Arca: Asli/ Palsu

Seiring maraknya bisnis arca-arca kuno, tentulah ada pikiran negatif untuk menipu konsumen. Dari sejumlah perajin arca di Desa Prumpung, Magelang, diketahui ada berbagai cara untuk membuat suatu arca agar berkesan antik. Selain diberi perasan air kunyit atau air teh, arca pun harus dipendam di dalam tanah selama beberapa bulan.

Buat masyarakat awam, termasuk para arkeolog, memang terasa sulit apabila harus mengidentifikasi mana arca asli dan mana arca palsu. Apalagi jika seorang pakar hanya melihat gambarnya, tanpa mengamati detil, tekstur, atau kelenturan (plastisitas) koleksi. Namun sekadar gambaran, menurut penelitian para pakar ikonografi (pengetahuan tentang seni arca kuno), setiap arca Buddha dan Hindu sudah memiliki gaya dan ciri tertentu.

Penggambaran arca Buddha diketahui sangat sederhana. Tanpa sesuatu hiasan, hanya memakai jubah. Tanda-tanda utamanya adalah rambutnya selalu keriting, di atas kepala ada tonjolan seperti sanggul (usnisa), dan di antara keningnya ada semacam jerawat (urna).

Tokoh (dewa) mana yang dilukiskan oleh arca Buddha itu, diketahui lewat sikap tangan (mudra) dan ciri khusus lain (laksana) setiap tokoh. Agama Buddha mengenal Dhyanni-Buddha, Dhyanni-Boddhisattwa, dan Manusi-Buddha. Masing-masing berjumlah lima dan menempati empat arah mata angin pokok (Utara, Selatan, Barat, Timur) ditambah satu di pusat.

Dalam agama Hindu, arca dihubungkan dengan seorang raja yang telah wafat. Arca tersebut ditempatkan di dalam candi karena dianggap titisan dewa. Sebagai pendamping, kemudian dibuatkan beberapa arca dewa-dewi. Untuk membedakan dewa yang satu dengan dewa lainnya, maka setiap arca digambarkan dengan laksana sendiri-sendiri.

Setiap arca dewa pun memiliki ciri dan menempati lokasi tertentu sesuai dengan delapan arah mata angin, seperti halnya arca Buddha. Dengan demikian mudah diidentifikasi bila terjadi pencurian, pemenggalan, atau perbuatan negatif lainnya terhadap arca-arca kuno itu.

Dua Langgam

Umumnya arca merupakan bagian dari suatu candi. Karena terbuat dari batu, tentulah bobotnya terlalu berat. Maka agar lebih ringan, sebagai gantinya masyarakat kuno membuat arca logam yang relatif kecil untuk persembahan atau pemujaan di rumah. Justru bagi para peneliti zaman sekarang, mengidentifikasi arca logam memiliki sedikit kendala dibandingkan arca batu.

Arca logam mudah sekali diangkut ke sana ke mari, sehingga sukar ditetapkan apakah arca logam itu benar-benar diperoleh dari suatu situs arkeologi atau bukan. Kesulitan lainnya adalah menentukan masa sejarah arca tersebut, kecuali kalau ada tulisan atau angka tahun. Karena itu, perkiraan umur arca logam biasanya hanya berdasarkan pada corak atau bentuknya.

Lagi pula, umumnya kesenian India terikat oleh beberapa peraturan, meskipun peraturan-peraturan itu tidak membekukan daya cipta para seniman. Semuanya tersirat pada sejumlah kitab, seperti Silpasastra, Visnudharmottaram, dan Vastusastra (Sutjipto Wirjosuparto, Sedjarah Seni Artja India, 1956).

Keindahan seni India bisa dilihat dari bagian-bagian badan arca yang proporsional. Misalnya jarak antara mata harus sekian tala (semacam ukuran panjang). Begitu juga jarak dari mata ke hidung, hidung ke mulut, mulut ke dagu, dan seterusnya.

Selain itu, bagian-bagian arca harus menyerupai atau mendekati bentuk sesuatu yang dijadikan “patokan utama”. Beberapa persyaratan itu, harus menyerupai hewan atau tumbuhan yang dianggap fantastis. Bagian-bagian badan yang dianggap paling vital adalah muka, kening, mata, telinga, hidung, bibir, leher, dagu, dada, bahu, tangan, jari, pinggang, kaki, dan lutut.

Pada dasarnya seni pahat arca kuno di Indonesia terbagi atas dua langgam, yakni langgam Jawa Tengah dan langgam Jawa Timur. Arca langgam Jawa Tengah dinilai sangat indah, betul-betul menggambarkan seorang dewa dengan segala-galanya. Arca langgam Jawa Timur agak kaku, mungkin karena sengaja disesuaikan untuk menggambarkan seorang raja atau pembesar negara yang telah wafat (Soekmono, Sejarah Kebudayaan Indonesia 2, 1973).

Berbagai ciri pada arca juga menjadi petunjuk untuk menempatkannya dalam masa sejarah tertentu. Arca-arca dari masa Singasari, misalnya, mempunyai kekhususan dibandingkan arca-arca dari masa Majapahit. Begitu pula sebaliknya.

Mudah-mudahan dengan pengenalan singkat ini, Anda tidak tertipu oleh arca kuno yang ternyata palsu.

15350626_1105426196241257_2600374227579301316_n 15326604_1105427186241158_2987104392093190377_n 15355849_1105426832907860_3615965281808727751_n 15380622_1105426219574588_5041336502255424124_n 15285087_1105427012907842_7117874460527247868_n 15391200_1105426719574538_4520683758823270586_n 15267790_1105426186241258_8801683702303522000_n

Sumber :
Djulianto Susantio

Arca

Arca dalam bahasa Inggris disebut icon, yang berarti patung atau gambaran orang suci (John M. Echols dan Hassan Shadily, 1983: 309). Kata icon berasal dari bahasaYunani eikon yang searti dengan kata-kata Sansekerta arcã, bera, vigrha, dan pratima.Kata arcã diartikan sebagai gambaran, arca dewa. Kata bera mempunyai arti perwujudan atau arca (dewa), kata vigrha berarti perpaduan, perwujudan (dewa), dan kata pratima yang berarti perwujudan jasmani seorang dewa yang dipuja (Maulana, 1997: 2). Di dalam mempelajari tentang arca dikenal ilmu ikonografi dan ikonometri yang merupakan cabang dari ilmu ikonologi. Ikonografi mempelajari system tanda-tanda sebagai penentu identitas arca, sedangkan ikonometri adalah seni mengukur bagian badan arca dengan menggunakan ikonometer. Ikonometri merupakan hal yang sangat penting bagi seniman pembuat arca, karena merupakan ketentuan pokok yang dijadikan pedoman dalam pembuatan arca. Di India pedoman mengenai ukuran arca termuat dalam kitab Silpasastra, yaitu suatu kitab yang berisi petunjuk penting untuk pembuatan arca. Dalam Ikonometri, ukuran arca ditetapkan dengan sistem talamana, yang merupakan pedoman pengarcaan tokoh dari segi proporsi berdasarkan tala-nya. Tala adalah ukuran relatif menggunakan pedoman wajah atau telapak tangan tokoh yang diarcakan (Pramastuti, 1979: 2, 8). Dalam pembuatan arca dewa terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh si pembuat arca, termasuk bahan-bahan yang digunakan harus memenuhi ketentuan-ketentuan. Jenis-jenis bahan yang dapat digunakan untuk membuat arca di sebut dalam kitab Hayasirsa, Pancacatra, antara lain bahan tanah (mrnmayi), kayu (darughatita), logam (lohaja), permata (ratnaja), batu (sailaja), ramuan wewangian (gandhaja), bunga (kausumi) dan lain-lain. (Pramastuti, 1979: 4). Dalam menggunakan masing-masing bahan tersebut juga berlaku ketentuan-ketentuan yang tidak dapat ditinggalkan oleh seorang pembuat arca. Khusus arca dari bahan batu terdapat ketentuan antara lain : batu harus berwarna tunggal dan berkualias, yang tertanam dalam tanah atau terendam airyang berasal dari sumber air suci, permukaan batu harus rata, dan batu yang tidak mengandung butiran-butiran pasir kasar (Pramastuti,1979: 5). Jenis bahan batu yang digunakan untuk membuat arca adalah batu andesit yang sumber bahannya dari gunung, misalnya Gunung Merapi, Merbabu dan sebagainya. Batu andesit yang dipilih untuk membuat arca adalah yang berkualitas baik.

15350626_1105426196241257_2600374227579301316_n 15350525_1105699789547231_5064876882999690640_n 15350494_1105699886213888_1954141750743875261_n 15350480_1105699809547229_8431036077750940636_n 15349829_1105699899547220_8185113492724114168_n 15338745_1105699979547212_6027824950644658818_n 15327288_1105699916213885_2666142183746956306_n 15319276_1105700026213874_5397991426853539184_n

Source :
Katalog Arca Batu 2014

Deskripsi dokumen Sutasoma (by Perpustakaan Universitas Indonesia)

Sebuah deskripsi dokumen:

Lontar ini berisi teks Kakawin Sutasoma, yaitu kisah upaya Sang Sutasoma sebagai titisan Sang Hyang Buddha untuk menegakkan dharma. Sutasoma, putra Prabu Mahaketu dari kerajaan Astina, lebih menyukai memperdalam ajaran Buddha Mahayana daripada harus menggantikan ayahandanya menjadi raja. Sutasoma pergi ke hutan untuk melakukan semadi di sebuah candi dan mendapat anugerah. Kemudian beliau pergi ke gunung Himalaya bersama beberapa pendeta. Di sebuah pertapaan, beliau mendengar cerita tentang raja raksasa bernama Prabu Purusada yang gemar makan daging manusia. Para pendeta dan Batari Pretiwi membujuk Sutasoma agar membunuh Prabu Purusada. Sutasoma menolak bujukan tersebut karena ingin melanjutkan perjalanan. Beliau bertemu dengan raksasa berkepala gajah pemakan manusia dan ular naga. Keduanya takluk dan bersedia menjadi muridnya untuk mempelajari agama Budha. Sutasoma juga bertemu dengan harimau betina yang akan memakan anaknya sendiri. Dalam perkelahian ini Sutasoma mati tetapi dihidupkan kembali oleh Batara Indra. Tersebutlah sepupu Sutasoma bernama Prabu Dasabahu, berperang dengan anak buah Prabu Kalmasapada (Purusada). Anak buah Prabu Kalmasapada kalah dan minta perlindungan Sutasoma. Prabu Dasabahu yang terus mengejar, akhirnya tahu bahwa Sutasoma itu sepupunya, lalu diajak ke negerinya dan dijadikan ipar. Setelah kembali ke Astina, Sutasoma dinobatkan sebagai raja bergelar Prabu Sutasoma. Cerita dilanjutkan dengan kisah Prabu Purusada dalam membayar kaul kepada Batara Kala. Prabu Sutasoma bersedia menjadi santapan Batara Kala, sebagai ganti atas ke-100 orang raja sitaan Purusada. Mendengar permintaan raja Astina tersebut, Prabu Purusada menjadi sadar akan perbuatannya dan berjanji tidak makan daing manusia lagi. Judul luar teks yang berbunyi Sri Bajra Jnana (tulisan latin), rupanya keliru, karena sesungguhnya merupakan baris pertama dari bait pertama, yang dituangkan ke dalam pupuh Sragdhara (pupuh I). Naskah ini dikarang oleh Mpu Tantular pada jaman Majapahit (h.l47a baris ke-4). Nampak beberapa teks telah diperbaiki dengan tulisan pensil. Keterangan penulisan atau penyalinan teks ini tidak diketahui secara jelas, hanya disebutkan tempat penyalinan wesma Sri Gandi, oleh sangapatra: awirbhuja putraka siwa sudda (?). Informasi tentang daftar pupuh dari Kakawin Sutasoma ini, lihat Kakawin Sutasoma suntingan I G. B. Sugriwa, yang diterbitkan oleh toko buku Bali Mas Denpasar Bali, dan dalam Kalangwan karya P.J. Zoetmulder. Informasi mengenai teks Sutasoma ini dapat dilihat pada Pigeaud 1970: 402; MSB/L.449; Kirtya/114, 974, 910, 2352, 1148, 2290; Brandes. III: 147-157; PNRI/000 L 557; Juynboll I: 140-143.

Taken from here.

Pertumbuhan Kerajaan Melayu Sampai Masa Adityawarman (by Drs. Alian, M.hum)

Kerajaan Melayu adalah salah satu kerajaan awal di Indonesia yang terletak di Jambi. Ada dua kerajaan di Sumatera yang memiliki masa perkembangan yang relatif sama waktunya, dan memiliki wilayah kekuasaan yang yang hampir bersamaan secacra geografis, kerajaan tersebut adalah Melayu dan Sriwijaya. Sumber utama yang dapat membuka tabir kerajaan ini adalah berasal dari Cina. Menurut berita dari dinasti T’ang pada tahun 644 dan 645 sudah datang utusan Melayu ke Cina. Selanjutnya, Berita I-tsing menjelaskan bahwa pada tahun 671 ia pernah mampir di kerajaan Melayu dalam perjalanannya dari Sriwijaya ke India. Namun pada tahun 685 Melayu sudah menjadi wilayah kerajaan Sriwijaya. Setelah itu lama tidak terdengar beritanya, barulah pada tahun 1275 Kertanegara mengirimkan tentaranya ke Melayu. Pengiriman ini disebut ekspedisi Pamalayu dengan tujuan untuk membebaskan Melayu dari kekuasaan kerajaan Sriwijaya, serta menjalin kerjasama sebagai kerajaan yang berserikat dengan Kertanegara. Puncak kejayaan kerajaan Melayu terjadi pada masa raja Adityawarman yang memerintah dari tahun 1347-1375.

Kata kunci: Kerajaan Melayu, ekspedisi Pamalayu, Adityawarman

PENDAHULUAN

Tidak banyak penulis memuat tulisan tentang sejarah melayu, apa lagi di buku-buku materi pelajaran sekolah menengah hampir tidak ada, karena itu keberadaan sejarah ini sering terlupakan. Hal ini diakui banyak penulis sperti Soekmono (1992: 1) mengatakan sejarah kerajaan melayu masih diliputi kegelapan. Sampai sekarang berita tentang ini masih bersandar kepada berita-berita Cina yang sulit sekali diitafsirkan sehingga gambaran dan cerita sejarahnya yang disajikan oleh para pakar masih tidak menentu.

Hal ini kiranya cukup nampak dari apa yang tertera dalam buku Sejarah Nasional Indonesia jilid II, disebutkan bahwa dari kitab sejarah dinasti Liang kita memperoleh keterangan bahwa antara tahun 430-475 masehi beberapa kali utusan dari Ho-lo-tan dan Kan-t’o-li datang di Cina. Ada juga utusan dari To-lang, P’o-hwang. Kan-t’o-li ini terletak di salah satu pulau di laut selatan. Adat kebiasaannya serupa dengan di kamboja dan Campa. Hasil negerinya yang terutama pinang, kapas dan kain berwarna. Sedangkan dalam kitab sejarah dinasti Ming disebutkan bahwa San-fo-sai dahulu disebut juga Kan-t’o-li. Menurut G. Ferrand Kan-t’o-li di dalam berita Cina ini mungkin sama dengan Kendari yang terdpat di dalam berita dari Ibn Majid yang berasal dari tahun 1462 masehi. Karena San-fo-tsi dahulu disebut juga Kan-t’o-li, sedangkan san-fo-tsi diidentifikasikan dengan Sriwijaya, maka

Ferrand menafsirkan Kan-t’o-li letaknya di Sumatera dengan pusatnya di Palembang. Kemudian To-lang, Po-hwang disamakan dengan Tulangbawang. Dalam hubungan ini Poerbatjaraka juga menduga bahwa To-lang dan Po-hwang yang disebut di dalam sejarah dinasti Liang, merupakan sebuah kerajaan di daerah aliran sungai Tulangbawang, Lampung. Kerajaan Tulangbawang ini kemudian ditaklukan oleh kerajaan lain, karena berita Cina hanya sekali saja menyebut keajaan ini. Sementara itu J.L. Moens mengidentifikasikan Singkil Kandari dalam berita Ibn Majid dengan Kan-t’o-li di dalam kitab sejarah dinasti Liang dan Ming. Sedangkan yang dimaksud dengan San-fot-tsi ialah Melayu (Poesponegoro, 1984: 79).

Dari keterangan di atas jelaslah agak membingungkan, namun demikikan adanya kerajaan melayu ini tidak terlepas dari berita Cina sebagai sumber utama. Tidak pula dapat dipungkiri bahwa berita pertama yang dengan jelas menyebutkan nama Malayu adalah berita Cina juga. Dari kitab sejarah dinasti T’ang didapat keterangan tentang datangnya utusan dari Mo-lo-yeu di Cina pada tahun 644 dan 645 masehi. Sudah barang tentu sulit dicarikan untuk menerima keberatan dalam mengidentifikasi kata Cina ini dengan malayu (Soekmono, 1992: 2).

Berita yang yang berharga dalam mengungkap kerajaan Melayu berasal dari berita I- tsing seorang pendeta Budha dari Cina yang berlayar dari Tamralipti ke Sriwijaya, ia singgah di Malayu (Muljana, 1981:32). Sumber lain menjelaskan bahwa Pelayaran I-tsing dilakukan pada tahun 671 diberitakannya bahwa I-tsing belayar dari Canton (Cina Selatan) ke Palembang (Sumatera Selatan). Menurutnya Palembang ketika itu menjadi kedudukan raja Sriwijaya. Kemudian pada tahun 672 I-tsing berlayar dari Sriwijaya ke India dengan kapal Sriwijaya, raja Sriwijaya juga ikut berlayar, saat ini kata I-tsing Malayu adalah Sriwijaya.Dari uraian I-tsing di atas jelas bahwa dalam abad ke tujuh Melayu memegang peranan penting dalam lalu lintas pelayaran dari Canton ke daerah-daerah di sebelah barat selat Malaka. Malayu adalah nama sebua kerajaan dan pelabuhan yang terletak di suatu tempat di selat Malaka antara Sriwijaya dan Kedah, pada zaman dahulu suatu kebiasaan bahwa nama ibukota sama dengan kerajaan. Kerajaan ini terletak di sebelah selatan Kedah, menurut Boechari Malayu terletak di pantai timur Sumatera dekat sungai Asahan.

Dari beberapa sumber tidak dijelaskan nama-nama raja yang memerintah, seperti yang telah penulis kemukakan hanya waktu berdiri dan letaklah yang dapat dipahami. Setelah ditaklukan Sriwjaya pada tahun 685, untuk jangka waktu yang lama tidak dijumpai nama Melayu. Pada pertengahan abad XIII dijumpai lagi nama Melayu di dalam kitab Pararaton dan kitab Negrakertagama. Di dalam kedua sumber tersebut disebutkan bahwa pada tahun 1275 raja kertanegara mengirimkan tentaranya ke Melayu pengiriman pasukan ini dikenal dengan sebutan Pamalayu. Selain itu dijelaskan dalam beberapa sumber bahwa Kerajaam Melayu mengalami puncak kejayaan pada masa raja Adityawarman.

Dari uraian di atas permasalahan pokok yang akan dibahas dalam makalah ini adalah Kerajaan Melayu sejak pertumbuhan sampai masa Adityawarman. Dari tema pokok ini akan diuraikan tentang: sejarah melayu, kerajaan Melayu dan swriwijaya, ekspedisi Pamalayu serta kerajaan Melayu pada masa raja Adityawarman. Semua ini akan penulis uraikan dengan menggunakan metode kepustakaan (Library Research), hasil kajian pustaka tersebut disusun dalam rangkaian sistematis sehingga terwujud tulisan deskriptif analitik.

KERAJAAN MELAYU

Seperti telah diuraikan pada bagian pendahuluan bahwa tabir pembuka adanya kerajaan Melayu di pantai timur Sumatera tidak terlepas adanya berita Cina. Pada masa awal (sebelum abad ke IV masehi) berita-berita Cina mengenai daerah ini masih sangat langkah. Menginjak abad ke V keterangan mengenai Asia Tenggara khususnya tentang wilayah sekitar selat Malaka, mulai meningkat dan menunjukan bahwa berita tersebut berasal dari pengunjungnya sendiri. Menurut Lapian hal ini membuktikan bahwa pelayaran orang Cina ke daerah ini semakin banyak, dan mencerminkan pula keramaian pelayaran di kawasan ini yang semakin meningkat. Jika sebelumnya pelayaran Cina dan orang asing lainnya dihubungkan dengan perdagangan antara negeri Cina dengan India dan kawasan Asia Barat, kawasan ini hanya berperan sebagai tempat singgah dalam jalur perdagangan masa kuno yang dikenal sebagai jalur sutra (Lapian, 1992: 4).

Berikut ini beberapa berita Cina yang dapat menjadi rujukan tentang keberadaan kerajaan Melayu, pertama berasal dari kitab sejarah dinasti T’ang didapatkan keterangan adanya utusan dari melayu datang ke Cina pada tahun 644 dan 645, jika ini terjadi dapat dikatakan ketika itu kerajaan Melayu sudah menancapkan kekuatan dan kekuasaan sebagai

kerajaan yang telah menjalin hubungan dengan bangsa luar. Kedua, berita yang lebih menarik dan lebih jelas berasal dari kisah perjalanan I-tsing, seorang pendeta Budha dari Cina yang pernah tinggal di Sriwijaya cukup lama. Dalam perjalanannya dari Kanton di Cina ke Nagapattam di India dalam tahun 671/672 ia singgah dulu di She-li-fo-she untuk belajar bahasa sanskerta selama enam bulan. Dari sini ia menuju Mo-lo-yeu, di mana ia tinggal selama dua bulan, untuk kemudian meneruskan perjalanannya ke Chieh-cha (Kedah) dan selanjutnya ke India. Dalam perjalanan pulangnya pada tahun 685 ia singgah lagi di Mo-lo- yeu, “yang telah menjadi She-li-fo-she”, selama enam bulan. Kisah perjalanan I-tsing ini memberi gambaran bahwa melayu adalah tempat persinggahan yang cukup penting, karena tidak dilewati begitu saja, baik dalam pelayaran dari Cina ke India maupun sebaliknya. Adapun letaknya dari bandar Melayu itu, kiranya dapat disimpulkan dari keterangan mengenai arah pelayaran yang diceritakan I-tsing. Pelayaran dari Sriwijaya ke melayu memakan waktu lima belas hari, dan demikian juga dari Melayu ke Kedah. Hanya saja dari melayu ke Kedah orang harus berganti arah (Soekmono, 1992: 2-3).

Menurut Coedes, penentuan letak kerajaan Melayu secara tepat sudah bertahun- tahun lamanya menjadi pokok pembicaraan. Apakah melayu itu ditempatkan di pantai Sumatera sebelah barat atau sebelah timur, ataupun di bagian selatan semenanjung Melayu. Namun demikian, bagaimanapun juga kesaksian musafir I-tsing menjadi petunjuk bahwa letak kerajaan melayu dekat dengan Che-li-fo-che (nama yang dipakai bangsa Cina untuk menyebut kerajaan Palembang sebelum dipakai nama San-fo-tsi). Berkat sebuah pasal dalam tulisan I-tsing, pencaplokan melayu oleh Che-li-fo-che dapat ditentukan waktunya yaitu antara tahun 672-675 (Coedes, 1989: 10). Dalam memoir I-tsing yang menyinggung adanya kerajaan Melayu, yang kemudian menjadi bagian dari kerajaan Sriwijaya dan terletak antara Sriwijaya dengan Kedah. Selanjutnya I-tsing menuliskan negara-negara di laut selatan yang memeluk agama Budha, terutama aliran Hinayana, di antaranya menurut I-tsing melayu. Menyimak dari keterangan I-tsing maupun catatan Cina lainnya, kerajaan Melayu yang dikunjungi I-tsing tahun 672 dalam pelayaraanya ke Nalanda terletak di dekat sungai Batanghari, sama dengan kota Jambi sekarang. Dengan kata lain dalam abad ke-7 kota Jambi bernama Melayu. Nama Jambi baru muncul pada abad ke 9 tepatnya pada tahun 853 masehi (Hanafiah, 1992:1).

Pendapat lain mengenai letak kerajaan Melayu dikemukakan oleh Boechari, ia juaga menganalisa perjalanan I-tsing dari Sriwijaya ke India, terutama perjalanan dari Melayu ke Kedah. Dalam berita I-tsing disebutkan bahwa setelah sampai di melayu, pelayaran berubah arah untuk menuju Kedah. Lebih lanjut Boechari mengatakan Melayu itu letaknya di sebelah selatan Kedah dan pelayaran ke Kedah memakan waktu lima belas hari, seperti halnya pelayaran Sriwijaya ke Melayu. Oleh karena itu Melayu ini haruslah terletak di tengah perjalanan Sriwijaya (di daerah Batang Kuantan) ke Kedah, yaitu kira-kira tiga derajat di sebelah utara khatulistiwa, di pantai timur Sumatera dekat sungai Asahan atau di pantai barat Malaysia dekat Port Swettenham. Tetapi dalam hal ini ia lebih cenderung untuk menempatkan Melayu di panttai timur Sumatera, sebab I-tsing harus merubah arah pelayarannya untuk mencapai Kedah (Pooesponogoro, 1984: 82-83).

Penulis lain yang telah mencoba merumuskan letak kerajaan Melayu adalah Saudagar Fachruddin. Ia mengungkapkan isi perasasti Amoghapasa yang bertarik 1286 masehi, disebutkan bahwa sebuah kerajaan Suwarnabhumi sebuah tempat Dharmasraya serta negeri melayu. Dengan memperhatikan isi prasasti Amoghapasa, yang ditemukan di Jambi serta geomorfologi kawasan Jambi maka kawasan pedalaman Jambi adalah kawasan akhir kerajaan Budha di Jambi. Tumbuh dan berkembangnya kerajaan Melayu di Jambi tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan Agama Budha di daerah ini. Pengaruh Agama Budha masuk ke daerah Jambi diperkirakan sekiatar awal abad I masehi, melalalui pantai timur Jambi dan menyusuri sungai Batanghari (Saudagar, 1992: 16-17).

Pendapat yang sama dikemukakan oleh Saragi (1977: 15) dijelaskan sejak abad I masehi bangsa Indonesia telah berhubungan dengan dua pusat kebudayaan di Asia yaitu India dan Cina. Hubungan dengan Cina kebanyakan berkisar dalam soal perdagangan, sedangkan hubungan dengan India selain dalam soal perdagangan juga dalam kebudayaan. Hubungan pelayaran dan perdagangan yang timbal balik antara India dengan Indonesia bergerak sejalan dengan proses saling mempengaruhi dalam kebudayaan. Proses ini berlangsung dalam waktu yang lama sehinnga lambat laun bangsa Indonesia menerima kebudayaan India karena dasar kebudayaan India dan Indonesia ketika itu banyak yang sama. Bila memperhatikan sisa peninggalan umat Budha di daerah Jambi berupa Candi, arca, dan situs purbakala ternyata Agama Budha memiliki sejarah yang panjang,

perkembangan agama Budha di Jambi mengalami enam masa, yaitu masa pertumbuhan, perkembangan, masa jaya, menurun dan masa tengelam dan muncul kembali.

KERAJAAN MELAYU DAN SRIWIJAYA

Menurut Budi Utomo ( 1992: 23), ada dua nama untuk menyebut kerajaan yang terdapat di Sumatera, Kedua nama tersebut mengacu kepada nama Sriwijaya. Nama itu adalah Shih-li-fo-shih dan San-fo-tsi dikenal oleh para pakar sejarah dan arkeologi sebagai nama dari kerajaan Sriwijaya sebelum abad ke-9 masehi dengan pusatnya di Palembang. Setelah Sriwijaya memindahkan ibukotanya ke Jambi, penyebutan berubah menjadi San-fo- tsi. Lebih lanjut ia mengatakan, untuk nama kerajaan melayu, berita Cina telah telah menyebutkannya dengan nama Mo-lo-yeu, seperti yang diberitakan oleh I-tsing. Antara Melayu dan Sriwijaya agaknya terjadi suatu persaingaan di mana kerajaan yang terlebih dahulu adalah kerajaan Melayu, yaitu pada tahun 644-645 masehi. Keberadaan kerajaan ini sudah diakui dengan diterimanya utusan melayu ke Cina.

Di dalam beberapa sumber dapat diakui bahwa antara kerajaan Melayu dan Kerajaan Sriwijaya sering membingungkan. Kerancuan-kerancuan ini terjadi dalam hal kronologi dan wilayah kerajaan. Seperti dimaklumi kerajaan Melayu dan kerajaan Sriwijaya memiliki masa perkembangan yang relatif sama waktunya, dan dan memiliki wilayah kerajaan yang hampir bersamaan secara geografis. Dari sumber-sumber tertulis yang ada, terutama berita Cina, dapat diketahui suatu fase dalam sejarah kerajaan Melayu yang merupakan fas e pendudukan oleh Sriwijaya. Fase pendudukan ini pada suatu ketika berkahir, dan kerajaan Melayu merdeka kembali. Dengan demikian dapat diketahui bahwa ada tiga fase delam sejarah perkembangan kerajaan Melayu, yaitu: fase I adalah fase awal, sekitar pertengahan abad ke-VII atau tahun 680 masehi. Fase ke II, masa pendudukan kerajaan Sriwijaya, kejadian ini sekitar tahun 680 sampai pertengahan abad ke-11. Fase ke III, adalah masa akhir kerajaan Melayu, sekitar pertengahan abad ke-11 sampai akir abad ke-14 dan awal abad 15 ( Djafar, 1992: 25).

Sehubungan dengan adanya tiga fase perkembangan kerajaan Melayu terebut, timbul masalah terutama yang berhubungan dengan fase ke II, masa pendudukan kerajaan Sriwijaya. Demikian juga masalah wilayah baik kerajaan Melayu maupun kerajaan Sriwijaya. Batasan keruangan dan kronologinya masih belum jelas, pergeseran kekuasaan

dapat saja menyebabkan perubahan dalam tata ruang wilayah kekuasaan, dan hal ini dapat pula menyebabkan salah satu sebab terjadinya kemungkinan pergeseran pusat kekuasaan dari suatu tempat ke tempat yang lain. Gejalah ini terjadi dalam sejarah kerajaan Melayu.

Antara kerajaan Melayu dan Sriwijaya selalu terjadi persaingan dan satu sama lain saling mendominasi. Suatu saat, ketika Sriwijaya lengah Melayu bangkit kembali dengan mengirimkan utusannya kembali ke Cina. Seperti yang terjadi sekitar pertengahanabad ke-II masehi, ketika kerajaan Sriwijaya lemah sebagai akibat dari serangan Cola, Melayu memanfaatkan kesempatan untuk bangkit kembali. Sebuah prasasti yang ditemukan di Srilangka menyebutkan, bahwa pada masa pemerintahan Vijayabahu di Srilangka (1055- 1100, pangeran Suryanarayana di Malayapura (Melayu) berhasil memegang tampuk pemerintahan di Suwarnapura (Sumatera).

Melayu merupakan sebuah kerajaan yang diangggap penting. Eksistensi kerajaan ini selalu diakui oleh beberapa kerajaan. Sebuah kerajaan besar di Nusantara yang mempertahankan keberadaannya sebagai kerajaan, seperti halnya kerajaan Srwijaya dan Majapahit. Dalam kitab Negarakertagama menyebutkan Melayu labih dahulu dan menyebutkan sebagai sebuah negara terpenting dari sebuah negara bawahan Majapahit. Wilayah kekeuasaan kerajaan ini meliputi seluruh daratan pulau Sumatera. Beberapa daerah yang merupakan “bawahan” Melayu seperti Jambi, Dharmashraya, Kandis dan Minangkabau berlokasi di daerah Sungai Batanghari. Karena disebutkan yang pertama, agaknya Jambi meruakan tempat yang penting. Pada waktu itu mungkin merupakan sebuah bandar yang penting dan bekas ibukota kerajaan. Pada masa Majapahit, ibukota kerajaan Melayu sudah berlokasi di Dharmashraya yang lokasinya di daerah hulu sungai Bantanghari (Budi Utomo, 1992: 24).

Menurut Lapian selain informasi I-tsing, berita Cina yang penting juga tentang kerajaan Melayu dan Sriwijaya adalah berasal dari Yi-Jing dari abad ke VII, ia menyebutkan pula nama-nama tempat lain di Nusantara, hal ini menunjukan pengetahuan mereka tentang kepulauan Indonesia telah meluas sampai ke kawasan timur. Ada beberapa tempat yang disebut di samping Sriwijaya dan Melayu, misalnya Po-lu-shi (Barus), He-ling, Po-li (beberapa pakar ada yang menyebut nama ini berada di Jawa dan di Bali), serta Fo-shi-bu- luo yang diperkirakan berada di Kalimantan Barat. Sehubungan dengan nama Fo-shi-bu-luo

dapat ditarik kesimpulan bahwa kawasan ini agaknya telah masuk dalam orbit shi-lifo-shi atau Sriwijaya sebagaimana terdapat kemiripan nama. Selama kira-kira empat abad kawasan ini dikuasai oleh kedatuan Srwijaya, akan tetapi sejak abad ke-II dominasinya atas pelayaran di sini mulai mendapat tantangan dari bebrapa kekuatan tandinggan. Di sebelah timur telah muncul kekuataan baru di bawah Airlangga, sedangkan di sebelah barat ada tantangan dari kerajaan Cola di India Selatan. Sekitar tahun 1024-1025 armada Cola menyerang Srriwijaya. Masa kekacauan yang terjadi sesudahnya, memunculkan berbagai kekuatan baru di kawasan ini (Lapian, 1992: 4).

Setelah kerajaan Sriwijaya mendapat serangan-serangan dari musuh, kekuatan Sriwijaya yang tadinya berpusat di Palembang, kini beralih ke Jambi, namun kedudukannya sebagai kekuatan tunggal tidak lagi dapat dipulihkan seperti sediakala, malahan di beberapa tempat mulai muncul kekuatan baru yang makin mandiri sehingga makin melemahkan kekuatan pusatnya. Pada abad ke XIII wilayah Jambi nampaknya berada di bawah pengaruh Kertanegara.

EKSPEDISI PAMALAYU

Di dalam kitab Pararaton dan Negarakertagama disebutkan bahwa pada tahun 1275 raja Kertanegara mengirimkan tentaranya ke Malayu, pengiriman pasukan ini dikenal dengan sebutan Pamalayu. Dijelaskan bahwa raja Kertanegara adalah sorang raja yang besar. Pada waktu Kertanegara naik menjadi raja tahun 1268-1292, keadaan di Nusantara sedang mengalami pergeseran politik. Di India timbul dengan jayanya kesultanan Delhi, di Tiongkok muncul dynasti Yuan dengan kaisarnya Kublai Khan, raja ini menginginkan agar daerah di Asia Tenggara termasuk pulau Jawa mengakui dan tuduk di bawah kekuasaannya. Keadaan politik ini telah memperkuat kemauan Kertanegara bergerak mempersatukan Nusantara. Utusan (duta) Kubilai Khan yang diutus ke pulau Jawa bernama Meng-ki disuruh pulang oleh Kertanegara dengan kehilangan muka, tindakan ini menyebabkan Kubilai Khan marah dan mempersiapkan tentara ekspedisi menyerang Kertanegara. Setelah keadaan di pusat pemerintahan selesai diatur maka mulailah Kertanegara melangkah mengambil tindakan untuk merealisasi cita-citanya. Kertanegara mengirim ekspedisi Pamalayu tahun 1275, dibawah pimpinan Kebo Anabrang. Tujuannya adalah menolong membangkitkan Melayu membebaskan diri dari Sriwijaya dan sekaligus jadi anggota perserikatan. Sebagai

tanda persahabatan tentara ekspedisi juga membawa tiruan patung Ranggawuri (ayak Kertanegara) dari candi Jago. Sekarang patung itu terdapat di Jambi Hulu, sejak ini Melayu bangkit jadi kerajaan besar di Sumatera, sedang Sriwijaya semakin mundur (Saragih, 1977: 32-33).

Upaya upaya menggalang pertahanan bersama ini rupaya berhasil baik sehingga dalam tahun 1286 raja Kertanegara mengirimkan patung Amoghpasa Lokeswara beserta 14 dewa pengiringnya untuk ditempatkan di Melayu. Prasati yang dipahatkan pada lapik arca itu lebih lanjut menerangkan, bahwa penempatan arca tersebutt di Dharmacraya dipimpin oleh 4 orang pejabat tinggi. Pemeberian hadiah itu membuat seluruh rakyat Melayu sangat gembira terutama rajanya Tribhuawana Maulanawarman. Patung Amoghapaca beserta prasastinya, yang dtemukan kembali di dekat sungai Langsat di daerah hulu sungai Batanghari, merupakan bukti nyata yang pertama berkenaan dengan adanya kerajaan Malayu. Daerah penemuannya itu sudah barang tentu menjadi petunjuk yang luar biasa pentingnya untuk mengarahkan pencarian wilayah kerajaan Melayu. Dari segi lain, lokasi itu jauh jauh di pedalaman bagian tengah Sumatera menimbulkan pemikiran berkenaan dengan cara pengangkutan pada masa itu. Pengiriman patung batu yang demikian besarnya dari Jawa Timur ke daerah Sijunjung itu tentunya hanya dapat diperkirakan kalau dilakukan melalui jalan air (Soekmono, 1992:5).

Setelah peristiwa Pamalayu, lama tidak diperoleh keterangan lainnya mengenai keadaan di Sumatera, baru kemudian pada masa pemerintahan Tribhuwantottunggadewi (1328-1350) diperoleh keterangan tentang daerah Melayu. Rupanya kerajaan Melayu ini muncul kembali sebagai pusat kekuasaan di Sumatera, sedangkan Sriwijaya setelah adanya ekspedisi Pamalayu dari raja Kertanegara, tidak terdengar lagi beritanya.

KERAJAAN MELAYU PADA MASA ADITYAWARMAN

Dari parasasti-prasasti yang banyak ditemukan di daerah Minangkabau, disebutkan bahwa pada pertengahan abad ke XIV ada seorang raja yang memerintahh di Kanakamedinindra (raja pulau emas) yang bernama Adityawarman, anak dari Adwayawarman. Nama ini dikenal dikenal juga di dalam prasasti yang dipahatkan pada arca Mansjuri di candi Jago dan berangka tanhun 1341. Di dalam prasasti ini disebutkan ia bersama-sama dengan Gajah Mada telah menaklukan pulau Bali.

Kerajaan Melayu mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Adityawarman dengan pusat kekuasaannya di daerah hulu Batanghari. Pada masa itu logam emas dimanfaatkan semaksimal mungkin, seperti dipakai sebagai bahan lempengan emas, benang emas, lembaran emas bertulis, kalung dan arca. Meskipun kerajaan berlokasi di daerah hulu Batanghari di wilayah Minangkabau, Adityawarman tidak pernah menyebut daerah kekuasaannya sebagai kerajaan Minangkabau, ia menamakan dirinya sebagai kanakamedinindra, yang berarti penguasa negeri emas. Dengan demikian ia menganggap dirinya sebagai penguasa daerah-daerah yang dulunya menjadi daerah kekuasan kerajaan Srwijaya (Budi Utomo, 1992: 26-27).

Adityawarman adalah putra Majapahit keturunan Melayu, sebelum menjadi raja Melayu ia pernah menjabat kedudukan wrddha-mantri di Majapahit dengan gelar Aryadewata pu Aditya. Setelah ia berkuasa di Sumatera ia menyusun kembali kerajaan yang diwariskan oleh Mauliwarmadewa. Pada tahun 1347 Adityawarman meluaskan daerah kekuasaannya sampai ke daerah Pagarruyung, ia mengangkat dirinya menjadi seoranng maharajadhiraja dengan gelar Udayadityawarman atau Adityawarmodaya pratapaparakramarajendra Maulimaliwarmadewa. Tetapi meskipun demikian Adtyawarman masih tetap menganggap dirinya sebagai sang mantri terkemuka dari Majapahhit. Dari prasasti-prasastinya dapat diketahui bahwa Adityawarman adalah penganut agama Budha dan menganggap dirinya sebagai penjelmaan Lokeswara. Anggapan ini sesuai dengan sistem kalacakra seperti halnya raja-raja Majapahit. Adityawarman memerintah hingga sekitar tahun 1375, sebagai penggantinya adalah anaknya sendiri yang bernama Anangwarman, hanya tidak diketahui dengan jelas kapan ia menggantikan kedudukan ayahnya itu (Poesponegoro, 1984:85).

Meskipun banyak kekurangan dalam pengetahuan tentang raja Adityawarman, akan tetapi menurut Casparis ada dua hal yaang dapat menekan pentingnya peranan Adityawarman. Pertama, raja itu memerintah pada masa kerajaan Majapahit telah mencapai puncak kejayaannya yaitu saat Hayam Huruk berkuasa. Mungkin sekali Adityawarman mengakui kewibawaan kerajaan Majapahit, tetapi hal itu tidak ternyata dari prasastinya, yang tidak pernah menyebutkan ketergantungan Adityawarman dari Majapahit, bahkan nama pulau Jawa pun belum diketemukan dalam prasasti-prasasti raja itu. Kedua, Adityawarman memerintah di bagian pulau Sumatera pada masa bagian utara pulau itu

sudah beragama Islam sejak setengah abad, sebagaimana ternyata dari cerita perjalanan Marco Polo pada tahun 1292, hal ini diperjelas lagi dari batu nisan Sultan Malik Al-Saleh di Samudera Pasai, berangka tahun 1297. Beberapa tahun lagi ternyta bahwa Agama Islam sudah berakar di Trengganu di pantai Timur Semenanjung Malaka. Memang benar bahwa ada perselisihan mengenai tahun Terengganu tersebut, tetapi Casparis sepenuhnya setuju dengan Profesor Fatimi bahwa batu tulis itu berangka tahun 702 A.H atau tahun 1303 masehi (Casparis, 1992: 2).

Adityawarman insaf bahwa ketika ia berkuasa di Sumatera, terlebih dahulu pengaruh Islam telah berkembang di bagian utara dari wilayah kekuasaannya. Perkembangan ini merupakan tantangan bagi Adityawarman. Pada umumnya ajaran Budha menekankan pada sikap kesabaran dan perdamaian sesama manusia. Namun pada masa Adityawarman ajaran Budha yang dianutnya menjadi agresif, seakan-akan ingin memusnahkan lawanya. Hal ini dapat dilihat dari patung Bhairawa yang tingginya 4,41 meter. Di tangan kanannya dipegang pisau besar dengan sikap ingin memakainya, sedangkan di dasar patung dhiasai tengkorak- tengkorak. Dapat diduga bahwa fungsi patung tersebut tidak terbatas kepada agama dalam arti sempit, melainkan merupakan pengancaman terhadap bahaya yang mungkin datang dari sebelah timur.

PENUTUP

Melayu merupakan sebuah kerajaan yang wilayah kekuasaannya meliputi seluruh daratan pulau Sumatera, dari ujung barat laut hingga ujung tenggara. Beberapa daerah yang merupakan bawahan Melayu seperti: Jambi, Dharmashraya, Kandis dan Minangkabau, dari temapt-tempat itu Jambi bandar yang paling penting yang mungkin menjadi ibu kota kerajaan. Kemudian sekitar abad ke-13 di sekitar Rambahan (Sumatera Barat). Munculnya kerajaan ini, menurut berita Cina sudah ada utusan dari Melayu ke Cina pada tahun 644 dan 645. Berita Cina yang lain berasal dari I-tsing yang mampir di Melayu pada tahhun 671, pada tahun 685 wilayah ini sudah menjadi kekuasaan Sriwijaya. Nama Melayu kembali muncul setelah Kertanegara melakukan ekspedisi Pamalayu pada tahun 1275, dengan demikian kedudukan Melayu bertambah kuat karena adanya perserekatan dengan Jawa Timur. Puncak kejayaanya terjadi pada masa raja Adityawarman (1347-1375). Pada masa ini Agama Budha berkembang dengan pesat. Adityawarman adalah seorang pembesar dari

Sumatera, yang singga beberapa lama di Jawa Timur Istana Majapahit. Ia dilahirkan di dalam keluarga Rajapatni: putri Kertanegara dan permaisuri Kertarajasa yang keempat.

DAFTAR PUSTAKA
Budi Utomo Bambang. 1992. Batanghari Riwayatmu Dulu.

Jambi: Kerjasama Pembda Tingkat I Propinsi Jambi Dengan Kantor Wilayah

Depdikbud Propinsi Jambi.
Casparis JG De. 1992. Kerajaan Malayu dan Adityawarman.

Jambi: Kerjasama Pembda Tingkat I Propinsi Jambi Dengan Kantor Wilayah

Depdikbud Propinsi Jambi.
Coedes.G dan Damais L.Ch. 1989. Kedatuan Sriwijaya Penelitian Tentang Sriwijaya.

Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Djafar Hasan.1992. Prasasti Masa Kerajaan Malayu Kuno Dan Beberapa Permasalahan.

Jambi: Kerjasama Pembda Tingkat I Propinsi Jambi Dengan Kantor Wilayah

Depdikbud Propinsi Jambi.
Hanafiah Djohan. 1992. Pulau Berhala, Orang Kaya Itam Dan Si Gunjai Suatu Metos

Ideologi Dan Politik Jambi. Jambi: Kerjasama Pembda Tingkat I Propinsi Jambi

Dengan Kantor Wilayah Debdikbud Propinsi Jambi.
Lapian, A.B. 1992. Jambi Dalam Jaringan Pelayaran Dan Perdagangan Masa Awal.

Jambi: Kerjasama Pembda Tingkat I Propinsi Jambi Dengan Kantor Wilayah

Depdikbud Propinsi Jambi.
Muljana Slamet. 1981. Kuntala, Sriwijaya dan Suwarnabhumi. Jakarta: Idayu Poesponegoro Marwati Djoened, Notosusanto Nugroho. 1984. Sejarah Nasional

Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka.
Saragih. R.H, Sirait J, Simamora.M. 1977. Sejarah Nasional Indonesia I. Medan: Monora Saudagar Fachruddin. 1992. Perkembangan Sejarah Melayu Kuno Di Jambi.

Jambi: Kerjasama Pembda Tingkat I Propinsi Jambi Dengan Kantor Wilayah

Depdikbud Propinsi Jambi.
Soekmono. 1992. Rekonstruksi Sejarah Melayu Kuno Sesuai Tunutan Arkeologi.

Jambi: Kerjasama Pembda Tingkat I Propinsi Jambi Dengan Kantor Wilayah Depdikbud Propinsi Jambi.

Taken from here.

Terjemahan Lengkap Nagarakertagama

Pujasastra Negarakretagama terdiri dari 98 pupuh. Isi pembagiannya dilakukan dengan sangat rapi. Negarakretagama terdiri atas dua bagian. Bagian pertama dimulai dari pupuh 1 – 49. Sedangkan bagian kedua dimulai dari pupuh 50 – 98.
Judul asli dari manuskrip ini adalah Desawarnana yang artinya Sejarah Desa-Desa. Sejak ditemukan kembali oleh para arkeolog, naskah ini kemudian dinamakan Negarakretagama yang artinya Kisah Pembangunan Negara.
Naskah ini selesai ditulis pada bulan Aswina tahun Saka 1287 (September – Oktober 1365 Masehi), penulisnya menggunakan nama samaran Prapanca, berdasarkan hasil analisis kesejarahan yang telah dilakukan diketahui bahwa penulis naskah ini adalah Dang Acarya Nadendra , bekas pembesar urusan agama Budha di istana Majapahit. Beliau adalah putera dari seorang  pejabat istana di Majapahit dengan pangkat jabatan Dharmadyaksa Kasogatan. Penulis naskah ini menyelesaikan naskah kakawin Negarakretagama diusia senja dalam pertapaan di lereng gunung di sebuah desa bernama Kamalasana. Berikut adalah terjemahan lengkapnya dalam Bahasa Indonesia.

Download Terjemahan Lengkap Nagarakertagama Versi PDF (1,07 MB)

Pupuh 1

  1. Om! Sembah pujiku orang hina ke bawah telapak kaki pelindung jagat. Siwa-Budha Janma-Bhatara senantiasa tenang tenggelam dalam samadi. Sang Sri Prawatanata, pelindung para miskin, raja adiraja di dunia. Dewa-Bhatara, lebih khayal dari yang khayal, tapi tampak di atas tanah.
  2. Merata serta meresapi segala makhluq, nirguna bagi kaum Wisnawa. Iswara bagi Yogi, Purusa bagi Kapila, Hartawan bagi Jambala. Wagindra dalam segala ilmu, Dewa Asmara di dalam cinta berahi. Dewa Yama di dalam menghilangkan penghalang dan menjamin damai dunia.
  3. Begitulah pujian pujangga penggubah sejarah, kepada Sri Nata Rajasanagara, Sri Nata Wilwatikta yang sedang memegang tampuk Negara bagai titisan Dewa-Bhatara beliau menyapu duka rakyat semua. Tunduk setia segenap bumi Jawa, bahkan malah seluruh Nusantara.
  4. Tahun Saka masa memanah surya (1256) beliau lahir untuk jadi narpati. Selama dalam kandungan di Kahuripan, telah tampak tanda keluhuran Gempa bumi, kepul asap, hujan abu, guruh halilintar menyambar-nyambar. Gunung meletus, gemuruh membunuh durjana, penjahat musnah dari Negara.
  5. Itulah tanda bahwa Bhatara Girinata menjelma bagai raja besar terbukti selama bertahta, seluruh Jawa tunduk menadah perintah. Wipra, ksatria, waisya, sudra, keempat kasta sempurna dalam pengabdian. Durjana berhenti berbuat jahat, takut akan keberanian Sri Nata.

Pupuh 2

  1. Sang Sri Rajapatni yang ternama adalah nenekanda Sri Baginda. Seperti titisan Parama Bagawati memayungi jagat raya. Selaku Wikuni tua tekun berlatih yoga menyembah Budha. Tahun Saka dresti saptaruna (1272) kembali beliau ke Budhaloka.
  2. Ketika Sri Rajapatni pulang ke Jinapada, dunia berkabung. Kembali girang bersembah bakti semenjak Baginda mendaki tahta. Bagai rani di Jiwana resmi mewakili Sri Narendra-putera.

Pupuh 3

  1. Beliau bersembah bakti kepada ibunda Sri Rajapatni. Setia mengikuti ajaran Budha, menyekar yang telah mangkat. Ayahanda Baginda raja ialah Sri Kertawardana raja. Keduanya teguh beriman Budha demi perdamaian praja.
  2. Ayahnya Sri Baginda raja bersemayam di Singasari. Bagai Ratnasambawa menambah kesejahteraan bersama. Teguh tawakal memajukan kemakmuran rakyat dan Negara. Mahir mengemudikan perdata, bijak dalam segala kerja.

Pupuh 4

  1. Puteri Rajadewi Maharajasa, ternama rupawan. Bertahta di Daha, cantik tak bertara, bersandar nam guna. Adalah bibi Baginda, adik maharani di Jiwana. Rani Daha dan Rani Jiwana bagai bidadari kembar.
  2. Laki sang rani Sri Wijayarajasa dari negeri Wengker. Rupawan bagai titisan Upendra, masyhur bagai sarjana. Setara raja Singasari, sama teguh di dalam agama. Sangat masyuhrlah nama beliau di seluruh tanah Jawa.

Pupuh 5

  1. Adinda Baginda raja di Wilwatikta. Puteri jelita, bersemayam di Lasem. Puteri jelita Daha, cantik ternama. Indudewi puteri Wijayarajasa.
  2. Dan lagi puteri bungsu Kertawardana. Bertahta di Pajang, cantik tak bertara. Puteri Sri Narapati Jiwana yang termasyhur. Terkenal sebagai adinda Sri Baginda.

Pupuh 6

  1. Telah dinobatkan sebagai raja tepat menurut rencana. Laki tangkas rani Lasem bagai raja daerah Matahun. Bergelar Rajasawardana sangat bagus lagi putus dalam naya. Raja dan rani terpuji laksana Asmara dengan Pinggala.
  2. Sri Singawardana, rupawan, bagus, muda, sopan dan perwira. Bergelar raja Paguhan, beliaulah suami rani Pajang. Mulia perkawinannya laksana Sanatkumara dan Dewi Ida. Bakti kepada raja, cinta sesama, membuat puas rakyat.
  3. Bhre Lasem menurunkan puteri jelita Nagarawardani. Bersemayam sebagai permaisuri pangeran di Wirabumi. Raja Pajang menurunkan Bhre Mataram Sri Wikramawardhana. Bagai titisan Hyang Kumara, wakil utama Sri Narendra.
  4. Puteri bungsu rani Pajang memerintah daerah Pawanuhan. Berjuluk Surawardani masih muda indah laksana gambar. Para raja Pulau Jawa masing-masing mempunyai Negara. Dan Wilwatikta tempat mereka bersama-sama menghamba Sri Nata.

Pupuh 7

  1. Melambung kidung merdu pujian sang prabu, beliau membunuh musuh-musuh. Bagai matahari menghembus kabut, menghimpun Negara di dalam kuasa. Girang najma utama bagai bunga tunjung, musnah durjana kumuda. Dari semua desa di wilayah Negara pajak mengalir bagai air.
  2. Raja menghapus duka si murba sebagai Satamanyu menghujani bumi. Menghukum penjahat bagai Dewa Yama, menimbun harta bagai Waruna. Para telik menembus segala tempat laksana Hyang Bhatara Bayu. Menjaga pura sebagai Dewi Pertiwi, rupanya bagus seperti bulan.
  3. Seolah-olah Sang Hyang Kama menjelma, tertarik oleh keindahan pura. Semua para puteri dan isteri sibiran dahi Sri Ratih. Namun sang permaisuri keturunan Wijayarajasa, tetap paling cantik. Paling jelita bagaikan Susumna, memang pantas jadi imbangan baginda.
  4. Berputeralah beliau puteri mahkota Kusumawardhani, sangat cantik. Sangat rupawan jelita mata, lengkung lampai, bersemayam di Kabalan. Sang menantu Sri Wikramawardana memegang perdata seluruh Negara. Sebagai dewa-dewi mereka bertemu tangan, menggirangkan pandang.

Pupuh 8

  1. Tersebut keajaiban kota: tembok bata merah, tebal tinggi, mengitari pura. Pintu barat bernama Pura Waktra, menghadap ke lapangan luas, bersabuk parit. Pohon brahmastana berkaki bodi, berjajar panjang, rapi berbentuk aneka ragam. Di situlah tempat tunggu para tanda terus menerus meronda jaga paseban.
  2. Di sebelah utara, bertegak gapura permai dengan pintu besi penuh berukir. Di sebelah timur, panggung luhur, lantainya berlapis batu, putih-putih mengkilat. Di bagian utara, disebelah pecan, rumah berjejal jauh memanjang sangat indah. Di selatan jalan perempatan, balai prajurit tempat pertemuan tiap caitra.
  3. Balai agung Manguntur dengan balai Witana di tengah menghadap padang watangan. Yang meluas ke empat arah: bagian utara, paseban pujangga dan menteri. Bagian timur, paseban pendeta Siwa-Budha, yang bertugas membahas upacara. Pada masa gerhana bulan Palguna demi keselamatan seluruh dunia.
  4. Di sebelah timur, pahoman berkelompok tiga-tiga mengitari kuil siwa. Di selatan, tempat tinggal wipra utama, tinggi bertingkat menghadap panggung korban. Bertegak di halaman sebelah barat; di utara, tempat Budha bersusun tiga. Puncaknya penuh berukir; berhamburan bunga waktu raja turun berkorban.
  5. Di dalam, sebelah selatan Manguntur tersekat dengan pintu, itulah paseban. Rumah bagus berjajar mengapit jalan ke barat, di sela tanjung berbunga lebat. Agak jauh di sebelah barat daya: panggung tempat berkeliaran para perwira. Tepat ditengah-tengah halaman, bertegak mandapa penuh burung ramai berkicau.
  6. Di dalam, di selatan ada lagi paseban memanjang ke pintu keluar pura yang kedua. Dibuat bertingkat-tangga, tersekat-sekat, masing-masing berpintu sendiri. Semua balai bertulang kuat bertiang kokoh, papan rusuknya tiada tercela. Para prajurit silih berganti, bergilir menjaga pintu, sambil bertukar tutur.

Pupuh 9

  1. Inilah para penghadap: pengalasan Ngaran, jumlahnya tak terbilang. Nyu Gading Janggala-Kediri, Panglarang, Rajadewi, tanpa upama Waisangka Kapanewon Sinelir, para perwira Jayengprang Jayagung. Dan utusan Pareyok Kayu Apu, orang Gajahan, dan banyak lagi.
  2. Begini keindahan lapang watangan luas bagaikan tak terbatas. Menteri, bangsawan, pembantu raja di Jawa, di deret paling muka. Bhayangkari tingkat tinggi berjejal menyusul di deret yang kedua.
  3. Di bagian barat, beberapa balai memanjang sampai mercudesa. Penuh sesak pegawai dan pembantu serta para perwira penjaga. Di bagian selatan agak jauh, beberapa ruang, mandapa dan balai. Tempat tinggal abdi Sri Narapati Paguhan, bertugas menghadap.
  4. Masuk pintu kedua, terbentang halaman istana berseri-seri. Rata dan luas, dengan rumah indah berisi kursi-kursi berhias. Di sebelah timur, menjulang rumah tinggi berhias lambing kerajaan. Itulah balai tempat terima tatamu Sri Nata di Wilwatikta.

Pupuh 10

  1. Inilah pembesar yang sering menghadap dibalai Witana. Wreda menteri, tanda menteri pasangguhan dengan pengiring. Sang Panca Wilwatikta: mapatih, demung, kanaruhan, rangga, tumenggung, lima priyayi agung yang akrab dengan istana.
  2. Semua patih, demung Negara bawahan dan pengalasan.  Semua pembesar daerah yang berhati tetap dan teguh. Jika datang, berkumpul di kepatihan seluruh Negara. Lima menteri utama, yang mengawal urusan Negara.
  3. Ksatria, pendeta, pujangga, para wipra, jika menghadap. Berdiri di bawah lindungan asoka di sisi Witana. Begitu juga dua dharmadyaksa dan tujuh pembantunya. Bergelar arya, tangkas tingkahnya, pantas menjadi teladan.

Pupuh 11

  1. Itulah penghadap balai Witana, tempat tahta, yang berhias serba bergas. Pantangan masuk ke dalam istana timur, agak jauh dari pintu pertama. Ke istana Selatan, tempat Singawardhana, permaisuri putra dan putrinya. Ke istana utara, tempat Kertawardana. Ketiganya bagai kahyangan.
  2. Semua rumah bertiang kuat, berukir indah, dibuat berwarna-warni. Kainya dari bata merah pating berunjul, bergambar aneka lukisan. Genting atapnya bersemarak serba meresapkan pandang, menarik perhatian. Bunga tanjung, kesara, campaka, dan lain-lainnya terpencar di halaman.

Pupuh 12

  1. Teratur rapi semua perumahan sepanjang tepi benteng. Timur tempat tinggal pemuka pendeta Siwa Hyang Brahmaraja. Selatan Budha-sangga dengan Rangkanadi sebagai pemuka. Barat tempat para arya, menteri dan sanak kadang adiraja.
  2. Di timur, tersekat lapangan, menjulang istana ajaib. Raja Wengker dan rani Daha penaka Indra dan Dewi Saci. Berdekatan dengan istana raja Matahun dan rani Lasem. Tak jauh di sebelah selatan raja Wilwatikta.
  3. Di sebelah utara pasar: rumah besar bagus lagi tinggi. Di situ menetap patih Daha, adinda baginda di Wengker. Bhatara Narapati, termasyhur sebagai tulang punggung praja. Cinta taat kepada raja, perwira, sangat tangkas dan bijak.
  4. Di timur laut, rumah patih Wilwatikta, bernama Gajah Mada. Menteri wira, bijaksana, serta bakti kepada Negara. Fasih bicara, teguh tangkas, tenang cerdas, cerdik lagi jujur. Tangan kanan maharaja sebagai penggerak roda Negara.
  5. Sebelah selatan puri, gedung kejaksaan tinggi bagus. Sebelah timur perumahan Siwa, sebelah barat Budha. Terlangkahi rumah para menteri, para arya dan ksatria. Perbedaan ragam pelbagai rumah menambah indahnya pura.
  6. Semua rumah memancarkan sinar warnanya gilang-cemerlang. Menandingi bulan dan matahari, indah tanpa umpama. Negara-negara di Nusantara dengan Daha bagai pemuka. Tunduk menengadah, berlindung di bawah kuasa Wilwatikta.

Pupuh 13

  1. Terperinci pulau Negara bawahan, paling dulu M’layu, Jambi, Palembang, Toba dan Darmasraya pun ikut juga disebut Daerah Kandis, Kahwas, Minangkabau, Siak, Rokan, Kampar dan Pane.
  2. Lwas dengan Samudra serta Lamuri, Batan, Lampung dan juga Barus. Itulah terutama Negara-negara melayu yang telah tunduk. Negara-negara di Pulau Tanjungnegara; Kapuas-Katingan, Sampit, Kota Lingga, Kota Waringin, Sambas, Lawai ikut tersebut

Pupuh 14

  1.  Kandandangan, Landa, Samadang dan Tirem tak terlupakan. Sedu, Barune (ng), Kalka, Saludung, Solor dan juga Pasir. Barito, Sawaku, Tabalung, ikut juga Tanjung Kutei. Malano tetap yang terpenting di pulau Tanjungpura.
  2. Di Hujung Medini Pahang yang disebut paling dahulu. Berikut Langkasuka, Saimwang, Kelantan, serta Trengganu Johor, Paka, Muar, Dungun, Tumasik, Kelang serta Kedah. Jerai, Kanjapiniran, semua sudah lama terhimpun.
  3. Disebelah timur Jawa, seperti yang berikut: Bali dengan Negara yang penting Badahulu dan Lo Gajah. Gurun serta Sukun, Taliwang, Pulau Sapi, dan Dompo. Sang Hyang Api, Bima, Seran, Hutan Kendali sekaligus.
  4. Pulau Gurun, yang juga biasa disebut Lombok Merah. Dengan daerah makmur Sasak diperintah seluruhnya. Bantalayan di wilayah Bantayan beserta Kota Luwuk. Sampai Udamaktraya dan pulau lain-lainnya tunduk
  5. Tersebut pula pulau-pulau Makasar, Buton, Bangawi Kunir, Galian, serta Salayar, Sumba, Solot, Muar. Lagi pula, Wanda (n), Ambon atau pulau Maluku, Wanin, Seran, Timor, dan beberapa lagi pulau-pulau lain.

Pupuh 15

  1. Inilah nama Negara asing yang mempunyai hubungan. Siam dengan Ayudyapura, begitu pun Darmanagari Marutma, Rajapura, begitu juga Singanagari. Campa, Kamboja, dan Yawana ialah Negara sahabat.
  2. Tentang pulau Madura, tidak dipandang Negara asing. Karena sejak dahulu dengan Jawa menjadi satu. Konon tahun Saka lautan menantang bumi, itu saat Jawa dan Madura terpisah meskipun tidak sangat jauh.
  3. Semenjak Nusantara menadah perintah Sri Baginda. Tiap musim tertentu mempersembahkan pajak upeti. Terdorong keinginan akan menambah kebahagiaan. Pujangga dan pegawai diperintah menarik upeti

Pupuh 16

  1. Pujangga-pujangga yang lama berkunjung di Nusantara. Dilarang mengabaikan urusan Negara, mengejar untung. Seyogianya, jika mengemban perintah ke mana juga. Menegakkan agama Siwa, menolak ajaran sesat
  2. Konon, kabarnya, para penderita penganut Sang Sugata. Dalam perjalanan mengemban perintah Baginda Nata. Dilarang menginjak tanah sebelah barat Pulau Jawa. Karena penghuninya bukan penganut ajaran Budha.
  3. Tanah sebelah timur Jawa terutama Gurun, Bali boleh dijelajah tanpa ada yang dikecualikan. Bahkan, menurut kabaran mahamuni Empu Barada serta raja pendeta Kuturan telah bersumpah teguh
  4. Para pendeta yang mendapat perintah untuk bekerja. Dikirim ke timur ke barat; dimana mereka sempat. Melakukan persajian seperti perintah Sri Nata. Resap terpandang mata jika mereka sedang mengajar
  5. Semua Negara yang tunduk setia menganut perintah. Dijaga dan dilindungi Sri Nata dari Pulau Jawa. Tapi, yang membangkang, melanggar perintah, dibinasakan pimpinan angkatan laut, yang telah masyhur lagi berjasa

Pupuh 17

  1. Telah tegak teguh kuasa Sri Nata di Jawa dan wilayah Nusantara. Di Sripalatikta tempat beliau bersemayam, menggerakkan roda dunia. Tersebar luas nama beliau, semua penduduk puas, girang dan lega. Wipra, pujangga dan semua penguasa ikut menumpang menjadi masyhur
  2. Sungguh besar kuasa dan jasa beliau, raja agung dan raja utama. Lepas dari segala duka, mengenyam hidup penuh segala kenikmatan. Terpilih semua gadis manis di seluruh wilayah Janggala Kediri. Berkumpul di istana bersama yang terampas dari Negara tetangga.
  3. Segenap tanah Jawa bagaikan satu kota di bawah kuasa Baginda. Ribuan orang berkunjung laksana bilangan tentara yang mengepung pura. Semua pulau laksana daerah pedusunan tempat menimbun bahan makanan. Gunung dan rimba hutan penaka taman hiburan terlintas tak berbahaya
  4. Tiap bulan sehabis musim hujan beliau biasa pesiar keliling Desa Sima di sebelah selatan Jalagiri, di sebelah timur pura. Ramai tak ada hentinya selama pertemuan dan upacara prasetyan. Girang melancong mengunjungi Wewe Pikatan setempat dengan candi lima
  5. Atau pergilah beliau bersembah bakti kehadapan Hyang Acalapati. Biasanya terus menuju Blitar, Jinur, mengunjungi gunung-gunung permai. Di Daha terutama ke Polaman, ke Kuwu, dan Lingga hingga Desa Bangin. Jika sampai di Jenggala, singgah di Surabaya, terus menuju Buwun.
  6. Tahun Aksatisura (1275), Sang Prabu menuju Pajang membawa banyak pengiring. Tahun Saka angga-naga-aryama (1276), ke Lasem, melintasi pantai samudra. Tahun Saka pintu-gunung-mendengar-indu (1279), ke laut selatan menembus hutan. Lega menikmati pemandangan alam indah Lodaya, Tetu, dan Sideman.
  7. Tahun Saka seekor-naga-menelan bulan (1281), di Badrapada bulan tambah Sri Nata pesiar keliling seluruh Negara menuju Kota Lumajang naik kereta diiringi semua raja Jawa serta permaisuri dan abdi, menteri, tanda, pendeta, pujangga, semua para pembesar ikut serta.
  8. Juga yang menyamar Prapanca girang turut serta mengiring paduka Maharaja. Tak tersangkal girang sang kawi, putera pujangga, juga pencinta kakawin. Dipilih Sri Baginda sebagai pembesar kebudhaan mengganti sang ayah. Semua pendeta Budha umerak membicarakan tingkah lakunya dulu.
  9. Tingkah sang kawi waktu muda menghadap raja, berkata berdampingan, tak lain. Maksudnya mengambil hati, agar disuruh ikut beliau ke mana juga. Namun, belum mampu menikmati alam, membinanya, mengolah, dan menggubah karya kakawin; begitu warna desa sepanjang marga terkarang berturut.
  10. Mula-mula melalui Japan dengan asrama dan candi-candi ruk rebah. Sebelah timur Tebu, hutan Pandawa, Duluwang, Bebala di dekat Kanci, Ratnapangkaja serta Kuti Haji Pangkala memanjang bersambung-sambungan. Mandala Panjrak, Pongging serta Jingan, Kuwu Hanyar letaknya di tepi jalan.
  11. Habis berkunjung pada candi makam Pancasara, menginap di Kapulungan. Selanjutnya, sang kawi bermalam di Waru, di Hering, tidak jauh dari pantai. Yang mengikuti ketetapan hukum jadi milik kepala asrama Saraya. Tetapi masih tetap di tangan lain, rindu termenung-menunggu

Pupuh 18

  1. Seberangkat Sri Nata dari Kapulungan, berdesak abdi berarak. Sepanjang jalan penuh kereta, penumpangnya duduk berimpit-impitan. Pedati di muka dan di belakang, di tengah prajurit berjalan kaki. Berdesak-desakan, berebut jalan dengan binatang gajah dan kuda.
  2. Tak terhingga jumlah kereta, tapi berbeda-beda tanda cirinya. Meleret berkelompok-kelompok, karena tiap menteri lain lambangnya. Rakrian sang menteri patih amangkubumi penatang kerajaan keretanya beberapa ratus berkelompok dengan aneka tanda.
  3. Segala kereta Sri Nata Pajang semua bergambar matahari. Semua kereta Sri Nata Lasem bergambar cemerlang banteng putih. Kendaraan Sri Nata Daha bergambar Dahakusuma emas mengkilat.

Pupuh 19

  1. Paginya berangkat lagi menuju Baya, rehat tiga hari tiga malam. Dari Baya melalui Katang, Kedung Dawa, Rame, Menuju Lampes, Times. Serta biara pendeta di Pogara mengikuti jalan pasir lemak – lembut. Menuju daerah Beringin Tiga di Dadap, kereta masih terus lari.
  2. Tersebut dukuh Kasogatan Madakaripura dengan pemandangan indah. Tanahnya anugerah Sri Baginda kepada Gadjah Mada, teratur indah. Disitulah Baginda menempati pasanggrahan yang terhias sangat bergas. Sementara mengunjungi mata air, dengan ramah melakukan mandibakti.

Pupuh 20

  1. Sampai di desa Kasogatan, Baginda dijamu makan minum Pelbagai penduduk Gapuk, Sada, Wisisaya, Isanabajra, Ganten, Poh, Capahan, Kalampitan, Lambang, Kuran, Pancar We Petang. Yang letaknya di lingkungan biara, semua datang menghadap.
  2. Begitu pula Desa Tunggilis, Pabayeman ikut berkumpul termasuk Ratnapangkaja di Carcan, berupa desa perdikan. Itulah empat belas desa kasogatan yang ber-akuwu Sejak dahulu, delapan saja yang menghasilkan bahan makanan.

Pupuh 21

  1. Fajar menyingsing: berangkat lagi Baginda melalui Lo Pandak, Ranu Kuning, Balerah, Bare-bare, Dawohan, Kapayeman, Telpak, Baremi, Sapang, serta Kasaduran. Kereta berjalan cepat-cepat menuju Pawijungan.
  2. Menuruni Lurah, melintasi sawah, lari menuju Jaladipa, Talapika, Padali, Ambon dan Panggulan. Langsung ke Payaman, Tepasana ke arah Kota Rembang. Sampai di kemirahan yang letakknya di pantai lautan.

Pupuh 22

  1. Di Dampar dan Patunjungan, Sri Baginda bercengkrama menyisir tepi lautan. Ke jurusan timur turut pesisir darat, lembut limbur di lintas kereta. Berhenti beliau di tepi danau penuh teratai, tunjung sedang berbunga. Asyik memandang udang berenang dalam air tenang memperlihatkan dasarnya.
  2. Terlangkahi keindahan air telaga yang lambai melambai dengan lautan. Danau ditinggalkan menuju Wedi dan Guntur tersembunyi di tepi jalan. Kasogatan Bajraka termasuk wilayah Taladwaja sejak dulu kala. Seperti juga Patunjungan, akibat perang, belum kembali ke asrama.
  3. Terlintas tempat tersebut, ke timur mengikuti hutan sepanjang tepi lautan. Berhenti di Palumbon, berangkat setelah surya laut. Menyeberangi sungai Rabutlawang yang kebetulan airnya sedang surut. Menuruni lurah Balater menuju pantai lautan, lalu bermalam lagi.
  4. Pada waktu fajar menyingsing, menuju Kunir Basini, di Sadeng bermalam. Malam berganti malam Baginda pesiar menikmati alam Sarampuan. Sepeninggalnya beliau menjelang Kota Bacok bersenang-senang di pantai. Heran memandang karang tersiram riak gelombang berpancar seperti hutan.
  5.  Tapi sang rakawi tidak ikut berkunjung di Bacok, pergi menyidat jalan. Dari Sadeng ke utara menjelang Balung, terus menuju Tumbu dan Habet. Galagah, Tampaling, beristirahatlah di Renes seraya menanti Baginda. Segera berjumpa lagi dalam perjalanan ke Jayakreta – Wanagriya.

Pupuh 23

  1. Melalui Doni Bontong, Puruhan, Bacek, Pakisaji, Padangan terus ke Secang. Terlintas Jati Gumelar, Silabango. Ke utara ke Dewa Rame dan Dukun.
  2. Lalu berangkat ke Pakembangan. Di situ bermalam; segera berangkat. Sampailah beliau ke ujung lurah Daya. Yang segera dituruni sampai jurang.

Pupuh 24

  1. Terlalu lancer lari kereta melintasi Palayangan dan Bengkong, dua desa tanpa cerita, terus menuju Sarana, mereka yang merasa lelah ingin berehat. Lainnya bergegas berebut jalan menuju Surabasa.
  2. Terpalang matahari terbenam berhenti di padang lalang. Senja pun turun, sapi lelah dilepas dari pasangan. Perjalanan membelok ke utara melintasi Turayan. Beramai-ramai lekas-lekas ingin mencapai Patukangan.

Pupuh 25

  1. Panjang lamun dikisahkan kelakuan para menteri dan abdi. Beramai-ramai Baginda telah sampai di Desa Patukangan. Di tepi laut lebar tenang rata terbentang di barat Talakrep. Sebelah utara pakuwuan pesanggrahan Baginda Nata.
  2. Semua menteri mancanagara hadir di Pakuwuan. Juga Jaksa Pasungguhan Sang Wangsadiraja ikut menghadap. Para Upapati yang tanpa cela, para pembesar agama. Panji siwa dan Panji budha, faham hukum dan putus sastra.

 

Pupuh 26

  1. Sang Adipati Suradikara memimpin upacara sambutan. Diikuti segenap penduduk daerah wilayah Patukangan. Menyampaikan persembahan, girang bergilir dianugerahi kain. Girang rakyat girang raja, Pakuwuan berlimpah kegirangan.

Pupuh 27

  1. Untuk mengurangi sumuk akibat teriknya matahari. Baginda mendekati permaisuri seperti dewa dewi. Para puteri laksana apsari  turun dari kahyangan. Hilangnya keganjlan berganti pandang penuh heran cengang.
  2. Berbagai-bagai permainan diadakan demi kesukaan. Berbuat segala apa yang membuat gembira penduduk. Menari topeng, bergumul, bergulat, membuat orang kagum. Sungguh beliau dewa menjelma, sedang mengedari dunia.

Pupuh 28

  1. Selama kunjungan di Desa Patukangan. Para menteri dari Bali dan Madura. Dari Balumbung, kepercayaan Baginda. Menteri seluruh Jawa Timur berkumpul.
  2. Persembahan bulu bekti bertumpah limpah. Babi, gudel, kerbau, sapi, ayam dan anjing. Bahan kain yang diterima bertumpuk timbun. Para penonton tercengang-cengang memandang.
  3. Tersebut keesokan hari pagi-pagi. Baginda keluar di tengah-tengah rakyat. Diiringi para kawi serta pujangga. Menabur harta, membuat gembira rakyat.

Pupuh 29

  1. Hanya pujangga yang menyamar Prapanca sedih tanpa upama. Berkabung kehilangan kawan kawi-Budha Panji Kertajaya. Teman bersuka ria, teman karib dalam upacara gama. Beliau dipanggil pulang, sedang mulai menggubah karya megah.
  2. Kusangka tetap sehat, sanggup mengantar aku ke mana juga. Beliau tahu tempat-tempat mana yang layak pantas dilihat. Rupanya sang pujangga ingin mewariskan karya megah indah. Namun mangkatlah beliau, ketika aku tiba, tak terduga.
  3. Itulah lantarannya aku turut berangkat ke Desa Keta. Melewati Tal tunggal, Halalang-panjang, Pacaran dari Bungatan. Sampai Toya Rungun, Walanding, terus Terapas, lalu bermalam. Paginya berangkat ke Lemah Abang, segera tiba di Keta.

Pupuh 30

  1. Tersebutlah perjalanan Sri Narapati kea rah barat. Segera sampai Keta dan tinggal disana lima hari. Girang beliau melihat lautan, memandang balai kambang. Tidak lupa menghirup kesenangan lain hingga puas.
  2. Atas perintah sang arya semua menteri menghadap. Wiraprana bagai kepala, upapati Siwa-Budha. Mengalir rakyat yang datang sukarela tanpa diundang. Membawa bahan santapan, girang menerima balasan.

Pupuh 31

  1. Keta telah ditinggalkan. Jumlah pengiring makin bertambah. Melintasi Banyu Hening, perjalanan sampai Sampora. Terus ke Daleman menuju Wawaru, Gerbang, Krebilan. Sampai di Kalayu Baginda berhenti ingin menyekar.
  2. Kalayu adalah nama desa perdikan kasogatan. Tempat candi makam sanak kadang Baginda raja. Penyekaran di makam dilakukan dengan sangat hormat. “Memegat Sigi” nama upacara penyekaran itu.
  3. Upacara berlangsung menepati segenap aturan. Mulai dengan jamuan makan meriah tanpa upama. Para patih mengarak Sri Baginda menuju paseban. Genderang dan kendang bergetar mengikuti gerak tandak.
  4. Habis penyekaran raja menghirup segala kesukaan. Mengunjungi desa-desa disekitarnya genap lengkap. Beberapa malam lamanya berlomba dalam kesukaan. Memeluk wanita cantik dan meriba gadis remaja.
  5. Kalayu ditinggalkan, perjalanan menuju Kutugan. Melalui Kebon Agung, menuju Kambangrawi, bermalam. Tanah anugerah Sri Nata kepada Tumenggung Nala. Candinya Budha menjulang tinggi, sangat elok bentuknya.
  6. Perjamuan Tumenggung Nala jauh dari cela. Tidak diuraikan betapa lahap Baginda Nala bersantap. Paginya berangkat lagi ke Halses, B’rurang. Patunjungan. Terus langsung melintasi Patentanan, Tarub dan Lesan.

Pupuh 32

  1. Segera Sri Baginda sampai di Pajarakan, di sana bermalam empat hari. Di tanah lapang sebelah candi Budha beliau memasang tenda. Dipimpin Arya Sujanottama para menteri dan pendeta datang menghadap. Menghaturkan pacitan dan santapan, girang menerima anugerah uang.
  2. Berangkat dari situ Sri Baginda menuju asrama di rimba Sagara. Mendaki bukit-bukit ke arah selatan dan melintasi terusan Buluh. Melalui wilayah Gede, sebentar lagi sampai di asrama sagara. Letaknya gaib ajaib di tengah-tengah hutan membangkitkan rasa kagum rindu.
  3. Sang pujangga Prapanca yang memang senang bermenung tidak selalu menghadap. Girang melancong ke taman melepaskan lelah melupakan segala duka. Rela melalaikan paseban mengabaikan tata tertib para pendeta. Memburu nafsu menjelajah rumah berbanjar-banjar dalam deretan berjajar.
  4. Tiba di taman bertingkat, di tepi pesanggrahan tempat bunga tumbuh lebat. Suka cita Prapanca membaca cacahan (pahatan) dengan slokanya di dalam cita. Di atas atap terpahat ucapan sloka yang disertai nama. Pancaksara pada penghabisan tempat terpahat samar-samar, menggirangkan.
  5. Pemandiannya penuh lukisan dongengan berpagar batu gosok tinggi. Berhamburan bunga nagakusuma di halaman yang dilingkupi selokan. Andung, karawita, kayu mas, menur serta kayu puring dan lain-lainnya. Kelapa gading kuning rendah, menguntai di sudut mengharu rindu pandangan.
  6. Tiada sampailah kata merah keindahan asrama yang gaib dan ajaib. Beratapkan hijuk, dari dalam dan luar berkesan kerasnya tata tertib. Semua para pertapa, wanita dan pria, tua-muda, nampaknya bijak. Luput dari cela dan klesa, seolah-olah Siwapada di atas dunia.

Pupuh 33

  1. Habis berkeliling asrama, Baginda lalu dijamu. Para pendeta pertapa yang ucapannya sedap resap. Segala santapan yang tersedia dalam pertapaan. Baginda membalas harta, membuat mereka gembira.
  2. Dalam pertukaran kata tentang arti kependetaan. Mereka mencurahkan isi hati, tiada tertahan. Akhirnya cengkerama ke taman penuh dengan kesukaan. Kegirang-girangan para pendeta tercengang memandang.
  3. Habis kesukaan memberi isyarat akan berangkat. Pandang sayang yang ditinggal mengikuti langkah yang pergi. Bahkan yang masih remaja puteri sengaja merenung. Batinnya: dewa asmara turun untuk datang menggoda.

Pupuh 34

  1. Baginda berangkat, asrama tinggal berkabung. Bambu menutup mata, sedih melepas selubung. Sirih menangis merintih, ayam roga menjerit. Tiung mengeluh sedih, menitikkan air matanya.
  2. Kereta lari cepat, karena jalan menurun. Melintasi rumah dan sawah ditepi jalan. Segera sampai Arya, menginap satu malam. Paginya ke utara menuju Desa Gading.
  3. Para menteri mancanegara dikepalai Singadikara, serta pendeta Siwa-Budha. Membawa santapan sedap dengan upacara. Gembira dibalas Baginda dengan emas dan kain.
  4. Agak lama berhenti seraya istirahat. Mengunjungi para penduduk segenap desa. Kemudian menuju Sungai Gawe, Sumanding, Borang, Banger, Baremi lalu lurus ke barat.

Pupuh 35

  1. Sampai Pasuruan menyimpang jalan ke selatan menuju Kepanjangan. Menganut jalan raya, kereta lari beriring-iring ke Andoh Wawang. Ke Kedung Peluk dan Ke Hambal, desa penghabisan dalam ingatan. Segera Baginda menuju Kota Singasari bermalam dib alai kota.
  2. Prapanca tinggal disebelah barat Pasuruan ingin terus melancong. Menuju Indarbaru yang letaknya di daerah Desa Hujung. Berkunjung di rumah pengawasnya, menanyakan perkara tanah asrama. Lempengan piagam pengukuh diperlihatkan, jelas setelah dibaca.
  3. Isi piagam: tanah datar serta lembah dan gunungnya milik wihara. Begitu pula dengan Markaman, lading balunghura, sawah hujung. Isi piagam membujuk sang pujangga untuk tinggal jauh dari pura. Bila telah habis kerja di Putusingin, ia menyingkir ke Indarbaru.
  4. Sebabnya terburu-buru berangkat setelah dijamu bapa asrama. Karena ingat akan giliran menghadap di balai Singasari. Habis menyekar di candi makam, Baginda mengumbar nafsu kesukaan. Menghirup sari pemandangan di Kedung Biru, Kasurangganan dan Bureng.

Pupuh 36

  1. Pada Subakala, Baginda berangkat ke selatan menuju Kagenengan. Akan berbakti kepada makam Bhatara bersama segala pengiringnya. Harta, perlengkapan, makanan, dan bunga mengikuti jalannya kendaraan. Didahului kibaran bendera, disambut sorak sorai dari penonton.
  2. Habis penyekaran, narapati keluar, dikerumuni segenap rakyat. Pendeta Siwa-Budha dan para bangsawan berderet leret di sisi beliau. Tidak diceritakan betapa lahab Baginda bersantap sampai puas. Segenap rakyat girang menerima anugerah bahan pakaian yang indah.

Pupuh 37

  1. Tersebutlah keindahan candi makam, bentuknya tiada bertara. Pintu masuk terlalu lebar lagi tinggi, bersabuk dari luar di dalam, terbentang halaman dengan rumah berderet di tepinya. Ditanami aneka ragam bunga, tanjung, nagasari ajaib.
  2. Menara lampai menjulang tinggi di tengah-tengah, terlalu indah. Seperti gunung Meru, dengan arca Bhatara Siwa di dalamnya. Karena Girinata putera disembah bagai Dewa Bhatara. Datu leluhur Sri Naranata yang disembah di seluruh dunia.
  3. Sebelah selatan candi makam ada candi sunyi terbengkalai. Tembok serta pintunya masih berdiri, berciri kasogatan. Lantai di dalam, hilang kakinya bagian barat, tinggal yang timur. Sangar dan pemujaan yang utuh, bertembok tinggi dari batu merah.
  4. Disebelah utara, tanah bekas kaki rumah sudahlah rata. Terpancar tanamannya nagapuspa serta salaga di halaman. Diluar gapura pabaktan luhur, tapi longsor tanahnya. Halaman luas tertutup rumput, jalannya penuh dengan lumut.
  5. Laksana perempuan sakit merana lukisannya lesu-pucat. Berhamburan daun cemara yang ditempuh angin, kusut bergelung. Kelapa gading melulur tapasnya, pinang letih lusuh merayu. Buluh gading melepas kainnya, layu merana tak ada hentinya.
  6. Sedih mata memandang, tak berdaya untuk menyembuhkannya. Kecuali menanti Hayam Wuruk sumber hidup segala makhluk. Beliau masyhur bagai raja utama, bijak memperbaiki jagat. Pengasih bagi yang menderita sedih, sungguh titisan Bhatara.
  7. Tersebut lagi, paginya Baginda berkunjung ke Candi Kidal. Sesudah menyembah Bhatara, larut hari berangkat ke Jajago. Habis menyembah arca Jina, beliau berangkat ke penginapan. Paginya menuju Singasari, belum lelah telah sampai Bureng.

Pupuh 38

  1. Keindahan Bureng: telaga bergumpal air jernih. Kebiru-biruan, ditengah: candi karang bermekala. Tepinya rumah berderet, penuh pelbagai ragam bunga. Tujuan para pelancong penyerap sari kesenangan.
  2. Terlewati keindahannya; berganti cerita narpati. Setelah reda terik matahari, melintas tegal tinggi. Rumputnya tebal rata, hijau mengkilat, indah terpandang. Luas terlihat laksana lautan kecil berombak jurang.
  3. Seraya berkeliling kereta lari tergesa-gesa. Menuju Singasari, segera masuk ke pesanggrahan. Sang pujangga singgah di rumah pendeta Budha, sarjana pengawas candid an silsilah raja, pantas dikunjungi.
  4. Telah lanjut umurnya, jauh melintasi seribu bulan. Setia, sopan, darah luhur, keluarga raja dan masyhur. Meskipun sempurna dalam karya, jauh dari tingkah takabur. Terpuji pekerjaannya, pantas ditiru keinsyafannya.
  5. Tamu mendadak diterima dengan girang dan ditegur: “Wahai, orang bahagia, pujangga besar pengiring raja. Pelindung dan pengasih keluarga yang mengharap kasih. Jamuan apa yang layak bagi paduka dan tersedia?”
  6. Maksud kedatanganya: ingin tahu sejarah leluhur para raja yang dicandikan. Masih selalu dihadap. Ceritakanlah mulai dengan Bhatara Kagenengan. Ceritakan sejarahnya jadi putera Girinata.

Pupuh 39

  1. Paduka empuku menjawab: “Rakawi Maksud paduka sungguh merayu hati. Sungguh paduka pujangga lepas budi. Tak putus menambah ilmu, mahkota hidup”
  2. Izinkan saya akan segera mulai. Cita disucikan dengan air sendang tujuh. Terpuji Siwa! Terpuji Girinata! Semoga terhindar aral, waktu bertutur.
  3. Semoga rakawi bersifat pengampun. Diantara kata terselip salah. Harap percaya kepada orangtua. Kurang atau lebih janganlah dicela.

Pupuh 40

  1. Pada tahun Saka Lautan Dasa Bulan (1104) ada raja perwira yuda. Putera Girinata, konon kabarnya, lahir di dunia tanpa ibu. Semua orang tunduk, sujud menyembah kaki bagai tanda bakti. Rangga Rajasa nama beliau, penggempur musuh pahlawan bijak.
  2. Daerah luas sebelah timur Gunung Kawi terkenal subur makmur. Di situlah tempat putera sang Girinata menunaikan darmanya. Menggirangkan budiman, menyirnakan penjahat, meneguhkan Negara. Ibu Negara bernama Kutaraja, penduduknya sangat terganggu.
  3. Tahun Saka Lautan Dadu Siwa (1144) beliau melawan raja Kediri. Sang adiperwira Kretajaya, putus sastra serta tatwopadesa. Kalah ketakutan, melarikan diri ke dalam biara kecil. Semua pengawal dan perwira tentara yang tinggal, mati terbunuh.
  4. Setelah kalah narapati Kediri, Jawa di dalam ketakutan. Semua raja datang menyembah membawa tanda bakti hasil tanah. Bersatu Janggala Kediri dibawah kuasa satu raja sakti. Cikal bakal para raja agung yang akan memerintah Pulau Jawa.
  5. Makin bertambah besar kuasa dan megah putera sang Girinata. Terjamin keselamatan Pulau Jawa selama menyembah kakinya. Tahun Saka Muka Lautan Rudra (1149) beliau kembali ke Siwapada. Dicandikan di Kagenengan bagai Siwa, di Usaha bagai Budha.

Pupuh 41

  1. Bhatara Anusapati, putera Baginda, berganti dalam kekuasaan. Selama pemerintahannya, tanah Jawa kokoh sentosa, bersembah bakti. Tahun Saka Perhiasan Gunung Sambu (1170) beliau pulang ke Siwaloka. Cahaya beliau diwujudkan arca Siwa gemilang di candi makam Kidal.
  2. Bhatara Wisnuwardhana, putera Baginda, berganti dalam kekuasaan. Beserta Narasinga bagai Madawa dengan Indra memerintah serta segenap pengikutnya. Takut semua musuh kepada beliau, sungguh titisan Siwa di Bumi.
  3. Tahun Saka Rasa Gunung Bulan (1176) Bhatara Wisnu menobatkan puteranya. Segenap rakyat Kediri Janggala berduyun-duyun ke pura mangastubagia.
  4. Raja Kertanegara nama gelarannya, tetap demikian seterusnya. Daerah Kutaraja bertambah makmur, berganti nama Praja Singasari.
  5. Tahun Saka Awan Sembilan Mengebumikan Tanah (1192) raja Wisnu berpulang. Dicandikan di Waleri berlambang arca Siwa, di Jajago arca Budha. Sementara itu Bhatara Narasingamurti pun pulang ke Surapada. Dicandikan di Wengker, di Kumeper  diarcakan bagai Siwa Mahadewa.
  6. Tersebutlah Sri Baginda Kertanegara membinasakan perusuh penjahat. Bernama Cayaraja, musnah pada tahun Saka naga mengalahkan bulan (1192). Tahun Saka naga bermuka rupa (1197) Baginda menyuruh menundukkan Melayu. Berharap Melayu takut kedewaan beliau tunduk begitu sahaja.

Pupuh 42

  1. Tahun Saka janma suny surya (1202) Baginda raja memberantas penjahat Mahisa Rangga, karena jahat tingkahnya dibenci seluruh Negara. Tahun Saka badan langit surya (1206) mengirim utusan menghancurkan Bali. Setelah kalah rajanya menghadap Baginda sebagai seorang tawanan.
  2. Begitulah dari empat penjuru orang lari berlindung dibawah Baginda. Seluruh Pahang, segenap Melayu tunduk menekur dihadapan beliau. Seluruh Gurun, segenap Bakulapura lari mencari perlindungan. Sunda Madura tak perlu dikatakan, sebab sudah terang setanah Jawa.
  3. Jauh dari tingkah alpa dan congkak, Baginda waspada tawakal dan bijak. Faham akan segala seluk beluk pemerintahan sejak zaman Kali. Karenanya, tawakal dalam agama dan tapa untuk teguhnya ajaran Budha. Menganut jejak para leluhur demi keselamatan seluruh praja.

Pupuh 43

  1. Menurut kabaran sastra raja Pandawa memerintah sejak zaman Dwapara. Tahun saka lembu gunung indu tiga (3179) beliau pulang ke Budhaloka. Sepeninggalnya datang zaman kali, dunia murka, timbul huru-hara. Hanya Bhatara raja yang faham dalam nam guna, dapat menjaga jagat.
  2. Itulah sebabnya baginda teguh bakti menyembah kaki Sakyamuni. Teguh tawakal memegang pancasila, laku utama, upacara suci gelaran Jina beliau yang sangat masyhur ialah Sri Jnyanabadreswara. Putus dalam filsafat, ilmu bahasa dan lain pengetahuan agama.
  3. Berlomba-lomba beliau menghirup sari segala ilmu kebatinan. Pertama tantra Subuti diselami, intinya masuk ke hati. Melakukan puja, yoga, samadi demi keselamatan seluruh praja. Menghindarkan tenung, mengindahkan anugerah kepada rakyat murba.
  4. Diantara para raja yang lampau tidak ada yang setara beliau. Faham akan nam guna, sastra, tatwopadesa, pengetahuan agama adil, teguh dan Jinabrata dan tawakal kepada laku utama. Itulah sebabnya beliau turun temurun menjadi raja pelindung.
  5. Tahun saka laut janma bangsawan yama (1214) Baginda pulang ke Jinalaya. Berkat pengetahuan beliau tentang upacara, ajaran agama, beliau diberi gelaran: Yang mulia bersemayam di alam Siwa-Budha. Di makam beliau bertegak arca Siwa-Budha terlampau indah permai.
  6. Di sagala ditegakkan pula arca Jina sangat bagus dan berkesan. Serta arca Ardanareswari bertunggal dengan Sri Bajradewi. Teman kerja dan tapa demi keselamatan dan kesuburan Negara. Hyang Wairocana-Locana bagai lambangnya pada arca tunggal, terkenal.

Pupuh 44

  1. Tatkala Sri Baginda Kertanagara pulang ke Budhabuana, merata takut, duka, huru hara, laksana zaman kali kembali. Raja bawahan bernama Jayakatwang, berwatak terlalu jahat berkhianat karena ingin berkuasa di wilayah Kediri.
  2. Tahun saka laut manusia (1144) itulah sirnanya raja Kertajaya. Atas perintah Siwaputera Jayasaba berganti jadi raja. Tahun saka delapan satu satu (1180) Sastrajaya raja Kediri. Tahun tiga Sembilan siwa raja (1193) Jayakatwang raja terakhir.
  3. Semua raja berbakti kepada cucu Girinata. Segenap pulau tunduk kepada kuasa Raja Kertanagara. Tetapi raja Kediri Jayakatwang membuta dan mendurhaka. Ternyata dunia tak baka akibat bahaya anak piara Kali.
  4. Berkat keulungan sastra dan keuletannya jadi raja sebentar saja. Lalu ditundukan putera Baginda; ketentraman kembali. Sang menantu Dyah Wijaya, itu gelarnya yang terkenal di dunia. Bersekutu dengan bangsa Tartar, menyerang melebut Jayakatwang.

Pupuh 45

  1. Sepeninggal Jayakatwang jagat gilang cemerlang kembali. Tahun saka masa rupa surya (1216) beliau menjadi raja. Disembah di Majapahit, kesayangan rakyat, pelebur musuh bergelar Sri Narapati Kretarajasa Jayawardana.
  2. Selama Kretarajasa Jayawardana duduk di tahta, seluruh Jawa bersatu padu, tunduk menengadah. Girang memandang pasangan Baginda empat jumlahnya. Puteri Kertanegara cantik-cantik bagai bidadari.

Pupuh 46

  1. Sang Prameswari Tribuwana yang sulung, luput dari cela. Lalu Prameswari Mahadewi, rupawan tak bertara. Prajnyaparamita Jayendra dewi, cantik manis menawan hati. Gayatri yang bungsu, paling terkasih digelari Rajapatni.
  2. Perkawinan beliau dalam kekeluargaan tingkat tiga. Karena Bhatara Wisnu dengan Bhatara Narasingamurti. Akrab tingkat pertama; Narasingamurti menurunkan Dyah Lembu Tal. Sang perwira yuda, dicandikan di Mireng dengan arca Budha.

Pupuh 47

  1. Dyah Lembu Tal itulah bapa Baginda Nata. Dalam hidup atut runtut sepakat sehati. Setitah raja diturut, menggirangkan pandang. Tingkah laku mereka semua meresapkan.
  2. Tersebut tahun saka tujuh orang dan surya (1217) Baginda menobatkan puteranya di Kediri. Perwira, bijak, pandai, putera Indreswari. Bergelar Sang Raja Putera Jayanagara.
  3. Tahun saka surya mengitari tiga bulan (1231) Sang orabu mangkat, ditanam di dalam pura Antahpura, begitu nama makam beliau. Dan di makam Simping ditegakkan arca Siwa.

Pupuh 48

  1. Beliau meninggalkan Jayanagara sebagai raja Wilwatikta. Dan dua orang puteri keturunan Rajapatni, terlalu cantik. Bagai Dewi Ratih kembar, mengalahkan rupa semua bidadari. Yang sulung jadi rani di Jiwana, yang bungsu jadi rani di Daha.
  2. Tersebut pada tahun saka mukti guna memaksa rupa (1238) bulan madu baginda Jayanagara berangkat ke Lumajang menyirnakan musuh. Kotanya Pajarakan dirusak, Nambi sekeluarga dibinasakan. Giris miris segenap jagat melihat keperwiraan Sri Baginda.
  3. Tahun saka bulatan memanah surya (1250) beliau berpulang. Segera dimakamkan di dalam pura berlambang arca Wisnuparama. Di sila petak dan Bubat ditegakkan arca Wisnu terlalu indah. Di sukalila terpahat arca Budha sebagai jelmaan Amogasidi.

Pupuh 49

  1. Tahun saka uma memanah dwi rupa (1256) Rani Jiwana Wijayatunggadewi bergilir mendaki tahta Wilwatikta didampingi raja putera Singasari.
  2. Atas perintah ibunda Rajapatni sumber bahagia dan pangkal kuasa. Beliau jadi pengemban dan pengawas raja muda, Sri Baginda Wilwatikta.
  3. Tahun Saka Api memanah ari (1253) Sirna musuh di sadeng, Keta diserang. Selama bertahta, semua terserah kepada menteri bijak, Mada namanya.
  4. Tahun saka panah musim mata pusat (1265) Raja Bali yang alpa dan rendah budi diperangi, gugur bersama balanya menjauh segala yang jahat, tenteram.
  5. Begitu ujar Dang Acarya Ratnamsah. Sungguh mengharukan ujar Sang Kaki. Jelas keunggulan Baginda di dunia. Dewa asalnya, titisan Girinata.
  6. Barangsiapa mendengar kisah raja, tak puas hatinya. Pasti takut melakukan tindak jahat, menjauhkan diri dari tindak durhaka.
  7. Paduka empu minta maaf berkata: “Hingga sekian kataku, sang rakawi. Semoga bertambah pengetahuanmu, Bagai buahnya gubahlah pujasastra”
  8. Habis jamuan rakawi dengan sopan minta diri kembali ke Singasari. Hari surut sampai pesanggrahan lagi. Paginya berangkat menghadap Baginda.

Pupuh 50

  1. Tersebut Baginda Raja berangkat berburu. Berlengkap dengan senjata, kuda dan kereta. Dengan bala ke hutan Nandawa, rimba belantara. Rungkut rimbun penuh gelagah rumput rampak.
  2. Bala bulat beredar membentuk lingkaran. Segera siap kereta berderet rapat. Hutan terkepung, terperanjat kera menjerit. Burung ribut beterbangan berebut dulu.
  3. Bergabung sorak orang berseru dan membakar. Gemuruh bagaikan deru lautan mendebur. Api tinggi menyala menjilat udara. Seperti waktu hutan Kandawa terbakar.
  4. Lihat rusa-rusa lari lupa daratan. Bingung berebut dahulu dalam rombongan. Takut miris menyebar, ingin lekas lari malah menengah berkumpul tumpuk timbun.
  5. Banyaknya bagai benteng di dalam Gobajra. Penuh sesak bagai lembu di Wresabapura. Celeng, banteng, rusa, kerbau, kelinci, biawak, kucing, kera, badak dan lainnya.
  6. Tertangkap segala binatang dalam hutan. Tak ada yang menentang, semua bersatu. Srigala gagah, yang bersikap tegak-teguh. Berunding dengan singa sebagai ketua.

Pupuh 51

  1. Izinkanlah saya bertanya kepada raja satwa. Sekarang raja merayah hutan, apa yang diperbuat? Menanti mati sambil berdiri ataukah kita lari Atau tak gentar serentak melawan, jikalau diserang?
  2. Seolah-olah demikian kata serigala dalam rapat. Kijang, kasuari, rusa dan kelinci serempak menjawab: “Hemat patik, tidak ada jalan lain kecuali lari. Lari mencari keselamatan diri sedapat mungkin.”
  3. Banteng, kerbau, lembu serta harimau serentak berkata: “Amboi! Celaka bang kijang, sungguh binatang hina lemah. Bukanlah sifat perwira lari atau menanti mati. Melawan dengan harapan menang, itulah kewajiban.”
  4. Jawab singa: “Usulmu berdua memang pantas diturut. Tapi harap dibedakan yang dihadapi baik atau buruk. Jika penjahat, terang kita lari atau kita lawan. Karena sia-sia belaka jika mati terbunuh olehnya.
  5. Jika kita menghadapi tripaksa, resi Siwa-Budha seyogyanya kita ikuti saja jejak sang pendeta. Jika menghadapi raja terburu, tunggu mati saja. Tak usah engkau merasa enggan menyerahkan hidupmu.
  6. Karena raja berkuasa mengakhiri hidup makhluk, Sebagai titisan Bhatara Siwa berupa narpati. Hilang segala dosanya makhluk yang dibunuh beliau. Lebih utama daripada terjun ke dalam telaga.
  7. Siapa diantara sesame akan jadi musuhku? Kepada Tripaksa aku takut, lebih utama menjauh. Niatku jika berjumpa raja, akan menyerahkan hidup. Mati olehnya, tak akan lagi bagai binatang.”

Pupuh 52

  1. Bagaikan katanya: “Marilah berkumpul!” Kemudian serentak maju berdesak. Prajurit darat yang terlanjur langkahnya tertahan tanduk satwa, lari kembali.
  2. Tersebut adalah prajurit berkuda. Bertemu celeng sedang berdesuk kumpul. Kasihan! Beberapa mati terbunuh dengan anaknya dirayah tak berdaya.
  3. Lihatlah celeng jalang maju menerjang. Berempat, berlima, gemuk, tinggi, marah, buas membekos-bekos, matanya merah liar dahsyat, saingnya seruncing golok.

Pupuh 53

  1. Tersebut pemburu kijang rusa riuh seru menyeru. Ada satu yang tertusuk tanduk, lelah lambat jalannya. Karena luka kakinya, darah deras meluap-luap. Lainnya mati terinjak-injak, menggelimpang kesakitan.
  2. Bala kembali berburu, berlengkap tombak serta lembing. Berserak kijang rusa di samping bangkai bertumpuk timbun. Banteng serta binatang galak lainnya bergerak menyerang. Terperanjat bala raja bercicir lari tunggang langgang.
  3. Ada yang lari berlindung di jurang, semak, kayu rimbun. Ada yang memanjat pohon, ramai mereka berebut puncak. Kasihanilah yang memanjat pohon tergelincir ke bawah! Betisnya segera diseruduk dengan tanduk, pingsanlah!
  4. Segera kawan-kawan datang menolong dengan kereta. Menombak, melembing, menikam, melanting, menjejak-jejak. Karenanya badak mundur, meluncur berdebak gemuruh. Lari terburu, terkejar; yang terbunuh bertumpuk timbun.
  5. Ada pendeta Siwa-Budha yang turut menombak, mengejar disengau harimau, lari diburu binatang mengancam. Lupa akan segala darma, lupa akan tata sila, turut melakukan kejahatan, melupakan darmanya.

Pupuh 54

  1. Tersebutlah baginda telah mengendarai kereta kencana. Tinggi lagi indah ditarik lembu yang tidak takut bahaya. Menuju hutan belantara, mengejar buruan ketakutan. Yang menjauhkan diri lari bercerai-berai meninggalkan bangkai.
  2. Celeng, kaswari, rusa, dan kelinci tinggal dalam ketakutan. Baginda berkuda mengejar yang riuh lari bercerai-berai. Menteri, tanda, dan pujangga di punggung kuda turut memburu. Binatang jatuh terbunuh, tertombak, terpotong, tertusuk, tertikam.
  3. Tanahnya luas lagi rata, hutannya rungkut, di bawah terang. Itulah sebabnya kijang dengan mudah dapat diburu kuda. Puaslah hati baginda, sambil bersantap dihadap pendeta. Bercerita tentang caranya berburu, menimbulkan gelak tawa.

Pupuh 55

  1. Terlangkahi betapa narpati  sambil berburu menyerap sari keindahan. Gunung dan hutan, kadang-kadang kepayahan kembali ke rumah perkemahan. Membawa wanita seperti cengkerama; di hutan bagai menggempur Negara. Tahu kejahatan satwa, beliau tak berdosa terhadap darma ahimsa.
  2. Tersebutlah beliau bersiap akan pulang, rindu kepada keindahan pura. Tatkala subakala berangkat menuju Banyu Hanget, Banir dan Talijungan. Bermalam di Wedwawedan, siangnya menuju Kuwarahan, Celong dan Dadamar. Garuntang, Pagar Telaga, Pahanjangan, sampai disitu perjalanan beliau.
  3. Siangnya perjalanan melalui Tambak, Rabut, Wayuha terus ke Belanak. Menuju Pandakan, Banaragi, sampai Pandamayan beliau lalu bermalam. Kembali ke Selatan, ke Barat menuju Jejawar di kaki gunung berapi. Disambut penonton bersorak gembira, menyekar sebentar di candi makam.

Pupuh 56

  1. Adanya candi makam tersebut sudah sejak zaman dahulu. Didirikan oleh Sri Kertanegara, moyang baginda raja. Di situ hanya jenazah beliau saja yang dimakamkan. Karena beliau dulu memeluk dua agama Siwa-Budha.
  2. Bentuk candi berkaki Siwa, berpuncak Budha, sangat tinggi. Didalamnya terdapat arca Siwa, indah tak dapat dinilai. Dan arca Maha Aksobhya bermahkota tinggi tak bertara. Namun telah hilang; memang sudah layak, tempatnya di nirwana.

Pupuh 57

  1. Konon kabarnya tepat ketika arca Hyang Aksobya hilang. Ada pada Baginda guru besar, masyhur, pada Paduka. Putus tapa, sopan suci penganut pendeta Sakyamuni. Telah terbukti bagai mahapendeta, terpundi sasantri.
  2. Senang berziarah ke tempat suci, bermalam di candi. Hormat mendekati Hyang arca suci, khidmat berbakti sembah. Menimbulkan iri di dalam hati pengawas candi suci. Ditanya, mengapa berbakti kepada arca dewa Siwa.
  3. Pada Paduka menjelaskan sejarah candi makam suci. Tentang adanya arca Aksobya indah, dahulu di atas. Sepulangnya kembali lagi ke candi menyampaikan bakti, kecewa! Tercengang memandang arca Maha Aksobya hilang.
  4. Tahun Saka Api Memanah Halilintar (1253) itu hilangnya arca. Waktu hilangnya halilintar menyambar candi ke dalam. Benarlah kabaran pendeta besar bebas dari prasangka. Bagaimana membangun kembali candi tua terbengkalai?
  5. Tiada ternilai indahnya, sungguh seperti surge turun. Gapura luar, mekala serta bangunanya serba permai. Hiasang di dalamnya nagapuspa yang sedang berbunga. Disisinya lukisan puteri istana berseri-seri.
  6. Sementara Baginda girang cengkrama menyerap pemandangan. Pakis berserak di tengah tebar bagai bulu dada. Ketimur arahnya dibawah terik matahari, Baginda meninggalkan candi, pekalongan girang ikut jurang curam.

Pupuh 58

  1. Tersebut dari Jajawa Baginda berangkat ke Desa Padameyan. Berhenti di Cunggrang, mencari pemandangan, masuk hutan rindang. Kea rah asrama para pertapa di lereng kaki gunung menghadap jurang. Luang jurang ternganga-nganga ingin menelan orang yang memandang.
  2. Habis menyerap pemandangan, masih pagi kereta telah siap. Ke Barat arahnya menuju gunung melalui jalannya dahulu. Tiba di penginapan Japan, barisan tentara datang menjemput. Yang tinggal di pura iri kepada yang gembira pergi menghadap.
  3. Pukul tiga itulah waktu baginda bersantap bersama-sama. Paling muka duduk baginda, lalu dua paman berturut tingkat. Raja Matahun dan Paguhan bersama permaisuri agak jauhan di sisi Sri Baginda; terlangkahi betapa lamanya bersantap.

Pupuh 59

  1. Paginya pasukan kereta Baginda berangkat lagi. Sang pujangga menyidat jalan ke Rabut, Tugu, Pengiring. Singgah di Pahyangan, menemui kelompok sanak kadang. Dijamu sekadarnya, karena kunjungannya mendadak.
  2. Banasara dan Sangkan Adoh telah dilalui. Pukul dua Baginda telah sampai di perbatasan kota. Sepanjang jalan berdesuk-desuk, gajah, kuda, pedati, kerbau, banteng dan prajurit darat sibuk berebut jalan.
  3. Teratur rapi mereka berarak di dalam deretan. Narpati Pajang, permaisuri dan pengiring paling muka. Di belakangnya, tidak jauh , berikut narapati Lasem. Terlampau indah keretanya, menyilaukan yang memandang.
  4. Rani Daha, Rani Wengker semuanya urut belakang. Disusul rani Jiwana bersama laki dan pengiring. Bagai penutup kereta Baginda serombongan besar. Diiringi beberapa ribu oerwira dan para menteri.
  5. Tersebutlah orang yang rapat tampak menambak tepi jalan. Berjejal ribut menanti kereta Baginda berlintas. Tergopoh-gopoh perempuan ke pintu berebut tempat. Malahan ada yang lari telanjang lepas sabuk lainnya.
  6. Yang jauh tempatnya, memanjat kekayu berebut tinggi. Duduk berdesak-desakan di dahan, tak pandang tua muda. Bahkan ada juga yang memanjat batang kelapa kuning. Lupa malu dilihat orang, karena terpekur memandang.
  7. Gemuruh dengung gong menampuk Sri Baginda raja datang. Terdiam duduk merunduk segenap orang di jalanan. Setelah raja lalu, berarak pengiring di belakang. Gajah, kuda, keledai, kerbau berduyun beruntun-runtun.

Pupuh 60

  1. Yang berjalan rampak berarak-arak. Barisan pikulan berjalan belakang. Lada, kesumbu, kapas, buah kelapa, buah pinang, asam dan wijen terpikul.
  2. Di belakangnya oemikul barang berat. Sengkeyegan lambat berbimbingan tangan kanan menuntun kirik dan kiri genjik. Dengan ayam itik di keranjang merunduk.
  3. Jenis barang terkumpul dalam pikulan. Buah kecubung, rebung, slundang, cempaluk, nyiru, kerucut, tempayan, dulang, periuk gelaknya seperti hujan panah jatuh.
  4. Tersebut Baginda telah masuk pura. Semua bubar ke rumah masing-masing. Ramai bercerita tentang hal yang lalu. Membuat girang semua sanak kadang.

Pupuh 61

  1. Waktu lalu; Baginda tak lama di istana. Tahun saka dua gajah bulan (1282) Badrapada, beliau berangkat menuju Tirib dan Sempur. Nampak sangat banyak binatang di dalam hutan.
  2. Tahun saka tiga badan dan bulan (1283) Waisaka, baginda raja berangkat menyekar ke Palah. Dan mengunjungi Jumble untuk menghibur hati. Di Lawang Wentar, Blitar menentramkan cita.
  3. Dari Blitar ke selaan jalannya mendaki. Puhonnya jarang, layu lesu kekurangan air. Sampai Lodaya bermalam beberapa hari. Tertarik keindahan lautan, menyisir pantai.
  4. Meninggalkan Lodaya menuju desa Simping. Ingin memperbaiki candi makam leluhur. Menaranya rusak, dilihat miring ke barat. Perlu ditegakkan kembali agak ke timur.

 

Pupuh 62

  1. Perbaikan disesuaikan dengan bunyi prasasti, yang dibaca lagi. Diukur panjang lebarnya; disebelah timur sudah ada tugu asrama gurung-gurung diambil sebagai denah candi makam. Untuk gantinya diberikan Ginting, Wisnurare di Bajradara.
  2. Waktu pulang mengambil jalan Jukung, Jnyanabadra terus ke timur. Berhenti di Bajralaksmi dan bermalam di candi Surabawana. Paginya berangkat lagi, berhenti di Bekel, sore sampai pura. Semua pengiring bersowang sowing pulang ke rumah masing-masing.

Pupuh 63

  1. Tersebut paginya Sri Naranata dihadapan para menteri semua. Dimuka para Arya, lalu Pepatih, duduk teratur di Manguntur. Patih Amangkubumi Gadjah Mada tampil ke muka sambil berkata: “Baginda akan melakukan kewajiban yang tak boleh diabaikan”.
  2. Atas perintah Sang Rani Sri Tribuwana Wijayatunggadewi, supaya pesta Serada Sri Rajapatni dilangsungkan Sri Baginda. Di istana pada tahun saka bersirah empat (1284) bulan Badrapada. Semua pembesar dan wredda menteri diharap memberi sumbangan.”
  3. Begitu kata sang patih dengan ramah, membuat gembira Baginda. Sorenya datang para pendeta, para budiman, sarjana dan menteri yang dapat pinjaman tanah dengan Ranadiraja sebagai kepala. Bersama-sama membicarakan biaya di hadapan Sri Baginda.
  4. Tersebutlah sebelum bulan Badrapada menjelang surutnya Srawana. Semua pelukis berlipat giat menghias “tempat singa” di setinggil. Ada yang mengetam baik makanan, bokor-bokoran, membuat arca. Pandai emas dan perak turut sibuk bekerja membuat persiapan.

Pupuh 64

  1. Ketika saatnya tiba, tempat telah teratur sangat rapi. Balai Witana terhias indah, dihadapan rumah-rumahan. Satu diantaranya berkaki batu karang, bertiang merah. Indah dipandang, semua menghadap kea rah tahta Baginda.
  2. Barat, mandapa dihias janur rumbai, tempat duduk para raja. Utara, serambi dihias berlapis ke timur, tempat duduk. Para isteri, pembesar, menteri dan pujangga, serta pendeta. Selatan, beberapa serambi berhias bergas untuk abdi.
  3. Demikian persiapan Sri Baginda memuja Budha Sakti. Semua pendeta Budha berdiri dalam lingkaran bagai saksi. Melakukan upacara, dipimpin oleh pendeta Stapaka. Tenang, sopan, budiman faham tentang sastra tiga tantra.
  4. Umumnya melintasi seribu bulan, masih belajar tutur. Tubuhnya sudah rapuh, selama upacara harus dibantu. Empu dari Paruh selaku pembantu berjalan di lingkaran. Mudra, tantra, dan japa dilakukan tepat menurut aturan.
  5. Tanggal dua belas nyawa dipanggil dari surge dengan doa. Disuruh kembali atas doa dan upacara yang sempurna. Malamnya memuja arca bunga bagai penampung jiwa mulia. Dipimpin Dang Acarya, mengheningkan cipta, mengucapkan puja.

Pupuh 65

  1. Pagi purnamakala arca bunga dikeluarkan untuk upacara/ Gemuruh disambut dengan dengung salung, tambur, terompet serta gendering. Didudukkan diatas singgasana, besarnya setinggi orang berdiri. Berderet beruntun-runtun semua pendeta tua muda memuja.
  2. Berikut para raja, parameswari dan putera mendekati arca. Lalu patih dipimpin Gadjah Mada maju ke muka berdatangan sembah. Para bupati pesisir dan pembesar daerah dari empat penjuru. Habis berbakti sembah, kembali mereka semua duduk rapi teratur.
  3. Sri Nata Paguhan paling dahulu menghaturkan sajian makanan sedap. Bersusun timbun seperti pohon dan sirih bertutup kain sutera. Persembahan raja Matahun arca banteng putih seperti lembu Nandini. Terus menerus memuntahkan harta dan makanan dari mulutnya.
  4. Raja wengker mempersembahkan sajian berupa rumah dengan taman bertingkat. Disertai penyebaran harta di lantai balai besar berhambur-hamburan. Elok persembahan raja Tumapel berupa perempuan cantik manis dipertunjukkan selama upacara untuk menharu-rindukan hati.
  5. Paling hebat persembahan Sri Baginda berupa gunung besar Mandara. Digerakkan oleh sejumlah dewa dana danawa dhsyat menggusarkan pandang. Ikan lembora besar berlembak-lembak mengebaki kolam bujur lebar. Bagaikan sedang mabuk diayun gelombang ditengah-tengah lautan besar.
  6. Tiap hari persajian makanan yang dipersembahkan dibagi-bagi. Agar para wanita, menteri, pendeta dapat makanan sekenyangnya. Tidak terlangkahi para ksatria, arya dan abdi di pura. Tak putusnya makanan sedap nyaman diedarkan kepada bala tentara.

Pupuh 66

  1. Pada hari keenam pagi Sri Baginda bersiap mempersembahkan persajian. Pun para ksatria  dan pembesar mempersembahkan rumah-rumahan yang terpikul. Dua orang pembesar mempersembahkan perahu yang melukiskan kutipan kidung. Seperahu sungguh besarnya, diiringi gong dan bubar mengguntur menggembirakan.
  2. Esoknya Patih Mangkubumi Gadjah Mada sore-sore menghadap sambil menghaturkan persajian. Berbagai ragamnya, berduyun-duyun, ada yang berupa perahu, gunung, rumah, ikan…
  3. Sungguh-sungguh mengagumkan persembahan Baginda raja pada hari yang ketujuh. Beliau menabur harta, membagi-bagi bahan pakaian dan hidangan makanan. Luas merata kepada empat kasta, dan terutama kepada para pendeta. Hidangan jamuan kepada pembesar abdi dan niata mengalir bagai air.
  4. Gemeruduk dan gemuruh para penonton dari segenap arah, berdesak-sesak. Ribut berebut tempat melihat peristiwa di balai agung serta pura leluhur. Sri Nata menari di balai Witana khusus untuk para puteri dan para istri. Yang duduk rapat rapi berimpit, ada yang ngelamun karena tercengang memamndang.
  5. Segala macam kesenangan yang menggembirakan hati rakyat diselenggarakan. Nyanyian, wayang, topeng silih berganti setiap hari dengan paduan suara. Tari perang prajurit, yang dahsyat berpukul-pukulan, menimbulkan gelak mengakak. Terutama derma kepada orang yang menderita membangkitkan gembira rakyat.

Pupuh 67

  1. Pesta serada yang diselenggarakan serba meriah dan khidmat. Pasti membuat gembira jiwa Sri Rajapatni yang sudah mangkat. Semoga beliau melimpahkan berkat kepada Baginda raja. Sehingga jaya terhadap musuh selama ada bulan dan surya.
  2. Paginya pendeta Budha datang menghormati, memuja dengan sloka. Arwah Prajnyaparamita yang sudah berpulang ke Budhaloka. Segera arca bunga diturunkan kembali dengan upacara. Segala macam makanan dibagikan kepada segenap abdi.
  3. Lodang lega rasa Baginda melihat perayaan langsung lancer. Karya yang masih menunggu, menyempurnakan candi di Kamal Pandak. Tanahnya telah disucikan tahun dahana tujuh surya (1274) dengan persajian dan puja kepada Brahma oleh Jnyanawidi.

Pupuh 68

  1. Demikian sejarah Kamal menurut tutur yang dipercaya. Dan Sri Nata Panjalu di Daha, waktu bumi Jawa dibelah karena cinta raja Erlangga kepada kedua puteranya.
  2. Ada pendeta Budhamajana putus dalam tantra dan yoga. Diam di tengah kuburan Lemah Cittra, jadi pelindung rakyat. Waktu ke Bali berjalan kaki, tenang menapak di air lautan. Hyang Mpu Barada nama beliau, faham tentang tiga zaman.
  3. Girang beliau menyambut permintaan Erlangga membelah Negara. Tapal batas Negara ditandai air kendi, mancur dari langit. Dari barat ke timur sampai laut; sebelah utara, selatan. Yang tidak jauh, bagaikan dipisahkan oleh samudera besar.
  4. Turun dari angkasa sang pendeta berhenti di pohon asam. Selesai tugas kendi suci ditaruhkan di dusun Palungan. Marah terhambat pohon asam tinggi yang puncaknya mengait jubah. Mpu Barada terbang lagi, mengutuk asam agar jadi kerdil.
  5. Itulah tugu batas gaib yang tidak akan mereka lalui. Itu pula sebabnya dibangun candi, memadu Jawa lagi. Semoga baginda serta rakyat tetap tegak, teguh, waspada. Berjaya dalam memimpin Negara, yang sudah bersatu padu.

Pupuh 69

  1. Prajnaparamitapuri itulah nama candi makam yang dibangun. Arca Sri Rajapatni diberkahi oleh pendeta Jnyanawidi. Telah lanjut usia, faham akan tantra, menghimpun ilmu Negara. Laksana titisan Empu Bharada, menggembirakan hati Baginda.
  2. Di Bayalangu akan dibangun pula candi makam Sri Rajapatni. Pendeta Jnyanawidi lagi yang ditugaskan memberkahi tanahnya. Rencananya telah disetujui oleh sang menteri demung Boja. Wisesapura namanya, jika candi sudah berdiri sempurna dibangun.
  3. Candi makam Sri Rajapatni tersohor sebagai tempat keramat. Tiap bulan Badrapada disekar oleh para menteri dan pendeta. Di tiap daerah, rakyat serentak membuat peringatan dan memuja. Itulah surganya, berkat berputera, bercucu narendra utama.

Pupuh 70

  1. Tersebut pada tahun saka angin delapan utama (1285) baginda menuju Simping demi pemindahan candi makam. Siap lengkap segala persajian tepat menurut adat. Pengawasnya Rajaparakrama memimpin upacara.
  2. Faham tentang tatwopadesa dan kepercayaan Siwa. Memangku jabatannya semenjak mangkat Kertarajasa. Ketika menegakkan menara dan mekala gapura. Bangsawan agung Arya Krung, yang diserahi menjaganya.
  3. Sekembalinya dari Simping, segera masuk pura. Terpaku mendengar Adimenteri Gadjah Mada sakit. Pernah mencurahkan tenaga untuk keluhuran Jawa. Di Pulau Bali serta Kota Sadeng memusnahkan musuh.

Pupuh 71

  1. Tahun saka tiga angin utama (1253) beliau mulai memikul tanggung jawab. Tahun rasa (1286) beliau mangkat; Baginda gundah, terharu bahkan putus asa. Sang Dibyacita Gadjah Mada cinta kepada sesame tanpa pandang bulu. Insaf bahwa hidup tidak baka, karenanya beramal tiap hari.
  2. Baginda segera bermusyawarah dengan kedua rama serta ibunda. Kedua adik dan kedua ipar tentang calon pengganti Ki Patih Mada yang layak akan diangkat hanya calon yang sungguh mengenal tabiat rakyat. Lama timbang menimbang, tetapi seribu sayang tidak ada yang memuaskan.
  3. Baginda berpegang teguh. Adimenteri Gadjah Mada tak akan diganti. Bila karenanya timbul keberatan, beliau sendiri bertanggung jawab. Memilih enam menteri yang menyampaikan urusan Negara ke istana. Mengetahui segala perkara, sanggup tunduk kepada pimpinan Baginda.

Pupuh 72

  1. Itulah putusan rapat tertutup. Hasil yang diperoleh perundingan. Terpilih sebagai wredda menteri karib Baginda bernama Mpu Tadi.
  2. Penganut karib Sri Baginda Nata. Pahlawan perang bernama Mpu Nala. Mengetahui budi pekerti rakyat. Mancanegara bergelar tumenggung.
  3. Keturunan orang cerdik dan setia. Selalu memangku pangkat pahlawan. Pernah menundukkan Negara  Dompo, Serba ulet menanggulangi musuh.
  4. Jumlahnya bertambah dua menteri. Bagai pembantu utma Baginda. Bertugas mengurus soal perdata. Dibantu oleh para upapati.
  5. Mpu Dami menjadi menteri muda. Selalu ditaati di istana. Mpu Singa diangkat sebagai saksi. Dalam segala perintah Baginda.
  6. Demikianlah titah Sri Baginda Nata. Puas, taat, teguh segenap rakyat. Tumbuh tambah hari setia baktinya. Karena Baginda yang memerintah.

Pupuh 73

  1. Baginda makin keras berusaha untuk dapat bertindak lebih bijak. Dalam pengadilan tidak serampangan, tapi tepat mengikuti undang-undang. Adil segala keputusan yang diambil, semua pihak merasa puas. Masyhur nama beliau, mampu menembus zaman, sungguhlah titisan Bhatara.
  2. Candi makam serta bangunan para leluhur sejak zaman dahulu kala yang belum siap diselesaikan, dijaka dan dibina dengan seksama. Yang belum punya prasasti disuruh buatkan piagam oleh ahli sastra. Agar kelak jangan sampai timbul perselisihan, jikalau sudah temurun.
  3. Jumlah candi makam raja seperti berikut, mulai dengan Kagenengan disebut pertama karena tertua: Tumapel, Kidal, Jajagu, Wedwawedan. Di Tuban, Pikatan, Bakul, Jawa-jawa, Antang Trawulan Kalang, Brat dan Jago. Lalu Blitar, Sila Petak, Ahrit, Waleri, Bebeg, Kukap, Lumbang dan Puger.

 

 

Pupuh 74

  1. Makam rani: Kamal Pandak, Segala, Simping, Sri Ranggapura serta candi Budi Kuncir, bangunan baru Prajnyaparamitapuri di Bayalangu yang baru saja dibangun.
  2. Itulah dua puluh tujuh candi raja. Pada Saka tujuh guru candra (1287) bulan Badra, dijaga petugas atas perintah raja. Diawasi oleh pendeta ahli sastra.

Pupuh 75

  1. Pembesar yang bertugas mengawasi seluruhnya sang Wiradikara orang utama, yang seksama dan tawakal membina semua candi. Setia kepada baginda, hanya memikirkan kepentingan bersama. Segan mengambil keuntungan berapa pun penghasilan candi makam.
  2. Desa-desa perdikan ditempatkan di bawah perlindungan Baginda Darmadyaksa Kasewan bertugas membina tempat ziarah dan pemujaan. Darmadyaksa Kasogatan disuruh menjaga biara kebudhaan. Menteri ber-haji bertugas memelihara semua pertapaan.

Pupuh 76

  1. Desa perdikan Siwa yang bebas dari pajak: Biara Relung Kunci, Kapulungan, Roma, Wwatan, Iswaragreha, Palabdi, Tanjung, Kutalamba, begitu pula Taruna. Parahyangan, Kuti Jati, Candi Lima, Nilakusuma, Harimananda, Uttamasuka, Prasada-haji, Sadeng, Panggumpulan, Katisanggraha. Begitu pula Jayasuka.
  2. Tak ketinggalan: Spatika, Yang Jayamanalu, Haribawana, Candi Pangkal, Pigir, Nyudonto, Katuda, Srangan, Kapukuran, Dayamuka, Kalinandana, Kanigara, Rambut, Wuluhan, Kinawung, Sukawijaya, dan lagi Kajaha, demikian pula Campen, Ratimanatasrama, Kula, Kaling ditambah sebutan lagi Batu Putih.
  3. Desa perdikan kasogatan yang bebas dari pajak: Wipulahara, Kutahaji, Jantraya, Rajadanya, Kuswanata, Surayasa, Jarak, Lagundi, serta Wadari. Wewe Pacekan, Pasuruan, Lemah Surat, Sangan serta Pangiketan. Panghawan, Damalang, Tepasjita, Wanasrama, Jenar, Samudrawela, dan Pamulang.
  4. Baryang Amretawardani, Wetlwetihn, Kawinayan Patemon serta Kanuruhan. Engtal, Wengker, Banyu Jiken, Batabata, Pagagan, Sibok dan Engtal Wetan. Pindatuha, telang, Suraba, itulah yang terpenting, sebuah suka Sukalila. Tak disebut perdikan tambahan seperti Pogara, Kulur, Tangkil, dan sebagainya.

Pupuh 77

  1. Selanjutnya, disebut berturut desa kebudhaan Bjradara: Isanabajra, Naditara, Mukuh, Sambang, Tanjung, Amretasaba, Bangbang, Bodimula, Waharu Tampak, serta Puruhan dan Tadata.Tidak juga terlangkahi Kumuda, Ratna serta Nadinagara.
  2. Wungajaya, Palandi, Tangkil, Asahing, Samici, serta Acitahen. Nairanjana, Wijayawaktra, Mageneng, Pojahan, dan Balamasin. Krat, Lemah Tulis, Ratnapangkaya, Panumbangan serta Kahuripan. Keraki, Telaga Jambala, Jungul ditambah lagi Wisnuwala.
  3. Badur, Wirun, WUngkilur, Mananggung, Watukura serta Bajrasana. Pajambayan, Salaten, Simapura, Tambvak Laleyan, Pilangu, Pohaji, Wangkali, Biru, Lembah, Dalinan, Pangadwan yang terakhir. Itulah desa kebudhaan Bajradara yang sudah berprasasti.

Pupuh 78

  1. Desa Keresian seperti berikut: Sampud, Rupit dan Pilan. Pucangan, Jagadita, Pawitra, masih sebuah lagi Butun. Di situ terbentang taman, didirikan lingga dan saluran air. Yang mulia Mahaguru – demikian sebutan beliau.
  2. Yang diserahi tugas menjaga sejak dulu menurut piagam. Selanjutnya desa perdikan tanpa candi, diantaranya yang penting: Bangawan Tunggal, Sidayatra, Jaya Sidahajeng, Lwah Kali dan Twas. Wasita, Palah, Padar, Siringan. Itulah desa perdikan Siwa.
  3. Wangjang Bajrapura, Wanara, Makiduk, Hansen, Guha dan Jiwa. Jumpud, Soba, Pamuntaran dan Baru, perdikan Budha utama. Kajar, Dana Hanyar, Turas, Jalagri, Centing, Wekas. Wandira, Wandayan, Gatawang, Kulapayan dan Talu pertapaan resi.
  4. Desa perdikan Wisnu berserak di Barwan serta Kamangsian, Batu, Tanggulian, Dakulut, Galuh, Makalaran, itu yang penting. Sedang, Medang, Hulun Hyan, Parung Langge, Pasajan, Kelut, Andelmat, Pradah, Geneng, Panggawan, sduah sejak lama bebas pajak.
  5. Terlewati segala dukuh yang terpencar di seluruh Jawa. Begitu pula asrama tetap yang bercandi serta yang tidak. Yang bercandi menerima bantuan tetap dari Baginda raja. Begitu juga dukuh pengawas, tempat belajar upacara.

Pupuh 79

  1. Telah diteliti sejarah berdirinya segala desa di Jawa. Perdikan, candi, tanah pusaka, daerah dewa, biara dan dukuh. Yang berpiagam dipertahankan, yang tidak segera diperintahkan pulang kepada dewan desa di hadapan Sang Arya Ranadiraja.
  2. Segenap desa sudah diteliti menurut perintah Raja Wengker. Raja Singasari bertitah mendaftar jiwa serta seluk salurannya. Petugas giat menepati perintah, berpegang kepada aturan. Segenap penduduk jawa patuh mengindahkan perintah baginda raja.
  3. Semua tata aturan patuh diturut oleh Pulau Bali. Candi, asrama, pesanggrahan telah diteliti sejarah tegaknya. Pembesar kebudhaan Baduhulu, Badaha Lo Gajah ditugaskan membina segenap candi, bekerja rajin dan mencatat semuanya.

Pupuh 80

  1. Perdikan kebudhaan Bali seperti berikut: Biara Baharu (Hanyar), Kadikaranan, Purwanagara, Wirabahu, Adiraja, Kuturan. Itulah enam kebudhaan Bajradara, biara kependetaan. Terlangkahi biara dengan bantuan Negara seperti Arya-dadi.
  2. Berikut candi makam di Bukit Sulang, Lemah Lampung dan Anyawasuda, Tatagatapura, Grehastadata, sangat masyhur, dibangun atas piagam pada tahun saka Angkasa Rasa Surya (1260) oleh Sri Baginda Jiwana. Yang memberkahi tanahnya, membangun candinya: upasaka wredda menteri.
  3. Semua perdikan dengan bukti prasasti dibiarkan tetap berdiri. Terjaga dan terlindungi segala bangunan setiap orang budiman. Begitulah tabiat raja utama, Berjaya, berkuasa, perkasa. Semoga kelak para raja sudi membina semua bangunan suci.
  4. Maksudnya agar musnah semua durjana dari muka bumi laladan. Itulah tujuan melintas, menelusur dusun-dusun sampai di tepi laut. Menentramkan hati pertapa, yang rela tinggal di pantai, gunung dan hutan. Lega bertapa brata dan bersamadi demi kesejahteraan Negara.

Pupuh 81

  1. Besarlah minat Baginda untuk tegaknya tripaksa. Tentang piagam beliau bersikap agar tetap diindahkan. Begitu pula tentang pengeluaran undang-undang, supaya laku utama, tata sila dan adat-tutur diperhatikan.
  2. Itulah sebabnya sang caturdwija  mengejar laku utama. Resi, Wipra, pendeta Siwa Budha teguh mengindahkan tutur. Catur Asrama  terutama catur basma tunduk rungkup tekun. Melakukan tapa brata, rajin mempelajari upacara.
  3. Semua anggota empat kasta teguh mengindahkan ajaran. Para menteri dan arya pandai membina urusan Negara. Para puteri dan ksatria berlaku sopan, berhati teguh. Waisya dan Sudra dengan gembira menepati tugas darmanya.
  4. Empat kasta yang lahir sesuai dengan keinginan Hyang Mahatinggi. Konon, tunduk rungkup kepada kuasa dan perintah baginda. Teguh tingkah tabiatnya, juga ketiga golongan terbawah, Candala, Mleca dan Tucamencoba mencabut cacat-cacatnya. Begitulah tanah Jawa pada zaman pemerintahan Sri Nata.

Pupuh 82

  1. Penegakan bangunan – bangunan suci membuat gembira rakyat. Baginda menjadi teladan di dalam menjalankan enam darma. Para ibu kagum memandang, setuju dengan tingkah laku sang prabu.
  2. Sri Nata Singasari membuka lading luas di daerah Sagala. Sri Nata Wengker membuka hutan Surabana, Pasuruan, Pajang. Mendirikan perdikan Budha di Rawi, Locanapura, Kapulungan. Baginda sendiri membuka lading Watsari di Tigawangi.
  3. Semua menteri mengenyam tanah palenggahan yang cukup luas. Candi, Biara dan Lingga utama dibangun tak ada putusnya. Sebagai tanda bakti kepada dewa, leluhur, para pendeta. Memang benar budi luhur tertabur mengikuti jejak Sri Nata.

Pupuh 83

  1. Begitulah keluhuran Sri Baginda ekanata di Wilwatikta. Terpuji bagaikan bulan di musim gugur, terlalu indah terpandang. Durjana laksana tunjung merah, sujana seperti teratai putih. Abdi, harta, kereta, gajah, kuda berlimpah-limpah bagai samudera.
  2. Bertambah masyhur keluhuran Pulau Jawa di seluruh jagat raya. Hanya Jambudwipa dan Pulau Jawa yang disebut Negara utama. Banyak pujangga dan dyaksa serta para upapati, tujuh jumlahnya. Panji Jiwalekan dan Tenggara yang menonjol bijak di dalam kerja.
  3. Masyhurlah nama pendeta Brahmaraja bagai pujangga, ahli tutur. Putus dalam tarka, sempurna dalam seni kata serta ilmu naya. Hyang Brahma, sopan, suci, ahli weda, menjalankan nam laku utama. Bhatara Wisnu dengan cipta dan mantera membuat sejahtera Negara.
  4. Itulah sebabnya berduyun-duyun tamu asing datang berkunjung dari Jambudwipa, Kamboja, Cina, Yamana, Campa dan Kamataka. Goda serta Saim mengarungi lautan bersama para pedagang. Resi dan pendeta, semua merasa puas menetap dengan senang.
  5. Tiap bulan Palguna Sri Nata dihormati di seluruh Negara. Berdesak-desak para pembesar, empat penjuru, para prabot desa hakim dan pembantunya, bahkan pun dari Bali mengaturkan upeti. Pekan penuh sesak pembeli penjual, barang terhampar di dasaran.
  6. Berputar keliling gamelan dalam tanduan di arak rakyat ramai. Tiap bertabuh tujuh kali, pembawa sajian menghadap ke pura. Korban api, ucapan mantra dilakukan para pendeta Siwa-Budha. Mulai tanggal delapan petang demi keselamatan Baginda.

Pupuh 84

  1. Tersebut pada tanggal empat belas bulan petang, Baginda berkirap. Selama kirap keliling kota busana Baginda serba kencana. Ditatang jempana kencana, panjang berarak beranur runtun. Menteri, sarjana, pendeta beriring dalam pakaian seragam.
  2. Mengguntur gaung gong dan salung, disambut terompet meriah sahut menyahut. Bergerak barisan pujangga menampung beliau dengan puja sloka. Gubahan kawi raja dari pelbagai kota dari seluruh jawa.Tanda bakti Baginda perwira bagai Rama, mulia bagai Sri Kresna.
  3. Telah naik Baginda di tahta mutu-manikam, bergebar pencar sinar. Seolah-olah Hyang Trimurti datang mengucapkan puji astuti. Yang Nampak, semua serba mulia, sebab Baginda memang raja agung. Serupa jelmaan Sang Sudodana putera dan Jina bawana.
  4. Sri Nata Pajang dengan Sang Permaisuri berjalan paling muka. Lepas dari Singgasana yang diarak pengiring terlalu banyak. Menteri Pajang dan Paguhan serta pengiring jadi satu kelompok. Ribuan jumlahnya, berpakaian seragam membawa panji dan tunggul.
  5. Raja Lasem dengan permaisuri serta pengiring di belakangnya. Lalu Raja Kediri dengan permaisuri serta menteri dan tentara. Berikut maharani Jiwana dengan suami dan para pengiring. Sebagai penutup Baginda dan para pembesar seluruh Jawa.
  6. Penuh berdesak-desak para penonton ribut berebut tempat. Di tepi jalan kereta dan pedati berjajar rapat memanjang. Tiap rumah mengibarkan bendera dan panggung membujur sangat panjang. Penuh sesak perempuan tua muda, berjejal berimpit –impitan.
  7. Rindu sendu hatinya seperti baru pertama kali menonton. Terlangkahi peristiwa pagi, waktu Baginda mendaki setinggil. Pendeta menghaturkan kendi berisi air suci didulang berukir. Menteri serta pembesar tampil ke muka menyembah bersama-sama.

Pupuh 85

  1. Tanggal satu bulan Caitra bala tentara berkumpul bertemu muka. Menteri, perwira, para arya dan pembantu raja semua hadir. Kepala daerah, ketua desa, para tamu dari luar kota. Begitu pula para ksatria, pendeta, dan Brahmana utama.
  2. Maksud pertemuan agar para warga mengelakkan watak jahat. Tetapi menganut ajaran Rajakapakapa, dibaca tiap Caitra. Menghindari tabiat jahat, seperti suka mengambil milik orang. Memiliki harta benda dewa, demi keselamatan masyarakat.

Pupuh 86

  1. Dua hari kemudian berlangsung perayaan besar. Di utra kota terbentang lapangan bernama Bubat. Sering dikunjungi Baginda, naik tandu bersudut tiga. Diarak abdi berjalan, membuat kagum tiap orang.
  2. Bubat adalah lapangan luas lebar dan rata. Membentang ke timur setengah krosa sampai jalan raya. Dan setengah krosa ke utara bertemu tebing sungai. Dikelilingi bangunan menteri di dalam kelompok.
  3. Menjulang sangat tinggi bangunan besar di tengah padang. Tiangnya penuh berukir dengan isi dongeng parwa. Dekat disebelah baratnya bangunan serupa istana. Tempat menampung Baginda di panggung pada bulan Caitra.

Pupuh 87

  1. Panggung berjajar membujur ke utara menghadap barat. Bagian utara dan selatan untuk para raja dan arya. Para menteri dan dyaksa duduk teratur menghadap timur. Dengan pemandangan bebas luas sepanjang jalan raya.
  2. Disitulah Baginda member rakyat santapan mata: pertunjukan perang tanding, perang pukul, desuk mendesuk, perang keris, adu tinju, tarik tambang, menggembirakan sampai tiga empat hari lamanya baru selesai.
  3. Seberangkat Baginda, sepi lagi, panggungnya dibongkar. Segala perlombaan bubar; rakyat pulang bergembira. Pada Caitra bulan petang Baginda menjamu para pemenang. Yang pulang menggondol pelbagai hadiah bahan pakaian.

Pupuh 88

  1. Segenap ketua desa dan wedana tetap tinggal, paginya mereka dipimpin Arya Ranadikara menghadap baginda minta diri di pura. Bersama Arya Mahadikara, kepala pancatanda dan padelegan. Sri Baginda duduk di atas tahta, dihadap para abdi dan pembesar.
  2. Berkatalah Sri Nata Wengker di hadapan para pembesar dan wedana: “Wahai, tunjukkan cinta serta setai baktimu kepada Baginda raja. Cintailah rakyat bawahanmu dan berusahalah memajukan dusunmu. Jembatan, Jalan Raya, Beringin, Bangunan dan Candi supaya dibina.
  3. Terutama dataran tinggi dan sawah, agar tetap subur, peliharalah. Perhatikan tanah rakyat, jangan sampai jatuh ketangan petani besar. Agar penduduk jangan sampai terusir dan mengungsi ke desa tetangga. Tepati segala peraturan untuk membuat desa bertambah besar.
  4. Sri Nata Kartawardhana setuju dengan anjuran pembesar desa. “Harap dicatat nama penjahat dan pelanggaran setiap akhir bulan. Bantu pemeriksaan tempat durjana, terutama pelanggar susila. Agar bertambah kekayaan baginda demi kesejahteraan Negara.
  5. Kemudian bersabda Baginda Nata Wilwatikta memberi anjuran: “Para Budiman yang berkunjung kemari, tidak boleh dihalang-halangi. Rajakarya, terutama beacukai, pelawang, supaya dilunasi. Jamuan kepada para tetamu budiman supaya diatur pantas.

Pupuh 89

  1. Undang-undang sejak pemerintahan ibunda harus ditaati. Hidangan makanan sepanjang hari harus dimasak pagi-pagi. Jika ada tamu loba tamak mengambil makanan, merugikan, biar mengambilnya, tetapi laporkan namanya kepada saya.
  2. Negara dan desa berhubungan rapat seperti singa dan hutan. Jika desa rusak, Negara akan kekurangan bahan makanan. Kalau tidak ada tentara, Negara lain mudah menyerang kita. Karenanya peliharalah keduanya, itu perintah saya!”.
  3. Begitulah perintah Baginda kepada wedana, yang tunduk mengangguk. Sebagai tanda mereka sanggup mengindahkan perintah beliau. Menteri, upapati, serta para pembesar menghadap bersama. Tepat pukul tiga mereka berkumpul untuk bersantap bersama.
  4. Bangunan sebelah timur laut telah dihiasi gilang cemerlang. Di tiga sudut ruang para wedana  duduk teratur menganut sudut. Santapan sedap mulai dihidangkan di atas dulang serba emas. Segera deretan depan berhadap-hadapan di muka Baginda.
  5. Santapan terdiri dari daging kambing, kerbau, burung, rusa, madu, ikan, telur, domba, menurut adat agama dari zaman purba makanan pantangan: daging anjing, cacing, tikus, keledai dan katak. Jika dilanggar mengakibatkan hinaan musuh, mati dan noda.

Pupuh 90

  1. Dihidangkan santapan untuk orang banyak. Makanan serba banyak serba sedap. Berbagai-bagai ikan laut dan ikan tambak. Berderap cepat datang menurut acara.
  2. Daging katak, cacing, keledai, tikus, anjing hanya dihidangkan kepada para penggemar. Karena asalnya dari berbagai desa mereka diberi kegemaran, biar puas.
  3. Mengalir berbagai minuman keras segar: Tuak nyiur, Tal, Arak kilang, tuak rumbya. Itulah hidangan minuman utama. Wadahnya emas berbentuk aneka ragam.
  4. Porong dan guci berdiri terpencar-pencar. Berisi minuman keras dari aneka bahan. Beredar putar seperti air mengalir. Yang gemar, minum sampai muntah serta mabuk.
  5. Merdu merayu nyanyian para biduan. Melagukan puji-pujian Sri Baginda. Makin deras peminum melepaskan nafsu. Habis lalu waktu, berhenti gelak gurau.

Pupuh 91

  1. Pembesar daerah angin membadut dengan para lurah. Diikuti lagu, sambil bertandak memilih pasangan. Solah tingkahnya menarik gelak, menggelikan pandangan. Itulah sebabnya mereka memperoleh hadiah kain.
  2. Disuruh menghadap baginda, diajak minum bersama. Menteri upapati berurut minum bergilir menyanyi. Nyanyian Manghuri Kandamuhi dapat sorak pujian. Baginda berdiri, mengimbangi ikut melaras lagu.
  3. Tercengang dan terharu hadirin mendengar suara merdu. Semerbak meriah bagai gelak merak di dahan kayu. Seperti madu bercampur dengan gula terlalu sedap manis. Resap membaru kalbu bagai desiran buluh perindu.
  4. Arya Ranadikara lupa bahwa Baginda berlaku bersama Arya Mahadikara, mendadak berteriak bahwa para pembesar ingin beliau menari topeng. “Ya!” jawab beliau; segera masuk untuk persiapan.
  5. Sri Kertawardana tampil ke depan menari panjak. Bergegas lekas panggung disiapkan ditengah mandapa. Sang permaisuri berhias jamang laras menyanyikan lagu. Luk suaranya mengharu rindu, tingkahnya memikat hati.
  6. Bubar mereka itu ketika Sri Baginda keluar. Lagu rayuan Baginda bergetar menghanyutkan rasa, Diiringkan rayuan sang permaisuri rapi rupendah. Resap meremuk rasa merasuk tulang sumsum pendengar.
  7. Sri Baginda warnawan telah mengenakan tampuk topeng. Delapan pengiringnya dibelakang, bagus, bergas pantas keturunan arya, bijak, cerdas, sopan tingkah lakunya. Inilah sebabnya banyolannya selalu tepat kena.
  8. Tari Sembilan orang telah dimulai dengan banyolan. Gelak tawa terus menerus, sampai perut kaku beku. Babak yang sedih meraih tangis, mengaduk haru dan rindu. Tepat mengenai sasaran menghanyutkan hati penonton.
  9. Silam matahari waktu lingsir, perayaan berakhir. Para pembesar minta diri mencium duli paduka. Katanya: “Lenyap duka oleh suka, hilang dari bumi!”. Terlangkahi pujian Baginda waktu masuk istana.

Pupuh 92

  1. Begitulah suka mulia Baginda raja di pura, tercapai segala cita. Terang baginda sangat memperhatikan kesejahteraan rakyat dan Negara. Meskipun masih muda dengan suka rela berlaku bagai titisan Budha. Dengan laku utama beliau memadamkan api kejahatan durjana.
  2. Terus membumbung ke angkasa kemasyhuran dan keperwiraan Sri Baginda. Sungguh beliau titisan Bhatara Girinata untuk menjaga buana. Hilang dosanya orang yang dipandang dan musnah letanya abdi yang disapa.
  3. Inilah sebabnya keluhuran beliau masyhur terpuji di tiga jagat. Semua orang tinggi, sedang dan rendah menuturkan kata-kata pujian. Serta berdoa agar Baginda tetap subur bagai gunung tempat berlindung. Berusia panjang sebagai bulan dan matahari cemerlang menerangi bumi.

Pupuh 93

  1. Semua pendeta dari tanah asing menggubah pujian Baginda. Sang pendeta Budhaditya menggubah rangkaian sloka Bogawali. Tempat tumpah darahnya Kancipuri di Sadwihara di Jambudwipa.Brahma Sri Mutali Saherdaya menggubah pujian sloka indah.
  2. Begitu pula para pendeta di Jawa, pujangga, sarjana sastra. Bersama-sama merumpaka sloka pujasastra untuk nyanyian. Yang terpenting pujasastra di prasasti, gubahan upapati Sudarma. Berupa kakawin, hanya boleh diperdengarkan di dalam istana.

Pupuh 94

  1. Mendengar pujian para pujangga pura bergetar mencakar udara, Prapanca bangkit turut memuji Baginda, meski tak akan sampai pura. Maksud pujiannya agar Baginda gembira jika mendengar gubahannya. Berdoa demi kesejahteraan Negara, terutama Baginda dan rakyat.
  2. Tahun saka gunung gajah budi dan janma (1287) bulan Aswina hari purnama. Siaplah kakawin pujaan tentang perjalanan keliling Negara. Segenap desa tersusun dalam rangkaian, pantas disebut Desawarnana. Dengan maksud, agar Baginda ingat jika membaca hikmat kalimat.
  3. Sia-sia lama bertekun menggubah kakawin menyurat di atas daun lontar. Yang pertama “Tahun Saka”, yang kedua “Lambang” kemudian “Parwasagara”. Berikut yang keempat “Bismacarana”, akhirnya cerita “Sugataparwa”. Lambang dan Tahun Saka masih akan diteruskan, sebab memang belum siap.
  4. Meskipun tidak semahir para pujangga di dalam menggubah kakawin, terdorong cinta bakti kepada Baginda, ikut membuat pujasastra berupa karya kakawiin, sederhana tentang rangkaian sejarah desa. Apa boleh buat harus berkorban rasa, pasti akan ditertawakan.

Pupuh 95

  1. Nasib badan dihina oleh para bangsawan, canggung tinggal di dusun. Hati gundah kurang senang, sedih, rugi tidak mendengar ujar manis. Teman karib dan orang budiman meninggalkan tanpa belas kasihan. Apa gunanya mengenai ajaran kasih, jika tidak diamalkan?
  2. Karena kemewahan berlimpah, tidak ada minat untuk beramal. Buta, tuli, tak Nampak sinar memancar dalam kesedihan, kesepian. Seyogyanya ajaran sang Mahamuni diresapi bagai pegangan. Mengharapkan kasih yang tak kunjung datang, akan membawa mati muda.
  3. Segera bertapa brata di lereng gunung, masuk ke dalam hutan. Membuat rumah dan tempat persajian ditempat sepi dan bertapa. Halaman rumah ditanami pohon kamala, asana, tingg-tinggi. Memang Kamalasana nama dukuhnya sudah lama dikenal.

Pupuh 96

  1. Prapanca itu pra lima buah. Cirinya: cakapnya lucu, pipinya sembab, matanya ngeliyap, gelaknya terbahak-bahak.
  2. Terlalu kurang ajar, tidak pantas ditiru. Bodoh tidak menuruti ajaran tutur. Carilah pimpinan yang baik dalam tatwa. Pantasnya ia dipukul berulang kali.

Pupuh 97 

  1. Ingin menyamai Mpu Winada. Mengumpulkan harta benda. Akhirnya hidup sengsara. Tapi tetap tinggal tenang.
  2. Winada mengejar jasa. Tanpa ragu uang dibagi. Terus bertapa brata. Mendapat pimpinan hidup.
  3. Sungguh handal dalam yuda. Yudanya belum selesai ingin mencapai nirwana, jadi pahlawan pertapa.

Pupuh 98

  1. Beratlah bagi para pujangga menyamai Winada, bertekun dalam tapa. Membalas dengan cinta kasih perbuatan mereka yang senang menghina orang-orang yang puas dalam ketenangan dan menjauhkan diri dari segala tingkah, menjauhkan diri dari kesukaan dan kewibawaan dengan harapan akan memperoleh faedah. Segan meniru perbuatan mereka yang dicacat dan dicela di dalam pura (taken from here).

Dua Dinasti di Kerajaan Mataram Kuna: Tinjauan Prasasti Kalasan (by Santiko Hariani)

Abstract. Who was the ruler at center of Java in 8th-10th centuries at Ancient Mataram Kingdom is still a debatable problem. There are two opinion groups. The one opinion states that there are two dynasties (Sanjaya dynasty and Syailendra dynasty), and the other opinion declares only one dynasty based on assumption Rakai Panagkaran, The son of King Sanjaya, changed his religion to Buddha Mahayana. Based on retranslation inscription of Kalasan, there were two kings on this inscription, namely Śri Mahārāja Dyah Pañcapanam Panamkarana and King Śailendravamsatilaka that was remain as “raja bawahan” (“lower king”) of Śri Mahārāja Dyah Pañcapanam Panamkarana who still had Siwa religion. Rakai Panangkaran was remain as King of Sanjaya Dynasty (Sanjayavamśa) and Śailendravamsatilaka was becoming a king in his “Growing Kingdom”.

Key Words: Śańkara, anŗtagurubhayas, Dhātŗ, inscription of Kalasan, Śailendravamsatilaka.

Penelitian arkeologi mengenai kerajaan Matarām Hindu (Matarām Kuna) sangatlah menarik, tidak saja mengenai tinggalan arkeologi berupa sarana ritual yang secara umum disebut candi sangat berlimpah, tetapi juga tentang tokoh-tokoh sejarah yang bertanggung jawab akan kehadiran sarana ritual keagamaan tersebut. Candi-candi dari wilayah Jawa Tengah ini mempunyai gaya arsitektural yang sangat unik, yang memper- lihatkan kemahiran si seniman (śilpin) dalam usahanya menuangkan pengalaman dengan Tuhannya ke dalam karya seni yang indah dan megah, sehingga orang-orang Belanda yang datang ke Jawa pada abad 18, sangat mengagumi karya seni keagamaan tersebut. Karya seni keagamaan itu mereka sebut kesenian Klasik, karena mengingatkan mereka pada kesenian Romawi dan Yunani yang dikenal sebagai “Classical Period”.

Di samping itu, candi-candi tersebut masih dikelompokkan berdasarkan gaya arsitektural dan latar belakang keagamaan- nya. Kelompok candi-candi tipe utara, bersifat agama Siwa, misalnya candi Dieng, Gedongsanga, Prambanan, dan candi-candi tipe selatan yang berlatar belakang agama

Buddha, misalnya candi Kalasan, Sari, Plaosan dan lain-lain.

Penelitian mengenai tokoh-tokoh yang terkait dengan bangunan-bangunan suci tersebut telah banyak dilakukan dengan memakai data sumber tertulis khususnya prasasti, di antaranya Prasasti Tuk Mas, Prasasti Canggal (654 Saka/732 Masehi), Prasasti Kalasan (700 Saka/778 Masehi), Prasasti Kelurak (704 Saka/782 Masehi) dan sebagainya, serta berita-berita Cina.

Kerajaan Matarām Kuna

Nama kerajaan tertua yang disebut dalam sumber prasasti di wilayah Jawa Tengah adalah kerajaan Matarām1) yang lebih dikenal sebagai kerajaan Matarām Kuna untuk membedakan dengan kerajaan Mataram Islam, dengan rajanya bernama Sanjaya. Prasasti tersebut adalah prasasti Canggal (654 Saka/732 Masehi), yang ditemukan di halaman percandian di atas gunung Wukir di Kecamatan Salam, Magelang. Prasasti Canggal memakai huruf Pallawa, berbahasa Sansekerta, dan mem- bicarakan raja Sanjaya yang beragama Siwa, yang mendirikan sebuah linga di bukit Sthīranga. Selain Prasasti Canggal, nama Sanjaya disebut di Prasasti Mantyasih yang dikeluarkan oleh Rakai Watukura Dyah Balitung tahun 907 Masehi. Dalam Prasasti Mantyasih terdapat daftar nama raja-raja yang memerintah di Medang (rahyangta rumuhun ri mdang ri poh pitu). Dalam daftar tersebut, Rakai Matarām Sang Ratu Sanjaya disebut pertama, yang kemudian diikuti oleh sederetan nama raja yang bergelar Śri Mahārāja (Soemadio II, 1993:100 dst).

Rakai Matarām Sang Ratu Sanjaya dianggap sebagai pendiri dinasti Sanjaya (Sanjayavamśa) yang berkuasa di kerajaan Matarām. Namun penelitian yang me- rekonstruksi jalannya sejarah Matarām kuna, telah menghasilkan nama Śailendravamśa di samping Sanjayawamśa. Śailendrawamśa ditemui dalam beberapa prasasti, antara lain dalam Prasasti Kalasan (700 Saka/778 Masehi), Prasasti Kalurak (704 Saka/782 Masehi), Prasasti Abhayagiriwihara dari bukit Ratu Baka (714 Saka/792 Masehi), Prasasti Kayumwungan (824 Masehi), dan sebagainya.

Berita prasasti sangatlah penting untuk penelitian arkeologi, namun banyak- nya jumlah prasasti tidak menjamin dapat mengungkapkan data yang kita harapkan untuk diketahui. Misalnya perihal kerajaan Matarām Kuna masih banyak masalah yang belum terungkap:

  1. Siapakan pendiri Sanjayavamśa dan siapakah pendiri Śailendrawamśa?
  2. Ada berapa wangsa-kah di wilayah Jawa Tengah periode Matarām Kuna?
  3. Benarkan raja kedua dalam daftar Prasasti Mantyasih yaitu Śri Mahārāja Panangkaran berganti agama, yang semula beragama Siwa beralih memeluk agama Buddha Mahayana?

    Dalam makalah ini tidak akan dibicarakan lagi pendapat-pendapat tersebut, kecuali pendapat Boechari, yang mengemukakan hanya ada satu dinasti di Matarām Kuna, karena Rakai Panangkaran lengkapnya Rakai Panangkaran Dyah Śankhara Śri Sangramadhananjaya adalah anak Sanjaya yang berganti agama dari agama Siwa ke agama Buddha Mahayana. Pendapat Boechari ini berdasarkan pem- bacaannya pada sebuah prasasti yang dipahat di atas batu dan dijadikan koleksi Bapak Adam Malik. Prasasti berbahasa Sansekerta ini bagian atas rusak sehingga tidak ada nama prasasti atau pun angka tahunnya. Boechari memberi nama prasasti Śankhara, sesuai dengan nama anak raja pada prasasti tersebut, dan usia prasasti diperkirakan antara Prasasti Canggal dan Prasasti Hampran (750 Masehi) (Soemadio II, 1993:102-103). Prasasti Śankhara pernah ditranskripsi dan di- terjemahkan oleh Boechari, tetapi belum diterbitkan.2)

Secara garis besar Prasasti Śankhara membicarakan ayah Śankhara yang sangat patuh kepada gurunya, memberi “emas yang enam” kepada Śankhara dengan sebuah janji (?) yang harus dipenuhi. Kemudian ayah Śankhara jatuh sakit selama 8 hari kemudian meninggal. Melihat keadaan itu, Śankhara menjadi takut pada “guru yang tidak benar” lalu meninggalkan agama Siwa dan memeluk agama Buddha Mahayana.

Menurut Boechari, ayah Śankhara adalah raja Sanjaya, sedangkan Śankhara sendiri adalah Rakai Panangkaran, ia me- mindahkan pusat kerajaannya ke timur. Letak ibu kotanya yang baru, kemungkinan di sekitar Sragen, di sebelah timur Bengawan Solo atau di daerah Purwodadi/Grobogan. Setelah itu ia membangun beberapa candi Buddha, yaitu candi Kalasan, Sewu, Plaosan Lor, dan sebagainya. Dari uraiannya tersebut Boechari telah mengidentifikasikan Panang- karan dengan “Śailendrawanśatilaka” yang disebut dalam beberapa prasasti, bahkan menurut Boechari, apabila Panangkaran identik dengan Śailendravamśatilaka, maka seperti yang tertera dalam Prasasti Nalanda, ia berputera Samaragravira dan Balaputra-dewa, raja Sriwijaya, adalah cucunya (Soemadio II, 1993:109-110).

Pendapat bahwa Rakai Panangkaran berpindah agama, menurut Boechari tertera dalam Prasasti Śankhara, khususnya bait 3 yang diawali dengan kalimat:

So ‘yam tyaktānyabhaktir jagadaśi- vaharāc chamkarāc chamkarākhyah… Terjemahannya sebagai berikut: “Ia, yang bernama Śankhara, setelah meninggalkan kebaktian kepada (dewa) yang lain, dari Śankhara yang melenyapkan ketidak- tenteraman di dunia”3).

Pada dasarnya penulis setuju dengan terjemahan tersebut di atas, hanya ada sedikit perbedaan, sebagai berikut:

“Ia yang bernama Śankhara, yang kebaktiannya ke yang lain telah ditinggalkan, daripada Śankhara, Siwa yang menguasai dunia….”4)

Dari terjemahan tersebut, penulis meragukan bahwa Śankhara berpindah agama, apalagi ke agama Buddha Mahayana. Pendapat ini diperkuat oleh syair pada bait 4, dikatakan setelah ia mendirikan prasāda untuk Dhātŗ, ia membicarakan moksa yang merupakan kebahagiaan tertinggi. Moksa diperoleh oleh para vratin (pertapa) yang suci melalui pengetahuan (jñāna), yang diperoleh dari puteri Dhātŗ (Saraswati ?). (śreyo moksān na param adhikam kathyate jñānavidbhir, moksās so’pi vratibhir anaghair labhyate jñānahetoh , tac ca jñānam vratibhir amalam labhyate yat prasādād, dhatuh putrī janaya tu(s)tarām vanditā (n)ah kavitvam).

Konsep moksa tidak dipakai dalam agama Buddha. Demikian pula pada bait penutup selain Bhiksu dan Sanggha, disebut tokoh/ kelompok lain, yaitu puteri Dhātŗ, vratin, kulapati, raja (nrpatir) pelindung para Dasyu, sehingga dengan menyebut Buddha dan Bhiksu tidak menjamin raja beragama Buddha. Bagian ini sebagai penutup prasasti yang mendoakan semua yang disebut bernasib baik.

Perlu dikemukakan disini, pada baris selanjutnya (pada bait 3) terdapat kata “anŗtagurubhayas”6) yang diartikan “takut pada guru yang tidak benar” (Soemadio II, 1993:109), kemungkinan terkait dengan janji Śankhara yang disebut pada awal-awal prasasti. Tidak jelas isi janjinya, kemung- kinan Śankhara berjanji kepada guru mem- buatkan bangunan suci untuk Dhātŗ dengan “emas yang enam” itu sebagai biayanya, dengan harapan agar ayahnya sembuh? Tetapi ketika ayahnya meninggal, Śankhara menyalahkan gurunya, yang disebut anŗtaguru-. Namun kemudian, karena takut pada gurunya, ia dengan kemauannya sendiri (svātmabuddhes) memenuhi janjinya dengan membuat prāsāda tersebut.

Untuk memperkuat pendapat bahwa Panangkaran bukan raja dari dinasti Śailendra dan tidak beragama Buddha, akan penulis sampaikan terjemahan Prasasti Kalasan, prasasti berbahasa Sansekerta, memakai huruf Pra-Nagari dari tahun 700 Saka/778 Masehi, sebagai berikut:
Namo bhagavatyai āryātārāyai

  1. yā tārayatyamitaduhkhabhavādbhi magnam lokam vilokya vidhivattrividhair upayaih Sā 8) vah surendranaralokavi bhūtisāram tārā diśatvabhimatam jagadekatārā
  2. āvarjya 9) mahārājam dyāh pañcapanam panamkaranām Śailendra rājagurubhis tārābhavanam hi kāritam śrīmat
  3. gurvājñayā kŗtajñais 10) tārādevī kŗtāpi tad bhavanam vinayamahāyānavidām bhavanam cāpyāryabhiksūnām
  4. pangkuratavānatīripanāmabhir ādeśaśastribhīrājñah Tārābhavanam kāritam idam api cāpy āryabhiksūnam
  5. rājye pravarddhamāne 11) rājñāh śailendravamśatilakasya śailendrarajagurubhis tārābhavanam kŗtam kŗtibhih
  6. śakanŗpakālātītair varsaśataih saptabhir mahārājah akarod gurupūjārtham 12) tārābhavanam panamkaranah
  7. grāmah kālasanāmā dattah samghāyā sāksinah kŗtvā pankuratavānatiripa desādhyaksān mahāpurusān
  8. bhuradaksineyam 13) atulā dattā samghāyā rājasimhena śailendrarajabhūpair anuparipālyārsantatyā
  9. sang pangkurādibhih sang tāvānakādibhih sang tīripādibhih pattibhiśca sādubhih , api ca,
  10. sarvān evāgāminah pārthivendrān bhūyo bhūyo yācate rājasimhah, sāmānyoyam dharmmasetur narānām kāle kāle pālanīyo bhavadbhih
  11. anena punyena vīhārajena pratītya jāta 14) arthavibhāgavijñāh bhavantu sarve tribhavopapannā janājinānām anuś?sanajñāh
  12. kariyānapanamkaranah śrimān abhiyācate bhāvinŗpān, bhūyo bhūyo vidhivad vīhāraparipālan ārtham iti.

Terjemahan:

Hormat untuk Bhagavatī Ārya Tārā

  1. Setelah melihat mahluk2 di dunia yang tenggelam dalam kesengsaraan, ia menyeberangkan (dengan) Tiga Pe- ngetahuan yang benar, Ia Tarā yang menjadi satu-satunya bintang pedoman arah di dunia dan (tempat) dewa-dewa.
  2. Sebuah bangunan suci untuk Tārā yang indah benar2 telah disuruh buat oleh guru- guru raja Śailendra, setelah memperoleh persetujuan Mahārāja dyāh Pancapana anamkarana
  3. Dengan perintah guru, sebuah bangunan suci untuk Tārā telah didirikan, dan demikian pula sebuah bangunan untuk para bhiksu yang mulia ahli dalam ajaran Mahāyana, telah didirikan oleh para ahli
  4. Bangunan suci Tārā dan demikian juga itu (bangunan) milik para bhiksu yang mulia telah disuruh dirikan oleh para pejabat raja, yang disebut Pangkura, Tavana, Tiripa.
  5. Sebuah bangunan suci Tārā telah didirikan oleh guru-guru raja Śailendra di kerajaan Permata Wangsa Śailendra yang sedang tumbuh
  6. Mahārāja Panangkarana mendirikan bangunan suci Tārā untuk menghormati guru pada tahun yang telah berjalan 700 tahun.
  7. Desa bernama Kalasa telah diberikan untuk Samgha setelah memanggil para saksi orang-orang terkemuka penguasa desa yaitu Pangkura, Tavana, Tiripa.
  8. Sedekah “bhura” yang tak ada bandingannya diberikan untuk Sangha oleh “raja yang bagaikan singa” (rājasimha-) oleh raja-raja dari wangsa Śailendra dan para penguasa selanjutnya berganti-ganti.
  9. Oleh para Pangkura dan pengikutnya, sang Tavana dan pengikutnyam sang Tiripa dan pengikutnya, oleh para prajurit, dan para pemuka agama, kemudian selanjutnya,
  10. “Raja bagaikan singa” (rājasimhah) minta berulang-ulang kepada raja-raja yang akan datang supaya Pengikat Dharma agar dilindungi oleh mereka yang ada selama-lamanya.
  11. Baiklah, dengan menghibahkan vihara, segala pengetahuan suci, Hukum Sebab Akibat, dan kelahiran di tiga dunia (sesuai) ajaran Buddha, dapat difahami.
  12. Kariyana Panangkarana minta berulang -ulang kepada yang mulia raja-raja yang akan datang senantiasa melindungi vihara yang penting ini sesuai peraturan.

Berdasarkan terjemahan prasasti tersebut, dalam Prasasti Kalasan terdapat dua orang raja, yaitu Śri Mahārāja Dyāh Pancapana Panamkarana dan raja Śailendravamsatilaka (permata wangsa Śailendra). Bahwa ada dua orang raja pada Prasasti Kalasan, telah dikemukakan oleh Van Naerssen (1947) dan J.G.de Casparis (1950). Menurut mereka, Rakai Panangkaran adalah raja bawahan raja Śailendravamsatilaka, yang disuruh membangun Tārābhavanam untuk raja Śailendra (Sumadio II, 1984:89-90). Namun sebalik- nya, menurut pendapat penulis, justru Śailendravansatilaka-lah raja bawahan Panangkaran, dengan alasan sebagai berikut:

  1. Rakai Panangkaran bergelar “Śri Mahārāja”, sedangkan Śailendravam-śatilaka bergelar “rāja” saja
  2. Tārābhavanam didirikan “di kerajaan Śailendravamśatilaka yang sedang tumbuh/ berkembang” (5. rājye pravard dhamane rājñah śailendravamśatila- kasya ….).
  3. Untuk mendirikan bangunan suci itu pun raja Śailendra mengutus guru-gurunya minta perkenan Śri Mahārāja dyāh Pancapana Panamkarana. Kalau Panangkaran raja bawahannya, mengapa ia harus minta ijin pada Panangkaran terlebih dulu?
  4. Usaha guru-guru itu disetujui oleh Panangkaran untuk tujuan “gurupūjārtham” yang berarti “ber- tujuan menghormat Guru”. Dengan demikian persetujuan Panangkaran untuk mendirikan Tārābhavanam adalah “untuk menghormat guru” (guru- pūjārtham) yang menghadap Panang- karan untuk minta perkenan mendirikan Tarabhavanam, dan bukan karena Panangkaran beragama Buddha Maha- yana yang berkepentingan dengan pemujaan di Tārābhavanam tersebut. Bahwa seorang raja bawahan maupun rakyat tidak harus mempunyai agama yang sama dengan rajanya, dibuktikan oleh banyaknya sisa-sisa candi Saiwa di sekitar candi Borobudur. 15)
  5. Dari prasasti Kalasan ini kita ketahui raja Śailendravamśatilaka, mungkin baru datang atau baru mendirikan kerajaannya, dan menjadi raja bawahan Śri Mahārāja Panangkaran, seorang raja Sanjayavamśa., anak raja Sanjaya.

Selanjutnya Raja Śailendravamśa- tilaka disebut dalam beberapa prasasti, yaitu Prasasti Kelurak (782 Masehi), Prasasti Abhayagirivihara di bukit Ratu Baka (792 Masehi), Prasasti Kayumwungan (824 Masehi), Prasasti Ligor B (775 Masehi), dan Prasasti Nalanda (abad 9). Dalam Prasasti Kelurak, Śailendravamsatilaka yang bergelar Śri Wirawairimathana (pembunuh musuh yang gagah berani), ia mendirikan sebuah bangunan suci untuk Mañjusri atau Mañjugosha, diresmikan oleh gurunya pendeta Kumaragosha yang datang dari Gaudidvipa. Bangunan suci yang disebut dalam Prasasti Kelurak adalah candi Sewu, walaupun bukan bentuknya yang sekarang, karena candi Sewu dibangun tiga kali (Kusen, 1991-1992:57; Santiko, 2010).

Rupanya raja Śailendravamśatilaka tahun 782 keadaannya sudah lebih baik daripada saat mendirikan Tārābhavanam di “grāma-kālasanāma–” tahun 778 Masehi. Pada Prasasti Nalanda dari raja Devapaladeva dari abad 9, kita jumpai nama Śailendravamśatilaka yang bergelar Śri Viravairimathana. Ia raja Jawa, berputera Samaratunga yang kawin dengan Tārā, anak raja Dharmasetu dari Somawamśa. Dari pernikahan ini lahirlah raja Balaputradewa, raja Sriwijaya, yang beragama Buddha, dan telah mendirikan sebuah vihara di Nalanda (Sumadio II, 1993:112).

Dengan adanya pendapat 2 dinasti di Jawa tengah, maka Samaratungga bukan anak Panangkaran, melainkan anak raja Śailendravamśatilaka yang memerintah di Jawa. Bagaimana kelanjutan hubungan kedua dinasti raja tersebut, hingga kini berbagai penelitian masih mengikuti pendapat De Casparis tentang terjadinya hubungan pernikahan antara Rakai Pikatan (Sanjaya- vamśa) dengan Pramodhawarddhani, puteri Samarotungga (De Casparis 1956).

Penutup

Berdasarkan terjemahan Prasasti Kalasan (700 Saka/778 Masehi), di wilayah Jawa Tengah abad 8-10 terdapat 2 dinasti, yaitu dinasti Sanjaya (Sanjayavamśa) dan dinasti Śailendra (Śailendravamśa). Raja Śailendravamśa ketika itu berkedudukan sebagai raja bawahan Śri Mahārāja Dyāh Pancapana Panangkarana. Oleh karenanya untuk mendirikan Tārābhavanam di kerajaan- nya sendiri pun yang dikatakan sedang berkembang / tumbuh (…rājye pravarddhamane…), ia harus minta ijin terlebih dahulu ke Śri Mahārāja Panam- karana, melalui guru-gurunya.

Rakai Panangkaran tidak beralih agama, ia menyetujui pendirian Tārā- bhavanam untuk “menghormati” para guru (gurupūjārtham). Mungkin hal ini pulalah alasan yang dipakai oleh raja Śailendra untuk mengirim guru-gurunya minta perkenan Maharaja Panangkaran untuk mendirikan Tarabhavanam.

Catatan:

 

1)  Nama Holing kita kenal dari berita Cina dari dinasti Tang (618-906 Masehi), yang menyebut Jawa dengan Holing sampai tahun 818 Masehi, kemudian berubah menjadi She- p’o. Selain berita Cina tidak (belum?) ditemukan prasasti yang menyebut/ membicarakan Holing.

 

2)  Transkrip dan terjemahan sementara dari Prof.Boechari, penulis dapat dari Dr Ninie Susanti.

 

3)  Penulis tidak yakin benar apakah terjemahan ini adalah terjemahan Boechari.

 

4)  Kata “hara” dari akar hr, berarti “mengambil, mengangkat, membawa, menguasai”, tetapi dalam kitab-kitab Purāna, Siwa sebagai “Hara” juga berarti “melenyapkan kesusahan”

 

5)  Dhātŗ adalah nama lain dewa Brahmā, tetapi puteri Brahmā, tidak pernah disinggung baik dalam Purāna, maupun mitos, kalau isteri Brahma, yaitu Saraswati sering disinggung, mungkin Dhatr disini yang dimaksud adalah Saraswati, apalagi ia memberi wejangan para Vratin dalam usaha mencapai moksa.

 

6)  Pada transkrip yang penulis dapat, kata ini berbunyi “amŗtagurubhayas” bukan “anŗtagurubhayas”.

 

7)  Transkripsi prasasti Kalasan penulis memakai trankripsi Himansu Bhusan Sarkar (l971)

yang dibandingkan dengan transkripsi Lokesh Chandra (1974).

 

8)  Korelasi “sah….yah” diterjemahkan dengan “ia….yang”, ia …itu”

 

9)  Kata āvarjya, dari akar vrj+ā, dalam bentuk absolutif.

 

10)  Kata “krtajnais-“ mempunyai arti yang sama dengan “karmajnais-“ dalam prasasti Dinoyo yang berarti “para ahli” (Sarkar, 1971: 39, catatan no.37).

 

11)  Kata “pravarddhamane” dari akar vŗdh yang berarti tumbuh, dibentuk dalam partisipium aktif dengan akhiran kasus lokatif karena menjelaskan “rājye”, yang berarti “ di kerajaan yang sedang tumbuh/berkembang”.

 

12)  “ gurupūjārtham” berarti “ bertujuan menghormat guru “

 

13)  Bhuradaksina, kata “bhura” ada beberapa arti, banyak, luas, bersinar

 

14)  Kata pratītyajata-, menurut Lokesh Chandra (1994:73) pengertiannya disamakan dengan pengertian pratītyasamutpada-

 

15)  Pada tahun 1973 dan 1975, penulis melakukan survei di sekitar candi Borobudur dalam radius 10 km (tahun 1973) dan dalam radius 5 km (tahun 1975) dengan memakai laporan N.J.Krom dan Verbeek (1914-1924) sebagai acuan. Ternyata sekitar 50 (thn 1975 ada 30, dan selebihnya tahun 1973) terdapat sisa candi Saiwa dari batu bata ada di sekitar candi Borobudur, termasuk candi Bowongan (radius 3 km).

DAFTAR RUJUKAN

Boechari. Transkripsi Sementara Prasasti Batu Koleksi Bapak Adam Malik. Belumterbit.

Casparis, J.G.de, 1950. Inscriptie Uit de Sailendra-tijd (Prasasti Indonesia I). Bandung: Sumur.

Casparis, J.G.de. 1956. Selected Inscription from the 7th to the 9th Century AD. Bandung: Masa Baru.

Chandra, L. 1994. The Sailendra of Java, Journal of the Asiatic Society of Bombay, volume 67-68 (New Series).

Poesponegoro, M.D., dan Notosusanto, N. 1993. Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka.

Santiko, H. 2010. “Sifat Keagamaan Candi Sewu dan Candi Prambanan”, dalam Menjaga Warisan Umat Manusia, Pameran Candi Prambanan dan Candi Sewu.

Sarkar, H.B. 1971. Corpus of the Inscription of Java (up to 928 AD), vol I, Calcutta: Firma K.LMukhopadhyaya.

Van Naerssen. 1947. “The Sailendras Interregnum, dalam India Antiqua,” hal. 249.

Taken from here.

Amangkurat

Lagi tertarik dengan “Amangkurat” (akibat baca-baca soal Sultan Agung). Sayang, informasi dari Wikipedia terlalu flat untuk Amangkurat I, maka saya pun menjelalah dan menemukan tulisan ini:

Dalam pelajaran sejarah di sekolah, diajarkan kepada kita tentang kebesaran kerajaan-kerajaan di nusantara. Sriwijaya, Majapahit dan Mataram adalah kerajaan nusantara yang pernah memiliki wilayah yang sangat luas. Kerajaan Mataram memang tidak seluas Sriwijaya dan Majapahit, tapi wilayahnya mencakup hingga pulau Jawa dan Madura. Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo atau lebih dikenal dengan Sultan Agung merupakan raja Mataram terbesar yang bercita-cita mempersatukan nusantara. Pada masanya, kekuasaan Mataram mencapai Palembang di Sumatera dan Sukadana di Kalimantan. Sultan Agung juga menjalin hubungan diplomatic dengan Makassar, kerajaan terkuat di Sulawesi saat itu. Sultan Agung berhasil menjadikan Mataram sebagai kerajaan besar yang tidak hanya dibangun di atas pertumpahan darah dan kekerasan, namun melalui kebudayaan rakyat yang adiluhung dan mengenalkan sistem-sistem pertanian. Sultan Agung menaruh perhatian besar pada kebudayaan Mataram. Ia memadukan Kalender Hijriyah yang dipakai di pesisir utara dengan Kalender Saka yang masih dipakai di pedalaman. Hasilnya adalah terciptanya Kalender Jawa Islam sebagai upaya pemersatuan rakyat Mataram. Selain itu Sultan Agung juga dikenal sebagai penulis naskah berbau mistik, berjudul Sastra Gending. (sumber: Wikipedia) Namun sepeninggal Sultan Agung, Mataram mengalami kemunduran hingga masa keruntuhannya. Sunan Amangkurat I, penerus Sultan Agung, justru membawa Mataram pada sejarahnya yang paling kelam.

Dalam kitab Babad Tanah Jawi karangan Meinsma, masa pemerintahan Amangkurat I digambarkan sebagai berikut: “Ketika itu raja bertindak sekehendaknya sendiri, tidak seperti biasanya. Ia sering melakukan tindak kekerasan, dan selalu bermain siasat. Para Bupati, para mantri dan keluarga istana bertindak semaunya dengan menyalah-gunakan kedudukan mereka. Tertib bernegara rusak. Seluruh penduduk Mataram dirundung ketakutan. Sering terjadi gerhadan bulan dan matahari. Hujan menyalahi musim dan bintang berekor terlihat setiap malam. Terjadi pula hujan abu dan gempa bumi. Banyak pertanda jelek menampakkan diri. Ini semua petunjuk bahwa negara akan rusak.”

Ada empat episode yang ingin saya tuliskan, yang menandai sejarah kelam Sunan Amangkurat ketika memerintah Mataram.

1.Pemindahan ibukota dari Karta ke Plered Sifat-sifat otoriter Amangkurat telah terlihat setelah ia terpilih jadi Sultan Mataram tahun 1646 M. Pertama-tama ia memindahkan ibukota kerajaan dari Kota Gede ke Plered tahun 1647 M. Kepada rakyatnya ia memerintahkan “Kamu semua harus membuat batu bata, karena saya mau angkat kaki dari Karta, saya ingin membangun kota di Plered” (Meinsma, 1874). Berbeda dengan keraton di Karta (Kota Gede) yang terbuat dari kayu, kali ini Amangkurat I membangun Keraton yang terbuat dari batu bata dan dikelilingi parit besar. Pada tahun 1668, ketika utusan Belanda, Abraham Verspreet mengunjungi keraton Plered, ia menggambarkan keraton tersebut sebagai sebuah pulau di tengah danau. Pemindahan ibukota dengan bentuk keratonnya yang dikelilingi parit besar ini di kemudian hari ternyata secara tepat menggambarkan kepribadian Amangkurat yang terasing dari rakyatnya. Hal ini juga menandakan ketakutannya yang akut akan keamanan dirinya, yag sebenarnya merupakan buah dari pemerintahannya yang otoriter dan kekejamannya yang tak terperikan. Sebuah laporan umum VOC di Batavia tahun 1659, menyatakan keyakinannya bahwa apabila peperangan terjadi, Sang Sultan “tidak akan mudah meninggalkan istana Mataram karena di luar istana itu ia tidak merasa aman; dan ia pun tidak akan mempercayakan sebagian kekuatan tentaranya kepada pembesar manapun, karena kelaliman pemerintahan yang dilakukannya menjadikan ia ditakuti dan dibenci setiap orang”. (sumber: Sejarah Gelap Mataram)

2.Korban-korban Pemerintahannya yang Otoriter Masa pemerintahan Sunan Amangkurat I dipenuhi dengan drama politik yang mencekam. Siasat dan intrik politik, pengkhianatan, pembunuhan dan pemberontakan terjadi silih berganti. Pada masanya, banyak pembunuhan dilakukan untuk membungkam siapa saja yang menentang pemerintahannya. Sebaliknya, banyak pula pemberontakan yang dilakukan oleh penguasa lokal yang sebelumnya setia di bawah pemerintahan Sultan Agung. Korban pertama pembunuhan yang dilakukan di awal pemerintahannya adalah Tumenggung Wiraguna, yang sebenarnya merupakan abdi dalem senior di masa Sultan Agung. Pada awal pemerintahannya, Amangkurat mengirim Tumenggung Wiraguna untuk menumpas ekspansi pasukan Bali di Blambangan. Di tempat yang jauh dari keluarga dan para pendukungnya itu, Wiraguna dibunuh. Tidak hanya itu, Amangkurat juga memerintahkan untuk membunuh semua yang terlibat mendukung Tumenggung Wiraguna.Perintah tersebut mengakibatkan terbunuhnya banyak wanita dan anak-anak yang tak bersalah, termasuk keluarga Tumenggung. Adik Amangkurat, Pangeran Alit merasa turut terancam karena sebenarnya ia termasuk ke dalam kelompok Tumenggung Wiraguna. Ketika seluruh teman-teman terbaiknya telah dibantai, Pangeran Alit mulai mendekati ulama-ulama untuk meminta perlindungan. Di saat yang sama ia mengumpulkan kawan-kawannya untuk melancarkan serangan terhadap sang Kakak. Dalam sebuah pertempuran yang tak seimbang, pasukan Amangkurat dengan mudah menghabisi pasukan pendukung Pangeran Alit, hingga menyisakan Pangeran Alit seorang. Menurut catatan Belanda yang dipercaya, Amangkurat akhirnya membiarkan para mantrinya untuk membunuh Pangeran Alit atas alasan “pembelaan diri”. Dengan itu bersihlah tangan sang Amangkurat dari darah adiknya sendiri. Pada tahun 1659, Amangkurat kembali melakukan pembunuhan. Kali ini terhadap mertuanya sendiri, Pangeran Pekik beserta anggota keluarganya yang dituduh merencanakan pembunuhan terhadap Amangkurat. Pangeran Pekik dari Surabaya dibantai bersama dengan sebagian besar anggota keluarganya pada 1659. Paman raja pun, yang merupakan saudara laki-laki Sultan Agung, Pangeran Purbaya, hampir saja dibunuh. Beruntung ibu suri kerajaan turun tangan untuk menyelamatkannya.

3.Ribuan Santri dan Ulama Dibantai Kekejaman Amangkurat yang semakin merajalela tak hanya memperbanyak musuh dan melahirkan pemberontakan penguasa-penguasa lokal, namun juga menumbuhkan perlawanan rakyat. Dan perlawanan rakyat semakin menguat dengan dukungan moral dari para ulama. Terlebih, kekuasaan Amangkurat yang berkolaborasi dengan kepentingan VOC, semakin menambah kebencian dan perlawanan rakyat, yang didukung para ulama. Puncaknya, karena perlindungan para ulama kepada Pangeran Alit, maka Amangkurat beralih mengarahkan permusuhannya kepada para ulama. Amangkurat I mendaftar para ulama terkemuka beserta keluarga dan pengikutnya. Mereka kemudian dikumpulkan di halaman istana lalu dibantai. Menurut seorang pejabat VOC Rijklof van Goens, antara 5000 dan 6000 orang pria, wanita, dan anak-anak tewas dalam peristiwa itu. (sumber: Amangkurat I, Raja Tiran dari Tanah Jawa)

4.Kematiannya yang Tragis Di antara pemberontakan-pemberontakan yang muncul karena penentangannya terhadap kekuasaan Amangkurat, muncul kekuatan baru yang dipimpin Trunojoyo dari Madura menentang kekuasaan Mataram. Kekuatan Trunojoyo bertambah kuat seiring meningkatnya ketidakpuasan para pejabat dan masyarakat Mataram terhadap Amangkurat. Untuk menghadapi kekuatan Trunojoyo, Amangkurat mulai mendekati VOC untuk membantunya. Pada bulan Desember 1676 VOC mengutus Speelman ke Jepara dengan 1200 orang tentara untuk membantu angkatan perang Amangkurat. Sebagai gantinya, VOC menuntut Amangkurat mengganti kerugian perang dan memberikan sebagian daerah kekuasaanya. Singkatnya, tanggal 28 Juni 1677 pasukan Trunajaya berhasil mengalahkan kekuatan Mataram-VOC dan memasuki keraton Plered. Namun sebelumnya, Amangkurat I beserta beberapa anggota keluarga dan putranya telah melarikan diri dari Keraton, dan bermaksud menuju Batavia untuk berlindung ke Belanda. Sialnya, di Karanganyar, rombongan raja dirampok oleh warga desa yang tidak tahu identitas mantan junjungannya tersebut. Ia pun harus rela menyerahkan emas dan uang yang dibawanya. Dalam pelariannya, Amangkurat I jatuh sakit. Menurut Babad Tanah Jawi, kematiannya dipercepat oleh air kelapa beracun pemberian putranya, Mas Rahmat. Meski demikian, ia tetap menunjuk Mas Rahmat sebagai raja selanjutnya, tapi disertai kutukan bahwa keturunannya kelak tidak ada yang menjadi raja, kecuali satu orang dan itu pun hanya sebentar. Akhirnya Amangkurat I meninggal di desa Wanayasa, Banyumas. Raja yang semasa jayanya pernah membantai ribuan ulama itu, dishalatkan lalu dibawa ke Tegalwangi. Pada 13 Juli 1677, Amangkurat I dikebumikan di Tegalwangi. Tiga belas serdadu VOC menghadiri pemakamannya (taken from here).

Saya tambahkan artikel pendukung tulisan diatas:

AMANGKURAT I: RAJA TIRAN DARI TANAH JAWA

Mataram adalah salah satu kerajaan besar yang pernah berdiri di tanah Jawa. Selain kehadirannya yang bertepatan dengan masa VOC, raja-raja yang memerintah Mataram pun terkenal ambisius dan haus kekuasaan.

Mataram berdiri akhir abad ke-15 lewat serangkaian suksesi berdarah, yang mewarnai pergeseran kekuasaan di Jawa pasca runtuhnya imperium Majapahit. Kerajaan baru itu hanya perlu enam dasawarsa untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil yang bertebaran di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur pasca berakhirnya imperium Majapahit. Penaklukan ini mewariskan ketegangan politik, ekonomi, dan budaya yang berlarut-larut sesudahnya.

Kesuksesan politik ekspansi Mataram mencapai puncak ketika Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613-1646) memerintah. Dialah raja terbesar dinasti Mataram. Pada masa pemerintahannya, wilayah kekuasaan Mataram meliputi seluruh Jawa Madura (kecuali Batavia dan Banten) dan beberapa daerah di luar Jawa, seperti Palembang, Jambi, dan Banjarmasin. Selain dikenal sebagai raja yang sukses dan kreatif, Sultan Agung dikenal pula sebagai raja yang ambisius dan brutal tatkala menghadapi lawan-lawan politiknya.

Kisah Mataram yang paling menarik justru terjadi pada masa pemerintahan Susuhunan Amangkurat I alias Sunan Tegalwangi (1645-1677), putra sekaligus pewaris tahta Sultan Agung. Masa pemerintahannya terkenal penuh intrik. Amangkurat I lebih banyak mewarisi kebrutalan saja, tanpa mewarisi kreativitas dan sukses ayahnya. Kalau Sultan Agung menaklukkan, membujuk dan melakukan manuver politik guna mencapai ambisinya, Amangkurat I hanya bisa menuntut dan membunuh. Ia tidak menghiraukan keseimbangan politik yang diperlukan untuk memimpin negeri penuh intrik seperti Mataram pada masa itu. Ia memusatkan kekuasaan hanya untuk memenuhi kepentingannya sendiri.

Menurut sejarawan Belanda, Prof. H.J. de Graaf, masa pemerintahan Amangkurat I adalah masa penuh teror. Raja tiran ini melumuri tangannya dengan darah ribuan ulama, saudara-saudaranya, pejabat bawahannya, bahkan istri-istri dan anak-anak. Tak heran bila kemudian muncul barisan sakit hati di kalangan pendukung kerajaan: para bangsawan istana, pembesar negara, bangsawan di daerah taklukan, serta kaum agamawan.

Senada dengan yang diungkapkan de Graaf, penulis Babad Tanah Djawi (kitab sejarah Kerajaan Mataram) mengungkapkan, “Pada zaman itu, semua yang diinginkan sang nata (raja) bertentangan dengan adat. Beliau sering menggunakan kekerasan terhadap orang lain dan sering menjatuhkan hukuman mati di depan umum. Para bupati, mantri, dan pangeran saling mencuri lungguh (tanah). Tata kerajaan semakin lama semakin hancur…”. Kejayaan Mataram yang susah payah dibangun Sultan Agung, diruntuhkan sendiri oleh anaknya yang tidak terkendali.

“KEBIJAKAN” SANG RAJA

Amangkurat I memperlihatkan perangai buruknya sejak awal pemerintahannya. Pada 1637, ketika masih berstatus sebagai putra mahkota, dia terlibat skandal yang melibatkan istri seorang abdi dalem senior, Tumenggung Wiraguna. Pada 1647 Amangkurat mengutus Wiraguna ke Ujung Timur untuk menghadapi pasukan Bali. Namun, belum sempat ia menunaikan tugasnya, orang-orang suruhan Amangkurat I membunuhnya di perjalanan. Sesudah itu, keluarga Wiraguna di Mataram, para pengikutnya, dan orang-orang yang terlibat skandal tahun 1637 ditumpas habis, termasuk saudaranya sendiri Pangeran Alit.

Sebelum terbunuh, Pangeran Alit sempat meminta perlindungan kepada para ulama. Akibatnya Amangkurat I berganti memusuhi para ulama. Amangkurat I mendaftar para ulama terkemuka beserta keluarga dan pengikutnya. Mereka kemudian dikumpulkan di halaman istana lalu dibantai. Menurut seorang pejabat VOC Rijklof van Goens, antara 5000 dan 6000 orang pria, wanita, dan anak-anak tewas dalam peristiwa itu.

Di antara orang terkemuka yang menjadi korban keberingasan raja adalah ayah mertuanya sendiri, Pangeran Pekik dari Surabaya yang dibantai bersama dengan sebagian besar anggota keluarganya pada 1659. Paman raja pun, yang merupakan saudara laki-laki Sultan Agung, Pangeran Purbaya, hampir saja dibunuh. Beruntung ibu suri kerajaan turun tangan untuk menyelamatkannya.

Terbunuhnya Pangeran Pekik mengakibatkan hubungan raja dengan putranya memburuk. Pangeran Pekik adalah kakek si putra mahkota. Hubungan antara ayah dan anak tersebut semakin memburuk, setelah keduanya terlibat dalam perebutan wanita. Seperti halnya sang ayah, Adipati Anom—kelak naik tahta dengan gelar Amangkurat II (1677-1703)—terkenal ambisius dan sangat doyan “main” perempuan. Ia kerap menghabiskan malam-malamnya dengan para selir dan putri-putri istana.

Rijklof van Goens yang diutus VOC kepada Amangkurat I, dibuat geleng-geleng kepala melihat “kemampuan” raja dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya. Ia mengatakan, sebagaimana dikutip Onghokham dan MC Ricklefs: “Sistem pemerintahan semacam ini tidak pernah terbayangkan di Belanda, …orang-orang tua dibunuh untuk melowongkan tempat-tempat bagi mereka yang muda”.

Amangkurat I sempat mengungkapkan kepada van Goens bahwa ia harus melakukan segala macam cara untuk menjaga kestabilan kerajaan, termasuk dengan membantai lawan-lawan politiknya, atau mereka yang dicurigai akan mengganggu keamanan. Amangkurat I pun mengungkapkan bahwa rakyat tidak mempunyai hak untuk mendapatkan kemakmuran. Karena itu, dia tidak perlu mengindahkan kemakmuran mereka, sebab, kekuasaannya akan terancam kalau rakyatnya makmur dan pintar (Burger, 1962: 80).

Sebagai realisasi dari politiknya itu, pada 1641-1646, Raja melarang rakyatnya melakukan perdagangan antar pulau (laut). Perdagangan luar negeri hanya dapat dijalankan bila ada izin dari raja. Saat itu, raja lah yang memegang monopoli perdagangan beras. Orang yang berani mengeksport beras akan dijatuhi hukuman mati.

Untuk memperkaya diri, Amangkurat I menerapkan pajak yang tinggi kepada rakyat dan kerajaan-kerajaan taklukannya. Raja pun sangat senang bila mendapatkan hadiah-hadiah dari para bawahannya, termasuk dari VOC di Batavia yang memiliki kepentingan untuk mendapatkan suplay beras dari Mataram. Menurut sejarawan Australia, MC Rickleft, sebelum menjerat Mataram dengan utang dan perjanjian, VOC sering memberi hadiah raja dengan barang-barang mewah, seperti kuda, perhiasan, ataupun perempuan.

AKHIR KEHIDUPAN SANG RAJA

Gaya pemerintahannya yang despotis (menindas), mengakibatkan raja yang bergelar Sayyidin Panatagama ini selalu dihantui ketakutan. Dia tidak berani meninggalkan istananya di Plered yang dikawal ketat. Dia pun tidak berani mempercayakan pimpinan pasukan utama kepada orang lain. Dengan demikian, kekejamannya sedikit demi sedikit mulai melemahkan posisinya. Kondisi ini menyebabkan para sekutu dan vasal Mataram mulai berani melawan kekuasaan Amangkurat I.

Akhir kekuasaan Amangkurat I terbilang tragis. Jeratan VOC dan pemberontakkan yang dilakukan Trunajaya—yang awalnya berkolaborasi dengan putra mahkota—benar-benar meluluhlantakkan kekuasaannya. Dalam keadaan sakit, ia melarikan diri ke Jepara.  Sialnya, di Karanganyar, rombongan raja dirampok oleh warga desa yang tidak tahu identitasnya mantan junjungannya tersebut. Ia pun harus rela menyerahkan emas dan uang yang dibawanya.

Di Tegalwangi, tidak jauh dari kota Tegal kini. Raja yang semasa jayanya pernah membantai ribuan ulama itu, dishalatkan lalu dibawa ke Tegal. Pada 13 Juli 1677, Amangkurat I dikebumikan di Tegalwangi. Tiga belas sedadu VOC menghadiri pemakamnya (taken from here).

Walau demikian, kedua tulisan diatas belum tentu akurat informasinya. Namun untuk pencarian tahap awal (baru saja mulai Googling hari ini), keduanya cukup memberikan gambaran dasar.

Muncul & Berkembangnya Hindu Buddha

1. MUNCULNYA AGAMA HINDU di INDIA
Perkembangan agama Hindu-Budha tidak dapat lepas dari peradaban lembah Sungai Indus, di India. Di Indialah mulai tumbuh dan berkembang agama dan budaya Hindu dan Budha. Dari tempat tersebut mulai menyebarkan agama Hindu-Budha ke tempat lain di dunia. Agama Hindu tumbuh bersamaan dengan kedatangan bangsa Aria (cirinya kulit putih, badan tinggi, hidung mancung) ke Mohenjodaro dan Harappa (Peradaban Lembah Sungai Indus) melalui celah Kaiber (Kaiber Pass) pada 2000-1500 SM dan mendesak bangsa Dravida (berhidung pesek, kulit gelap) dan bangsa Munda sebagai suku bangsa asli yang telah mendiami daerah tersebut. Bangsa Dravida disebut juga Anasah yang berarti berhidung pesek dan Dasa yang berarti raksasa. Bangsa Aria sendiri termasuk dalam ras Indo Jerman. Awalnya bangsa Aria bermatapencaharian sebagai peternak kemudian setelah menetap mereka hidup bercocok tanam. Bangsa Aria merasa ras mereka yang tertinggi sehingga tidak mau bercampur dengan bangsa Dravida. Sehingga bangsa Dravida menyingkir ke selatan Pegunungan Vindhya.
Orang Aria mempunyai kepercayaan untuk memuja banyak Dewa (Polytheisme), dan kepercayaan bangsa Aria tersebut berbaur dengan kepercayaan asli bangsa Dravida yang masih memuja roh nenek moyang. Berkembanglah Agama Hindu yang merupakan sinkretisme (percampuran) antara kebudayaan dan kepercayaan bangsa Aria dan bangsa Dravida. Terjadi perpaduan antara budaya Arya dan Dravida yang disebut Kebudayaan Hindu (Hinduisme). Istilah Hindu diperoleh dari nama daerah asal penyebaran agama Hindu yaitu di Lembah Sungai Indus/ Sungai Shindu/ Hindustan sehingga disebut kebudayaan Hindu yang selanjutnya menjadi agama Hindu. Daerah perkembangan pertama agama Hindu adalah di lembah Sungai Gangga, yang disebut Aryavarta (Negeri bangsa Arya) dan Hindustan (tanah milik bangsa Hindu).

DEWA
Orang Arya percaya dan memuja banyak dewa (Polytheisme). Bagi mereka, tiap-tiap dewa merupakan lambang kekuatan terhadap alam sehingga perlu disembah/ dipuja dan dihormati. Contoh dewa dalam kepercayaan bangsa Arya:
Pretivi sebagai dewa Bumi, Surya sebagai Dewa Matahari, Vayu sebagai Dewa Angin, Varuna sebagai Dewa Laut, Agni sebagai Dewa Api.
Dalam ajaran agama Hindu dikenal 3 dewa utama, yaitu:
Brahma sebagai dewa pencipta segala sesuatu.
Wisnu sebagai dewa pemelihara alam
Siwa sebagai dewa perusak
Ketiga dewa tersebut dikenal dengan sebutan Tri Murti

KITAB SUCI
Kitab suci agama Hindu disebut Weda (Veda) artinya pengetahuan tentang agama. Pemujaan terhadap para dewa-dewa dipimpin oleh golongan pendeta/Brahmana. Ajaran ritual yang dijadikan pedoman untuk melaksanakan upacara keagamaan yang ditulis oleh para Brahmana disebut kitab Veda/Weda yang terdiri dari 4 bagian, yaitu:
•Reg Veda, berisi tentang ajaran-ajaran Hindu, merupakan kitab tertua (1500-900 SM) kira-kira muncul saat bangsa Aria ada di Punjab.
•Yajur Veda, berisi doa-doa yang dibacakan waktu diselenggarakan upacara agama, lahir saat bangsa Aria menguasai daerah Gangga Tengah.
•Sama Veda, berisi nyanyian puji-pujian yang wajib dinyanyikan saat diselenggarakan upacara agama.
•Atharwa Veda, berisi kumpulan mantera-mantera gaib, doa-doa untuk menyembuhkan penyakit. Doa/mantra muncul saat bangsa Arya menguasai Gangga Hilir.

Selain itu terdapat kitab-kitab sebagai berikut.
Kitab Brahmanas berisi pedoman ritual keagamaan bagi para Brahmana. Kitab Brahmana merupakan tafsir dari kitab Weda
Upanishad berisi khotbah-khotbah gaib. Kitab Upanisad berisi ajaran tentang cara-cara menghindarkan diri dari samsara.
Aranyakas berisi kitab untuk para pertapa.

Om merupakan simbol agama Hindu jika diucapkan secara sangat sakral sama saja dengan berdoa itu sendiri.

SISTEM KASTA
Sistem kemasyarakatan yang tercipta dalam masyrakat Hindu menurut Kitab Rig-Vega adalah sebagai berikut:
-Mereka hidup di desa, mata pencaharian mereka beternak dan bertani. Mereka mengenal pertenunan, pembuatan barang keramik dan pertukangan.
-Kepala pemerintahan tertinggi, raja yang berkuasa turun temurun. Dibantu dewan tertua dan kaum Brahmana.
-Mengenal pembagian masyarakat atas kasta-kasta tertentu, yaitu Brahmana, Ksatria, Waisya dan Sudra. Pembagian tersebut didasarkan pada tugas/ pekerjaan mereka.
•Brahmana bertugas mengurus soal kehidupan keagamaan, terdiri dari para pendeta.
Keberadaan kasta ini ada pada posisi paling penting dan punya pranan yang sangat besar bagi berjalannya pemerintahan. Mereka adalah orang yang paling mengerti menegnai seluk beluk agama Hindu, serta menjadi penasehat raja.
•Ksatria berkewajiban menjalankan pemerintahan termasuk pertahanan Negara. Yang termasuk dalam kasta ini adalah para bangsawan, raja dan keluarganya, para pejabat pemerintah. Kasta ini memiliki kedudukan yang penting dalam pemerintahan, punya banyak hak tetapi tidak memiliki kewajiban untuk membayar pajak, memberikan persembahan, dsb.
•Waisya bertugas berdagang, bertani, dan berternak. Mereka yang tergolong dalam kasta ini adalah para pedagang besar (saudagar),para pengusaha. Dalam golongan masyarakat biasa kasta ini cukup memiliki peran penting.
•Sudra bertugas sebagai petani/ peternak, para pekerja/ buruh/budak. Mereka adalah para pekerja kasar. Mereka mempunyai banyak kewajiban terutama wajib kerja tetapi keberadaannya kurang diperhatikan.
Di luar kasta tersebut terdapat kasta Paria terdiri dari pengemis dan gelandangan.

Pembagian kasta muncul sebagai upaya pemurnian terhadap keturunan bangsa Aria sehingga dilakukan pelapisan yang bersumber pada ajaran agama. Pelapisan tersebut dikenal dengan Caturwangsa/Caturwarna, yang berarti empat keturunan/ empat kasta. Pembagian kasta tersebut didasarkan pada keturunan. Dalam konsep Hindu sesorang hanya dapat terlahir sebagai Hindu bukan menjadi Hindu.
Perkawinan antar kasta dilarang dan jika terjadi dikeluarkan dari kasta dan masuk dalam golongan kaum Paria seperti bangsa Dravida. Paria disebut juga Hariyan dan merupakan mayoritas penduduk India.

KEMUNDURAN AGAMA HINDU
Pada abad ke 6 SM agama Hindu mengalami kemunduran (kemunduran bukan berarti hilang sama sekali) disebabkan oleh faktor-faktor, yaitu:
1.Kaum Brahmana terlalu memonopoli upacara keagamaan.
Masyarakat umum tidak tahu mengenai seluk beluk (detail) agama Hindu hanya pendetalah yang tahu karena mereka yang menguasai bahasa Sansekerta (bahasa yang digunakan dalam kitan suci Weda). Hal ini menyebabkan muncul rasa anti agama sebab seakan-akan agama Hindu hanya untuk kaum brahmana atau paling tidak kasta ksatria tapi untuk rakyat biasa tidak akan memberikan pengaruh baik.
2.Adanya sistem kasta dalam agama Hindu
Sistem kasta dalam agama Hindu membedakan derajat dan martabat manusia berdasarkan kelahirannya. Golongan Brahmana berada pada kasta tertinggi sementara Masyarakat biasa terutama Sudra berada pada kasta terendah yang dibebankan kewajiban yang berat. Karena kedudukannya tertinggi maka tak jarang kaum pendeta bertindak sewenang-wenang.
3.Timbul golongan yang berusaha mencari jalan sendiri untuk mencapai hidup abadi yang sejati. Golongan tersebut disebut golongan Buddha yang dihimpun oleh Sidharta.

B.MUNCUL dan BERKEMBANGNYA AGAMA BUDHA di INDIA
MASUKNYA AGAMA BUDHA DI INDIA
Agama Budha tumbuh di India tepatnya bagian Timur Laut. Muncul sekitar 525 SM. Agama Budha muncul dan dikenalkan oleh Sidharta (semua harapan dikabulkan). Agama Budha muncul disebabkan karena :
•Sidharta melihat adanya dominasi golongan Brahmana atas ajaran dan ritual keagamaan dalam masyarakat India. Lagipula hanya kaum brahmana yang menguasai kitab suci Weda sementara kasta lain tau mengenai ajaran Hindu dari Brahmana tanpa boleh mempelajari langsung ajaran Hindu. Dalam kegiatan pemerintahan pun Brahmana turut campur tangan.
•Sidharta memandang bahwa adanya sistem kasta dalam agama Hindu dapat memecah belah masyarakat, bahkan sistem kasta dianggap membedakan derajat dan martabat manusia berdasarkan kelahiran. Padahal setiap manusia itu sama kedudukannya.
Itulah fenomena yang ada di lingkungannya sementara itu satu hal yang membuat Sidharta akhirnya berusaha untuk menentang adat dan tradisi yang ada adalah karena beliau melihat adanya kenyataan hidup bahwa manusia akan tua, sakit, mati, dan hidup miskin yang intinya bahwa bagi Sidharta kehidupan adalah suatu “PENDERITAAN”. Oleh karena itu manusia harus dapat menghindarkan diri dari penderitaan (samsara), dan demi mencari cara atau jalan untuk membebaskan diri dari penderitaan guna mencapai kesempurnaan maka beliau meninggalkan istana dengan segala kemewahannya melakukan meditasi tepatnya di bawah pohon Bodhi di daerah Bodh Gaya. Dalam meditasinya tersebut akhirnya Sidharta memperoleh penerangan agung dan saat itulah terlahir/ tercipta agama Budha. Agama Budha lahir sebagai upaya pengolahan pemikiran dan pengolahan diri Sidharta sehingga menemukan cara yang terbaik bagi manusia agar dapat terbebas dari penderitaan di dunia sehingga dapat mencapai kesempuirnaan (nirwana) dan berharap tidak akan terlahir kembali di dunia untuk merasakan penderitaan yang sama.
Menurut agama Budha kesempurnaan (Nirwana) dapat dicapai oleh setiap orang tanpa harus melalui bantuan pendeta/ kaum Brahmana berbeda dengan ajaran Hindu dimana hanya pendeta yang dapat membuat orang mencapai kesempurnaan.
Dalam Budha, setiap orang mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk mencapai kesempurnaan tersebut asalkan ia mampu mengendalikan dirinya sehingga terbebas dari samsara 9kesengsaraan).
Sidharta Gautama dikenal sebagai Budha atau seseorang yang telah mendapat pencerahan. Sidharta artinya orang yang mencapai tujuan. Sidharta disebut juga Budha Gautama yang berarti orang yang menerima bodhi.

KITAB SUCI
Ajaran agama Budha dibukukan dalam kitab Tripitaka (dari bahasa Sansekerta Tri artinya tiga dan pitaka artinya keranjang). Kitab Tripitaka terdiri atas 3 kumpulan tulisan, yaitu :
1.Sutta (Suttanata) Pitaka berisi kumpulan khotbah, pokok-pokok atau dasar ajaran sang Buddha
2.Vinaya Pitaka berisi kodefikasi aturan-aturan yang berkenaan dengan kehidupan pendeta atau segala macam peraturan dan hukum yang menentukan cara hidup para pemeluknya.
3.Abhrdharma Pitaka berisi filosofi (falsafah agama), psikologi, klasifikasi, dan sistematisasi doktrin

KOTA SUCI
Ada 4 tempat yang dianggap suci oleh umat Budha karena berhubungan dengan kehidupan Sidharta. Keempat tempat tersebut adalah sebagai berikut :
1.Taman Lumbini di Kapilawastu sebagai tempat kelahiran Sidharta (563 SM). Sementara itu masa kecil Sidharta di lewatkan di daerah Kapilawastu tersebut.
2.Bodh Gaya sebagai tempat Sidharta menerima penerangan agung.
3.Benares (Taman Rusa) sebagai tempat Sidharta pertama kali mengajarkan ajarannya.
4.Kusinegara merupakan tempat wafat Sidharta (482 SM)
Peristiwa kelahiran, menerima penerangan agung dan kematian Sidharta terjadi pada tanggal yang bersamaan yaitu waktu bulan purnama pada bulan Mei. Sehingga ketiga peristiwa tersebut dirayakan umat Budha sebagai Triwaisak.

PERKEMBANGAN AGAMA BUDHA
Perkembangan Agama Budha mencapai puncaknya kejayaannya pada masa pemerintahan raja Ashoka dari Dinasti Maurya. Ia mampu menjadikan ¾ wilayah India menganut agama Budha dan Ia menetapkan agama Budha sebagai agama resmi negara. Perkembang agama Budha saat itu cepat serta dapat diterima masyarakat India. Selain faktor utama ini terdapat juga faktor pendukung diantaranya adalah sebagai berikut.
1.Penyebaran agama Budha dilakukan dengan mengunakan bahasa rakyat sehari-hari seperti bahasa Prakrit, dan bukan bahasa Sansekerta yang hanya dikuasai dan dimengerti oleh kaum Brahmana.
2.Ajaran agama Budha dapat diterima/ dianut dan disebarkan pada siapapun tidak hanya pada golongan tertentu sehingga dapat disebut ajaran Sidharta ini bersifat non-eksklusif.
3.Dalam agama Budha tidak dikenal adanya sistem kasta sebab sistem ini dipandang akan membedakan masyarakat atas harkat dan martabatnya. Sehingga dalam Budha laki-laki ataupun perempuan, miskin atupun kaya sama saja semuanya punya hak yang sama dalam kehidupan ini.

PERPECAHAN AGAMA BUDHA
Setelah 100 tahun wafatnya Sang Budha timbul bermacam-macam penafsiran terhadap hakikat ajaran Budha. Perpecahan dalam agama Budha terjadi karena masing-masing mempunyai pandangan/ aliran sendiri. Diantaranya aliran yang terkenal yaitu Hinayana dan Mahayana.
1.Hinayana artinya kendaraan kecil. Menurut aliran ini tiap orang wajib berusaha sendiri untuk mencapai nirwana. Untuk mencapai Nirwana sangat tergantung pada usaha diri melakukan meditasi. Hinayana, lebih tertutup hanya mengejar pembebasan bagi diri sendiri. Yang berhak menjadi Sanggha adalah para biksu dan biksuni yang berada di Wihara. Ajarannya lebih mendekati Budha semula. Pengikutnya sebagian besar berada di daerah Srilanka, Myanmar (Birma), dan Muangtai.
2.Mahayana artinya kendaraan besar. Mahayana, sifatnya terbuka. Penganut aliran ini mengajarkan pembebasan bagi diri sendiri serta bermisi pembebasan bagi orang lain. Setiap orang berhak menjadi Sanggha sejauh sanggup menjalankan ajaran dan petunjuk sang Budha. Jadi aliran Mahayana mengajarkan untuk mencapai Nirwana setiap orang harus mengembangkan kebijaksanaan dan sifat welas asih (belas kasih). Setiap manusia berusaha hidup bersama/ membantu setiap orang lain dalam mencapai Nirwana. Ajarannya sudah berbeda dengan ajaran Budha semula. Para pengikutnya sebagian besar ada di daerah Indonesia, Jepang, Cina, dan Tibet.

AJARAN SANG BUDHA
Budha mengajarkan 4 kenyataan dalam hidup, yaitu bahwa:
1.Hidup merupakan samsara
2.Samsara disebabkan oleh nafsu yang menguasai manusia
3.Samsara dapat dihilangkan dengan menghilangkan nafsu
4.Untuk menghilangkan nafsu, ditempuh delapan jalur kebenaran.
Delapan Jalan Kebenaran :
– Mempunyai pandangan yang benar – Punya penghidupan yang benar
– Mempunyai niat yang benar – Berusaha yang benar
– Berbicara yang benar – Memperhatikan hal-hal yang benar
– Berbuat yang benar – Bersemadi yang benar

Tiga Kebaktian (Tri Dharma)dalam agama Budha :
1.Berbakti kepada Sang Budha
2.Berbakti kepada ajaran-ajarannya
3.Berbakti kepada Sanggha (jemaat Perkumpulan)

Tridharma jika diucapkan oleh seseorang yang mau masuk agama budha adalah sebagai berikut.
1.Saya mencari perlindungan pada Budha
2.Saya mencari perlindungan pada Dharma
3.Saya mencari perlindungan pada Sanggha

Selain Tridarma dalam agama Budha dikenal juga Triratna yang berarti tiga mutiara, terdiri dari Budha, Dharma, dan Sanggha.
Budha, yaitu Sidharta yang telah dianggap sebagai dewa
Dharma, yaitu kewajiban yang harus ditaati oleh umat Buddha.
Sanggha, yaitu aturan/ perkumpulan dalam agama Budha

KEMUNDURAN AGAMA BUDHA
Kemunduran agama Budha di India disebabkan karena :
1.Setelah Asoka wafat (232 SM) tidak ada raja yang mau melindungi dan mengembangkan agama Budha di India.
2.Agama Hindu berusaha memperbaiki kelemahan-kelemahannya sehingga pengikutnya bertambah banyak.

PERSAMAAN dan PERBEDAAN AGAMA HINDU-BUDHA
Persamaan Hindu dan Budha :
Sama-sama tumbuh dan berkembang di India
Selalu berusaha untuk meletakkan dasar-dasar ajaran kebenaran dalam kehidupan manusia di dunia ini. Diarahkan pada tindakan-tindakan yang dibenarkan oleh agama.
Tujuan untuk menyelamatkan umat manusia dari rasa kegelapan/ mengantarkan umat manusia untuk dapat mencapai tujuan hidupnya yaitu kesempurnaan.

Perbedaan Hindu dan Budha :
HINDU BUDHA
Muncul sebagai perpaduan budaya bangsa Aria dan bangsa Dravida Muncul sebagai hasil pemikiran dan pencerahan yang diperoleh Sidharta dalam rangka mencari jalan lain menuju kesempurnaan(nirwana)
Kitab sucinya, WEDA Kitab Sucinya, TRIPITAKA
Mengakui 3 dewa tertinggi yang disebut Trimurti Mengakui Sidharta Gautama sebagai guru besar/ pemimpin agama Budha
Kehidupan masyarakat dikelompokkan menjadi 4 golongan yang disebut Kasta (kedudukan seseorang dalam masyarakat diterima secara turun-temurun/didasarkan pada keturunan).Tidak diakui adanya kasta dan memandang kedudukan seseorang dalam masyarakat adalah sama.

Adanya pembedaan harkat dan martabat/hak dan kewajiban seseorang Tidak mengenal pembagian hak antara pria dan wanita
Agama Hindu hanya dapat dipelajari oleh kaum pendeta/Brahmana dan disebarkan/ diajarkan pada golongan tertentu sehingga sering disebut agamanya kaum brahmana.Agama Budha dapat dipelajari dan diterima oleh semua orang tanpa memandang kasta
Agama Hindu hanya bisa dipelajari dengan menggunakan bahasa Sansekerta Agama Budha disebarkan pada rakyat dengan menggunakan bahasa rakyat sehari-hari, seperti bahasa Prakrit
Kesempurnaan (Nirwana) hanya dapat dicapai dengan bantuan/bimbingan pendeta.Setiap orang dapat mencapai kesempurnaan dengan usaha sendiri yaitu dengan meditasi
Seorang terlahir sebagai Hindu bukan menjadi Hindu sehingga kehidupan telah ditentukan sejak lahir. Kehidupannya ditentukan oleh darma baik yang berhasil dilakukan semasa hidup
Mengenal adanya kelahiran kembali setelah kematian (reinkarnasi).Tidak menenal reinkarnasi tetapi mengenal karma
Dibenarkan untuk mengadakan upacara korban.Tidak dibenarkan mengadakan upacara korban

C. MASUKNYA AGAMA HINDU dan BUDHA DI INDONESIA
Persebaran agama dan budaya Hindu-Budha dari India ke Indonesia melalui jalur lalu lintas perdagangan dan pelayanan. Sejak awal abad 1 M Indonesia telah menjalin hubungan dagang dengan negara lain. Hal ini, dikarenakan letak geografis Indonesia yang sangat strategis sehingga memungkinkan hubungan dagang dengan negara lain. Pelayaran di Indonesia awalnya dilakukan hanya sebagai lalu lintas utama penghubung antarpulau tetapi kemudian hal tersebut mendorong adanya aktivitas perdagangan. Pelayaran perdagangan tersebut akhirnya dilakukan bukan hanya di Indonesia saja. Hal ini disebabkan karena :
•Setelah ditemukan jalur melalui laut antara Romawi dan Cina maka perlayaran dan perdagangan Asia semakin ramai. Sehingga wilayah yang dilalui jalur perlayaran dan perdagangan tersebut ikut aktif dalam perdagangan. Indonesia sebagai wilayah yang strategis menjalin hubungan dengan Cina dan India. Wilayah Indonesia yang berada di sebelah Timur India menyebabkan para pelaut India lebih mudah mencapai Indonesia dan terbentuklah perdagangan antara India dan Indonesia.
•Didukung adanya pola angin musim yang berubah arah setiap 6 bulan.
•Didukung adanya perluasan kekuasaan kerajaan Cina yang membawa kekuasaannya ke Asia Tenggara mendorong timbul perdagangan maritim di Asia Barat ke Cina Selatan melalui Indonesia. Perdagangan di Asia Barat didukung oleh para pedagang India.
•Barang perdagangan: emas, kayu cendana, rempah-rempah, kayu wangi, kapur barus, dan kemenyan dari India sampai Indonesia.

Melalui perdagangan tersebut berkembanglah kebudayaan Asing termasuk India serta Agama Hindu dan Budha yang dianut oleh sebagian besar pedagang India. Agama tersebutlah yang kemudian dianut oleh raja-raja di Indonesia yang selanjutnya mempengaruhi segala aspek kehidupan masyarakat di Indonesia.

Masuknya dan berkembangnya Agama Hindu di Indonesia
Terdapat beberapa teori mengenai siapakah yang membawa masuknya agama dan kebudayaan Hindu di Indonesia. Teori-teori tersebut antara lain:
1.Teori Sudra (dikemukakan oleh Van Feber)
Inti dari teori ini adalah bahwa masuk dan berkembangnya agama Hindu ke Indonesia dibawa oleh orang-orang India yang berkasta Sudra.

Pendapat dari Van Feber adalah bahwa:
Orang India berkasta Sudra (pekerja kasar) menginginkan kehidupan yang lebih baik daripada mereka tinggal menetap di India sebagai pekerja kasar bahkan tak jarang mereka dijadikan sebagai budak para majikan sehingga mereka pergi ke daerah lain bahkan ada yang sampai ke Indonesia.
Orang berkasta sudra yang berada pada kasta terendah di India tidak jarang dianggap sebagai orang buangan sehingga mereka meninggalkan daerahnya pergi ke daerah lain bahkan keluar dari India hingga ada yang sampai ke Indonesia agar mereka mendapat kedudukan yang lebih baik dan lebih dihargai.

Bantahan ahli terhadap teori ini adalah sebagai berikut.
Golongan Sudra tidak menguasai seluk beluk ajaran agama Hindu sebab mereka tidak menguasai bahasa Sansekerta yang digunakan dalam Kitab Suci Weda (terdapat aturan dan ajaran agama Hindu). Terlebih tidak sembarang orang dapat menyentuhnya, membaca dan mengetahui isinya.
Tujuan utama golongan Sudra meninggalkan India adalah untuk mendapat penghidupan dan kedudukan yang lebih baik (memperbaiki keadaan/kondisi mereka). Sehingga jika mereka ke tempat lain pasti hanya untuk mewujudkan tujuan utama mereka bukan untuk menyebarkan agama Hindu.
Dalam sistem kasta posisi kaum sudra ada pada kasta terendah sehingga tidak mungkin mereka mau menyebarkan agama Hindu yang merupakan milik kaum brahmana, kasta diatasnya. Jika mereka menyebarkan agama Hindu berarti akan lebih mengagungkan posisi kasta brahmana, kasta yang telah menempatkan mereka pada kasta terendah.

2.Teori Waisya (dikemukakan oleh NJ.Krom)
Inti dari teori ini yaitu bahwa masuk dan berkembangnya agama Hindu ke Indonesia dibawa oleh orang India berkasta Waisya yaitu golongan pedagang.
Mereka datang dan berperan sebagai penyebar agama Hindu ke Indonesia. Seperti bangsa Gujarat yang menjadi pedagang pada zaman Islam atau bangsa Barat pada zaman modern.
Menurut NJ.Krom ada 2 kemungkinan Agama Hindu disebarkan oleh pedagang:
Para pedagang dari India melakukan perdagangan dan akhirnya sampai ke Indonesia memang hanya untuk berdagang. Melalui interaksi perdagangan itulah agama Hindu disebarkan pada rakyat Indonesia.
Para pedagang dari India yang singgah di Indonesia kemudian mendirikan pemukiman sembari menunggu angin musim yang baik untuk membawa mereka kembali ke India. Merekapun akan berinteraksi dengan penduduk sekitar dan menyebarkan agama pada penduduk lokal Indonesia. Selanjutnya jika ada yang tertarik dengan penduduk setempat dan memutuskan untuk menikah serta berketurunan maka melalui keturunan inilah agama Hindu disebarkan ke masyarakat sekitar.

Faktor yang memperkuat teori dari NJ. Krom adalah bahwa:
Teori ini mudah diterima oleh akal sebab dalam kehidupan, faktor ekonomi menjadi sangat penting dan perdagangan merupakan salah satu bentuk dalam kegiatan berekonomi. Sehingga melalui kegiatan perdagangan dirasa akan lebih mudah untuk berhubungan dengan orang dari berbagai daerah.
Adanya bukti yang menunjukkan bahwa terdapat perkampungan para pedagang India di Indonesia yang disebut Kampung Keling yang terletak di beberapa daerah di Indonesia seperti di Indonesia bagian Barat (Sumatera)

Bantahan para ahli terhadap teori ini :
oMotif mereka datang sekedar untuk berdagang bukan untuk menyebarkan agama Hindu sehingga hubungan yang terbentuk antara penduduk setempat bahkan pada raja dengan para saudagar (pedagang India) hanya seputar perdagangan dan tidak akan membawa perubahan besar terhadap penyebaran agama Hindu.
oMereka lebih banyak menetap di daerah pantai untuk memudahkan kegiatan perdagangannya. Mereka datang ke Indonesia untuk berdagang dan jika mereka singgah mungkin hanya sekedar mencari perbekalan untuk perjalanan mereka selanjutnya atau untuk menunggu angin yang baik yang akan membawa mereka melanjutkan perjalanan. Sementara itu kerajaan Hindu di Indonesia lebih banyak terletak di daerah pedalaman seperti Pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Sehingga, penyebarluasan agama Hindu tidak mungkin dilakukan oleh kaum Waisya yang menjadi pedagang.
oMeskipun ada perkampungan para pedagang India di Indonesia tetapi kedudukan mereka tidak berbeda dengan rakyat biasa di tempat itu, mereka yang tinggal menetap sebagaian besar hanyalah pedagang-pedagang keliling sehingga kehidupan ekonomi mereka tidak jauh berbeda dengan penduduk setempat. Sehingga pengaruh budaya yang mereka bawa tidaklah membawa perubahan besar dalam tatanegara dan kehidupan keagamaan masyarakat setempat.
oKaum Waisya tidak mempunyai tugas untuk menyebarkan agama Hindu sebab yang bertugas menyebarkan agama Hindu adalah Brahmana. Lagi pula para pedagang tidak menguasai secara mendalam ajaran agama Hindu dikarenakan mereka tidak memahami bahasa Sansekerta sebagai pedoman untuk membaca kitab suci Weda.
oTulisan dalam prasasti dan bangunan keagamaan Hindu yang ditemukan di Indonesia berasal dari bahasa Sansekerta yang hanya digunakan oleh Kaum Brahmana dalam kitab-kitab Weda dan upacara keagamaan.

3.Teori Ksatria (dikemukakan oleh FDK Bosch)
Inti dari teori ini adalah bahwa golongan bangsawan/ksatria dari India yang membawa masuk dan menyebarkan agama Hindu di Indonesia.

Menurut FDK Bosch ada 3 alasan mengapa Agama Hindu disebarkan oleh bangsawan:
Raja dan bagsawan serta ksatria dari India yang kalah perang meninggalkan daerahnya menuju ke daerah lain termasuk Indonesia. Mereka berusaha menaklukkan daerah baru di Indonesia dan membentuk pemerintahan baru seperti ketika mereka di India. Dari situ mereka mulai menanamkan ajaran agama Hindu pada penduduk setempat.
Kekacauan politik di India menyebabkan para ksatria melarikan diri sampai di Indonesia dan sesampainya di Indonesia mereka membentuk dan mendirikan koloni (tanah jajahan) dan mulai menyebarkan agama Hindu.
Adapula raja dan para bangsawan India yang sengaja datang ke Indonesia untuk menyerang dan menaklukkan suku-suku di Indonesia. Setelah mereka berhasil maka akan mendirikan kerajaan dan mulai menyebarkan agama Hindu.
Teori Ksatria sering juga disebut dengan teori Kolonisasi . Hal ini disebabkan karena dilakukan penyerbuan dan penklukkan.

Bantahan terhadap teori ini :
•Tidak mungkin pelarian ksatria dari India bisa mendapatkan kedudukan mulia sebagai raja di wilayah lain, sedangkan di Indonesia masa itu, seseorang dapat menjadi pemimpin suatu wilayah karena dia dirasa mempunyai kemampuan lebih daripada yang lainnya. Tidak mungkin rakyat menginginkan orang yang telah mengalahkan rakyat di wilayah itu untuk menjadi raja mereka karena mereka pasti harus hidup dalam tekanan dari orang yang tidak mereka kenal.

•Tidak ada bukti yang kuat baik itu di Indonesia maupun di India bahwa penyerbuan yang dilakukan bertujuan untuk menyebarkan agama Hindu. Selain itu tidak ada bukti pendudukan atas beberapa daerah di Indonesia oleh bangsa India yang bertujuan untuk menyebarkan agama. Padahal suatu penaklukkan pasti akan dicatat sebagai sebuah kemenangan. Memang pernah ada serbuan dari bangsa India yang terjadi 2 kali dalam waktu singkat oleh kerajaan Colamandala (raja Rajendra Coaldewa) atas kerajaan Sriwijaya yaitu pada tahun 1023 M dan 1030 M. Meskipun berhasil menawan raja Sriwijaya tetapi serangan tersebut berhasil dipatahkan/dikalahkan.

•Jika terjadi kolonisasi /penaklukkan pasti akan disertai dengan pemindahan segala aspek/unsur budaya masyarakat India secara murni di Indonesia seperti sistem kasta, tatakota, pergaulan, bahasa, dsb. Tetapi kehidupan masyarakat di Indonesia tidak menunjukkan hal yang sama persis (tidak asli) dengan kehidupan masyarakat India dari sini dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi penguasaan secara mendasar pada segala aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Budaya Indonesia memiliki peran yang besar dalam proses pembentukan budaya India-Indonesia sehingga yang tampak adalah bentuk akulturasi budayanya.

4.Teori Brahmana (dikemukakan oleh J.C. Van Leur)
Inti dari teori ini adalah bahwa yang membawa masuk dan menyebarkan agama Hindu di Indonesia adalah kaum brahmana dari India. Teori ini memang paling mudah diterima.
Menurut J.C. Van Leur beberapa alasan mengapa Agama Hindu disebarkan oleh brahmana:
-Agama Hindu adalah milik kaum Brahmana sehingga merekalah yang paling tahu dan paham mengenai ajaran agama Hindu. Urusan keagamaan merupakan monopoli kaum Brahmana bahkan kekuasaan terbesar dipegang oleh kaum Brahmana sehingga hanya golongan Brahmana yang berhak dan mampu menyiarkan agama Hindu.
-Prasasti Indonesia yang pertama menggunakan berbahasa Sansekerta, sedangkan di India sendiri bahasa itu hanya digunakan dalam kitab suci dan upacara keagamaan Hindu. Bahasa Sansekerta adalah bahasa kelas tinggi sehingga tidak semua orang dapat membaca dan menulis bahasa Sansekerta. Di India hanya kasta Brahmana yang menguasai bahasa Sansekerta sehingga hanya kaum Brahmana-lah yang dapat dan boleh membaca kitab suci Weda.
-Karena kepala suku yang ada di Indonesia kedudukannya ingin diakui dan kuat seperti raja-raja di India maka mereka dengan sengaja mendatangkan kaum Brahmana dari India untuk mengadakan upacara penobatan dan mensyahkan kedudukan kepala suku di Indonesia menjadi raja. Dan mulailah dikenal istilah kerajaan. Karena upacara penobatan tersebut secara Hindu maka secara otomatis rajanya juga dinyatakan beragama Hindu, jika raja beragama Hindu maka rakyatnyapun akan mengikuti rajanya beragama Hindu.
-Ketika menobatkan raja kaum Brahmana pasti membawa kitab Weda ke Indonesia. Sebelum kembali ke India tak jarang para Brahmana tersebut akan meniggalkan Kitab Weda-nya sebagai hadiah bagi sang raja. Kitab tersebut selanjutnya akan dipelajari oleh sang raja dan digunakan untuk menyebarkan agama Hindu di Indonesia.
-Para brahmana sengaja didatangkan ke Indonesia karena raja yang telah mengenal Brahmana secara khusus meminta Brahmana untuk mengajar di lingkungan istananya. Dari hal inilah maka agama dan budaya India dapat berkembang di Indonesia. Sejak itu mulailah secara khusus kepala suku-kepala suku yang lain yang tertarik terhadap budaya dan ajaran Hindu mengundang kaum Brahmana untuk datang dan mengajarkan agama dan budaya India kepada masyarakat Indonesia.
-Teori ini didukung dengan adanya bukti bahwa terdapat koloni India di Malaysia dan pantai Timur Sumatera (populer dengan nama Kampung Keling) yang banyak ditempati oleh orang Keling dari India Selatan yang memerlukan kaum Brahmana untuk upacara agama (perkawinan dan kematian).

Bantahan terhadap teori ini :
Mempelajari bahasa Sansekerta merupakan hal yang sangat sulit jadi tidak mungkin dilakukan oleh raja-raja di Indonesia yang telah mendapat kitab Weda untuk mengetahui isinya bahkan menyebarkan pada yang lain. Sehingga pasti memerlukan bimbingan kaum Brahmana dalam mempelajarinya.
Menurut ajaran Hindu kuno seorang Brahmana dilarang untuk menyeberangi lautan apalagi meninggalkan tanah airnya. Jika ia melakukan hal tersebut maka ia akan kehilangan hak akan kastanya. Sehingga mendatangkan para Brahmana ke Indonesia bukan merupakan hal yang wajar.

Dari keempat teori tersebut teori yang paling tepat dan disepakati ahli mengenai masuknya agama Hindu dan Budha di Indonesia adalah teori Brahmana, yaitu bahwa brahmana/ pendeta dari Indialah yang membawa masuk agama dan budaya Hindu-Budha ke Indonesia. Istilah pendeta juga digunakan dalam agama Budha.
Adapun prosesnya sebagai berikut.

Masuknya Agama Hindu ke Indonesia :
Para pendeta dari India mempunyai misi/tugas khusus untuk menyebarkan agama Hindu, pada akhirnya sampai juga mereka ke Indonesia melalui jalur perdagangan. Setiba di Indonesia mereka akan melakukan upacara pengembalian kasta agar mereka memiliki hak untuk menyebarkan ajaran agama. Selanjutnya mereka akan menemui penguasa lokal (kepala suku). Jika penguasa lokal tersebut tertarik dengan ajaran Hindu maka para pendeta bisa langsung mengajarkan dan menyebarkannya. Adapula penguasa lokal yang kemudian dinobatkan jadi raja serta diHindukan, sehingga jika rajanya beragama Hindu maka akan lebih mudah untuk menyebarkan agama Hindu di daerahnya.
Proses ini tidak dapat terjadi hanya satu kali langsung diterima tetapi membutuhkan proses yang lama.

Masuknya Agama Budha ke Indonesia :
Dalam ajaran agama budha juga terdapat misi khusus untuk menyebarkan agama Budha, misi tersebut dikenal dengan Dharmadhuta. Untuk menjalankan misinya tersebut maka pendeta Budha melalui jalur pelayaran dan perdagangan menuju ke Indonesia. Setibanya di Indonesia mereka akan menemui raja/ penguasa lokal setempat guna meminta izin untuk menyebarkan agama Budha. Selanjutnya mereka mulai mengajarkan dan menyebarkan agama Budha, jika pengusa lokal tertarik dan memutuskan untuk menganut ajaran agama Budha itu akan menjadi semakin mudah bagi perkembangan agama Budha di daerah tersebut. Jikapun raja tidak tertarik menganut agama Budha tapi memberi izin pada para pendeta tersebut untuk menyebarkan agama Budha maka mereka akan mendirikan perkumpulan umat/ jemaat Budha yang disebut Sangha.

Dari keempat teori yang ada menurut para ahli tidak ada yang cocok menyatakan proses perkembangan agama dan budaya Hindu-Budha di Indonesia sehingga mereka mengemukakan suatu teori baru untuk menjelaskan proses perkembangan agama Hindu-Budha di Indonesia yaitu Teori Arus Balik.
Teori Arus Balik sepakat bahwa yang membawa masuk agama dan budaya Hindu-Budha di Indonesia adalah para pendeta India, tetapi yang menyebarkan agama Hindu-Budha ke rakyat Indonesia bukan para pendeta India melainkan orang Indonesia yang diutus oleh raja Indonesia untuk mempelajari agama dan budaya para pendeta India di negara asalnya yaitu India. Setelah utusan tersebut menguasai ajaran agama maka mereka akan kembali ke Indonesia dan menyampaikan pada raja. Raja yang telah mendapat laporan selanjutnya akan meminta utusan tersebut menyebarkan dan mengajarkan pengetahuan yang di peroleh dari India tersebut pada penduduk/ rakyat kerajaan tersebut. Maka semakin berkembanglah ajaran agama baik Hindu maupun Budha dan terbentuklah kerajaan yang berciri baik itu Hindu maupun Budha.

Jadi kesimpulan proses masuk dan berkembangnya agama dan budaya Hindu-Budha ke Indonesiaadalah sebagai berikut.

Agama Budha
Agama Budha masuk ke Indonesia dibawa oleh para pendeta didukung dengan adanya misi Dharmadhuta, kitab suci agama Budha ditulis dalam bahasa rakyat sehari-hari, serta dalam agama Budha tidak mengenal sistem kasta. Para pendeta Budha masuk ke Indonesia melalui 2 jalur lalu lintas pelayaran dan perdagangan, yaitu melalui jalan daratan dan lautan. Jalan darat ditempuh lewat Tibet lalu masuk ke Cina bagian Barat disebut Jalur Sutra, sedangkan jika menempuh jalur laut, persebaran agama Budha sampai ke Cina melalui Asia Tenggara. Selanjutnya sampai ke Indonesia mereka akhirnya bertemu dengan raja dan keluarganya serta mulai mengajarkan ajaran agama Budha, pada akhirnya terbentuk jemaat kaum Budha. Bagi mereka yang telah mengetahui ajaran dari pendeta India tersebut pasti ingin melihat tanah tempat asal agama tersebut secara langsung yaitu India sehingga mereka pergi ke India dan sekembalinya ke Indonesia mereka membawa banyak hal baru untuk selanjutnya disampaikan pada bangsa Indonesia. Unsur India tersebut tidak secara mentah disebarkan tetapi telah mengalami proses penggolahan dan penyesuaian. Sehingga ajaran dan budaya Budha yang berkembang di Indonesia berbeda dengan di India.

Agama Hindu
Para pendeta Hindu memiliki misi untuk menyebarkan agama Hindu dan melalui jalur perdagangan akhirnya sampai di Indonesia. Selanjutnya mereka akan menemui penguasa lokal (kepala suku). Jika penguasa lokal tersebut tertarik dengan ajaran Hindu maka para pendeta bisa langsung mengajarkan dan menyebarkannya. Dalam ajaran agama Hindu konsepnya adalah seseorang terlahir sebagai Hindu bukan menjadi Hindu maka untuk menerima ajaran agama Hindu orang Indonesia harus di-Hindu-kan melalui upacara Vratyastoma dengan pertimbangan kedudukan sosial/ derajat yang bersangkutan (memberi kasta). Hubungan India-Indonesia berlanjut dengan adanya upaya para kepala suku/ raja lokal untuk menyekolahkan anaknya/ utusan khusus ke India guna belajar budaya India lebih dalam lagi. Setelah kembali ke tanah air mereka kemudian menyebarkan kebudayaan India yang sudah tinggi. Bahkan tak jarang mereka mendatangkan para Brahmana India untuk melakukan upacara bagi para penguasa di Indonesia, seperti upacara Abhiseka, merupakan upacara untuk mentahbiskan seseorang menjadi raja. Jika di suatu wilayah rajanya beragama Hindu maka akan memperkuat proses penyebaran agama Hindu bagi rakyat di daerah tersebut (taken from here).

Kitab Peninggalan Kerajaan Hindu Buddha

Kitab merupakan sebuah karya sastra para pujangga pada masa lampau yang dapat dijadikan petunjuk untuk mengungkap suatu peristiwa di masa lampau. Para pujangga biasanya menulis atas perintah raja. Itulah sebabnya isi tulisannya banyak menulis keagungan dan kebesaran raja yang bersangkutan. Diantara kitab-kitab yang terkenal pada masa kerajaan Hindu-Budha:
1.) Pada zaman Kediri dihasilkan kitab:
· Arjunawiwaha
Merupakan karya Mpu Kanwa pada tahun 1030 M, pada masa pemerintahan Airlangga.
Isinya meriwayatkan Arjuna yang bertapa untuk mendapatkan senjata guna keperluan perang melawan Kurawa.
· Kresnayana
Karya Mpu Triguna. Memuat riwayat Kresna semasa kecil. Cerita yang mirip dengan Kresnayana adalah cerita dalam kitab Hariwangsa karya Mpu Panuluh, yang digubah pada zaman Raja Jayabaya, dan berisi kisah perkawinan Kresna dengan Dewi Rukhimi.
· Smaradahana
Karya Mpu Dharmaja pada masa Sri Kameswara. Mengisahkan hilangnya suami istri Dewa Kama dan Dewi Ratih karena api yang keluar dari mata ketiga Dewa Syiwa.
· Baratayudha
Karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh. Isinya tentang peperangan 18 hari antara keluarga Pandawa dan Kurawa.
· Gatotkacasraya
Karangan Mpu Panuluh, menceritakan perkawinan Abimanyu, putra Arjuna, dengan Siti Sundhari atas bantuan Gatotkaca, putra Bima.Ditulis pada zaman Raja Jayabaya.

2) Pada zaman Majapahit I
· Negarakertagama
Ditulis pada zaman pemerintahan Hayam Wuruk oleh Mpu Prapanca. Mengenai kerajaan Singasari dari masa pemerintahan Ken Arok, raja pertama Singosari hingga Hayam Wuruk.
· Sutasoma
Karangan Mpu Tantular. Menceritakan Sutasoma, putra raja yang kemudian mendalami agama Budha. Dalam kitab ini terdapat kata Bhinneka tunggal ika,tan hana dharma mangrwa. Kata bhinneka tunggal ika inilah yang kemudian menjadi semboyan persatuan kita.
· Arjunawijaya
Karangan Mpu Tantular. Kitab mengisahkan raja Arjuna Sasrabahu dan Patih Sumantri melawan Raksasa Rahwana.
· Kutaramanawa
Ditulis oleh Gajah Mada. Disusun berdasarkan kitab hukum Kutarasastra dan kitab hukum Munawasastra, dan kemudian disesuaikan dengan hukum adat pada waktu itu.

3) Pada zaman Majapahit II
· Pararaton
Pararaton berisi dongeng dan mitos. Pengarangnya sampai sekarang belum diketahui. Terdiri atas 2 bagian. Bagian pertama berisi riwayat Ken Arok sampai raja-raja Sigasari. Bagian kedua mengisahkan Kerajaan Majapahit mulai dari Raden Wijaya, Jayanegara, pemberontakan Ronggolawe dan Sora, Perang Bubad, dan daftar raja sesudah Hayam Wuruk.
· Tantu Panggelaran
· Calon Arang
· Sundayana
· Paman Canggah
· Usana Bali
· Cerita Parahiyangan
· Bubhuksah dan Gagang Aking
Pada masa Islam muncul banyak karya sastra seperti:
Hikayat Pandawa Lima, Hikayat Perang Pandawa Jaya, Hikayat Sri Rama, Hikayat Maharaja Rahwana, Hikayat Pancatantra.

Selain kitab ada pula cerita panji seperti:
Syair Ken Tambunan, Lelakon Mahesa Kuitir, Syair Panji Sumirang, Cerita Wayang Kinundang, Hikayat Panji Kuda Sumirang, Hikayat Cekal Wenengpati, Hikayat Panji Wilakusuma.

Selain itu terdapat pula kitab suluk (kitab yang bercorak magis, berisi ramalan, penentuan hari baik dan buruk, dan pemberian makna terhadap suatu kejadian) seperti:
Suluk Sukrasa, menceritakan Ki Sukrasa yang mencari ilmu untuk mendapatkan kesempurnaan.
Suluk Wujil, berisi wejanagan Sunan Bonang kepada Wujil, bekas abdi Raja Majapahit.
Suluk Malang Sumirang, berisi pujian dan mengungkapkan seseorang yang telah mencapai kesempurnaan dan bersatu dengan Tuhan YME.

Kitab yang ditulis oleh para pujangga dari kerajaan Islam di Indonesia diantaranya:
a) Kitab Bustanu’Issalatin, ditulis oleh Nuruddin ar-Raniri dari Aceh.Berisi mengenai adat-istiadat Aceh dan ajaran agama Islam
b) Kitab Sastra Gending, ditulis oleh Sultan Agung dari Mataram. Berisi tentang ajaran-ajaran filsafat. Serta kitab Nitisruti, Nitisastra, dan Astabrata yang bersumber pada kitab Ramayana. Berisi tentang tabiat baik.
c) Kitab Ade Allopiloping Bicaranna Pabbahi’e oleh Amanna Gappa dari Makasar. Berisi tentang hukum-hukum perniagaan bagi kerajaan Makasar (taken from here).

This site is protected by wp-copyrightpro.com