskan.
  3. Baginda berpegang teguh. Adimenteri Gadjah Mada tak akan diganti. Bila karenanya timbul keberatan, beliau sendiri bertanggung jawab. Memilih enam menteri yang menyampaikan urusan Negara ke istana. Mengetahui segala perkara, sanggup tunduk kepada pimpinan Baginda.

Pupuh 72

  1. Itulah putusan rapat tertutup. Hasil yang diperoleh perundingan. Terpilih sebagai wredda menteri karib Baginda bernama Mpu Tadi.
  2. Penganut karib Sri Baginda Nata. Pahlawan perang bernama Mpu Nala. Mengetahui budi pekerti rakyat. Mancanegara bergelar tumenggung.
  3. Keturunan orang cerdik dan setia. Selalu memangku pangkat pahlawan. Pernah menundukkan Negara  Dompo, Serba ulet menanggulangi musuh.
  4. Jumlahnya bertambah dua menteri. Bagai pembantu utma Baginda. Bertugas mengurus soal perdata. Dibantu oleh para upapati.
  5. Mpu Dami menjadi menteri muda. Selalu ditaati di istana. Mpu Singa diangkat sebagai saksi. Dalam segala perintah Baginda.
  6. Demikianlah titah Sri Baginda Nata. Puas, taat, teguh segenap rakyat. Tumbuh tambah hari setia baktinya. Karena Baginda yang memerintah.

Pupuh 73

  1. Baginda makin keras berusaha untuk dapat bertindak lebih bijak. Dalam pengadilan tidak serampangan, tapi tepat mengikuti undang-undang. Adil segala keputusan yang diambil, semua pihak merasa puas. Masyhur nama beliau, mampu menembus zaman, sungguhlah titisan Bhatara.
  2. Candi makam serta bangunan para leluhur sejak zaman dahulu kala yang belum siap diselesaikan, dijaka dan dibina dengan seksama. Yang belum punya prasasti disuruh buatkan piagam oleh ahli sastra. Agar kelak jangan sampai timbul perselisihan, jikalau sudah temurun.
  3. Jumlah candi makam raja seperti berikut, mulai dengan Kagenengan disebut pertama karena tertua: Tumapel, Kidal, Jajagu, Wedwawedan. Di Tuban, Pikatan, Bakul, Jawa-jawa, Antang Trawulan Kalang, Brat dan Jago. Lalu Blitar, Sila Petak, Ahrit, Waleri, Bebeg, Kukap, Lumbang dan Puger.

 

 

Pupuh 74

  1. Makam rani: Kamal Pandak, Segala, Simping, Sri Ranggapura serta candi Budi Kuncir, bangunan baru Prajnyaparamitapuri di Bayalangu yang baru saja dibangun.
  2. Itulah dua puluh tujuh candi raja. Pada Saka tujuh guru candra (1287) bulan Badra, dijaga petugas atas perintah raja. Diawasi oleh pendeta ahli sastra.

Pupuh 75

  1. Pembesar yang bertugas mengawasi seluruhnya sang Wiradikara orang utama, yang seksama dan tawakal membina semua candi. Setia kepada baginda, hanya memikirkan kepentingan bersama. Segan mengambil keuntungan berapa pun penghasilan candi makam.
  2. Desa-desa perdikan ditempatkan di bawah perlindungan Baginda Darmadyaksa Kasewan bertugas membina tempat ziarah dan pemujaan. Darmadyaksa Kasogatan disuruh menjaga biara kebudhaan. Menteri ber-haji bertugas memelihara semua pertapaan.

Pupuh 76

  1. Desa perdikan Siwa yang bebas dari pajak: Biara Relung Kunci, Kapulungan, Roma, Wwatan, Iswaragreha, Palabdi, Tanjung, Kutalamba, begitu pula Taruna. Parahyangan, Kuti Jati, Candi Lima, Nilakusuma, Harimananda, Uttamasuka, Prasada-haji, Sadeng, Panggumpulan, Katisanggraha. Begitu pula Jayasuka.
  2. Tak ketinggalan: Spatika, Yang Jayamanalu, Haribawana, Candi Pangkal, Pigir, Nyudonto, Katuda, Srangan, Kapukuran, Dayamuka, Kalinandana, Kanigara, Rambut, Wuluhan, Kinawung, Sukawijaya, dan lagi Kajaha, demikian pula Campen, Ratimanatasrama, Kula, Kaling ditambah sebutan lagi Batu Putih.
  3. Desa perdikan kasogatan yang bebas dari pajak: Wipulahara, Kutahaji, Jantraya, Rajadanya, Kuswanata, Surayasa, Jarak, Lagundi, serta Wadari. Wewe Pacekan, Pasuruan, Lemah Surat, Sangan serta Pangiketan. Panghawan, Damalang, Tepasjita, Wanasrama, Jenar, Samudrawela, dan Pamulang.
  4. Baryang Amretawardani, Wetlwetihn, Kawinayan Patemon serta Kanuruhan. Engtal, Wengker, Banyu Jiken, Batabata, Pagagan, Sibok dan Engtal Wetan. Pindatuha, telang, Suraba, itulah yang terpenting, sebuah suka Sukalila. Tak disebut perdikan tambahan seperti Pogara, Kulur, Tangkil, dan sebagainya.

Pupuh 77

  1. Selanjutnya, disebut berturut desa kebudhaan Bjradara: Isanabajra, Naditara, Mukuh, Sambang, Tanjung, Amretasaba, Bangbang, Bodimula, Waharu Tampak, serta Puruhan dan Tadata.Tidak juga terlangkahi Kumuda, Ratna serta Nadinagara.
  2. Wungajaya, Palandi, Tangkil, Asahing, Samici, serta Acitahen. Nairanjana, Wijayawaktra, Mageneng, Pojahan, dan Balamasin. Krat, Lemah Tulis, Ratnapangkaya, Panumbangan serta Kahuripan. Keraki, Telaga Jambala, Jungul ditambah lagi Wisnuwala.
  3. Badur, Wirun, WUngkilur, Mananggung, Watukura serta Bajrasana. Pajambayan, Salaten, Simapura, Tambvak Laleyan, Pilangu, Pohaji, Wangkali, Biru, Lembah, Dalinan, Pangadwan yang terakhir. Itulah desa kebudhaan Bajradara yang sudah berprasasti.

Pupuh 78

  1. Desa Keresian seperti berikut: Sampud, Rupit dan Pilan. Pucangan, Jagadita, Pawitra, masih sebuah lagi Butun. Di situ terbentang taman, didirikan lingga dan saluran air. Yang mulia Mahaguru – demikian sebutan beliau.
  2. Yang diserahi tugas menjaga sejak dulu menurut piagam. Selanjutnya desa perdikan tanpa candi, diantaranya yang penting: Bangawan Tunggal, Sidayatra, Jaya Sidahajeng, Lwah Kali dan Twas. Wasita, Palah, Padar, Siringan. Itulah desa perdikan Siwa.
  3. Wangjang Bajrapura, Wanara, Makiduk, Hansen, Guha dan Jiwa. Jumpud, Soba, Pamuntaran dan Baru, perdikan Budha utama. Kajar, Dana Hanyar, Turas, Jalagri, Centing, Wekas. Wandira, Wandayan, Gatawang, Kulapayan dan Talu pertapaan resi.
  4. Desa perdikan Wisnu berserak di Barwan serta Kamangsian, Batu, Tanggulian, Dakulut, Galuh, Makalaran, itu yang penting. Sedang, Medang, Hulun Hyan, Parung Langge, Pasajan, Kelut, Andelmat, Pradah, Geneng, Panggawan, sduah sejak lama bebas pajak.
  5. Terlewati segala dukuh yang terpencar di seluruh Jawa. Begitu pula asrama tetap yang bercandi serta yang tidak. Yang bercandi menerima bantuan tetap dari Baginda raja. Begitu juga dukuh pengawas, tempat belajar upacara.

Pupuh 79

  1. Telah diteliti sejarah berdirinya segala desa di Jawa. Perdikan, candi, tanah pusaka, daerah dewa, biara dan dukuh. Yang berpiagam dipertahankan, yang tidak segera diperintahkan pulang kepada dewan desa di hadapan Sang Arya Ranadiraja.
  2. Segenap desa sudah diteliti menurut perintah Raja Wengker. Raja Singasari bertitah mendaftar jiwa serta seluk salurannya. Petugas giat menepati perintah, berpegang kepada aturan. Segenap penduduk jawa patuh mengindahkan perintah baginda raja.
  3. Semua tata aturan patuh diturut oleh Pulau Bali. Candi, asrama, pesanggrahan telah diteliti sejarah tegaknya. Pembesar kebudhaan Baduhulu, Badaha Lo Gajah ditugaskan membina segenap candi, bekerja rajin dan mencatat semuanya.

Pupuh 80

  1. Perdikan kebudhaan Bali seperti berikut: Biara Baharu (Hanyar), Kadikaranan, Purwanagara, Wirabahu, Adiraja, Kuturan. Itulah enam kebudhaan Bajradara, biara kependetaan. Terlangkahi biara dengan bantuan Negara seperti Arya-dadi.
  2. Berikut candi makam di Bukit Sulang, Lemah Lampung dan Anyawasuda, Tatagatapura, Grehastadata, sangat masyhur, dibangun atas piagam pada tahun saka Angkasa Rasa Surya (1260) oleh Sri Baginda Jiwana. Yang memberkahi tanahnya, membangun candinya: upasaka wredda menteri.
  3. Semua perdikan dengan bukti prasasti dibiarkan tetap berdiri. Terjaga dan terlindungi segala bangunan setiap orang budiman. Begitulah tabiat raja utama, Berjaya, berkuasa, perkasa. Semoga kelak para raja sudi membina semua bangunan suci.
  4. Maksudnya agar musnah semua durjana dari muka bumi laladan. Itulah tujuan melintas, menelusur dusun-dusun sampai di tepi laut. Menentramkan hati pertapa, yang rela tinggal di pantai, gunung dan hutan. Lega bertapa brata dan bersamadi demi kesejahteraan Negara.

Pupuh 81

  1. Besarlah minat Baginda untuk tegaknya tripaksa. Tentang piagam beliau bersikap agar tetap diindahkan. Begitu pula tentang pengeluaran undang-undang, supaya laku utama, tata sila dan adat-tutur diperhatikan.
  2. Itulah sebabnya sang caturdwija  mengejar laku utama. Resi, Wipra, pendeta Siwa Budha teguh mengindahkan tutur. Catur Asrama  terutama catur basma tunduk rungkup tekun. Melakukan tapa brata, rajin mempelajari upacara.
  3. Semua anggota empat kasta teguh mengindahkan ajaran. Para menteri dan arya pandai membina urusan Negara. Para puteri dan ksatria berlaku sopan, berhati teguh. Waisya dan Sudra dengan gembira menepati tugas darmanya.
  4. Empat kasta yang lahir sesuai dengan keinginan Hyang Mahatinggi. Konon, tunduk rungkup kepada kuasa dan perintah baginda. Teguh tingkah tabiatnya, juga ketiga golongan terbawah, Candala, Mleca dan Tucamencoba mencabut cacat-cacatnya. Begitulah tanah Jawa pada zaman pemerintahan Sri Nata.

Pupuh 82

  1. Penegakan bangunan – bangunan suci membuat gembira rakyat. Baginda menjadi teladan di dalam menjalankan enam darma. Para ibu kagum memandang, setuju dengan tingkah laku sang prabu.
  2. Sri Nata Singasari membuka lading luas di daerah Sagala. Sri Nata Wengker membuka hutan Surabana, Pasuruan, Pajang. Mendirikan perdikan Budha di Rawi, Locanapura, Kapulungan. Baginda sendiri membuka lading Watsari di Tigawangi.
  3. Semua menteri mengenyam tanah palenggahan yang cukup luas. Candi, Biara dan Lingga utama dibangun tak ada putusnya. Sebagai tanda bakti kepada dewa, leluhur, para pendeta. Memang benar budi luhur tertabur mengikuti jejak Sri Nata.

Pupuh 83

  1. Begitulah keluhuran Sri Baginda ekanata di Wilwatikta. Terpuji bagaikan bulan di musim gugur, terlalu indah terpandang. Durjana laksana tunjung merah, sujana seperti teratai putih. Abdi, harta, kereta, gajah, kuda berlimpah-limpah bagai samudera.
  2. Bertambah masyhur keluhuran Pulau Jawa di seluruh jagat raya. Hanya Jambudwipa dan Pulau Jawa yang disebut Negara utama. Banyak pujangga dan dyaksa serta para upapati, tujuh jumlahnya. Panji Jiwalekan dan Tenggara yang menonjol bijak di dalam kerja.
  3. Masyhurlah nama pendeta Brahmaraja bagai pujangga, ahli tutur. Putus dalam tarka, sempurna dalam seni kata serta ilmu naya. Hyang Brahma, sopan, suci, ahli weda, menjalankan nam laku utama. Bhatara Wisnu dengan cipta dan mantera membuat sejahtera Negara.
  4. Itulah sebabnya berduyun-duyun tamu asing datang berkunjung dari Jambudwipa, Kamboja, Cina, Yamana, Campa dan Kamataka. Goda serta Saim mengarungi lautan bersama para pedagang. Resi dan pendeta, semua merasa puas menetap dengan senang.
  5. Tiap bulan Palguna Sri Nata dihormati di seluruh Negara. Berdesak-desak para pembesar, empat penjuru, para prabot desa hakim dan pembantunya, bahkan pun dari Bali mengaturkan upeti. Pekan penuh sesak pembeli penjual, barang terhampar di dasaran.
  6. Berputar keliling gamelan dalam tanduan di arak rakyat ramai. Tiap bertabuh tujuh kali, pembawa sajian menghadap ke pura. Korban api, ucapan mantra dilakukan para pendeta Siwa-Budha. Mulai tanggal delapan petang demi keselamatan Baginda.

Pupuh 84

  1. Tersebut pada tanggal empat belas bulan petang, Baginda berkirap. Selama kirap keliling kota busana Baginda serba kencana. Ditatang jempana kencana, panjang berarak beranur runtun. Menteri, sarjana, pendeta beriring dalam pakaian seragam.
  2. Mengguntur gaung gong dan salung, disambut terompet meriah sahut menyahut. Bergerak barisan pujangga menampung beliau dengan puja sloka. Gubahan kawi raja dari pelbagai kota dari seluruh jawa.Tanda bakti Baginda perwira bagai Rama, mulia bagai Sri Kresna.
  3. Telah naik Baginda di tahta mutu-manikam, bergebar pencar sinar. Seolah-olah Hyang Trimurti datang mengucapkan puji astuti. Yang Nampak, semua serba mulia, sebab Baginda memang raja agung. Serupa jelmaan Sang Sudodana putera dan Jina bawana.
  4. Sri Nata Pajang dengan Sang Permaisuri berjalan paling muka. Lepas dari Singgasana yang diarak pengiring terlalu banyak. Menteri Pajang dan Paguhan serta pengiring jadi satu kelompok. Ribuan jumlahnya, berpakaian seragam membawa panji dan tunggul.
  5. Raja Lasem dengan permaisuri serta pengiring di belakangnya. Lalu Raja Kediri dengan permaisuri serta menteri dan tentara. Berikut maharani Jiwana dengan suami dan para pengiring. Sebagai penutup Baginda dan para pembesar seluruh Jawa.
  6. Penuh berdesak-desak para penonton ribut berebut tempat. Di tepi jalan kereta dan pedati berjajar rapat memanjang. Tiap rumah mengibarkan bendera dan panggung membujur sangat panjang. Penuh sesak perempuan tua muda, berjejal berimpit –impitan.
  7. Rindu sendu hatinya seperti baru pertama kali menonton. Terlangkahi peristiwa pagi, waktu Baginda mendaki setinggil. Pendeta menghaturkan kendi berisi air suci didulang berukir. Menteri serta pembesar tampil ke muka menyembah bersama-sama.

Pupuh 85

  1. Tanggal satu bulan Caitra bala tentara berkumpul bertemu muka. Menteri, perwira, para arya dan pembantu raja semua hadir. Kepala daerah, ketua desa, para tamu dari luar kota. Begitu pula para ksatria, pendeta, dan Brahmana utama.
  2. Maksud pertemuan agar para warga mengelakkan watak jahat. Tetapi menganut ajaran Rajakapakapa, dibaca tiap Caitra. Menghindari tabiat jahat, seperti suka mengambil milik orang. Memiliki harta benda dewa, demi keselamatan masyarakat.

Pupuh 86

  1. Dua hari kemudian berlangsung perayaan besar. Di utra kota terbentang lapangan bernama Bubat. Sering dikunjungi Baginda, naik tandu bersudut tiga. Diarak abdi berjalan, membuat kagum tiap orang.
  2. Bubat adalah lapangan luas lebar dan rata. Membentang ke timur setengah krosa sampai jalan raya. Dan setengah krosa ke utara bertemu tebing sungai. Dikelilingi bangunan menteri di dalam kelompok.
  3. Menjulang sangat tinggi bangunan besar di tengah padang. Tiangnya penuh berukir dengan isi dongeng parwa. Dekat disebelah baratnya bangunan serupa istana. Tempat menampung Baginda di panggung pada bulan Caitra.

Pupuh 87

  1. Panggung berjajar membujur ke utara menghadap barat. Bagian utara dan selatan untuk para raja dan arya. Para menteri dan dyaksa duduk teratur menghadap timur. Dengan pemandangan bebas luas sepanjang jalan raya.
  2. Disitulah Baginda member rakyat santapan mata: pertunjukan perang tanding, perang pukul, desuk mendesuk, perang keris, adu tinju, tarik tambang, menggembirakan sampai tiga empat hari lamanya baru selesai.
  3. Seberangkat Baginda, sepi lagi, panggungnya dibongkar. Segala perlombaan bubar; rakyat pulang bergembira. Pada Caitra bulan petang Baginda menjamu para pemenang. Yang pulang menggondol pelbagai hadiah bahan pakaian.

Pupuh 88

  1. Segenap ketua desa dan wedana tetap tinggal, paginya mereka dipimpin Arya Ranadikara menghadap baginda minta diri di pura. Bersama Arya Mahadikara, kepala pancatanda dan padelegan. Sri Baginda duduk di atas tahta, dihadap para abdi dan pembesar.
  2. Berkatalah Sri Nata Wengker di hadapan para pembesar dan wedana: “Wahai, tunjukkan cinta serta setai baktimu kepada Baginda raja. Cintailah rakyat bawahanmu dan berusahalah memajukan dusunmu. Jembatan, Jalan Raya, Beringin, Bangunan dan Candi supaya dibina.
  3. Terutama dataran tinggi dan sawah, agar tetap subur, peliharalah. Perhatikan tanah rakyat, jangan sampai jatuh ketangan petani besar. Agar penduduk jangan sampai terusir dan mengungsi ke desa tetangga. Tepati segala peraturan untuk membuat desa bertambah besar.
  4. Sri Nata Kartawardhana setuju dengan anjuran pembesar desa. “Harap dicatat nama penjahat dan pelanggaran setiap akhir bulan. Bantu pemeriksaan tempat durjana, terutama pelanggar susila. Agar bertambah kekayaan baginda demi kesejahteraan Negara.
  5. Kemudian bersabda Baginda Nata Wilwatikta memberi anjuran: “Para Budiman yang berkunjung kemari, tidak boleh dihalang-halangi. Rajakarya, terutama beacukai, pelawang, supaya dilunasi. Jamuan kepada para tetamu budiman supaya diatur pantas.

Pupuh 89

  1. Undang-undang sejak pemerintahan ibunda harus ditaati. Hidangan makanan sepanjang hari harus dimasak pagi-pagi. Jika ada tamu loba tamak mengambil makanan, merugikan, biar mengambilnya, tetapi laporkan namanya kepada saya.
  2. Negara dan desa berhubungan rapat seperti singa dan hutan. Jika desa rusak, Negara akan kekurangan bahan makanan. Kalau tidak ada tentara, Negara lain mudah menyerang kita. Karenanya peliharalah keduanya, itu perintah saya!”.
  3. Begitulah perintah Baginda kepada wedana, yang tunduk mengangguk. Sebagai tanda mereka sanggup mengindahkan perintah beliau. Menteri, upapati, serta para pembesar menghadap bersama. Tepat pukul tiga mereka berkumpul untuk bersantap bersama.
  4. Bangunan sebelah timur laut telah dihiasi gilang cemerlang. Di tiga sudut ruang para wedana  duduk teratur menganut sudut. Santapan sedap mulai dihidangkan di atas dulang serba emas. Segera deretan depan berhadap-hadapan di muka Baginda.
  5. Santapan terdiri dari daging kambing, kerbau, burung, rusa, madu, ikan, telur, domba, menurut adat agama dari zaman purba makanan pantangan: daging anjing, cacing, tikus, keledai dan katak. Jika dilanggar mengakibatkan hinaan musuh, mati dan noda.

Pupuh 90

  1. Dihidangkan santapan untuk orang banyak. Makanan serba banyak serba sedap. Berbagai-bagai ikan laut dan ikan tambak. Berderap cepat datang menurut acara.
  2. Daging katak, cacing, keledai, tikus, anjing hanya dihidangkan kepada para penggemar. Karena asalnya dari berbagai desa mereka diberi kegemaran, biar puas.
  3. Mengalir berbagai minuman keras segar: Tuak nyiur, Tal, Arak kilang, tuak rumbya. Itulah hidangan minuman utama. Wadahnya emas berbentuk aneka ragam.
  4. Porong dan guci berdiri terpencar-pencar. Berisi minuman keras dari aneka bahan. Beredar putar seperti air mengalir. Yang gemar, minum sampai muntah serta mabuk.
  5. Merdu merayu nyanyian para biduan. Melagukan puji-pujian Sri Baginda. Makin deras peminum melepaskan nafsu. Habis lalu waktu, berhenti gelak gurau.

Pupuh 91

  1. Pembesar daerah angin membadut dengan para lurah. Diikuti lagu, sambil bertandak memilih pasangan. Solah tingkahnya menarik gelak, menggelikan pandangan. Itulah sebabnya mereka memperoleh hadiah kain.
  2. Disuruh menghadap baginda, diajak minum bersama. Menteri upapati berurut minum bergilir menyanyi. Nyanyian Manghuri Kandamuhi dapat sorak pujian. Baginda berdiri, mengimbangi ikut melaras lagu.
  3. Tercengang dan terharu hadirin mendengar suara merdu. Semerbak meriah bagai gelak merak di dahan kayu. Seperti madu bercampur dengan gula terlalu sedap manis. Resap membaru kalbu bagai desiran buluh perindu.
  4. Arya Ranadikara lupa bahwa Baginda berlaku bersama Arya Mahadikara, mendadak berteriak bahwa para pembesar ingin beliau menari topeng. “Ya!” jawab beliau; segera masuk untuk persiapan.
  5. Sri Kertawardana tampil ke depan menari panjak. Bergegas lekas panggung disiapkan ditengah mandapa. Sang permaisuri berhias jamang laras menyanyikan lagu. Luk suaranya mengharu rindu, tingkahnya memikat hati.
  6. Bubar mereka itu ketika Sri Baginda keluar. Lagu rayuan Baginda bergetar menghanyutkan rasa, Diiringkan rayuan sang permaisuri rapi rupendah. Resap meremuk rasa merasuk tulang sumsum pendengar.
  7. Sri Baginda warnawan telah mengenakan tampuk topeng. Delapan pengiringnya dibelakang, bagus, bergas pantas keturunan arya, bijak, cerdas, sopan tingkah lakunya. Inilah sebabnya banyolannya selalu tepat kena.
  8. Tari Sembilan orang telah dimulai dengan banyolan. Gelak tawa terus menerus, sampai perut kaku beku. Babak yang sedih meraih tangis, mengaduk haru dan rindu. Tepat mengenai sasaran menghanyutkan hati penonton.
  9. Silam matahari waktu lingsir, perayaan berakhir. Para pembesar minta diri mencium duli paduka. Katanya: “Lenyap duka oleh suka, hilang dari bumi!”. Terlangkahi pujian Baginda waktu masuk istana.

Pupuh 92

  1. Begitulah suka mulia Baginda raja di pura, tercapai segala cita. Terang baginda sangat memperhatikan kesejahteraan rakyat dan Negara. Meskipun masih muda dengan suka rela berlaku bagai titisan Budha. Dengan laku utama beliau memadamkan api kejahatan durjana.
  2. Terus membumbung ke angkasa kemasyhuran dan keperwiraan Sri Baginda. Sungguh beliau titisan Bhatara Girinata untuk menjaga buana. Hilang dosanya orang yang dipandang dan musnah letanya abdi yang disapa.
  3. Inilah sebabnya keluhuran beliau masyhur terpuji di tiga jagat. Semua orang tinggi, sedang dan rendah menuturkan kata-kata pujian. Serta berdoa agar Baginda tetap subur bagai gunung tempat berlindung. Berusia panjang sebagai bulan dan matahari cemerlang menerangi bumi.

Pupuh 93

  1. Semua pendeta dari tanah asing menggubah pujian Baginda. Sang pendeta Budhaditya menggubah rangkaian sloka Bogawali. Tempat tumpah darahnya Kancipuri di Sadwihara di Jambudwipa.Brahma Sri Mutali Saherdaya menggubah pujian sloka indah.
  2. Begitu pula para pendeta di Jawa, pujangga, sarjana sastra. Bersama-sama merumpaka sloka pujasastra untuk nyanyian. Yang terpenting pujasastra di prasasti, gubahan upapati Sudarma. Berupa kakawin, hanya boleh diperdengarkan di dalam istana.

Pupuh 94

  1. Mendengar pujian para pujangga pura bergetar mencakar udara, Prapanca bangkit turut memuji Baginda, meski tak akan sampai pura. Maksud pujiannya agar Baginda gembira jika mendengar gubahannya. Berdoa demi kesejahteraan Negara, terutama Baginda dan rakyat.
  2. Tahun saka gunung gajah budi dan janma (1287) bulan Aswina hari purnama. Siaplah kakawin pujaan tentang perjalanan keliling Negara. Segenap desa tersusun dalam rangkaian, pantas disebut Desawarnana. Dengan maksud, agar Baginda ingat jika membaca hikmat kalimat.
  3. Sia-sia lama bertekun menggubah kakawin menyurat di atas daun lontar. Yang pertama “Tahun Saka”, yang kedua “Lambang” kemudian “Parwasagara”. Berikut yang keempat “Bismacarana”, akhirnya cerita “Sugataparwa”. Lambang dan Tahun Saka masih akan diteruskan, sebab memang belum siap.
  4. Meskipun tidak semahir para pujangga di dalam menggubah kakawin, terdorong cinta bakti kepada Baginda, ikut membuat pujasastra berupa karya kakawiin, sederhana tentang rangkaian sejarah desa. Apa boleh buat harus berkorban rasa, pasti akan ditertawakan.

Pupuh 95

  1. Nasib badan dihina oleh para bangsawan, canggung tinggal di dusun. Hati gundah kurang senang, sedih, rugi tidak mendengar ujar manis. Teman karib dan orang budiman meninggalkan tanpa belas kasihan. Apa gunanya mengenai ajaran kasih, jika tidak diamalkan?
  2. Karena kemewahan berlimpah, tidak ada minat untuk beramal. Buta, tuli, tak Nampak sinar memancar dalam kesedihan, kesepian. Seyogyanya ajaran sang Mahamuni diresapi bagai pegangan. Mengharapkan kasih yang tak kunjung datang, akan membawa mati muda.
  3. Segera bertapa brata di lereng gunung, masuk ke dalam hutan. Membuat rumah dan tempat persajian ditempat sepi dan bertapa. Halaman rumah ditanami pohon kamala, asana, tingg-tinggi. Memang Kamalasana nama dukuhnya sudah lama dikenal.

Pupuh 96

  1. Prapanca itu pra lima buah. Cirinya: cakapnya lucu, pipinya sembab, matanya ngeliyap, gelaknya terbahak-bahak.
  2. Terlalu kurang ajar, tidak pantas ditiru. Bodoh tidak menuruti ajaran tutur. Carilah pimpinan yang baik dalam tatwa. Pantasnya ia dipukul berulang kali.

Pupuh 97 

  1. Ingin menyamai Mpu Winada. Mengumpulkan harta benda. Akhirnya hidup sengsara. Tapi tetap tinggal tenang.
  2. Winada mengejar jasa. Tanpa ragu uang dibagi. Terus bertapa brata. Mendapat pimpinan hidup.
  3. Sungguh handal dalam yuda. Yudanya belum selesai ingin mencapai nirwana, jadi pahlawan pertapa.

Pupuh 98

  1. Beratlah bagi para pujangga menyamai Winada, bertekun dalam tapa. Membalas dengan cinta kasih perbuatan mereka yang senang menghina orang-orang yang puas dalam ketenangan dan menjauhkan diri dari segala tingkah, menjauhkan diri dari kesukaan dan kewibawaan dengan harapan akan memperoleh faedah. Segan meniru perbuatan mereka yang dicacat dan dicela di dalam pura (taken from here).

This site is protected by wp-copyrightpro.com