Situs Keraton Pengging

Situs Keraton Pengging berada di atara Desa Jembungan, Dukuh, dan Ngaru-aru yang termasuk wilayah Kecamatan Banyudono Kabupaten Boyolali Provinsi Jawa Tengah, jika diukur dari permukaan air laut ketinggian situs sekitar 177 meter dengan letak astronomis 40 21 1311Bujur Timur dan 7 0 131 39 ½ 1 Lintang Selatan.

Letak Kraton Pengging tidak lepas dari sumber mata air yang banyak terdapat disekitar wilayah Pengging, oleh masyarakat Hindu dipandang sebagai tempat “tirtha amrta” , maka tidak mustahil banyak bangunan Hinduistik selalu berdekatan dengan sumber air. Salah satunya adalah di Komplek Pemandian Umbul Pengging dan Umbul Kendat.

Disekitar situs Keraton Pengging ini ditemukan berbagai artefak antara lain tiga buah Yoni serta reruntuhan batu bata di pemakaman umum dukuh Bodean, di Desa Dukuh, bahkan Knebel pernah melaporkan bahwa di Dukuh Bantulan, di Desa Jembungan dekat perkebunan tembakau terdapat empat buah arca Ganesha, sebuah arca Padmapani, sebuah arca Nandi, sebuah Yoni, sebuah saluran air dan sebuah Makara. Namun sekarang hanya tersisa sebuah arca Ganesha yang sudah tidak utuh lagi dan 2 arca Rsi Agastya yang sudah terpenggal kepalanya.

Wilayah Pengging mengandung akuifer produktif dengan persebaran yang luas. Akuifer ini mempunyai keterusan sedang dengan muka air tanah yang dangkal (Djaeni : 1982) hingga dipastikan bahwa sejak dahulu kerajaan Pengging meletakkan pertanian sebagai andalan kehidupan masyarakat , mengingat ketersediaan air diwilayah Pengging yang selalu melimpah dan terjadi sebelum masa interaksi budaya Pengging berlangsung. Hal ini dapat dibuktikan dengan pembentukan fragipan yang dijadikan landasan bagi struktur bangunan.

Hasil penelitian Hidrogeomorfologi menunjukkan bahwa erat kaitan antara fragipan dengan bangunan kuno karena bangunan kuno di Pengging diletakkan diatas fragipan maka kemungkinan juga keraton Pengging yang sudah hancur ini masih terpendam pada fragipanseperti halnya struktur bangunan kuno yang pernah ditemukan pada makam Bodean. Jika demikian kemungkinan besar lokasi keraton Pengging berada diantara makam Bodean dan umbul Kendat seperti yang disebut sebut pada Babad Jaka Tingkir bahwa makam adik ratu Pembayun isteri raja Pengging Handayaningrat yang bernama ratu Masrara atau rara Kendat dimakamkan berada sebelah timur kedaton Pengging.

Berdasarkan keyakinan masyarakat, kerajaan Pengging ini dibangun oleh Prabu Aji Pamasa atau Kusumowicitro dari Kediri pada tahun 901 Caka sekitar tahun 979 Masehi (Andjar Any : 1979) namun keterangan ini belum dapat dijadikan landasan sejarah kerajaan Pengging, mengingat kerajaan Kediri itu sendiri baru berdiri pada abad 11. Berdasartkan publikasi van Bemmelen (1956) dalam Verhandelingen van het Koninklijk Nederland Geologie Mijnbouw Genootschap, v. XVI, p. 20-36. Ada satu prasasti berangka tahun 1041 M tentang maklumat Erlangga di tempat pertapaannya di Jawa Timur dan prasasti ini memuat tentang kerusakan kerajaan (Mataram Hindu di Jawa Tengah) pada tahun 928 Syaka (+ 78 = 1006 M ). Dari angka tahun prasasti Kalkuta tersebut menunjukkan bahwa kerajaan Kediri belum berdiri, karena kerajaan Kediri muncul setelah kerajaan Kahuripan pecah menjadi dua yaitu Jenggala dan Kediri atas bantuan empu Bharadah.

Dari persebaran artefak yang ditemukan disekitar situs Pengging ditemukan fragmen piring dari dinasti T’ang (618 – 906 M) dan fragmen mangkok cina tipe Yueh (906-960 M). Serta fragmen lain yang dibuat pada masa dinasti Sung (960–1279 M) Jika dilihat dari persebaran fragmen keramik ini dapat dipastikan bahwa komunitas sosial budaya masyarakat Pengging sejalan dengan kehidupan masyarakat pada masa kerajaan Mataram Hindu yang didirikan oleh wangsa Sanjaya pada tahun 654 Caka (732 M).

Source: here.

Pemungut Pajak di dalam Masyarakat Jawa Kuno

Ulah Para Pemungut Pajak di dalam Masyarakat Jawa Kuno (ringkasan artikel dalam buku Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti)

Sumber penghasilan kerajaan kuno terdiri atas pajak, yaitu pajak tanah/hasil bumi, pajak perdagangan/penjualan, dan pajak atas usaha kerajinan dan denda-denda atas segala tindak pidana yang dijatuhkan di dalam sidang pengadilan. Semua itu disebut dengan istilah drawya haji, yang secara harfiah berarti “milik raja”.

Keterangan mengenai pajak perdagangan/penjualan (masamwya wahāra), usaha kerajinan (miśra) dan denda-denda atas segala tindak pidana (sukhaduḥka) dijumpai di dalam bagian prasasti yang menyebutkan status daerah sīma. Contoh ada dalam Prasasti Muñcaṅ (944 M).

Lain daripada drawya haji, kerajaan juga berhak atas buat haji, yaitu persembahan kepada raja yang dapat berupa tenaga kerja sukarela atau persembahan yang lain. Istilah lain untuk buat haji adalah gawai. Gawai sering dinyatakan dengan jumlah orang, tetapi ada kalanya dengan sejumlah uang. Orang-orang asing dan orang-orang yang mempunyai profesi tertentu juga dikenai pajak. Mereka itu disebut dengan isitilah warga kilalān yang hanya terdapat pada prasasti masa raja Dharmawaṃśa Airlaṅga.

Hal yang menarik perhatian adalah bahwa rupa-rupanya dahulu kala sudah ada catatan tentang perkiraan hasil sebidang tanah di dalam administrasi pemerintahan di tingkat pusat. Hal itu dapat pula disimpulkan dari berbagai prasasti yang menyebutkan bahwa sebidang tanah atau suatu desa yang akan ditetapkan menjadi sima berpenghasilan sekian, atau ditaksir berpenghasilan sekian. Pajak yang dihitung bukan hanya luas berbagai jenis tanah, namun juga jumlah penduduk atau sekurang-kurangnya jumlah kepala keluarga.

Demikianlah maka perumusan tentang status suatu daerah sīma di dalam pelbagai prasasti membayangkan kepada kita bahwa pajak dan pungutan-pungutan yang lain itu ditarik oleh para rāma (ketua desa) dari penduduk desa, kemudian para rama menyerahkan hasilnya kepada rakai atau pamgat yang membawahi desanya, setelah mengambil bagian masing-masing kemudian memberikan drawya haji dari daerah lungguhnya kepada raja, juga setelah menyisihkan bagian masing-masing.

Dalam pemungutan pajak pun ternyata ada banyak penyimpangan. Data tersebut dapat dilihat di Prasasti Palepaṅan (906 M), Prasasti Luītan (901 M), dan Prasasti Kinewu (907 M). Salah satu contoh yaitu Prasasti Kinewu memberikan kepada kita keterangan tambahan yang menarik, yaitu hierarki dalam pemerintahan dan prosedur pengajuan permohonan dari rakyat kepada raja. Dapat dilihat bahwa pertama-tama para pejabat desa Kinǝwu mengajukan protes kepada penguasa daerah yang membawahi desanya, yaitu Rakryān i Raṇḍaman dengan membayar sejumlah uang. Protes tersebut tidak sempat diselesaikan karena penguasa tersebut telah meninggal. Tanpa menunggu sampai ada rakai pengganti di wilayah Raṇḍaman, para pejabat desa meneruskan protesnya kepada raja dengan perantaraan pratyaya dari wilayah Raṇḍaman. Kali ini mereka harus membayar sejumlah uang yang lebih banyak dari yang dibayarkannya di tingkat watak. Di ibu kota kerajan mereka diterima oleh Saṅ Pamgat Momahumah, yaitu Pamgat Mamrata. Pejabat itulah yang mengantar mereka menghadap putra mahkota dan raja.

Sebagai singkatnya, kasus-kasus dari ketiga prasasti tersebut menunjukkan adanya penyelewengan dalam penetapan pajak. Jika rakyat tidak mengajukan protes karena tidak tahu mana ukuran luas yang dijadikan dasar penetapan pajak, atau karena tidak diberi kesempatan untuk mengajukan protes, penarik pajak atau sang nāyaka akan memperoleh keuntungan sepertiga dari jumlah yang dibayarkan oleh rakyat, karena ia menggunakan satuan tampah yang luasnya hanya 2/3 tampah haji yang baku.

Dalam ketiga kasus tersebut sebenarnya masih perlu dipertanyakan apakah para nāyaka yang menggunakan satuan tampah yang lebih kecil dari tampah haji yang baku memang sengaja mau memperkaya diri atau karena salah pengertian. Rupa-rupanya dalam ketiga kasus tersebut, para nāyaka menghitung luas sawah para rāma dengan ukuran tampah tradisional Jawa yang luasnya kira-kira sama dengan 1 bahu sekarang, sedang semestinya ia menggunakan satuan tampah haji yang didasarkan atas satuan luas dari India, yang luasnya kira-kira sama dengan 1 hektar sekarang. Jika demikian halnya maka dalam ketiga kasus itu tidak terjadi penyelewengan yang disengaja, melainkan hanya salah pengertian. Apakah tidak disebutkannya sanksi hukum terhadap para nāyaka itu merupakan petunjuk tentang kebenaran dugaan ini????Tetapi tentu orang akan bertanya mengapa justru para pejabat desa yang tahu tentang peraturan pajak tanah yang benar, sedang sang nāyaka tidak???.

Sumber :

Boechari, 2012, Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti, Jakarta: KPG. hlm:291-306

Candi Ngawen Bermetamorfosis(?)

Misteri Di Desa Ngawen, Candi Ngawen yang bermetamorfosis
Lokasi : Desa Ngawen, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang
Tipe : Bangunan Suci Budha
Masa Pembangunan : Abad ke-8 Masa Wangsa Sailendra

Didaerah Muntilan tepatnya Desa Ngawen menyimpan misteri akan peninggalan kerajaan medang dahulu di era Wangsa Sailendra, candi ini berlatar belakang agama Buddha, bangunan ini tertulis dalam prasasti Karang Tengah bertahun 824 M yaitu Venuvana (hutan bambu), terdiri dari 5 buah candi kecil dan hanya satu candi yang bisa di pugar secara “sempurna”, ekskavasi candi ini dilakukan oleh Van Erp (peneliti asal belanda) pada tahun 1920 mengawali nya dengan mengeringkan lahan sawah tempat reruntuhan candi ini berada, akan tetapi apakah pemugaran yang dilakukan Van Erp telah sesuai dengan wujud aslinya? Atau masih banyak misteri tentang wujud asli dari bangunan Candi Ngawen ini?

1. Wujud puncak candi yang mengkerucut mirip dengan bentuk bangunan candi yang beraliran Hindu.
Dalam perjalanan ke candi ngawen ini bisa ditemukan sisa sisa stupa yang berada di pinggiran besaran stupa ini apabila dirakit adalah antara 5 – 7 meter menurut juru pelihara Candi Ngawen stupa ini berukuran besar andai stupa itu diletakkan pada leher candi maka bentuk bangunan candi ini menjulang lebih tinggi dari candi yang ada sekarang ini dan bentuk stupa yang ada membuat nya tampak lebih berbentuk candi Buddha daripada yang sekarang, beberapa bukti terlihat bahwa penataaan batuan sisi tengah candi I ini dilekatkan dengan perekat dikarenakan struktur nya yang ramping maka kaidah pemugaran Candi Ngawen ini dahulu pasti tidak menggunakan batuan aslinya secara utuh tapi merekayasa bentuk terdekatnya sehingga masih banyak bahan stupa yang tertinggal tidak bisa terpasang.

2. Fungsi Jaladwara berbentuk singha
Ketika kita melihat struktur bawah candi ini maka tak luput dari pandangan mata kita jaladwara yang berbentuk singha, jaladwara sendiri berfungsi sebagai tempat mengalirnya air (talang) akan tetapi di candi ngawen ini berbentuk singha berdiri dengan lubang dimulutnya akan tetapi dalam pengamatan penulis dulu talang air ini fungsi nya bukan mengalirkan air akibat hujan akan tetapi memang berfungsi sebagai air mancur yang mengitari candi ini, bukti penguat dari hipotesis ini adalah pada waktu ekskavasi dan pemugaran candi ini dahulu ketika proses penggalian kira kira 1 meter kedalam tanah sudah mulai mengeluarkan air , hal ini didukung dengan temuan beberapa waktu lalu setelah letusan merapi tentang adanya aliran sungai purba di sekitar Candi Ngawen, dari penuturan juru pelihara candi ngawen untuk memperkuat pondasi candi terpaksa mata air di bawah candi ini di tutup (dicor) dengan semen dan dilapisi ulang dengan pasir agar pondasi candi ini kuat dan tidak ambles. bukti ini memperkaya hipotesa penulis bahwa dahulu candi ini berada di tengah air atau diliputi air dengan posisi singha sebagai tempat keluarnya mata air.

Apakah Van Erp dulu melakukan pemugaran secara tergesa-gesa atau di pengaruhi oleh bangunan-bangunan candi lain dan memperkirakan bahwa bentuknya hampir sama? Apabila sama kenapa batuan pembentuk ini masih tersisa banyak dan puzzle ini belum dapat di bentuk ulang. semua ini masih menjadi misteri dimana kelak pemelihara pemelihara dan pejuang – pejuang sejarah ini dapat merekonstruksi secara utuh bentuk bangunan Candi Ngawen.

Note Laurentia Dewi: tulisan ini adalah opini pribadi seseorang yang perlu dicocokkan kebenarannya.

Gedong Songo

Gedong Songo (Gedong = Bangunan, Songo = Sembilan , Bangunan Sembilan) adalah nama candi yang berada di bukit pegunungan Ungaran.

Candi Gedong Songo terletak pada ketinggian sekitar 1.200 DPL dengan suhu sekitar 19 – 27 °C. Lokasi Candi Gedong Songo sangat mudah di jangkau dari berbagai kota yang ada di sekitarnya. Lokasinya merupakan jalur deretan alternatif Ungaran – Temanggung. Apabila memulai dari Kota Semarang cukup ke selatan menuju Kota Ungaran – Bandungan – Gedong Songo. Bisa di tempuh dengan waktu 1 jam perjalanan. Apabila dari Yogyakarta bisa melalui Kota Ambarawa (Tugu Palagan Ambarawa) – Bandungan – Gedong Songo, waktu perjalanan sekitar 2 jam. Candi Gedong Songo yang dibangun konon pada era Wangsa Sanjaya ini terletak di lereng Gunung Ungaran, pada koordinat 110°20’27” BT dan 07°14’3” LS di desa Darum, Kelurahan Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Propinsi Jawa Tengah.

Gedong Songo berasal dari bahasa Jawa, Gedong (rumah/bangunan) dan Songo (sembilan) yang berarti Sembilan (Kelompok) Bangunan. Apakah sejak awal candi ini ada sembilan kelompok? Atau memiliki arti lain? Hmm, belum dapat dijawab. Namun saat ini hanya ada 5 komplek candi yang terlihat. Candi Gedong Songo ini banyak kemiripan dengan candi yang ada di Dieng yang berada di Kabupaten Banjarnegara (petualangan selanjutnya). Komplek candi ini di buat berderet dari bawah ke atas perbukitan mengintari kawah sumber air panas. Dimana komplek candi di Dieng juga banyak kawah air panas yang berada tak jauh dari pusat candi.

Pembuatan candi yang simetris dan berada atas bukit menunjukan perpaduan dari dua religi yaitu lokal yang menganut kepercayaan terhadap nenek moyang dan budaya hindu dimana candi sebagai tempat tinggal para dewa. Candi yang dibuat kuncup ke atas mirip dengan budaya jaman batu yaitu punden berundak-undak. Prinsipnya bawah semakin ke puncak, maka roh nenek moyang semakin dekat dengan manusia. Nah, kedua budaya ini menyatu di Candi Gedong Songo dengan mendefinisikan sebagai tempat persembahan untuk roh nenek moyang dimana tempat untuk melakukan prosesi tersebut berada di komplek candi yang berada di atas perbukitan. Arca-Arca di komplek Candi Gedong Songo yang dibuat pada abad ke 8 Masehi tidak lagi lengkap.

Arca-arca yang di jumpai hanya beberapa yang tersisa, seperti Durga (Istri Siwa), Ghanesa (Anak Siwa), Agastya (Seorang Resi) Serta dua pengawal dewa Siwa yaitu Nandiswara dan Mahakala yang bertugas menjaga pintu candi. Komplek Candi Gedong Songo sendiri di temukan oleh Loten, pada tahun 1740. Pada masa setelahnya, Rafles mulai mencatatnya dengan memberi nama gedong pitoe (tujuh) karena hanya menemukan 7 kelompok bangunan sekitar tahun 1804. Namun baru pada tahun 1925, Van Braam membuat publikasi adanya candi di sekitar perbukitan Ungaran. Lalu Friederich dan Hopermans menulis tentang Gedong Songo, dan Van Stein Calefells melakukan penelitian di sekitar Komplek Candi Gedong Songo pada tahun 1908. Sekitar tahun 1911-1912 Knebel melakukan inventarisasi semua komplek candi Gedong Songo. Pada tahun 1916, Pemerintah Belanda secara resmi mulai melakukan penelitian di komplek candi yang diserahkan tugas pada saat itu adalah oleh Dinas Purbakala Belanda. Pada tahun 1928-1929, dilakukan pemugaran candi Gedong 1. Pada tahun 1930-1932 dilakukan pemugaran pada candi Gedong 2.

Pemerintah Indonesia memulai pemugaran pada tahun 1977-1983, yang dipugar pada pada komplek candi gedong 3 , 4 dan 5. Pada saat itu yang melakukan tugas pemugaran adalah SPSP, pada saat ini namanya berubah menjadi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala. Pada tahun 2009 Pemerintah Indonesia mulai melakukan pemetaan ulang semua komplek candi Gedong Songo. Setelah masuk kita akan disuguhi dengan Candi I . Disini kalian akan mendapatkan sebuah pemandangan yang indah khas pegunungan dengan nuansa sejuk masih terasa.

Kemudian untuk menuju komplek candi II, harus ekstra kuat dan semangat. Letaknya sekitar 500 meter lebih dari komplek candi I. Pada saat ini, pengelola candi Gedong Songo membuat jalur baru yang memisahkan antara jalur Hikingers dan jalur kuda. Jalur Hikingers akan di belokkan ke kanan, melewati perbukitan dan warung makan. Beberapa Gazebo di siapkan untuk tempat istirahat para Petualang yang lelah naik ke perbukitan. Jalannya cukup bersih karena (maaf) tidak ada kotoran kuda disana-sini. Untuk jalur kuda berada di sebelah kiri yang letaknya agak berjauhan.

Setelah puas dengan komplek candi yang kedua, hanya berjarak beberapa meter ke atas. Anda akan menemukan komplek candi yang ketiga. Komplek candi yang ketiga ini cukup lengkap berjumlah 3 buah candi yang saling berdekatan. Kalau petualang pernah ke Dieng, maka akan di temukan kemiripan dengan komplek candi Arjuna di Dieng. Dengan beberapa candi yang mengerucut ke atas dan satu buah candi berbentuk kotak di depannya. Di komplek candi ketiga ini beberapa patung masih ada seperti patung Durga, Ganesa dan pengawal dewa siwa Nandiswara dan Mahakala yang berada di samping kanan kiri pintu candi.

Kemudian bila masih kuat, kita bisa melakukan perjalanan lagi menuju komplek candi keempat yang letaknya agak jauh dari komplek candi ke dua dan ke tiga. Hanya perlu berjalan beberapa menit mengintari bukit, maka akan tiba di komplek candi ke empat.

Dan candi kelima jaraknya juga tidak jauh dari tempat tersebut. Pada komplek candi yang kelima, beberapa bangunan candi nampak rusak karena sesuatu sehingga hanya sebuah candi kecil saja yang tersisa.

15337584_1347602305272586_316363579864639771_n 15289238_1347602398605910_2859299113752088998_o 15288582_1347602375272579_7161944166269173849_o 15271782_1347602385272578_1387102951004279102_o 15349625_1347601035272713_2557327686290953394_n

Souce: Unik

Para Pejabat; Pusat & Daerah

Para Pejabat Pusat dan Pejabat Daerah

Kerajaan Medang (Mataram Kuno) terdiri atas desa-desa yang disebut wanua dengan dukuh-dukuhnya yang disebut anak iṅ wanua dan sejumlah desa itu masuk ke dalam wilayah kekuasaan para pejabat pusat dan daerah (watak). Karena pejabat-pejabat itu mempunyai pembantu-pembantunya yang juga tidak dibayar dengan uang, maka para pembantu itu mempunyai ‘lungguh’ di dalam wilayah watak. Di tingkat pusat ada raja yang dibantu oleh putra mahkota (rakryān mahāmantri i hino), tiga putra raja yang lain (rakryān mahāmantri i halu, i sirikan dan i wka) dan seorang pejabat keagamaan (saṅ pamgat tiruan). Dibawah mereka ada sejumlah pejabat lagi, kalau lengkap disebut di dalam prasasti ada dua belas orang, yaitu:

  1. Rake halaran
  2. Rake palarhyang atau rake panggilhyang
  3. Rake wlahan
  4. Pamgat manghuri
  5. Rake dalinan
  6. Rake langka
  7. Rake tañjun
  8. Paṅkur
  9. Tawān
  10. Tirip
  11. Pamgat wadihati
  12. Pamgat makudur.

Tinggi rendah kedudukan mereka di dalam pemerintahan terbayang dari jumlah pasak-pasak (pasǝk-pasǝk) yang mereka terima.

Dengan perkataan lain, disamping putra mahkota, ada enam belas orang pejabat tinggi kerajaan. Ada kemungkinan bahwa sang pamgat tiruan juga anak raja atau sekurang-kurangnya anggota keluarga raja yang dekat, karena ada prasasti yang menyebutkannya sebagai kṣatriyakula. Dalam semua prasasti kelima pejabat tertinggi kerajaan itu menerima pasak-pasak yang lebih banyak dari keduabelas pejabat di bawah mereka, dengan catatan bahwa rakryān mahāmantri i hino memperoleh yang terbanyak di dalam beberapa prasasti.

Tugas masing-masing pejabat itu kurang jelas dari data prasasti. Yang agak jelas hanyalah tugas pangkur, tawān, tirip yang rupa-rupanya berurusan dengan “kas negara”. Mereka itulah yang mengurusi berbagai macam pemasukan pajak dan hasil rampasan perang (tawān=hañangan) serta hadiah dari kerajaan-kerajaan yang bersahabat. Anehnya mereka itu tidak pernah disebut dengan gelar rakai atau pamgat dan hingga sekarang tidak pernah mendengar ungkapan wanua i watak pangkur, watak tawān, dan watak tirip, kecuali di dalam prasasti tinulad, dimana dijumpai watak tirip. Juga pamgat wadihati dan pamgat makudur tampak agak jelas tugasnya, yaitu mengurusi tanah-tanah yang ditetapkan menjai sīma.

Para pejabat tinggi itu tinggal di ibu kota kerajaan. Mereka dibantu oleh patih, parujar dengan pituṅtuṅ-nya, citralekha, dan paṅuraṅ. Patih biasa mengurus masalah administrasi pemerintahan, parujar semacam “juru bicara” dan pituṅtuṅ mungkin orang yang bertugas menyiarkan hal-hal yang harus diketahui rakyat, citralekha ialah “juru tulis” dan paṅuraṅ kemungkinan besar petugas yang mengurusi perpajakan.

Para rakai dan pamgat yang merupakan penguasa daerah dan bukan pejabat tingkat pusat, mempunyai sebagai bawahan: patih, juruniṅ kanāyakān, wahuta, citralekha, dan mataṇḍa. Patih membawahi parujar, tuṅgu duruṅ dan pratyaya, tuhaniṅ kanāyakān membawahi juruniṅ wadwa rarai, juruniṅ kalula, juruniṅ maṅkarat, juruniṅ mawuat haji, dan wahuta membawahi pituṅtuṅ, wahuta lampuran dan wahuta wiṅkas wkas. Mataṇḍa adalah pejabat yang membawa cap pejabat rakai dan pamgat atau yang membawa panji-panji pejabat tersebut. Diantara beberapa jabatan yang telah disebutkan dan masih banyak lagi, hanya sepuluh nama yang sering disebut dalam prasasti. Istilah untuk pejabat desa ialah rāma ‘ayah yang terhormat’. Kesepuluh jabatan itu ialah gusti, kalaṅ atau tuha kalaṅ, wiṅkas, tuha banua, parujar, hulair, wariga, tuhālas, tuha wǝrǝh dan hulu wras. Arti dari istilah gusti hingga sekarang belum jelas. Kalaṅ atau tuha kalaṅ sering dihubungkan dengan orang-orang yang mengerjakan kayu dari hutan; tetapi ada juga kemungkinan bahwa kalaṅ atau kalaṅan berhubungan dengan lingkaran, yaitu tempat menyabung binatang untuk adu ketangkasan antar warga ataupun untuk upacara tertentu. Istilah wiṅkas berasal dari kata wǝkas yang dapat berarti “akhir”, “tujuan”, atau “pesan”; tetapi apa tugas seorang winǝkas belum dapat diketahui. Tuha banua ialah orang yang dianggap “tetua desa”, tapi bukan “kepala desa”, karena disebuah desa sering dijumpai beberapa tuha banua. Jabatan parujar sudah kita jumpai sejak di pusat kerajaan sebagai pembantu dari para pejabat tinggi; juga di daerah watak. Hulair ialah kontraksi dari istilah hulu dan air; artinya jabatan yang mengurusi pengairan di sawah-sawah desa (paṅhulu bañu). Wariga sebenarnya semacam ‘kitab primbon’ untuk mengetahui hari baik bulan baik bagi permulaan suatu pekerjaan, jadi pada jabatan ini ialah orang yang memahami ‘kitab primbon’. Tuha alas ialah orang yang ditugasi mengurus hasil perburuan di hutan, dan hasil hutan lainnya. Tuha wǝrǝh ialah petugas yang mengurusi para pemuda dan pemudi, sedang hulu wras ialah petugas yang mengurusi hasil panen padi atau lumbung padi.

Data prasasti sebenarnya masih memberi petunjuk tentang adanya para pejabat rendahan di pusat kerajaan. Pada beberapa isi prasasti disebutkan bahwa daerah yang dijadikan sīma itu tidak boleh lagi ‘dimasuki’ oleh paṅkur, tawān, tirip, patih, wahuta, rāma, nāyaka dan oleh mereka yang disebut mangilala drawya haji (yang kira-kira berkisar 28-50 orang). Menurut para sarjana, maṅilala drawya haji ialah para “pemungut pajak”. Tetapi menurut tafsir kami istilah itu kurang tepat, karena diantara kelompok itu terdapat misalnya widu maṅiduṅ (pesinden), para pandai (emas, perak, perunggu, tembaga), mereka yang mengurusi kendaraan gajah dan kuda (mahaliman, makuda), anggota pasukan pengawal raja yang bersenjatakan panah, tombak, dan gada (mamanah, magalah dan magaṇḍi), bahkan sampai kepada mamŗṣi (tukang cuci). Lebih tepat jika maṅilala drawya haji ditafsirkan sebagai “abdi istana yang tidak memperoleh daerah lunggah sebagai imbalan jasanya, tapi memperoleh gaji berupa uang”. Namun mereka lain dari apa yang ada di dalam berbagai prasasti yang disebut sebagai wadwā haji dan wadwā para putra raja, wadwā permaisuri dan para selir. Mungkin para abdi ini sama sekali tidak memperoleh “gaji” dalam bentuk uang; mereka itu tinggal di istana dalam kamar-kamar yang dibuat untuk mereka dan mendapatkan makan, minum dan pakaian.

Sumber :
Boechari.2012. Kerajaan Mataram Sebagaimana Terbayang dari Data Prasasti, dalam Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti: kumpulan tulisan Boechari. Jakarta: KPG, hlm: 183-196.

Borobudur; Mandala & Macan Dyanni Buddha

BOROBUDUR SEBAGAI MANDALA DAN MACAM DYANNI BUDDHA
Orang yang awam akan menikmati Candi Borobudur dengan mengagumi keindahan bangunan candi, termasuk mengagumi keindahan di sekitarnya ketika menaiki candi. Banyak foto yang beredar saat ini, yang mengambil sudut pandang patung Buddha dengan latar belakang pemandangan alam yang indah. Namun apabila candi tersebut dilihat dari atas, terlihat ada bentuk mandala. Borobudur adalah bangunan berupa mandala raksasa yang pernah dibangun oleh manusia. Diseluruh dunia, hanya satu mandala sebesar itu dan mandala itu ada di bumi nusantara ini.

15393014_1104852756298601_7366186841278440427_o

APA ITU MANDALA?
Mandala adalah bentuk visual atau simbol dari alam semesta. Dalam tantra, mandala dijadikan sebagai salah satu bagian alat bantu kontemplasi dan meditasi. Bangunan candi pada umumnya adalah untuk pemujaan, namun Borobudur lebih dari itu. Jika hanya sebagai candi untuk pemujaan, maka tidak perlu dibangun dalam bentuk mandala seperti itu. Buat saja kompleks candi-candi pemujaan seperti pada umumnya. Tapi nyatanya borobudur bentuknya memang berupa mandala. Mestinya pengunjung / peziarah candi Borobudur di masa lalu bukan sekedar berkunjung di monumen besar, tapi seiringan juga mempraktikkan laku spiritual. Menapaki candi borobudur dengan penuh kesadaran (eling), merenungkan dan melakukan kontemplasi. Puncaknya adalah bermeditasi dengan sangat mendalam. Ya, itu mungkin hanya imajinasi saya, namun penggunaan mandala dalam meditasi memang seperti itu. Imajinasi saya tentang borobudur tentu tidaklah berlebihan, dengan mempertimbangkan fungsi dari mandala itu sendiri.

Mandala sebagai simbol alam semesta meliputi micro cosmos (jagad cilik) dan macro cosmos (jagad gede). Artinya simbol-simbol yang menunjuk hal-hal luar (jagad gede) itu pada dasarnya adalah simbol tentang diri kita sendiri (jagad cilik). Terlalu panjang membahas makna simbolik Borobudur, saya hanya membatasi pada Panca Dhyani Buddha saja.

Dalam Buddhisme dikenal 5 Buddha Masa Lampau Yang melambangkan 5 Kebijaksanaan Buddha Masa Lampau yang biasa disebut dengan 5 Dhyani Buddha. 5 Buddha tersebut dapat dikenali dari mudra (formasi tangan) yang berbeda satu dengan yang lain. Selain wujud buddha dalam kosmologi buddhis yang terukir di dinding, di Borobudur terdapat banyak arca buddha duduk bersila dalam posisi lotus serta menampilkan mudra atau sikap tangan simbolis tertentu. Secara sepintas semua arca buddha ini terlihat serupa, akan tetapi terdapat perbedaan halus diantaranya, yaitu pada mudra atau posisi sikap tangan.

Di candi Borobudur sendiri terdapat lima golongan mudra: Utara, Timur, Selatan, Barat, dan Tengah, kesemuanya berdasarkan lima arah utama kompas menurut ajaran Buddha. Keempat pagar langkan memiliki empat mudra: Utara, Timur, Selatan, dan Barat, dimana masing-masing arca buddha yang menghadap arah tersebut menampilkan mudra yang khas. Arca Buddha pada pagar langkan kelima dan arca buddha di dalam 72 stupa berterawang di pelataran atas menampilkan mudra: Tengah atau Pusat. Masing-masing mudra melambangkan lima Dhyani Buddha; masing-masing dengan makna simbolisnya tersendiri.

Mengikuti urutan Pradakshina yaitu gerakan mengelilingi searah jarum jam dimulai dari sisi Timur, maka mudra arca-arca buddha di Borobudur adalah:

1. Buddha Aksobhya Timur (Mudra Bhumisparsa)
Arti dari Mudra Buddha Akhsobya adalah menjaga dan menghancurkan kemarahan dan kebencian

15350565_1104853129631897_3633058332792355275_n

2. Buddha Ratnasambhava Selatan (Mudra Wara)
Arti dari Mudra Buddha Ratnasambhava adalah memperkaya dan meningkatkan nilai spritual untuk melenyapkan kesombongan dan keserakahan

15327337_1104853216298555_2590857852755429755_n

3. Buddha Amitabha di sebelah Barat (Mudra Dhyana)
Arti dari Mudra Buddha Amitabha adalah menundukkan keegoisan

15401019_1104853309631879_2155496875423167336_n

4. Buddha Amoghasiddhi Utara (Mudra Abhaya)
Arti dari mudra Buddha Amogasiddhi adalah menenangkan diri untuk melenyapkan iri dengki

15390736_1104853359631874_5515920581996741565_n

5 Buddha Vairocana Tengah (Mudra Dharmachakra)
Arti dari mudra Buddha Vairocana adalah memutar Dharma untuk melenyapkan kebodohan batin

15267751_1104853419631868_3823284199286172616_n

Foto Koleksi Hasil Google dan Troppen Museum.

Sumber Penghasilan Kerajaan

Sumber Penghasilan Kerajaan

Mengenai sumber penghasilan kerajaan, pada umumnya semua penduduk wajib membayar pajak (drawya haji) dan melakukan kerja bakti untuk raja atau kerajaan (buat haji). Pajak harus dibayar dari tanah dan hasilnya, termasuk tanah rawa, tepian, bendungan, hutan, dan hasil perdagangan dari hasil kerajinan dan keahlian tertentu yang digunakan untuk mencari nafkah seperti pesinden, pelawak, penabuh gamelan, dalang, dsb. Di pusat kerajaan ada pejabat yang mengurusi “jumlah desa” dan “jumlah tanah” (wilaṅ wanua, wilaṅ thani). Tentunya mereka mempunyai catatan tentang jumlah penduduk di setiap desa, karena tiap desa mempunyai kewajiban menunjuk berapa orang tiap tahun yang harus melakukan kerja bakti untuk raja/kerajaan. Jumlah pajak yang harus dibayar rakyat biasanya ditetapkan oleh pejabat di tingkat watak (nāyaka). 

Ada beberapa prasasti yang menunjukkan protes rakyat atas beban pajak yang ditetapkan itu, lalu pejabat desa mengajukan permohonan kepada raja melalui pemerintah daerahnya agar ketetapan pajak diubah.

Selain itu pemungutan pajak juga ditentukan berdasar macam-macam barang dagangan dan hasil industri rumah tangga mengenai ketentuan batas yang dikenai pajak. Barang dagangan dibawa dari desa ke desa yang lain dengan cara dipikul atau dibawa dengan gerobak, bahkan jika memungkinkan dengan menggunakan perahu (perbatasan desa satu dengan lainnya melalui sungai). Mengenai para pesinden, dalang, penabuh gamelan, pelawak dll. Para pemainnya memperoleh imbalan uang dalam upacara penetapan sīma. Kelompok tersebut disebut wargga kilalāṅ, termasuk di dalamnya pedagang-pedagang asing yang menetap di Jawa. Yang masuk juga kedalam ‘kas’ kerajaan ialah hasil rampasan perang (para pejabatnya disebut tawān atau hañaṅan di ibu kota kerajaan) dan pemberian cendera mata dari negara-negara sahabat. Pajak diserahkan ke pusat kota dua kali dalam setahun. Disebutkan dalam prasasti pada bulan Māgha dan Saṅsaṅān, sedangkan dalam naskah Nawanatya yang dimaksud Saṅsaṅān ialah Galuṅan.

Boechari.2012. Kerajaan Mataram Sebagaimana Terbayang dari Data Prasasti, dalam Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti: kumpulan tulisan Boechari. Jakarta: KPG, hlm: 183-196.

Dear Blog, I Love You..

Dear blog,

Kalau aku ini ibu dan kamu anakku, kamu seharusnya tahu bahwa aku mencintaimu dan mungkin berlebihan. Mencintai dengan cara yang salah.

Aku seperti ibu yang melihat anaknya tumbuh, berkembang, berkembang, berkembang dan kemudian tanpa disadari, kamu bersinar sendiri. Sesuatu yang tidak pernah ibumu ini target, sesuatu yang tidak pernah ibumu bayangkan, sesuatu yang pernah ibumu tidak percayai. Bahkan aku, sebagai ibumu, malah jadi anggota ‘kloter’ terakhir yang sadar bahwa anaknya ini telah memiliki sinarnya sendiri (FYI, aku baru sadar kalau laurentiadewi.com ternyata ‘terkenal’ baru di tahun 2015an!!!).

Dan dengan ego seorang ibu, aku bukannya melepasmu menjadi salah satu bintang di antariksa, melainkan mendekap erat.

Aku ibu yang gagal menuntun anaknya berubah mengikuti perkembangan. Aku ibu yang gagal, membuat anaknya bisa meraih segala potensi yang awalnya terbuka lebar, yang ditawarkan lebih dulu ketimbang ‘kompetitor’ lain yang kini menempati posisi-posisi itu.

Kamu, masih menjadi salah satu yang terbaik dengan traffic tertinggi, bahkan konon mengalahkan sekian ‘kompetitor’ (yang tidak pernah aku anggap sebagai saingan). Kamu, blog yang masih sering aku dengar namanya dari orang lain (yang tidak tahu bahwa aku adalah ibumu). Kamu, masih menjadi blog kebanggaku yang sampai kapanpun akan menjadi kebanggaan.

Tapi ibumu ini sekarang sedang berpikir.

Apakah sebaiknya aku menidurkanmu? Sehingga dalam istirahatmu, masih ada kebanggaan dan kenangan indah?

Apakah aku harus meneruskan perjalanan ini, bergandengan tangan hanya berdua denganmu, melawan arus?

Atau ibumu ini harus melepas sekian ego, menerima iklan demi membuatmu setenar account instagram lain?

Arca: Asli/ Palsu

Seiring maraknya bisnis arca-arca kuno, tentulah ada pikiran negatif untuk menipu konsumen. Dari sejumlah perajin arca di Desa Prumpung, Magelang, diketahui ada berbagai cara untuk membuat suatu arca agar berkesan antik. Selain diberi perasan air kunyit atau air teh, arca pun harus dipendam di dalam tanah selama beberapa bulan.

Buat masyarakat awam, termasuk para arkeolog, memang terasa sulit apabila harus mengidentifikasi mana arca asli dan mana arca palsu. Apalagi jika seorang pakar hanya melihat gambarnya, tanpa mengamati detil, tekstur, atau kelenturan (plastisitas) koleksi. Namun sekadar gambaran, menurut penelitian para pakar ikonografi (pengetahuan tentang seni arca kuno), setiap arca Buddha dan Hindu sudah memiliki gaya dan ciri tertentu.

Penggambaran arca Buddha diketahui sangat sederhana. Tanpa sesuatu hiasan, hanya memakai jubah. Tanda-tanda utamanya adalah rambutnya selalu keriting, di atas kepala ada tonjolan seperti sanggul (usnisa), dan di antara keningnya ada semacam jerawat (urna).

Tokoh (dewa) mana yang dilukiskan oleh arca Buddha itu, diketahui lewat sikap tangan (mudra) dan ciri khusus lain (laksana) setiap tokoh. Agama Buddha mengenal Dhyanni-Buddha, Dhyanni-Boddhisattwa, dan Manusi-Buddha. Masing-masing berjumlah lima dan menempati empat arah mata angin pokok (Utara, Selatan, Barat, Timur) ditambah satu di pusat.

Dalam agama Hindu, arca dihubungkan dengan seorang raja yang telah wafat. Arca tersebut ditempatkan di dalam candi karena dianggap titisan dewa. Sebagai pendamping, kemudian dibuatkan beberapa arca dewa-dewi. Untuk membedakan dewa yang satu dengan dewa lainnya, maka setiap arca digambarkan dengan laksana sendiri-sendiri.

Setiap arca dewa pun memiliki ciri dan menempati lokasi tertentu sesuai dengan delapan arah mata angin, seperti halnya arca Buddha. Dengan demikian mudah diidentifikasi bila terjadi pencurian, pemenggalan, atau perbuatan negatif lainnya terhadap arca-arca kuno itu.

Dua Langgam

Umumnya arca merupakan bagian dari suatu candi. Karena terbuat dari batu, tentulah bobotnya terlalu berat. Maka agar lebih ringan, sebagai gantinya masyarakat kuno membuat arca logam yang relatif kecil untuk persembahan atau pemujaan di rumah. Justru bagi para peneliti zaman sekarang, mengidentifikasi arca logam memiliki sedikit kendala dibandingkan arca batu.

Arca logam mudah sekali diangkut ke sana ke mari, sehingga sukar ditetapkan apakah arca logam itu benar-benar diperoleh dari suatu situs arkeologi atau bukan. Kesulitan lainnya adalah menentukan masa sejarah arca tersebut, kecuali kalau ada tulisan atau angka tahun. Karena itu, perkiraan umur arca logam biasanya hanya berdasarkan pada corak atau bentuknya.

Lagi pula, umumnya kesenian India terikat oleh beberapa peraturan, meskipun peraturan-peraturan itu tidak membekukan daya cipta para seniman. Semuanya tersirat pada sejumlah kitab, seperti Silpasastra, Visnudharmottaram, dan Vastusastra (Sutjipto Wirjosuparto, Sedjarah Seni Artja India, 1956).

Keindahan seni India bisa dilihat dari bagian-bagian badan arca yang proporsional. Misalnya jarak antara mata harus sekian tala (semacam ukuran panjang). Begitu juga jarak dari mata ke hidung, hidung ke mulut, mulut ke dagu, dan seterusnya.

Selain itu, bagian-bagian arca harus menyerupai atau mendekati bentuk sesuatu yang dijadikan “patokan utama”. Beberapa persyaratan itu, harus menyerupai hewan atau tumbuhan yang dianggap fantastis. Bagian-bagian badan yang dianggap paling vital adalah muka, kening, mata, telinga, hidung, bibir, leher, dagu, dada, bahu, tangan, jari, pinggang, kaki, dan lutut.

Pada dasarnya seni pahat arca kuno di Indonesia terbagi atas dua langgam, yakni langgam Jawa Tengah dan langgam Jawa Timur. Arca langgam Jawa Tengah dinilai sangat indah, betul-betul menggambarkan seorang dewa dengan segala-galanya. Arca langgam Jawa Timur agak kaku, mungkin karena sengaja disesuaikan untuk menggambarkan seorang raja atau pembesar negara yang telah wafat (Soekmono, Sejarah Kebudayaan Indonesia 2, 1973).

Berbagai ciri pada arca juga menjadi petunjuk untuk menempatkannya dalam masa sejarah tertentu. Arca-arca dari masa Singasari, misalnya, mempunyai kekhususan dibandingkan arca-arca dari masa Majapahit. Begitu pula sebaliknya.

Mudah-mudahan dengan pengenalan singkat ini, Anda tidak tertipu oleh arca kuno yang ternyata palsu.

15350626_1105426196241257_2600374227579301316_n 15326604_1105427186241158_2987104392093190377_n 15355849_1105426832907860_3615965281808727751_n 15380622_1105426219574588_5041336502255424124_n 15285087_1105427012907842_7117874460527247868_n 15391200_1105426719574538_4520683758823270586_n 15267790_1105426186241258_8801683702303522000_n

Sumber :
Djulianto Susantio

This site is protected by wp-copyrightpro.com