Prasasti Bandar Alim

Prasasti Bandar Alim

Oleh : Drs. Harmadi.

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul MENELUSUR MISTERI MEDANG – KAHURIPAN.

Raja Sindok meninggal tahun 947 Masehi dan makamnya di dharmakan sebagai Isyana Bajra. Dengan meninggalnya Raja Sindok, Medang seakan tenggelam dalam sejarah karena Raja-raja penggantinya sangat pelit mewariskan bukti peninggalan bagi generasi sekarang dalam menelusur sejarah.

Namun demikian, paling tidak Prasasti Bandar Alim yang ditulis oleh KAKI MANTA tahun 907 Caka (985 Masehi) yang diketemukan di Bandar Alim Desa Demangan Kecamatan Tanjunganom beberapa tahun lalu, paling tidak telah memberikan sumbangan yang tiada terhinggabagi penelusuran sejarah, khususnya Kerajaan Medang di Nganjuk. Namun ketiadaan sponsor cukup menghambat penelusuran lebih lanjut.

Prasasti catur muka yang dibuat pada Batu Andesit dengan ukuran tinggi 180 cm, dan lebar 90 cm serta ketebalan tepi + 20 cm dan tengah + 25 cm, menyebutkan bahwa Watu Galuh adalah sebuah kota wilayah Kerajaan Medang bumi Mataram (I mdang I bhumi mataran I watu galuh).

Pada bagian lain, prasasti Bandar Alim menyebut Dewa Lokapala, yang dalam buku Ramayana adalah kelompok dewa yang menjaga 8 penjuru angin (astadikpalaka), yaitu : Indra, Yama, Surya, Candra, Anila (Bayu), Kuwera, Baruna dan Agni.

Nama Lokapala dalam prasasti Calcuta yang ditulis oleh Erlangga tahun 1041 Masehi, meskipun tidak secara jelas dinyatakan, namun diketahui bahwa Lokapala adalah suami dari Isana Tunggawijaya anak mPu Sindok dengan Rakryan Binihaji Rakryan Mangibit.

Sangat memungkinkan bahwa penyebutan Dewa dimuka Lokapala pada prasasti Bandar Alim, adalah dewamurti (anggapan titisan dewa) terhadap Lokapala almarhum, suami dari Isanattunggawijaya. Dengan demikian bahwa Raja yang memerintah Kaki Manta untuk menulis prasasti tersebut adalah Raja pengganti Isanattunggawijaya, yaitu Makuthawangsa wardhana, yang berarti bahwa pada tahun 907 Caka atau tahun 985 Masehi, Kerajaan Medang diperintah oleh raja dengan abhiseka nama Makuthawangsa wardhana yang memerintah Medang hingga digantikan oleh Sri Darmawangsa Teguh, saudara laki-laki dari Gunapriyadharmapadni (Ibu Erlangga).

II. MASA TEGUH DHARMAWANGSA

A. PEMERINTAHAN DAN HUBUNGAN LUR NEGERI

Tidak begitu jelas tahun berapa Dharmawangsa Teguh dengan abhiseka Sri Dharmawangsa Teguh Ananta Wikrama Dharmatunggadewa naik tahta menjadi Raja Medang menggantikan kedudukan Makuthawangsa Wardhana, mengingat bahwa pada tahun 985 Masehi, Makuthawangsa Wardhana masih membuat prasasti di Bandar Alim Tanjunganom Nganjuk, sedangkan Dharmawangsa pada tahun 990 M sudah melakukan aktivitas menyerang Kerajaan Sriwijaya di Palembang.

Beberapa pakar sejarah menganalisa masa pemerintahan Dharmawangsa dimulai tahun 996 Masehi yang berlangsung hingga tahun 1016 Masehi. Menurut hemat penulis, justru penyerangan ke Palembang tersebut Dharmawangsa sudah menjadi Raja, sehingga berwenang membuat kebijakan melaksanakan ambisi menyerang Kerjaan lain, yang berarti dia naik tahta beberapa tahun sebelum tahun agresinya ke Palembang 990 M.

Di bidang politik, bahwa hubungan diplomatik dengan India yang telah dirintis sejak pemerintahan mPu Sindok, masih diteruskan oleh Dharmawangsa, dan bahkan diperluas, karena dinasti Cola yang berkuasa di India utara saat itu memberikan kesempatan yang luas. Banyak pelajar dari Medang yang diberi kesempatan menuntut ilmu di Perguruan Nelanda, umumnya mereka mempelajari tentang bahasa, budaya, agama, astronomi, sejarah dan sastra.

Selain dengan India, Medang juga menjalin hubungan perdagangan dengan Cina. Bahan perdagangan utama yang didatangkan dari Cina adalah Tembikar dan Mata Uang perunggu/tahil, sebaliknya dari Medang, Cina memperoleh rempah-rempah, emas dan perak. Mata perdagangan emas dan perak dari Jawa itulah yang kemudian Raja-raja Jawa dianggap terkaya nomor 2 setelah Arab, anggapan itulah yang merangsang tentara Tar Tar melakukan perampokan besar-besaran kepada Jayakatwang tahun 1292 M.

Hubungan diplomatik dan perdagangan tersebut memperoleh saingan Sriwijaya yang telah terlebih dahulu menjalin hubungan dengan Cina, hal demikian dianggap merupakan penghalang keleluasaan Medang mengembangkan sayap.

Untuk memperlemah pesaingnya tersebut, pada tahun 990 Masehi, Dharmawangsa Teguh mengirimkan tentaranya ke Palembang dalam jumlah yang lumayan besar. Beberapa daerah pinggiran berahsil direbut tanpa perlawanan berarti dari Sriwijaya, dan daerah-daerah yang direbut dipertahankan untuk jangka waktu tertentu, yang tentu menghabiskan enerji dan logistik tanpa mampu mengembangkan peperangan. Hal demikian memang disengaja oleh Sriwijaya, karena dianggap daerah-daerah yang direbut oleh Medang adalah daerah yang tidak strategis dan tidak berpotensi.

Meskipun serangan ke Palembang tahun 990 Masehi dianggap ekspansi yang sia-sia karena tidak mengurangi kekuatan dan kekuasaan Sriwijaya menjalin hubungan dengan China , namun bagi Sriwijaya bahwa serangan dan pendudukan tentara Medang di Palembang wilayah Srwiijaya, merupakan catatan tersendiri yang kelak akan diperhitungakan.

B. PERKEMBANGAN SASTRA

Masa pemerintahan Sri Dharmawangsa Teguh Raja Medang ke 4 dan penyandang dinasti Isana, merupakan masa yang cerah bagi pengembangan ilmu pengetahuan, agama dan sastra, padepokan dan mandala yang keberadaannya jauh dari pusat keramaian seperti di lereng gunung Wilis, justru mendapat perhatian tersendiri.

Serat Sang hyang Kamahayanikam dan Kitab Brahmandapuruna yang dikarang pada masa Raja Sindok, masih tetap menjadi tuntunan pokok bagi pra siswa dan pelengkap perpustakaan istana.

Salah satu Mandala yang cukup disegani adalah yang berada di Makutho, lereng Gunung Wilis yang kelak menjadi salah satu tempat bagi Erlangga belajar mengenai hakekat hidup dan kehidupan, dan ilmu tentang kepemimpinan.

Perhatian dan fasilitas yang diberikan oleh Prabu Sri Dharmawangsa Teguh menjadikan Pustaka Sastra Jawa mengalami perkembangan yang sangat pesat, karya sastra yang diproduksi, yang hampir semuanya merupakan derivasi dari epos Mahabharata antara lain :
1.Kitab Mahabharata derivasi
2.Kitab Uttarakanda
3.Kitab Adiparwa
4.Kitab Sabhaparwa
5.Kitab Wirathaparwa
6.Kitab Udyogaparwa
7.Kitab Bhismaparwa
8.Kitab Asramawasaparwa
9.Kitab Mosalaparwa
10.Kitab Prasthanikaparwa
11.Kitab Swargarohanaparwa
12.Kitab Kunjorokarno

C. PRALAYA

Serangan tahun 990 Masehi yang sia-sia tersebut, untuk beberapa waktu lamanya tidak ada reaksi pembalasan dari Sriwijaya, kecuali hanya berakibat pasang surutnya hubungan masing-masing kerajaan tersebut dengan Cina.

Walau demikian, Sriwijaya telah memperhitungkan sebuah pembalasan dengan cermat, dan menyerahkan segala sesuatunya kepada sekutu Sriwijaya yang berada di Jawa Tengah, yaitu Raja Wora-Wari yang pusat pemerintahannya tidak terlalu jauh dari Medang yang berada di Jawa Timur, yang oleh beberapa pengamat sejarah dolokalosir di Banyumas selatan. Oleh karena itu pimpinan Kerajaan Wora-wari segera mengirim pasukan telik sandi untuk mempelajari sudut-sudut kelemahan Medang, termasuk kapan saat yang tepat untuk melakukan penyerangan.

Kesempatan yang sangat baik yang dilakukan oleh Raja Wora-Wari menyerang jantung ibukota Medang, adalah pada saat Dharmawangsa teguh mengadakan pesta pernikahan putrinya dengan Erlangga anak Gunapriyadhrmapadni yang kawin dengan Udayana Raja Bali.

Tahun 1016 Masehi, bersamaan dengan berlangsungnya kesibukan perta perhelatan akbar di Medang, dan ditengah lengahnya kewaspadaan karena tertutup keramaian tontonan, perhatian semua hadirin dikejutkan oleh kobaran api dimana-mana, disusul berhamburannya para prajurit Kerajaan Wora-Wari menerobos arena pesta, membabat, membantai semua yang ada, tanpa mengenal ampun dan belas kasihan.

Penyerangan tiba-tiba yang disertai pembumi hangusan semua bangunan di lokasi pesta, membuat paniknya suasana, dan merobah sontak seketika dari kegembiraan dan keceriaan menjadi hiruk pikuk kacau tidak karuan dipenuhi jerit tangis memilukan, disertai kobaran api yang menjilat-jilat langit ibukota Medang membara.

Tiada perlawanan, tentara Wora-Wari yang sepertinya sudah kerasukan setan, bak air bah tanpa hambatan menendang menerjang apa dan siapa saja yang berada dihadapannya, tidak peduli laki-laki, perempuan atau kanak-kanak, tidak peduli Raja, pendeta, prajurit ataupun tamu, semuanya dibabat habis dibinasakannya. Suasana carut marut kacau demikian tak ubahnya seperti pralaya atau kiamat.

Dan memang ternyata hampir semuanya tidak tersisa, harta benda dan nyawa, semuanya melayang oleh badai serangan bala tentara Kerajaan Wora-Wari sekutu Sriwijaya ditanah Jawa, termasuk Raja, seluruh keluarga dan Gunapriya Dharmapadni atau Mahendradata ibunda Erlangga gugur bersama mereka. Hanya mempelai berdua bersama SEOrang teman setia Narotama yang mayatnya tidak ada diantara mayat-mayat lain yang berserakan, karena mereka bertiga sempat meloloskan diri dan lari ke arah barat.

III. KERAJAAN WENGKER

Telah kami tulis pada edisi-edisi terdahulu dalam episode ?Misteri Situs Selopuro dan Wengker?, bahwa serangan dari Kerajaan Wora-Wari yang disertai pembumihangusan terhadap bangunan-bangunan Kraton, tidak dilanjutkan dengan penguasaan wilayah, karena begitu selesai melakukan penyerangan dan pembumi hangusan, bala tentara ini langsung di tarik kembali ke Jawa Tengah, sehingga dengan gugurnya Sri Dharmawangsa dan hampir semua keluarganya membuat vacum tampuk kekuasaan Kerajaan Medang.

Satu-satunya yang masih bisa diharapkan adalah Erlangga bersama isterinya, namun pengantin baru yang sempat lari pada malam pralaya tersebut tidak pernah ada kabar berita tentang keberadaannya. Suasana Medang mengambang dengan ketiadaan penguasa tersebut berlangsung hingga beberapa tahun kemudian.

Merasa tidak ada lagi yang mengikat, kesempatan seperti itu sangat menguntungkan bagi kerajaan-kerajaan vasal yang ingin melepaskan diri, memperkuat kedaulatan sendiri tanpa menggantungkan ikatan dan dominasi kemaharajaan Medang yang sudah jelas telah hancur lebur, termasuk dalam hal ini adalah Kerajaan Wengker di Lereng Gunung Wilis yang segera tanggap terhadap situasi yang ada.

Kerajaan Wengker menjadi semakin kuat besar dan makmur, karena pandai memanfaatakn semua peluang yang ada dengan mengkoordinir kerajaan-kerajaan vasal lainnya yang ragu-ragu dan lemah. Dan karena keberhasilannya mengkoordinir kerajaan-kerajaan vasal lainnya, telah membuat Raja Wengker berkeinginan untuk menjadi Seorang Maharaja dengan wilayah yang semakin luas.

Kedigdayaan Kerajaan Wengker inilah nantinya yang akan menjadi penghalang tersendiri bagi usaha-usaha Erlangga menghimpun puing-puing bekas Kerajaan Sang mertuanya, dan kedigdayaan Raja Wengker nantinya yang mengilhami lahirnya Kitab Arjunawiwaha karangan mPu Kanwa.

IV. MASA ERLANGGA

A. KISAH PERJALANAN

Lolos dari lobang jarum, Erlangga, isteri dan Narotama meneruskan perjalanan ke arah Gunung Wilis, konon menurut isteri yang juga saudara sepupunya itu, bahwa di Gunung Wilis ada beberapa Mandala dan Padepokan yang para Rsi dan Siswanya sebagian besar berasal dari keluarga istana, dan samar-samar mereka juga pernah mendengar yang salah satunya berada di Makutho, namun ke arah mana yang harus dilalui, mereka juga tidak mengetahuinya.

Itulah barangkali kisah perjalanan dan pengalaman mereka yang paling menyedihkan, bulan madu ke Pulau Bali yang telah direncanakannya gagal tersaput pralaya, ternyata bulan madu mereka jalani dalam pelarian yang tidak tentu arah, lapar haus, lelah cemas ketakutan dan harapan yang selalu silih berganti adalah hal yang mesti dihadapi setiap hari, kehujanan, kepanasan, naik turun gunung sudah biasa dilalui, dan seakan sudah menyatu dengan nada nafas mereka.

Merasa yakin bahwa yang dituju benar, mereka memasuki sebuah pintu Padepokan, mereka mengutarakan niatnya untuk menimba ilmu meskipun sebenarnya di dalam hati mereka sekaligus perlindungan. Namun setelah beberapa hari telah dilaluinya, harapan itu sirna karena ternyata Padepokan itu tidak cocok bagi Erlangga, ada suatu kedustaan dan kenistaan yang dilakukan oleh para Guru, ada sesuatu yang berlawanan antara ajaran dengan kenyataan yang ada di Padepokan.

Tidak cocok dengan Padepokan pertama, mereka berguru pada Padepokan yang lain yang kondisi bangunannya lebih mewah daripada Padepokan pertama. Kali inipun tidak ada ubahnya seperti Padepokan pertama, bahkan terkesan lebih urakan, untuk kedua kalinya mereka harus pergi daripada terlanjur larut dalam keberangasan dan kenistaan.

Menghadapi pengalaman dari dua Padepokan yang tutup luarnya sama yaitu kesucian, namun didalamnya tidak pantas disebut sebagai tempat kegiatan belajar mengajar tentang pekerti luhur dan keutamaan mendapatkan kesucian, membuat Erlangga hampir putus asa, hampir patah semangat. Kalau demikian kenyataan yang ada, tidak mungkin dia akan memperoleh ilmu dan dukungan untuk mengembalikan pamor Kerajaan Medang, tidak mungkin dia akan mendapatkan dukungan mengembalikan kedaulatan Medang, tidak mungkin dia akan dapat membangun kembali Kerajaan yang sudah menjadi puing-puing, atau apakah memang begitu takdir yang telah digariskan oleh Dewata Agung?, apakah sebagai anak muda dia harus menyerah pada kenyataan?

Perjalanan panjang yang penuh penderitaan, mengharuskan mereka menjalani topo broto amesu rogo, hingga mereka merasa lebih dekat dengan Dewata Agung, senantiasa memohon agar penderitaan bertubi-tubi yang mereka alami segera berakhir.

Mereka menyadari betapa kecilnya manusia yang ternyata tidak dapat berbuat apa-apa bila dibandingkan dengan kekuasaan-Nya yang tanpa batas. Barangkali lakon yang mereka alami adalah sebuah ujian dari-Nya untuk menemukan kebahagiaan kelak, apabila memang demikian pada akhirnya nanti, justru mereka merasa ditakdirkan sebagai manusia yang sangat beruntung, karena telah diberi sarat pengalaman, dan kebahagiaan akan lahir belakangan, dan bukannya sebaliknya, karena penderitaan telah mereka alami sebelumnya.

Penderitaan yang mereka alami dianggap sebagai lelaku broto, melahirkan ketajaman batin, hanya mampu berserah diri, seakan ada yang membimbing, hingga pada akhirnya, ayunan langkah kaki mereka telah sampai pada sebuah Padepokan yang cukup bersih dan tertata rapi, dimana air gemericik mengalir tiada henti menghiasi kolam alami yang dingin sejuk dan indah pada taman yang semerbak mewangi oleh bunga-bungan mekar berseri.

Sejenak ketenangan dan kesejukan alami merasuk dihati mereka masing-masing, melupakan kelelahan dan kepedihan dari perjalanan panjang mereka yang tidak menentu arah dan tujuan, kecuali hanya menghindar dari malapetaka dan kejaran yang dilakukan oleh musuh yang telah menghabisi keluarga mereka.

Tegur sapa telah mengusir kekakuan antara tuan rumah dengan tamunya. Tuan rumah yang ramah dan santun telah memperkenalkan diri bahwa dia adalah mPu Kanwa Wiku dan Pujangga, dan juga sudah kenal dengan Prabu Dharmawangsa.

Oleh Sang Wiku, Erlangga dan rombongan dipersilahkan tinggal di Padepokan (mandala), sambil menunggu situasi betul-betul aman dari kemungkinan kejaran tentara Wora-Wari. Kesempatan demikian dimanfaatkan oleh Erlangga membaca buku-buku perpustakaan mPu Kanwa yang cukup banyak. Dari beberapa buku (baca rontal), ternyata sebagian adalah karya Sang Wiku sendiri, bahkan beberapa diantaranya pernah dilihat oleh Erlangga di perpustakaan Medang.

B. ASTO BROTO

Tertarik oleh karya-karya itu, Erlangga kemudian menyatakan niatnya berguru sekaligus meminta nasehat bagaimana menghadapi hidup seperti yang dialaminya ini, di usia muda telah kenyang dengan penderitaan pahit dan getir.

Dikit demi sedikit ilmu demi ilmu telah diajarkan kepada Erlangga yang cerdas, sopan dan berkepribadian, serta disenangi oleh sesama siswa mPu Kanwa. Nasehat yang diberikan, disesuaikan dengan kisah penderitaan Erlangga sendiri sebagai calon pemimpin, yaitu tentang bagaimana watak yang harus dimiliki oleh SEOrang pemimpin apabila ingin dicintai oleh semua kawulo.

Hal itu dimaksudkan agar kelak apabila Erlangga telah menjadi SEOrang Raja, dapat berlaku adil dan bijaksana terhadap semua kawulo tanpa pilih kasih, kawulo merasa terlindungi oleh kekuasaannya, yang kehadirannya selalu diharapkan oleh semua orang.

Mpu Kanwa yang yakin benar bahwa Erlangga mempunyai wahyu keprabon, merasa perlu memberikan gemblengan serta bekal tersendiri agar pembentukan kepribadian lebih mengarah, semangat hidup dan semangat perjuangan yang hampir padam, dapat lebih berkobar namun terkendali, dan untuk itu pengendaliannya adalah melalui praktek yoga (prasasti Pucangan, 1041, de Casparis, 1958).

Seorang pemimpin bukanlah kawulo, namun SEOrang pemimpin hendaknya dapat merasakan apa yang dialami oleh kawulo, penuh tepo seliro, mengerti penderitaan dan susahnya serta serba keterbatasan rakyat kecil. Jangan pernah merasa pintar sendiri, mudah menyalahkan ketidak mampuan anak buah, sebab dengan mudah menyalahkan anak buah demikian, berarti dia tidak mampu menjadi pemimpin.

Terlebih bagi SEOrang pimpinan yang dapat menjadi pejabat karena pengangkatan, bisa saja terangkatnya karena faktor keberuntungan atau kedekatan dengan pimpinan yang lebih atas maupun faktor lainnya, seringkali kredibilitasnya menjadi bahan taruhan oleh banyak orang.

Pimpinan yang tidak dapat menjadi pemimpin, seringkali menjadi cemoohan. Pimpinan maupun pemimpin, dapat saja suatu saat menjadi kawulo, apabila keberuntungan tidak lagi berpihak kepadanya. Untuk itu haruslah selalu siap dan legowo apabila betul-betul terjadi perubahan seperti itu.

Lebih lanjut mPu Kanwa memberikan gambaran tentang sifat-sifat yang dimiliki oleh kelompok Dewa Lokapala sebagaimana ajaran Astobroto dalam Kekawin Ramayana yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin maupun calon pemimpin seperti diri Erlangga, yaitu :

Pertama sifat Baskoro (Matahari)
Seorang pemimpin harus dapat meniru sifat Matahari yang mampu memberikan penerangan kepada jagad raya beserta isinya, memberi kehidupan bagi seluruh makhluk yang ada di dunia. Pemimpin harus dapat memberi semangat dan motivasi kepada yang dipimpinnya, agar kawulo dapat memanfaatkan hidup ini semaksimal mungkin bagi hidup dan kehidupannya, agar bermanfaat bagi orang banyak. Jangan mudah menyerah terhadap apa yang telah diterimanya, tapi berusahalah terus tanpa mengenal putus asa. Penderitaan dalam pengembaraan yang lalu, adalah cambuk semangat untuk meraih cita-cita. Hanya dengan semangat dan usaha, cita-cita untuk merebut kembali tahta Sang Mertua pasti akan tercapai.

Kedua Sifat Condro (Bulan)
Seorang pemimpin harus mampu meniru watak Condro yang dapat membuat suasana damai, yaitu harus mampu menciptakan suasana tertib, aman, nyaman dan sejuk, sehingga bawahan merasa terayomi tanpa merasa takut akan gangguan dan ancaman. Andaikan ada perasaan cemas dihati sang pemimpin, janganlah diperlihatkan kepada bawahan, bahkan pemimpin harus dapat memberikan motivasi bahwa tidak ada yang perlu dicemaskan dan dikhawatirkan. Tuhan pastimenolong hamba-Nya, apabila hamba itu memintanya dengan sungguh-sungguh.

Ketiga watak Kartiko (Bintang)
Setiap gerak langkah dan perbuatan pemimpin, harus dapat menjadi cermin contoh dan suri tauladan bagi pengikutnya. Segala perbuatan pemimpin haruslah dapat ditiru oleh kawulo. Sekali sang pemimpin berbuat menyimpang dari norma, untuk selamanya bawahan tidak akan pernah mau mengikuti dan mengakuinya lagi. Oleh sebab itu pikirkanlah terlebih dahulu sebelum berbuat, agar masyarakat tetap setia.

Keempat watak Bayu (Angin)
Bayu atau angin selalu ada dimana-mana walaupun didalam perut sekalipun. Bahkan untuk bernafas, semua makhluk memerlukannya.
Pemimpin harus dapat manjing ajur ajer (jw), harus dapat bergaul dengan siapapun juga, strata manapun, agar dapat menyelami peri kehidupan serta suasana pikir kawulo, mampu menciptakan rasa empaty yang tinggi, mampu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, karena sebetulnya orang lain itu sama dengan kita juga. Disamping itu lancarnya hubungan informal, akan melancarkan tugas-tugas formal.

Kelima Watak Dahono (Mendung)
Mendung yang selalu angkuh dan berwibawa, yang tidak akan minggir walaupun matahari meneriakinya.
Pemimpin harus mampu menjaga kewibawaannya. Untuk itu jangan mudah bicara asal bicara, setiap bicara yang dikeluarkannya haruslah bermakna (sabdo pandito Ratu), adil, seimbang, setiap informasi haruslah dikonfirmasi terlebih dahulu dari kedua fihak sebelum mengambil keputusan, kalau tidak, bawahan akan mengkerdilkan kepemimpinannya.

Keenam Watak Agni (Api)
Api akan melalap apa saja yang ada disekitarnya tanpa ampun dan kompromi, tapi api tidak akan membakar benda-benda tertentu yang karena sifatnya, tidak akan mudah terbakar. Pemimpin harus tegas dan tanpa ragu-ragu dalam mengambil keputusan, jangan mangro tingal, jangan setengah-setengah, jujur dan adil, jauh dari KKN, tidak mudah menge;uarkan keputusan yang pada akhirnya akan ada koreksi karena kesalahan. Pemimpin harus mau menghargai pendapat yang benar walaupun pendapat tersebut berseberangan dengan pendapat pemimpin.

Ketujuh watak Samodro (Lautan)
Samodro maha luas tidak terbatas, dengan volume yang tidak terukur, mampu menampung apa saja. Agar menjadi pemimpin yang sempurna dan berpandangan luas, harus memiliki banyak pengalaman dan pengetahuan. Jangan pernah menganggap pengalaman yang tidak menyenangkan akan tidak bermanfaat dikemudian hari. Pengalaman seburuk apapun, pasti akan berguna dikemudian hari, oleh karena itu pemimpin harus selalu menimba pengetahuan dimanapun dia berada. Pemimpin yang luas pengalamannya, akan menelorkan keputusan yang bijaksana.

Kedelapan watak Kuwera (Bumi)
Bumi adalah ibu Pertiwi yang penuh belas kasih, ikhlas berkorban menjadi tumpuan segala makhluk di persada ini. Bumi diindentikkan dengan watak jujur, suci, ikhlas, murah hati, mau menerima saran dan pendapat, menghargai ide, menghargai siapapun yang berani mengemukakan pendapat, menghargai jasa orang lain walau sekecil apapun jasa yang diberikan oleh orang itu, mengorangkan orang, membimbing yang lemah dengan kasih. Dengan demikian, kawulo pasti akan mencintai sang pemimpin, mengasihi Sang pemimpin, dan mau berkorban demi Sang pemimpin dengan ikhlas.

C. MEMBANGUN DARI SISA
Dengan bimbingan mPu Kanwa dan dorongan semangat serta bantuan kekuatan dari para siswa Mandala, dimulailah membangun kembali dari sisa-sisa reruntuhan kedaulatan kerajaan Medang di tempat yang baru, karena menurut keyakinan bahwa lahan dan bahan dari bekas reruntuhan lama, diyakini kurang baik apabila dipergunakan kembali.

Ditempat baru dan istana baru, Erlangga memproklamasikan bahwa Kerajaan yang baru, tetap bersama Medang, dan dia mengangkat dirinya sebagai Raja penerus dinasti Isana, serta mengangkat Narotama sebagai Patih dan mPu Kanwa sebagai Penasehat Kerajaan merangkap sebagai Pujangga Kraton Medang.

Setelah pembenahan kedalam Kraton dirasa telah memenuhi apa yang diharapkan dan memadai, barulah dimulai langkah-langkah keluar dengan mengirim utusan kepada Kerajaan-kerajaan sekitar yang dahulu menjadi vasal Kerajaan Medang, untuk bergabung kembali dibawah panji-panji Medang, serta mengakui Kemaharajaan Erlangga sebagai penerus dinasti Isana. Kepada mereka yang membangkang, tidak ada jalan lain untuk kompromi, kecuali harus ditundukkan dengan kekuatan angkatan bersenjata.

Beberapa Raja langsung menyatakan kesediannya bergabung kembali sebagaimana sebelum ada serangan Wora-Wari, serta mengakui kedaulatan Erlangga sebagai Raja Medang yang baru, namun ada beberapa yang minta waktu berpikir beberapa saat, dan ada beberapa yang langsung menolak karena merasa Medang telah hancur, kerajaan vasal telah berdiri dan berdaulat sendiri, serta memandang kekuatan Erlangga belum seberapa, termasuk pada kategori terakhir adalah Kerajaan Wengker yang telah merasa cukup kuat menghadapi kekuatan Erlangga yang belum terkoordinir penuh.

Prasasti Pucangan (1041) dan prasasti Baru, mencatat peperangan yang dilakukan oleh Erlangga sebagai berikut :
-Tahun 1028 M, memerangi Raja Wengker ? gagal
-Tahun 1029 M, memerangi Raja Wuratan ? menang
-Tahun 1030 M, memerangi Raja Wengker ? gagal
-Tahun 1931 M, memerangi anak Raja Wengker
-Tahun 1030 M, memerangi Raja Hasin
-Tahun 1032 M, memerangi Raja Wora-Wari
-Tahun 1035 M, memerangi Raja Wengker

Pada prasasti Terep (1032 M) ada indikasi bahwa Erlangga pernah mengalami kekalahan dalam suatu peperangannya, yang kemudian meninggalkan kratonnya yang berada di Wwatan Mas (Supratikno Raharjo, 2002 ? Drs.Santoso, 1971).

Bukan pekerjaan yang mudah bagi Erlangga untuk membangun kembali kerajaan yang telah hancur berkeping-keping, cerai berai hangus tidak bersisa kecuali tinggal nama, tiada sanak saudara yang diharapkan dapat membantu, karena semuanya telah dibinasakan oleh Wora-Wari.

Sebuah perjuangan yang sangat berat luar biasa, semuanya harus dimulai dari nol, dari yang sama sekali tidak ada menjadi ada, segala sesuatu harus dipersiapkan sendiri tanpa ada dukungan, jaminan, harta benda, kekuatan dan kepercayaan dari siapapun, kecuali rasa percaya diri dan keyakinan luar biasa akan keberhasilan mewujudkan angan-angannya untuk membangun kembali Kerajaan Medang, membangkitkan kembali Medang, melestarikan wangsa Isana sampai kapanpun.

Suatu hal pokok yang menjadi modal awal memulai perjuangannya adalah ketekatan, dirinya sendiri, isterinya, Narotama, mPu Kanwa dan para brahmana semua murid mPu Kanwa, serta kesediaan sebagian raja-raja vasal untuk bergabung kembali dengan Medang baru.

Walaupun dnegan tertatih-tatih, tahap demi tahap namun dilandasi oleh semangat yang tinggi, akhirnya Erlangga berhasil menyusun struktur tata pemerintahan yang sederhana, dilengkapi dengan personil sementara. Semangat adalah modal pokok untuk maju, dan ternyata pengalaman telah membuktikan bahwa dengan modal semangat itu pulalah yang menjadikan Erlangga SEOrang Raja.

Setelah penataan struktur tata pemerintahan kedalam dirasa telah tertata sebagaimana yang diharapkan, pada tahun 1028 Masehi, mulailah Erlangga memerangi Kerajaan-kerajaan vasal yang tetap membandel, yang memaksa Erlangga harus menggunakan kekuatan bersenjata untuk menundukkanya.

Peperangan pertama ke Kerajaan Wengker mengalami kekalahan, bahkan gagal total karena tentara Erlangga belum berpengalaman menghadapi perang yang sebenarnya.

Kekalahan atas serangannya ke Wengker, tidak membuat Erlangga berkecul hati, ia kemudian mengalihkan sasarannya menyerang Raja Wuratan setahun kemudian, yaitu tahun 1029 Masehi, yang dengan mudah Wuratan dapat ditundukkan.

Dengan keberhasilannya menundukkan Raja Wuratan, berarti juga jumlah kekuatan tentaranya menjadi bertambah. Pada tahun 1030, Erlangga kembali menyerang Kerajaan Wengker untuk yang kedua kalinya, dan kali inipun masih mengalami kekalahan yang bahkan lebih besar daripada kekalahan yang terdahulu, karena lebih banyak prajuritnya yang gugur.

Kekalahannya yang kedua terhadap Wengker, tidak membuat Erlangga patah semangat, pada tahun itu pula perhatian diarahkan emmerangi Raja Hasin, dan pada tahun 1031 Masehi memerangi Anak Raja Wengker.

Pada tahun 1032 Masehi, sebagian tentaranya yang telah berpengalaman dalam beberapa kali peperangan, dikirin ke Jawa Tengah (Banyumas Selatan?) untuk menghajar musuh utamanya, yaitu Raja Wora-Wari yang pada 16 tahun sebelumnya telah menciptakan api neraka dalam peristiwa Pralaya Medang membara, dimana ibundanya dan kedua mertuanya mengalami ajal. Dan sejak penyerangannya ke Jawa Tengah, Wora-Wari tidak pernah lagi muncul ke permukaan sejarah.

Dua kali kekalahannya melawan Raja Wengker, membuat Erlangga semakin khawatir akan perkembangan kekuatan Raja Wengker yang semakin lama semakin membahayakan bagi Kerajaan Medang dimasa depan, karena sejak berdaulat sendiri, wilayah kekuasaan Wengker menjadi semakin luas, besar, kuat dan makmur, sehingga akan semakin sulit ditundukkan.

Diantara beberapa kali peperangannya, ternyata Kerajaan Wengker adalah yang paling tangguh. Peperangan yang dilakukan tahun 1028 Masehi, sama sekali tidak membuahkan hasil, karena banyak tentaranya yang gugur.

Serangan kedua tahun 1030 Masehi pun juga mengalami kegagalan. Barangkali kegagalan pada serangan kedua inilah yang diasumsikan penyebab Erlangga meninggalkan kratonnya yang berada di Wwatan Mas.

Pendapat tentang ?kekalahan adalah kemenangan yang tertunda?, Erlangga kemudian mempelajari sisi kelemahan dirinya sendiri dan ketangguhan Wengker yang tidak mudah dikalahkannya, maka disusunlah strategi baru yang merupakan gabungan dari 3 cara yang diterapkan secara bersamaan dan saling dukung mendukung satu sama lain, yaitu : yudha, cyama dan dana (Drs.Santoso, 1971), atau taktik memecah belah, mengadu domba dan menguasai, membiayai oposisi untuk mendeskreditkan penguasa Wengker, dan penggunaan kekuatan bersenjata setelah terlebih dahulu berhasil menyelundupkan telik sandi untuk bekerja dikalangan musuh.

Dengan melakukan ketiga cara tersebut secara bersamaan, barulah pada peperangan terakhir tahun 1035 Masehi, Kerajaan Wengker dapat ditundukkan oleh Erlangga setelah mana Raja Wengker dapat dibunuh oleh prajuritnya sendiri, yang sebetulnya adalah tentara Erlangga yang diselundupkan dan menjadi prajurit kepercayaan Raja Wengker.

Dengan demikian dapat diasumsikan bahwa perjuangan Erlangga untuk memulihkan keutuhan kembali wilayah Kerajaan Medang, tidaklah begitu mudah, namun memerlukan perjuangan yang panjang, penuh pengorbanan dan perlu waktu yang cukup lama, dan Kerajaan Wengker adalah target yang tersulit dan terlama untuk menundukkannya.

D. SILSILAH ERLANGGA

Prasasti Calcuta yang dibuat oleh Raja Erlangga tahun 1041 M bila dikonfirmasikan dengan sumber lain, rupanya kurang tegas menjelaskan silsilah yang sebenarnya kecuali garis keturunan dari ibunya saja, tanpa menyebutkan yang lain seperti siapa Dharmawangsa dan lain-lain.Uraian yang akan memberikan gambaran lebih jelas adalah sebagai berikut :

1.mPu Sindok atau Sri Isana Wikramadharmattunggadewa mempunyai 2 orang isteri yang pernah mencuat dalam prasasti, yaitu :
a.Rakryan Binihaji Rakryan Mangibit (Permaisuri)
b.Sri Parameswari Dyah Kbi (Anak Rakryan Bawang/Selir)
2.Dari perkawinannya dengan Rakryan Binihaji Rakryan Mangibit, mPu Sindok mempunyai SEOrang anak perempuan yang kemudian menggantikan kedudukannnya menjadi Raja Medang ke 2 dengan abhiseka nama Sri Isana Tunggawijaya, yang kemudian kawin dengan Sri Lokapala yang diketahui beragama Budha.
3.Perkawinan Isana Tunggawijaya dengan Lokapala melahirkan anak perempuan yang kemudian menjadi Raja Medang ke 3 dengan nama Makuthawangsa Wardhana.
4.Makuthawangsa Wardhana mempunyai 2 orang anak laki-laki dan perempuan, yaitu :
a.Dharmawangsa Teguh yang kemudian menjadi Raja Medang ke 4 menggantikan Makuthawangsa Wardhana
b.Mahendradata Gunapriya Dharmapadni (Ibu Erlangga)
5.Mahendradata dikawin oleh Dharma Udayana Marwadewa Raja Bali dinasti Marwadewa, dan hidup di Bali
6.Dari perkawinan Mahendradata dan Raja Udayana, melahirkan SEOrang anak yang diberi nama Erlangga.
Erlangga lahir di Bali pad atahun 1000 Masehi, yang pada usia 16 tahun diambil menantu oleh pamannya sendiri Raja Medang ke 4 Sri Dharmawangsa Teguh, yang pada pesta perkawinannya tahun 1016 Masehi, diserbu oleh bala tentara kerajaan Wora-Wari, menyebabkan semua keluarganya meninggal dunia termasuk kedua mertua dan ibunya sendiri, sedangkan Erlangga beserta isteri dan SEOrang teman setianya Narotama berhasil meloloskan diri.

E. ARJUNO WIWOHO

Syahdan, Bethoro Syakera diancam bahaya, karena ada SEOrang Raja Raksasa Newoto Kawoco sakti mandraguna tidak mempan oleh senjata apapun beristana di Gunung Mahameru Selatan, bermaksud akan menghancurkan ka Indran apabila permintaannya memperisteri bidadari Dewi Suprobo tidak dikabulkan oleh para Dewa. Meskipun sakti mondroguno, Newoto Kawoco ditakdirkan dapat dikalahkan oleh manusia yang lebih sakti.

Mendapat ancaman tersebut Bethoro Indro menitahkan mencari bantuan manusia yang lebih sakti daripada Newoto Kawoco. Kebetulan Sang Arjuno sedang bertapa dengan maksud untuk mendapatkan kesaktian agar menang dalam setiap kali peperangan, serta menjauhkan dari nafsu duniawi.

Menurut evaluasi para Dewa, bahwa bertapanya Arjuno telah hampir sempurna, dan sudah waktunya para Dewa mengabulkan permintaan Arjuno, namun terlebih dahulu harus diuji mental dan nafsunya, dengan cara menurunkan tujuh Bidadari yang cantik-cantik, dipimpin Tilutomo dan Suprobo untuk menggoda Sang Tapa.

Godaan para Bidadari tidak berhasil,dan Arjuno tetap pada posisi tapa. Hal demikian justru mengkhawatirkan Bethoro Indro, jangan-jangan karena keasyikannya bertapa Arjuno telah melupakan dunia. Kalau demikian halnya, bagaimana untuk menghentikan keangkaramurkaan Newoto Kawoco ?

Untuk membuktikan sendiri Bethoro Indro beralih rupa menjadi SEOrang Rsi tua yang bungkuk dan lemah, mendatangi Arjuno yang disamping kanan kirinya ada beberapa senjata.

Dalam dialognya, Resi menanyakan kepada Arjuno tentang maksud keberadaan senjata, yang menandakan bahwa Sang Tapa masih mempunyai nafsu membunuh, ingin berkuasa, ingin menang sendiri, hal demikian jelas sangat tidak cocok dengan kelayakan dunia pertapa. Alangkah lebih baiknya apabila maksud bertapanya diarahkan ke kebaikan, pekerti luhur, laku utomo. Bagaimana akan dapat minum air amrta, kalau yang diminum justru racun. Memanjakan panca indera berarti seseorang akan tertutup oleh hawa nafsu. Apabila manusia kalah oleh nafsu, dia aka diperbudak oleh nafsu untuk selamanya. Kalau yang dicari harta benda yang mendapatkannya tidak halal, sama halnya menghidupi anak isterinya dengan racun, dan yang akan terjadi adalah bahwa anak dan isterinya akan termakan oleh racun itu, atau akan menjadi manusia yang tidak sempurna hidupnya, karena tubuhnya telah keracunan, pertumbuhan daging tulang dan darahnya karena racun. Hal demikian jelas merupakan awal dari kesengsaraan yang dibuat sendiri.

Argumentasi Arjuno kepada Sang Resi bahwa keberadaan senjata tersebut adalah berkaitan dengan laku utomo dari darah ksatria, mempunya kewajiban mengharumkan keutamaan nama dan kerajaan. Dia belum pantas mati sebelum berbhakti kepada bangsa dan negara. Mati memang tujuan tiap manusia, namun selagi manusia itu hidup, harus diisi dengan amalan positif agar hidup ini tidak sia-sia.

Setelah ujian yang diberikan oleh Resi dipandang cukup, kemudian Resi beralih rupa pada ujud semula sebagai Bethoro Indro, dan memberikan anugerah berupa panah Pasyupati dan api yang menyatu dengan panah, lengkap dengan gendhewa dan mahkota yang tidak ada bandingannya, sebuah suf dan terompah yang dapat dipakai mengangkasa, serta bonus ajaran tentang ilmu perang.

Untuk mengetahui titik kelemahan (Pengapesan Jw) Prabu Newoto Kawoco, para Dewa mengirim Suprobo kepadanya, berpura-pura mau dijadikan isteri sesuai permintaannya. Dengan kelihaian rayuan Suprobo, Prabu Newoto Kawoco akhirnya mau menceritakan letak rahasia kesaktiannya di ujung lidahnya.

Menyadari bahwa telah terlanjur menceritakan rahasia kesaktiannya yang juga merupakan naas/pengapesannya kepada Suprobo, yang disinyalir atas pengaturan siasat para Dewa, Newoto Kawoco mengamuk, segera mengirim berpuluh-puluh ribu tentara Raksasa menggempur Kahyangan permukiman para dewa, yang disepanjang perjalanannya menimbulkan kerusakan hebat disana-sini.

Keangkaramurkaan Raja raksasa yang sakti mondroguno tersebut akhirnya dapat dihentikan, setelah Arjuno melepaskan jemparing Pasyupati yang tepat mengenai ujung lidahnya, menamatkan riwayat Newoto Kawoco, gugur ing madyaning palangan.

Kitab Arjuno Wiwoho dengan bentuk kekawin ke atas, ditulis oleh mPu Kanwa Maharsi, sekaligus penasehat spiritual dan penasehat perang Erlangga, juga merangkap pujangga istana. Mpu Kanwa terlibat langsung dalam setiap peperangan Erlangga.

Kitab tersebut sebenarnya adalah dokumentasi kisah nyata perjuangan Erlangga, yang dimulai dari wiwoho (pesta pernikahan) Erlangga dengan anak Dharmawangsa, yang ditengah-tengah pesta pernikahannya diserang oleh Kerajaan Wora-Wari tahun 1016 Masehi, hingga dia bersama isteri dan kawan setianya sempat meloloskan diri, terlunta-lunta hidup di hutan lereng Gunung Wilis, hingga pakaian yang dikenakannya habis tercabik-cabik oleh ranting hutan dan menggantinya dengan kulit kayu.

Selanjutnya Erlangga memasuki 2 perguruan (padepokan), yang ternyata keduanya tidak cocok dihatinya, kemudian dengan harapan yang hampir putus asa, memasuki suatu Mandala yang memberi harapan besar dan menggugah semangatnya kembali. Disitulah dia mendapatkan segala sesuatu yang sangat berguna kelak, yaitu ilmu kepemimpinan asto broto, belajar Agama dan praktek Yoga.

Dengan dukungan mPu Kanwa dan murid-muridnya, Erlangga mulai menyusun kembali Kerajaan Medang yang telah porak poranda, dan menaklukkan Kerajaan-kerajaan vasal yang dahulu berada dibawah kekuasaan Dharmawangsa Teguh. Namun untuk menaklukkan Wengker yang telah menjadi besar, bukanlah sesuatu yang mudah, karena memerlukan waktu selama 7 tahun dengan beberapa kali peperangan.

Penaklukkan Wengker, adalah setelah Erlangga berhasil menyelundupkan mata-matanya, yang oleh Raja Wengker di rekrut menjadi pengawal pribadi Raja, sehingga Erlangga dapat mengetahui secara detail titik kekuatan dan kelemahan Wengker. Pengawal inilah yang kemudian berhasil membunuh Raja Wengker dalam pelariannya ke Mbarat (Drs. Santoso, 1971).

Dengan mengambil tokoh-tokohnya dari dunia pewayangan (Mahabharata) yang dikemas sedemikian rupa, dengan memasukkan unsur-unsur filsafati tentang hidup dan kehidupan, kitab tersebut menjadi sangat menarik sampai sekarang. Menurut catatan Supomo, 1985, mPu Kanwa menggandakan kitab ini 30 buah.

Selain itu, kitab tersebut juga digubah kedalam sastra bentuk prosa dengan judul ?Serat Wiwoho Jarwo? dan digelar dalam pewayangan ringgit purwo, dengan lakon :
1.Wahyu Makutho Romo
2.Begawan Mintorogo
3.Begawan Ciptoning/Ciptoening
4.dan lakon-lakon sempalan lainnya

F. TITISAN WISNU
Kesengsaraan hidup yang dengan terpaksa dijalaninya di hutan bersama isteri dan Narotama tanpa bisa berganti pakaian, sampai-sampai pakaian yang dikenakannya telah hancur tercabik oleh ranting-ranting kayu hutan yang dilewatinya, dan keadaan telah memaksa untuk menggantinya dengan kulit kayu (walkaladhara).

Perjalanan hidup yang telah dilakoni mulai dari hutan sampai ke kehidupan di asrama bersama para siswa beberapa tahun lamanya, memberi arti tersendiri bagi Erlangga, karena dari sesama siswa, dia memperoleh banyak gambaran tentang berbagai karakter manusia yang ternyata satu sama lain berbeda. Dari pergaulan bersama mereka, Erlangga langsung maupun tidak langsung telah mendapatkan pengalaman tentang seni memimpin sesama manusia, dan dari praktek yoga di asrama, Erlangga bisa tahu bagaimana mengenal diri sendiri dan bagaimana cara yang sebaik-baiknya memimpin diri sendiri (prasasti Pucangan, 1041 M).

Justru dengan banyaknya pahit getirnya pengalaman yang telah dilakoninya, dan tekunnya upaya memperoleh pengetahuan di asrama, membuat Erlangga menjadi SEOrang Maharaja yang mampu mengendalikan diri sendiri, selalu mawas diri, selalu mengutamakan kebutuhan rakyat banyak, hampir-hampir tidak pernah berfikir untuk kepentingan diri sendiri.

Semua kebutuhan rakyat Medang, adalah menjadi prioritas pemikirannya, terutama yang mengarah pada tujuan kesejahteraan secara adil dan merata. Beberapa waduk, bendungan dan prasarana pengairan bagi persawahan dan perikanan dibangun di beberapa tempat (prasasti Kamalagyan, 1037 M). Pembukaan persawahan baru sebagai awalan acara penetapan Sima yang dilakukan pada masa Sindok, masih diteruskan pada masa Erlangga, hingga beras sebagai komoditas utama berproduksi nelimpah ruah.

Untuk memperlancar perdagangan internasional dan interinsuler, dilakukan perluasan pelabuhan laut Kembang Putih di Tuban, dan perbaikan dermaga Sungai Brantas di Ujung Galuh Jombang.

Ramainya lalu lintas pelayaran nasional yang menyusuri Sungai Brantas, dapat diketahui antara lain dari prasasti Kamalagyan, 1037 M, yang menuliskan perasaan para nahkoda dan pedagang dari wilayah nusantara (para puhawang prabanyaga sangkaring dwipantara) yang bersuka ria karena perjalanan mereka melalui Sungai Brantas telah kembali lancar (de Casparis 1958, Supratikno Raharjo, 2002).

Tampaan pimpinan Mandala dan kehidupan keagamaan bersama para siswa di asrama, menjadikan Erlangga SEOrang Raja yang sangat menghormati semua agama di Medang, karena dia menyadari sepenuhnya bahwa semua agama bertujuan sama, yaitu kebaikan dan kesucian, baik untuk hubungan sesama manusia, dan suci dalam hubungannya dengan Hyang Moho Widhi Waseso. Dengan mempelajari agama dan Yoga, orang akan mampu menguasai hakekat hidup, mampu mengendalikan hawa nafsu dan selalu mensyukuri hidup sebagai suatu anugerah.

Untuk itu pada jamannya, kehidupan beragama dikembangkan, tri kerukunan hidup umat beragama yaitu kerukunan intern sesama agama, antar umat beragama dan antara umat beragama dengan pemerintah Kerajaan, benar-benar terpelihara dengan baik, bahkan sesekali dilakukan acara pujian kepada Budha, Siwa dan Rsi serta Brahma bersama-sama.

Untuk memelihara kehidupan beragama, beberapa bangunan keagamaan didirikan, tempat-tempat suci mendapatkan perhatian dari Kerajaan. Tokoh-tokoh agama Budha, Siwa dan Rsi ditempatkan pada kedudukan terhormat di istana (prasasti baru, 1030 M dan prasasti Pucangan, 1041 M).

Pada akhir masa pemerintahannya, Erlangga berupaya meneruskan estafet kepemimpinannya dengan menyerahkan jabatan kemaharajaan kepada putri mahkota Kilisuci. Namun Kilisuci tidak berminat menjadi Raja, bahkan lebih tertarik menjadi pertapa di Gua Selomangleng.

Atas penolakan putri mahkota tersebut, kemudian Erlangga membagi Kerajaan Medang menjadi 2, dengan garis perbatasan Sungai Brantas kepada 2 orang anak laki-lakinya yang lahir dari 2 orang selirnya:

a.Sebelah utara Brantas diberi nama Kerajaan Jenggolo, dengan ibukota Kahuripan, untuk putranya Garasakan.
b.Sebelah selatan Brantas diberi nama Kerajaan Penjalu atau Kediri, dengan ibukota di Dahapura, untuk putranya Samara Wijaya.

Setelah membagi dua kerajaan untuk kedua orang putranya dan dirasa telah memenuhi rasa keadilan, Erlangga mengundurkan diri, turun dari tahta Keprabon, memilih kembali pada kehidupan semula sebagai SEOrang pertapa, kembali pada kesucian, mendekat kepada Sang Moho Agung, hingga akhir hayatnya tahun 1049 Masehi, dan mendapat julukan Sang Prabu Apuspala Jatiningrat, Maharaja Erlanggyabhisekanira.

Erlangga adalah tokoh kharismatik yang sempurna sebagai SEOrang maharaja, karena mengawali perjuangannya SEOrang diri, tanpa bantuan dan fasilitas dari siapapun hingga Medang terbangun kembali, bahkan lebih gemilang daripada masa sebelumnya.

Oleh karena itu Erlangga dianggap sebagai pahlawan perang dan pelindung rakyatnya, Raja yang sangat memperhatikan kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya, yang memfasilitasi pendidikan dan kesusasteraan, serta memelihara tri kerukunan hidup umat beragama, adil bijaksana, yang selalu dapat menempatkan diri dimanapun dia berada, SEOrang Raja yang memang ditakdirkan menjadi SEOrang pemimpin karena bakat, yang disempurnakan oleh gemblengan perjalanan hidupnya.

Karena kemampuannya yang luar biasa itu, kualitas kepemimpinannya dianggap setarap dengan kualitas kepemimpinan Dewa Wisnu, dan dianggap sebagai awatara (titisan) Wisnu, sehingga pada saat peringatan meninggalnya, dibangun sebuah patung Wisnu dalam posisi duduk, naik kendaraan Garuda Kedewataan, diapit dua arca isterinya, yaitu Dewi Sri dan Dewi Laksmi.

V. KEDATUAN (KEDATON)

Sulitnya melacak situs istana raja, menyebabkan sejarah itu sendiri menjadi misteri dan samar-samar, sehingga memunculkan beberapa teori yang mungkin bertentangan antara yang satu dengan lainnya. Dugaan sementara yang menyebabkan bangunan istana tersebut tidak meninggalkan bekas antara lain :

1.Teror bumi hangus bangunan Istana yang dilakukan oleh tentara Wora-Wari, menyebabkan hampir semua bangunan istana musnah terbakar dalam peristiwa pralaya 1016 M.

2.Letusan Gunung Kelud yang memuntahkan jutaan meter kubik material mengalir melalui kali Semut, kali Putih, kali Badak, kali Gedeg, kali Dermo, kali Sukorejo, kali Ngobo, dan kali Sarinjing masuk ke kali Brantas, menghancurkan semua bangunan di sepanjang aliran sungai, serta merobah arah aliran Brantas, termasuk merusak bangunan-bangunan monumental Kerajaan Medang.

3.Bahan bangunan Istana Raja berasal dari bahan material yang tidak tahan lama seperti kayu, bambu, daun dari pohon jenis palma sebagaimana yang tertulis dalam kronik Cina abad X bahwa istana Raja terbuat dari bahan kayu.

Meskipun bukti-bukti peninggalan tidak dapat menunjukkan lokasi yang tepat, namun dari beberapa prasasti baik yang terbuat dari batu, lempengan tembaga ataupun rontal dan lain sebagainya, kiranya paling tidak, dapat dipakai sebagai bahan perkiraan daerak letak istana Raja pada masa itu.

Beberapa pernyataan yang dapat dipakai sebagai bahan dugaan tersebut menurut de Casparis 1986/1987-Supratikno Raharjo, 2002 sebagai berikut :
(1). Sri maharaja makadatwan I tamwlang (prasasti Turyyan, 929 Masehi)
(2). Sri maharaja katalayah sangke wwatan mas mara I patakan (prasasti terep, 1032 Masehi)
(3). Makatewaka pandri sri maharaja makadatwan I kahuripan (Kamalagyan, 1037 M)

Selanjutnya pada tulisan lain disebutkan :
(1). Kadatwan ????. Sri maharaja I bhumi mataram (Turyyan, 929 M)
(2). Kadatwan????…i mdang I bhumi mataram (Anjuk Ladang, 937 M)
(3). I mdang I bhumi mataram I watu galuh (Paradah II, 943)

Dari beberapa pernyataan diatas, kesimpulan sementara yang patut dikemukakan adalah :
1.Bahwa pada tahun 929 Masehi, istana Raja Sindok dari Kerajaan Medang, bertempat di kota Tamwlang
2.Bahwa pada tahun 1037 Masehi, istana Raja Erlangga dari Kerajaan Medang berada di ikukota Kahuripan.
3.Prasasti Terep 1032 M menulis bahwa pada tahun 1032 sri maharaja terdesak (dalam suatu peperangan), hingga meninggalkan tempat Wwatan mas menuju Patakan, namun tidak menjelaskan posisi Wwatan mas sebagai kedaton atau hanya markas pertahanan.
4.Prasasti Paradah II dan Prasasti Bandar Alim, sama-sama mengatakan mataram I watu galuh, tanpa menyebut kedatuan

Praduga Penulis :

1.Nama Kerajaan mulai dari mPu Sindok sampai Erlangga, tetap bernama Kerajaan Medang.

2.Istana Raja pada awalnya berada di Trayang (Ngronggot). Trayang adalah pergeseran pengucapan dari Tamwlang ? Turyyan ? Trayang. Bandingkan dengan kata atuha menjadi ? Ngantang, Rarae menjadi Pare, Kamalagyan menjadi Kemlagi. Barangkali wilayah Trayang dahulu meliputi daerah yang lebih luas, termasuk Klurahan dimana diketemukan beberapa peninggalan kuno.

3.Watu Galuh sebagaimana disebut dalam prasasti Paradah II tahun 943 M dan Prasasti Bandar Alim 985 M, merupakan salah satu pelabuhan yang sangat penting bagi lalu lintas sungai Brantas lama bagi perdagangan interinsuler, sehingga Raja merasa perlu suatu pengakuan sebagai wilayah Medang.

4.Wwatan Mas sebagaimana disebut pada prasasti Terep 1032 Masehi, ada yang mengasumsikan Bajulan sekarang, dapat saja diperkirakan sebagai Kedaton, namun menurut hemat penulis, lebih cenderung hanya sebagai markas pertahanan Erlangga dalam rangka mendekati lokasi sasaran untuk menyerang Kerajaan Wengker di Ngetos, yang kemudian ditinggal menyingkir ke Patakan karena terdesak kalah dalam suatu peperangan.

5.Kahuripan sebagaimana disebut dalam prasasti Kamalagyan, jelas merupakan kedaton Raja Erlangga yang dibangun setelah kraton Dharmawangsa Teguh di Trayang dibumi hanguskan oleh Raja Wora-Wari tahun 1016 Masehi.
Yang tersirat dalam prasasti Wurare, bahwa kota Kahuripan berada di sebelah utara Sungai Brantas lama, sehingga patut diduga bahwa kota Kahuripan dimaksud, sekarang menjadi Dusun Koripan Desa Kampungbaru Kecamatan Tanjunganom, yang letaknya tidak terlalu jauh dari kraton lama di Trayang Ngronggot, yang barangkali bekas lokasinya tertimbun oleh material letusan Gunung Kelut.

Sebagai salah satu gambaran tentang dahsyatnya letusan Gunung Kelut, dapat dipakai sebagai bandingan berikut :
a.Letusan tahun 1919, volume air yang dimuntahkan sebanyak 40 juta M3, material 323 juta M3, tanaman rusak 13.120 Ha, dan korban manusia 5.110 jiwa meninggal.
b.Letusan tanggal 31 Agustus 1951, volume air 1,8 juta M3, material 200 juta M3, dan tanaman rusak 7.000 Ha
c.Letusan tahun 1966, volume air 20,3 juta M3, material 90 juta M3, tanaman rusak 12.820 Ha, dan korban manusia 282 meninggal (Susilo Suharto, SH, 1973)

6.Prasasti Wurare menyebutkan bahwa menjelang Erlangga mengundurkan diri, telah memecah kerajaan menjadi 2 untuk ke dua orang anak laki-lakinya yang lahir dari 2 orang selirnya, karena Kilisuci putri mehkotanya menolak menjadi Raja Medang menggantikan ayahandanya Erlangga, dan memilih menjadi pertapa di Gua Selomangleng.
a.Kerajaan Panjalu atau Kadhiri beribu kota di Dhahanapura untuk putranya Samara Wijaya.
b.Jenggolo dengan ibukota di Kahuripan untuk putranya yang bernama Garasakan.
Sebagai batas wilayah dari kedua Kerajaan tersebut adalah Sungai Brantas yang pada saat itu alirannya tidak seperti sekarang. Sebelah selatan Sungai wilayah Panjalu atau Kadhiri, sedangkan sebelah utara Sungai wilayah Jenggolo.

Eksistensi Kahuripan semakin lama menjadi mengecil, karena sepeninggal Erlangga kedua Kerajaan tersebut selalu dilanda peperangan saudara sampai dengan Prabu Mapanji Joyobhoyo memerintah Kadhiri tahun 1135 ? 1157 Masehi, dan para Raja-raja kemudian memilih domisili di Dhahanapura.

Peristiwa pembagian wilayuah Kerajaan oleh Erlangga, kemudian melahirkan mitos mPu Bharadah. Perang saudara antara Panjalu dengan Jenggolo menginspirasi lahirnya Kitab Bharoto Yudo, yang telah membawa korban salah satu pengarangnya yaitu mPu Sedah.

Kahuripan walaupun tidak sebesar jaman Erlangga, namun tetap eksis berperan dalam sejarah Kadhiri, Singosari maupun Mojopahit, seperti :
-Tribhuwonottunggodewi sebelum menjadi Raja Mojopahit, terlebih dahulu menjadi Rajamuda di Kahuripan, sedangkan patihnya Gajahmada.
-Hayam wuruk anak Tribhuwonottunggodewi, sebelum menjadi Maharaja Mojopahit, pernah menjadi raja muda di Jiwana. Jiwana adalah nama lain dari Kahuripan.
-Gajahmada pertama kali menjabat sebagai Patih adalah di Kerajaan vasal Kahuripan, kemudian dipindah menjadi Patih di Khadiri, dan terakhir Mahapatih Mojopahit.

Demikian tulisan ini semoga bermanfaat.
Ganungkidul, Mei 2005

Taken from here.

Libur Lebaran 2016

Saya dan mayoritas kawan terdekat adalah penganut aliran “stay at home” saat libur lebaran. Jalanan yang padat, destinasi wisata yang penuh, juga harga yang serba melonjak, selalu jadi alasan utama untuk tidak keluar kota.

Tapi ternyata, kali ini saya sama sekali engga tahan tetap berada ditengah metropolis ini, selama 12 hari libur kerja!

Jadi, setelah merengek meratap dan merayu, akhirnya ‘proposal’ keluar kota disetujui. Di H+1 lebaran, Trawas menjadi tujuan!!!

Lihat..

IMG_1066 copy copy

Woooh, mata langsung segar cerah ceria berbinar sepanjang hari! Bayangin aja, setelah beberapa hari cuma lihat tembok atau resto, akhirnya lihat gunung, awan biru, sawah menguning, juga sawah dengan tanaman ketan seperti ini:

IMG_1062 copy copy

Siapa ga girap-girap, coba??? Anginnya semilir, adem banget padahal udah jam 1pm tuh!

Btw, kita pake acara ‘nyasar’ ke sebuah tempat yang diyakini oleh seorang teman sebagai perkebunan duren. Dia sudah dibilangin berkali-kali kalo bulan-bulan ini tuh lagi engga musim duren, tapi karena Mamanya ngidam, dia belain deh ke pucuknya Trawas dan yang kita dapatkan malah ini, haha:

IMG_1122 copy copy

Tapi ‘nyasar’ disaat liburan sih selalu bisa dinikmati. Bahkan beberapa orang bilang, disaat tersesat, kita bisa menemukan diri sendiri. Buat saya sih, asal asal nyasarnya ga sendirian. Penakut, soalnya.. haha :p.

Prasasti Telahap (Prasasti Tinulad)

Prasasti Telahap tahun 820 Saka (11 Maret 899 M), dikeluarkan oleh Raja Balitung. Kalau dilihat isinya memang kacau dan banyak kesalahan, karena itu ditengarai sebagai prasasti tinulad.

Ini memang fenomena menarik karena biasanya prasasti batu adalah prasasti yang asli dan salinan (otentik) adalah prasasti tembaga. Kalau urusan disalin lagi (tinulad) itu biasanya pada prasasti-prasasti tembaga.

Sekarang tinggal dilihat dari segi paleografi apakah prasasti batu Telahap itu di-tulad dari jaman Majapahit? Karena kalau tidak salah di dekat itu juga ada prasasti Penampihan tahun 1362 Saka (1440 M), sekarang di Musnas.

Para sarjana berpendapat bahwa prasasti Telahap adalah prasasti tertua Raja Balitung, sehingga dijadikan patokan awal pemerintahan Balitung. Tapi dari prasasti Wanua Tengah III diketahui bahwa Balitung mulai memerintah pada tanggal 10 Mei 898 M.

Taken from here.

Bicara soal prasasti tinulad, di Candi Penampihan, ini adalah prasasti yang membuat saya tahu, bahwa pada jaman dahulu pun ada “copy paste”!

“Tinulad”. Artinya prasasti lama yang dituliskan kembali oleh generasi kemudian. Raja yang bertahta di suatu masa meminta citralekha (petugas pemahat prasasti) untuk menulis ulang prasasti yang pernah diterbitkan raja terdahulu, biasanya untuk mengukuhkan legitimasinya sebagai penerus keturunan raja tersebut. Tinulad adalah sebuah istilah, bukan nama prasasti tsb (taken from here).

Dan saya juga baru ngeh, bahwa nama prasastinya sendiri adalah “Telahap”.
Tulisan mengenai Candi Penampihan dan foto prasasti tinulad-nya, ada di laurentiadewi.com (read here).

Dvarapala (in/ near) Borobudur

“Man in straw hat standing on Buddhist idol at ruins of Borobudur, 1 slide : lantern, hand colored ; 3.25 x 4 in”.

This dvarapala guardian statue once found on Dagi Hill near Borobudur was probably the statue taken to Thailand by King Chulalongkorn of Siam request in 1896, since today there is no dvarapala statue found in or near Borobudur.

Dwarapala Borobudur

Taken from here.

Menarik! Ternyata dulu pernah ada Dwarapala disekitar Borobudur..

Trailokyavijaya

Trailokyavijaya seperti emanasi/pancaran Dhyani Buddha Aksobhya yang lain juga berwarna biru, mengerikan dalam penampilan dan sekaligus menakjubkan. Dua bentuk kedewataan ini telah dicatat oleh Prof. Foucher, satu dari Jawa dan satu lagi tersimpan dengan baik biara Hindu Mohant di Bodh Gaya.

Dalam kitab Sadhanamala, Dhyana menjelaskan wujudnya sebagai berikut:

“Para pemuja haruslah bermeditasi dan membayangkan dirinya sebagai Trailokyavijaya Bhattaraka warna biru, memiliki empat berwajah dan delapan tangan. Wajah pertamanya menampilkan raut gusar (krodha), sisi kanan kemarahan (raudra), sisi kiri jijik,muak atau benci (bibhatsa), dan terakhir keberanian (wira).

Tangan dalam sikap Vajrahuhkara-mudra bertuliskan Ghanta dan Wajra di depan dada. Tiga tangan kanannya membawa masing masing khaṭvāṅga (Tongkat), Kusa (Tongkat berkait-biasa untuk mengendalikan gajah) dan Bana(Anak panah). Tiga tangan kirinya membawa Dhanu (Busur), Pasa (Jerat) dan Wajra (Petir).

Ia berdiri dalam sikap Pratyalidha – kaki kiri ditekuk, kaki kanan lurus dan badang condong ke kanan. Kaki kanan menginjak kepala Maheswara dan kaki kiri menginjak kepala Gauri. Mengenakan pakaian dengan berbagai warna.

Bahasa aslinya:

“Trailokyavijaya-Bhattarakam rnlam caturmukham astabhujam ; prathamamukham krodhasrhgaram, daksmam raudram, vamarii bibhatsarh, prstharh virarasam ; dvabhyam ghantavajranvitahastabhyam hrdi vajrahunkaramudradhararh ; daksinatrikaraih khatvahgankusabanadharam, vamatrikaraih capapasavajradharam ; pratyalidhena vamapadakranta-Mahesvaramastakam daksinapadavastabdha-Gaunstanayugalam”;

Photo : koleksi rijkmuseum no RP-F 2005-159.  Abad 9th-10th century., Isidore van Kinsbergen, 1865
PS: saat ke museum Sonobudaya beberapa saat yang lalu barang ini masih tersimpan di sana.

13266114_10208367893052151_5560906902231570019_nedit

13322010_10208367893012150_8887542199139708428_nedit

Taken from here.

Postingan diatas mengingatkan pada sesosok arca tembaga yang saya lihat di Museum Gajah:

Jakarta 2013 (406) Jakarta 2013 (407)

Ah, ternyata ingatan saya benar! Kedua foto beda jaman diatas, mirip/ serupa (atau jangan-jangan lokasinya memang dipindah dari Museum Sonobudaya ke Museum Gajah?

Trailokyavijay is the King of knowledge having conquered the three worlds, one of the five kings of knowledge of Buddhism. His mission is to protect the eastern part of the world.

In general, the three worlds represent the world of desire, the world of form and the formless world; some interpret this king of knowledge is called so because he wants to defeat the supreme leader of the three worlds, Maheśvara (Shiva); The most logical explanation reveals that the three worlds denote the three poisons: greed, hatred and ignorance, three trends that humans can not conquer during the past, present and future that the king hoped to help people eliminate.

Iconographic representation

The Lord Trailokyavijaya was born from the blue syllable, Hûm. He is blue, with four faces, and eight arms. His primary face expresses a love fury, the right, anger, disgust in the left, and behind, that of heroism. His main hands bear the bell and lightning, his chest says Vajra-hum-Kara; his three right hands hold (in descending order) a sword, the elephant hook, and an arrow; the three left hands hold a bow, lace, and a discus. With his left foot, he steps on Shiva and with the right foot, he treads on the breasts of Parvati. He carries, among other adornments, a garland made of a cord of Buddhas, is being developed as identical to him, that has (according fingers) magic gesture after touching fists back to back, attach two small chain-like fingers. The formula is “Om”, etc.[1][2]

Mantra

The magic mantra of the King of knowledge having conquered the three worlds is:

“Namaḥ samanta vajrāṇām. Ha ha ha vismaye, sarva tathāgata viṣaya sambhava Trailokya vijaya hūm jaḥ svāhā!” (taken from here).

 

Prasasti Kaladi

Premanisme ternyata sudah terjadi ketika zaman kerajaan-kerajaan terdahulu, bahkan beberapa peraturan tentang premanisme dibuat dalam bentuk prasasti.


Salah satunya adalah Prasasati Kaladi ini menceritakan sebuah permohonan dari pejabat dua daerah yang bernama Dapunta Suddhara dan Dapunta Dampi kepada Raja Rakai Watukura Dyah Balitung tentang adanya hutan yang memisahkan kedua desa mereka. Menurut pejabat daerah, masyarakat desa sering mendapat serangan dari para penjahat yang bersembunyi di dalam hutan tersebut. Kemudian Raja Rakai Watukura Dyah Balitung memutuskan bahwa hutan tersebut agar dijadikan sawah, sehingga masyarakat setempat tidak menjadi ketakutan.

Mereka senantiasa mendapat serangan dari penduduk Mariwuᶇ yang membuat para pedagang dan penangkap ikan merasa resah dan ketakutan siang dan malam. Maka (diputuskan) untuk disetujui bersama hutan itu dijadikan sawah agar supaya penduduk tidak lagi merasa ketakutan, dan sawah itu juga ditetapkan tidak masuk wilayah (samgat) Bawa. Dalam prasasti ini juga disebutkan perihal nama-nama pejabat dan juga pasak-pasak yang diberikan kepada para pejabat, dan sapata bagi yang melanggar sima tersebut. Selain itu, prasasti ini juga menjelaskan mengenai adanya kasus premanisme.

Prasasti Kaladi ditemukan di area Gunung Penanggungan, Jawa Timur. Prasasti Kaladi berasal dari masa Mataram Kuno dalam masa kepemimpinan Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Sri Dharmmodaya Mahasambhu. Dyah Balitung merupakan raja yang memerintah Medang (Mataram Kuno) setelah Rakai Kayuwangi.


Prasasti ini menceriterakan tentang penetapan Desa Kaladi, Gayam, dan Pyapya, yang semuanya masuk wilayah (samgat) Bawaᶇ, menjadi sima atas permohonan Dapunta Suddhara dan Dapunta Dampi kepada Raja Rakai Watukura Dyah Balitung. Adapun sebabnya ialah karena semula ada hutan yang memisahkan desa-desa itu yang menyebabkan ketakutan.

Prasasti Kaladi berangka tahun 831 Çaka atau 909 M, dengan menggunakan aksara Kawi tipe standard dengan variasi serta menggunakan bahasa Jawa Kuno yang dituliskan dalam bentuk prosa. Prasasti ini dipahatkan di atas tembaga (tamra prasasti) yang berjumlah 10 lempeng, akan tetapi yang 2 lempeng hilang, yaitu lempeng nomor 3 dan 5.

Sekarang yang 8 lempeng prasasti Kaladi disimpang di Museum Nasional Jakarta dengan nomor inventaris E71.

Taken from here.

Informasi lain:

Sejumlah prasasti Jawa Kuno dan Bali Kuno mengindikasikan adanya orang–orang asing di wilayah Nusantara. Prasasti Kaladi yang berangka tahun Saka 831 atau Masehi 909 menyebutkan sejumlah orang asing yang datang ke pelabuhan di Jawa Timur. Mereka antara lain adalah kling (Kalingga), arya (orang Arya), singhala (orang Singhala/Srilangka), drawila (Drawida?, Pondhiceri), campa (Champa), kismira (Kasmir).[1] Berdasarkan kutipan itu maka dapat diketahui bahwa abad ke-10 sejumlah golongan etnik dari Asia Selatan dan Asia Tenggara tampaknya telah bermukim di Jawa Timur.

Kasus yang cukup menarik perhatian tentang mulkulturalisme dapat diketahui dari prasasti Wurudu Kidul yang berangka tahun 844 atau Masehi 922. Prasasti itu berisi uraian tentang proses peradilan status kewarganegaraan sang Dhanadi yang diduga sebagai keturunan orang Khmer (Kamboja). Setelah ditelusuri dari sejumlah saksi ternyata bahwa sang dhanadi adalah penduduk desa Wurudu atau orang lokal. Data yang tersurat dalam prasasti Wurudu Kidul mengindikasikan adanya orang asing atau keturunan orang asing yang bermukim di Jawa Timur.

Prasasti-prasasti Bali Kuno juga menyebutkan adanya pedagang asing yang bermukim di daerah pesisir/pelabuhan di Bali. Prasasti Bebetin AI (Masehi 896), Sembiran B (Masehi 951), dalam Sembiran AII (Masehi 975) menyebutkan istilah banyaga (pedagang yang mengarungi lautan) dan banigrami (perkumpulan pedagang).[2] Kehadiran para pedagang asing merupakan suatu bukti adanya pergaulan multikultural di Bali.

[1] (Barret-Jones, 1984:186)

[2] (Goris, 1954: Wheatly, 1975; Ardika, 1999:81) (taken from here).

Informasi tambahan:

Prasasti Kaladi berangka tahun 831 Çaka atau 909 M, dengan menggunakan aksara Kawi tipe standard dengan variasi serta menggunakan bahasa Jawa Kuno yang dituliskan dalam bentuk prosa. Prasasti ini dipahatkan di atas tembaga (tamra praśasti) yang berjumlah 10 lempeng, akan tetapi yang 2 lempeng hilang, yaitu lempeng nomor 3 dan 5. Sekarang yang 8 lempeng prasasti Kaladi disimpang di Museum Nasional Jakarta dengan nomor inventaris E71.

Prasasti Kaladi ditemukan di area Gunung Penanggungan, Jawa Timur. Prasasti Kaladi berasal dari masa Mataram Kuno dalam masa kepemimpinan Śrī Maharāja Rakai Watukura Dyah Balitung Śrī Dharmmodaya Mahāsambhu. Dyah Balitung merupakan raja yang memerintah Mataram Kuno setelah Rakai Kayuwangi.

Prasasti ini menceriterakan tentang penetapan Desa Kaladi, Gayām, dan Pyapya, yang semuanya masuk wilayah (samgat) Bawaᶇ, menjadi sīma atas permohonan Dapunta Suddhara dan Dapunta Dampi kepada Raja Rakai Watukura Dyah Balitung. Adapun sebabnya ialah karena semula ada hutan yang memisahkan desa-desa itu yang menyebabkan ketakutan. Mereka senantiasa mendapat serangan dari penduduk Mariwuᶇ yang membuat para pedagang dan penangkap ikan merasa resah dan ketakutan siang dan malam. Maka (diputuskan) untuk disetujui bersama hutan itu dijadikan sawah agar supaya penduduk tidak lagi merasa ketakutan, dan sawah itu juga ditetapkan tidak masuk wilayah (samgat) Bawaᶇ.

Dalam prasasti ini juga disebutkan perihal nama-nama pejabat dan juga pasak-pasak yang diberikan kepada para pejabat, dan sapata bagi yang melanggar sīma tersebut. Selain itu, prasasti ini juga menjelaskan mengenai adanya kasus perbanditan. ***

Kepustakaan:

Anjali Nayenggita, 2012, Prasasti Kaladi 831 Śaka, dalam Skripsi di Program Studi Arkeologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia (taken from here).

Masa Pemerintahan Raja Mataram Kuno Berdasarkan Prasasti Wanua Tengah III

Saya tidak pernah mendengar nama prasasti ini, sebelumnya. Menarik!

Prasasti Wanua Tengah III adalah prasasti dari tahun 908 M pada zaman Kerajaan Mataram Kuno, yang ditemukan November 1983. Prasasti ini di sebuah ladang di Dukuh Kedunglo, Desa Gandulan, Kaloran, sekitar 4 km arah timur laut Kota Temanggung.[1] Prasasti ini disimpan di Balai Arkeologi Yogyakarta.

Di dalam prasasti ini dicantumkan daftar lengkap dari raja-raja yang memerintah bumi Mataram pada masa sebelum pemerintahan raja Rake Watukara Dyah Balitung. Prasasti ini dianggap penting karena menyebutkan 12 nama raja Mataram, sehingga melengkapi penyebutan dalam Prasasti Mantyasih (atau nama lainnya Prasasti Tembaga Kedu) yang hanya menyebut 9 nama raja saja.[1]

Prasasti Wanua Tengah III ini terdiri dari dua lempengan, pertama dengan ukuran 53,5 x 23,5 cm dan ketebalan kira-kira 2,5 mm, kedua dengan ukuran 56 x 26 cm dan ketebalan sama. Keduanya adalah lempengan tembaga. Lempeng pertama ditulisi satu sisi saja dengan tulisan 17 baris, sedangkan lempeng kedua tulisi bolak-balik, masing-masing 26 dan 18 baris.

Daftar raja

Para raja Mataram dan tahun pemerintahannya menurut prasasti ini adalah sebagai berikut:

  1. Rakai Panangkaran anak Rahyangta i Hara (adik Rahyangta ri Mdang) (7-10-746 M – …)

  2. Rakai Panaraban (1-4-784 M – …)

  3. Rakai Warak Dyah Manara (28-3-803 M – …)

  4. Dyah Gula (5-8-827 M – …)

  5. Rake Garung anak Sang Lumah i Tluk (24-1-828 – 5-8-847 M)

  6. Rake Pikatan Dyah Saladu (22-2-847 – 27-5-855 M)

  7. Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala (27-5-855 – 5-2-885 M)

  8. Dyah Tagwas (5-2-885 – 27-9-885 M)

  9. Rake Panumwangan Dyah Dewendra (27-9-885 – 27-1-857 M)

  10. Rake Gurunwangi Dyah Bhadra (27-1-887 – 24-2-887 M)

  11. Rake Wungkalhumalang Dyah Jbang (27-11-894 – 23-5-898 M)

  12. Sri Maharaja Rake Watukara Dyah Balitung Sri Iswarakesawotsawattungga Rudramurti (23-5-898 M – …) (taken from here)

13096290_10201752324605635_3435289466632331297_n

Photo’s taken from here.

Pasar Era Mataram Kuno

Titi Surti Nastiti, seorang ahli arkeologi dan epigrafi Pusat Arkeologi Nasional, pernah menyelisik pasar zaman Mataram Kuno (Medang) lewat metode arkeologi sejarah dan etnoarkeologi. Berdasarkan kajiannya terhadap prasasti-prasasti yang berkaitan pasar semasa menunjukkan bahwa pasar tidak hanya berperan sebagai pemenuhan kebutuhan ekonomi, tetapi juga kebutuhan sosial.


Prasasti-prasasti yang diteliti adalah Panggumulan (824 Saka/902 M) koleksi Museum Sonobudoyo, Yogyakarta; Turyyan (851 Saka/929 M) dan Muncang (866 Saka/944 M) koleksi Museum Mpu Purwa, Malang-Jawa Timur; Rukam (829 Saka/907 M) koleksi Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah; dan Waharu IV (853 Saka/931 M) koleksi Museum Nasional, Jakarta.


Jika kita berkesempatan melancongi pasar di Jawa Tengah atau Jawa Timur, tentunya kita masih menemukan sebagian pasar yang digelar atau ramai pada hari-hari tertentu. Pada kenyataannya tradisi ini sudah ada sejak masa Mataram Kuno (Medang) Masyarakat Jawa kuno telah mengenal hari pasaran yang berjumlah lima atau pancawara. Mereka menyebutnya Umanis (Manis), Pahing, Pwan (Pon), Wagai (Wage), Kaliwuan (Kliwon). Dalam satu rotasi disebut sepasar, istilah ini masih berlanjut hingga kini.


Untaian aksara pada prasasti Panggumulan berdasarkan telaah, memaparkan bahwa pada hari pasaran itulah orang-orang datang dari satu desa ke desa lain untuk berdagang.


Sementara dari prasasti Panggumulan dan prasasti Rukam,menyebutkan jenis-jenis ikan asin dan dendeng ikan lainnya yang disajikan di pasar yang tak jauh berbeda dengan di konsumsi masayarakat perdesaan kini.


Mereka melakukan transaksi dengan potongan-potongan emas dan perak, demikian menurut berita Cina dari Dinasti Song, juga temuan pada prasasti. Namun, tampaknya penggunaan emas dan perak hanya untuk transaksi barang yang nilainya tinggi, sedangkan untuk jual beli barang kebutuhan sehari-hari, mereka menggunakan koin Cina.


Pada zaman Mataram Kuno (Medang), seperti yang tertulis dalam prasasti Panggumulan, pasar berperan juga sebagai tempat interaksi sosial. Interaksi membuat orang-orang yang tadinya tidak saling kenal menjadi memiliki hubungan kekerabatan.


Prasasti Panggumulan merupakan prasasti yang paling menarik alasannya, isi prasasti itu mengenai masalah tanah dan bagaimana rakyat jelata bisa membeli tanah, meskipun dalam undang-undang menyebutkan bahwa tanah adalah milik raja.


Prasasti lain yang juga menarik lainnya adalah prasasti Turyyan, yang hingga kini ada di tempat aslinya (belum dipindahkan). Berlokasi di Desa Turen, yang merupakan penyesuaian bunyi dari Turyyan. Tampaknya, inilah salah satu toponimi pada masa Medang yang masih lestari. Kedudukan sungai dan pasar masih sesuai dengan yang disebutkan dalam prasasti.


Prasasti tersebut juga menyebutkan contoh komoditi yang biasa dipikul pedagang, seperti pakaian, perkakas logam (tembaga, besi, perunggu, timah), daun untuk pembungkus, kapur, kapas, mengkudu, minyak, gula, beras, dan lainnya.

Lalu, di manakah pasar-pasar kuno itu berlokasi? Berdasar prasasti Truyyan dan Muncang tinggalan Sri Maharaja Rakai Hino Sri Isana Wikramadharmottunggadewa, pasar umumnya terletak di dekat aliran sungai atau kawasan strategis untuk lalu lintas perdagangan. Bahkan, Penulis berkesempatan melancongi sebuah pasar di Jombang, Jawa Timur, yang masih berlokasi di tepian Sungai Brantas.

Sisi lain pasar sebagai fungsi sosial adalah digunakannya pasar sebagai tempat pusat informasi dan komunikasi, juga kesenian. Pasar dijadikan tempat pelaksanaan upacara penetapan lokasi bangunan suci. Di pasar nan ramai pula para punggawa kerajaan mengumumkan kebijakan raja, dan pertunjukan tarian keliling berpentas.

Rupa-rupanya, budaya dari masa ratusan tahun lalu itu masih berlanjut di sebuah pasar di Jawa hingga hari ini—meskipun sudah langka. Ketika Penulis melakukan studi etnoarkeologi, dia pun mendapati bahwa Pasar Turen masih menjadi corong berita kemalangan warga sekitar: sakit atau meninggal dunia.

Taken from here.

Prasasti Laguna/ Prasasti Keping Tembaga Laguna

PRASASTI BERBAHASA JAWA KUNO DAN MELAYU KUNO DI FILIPHINA.

Bahasa kuno di Nusantara era Medang Mataram.

Telah ditemukan sebuah prasasti beraksara kawi (Jawa kuno) di Filipina pada tahun 1989 M yang dinamakan para ahli sebagai prasasti Laguna. Prasasti ini dibuat pada tahun 900 M sesuai dengan yang tertera pada isi prasasti (822 saka), jauh setelah Medang Mataram berpisah dengan Sriwijaya di era Balaputradewa dan Rakai pikatan pada 856 M.

Prasasti ini sekaligus membuktikan bahwa Filiphina memiliki sejarah dan peradaban jauh sebelum Spanyol menjajah Filipina. Pada dekade-dekade sebelumnya, terdapat propaganda yang disebar pemerintah Filiphina dan dipercaya oleh dunia yang menyatakan bahwa sejarah dan peradaban awal Filipina dimulai secara signifikan sejak kedatangan para conquistador dan misionaris Spanyol ke kepulauan yang kemudian dinamai Philiphina sesuai nama raja agung spanyol, Philiph. Benarkah demikian??

Sejarawan Filipina mulai menolak pendapat tersebut sejak ditemukannya prasasti Laguna dan mulai menghubungkan sejarah negeri mereka dengan Medang Mataram. Satu cuplikan isi prasasti tersebut berbunyi, “ Sang Tuan yang terhormat dari binwangan mengakui semua kerabat Namwaran yang masih hidup dan yang telah diklaim penguasa dewata, yang diwakili oleh sang penguasa Medang “.

Prasasti ini menurut sejarawan Filipina merupakan bukti bahwa sejak dahulu daerah kepulauan Filipina sudah memiliki peradaban dan ada dalam pengaruh Medang Mataram. Bahasa yang digunakan dalam prasasti ini menurut para ahli sejarah Filipina adalah bahasa campur aduk dengan unsur Jawa kuno, Melayu kuno dan ada unsur sansekerta bahkan bahasa tagalog lokal di dalamnya. Prasasti ini bisa menjadi petunjuk tentang bahasa persatuan nusantara di era abad ke 7-9 masehi era Medang Mataram.

Wacana yang dapat ditarik dari sini adalah apakah benar bahasa jawa kuno dan melayu kuno adalah dua hal yang beda atau malah bahasa yang sama namun menjadi sedikit beda karena letak geografis dan perkembangan budaya di masing-masih daerah yang terpisah laut?? Yang jelas ada sangat banyak kemiripan antara bahasa Jawa kuno dan Melayu kuno yang menurut kami dapat dianalogikan dengan kasus bahasa Jawa Tengah dan Jawa Timur di era modern ini. Bahasa yang digunakan di dua daerah ini secara bentuk, lafal dan intonasi adalah cukup beda namun masih dianggap sebagai variasi bahasa jawa secara umum dan penduduk di dua tempat itu masih bisa mengerti saat diajak berbicara dengan variasi bahasa Jawa yang beda.

Demikian halnya dengan kasus bahasa Jawa kuno dan Melayu kuno. Keduanya secara virtual nampak agak beda namun sebenarnya sangat mirip. Kedua bahasa ini tentu berasal dari bahasa yang sama dan memiliki banyak varian lain di pulau pulau lain di Nusantara yang mirip dengan kedua bahasa tersebut. Mengingat luasnya nusantara yang terpisah-pisah oleh laut, penyebaran bahasa kepulauan ini hanya mungkin terjadi dikarenakan dahulunya seluruh kepulauan bersatu atau mungkin dipersatukan.

Inilah bukti bahwa seluruh nusantara bahkan ASEAN (baca postingan sebelumnya) pernah disatukan oleh Medang Mataram.

sumber:
philiphine laguna inscription
paul morrow’’s the laguna copperplate inscription
wikipedia: history of philiphine
wikipedia: sailendra

Note: Sriwijaya dianggap sama dengan Medang Mataram karena diperintah oleh wangsa yang sama, wangsa Syailendra.

Taken from here.

Informasi lainnya:

Prasasti Keping Tembaga Laguna atau Lempeng Tembaga Laguna ditemukan 1989 di Laguna de Bay, Manila, Filipina. Penanggalan yang tertera menunjukkan tahun 822 Saka, atau 21 April, 900. Prasasti ini menggunakan bahasa Melayu Kuna meskipun banyak kata-kata dari bahasa Sanskerta, bahasa Jawa Kuna, dan bahasa Tagalog Kuna, serta ditulis dengan aksara Kawi.

Gulungan tembaga ini agak berbeda pembuatannya apabila dibandingkan dengan gulungan tembaga dari Jawa semasanya. Huruf-huruf pada keping Laguna ditatah pada kepingnya langsung, sedangkan di Jawa ditulis pada keping yang dipanaskan dan menjadi lunak.

Isi

Isi prasasti ini mengenai pernyataan pembebasan hutang emas terhadap seseorang bernama Namwaran. Di dalamnya juga menyebutkan sejumlah nama tempat di sekitar Filipina (Tondo, Pila, dan Pulilan), serta menyebut nama “Mdan” (kemungkinan besar Kerajaan Medang di Jawa), serta beberapa tempat yang belum bisa dipastikan seperti Dewata. Prasasti ini menjadi petunjuk mengenai adanya pengaruh Kerajaan Sriwijaya di Pulau Luzon pada awal abad ke-10. Sekarang dokumen ini tersimpan di Museum Nasional Filipina.

Alihaksara

Swasti Shaka warsatita 822 Waisaka masa di(ng) jyotisa. Caturthi Krisnapaksa somawara sana tatkala Dayang Angkatan lawan dengan nya sanak barngaran si Bukah anak da dang Hwan Namwaran dibari waradana wi shuddhapattra ulih sang pamegat senapati di Tundun barja(di) dang Hwan Nayaka tuhan Pailah Jayadewa.

Di krama dang Hwan Namwaran dengan dang kayastha shuddha nu diparlappas hutang da walenda Kati 1 Suwarna 8 di hadapan dang Huwan Nayaka tuhan Puliran Kasumuran.

dang Hwan Nayaka tuhan Pailah barjadi ganashakti. Dang Hwan Nayaka tuhan Binwangan barjadi bishruta tathapi sadana sanak kapawaris ulih sang pamegat dewata [ba]rjadi sang pamegat Medang dari bhaktinda diparhulun sang pamegat.

Ya makanya sadanya anak cucu dang Hwan Namwaran shuddha ya kapawaris dihutang da dang Hwan Namwaran di sang pamegat ‘Dewata.

Ini grang syat syapanta ha pashkat ding ari kamudyan ada grang urang barujara welung lappas hutang da dang Hwa …

Terjemahan bebas

Swasti. Tahun Saka 822, bulan Waisakha, menurut penanggalan. Hari keempat setelah bulan mati, Senin. Di saat ini, Dayang Angkatan, dan saudaranya yang bernama si Bukah, anak-anak dari Sang Tuan Namwaran, diberikan sebuah dokumen pengampunan penuh dari Sang Pemegang Pimpinan di Tundun (Tondo sekarang), diwakili oleh Sang Tuan Nayaka dari Pailah (Pila sekarang), Jayadewa.

Atas perintahnya, secara tertulis, Sang Tuan Namwaran telah dimaafkan sepenuhnya dan dibebaskan dari hutang-hutangnya sebanyak satu Katî dan delapan Suwarna di hadapan Sang Tuan Puliran Kasumuran di bawah petunjuk dari Sang Tuan Nayaka di Pailah.

Oleh karena kesetiaannya dalam berbakti, Sang Tuan (Yang Terhormat) yang termasyhur dari Binwangan mengakui semua kerabat Namwaran yang masih hidup, yang telah diklaim oleh Sang Penguasa Dewata, yang diwakili oleh Sang Penguasa Medang.

Ya, oleh sebab itu seluruh anak cucu Sang Tuan Namwaran sudah dimaafkan dari segala hutang Sang Tuan Namwaran kepada Sang penguasa Dewata.

(Pernyataan) ini, dengan demikian, menjelaskan kepada siapa pun setelahnya, bahwa jika pada masa depan ada orang yang mengatakan belum bebas hutangnya Sang Tuan … (taken from here).

Informasi tambahan:

Prasasti Laguna adalah bentuk tertulis yang paling tua dalam sejarah Filipina. Prasasti laguna sendiri ditemukan pada tahun 1989 oleh Alfredo E Evangelista di kawasan Laguna de Bay, di Manila. pada prasasti tersebut berangka tahun 822 Saka, yang bersamaan dengan tanggal 21 April tahun 900 M. Prasati ini ditulis dengan menggunakan menggunakan aksara Kawi, yaitu aksara yang digunakan pada masa Hindu-Buddha di Indonesia, dengan bahasa yang bervariasi antara bahasa Melayu Kuno, beberapa kata yang diduga merupakan diambil dari bahasa Jawa Kuno, dan beberapa kata yang diduga berasal dari bahasa Tagalog Kuno. Prasasti ini, bersama dengan penemuan lain yang diketemukan akhir-akhir ini di negara tersebut seperti Golden Tiara dari Butuan, tembikar dan artifak perhiasan emas dari abad ke-14 yang ditemukan di Cebu, merupakan hal yang sangat penting dalam upaya merevisi sejarah kuno Filipina (900–1521).

Penemuan
Pada tahun 1989, penambang pasir yang bekerja di sungai Lumbang di daerah Laguna, Filipina, menemukan gulungan tembaga dengan tulisan-tulisan yang aneh tertera di atasnya. Merasa penemuannya merupakan penemuan yang penting, dia kemuidan menjualnya kepada penjual barang antik di Manila. Penjual barang antik yang membelinya tersebut kemudian menjualnya kembali kepada Alfredo E Evangelista, kepala Divisi Antropologi dari Museum Nasional Filipina, karena tidak ada yang mau membeli benda tersebut.

Tahun berikutnya, artefak tersebut kemudian direstorasi dan dilabeli sebagai Prasasti Tembaga Laguna (Laguna Copperplate Inscription/LCI) oleh Museum Nasional Filipina. Setelah itu, artefak tersebut diteliti oleh Antoon Postma, Antropolog asal Belanda. Antoon Postma dengan bantuan dari ahli naskah Indonesia kuno, Dr. Johann de Casparis, mengenali tulisan yang ada di prasasti berhubungan dengan aksara Indonesia kuno, yaitu aksara Kawi. Dalam proses translasi, Postam menemukan bahwa prasasti itu bertanggalkan 822 Saka, setara dengan tahun 900 pada pertanggalan modern. Pada tahun 1996, Hector Santos, seorang peneliti dari Amerika, menemukan bahwa 21 April tahun 900 M merupakan tanggal pasti prasasti itu dibuat.

Isi
isi dari prasasti Laguna sendiri menurut Hector Santos menjelaskan tentang pembayaran hutang yang dilakukan oleh pemegang dari prasasti tersebut, yaitu seseorang yang bernama Namwaran. besarnya hutang itu sendiri sebesar 1 kati dan 8 suwarna (kira2 sebesar 865 gram emas). prasasti itu juga menyebut beberapa tempat seperti Tondo, Pila, dan Pulilan yang berada di kawasan Manila Bay beserta tempat yang disebutkan di prasasti dengan sebutan Mdan. para ahli berpendapat bahwa nama Mdan berasal dari Kerajaan Medang (Mataram) di Indonesia.

Pentingnya Prasasti Laguna bagi Filipina dan Kaitannya dengan Indonesia
Prasasti Laguna merupakan salah satu artefak terpenting yang dimiliki oleh Filipina. hal ini dikarenakan artefak ini merevisi masa sejarah Filipina. sebelum penemuan prasasti ini, sejarawan berpendapat bahwa Filipina baru mengenal sistem penulisan pada saat masa pendudukan Spanyol dan menganggap bangsa Filipina Sebagai bangsa yang terisolir dari peradaban bangsa di sekitarnya, karena tidak ada bukti yang menandakan bahwa bangsa Filipina memiliki sistem penulisan sebelum masa penjajahan Spanyol. dengan ditemukannya prasasti ini, menjadi bukti bahwa Filipina telah mengenal sistem penulisan sebelum masa pendudukan Spanyol, yaitu pada sekitar abad 10 M. selain itu, prasasti ini juga menjadi bukti bahwa bangsa Filipina bukanlah bangsa yang terisolir dari bangsa sekitarnya, berdasarkan sistem penulisan yang dipakai pada prasasti. setidaknya berdasarkan prasasti ini bangsa Filipina telah mempunyai hubungan dengan bangsa Indonesia, terutama dengan kerajaan Mataram di Jawa. ditambah juga dengan sistem pertanggalan India yang dimuat pada prasasti tersebut, bisadiperkirakan bahwa bangsa Filipina sebelum masa penjajahan Spanyol adalah penganut Hindu atau Buddha. saat ini Prasasti Laguna ini disimpan di Museum Nasional Filipina (taken from here).

Prasasti Munggu Antan

Prasasti Munggu Antan

Prasasti Munggu Antan berangka tahun 808 Saka (887 M), ditulis dengan aksara dan berbahasa Sansekerta. Prasasti ini merupakan prasasti batu berbentuk lingga berukuran tinggi 70 cm dengan diameter 24 cm, yang ditemukan di daerah Bulus, Balak, Magelang, Jawa Tengah.

Prasasti ini menceritakan tentang peresmian Desa Munggu Antan menjadi perdikan bagi sebuah biara di Gusali oleh Sang Pamgat Munggu dan adik perempuannya Sang Hadyan Palutungan atas perintah dari Sri Maharaja Rakai Gurunwangi.

Prasasti ini sekarang disimpan di Museum Nasional dengan No. Inventaris D.93.

Taken from here.

This site is protected by wp-copyrightpro.com