Terjemahan Lengkap Nagarakertagama

Pujasastra Negarakretagama terdiri dari 98 pupuh. Isi pembagiannya dilakukan dengan sangat rapi. Negarakretagama terdiri atas dua bagian. Bagian pertama dimulai dari pupuh 1 – 49. Sedangkan bagian kedua dimulai dari pupuh 50 – 98.
Judul asli dari manuskrip ini adalah Desawarnana yang artinya Sejarah Desa-Desa. Sejak ditemukan kembali oleh para arkeolog, naskah ini kemudian dinamakan Negarakretagama yang artinya Kisah Pembangunan Negara.
Naskah ini selesai ditulis pada bulan Aswina tahun Saka 1287 (September – Oktober 1365 Masehi), penulisnya menggunakan nama samaran Prapanca, berdasarkan hasil analisis kesejarahan yang telah dilakukan diketahui bahwa penulis naskah ini adalah Dang Acarya Nadendra , bekas pembesar urusan agama Budha di istana Majapahit. Beliau adalah putera dari seorang  pejabat istana di Majapahit dengan pangkat jabatan Dharmadyaksa Kasogatan. Penulis naskah ini menyelesaikan naskah kakawin Negarakretagama diusia senja dalam pertapaan di lereng gunung di sebuah desa bernama Kamalasana. Berikut adalah terjemahan lengkapnya dalam Bahasa Indonesia.

Download Terjemahan Lengkap Nagarakertagama Versi PDF (1,07 MB)

Pupuh 1

  1. Om! Sembah pujiku orang hina ke bawah telapak kaki pelindung jagat. Siwa-Budha Janma-Bhatara senantiasa tenang tenggelam dalam samadi. Sang Sri Prawatanata, pelindung para miskin, raja adiraja di dunia. Dewa-Bhatara, lebih khayal dari yang khayal, tapi tampak di atas tanah.
  2. Merata serta meresapi segala makhluq, nirguna bagi kaum Wisnawa. Iswara bagi Yogi, Purusa bagi Kapila, Hartawan bagi Jambala. Wagindra dalam segala ilmu, Dewa Asmara di dalam cinta berahi. Dewa Yama di dalam menghilangkan penghalang dan menjamin damai dunia.
  3. Begitulah pujian pujangga penggubah sejarah, kepada Sri Nata Rajasanagara, Sri Nata Wilwatikta yang sedang memegang tampuk Negara bagai titisan Dewa-Bhatara beliau menyapu duka rakyat semua. Tunduk setia segenap bumi Jawa, bahkan malah seluruh Nusantara.
  4. Tahun Saka masa memanah surya (1256) beliau lahir untuk jadi narpati. Selama dalam kandungan di Kahuripan, telah tampak tanda keluhuran Gempa bumi, kepul asap, hujan abu, guruh halilintar menyambar-nyambar. Gunung meletus, gemuruh membunuh durjana, penjahat musnah dari Negara.
  5. Itulah tanda bahwa Bhatara Girinata menjelma bagai raja besar terbukti selama bertahta, seluruh Jawa tunduk menadah perintah. Wipra, ksatria, waisya, sudra, keempat kasta sempurna dalam pengabdian. Durjana berhenti berbuat jahat, takut akan keberanian Sri Nata.

Pupuh 2

  1. Sang Sri Rajapatni yang ternama adalah nenekanda Sri Baginda. Seperti titisan Parama Bagawati memayungi jagat raya. Selaku Wikuni tua tekun berlatih yoga menyembah Budha. Tahun Saka dresti saptaruna (1272) kembali beliau ke Budhaloka.
  2. Ketika Sri Rajapatni pulang ke Jinapada, dunia berkabung. Kembali girang bersembah bakti semenjak Baginda mendaki tahta. Bagai rani di Jiwana resmi mewakili Sri Narendra-putera.

Pupuh 3

  1. Beliau bersembah bakti kepada ibunda Sri Rajapatni. Setia mengikuti ajaran Budha, menyekar yang telah mangkat. Ayahanda Baginda raja ialah Sri Kertawardana raja. Keduanya teguh beriman Budha demi perdamaian praja.
  2. Ayahnya Sri Baginda raja bersemayam di Singasari. Bagai Ratnasambawa menambah kesejahteraan bersama. Teguh tawakal memajukan kemakmuran rakyat dan Negara. Mahir mengemudikan perdata, bijak dalam segala kerja.

Pupuh 4

  1. Puteri Rajadewi Maharajasa, ternama rupawan. Bertahta di Daha, cantik tak bertara, bersandar nam guna. Adalah bibi Baginda, adik maharani di Jiwana. Rani Daha dan Rani Jiwana bagai bidadari kembar.
  2. Laki sang rani Sri Wijayarajasa dari negeri Wengker. Rupawan bagai titisan Upendra, masyhur bagai sarjana. Setara raja Singasari, sama teguh di dalam agama. Sangat masyuhrlah nama beliau di seluruh tanah Jawa.

Pupuh 5

  1. Adinda Baginda raja di Wilwatikta. Puteri jelita, bersemayam di Lasem. Puteri jelita Daha, cantik ternama. Indudewi puteri Wijayarajasa.
  2. Dan lagi puteri bungsu Kertawardana. Bertahta di Pajang, cantik tak bertara. Puteri Sri Narapati Jiwana yang termasyhur. Terkenal sebagai adinda Sri Baginda.

Pupuh 6

  1. Telah dinobatkan sebagai raja tepat menurut rencana. Laki tangkas rani Lasem bagai raja daerah Matahun. Bergelar Rajasawardana sangat bagus lagi putus dalam naya. Raja dan rani terpuji laksana Asmara dengan Pinggala.
  2. Sri Singawardana, rupawan, bagus, muda, sopan dan perwira. Bergelar raja Paguhan, beliaulah suami rani Pajang. Mulia perkawinannya laksana Sanatkumara dan Dewi Ida. Bakti kepada raja, cinta sesama, membuat puas rakyat.
  3. Bhre Lasem menurunkan puteri jelita Nagarawardani. Bersemayam sebagai permaisuri pangeran di Wirabumi. Raja Pajang menurunkan Bhre Mataram Sri Wikramawardhana. Bagai titisan Hyang Kumara, wakil utama Sri Narendra.
  4. Puteri bungsu rani Pajang memerintah daerah Pawanuhan. Berjuluk Surawardani masih muda indah laksana gambar. Para raja Pulau Jawa masing-masing mempunyai Negara. Dan Wilwatikta tempat mereka bersama-sama menghamba Sri Nata.

Pupuh 7

  1. Melambung kidung merdu pujian sang prabu, beliau membunuh musuh-musuh. Bagai matahari menghembus kabut, menghimpun Negara di dalam kuasa. Girang najma utama bagai bunga tunjung, musnah durjana kumuda. Dari semua desa di wilayah Negara pajak mengalir bagai air.
  2. Raja menghapus duka si murba sebagai Satamanyu menghujani bumi. Menghukum penjahat bagai Dewa Yama, menimbun harta bagai Waruna. Para telik menembus segala tempat laksana Hyang Bhatara Bayu. Menjaga pura sebagai Dewi Pertiwi, rupanya bagus seperti bulan.
  3. Seolah-olah Sang Hyang Kama menjelma, tertarik oleh keindahan pura. Semua para puteri dan isteri sibiran dahi Sri Ratih. Namun sang permaisuri keturunan Wijayarajasa, tetap paling cantik. Paling jelita bagaikan Susumna, memang pantas jadi imbangan baginda.
  4. Berputeralah beliau puteri mahkota Kusumawardhani, sangat cantik. Sangat rupawan jelita mata, lengkung lampai, bersemayam di Kabalan. Sang menantu Sri Wikramawardana memegang perdata seluruh Negara. Sebagai dewa-dewi mereka bertemu tangan, menggirangkan pandang.

Pupuh 8

  1. Tersebut keajaiban kota: tembok bata merah, tebal tinggi, mengitari pura. Pintu barat bernama Pura Waktra, menghadap ke lapangan luas, bersabuk parit. Pohon brahmastana berkaki bodi, berjajar panjang, rapi berbentuk aneka ragam. Di situlah tempat tunggu para tanda terus menerus meronda jaga paseban.
  2. Di sebelah utara, bertegak gapura permai dengan pintu besi penuh berukir. Di sebelah timur, panggung luhur, lantainya berlapis batu, putih-putih mengkilat. Di bagian utara, disebelah pecan, rumah berjejal jauh memanjang sangat indah. Di selatan jalan perempatan, balai prajurit tempat pertemuan tiap caitra.
  3. Balai agung Manguntur dengan balai Witana di tengah menghadap padang watangan. Yang meluas ke empat arah: bagian utara, paseban pujangga dan menteri. Bagian timur, paseban pendeta Siwa-Budha, yang bertugas membahas upacara. Pada masa gerhana bulan Palguna demi keselamatan seluruh dunia.
  4. Di sebelah timur, pahoman berkelompok tiga-tiga mengitari kuil siwa. Di selatan, tempat tinggal wipra utama, tinggi bertingkat menghadap panggung korban. Bertegak di halaman sebelah barat; di utara, tempat Budha bersusun tiga. Puncaknya penuh berukir; berhamburan bunga waktu raja turun berkorban.
  5. Di dalam, sebelah selatan Manguntur tersekat dengan pintu, itulah paseban. Rumah bagus berjajar mengapit jalan ke barat, di sela tanjung berbunga lebat. Agak jauh di sebelah barat daya: panggung tempat berkeliaran para perwira. Tepat ditengah-tengah halaman, bertegak mandapa penuh burung ramai berkicau.
  6. Di dalam, di selatan ada lagi paseban memanjang ke pintu keluar pura yang kedua. Dibuat bertingkat-tangga, tersekat-sekat, masing-masing berpintu sendiri. Semua balai bertulang kuat bertiang kokoh, papan rusuknya tiada tercela. Para prajurit silih berganti, bergilir menjaga pintu, sambil bertukar tutur.

Pupuh 9

  1. Inilah para penghadap: pengalasan Ngaran, jumlahnya tak terbilang. Nyu Gading Janggala-Kediri, Panglarang, Rajadewi, tanpa upama Waisangka Kapanewon Sinelir, para perwira Jayengprang Jayagung. Dan utusan Pareyok Kayu Apu, orang Gajahan, dan banyak lagi.
  2. Begini keindahan lapang watangan luas bagaikan tak terbatas. Menteri, bangsawan, pembantu raja di Jawa, di deret paling muka. Bhayangkari tingkat tinggi berjejal menyusul di deret yang kedua.
  3. Di bagian barat, beberapa balai memanjang sampai mercudesa. Penuh sesak pegawai dan pembantu serta para perwira penjaga. Di bagian selatan agak jauh, beberapa ruang, mandapa dan balai. Tempat tinggal abdi Sri Narapati Paguhan, bertugas menghadap.
  4. Masuk pintu kedua, terbentang halaman istana berseri-seri. Rata dan luas, dengan rumah indah berisi kursi-kursi berhias. Di sebelah timur, menjulang rumah tinggi berhias lambing kerajaan. Itulah balai tempat terima tatamu Sri Nata di Wilwatikta.

Pupuh 10

  1. Inilah pembesar yang sering menghadap dibalai Witana. Wreda menteri, tanda menteri pasangguhan dengan pengiring. Sang Panca Wilwatikta: mapatih, demung, kanaruhan, rangga, tumenggung, lima priyayi agung yang akrab dengan istana.
  2. Semua patih, demung Negara bawahan dan pengalasan.  Semua pembesar daerah yang berhati tetap dan teguh. Jika datang, berkumpul di kepatihan seluruh Negara. Lima menteri utama, yang mengawal urusan Negara.
  3. Ksatria, pendeta, pujangga, para wipra, jika menghadap. Berdiri di bawah lindungan asoka di sisi Witana. Begitu juga dua dharmadyaksa dan tujuh pembantunya. Bergelar arya, tangkas tingkahnya, pantas menjadi teladan.

Pupuh 11

  1. Itulah penghadap balai Witana, tempat tahta, yang berhias serba bergas. Pantangan masuk ke dalam istana timur, agak jauh dari pintu pertama. Ke istana Selatan, tempat Singawardhana, permaisuri putra dan putrinya. Ke istana utara, tempat Kertawardana. Ketiganya bagai kahyangan.
  2. Semua rumah bertiang kuat, berukir indah, dibuat berwarna-warni. Kainya dari bata merah pating berunjul, bergambar aneka lukisan. Genting atapnya bersemarak serba meresapkan pandang, menarik perhatian. Bunga tanjung, kesara, campaka, dan lain-lainnya terpencar di halaman.

Pupuh 12

  1. Teratur rapi semua perumahan sepanjang tepi benteng. Timur tempat tinggal pemuka pendeta Siwa Hyang Brahmaraja. Selatan Budha-sangga dengan Rangkanadi sebagai pemuka. Barat tempat para arya, menteri dan sanak kadang adiraja.
  2. Di timur, tersekat lapangan, menjulang istana ajaib. Raja Wengker dan rani Daha penaka Indra dan Dewi Saci. Berdekatan dengan istana raja Matahun dan rani Lasem. Tak jauh di sebelah selatan raja Wilwatikta.
  3. Di sebelah utara pasar: rumah besar bagus lagi tinggi. Di situ menetap patih Daha, adinda baginda di Wengker. Bhatara Narapati, termasyhur sebagai tulang punggung praja. Cinta taat kepada raja, perwira, sangat tangkas dan bijak.
  4. Di timur laut, rumah patih Wilwatikta, bernama Gajah Mada. Menteri wira, bijaksana, serta bakti kepada Negara. Fasih bicara, teguh tangkas, tenang cerdas, cerdik lagi jujur. Tangan kanan maharaja sebagai penggerak roda Negara.
  5. Sebelah selatan puri, gedung kejaksaan tinggi bagus. Sebelah timur perumahan Siwa, sebelah barat Budha. Terlangkahi rumah para menteri, para arya dan ksatria. Perbedaan ragam pelbagai rumah menambah indahnya pura.
  6. Semua rumah memancarkan sinar warnanya gilang-cemerlang. Menandingi bulan dan matahari, indah tanpa umpama. Negara-negara di Nusantara dengan Daha bagai pemuka. Tunduk menengadah, berlindung di bawah kuasa Wilwatikta.

Pupuh 13

  1. Terperinci pulau Negara bawahan, paling dulu M’layu, Jambi, Palembang, Toba dan Darmasraya pun ikut juga disebut Daerah Kandis, Kahwas, Minangkabau, Siak, Rokan, Kampar dan Pane.
  2. Lwas dengan Samudra serta Lamuri, Batan, Lampung dan juga Barus. Itulah terutama Negara-negara melayu yang telah tunduk. Negara-negara di Pulau Tanjungnegara; Kapuas-Katingan, Sampit, Kota Lingga, Kota Waringin, Sambas, Lawai ikut tersebut

Pupuh 14

  1.  Kandandangan, Landa, Samadang dan Tirem tak terlupakan. Sedu, Barune (ng), Kalka, Saludung, Solor dan juga Pasir. Barito, Sawaku, Tabalung, ikut juga Tanjung Kutei. Malano tetap yang terpenting di pulau Tanjungpura.
  2. Di Hujung Medini Pahang yang disebut paling dahulu. Berikut Langkasuka, Saimwang, Kelantan, serta Trengganu Johor, Paka, Muar, Dungun, Tumasik, Kelang serta Kedah. Jerai, Kanjapiniran, semua sudah lama terhimpun.
  3. Disebelah timur Jawa, seperti yang berikut: Bali dengan Negara yang penting Badahulu dan Lo Gajah. Gurun serta Sukun, Taliwang, Pulau Sapi, dan Dompo. Sang Hyang Api, Bima, Seran, Hutan Kendali sekaligus.
  4. Pulau Gurun, yang juga biasa disebut Lombok Merah. Dengan daerah makmur Sasak diperintah seluruhnya. Bantalayan di wilayah Bantayan beserta Kota Luwuk. Sampai Udamaktraya dan pulau lain-lainnya tunduk
  5. Tersebut pula pulau-pulau Makasar, Buton, Bangawi Kunir, Galian, serta Salayar, Sumba, Solot, Muar. Lagi pula, Wanda (n), Ambon atau pulau Maluku, Wanin, Seran, Timor, dan beberapa lagi pulau-pulau lain.

Pupuh 15

  1. Inilah nama Negara asing yang mempunyai hubungan. Siam dengan Ayudyapura, begitu pun Darmanagari Marutma, Rajapura, begitu juga Singanagari. Campa, Kamboja, dan Yawana ialah Negara sahabat.
  2. Tentang pulau Madura, tidak dipandang Negara asing. Karena sejak dahulu dengan Jawa menjadi satu. Konon tahun Saka lautan menantang bumi, itu saat Jawa dan Madura terpisah meskipun tidak sangat jauh.
  3. Semenjak Nusantara menadah perintah Sri Baginda. Tiap musim tertentu mempersembahkan pajak upeti. Terdorong keinginan akan menambah kebahagiaan. Pujangga dan pegawai diperintah menarik upeti

Pupuh 16

  1. Pujangga-pujangga yang lama berkunjung di Nusantara. Dilarang mengabaikan urusan Negara, mengejar untung. Seyogianya, jika mengemban perintah ke mana juga. Menegakkan agama Siwa, menolak ajaran sesat
  2. Konon, kabarnya, para penderita penganut Sang Sugata. Dalam perjalanan mengemban perintah Baginda Nata. Dilarang menginjak tanah sebelah barat Pulau Jawa. Karena penghuninya bukan penganut ajaran Budha.
  3. Tanah sebelah timur Jawa terutama Gurun, Bali boleh dijelajah tanpa ada yang dikecualikan. Bahkan, menurut kabaran mahamuni Empu Barada serta raja pendeta Kuturan telah bersumpah teguh
  4. Para pendeta yang mendapat perintah untuk bekerja. Dikirim ke timur ke barat; dimana mereka sempat. Melakukan persajian seperti perintah Sri Nata. Resap terpandang mata jika mereka sedang mengajar
  5. Semua Negara yang tunduk setia menganut perintah. Dijaga dan dilindungi Sri Nata dari Pulau Jawa. Tapi, yang membangkang, melanggar perintah, dibinasakan pimpinan angkatan laut, yang telah masyhur lagi berjasa

Pupuh 17

  1. Telah tegak teguh kuasa Sri Nata di Jawa dan wilayah Nusantara. Di Sripalatikta tempat beliau bersemayam, menggerakkan roda dunia. Tersebar luas nama beliau, semua penduduk puas, girang dan lega. Wipra, pujangga dan semua penguasa ikut menumpang menjadi masyhur
  2. Sungguh besar kuasa dan jasa beliau, raja agung dan raja utama. Lepas dari segala duka, mengenyam hidup penuh segala kenikmatan. Terpilih semua gadis manis di seluruh wilayah Janggala Kediri. Berkumpul di istana bersama yang terampas dari Negara tetangga.
  3. Segenap tanah Jawa bagaikan satu kota di bawah kuasa Baginda. Ribuan orang berkunjung laksana bilangan tentara yang mengepung pura. Semua pulau laksana daerah pedusunan tempat menimbun bahan makanan. Gunung dan rimba hutan penaka taman hiburan terlintas tak berbahaya
  4. Tiap bulan sehabis musim hujan beliau biasa pesiar keliling Desa Sima di sebelah selatan Jalagiri, di sebelah timur pura. Ramai tak ada hentinya selama pertemuan dan upacara prasetyan. Girang melancong mengunjungi Wewe Pikatan setempat dengan candi lima
  5. Atau pergilah beliau bersembah bakti kehadapan Hyang Acalapati. Biasanya terus menuju Blitar, Jinur, mengunjungi gunung-gunung permai. Di Daha terutama ke Polaman, ke Kuwu, dan Lingga hingga Desa Bangin. Jika sampai di Jenggala, singgah di Surabaya, terus menuju Buwun.
  6. Tahun Aksatisura (1275), Sang Prabu menuju Pajang membawa banyak pengiring. Tahun Saka angga-naga-aryama (1276), ke Lasem, melintasi pantai samudra. Tahun Saka pintu-gunung-mendengar-indu (1279), ke laut selatan menembus hutan. Lega menikmati pemandangan alam indah Lodaya, Tetu, dan Sideman.
  7. Tahun Saka seekor-naga-menelan bulan (1281), di Badrapada bulan tambah Sri Nata pesiar keliling seluruh Negara menuju Kota Lumajang naik kereta diiringi semua raja Jawa serta permaisuri dan abdi, menteri, tanda, pendeta, pujangga, semua para pembesar ikut serta.
  8. Juga yang menyamar Prapanca girang turut serta mengiring paduka Maharaja. Tak tersangkal girang sang kawi, putera pujangga, juga pencinta kakawin. Dipilih Sri Baginda sebagai pembesar kebudhaan mengganti sang ayah. Semua pendeta Budha umerak membicarakan tingkah lakunya dulu.
  9. Tingkah sang kawi waktu muda menghadap raja, berkata berdampingan, tak lain. Maksudnya mengambil hati, agar disuruh ikut beliau ke mana juga. Namun, belum mampu menikmati alam, membinanya, mengolah, dan menggubah karya kakawin; begitu warna desa sepanjang marga terkarang berturut.
  10. Mula-mula melalui Japan dengan asrama dan candi-candi ruk rebah. Sebelah timur Tebu, hutan Pandawa, Duluwang, Bebala di dekat Kanci, Ratnapangkaja serta Kuti Haji Pangkala memanjang bersambung-sambungan. Mandala Panjrak, Pongging serta Jingan, Kuwu Hanyar letaknya di tepi jalan.
  11. Habis berkunjung pada candi makam Pancasara, menginap di Kapulungan. Selanjutnya, sang kawi bermalam di Waru, di Hering, tidak jauh dari pantai. Yang mengikuti ketetapan hukum jadi milik kepala asrama Saraya. Tetapi masih tetap di tangan lain, rindu termenung-menunggu

Pupuh 18

  1. Seberangkat Sri Nata dari Kapulungan, berdesak abdi berarak. Sepanjang jalan penuh kereta, penumpangnya duduk berimpit-impitan. Pedati di muka dan di belakang, di tengah prajurit berjalan kaki. Berdesak-desakan, berebut jalan dengan binatang gajah dan kuda.
  2. Tak terhingga jumlah kereta, tapi berbeda-beda tanda cirinya. Meleret berkelompok-kelompok, karena tiap menteri lain lambangnya. Rakrian sang menteri patih amangkubumi penatang kerajaan keretanya beberapa ratus berkelompok dengan aneka tanda.
  3. Segala kereta Sri Nata Pajang semua bergambar matahari. Semua kereta Sri Nata Lasem bergambar cemerlang banteng putih. Kendaraan Sri Nata Daha bergambar Dahakusuma emas mengkilat.

Pupuh 19

  1. Paginya berangkat lagi menuju Baya, rehat tiga hari tiga malam. Dari Baya melalui Katang, Kedung Dawa, Rame, Menuju Lampes, Times. Serta biara pendeta di Pogara mengikuti jalan pasir lemak – lembut. Menuju daerah Beringin Tiga di Dadap, kereta masih terus lari.
  2. Tersebut dukuh Kasogatan Madakaripura dengan pemandangan indah. Tanahnya anugerah Sri Baginda kepada Gadjah Mada, teratur indah. Disitulah Baginda menempati pasanggrahan yang terhias sangat bergas. Sementara mengunjungi mata air, dengan ramah melakukan mandibakti.

Pupuh 20

  1. Sampai di desa Kasogatan, Baginda dijamu makan minum Pelbagai penduduk Gapuk, Sada, Wisisaya, Isanabajra, Ganten, Poh, Capahan, Kalampitan, Lambang, Kuran, Pancar We Petang. Yang letaknya di lingkungan biara, semua datang menghadap.
  2. Begitu pula Desa Tunggilis, Pabayeman ikut berkumpul termasuk Ratnapangkaja di Carcan, berupa desa perdikan. Itulah empat belas desa kasogatan yang ber-akuwu Sejak dahulu, delapan saja yang menghasilkan bahan makanan.

Pupuh 21

  1. Fajar menyingsing: berangkat lagi Baginda melalui Lo Pandak, Ranu Kuning, Balerah, Bare-bare, Dawohan, Kapayeman, Telpak, Baremi, Sapang, serta Kasaduran. Kereta berjalan cepat-cepat menuju Pawijungan.
  2. Menuruni Lurah, melintasi sawah, lari menuju Jaladipa, Talapika, Padali, Ambon dan Panggulan. Langsung ke Payaman, Tepasana ke arah Kota Rembang. Sampai di kemirahan yang letakknya di pantai lautan.

Pupuh 22

  1. Di Dampar dan Patunjungan, Sri Baginda bercengkrama menyisir tepi lautan. Ke jurusan timur turut pesisir darat, lembut limbur di lintas kereta. Berhenti beliau di tepi danau penuh teratai, tunjung sedang berbunga. Asyik memandang udang berenang dalam air tenang memperlihatkan dasarnya.
  2. Terlangkahi keindahan air telaga yang lambai melambai dengan lautan. Danau ditinggalkan menuju Wedi dan Guntur tersembunyi di tepi jalan. Kasogatan Bajraka termasuk wilayah Taladwaja sejak dulu kala. Seperti juga Patunjungan, akibat perang, belum kembali ke asrama.
  3. Terlintas tempat tersebut, ke timur mengikuti hutan sepanjang tepi lautan. Berhenti di Palumbon, berangkat setelah surya laut. Menyeberangi sungai Rabutlawang yang kebetulan airnya sedang surut. Menuruni lurah Balater menuju pantai lautan, lalu bermalam lagi.
  4. Pada waktu fajar menyingsing, menuju Kunir Basini, di Sadeng bermalam. Malam berganti malam Baginda pesiar menikmati alam Sarampuan. Sepeninggalnya beliau menjelang Kota Bacok bersenang-senang di pantai. Heran memandang karang tersiram riak gelombang berpancar seperti hutan.
  5.  Tapi sang rakawi tidak ikut berkunjung di Bacok, pergi menyidat jalan. Dari Sadeng ke utara menjelang Balung, terus menuju Tumbu dan Habet. Galagah, Tampaling, beristirahatlah di Renes seraya menanti Baginda. Segera berjumpa lagi dalam perjalanan ke Jayakreta – Wanagriya.

Pupuh 23

  1. Melalui Doni Bontong, Puruhan, Bacek, Pakisaji, Padangan terus ke Secang. Terlintas Jati Gumelar, Silabango. Ke utara ke Dewa Rame dan Dukun.
  2. Lalu berangkat ke Pakembangan. Di situ bermalam; segera berangkat. Sampailah beliau ke ujung lurah Daya. Yang segera dituruni sampai jurang.

Pupuh 24

  1. Terlalu lancer lari kereta melintasi Palayangan dan Bengkong, dua desa tanpa cerita, terus menuju Sarana, mereka yang merasa lelah ingin berehat. Lainnya bergegas berebut jalan menuju Surabasa.
  2. Terpalang matahari terbenam berhenti di padang lalang. Senja pun turun, sapi lelah dilepas dari pasangan. Perjalanan membelok ke utara melintasi Turayan. Beramai-ramai lekas-lekas ingin mencapai Patukangan.

Pupuh 25

  1. Panjang lamun dikisahkan kelakuan para menteri dan abdi. Beramai-ramai Baginda telah sampai di Desa Patukangan. Di tepi laut lebar tenang rata terbentang di barat Talakrep. Sebelah utara pakuwuan pesanggrahan Baginda Nata.
  2. Semua menteri mancanagara hadir di Pakuwuan. Juga Jaksa Pasungguhan Sang Wangsadiraja ikut menghadap. Para Upapati yang tanpa cela, para pembesar agama. Panji siwa dan Panji budha, faham hukum dan putus sastra.

 

Pupuh 26

  1. Sang Adipati Suradikara memimpin upacara sambutan. Diikuti segenap penduduk daerah wilayah Patukangan. Menyampaikan persembahan, girang bergilir dianugerahi kain. Girang rakyat girang raja, Pakuwuan berlimpah kegirangan.

Pupuh 27

  1. Untuk mengurangi sumuk akibat teriknya matahari. Baginda mendekati permaisuri seperti dewa dewi. Para puteri laksana apsari  turun dari kahyangan. Hilangnya keganjlan berganti pandang penuh heran cengang.
  2. Berbagai-bagai permainan diadakan demi kesukaan. Berbuat segala apa yang membuat gembira penduduk. Menari topeng, bergumul, bergulat, membuat orang kagum. Sungguh beliau dewa menjelma, sedang mengedari dunia.

Pupuh 28

  1. Selama kunjungan di Desa Patukangan. Para menteri dari Bali dan Madura. Dari Balumbung, kepercayaan Baginda. Menteri seluruh Jawa Timur berkumpul.
  2. Persembahan bulu bekti bertumpah limpah. Babi, gudel, kerbau, sapi, ayam dan anjing. Bahan kain yang diterima bertumpuk timbun. Para penonton tercengang-cengang memandang.
  3. Tersebut keesokan hari pagi-pagi. Baginda keluar di tengah-tengah rakyat. Diiringi para kawi serta pujangga. Menabur harta, membuat gembira rakyat.

Pupuh 29

  1. Hanya pujangga yang menyamar Prapanca sedih tanpa upama. Berkabung kehilangan kawan kawi-Budha Panji Kertajaya. Teman bersuka ria, teman karib dalam upacara gama. Beliau dipanggil pulang, sedang mulai menggubah karya megah.
  2. Kusangka tetap sehat, sanggup mengantar aku ke mana juga. Beliau tahu tempat-tempat mana yang layak pantas dilihat. Rupanya sang pujangga ingin mewariskan karya megah indah. Namun mangkatlah beliau, ketika aku tiba, tak terduga.
  3. Itulah lantarannya aku turut berangkat ke Desa Keta. Melewati Tal tunggal, Halalang-panjang, Pacaran dari Bungatan. Sampai Toya Rungun, Walanding, terus Terapas, lalu bermalam. Paginya berangkat ke Lemah Abang, segera tiba di Keta.

Pupuh 30

  1. Tersebutlah perjalanan Sri Narapati kea rah barat. Segera sampai Keta dan tinggal disana lima hari. Girang beliau melihat lautan, memandang balai kambang. Tidak lupa menghirup kesenangan lain hingga puas.
  2. Atas perintah sang arya semua menteri menghadap. Wiraprana bagai kepala, upapati Siwa-Budha. Mengalir rakyat yang datang sukarela tanpa diundang. Membawa bahan santapan, girang menerima balasan.

Pupuh 31

  1. Keta telah ditinggalkan. Jumlah pengiring makin bertambah. Melintasi Banyu Hening, perjalanan sampai Sampora. Terus ke Daleman menuju Wawaru, Gerbang, Krebilan. Sampai di Kalayu Baginda berhenti ingin menyekar.
  2. Kalayu adalah nama desa perdikan kasogatan. Tempat candi makam sanak kadang Baginda raja. Penyekaran di makam dilakukan dengan sangat hormat. “Memegat Sigi” nama upacara penyekaran itu.
  3. Upacara berlangsung menepati segenap aturan. Mulai dengan jamuan makan meriah tanpa upama. Para patih mengarak Sri Baginda menuju paseban. Genderang dan kendang bergetar mengikuti gerak tandak.
  4. Habis penyekaran raja menghirup segala kesukaan. Mengunjungi desa-desa disekitarnya genap lengkap. Beberapa malam lamanya berlomba dalam kesukaan. Memeluk wanita cantik dan meriba gadis remaja.
  5. Kalayu ditinggalkan, perjalanan menuju Kutugan. Melalui Kebon Agung, menuju Kambangrawi, bermalam. Tanah anugerah Sri Nata kepada Tumenggung Nala. Candinya Budha menjulang tinggi, sangat elok bentuknya.
  6. Perjamuan Tumenggung Nala jauh dari cela. Tidak diuraikan betapa lahap Baginda Nala bersantap. Paginya berangkat lagi ke Halses, B’rurang. Patunjungan. Terus langsung melintasi Patentanan, Tarub dan Lesan.

Pupuh 32

  1. Segera Sri Baginda sampai di Pajarakan, di sana bermalam empat hari. Di tanah lapang sebelah candi Budha beliau memasang tenda. Dipimpin Arya Sujanottama para menteri dan pendeta datang menghadap. Menghaturkan pacitan dan santapan, girang menerima anugerah uang.
  2. Berangkat dari situ Sri Baginda menuju asrama di rimba Sagara. Mendaki bukit-bukit ke arah selatan dan melintasi terusan Buluh. Melalui wilayah Gede, sebentar lagi sampai di asrama sagara. Letaknya gaib ajaib di tengah-tengah hutan membangkitkan rasa kagum rindu.
  3. Sang pujangga Prapanca yang memang senang bermenung tidak selalu menghadap. Girang melancong ke taman melepaskan lelah melupakan segala duka. Rela melalaikan paseban mengabaikan tata tertib para pendeta. Memburu nafsu menjelajah rumah berbanjar-banjar dalam deretan berjajar.
  4. Tiba di taman bertingkat, di tepi pesanggrahan tempat bunga tumbuh lebat. Suka cita Prapanca membaca cacahan (pahatan) dengan slokanya di dalam cita. Di atas atap terpahat ucapan sloka yang disertai nama. Pancaksara pada penghabisan tempat terpahat samar-samar, menggirangkan.
  5. Pemandiannya penuh lukisan dongengan berpagar batu gosok tinggi. Berhamburan bunga nagakusuma di halaman yang dilingkupi selokan. Andung, karawita, kayu mas, menur serta kayu puring dan lain-lainnya. Kelapa gading kuning rendah, menguntai di sudut mengharu rindu pandangan.
  6. Tiada sampailah kata merah keindahan asrama yang gaib dan ajaib. Beratapkan hijuk, dari dalam dan luar berkesan kerasnya tata tertib. Semua para pertapa, wanita dan pria, tua-muda, nampaknya bijak. Luput dari cela dan klesa, seolah-olah Siwapada di atas dunia.

Pupuh 33

  1. Habis berkeliling asrama, Baginda lalu dijamu. Para pendeta pertapa yang ucapannya sedap resap. Segala santapan yang tersedia dalam pertapaan. Baginda membalas harta, membuat mereka gembira.
  2. Dalam pertukaran kata tentang arti kependetaan. Mereka mencurahkan isi hati, tiada tertahan. Akhirnya cengkerama ke taman penuh dengan kesukaan. Kegirang-girangan para pendeta tercengang memandang.
  3. Habis kesukaan memberi isyarat akan berangkat. Pandang sayang yang ditinggal mengikuti langkah yang pergi. Bahkan yang masih remaja puteri sengaja merenung. Batinnya: dewa asmara turun untuk datang menggoda.

Pupuh 34

  1. Baginda berangkat, asrama tinggal berkabung. Bambu menutup mata, sedih melepas selubung. Sirih menangis merintih, ayam roga menjerit. Tiung mengeluh sedih, menitikkan air matanya.
  2. Kereta lari cepat, karena jalan menurun. Melintasi rumah dan sawah ditepi jalan. Segera sampai Arya, menginap satu malam. Paginya ke utara menuju Desa Gading.
  3. Para menteri mancanegara dikepalai Singadikara, serta pendeta Siwa-Budha. Membawa santapan sedap dengan upacara. Gembira dibalas Baginda dengan emas dan kain.
  4. Agak lama berhenti seraya istirahat. Mengunjungi para penduduk segenap desa. Kemudian menuju Sungai Gawe, Sumanding, Borang, Banger, Baremi lalu lurus ke barat.

Pupuh 35

  1. Sampai Pasuruan menyimpang jalan ke selatan menuju Kepanjangan. Menganut jalan raya, kereta lari beriring-iring ke Andoh Wawang. Ke Kedung Peluk dan Ke Hambal, desa penghabisan dalam ingatan. Segera Baginda menuju Kota Singasari bermalam dib alai kota.
  2. Prapanca tinggal disebelah barat Pasuruan ingin terus melancong. Menuju Indarbaru yang letaknya di daerah Desa Hujung. Berkunjung di rumah pengawasnya, menanyakan perkara tanah asrama. Lempengan piagam pengukuh diperlihatkan, jelas setelah dibaca.
  3. Isi piagam: tanah datar serta lembah dan gunungnya milik wihara. Begitu pula dengan Markaman, lading balunghura, sawah hujung. Isi piagam membujuk sang pujangga untuk tinggal jauh dari pura. Bila telah habis kerja di Putusingin, ia menyingkir ke Indarbaru.
  4. Sebabnya terburu-buru berangkat setelah dijamu bapa asrama. Karena ingat akan giliran menghadap di balai Singasari. Habis menyekar di candi makam, Baginda mengumbar nafsu kesukaan. Menghirup sari pemandangan di Kedung Biru, Kasurangganan dan Bureng.

Pupuh 36

  1. Pada Subakala, Baginda berangkat ke selatan menuju Kagenengan. Akan berbakti kepada makam Bhatara bersama segala pengiringnya. Harta, perlengkapan, makanan, dan bunga mengikuti jalannya kendaraan. Didahului kibaran bendera, disambut sorak sorai dari penonton.
  2. Habis penyekaran, narapati keluar, dikerumuni segenap rakyat. Pendeta Siwa-Budha dan para bangsawan berderet leret di sisi beliau. Tidak diceritakan betapa lahab Baginda bersantap sampai puas. Segenap rakyat girang menerima anugerah bahan pakaian yang indah.

Pupuh 37

  1. Tersebutlah keindahan candi makam, bentuknya tiada bertara. Pintu masuk terlalu lebar lagi tinggi, bersabuk dari luar di dalam, terbentang halaman dengan rumah berderet di tepinya. Ditanami aneka ragam bunga, tanjung, nagasari ajaib.
  2. Menara lampai menjulang tinggi di tengah-tengah, terlalu indah. Seperti gunung Meru, dengan arca Bhatara Siwa di dalamnya. Karena Girinata putera disembah bagai Dewa Bhatara. Datu leluhur Sri Naranata yang disembah di seluruh dunia.
  3. Sebelah selatan candi makam ada candi sunyi terbengkalai. Tembok serta pintunya masih berdiri, berciri kasogatan. Lantai di dalam, hilang kakinya bagian barat, tinggal yang timur. Sangar dan pemujaan yang utuh, bertembok tinggi dari batu merah.
  4. Disebelah utara, tanah bekas kaki rumah sudahlah rata. Terpancar tanamannya nagapuspa serta salaga di halaman. Diluar gapura pabaktan luhur, tapi longsor tanahnya. Halaman luas tertutup rumput, jalannya penuh dengan lumut.
  5. Laksana perempuan sakit merana lukisannya lesu-pucat. Berhamburan daun cemara yang ditempuh angin, kusut bergelung. Kelapa gading melulur tapasnya, pinang letih lusuh merayu. Buluh gading melepas kainnya, layu merana tak ada hentinya.
  6. Sedih mata memandang, tak berdaya untuk menyembuhkannya. Kecuali menanti Hayam Wuruk sumber hidup segala makhluk. Beliau masyhur bagai raja utama, bijak memperbaiki jagat. Pengasih bagi yang menderita sedih, sungguh titisan Bhatara.
  7. Tersebut lagi, paginya Baginda berkunjung ke Candi Kidal. Sesudah menyembah Bhatara, larut hari berangkat ke Jajago. Habis menyembah arca Jina, beliau berangkat ke penginapan. Paginya menuju Singasari, belum lelah telah sampai Bureng.

Pupuh 38

  1. Keindahan Bureng: telaga bergumpal air jernih. Kebiru-biruan, ditengah: candi karang bermekala. Tepinya rumah berderet, penuh pelbagai ragam bunga. Tujuan para pelancong penyerap sari kesenangan.
  2. Terlewati keindahannya; berganti cerita narpati. Setelah reda terik matahari, melintas tegal tinggi. Rumputnya tebal rata, hijau mengkilat, indah terpandang. Luas terlihat laksana lautan kecil berombak jurang.
  3. Seraya berkeliling kereta lari tergesa-gesa. Menuju Singasari, segera masuk ke pesanggrahan. Sang pujangga singgah di rumah pendeta Budha, sarjana pengawas candid an silsilah raja, pantas dikunjungi.
  4. Telah lanjut umurnya, jauh melintasi seribu bulan. Setia, sopan, darah luhur, keluarga raja dan masyhur. Meskipun sempurna dalam karya, jauh dari tingkah takabur. Terpuji pekerjaannya, pantas ditiru keinsyafannya.
  5. Tamu mendadak diterima dengan girang dan ditegur: “Wahai, orang bahagia, pujangga besar pengiring raja. Pelindung dan pengasih keluarga yang mengharap kasih. Jamuan apa yang layak bagi paduka dan tersedia?”
  6. Maksud kedatanganya: ingin tahu sejarah leluhur para raja yang dicandikan. Masih selalu dihadap. Ceritakanlah mulai dengan Bhatara Kagenengan. Ceritakan sejarahnya jadi putera Girinata.

Pupuh 39

  1. Paduka empuku menjawab: “Rakawi Maksud paduka sungguh merayu hati. Sungguh paduka pujangga lepas budi. Tak putus menambah ilmu, mahkota hidup”
  2. Izinkan saya akan segera mulai. Cita disucikan dengan air sendang tujuh. Terpuji Siwa! Terpuji Girinata! Semoga terhindar aral, waktu bertutur.
  3. Semoga rakawi bersifat pengampun. Diantara kata terselip salah. Harap percaya kepada orangtua. Kurang atau lebih janganlah dicela.

Pupuh 40

  1. Pada tahun Saka Lautan Dasa Bulan (1104) ada raja perwira yuda. Putera Girinata, konon kabarnya, lahir di dunia tanpa ibu. Semua orang tunduk, sujud menyembah kaki bagai tanda bakti. Rangga Rajasa nama beliau, penggempur musuh pahlawan bijak.
  2. Daerah luas sebelah timur Gunung Kawi terkenal subur makmur. Di situlah tempat putera sang Girinata menunaikan darmanya. Menggirangkan budiman, menyirnakan penjahat, meneguhkan Negara. Ibu Negara bernama Kutaraja, penduduknya sangat terganggu.
  3. Tahun Saka Lautan Dadu Siwa (1144) beliau melawan raja Kediri. Sang adiperwira Kretajaya, putus sastra serta tatwopadesa. Kalah ketakutan, melarikan diri ke dalam biara kecil. Semua pengawal dan perwira tentara yang tinggal, mati terbunuh.
  4. Setelah kalah narapati Kediri, Jawa di dalam ketakutan. Semua raja datang menyembah membawa tanda bakti hasil tanah. Bersatu Janggala Kediri dibawah kuasa satu raja sakti. Cikal bakal para raja agung yang akan memerintah Pulau Jawa.
  5. Makin bertambah besar kuasa dan megah putera sang Girinata. Terjamin keselamatan Pulau Jawa selama menyembah kakinya. Tahun Saka Muka Lautan Rudra (1149) beliau kembali ke Siwapada. Dicandikan di Kagenengan bagai Siwa, di Usaha bagai Budha.

Pupuh 41

  1. Bhatara Anusapati, putera Baginda, berganti dalam kekuasaan. Selama pemerintahannya, tanah Jawa kokoh sentosa, bersembah bakti. Tahun Saka Perhiasan Gunung Sambu (1170) beliau pulang ke Siwaloka. Cahaya beliau diwujudkan arca Siwa gemilang di candi makam Kidal.
  2. Bhatara Wisnuwardhana, putera Baginda, berganti dalam kekuasaan. Beserta Narasinga bagai Madawa dengan Indra memerintah serta segenap pengikutnya. Takut semua musuh kepada beliau, sungguh titisan Siwa di Bumi.
  3. Tahun Saka Rasa Gunung Bulan (1176) Bhatara Wisnu menobatkan puteranya. Segenap rakyat Kediri Janggala berduyun-duyun ke pura mangastubagia.
  4. Raja Kertanegara nama gelarannya, tetap demikian seterusnya. Daerah Kutaraja bertambah makmur, berganti nama Praja Singasari.
  5. Tahun Saka Awan Sembilan Mengebumikan Tanah (1192) raja Wisnu berpulang. Dicandikan di Waleri berlambang arca Siwa, di Jajago arca Budha. Sementara itu Bhatara Narasingamurti pun pulang ke Surapada. Dicandikan di Wengker, di Kumeper  diarcakan bagai Siwa Mahadewa.
  6. Tersebutlah Sri Baginda Kertanegara membinasakan perusuh penjahat. Bernama Cayaraja, musnah pada tahun Saka naga mengalahkan bulan (1192). Tahun Saka naga bermuka rupa (1197) Baginda menyuruh menundukkan Melayu. Berharap Melayu takut kedewaan beliau tunduk begitu sahaja.

Pupuh 42

  1. Tahun Saka janma suny surya (1202) Baginda raja memberantas penjahat Mahisa Rangga, karena jahat tingkahnya dibenci seluruh Negara. Tahun Saka badan langit surya (1206) mengirim utusan menghancurkan Bali. Setelah kalah rajanya menghadap Baginda sebagai seorang tawanan.
  2. Begitulah dari empat penjuru orang lari berlindung dibawah Baginda. Seluruh Pahang, segenap Melayu tunduk menekur dihadapan beliau. Seluruh Gurun, segenap Bakulapura lari mencari perlindungan. Sunda Madura tak perlu dikatakan, sebab sudah terang setanah Jawa.
  3. Jauh dari tingkah alpa dan congkak, Baginda waspada tawakal dan bijak. Faham akan segala seluk beluk pemerintahan sejak zaman Kali. Karenanya, tawakal dalam agama dan tapa untuk teguhnya ajaran Budha. Menganut jejak para leluhur demi keselamatan seluruh praja.

Pupuh 43

  1. Menurut kabaran sastra raja Pandawa memerintah sejak zaman Dwapara. Tahun saka lembu gunung indu tiga (3179) beliau pulang ke Budhaloka. Sepeninggalnya datang zaman kali, dunia murka, timbul huru-hara. Hanya Bhatara raja yang faham dalam nam guna, dapat menjaga jagat.
  2. Itulah sebabnya baginda teguh bakti menyembah kaki Sakyamuni. Teguh tawakal memegang pancasila, laku utama, upacara suci gelaran Jina beliau yang sangat masyhur ialah Sri Jnyanabadreswara. Putus dalam filsafat, ilmu bahasa dan lain pengetahuan agama.
  3. Berlomba-lomba beliau menghirup sari segala ilmu kebatinan. Pertama tantra Subuti diselami, intinya masuk ke hati. Melakukan puja, yoga, samadi demi keselamatan seluruh praja. Menghindarkan tenung, mengindahkan anugerah kepada rakyat murba.
  4. Diantara para raja yang lampau tidak ada yang setara beliau. Faham akan nam guna, sastra, tatwopadesa, pengetahuan agama adil, teguh dan Jinabrata dan tawakal kepada laku utama. Itulah sebabnya beliau turun temurun menjadi raja pelindung.
  5. Tahun saka laut janma bangsawan yama (1214) Baginda pulang ke Jinalaya. Berkat pengetahuan beliau tentang upacara, ajaran agama, beliau diberi gelaran: Yang mulia bersemayam di alam Siwa-Budha. Di makam beliau bertegak arca Siwa-Budha terlampau indah permai.
  6. Di sagala ditegakkan pula arca Jina sangat bagus dan berkesan. Serta arca Ardanareswari bertunggal dengan Sri Bajradewi. Teman kerja dan tapa demi keselamatan dan kesuburan Negara. Hyang Wairocana-Locana bagai lambangnya pada arca tunggal, terkenal.

Pupuh 44

  1. Tatkala Sri Baginda Kertanagara pulang ke Budhabuana, merata takut, duka, huru hara, laksana zaman kali kembali. Raja bawahan bernama Jayakatwang, berwatak terlalu jahat berkhianat karena ingin berkuasa di wilayah Kediri.
  2. Tahun saka laut manusia (1144) itulah sirnanya raja Kertajaya. Atas perintah Siwaputera Jayasaba berganti jadi raja. Tahun saka delapan satu satu (1180) Sastrajaya raja Kediri. Tahun tiga Sembilan siwa raja (1193) Jayakatwang raja terakhir.
  3. Semua raja berbakti kepada cucu Girinata. Segenap pulau tunduk kepada kuasa Raja Kertanagara. Tetapi raja Kediri Jayakatwang membuta dan mendurhaka. Ternyata dunia tak baka akibat bahaya anak piara Kali.
  4. Berkat keulungan sastra dan keuletannya jadi raja sebentar saja. Lalu ditundukan putera Baginda; ketentraman kembali. Sang menantu Dyah Wijaya, itu gelarnya yang terkenal di dunia. Bersekutu dengan bangsa Tartar, menyerang melebut Jayakatwang.

Pupuh 45

  1. Sepeninggal Jayakatwang jagat gilang cemerlang kembali. Tahun saka masa rupa surya (1216) beliau menjadi raja. Disembah di Majapahit, kesayangan rakyat, pelebur musuh bergelar Sri Narapati Kretarajasa Jayawardana.
  2. Selama Kretarajasa Jayawardana duduk di tahta, seluruh Jawa bersatu padu, tunduk menengadah. Girang memandang pasangan Baginda empat jumlahnya. Puteri Kertanegara cantik-cantik bagai bidadari.

Pupuh 46

  1. Sang Prameswari Tribuwana yang sulung, luput dari cela. Lalu Prameswari Mahadewi, rupawan tak bertara. Prajnyaparamita Jayendra dewi, cantik manis menawan hati. Gayatri yang bungsu, paling terkasih digelari Rajapatni.
  2. Perkawinan beliau dalam kekeluargaan tingkat tiga. Karena Bhatara Wisnu dengan Bhatara Narasingamurti. Akrab tingkat pertama; Narasingamurti menurunkan Dyah Lembu Tal. Sang perwira yuda, dicandikan di Mireng dengan arca Budha.

Pupuh 47

  1. Dyah Lembu Tal itulah bapa Baginda Nata. Dalam hidup atut runtut sepakat sehati. Setitah raja diturut, menggirangkan pandang. Tingkah laku mereka semua meresapkan.
  2. Tersebut tahun saka tujuh orang dan surya (1217) Baginda menobatkan puteranya di Kediri. Perwira, bijak, pandai, putera Indreswari. Bergelar Sang Raja Putera Jayanagara.
  3. Tahun saka surya mengitari tiga bulan (1231) Sang orabu mangkat, ditanam di dalam pura Antahpura, begitu nama makam beliau. Dan di makam Simping ditegakkan arca Siwa.

Pupuh 48

  1. Beliau meninggalkan Jayanagara sebagai raja Wilwatikta. Dan dua orang puteri keturunan Rajapatni, terlalu cantik. Bagai Dewi Ratih kembar, mengalahkan rupa semua bidadari. Yang sulung jadi rani di Jiwana, yang bungsu jadi rani di Daha.
  2. Tersebut pada tahun saka mukti guna memaksa rupa (1238) bulan madu baginda Jayanagara berangkat ke Lumajang menyirnakan musuh. Kotanya Pajarakan dirusak, Nambi sekeluarga dibinasakan. Giris miris segenap jagat melihat keperwiraan Sri Baginda.
  3. Tahun saka bulatan memanah surya (1250) beliau berpulang. Segera dimakamkan di dalam pura berlambang arca Wisnuparama. Di sila petak dan Bubat ditegakkan arca Wisnu terlalu indah. Di sukalila terpahat arca Budha sebagai jelmaan Amogasidi.

Pupuh 49

  1. Tahun saka uma memanah dwi rupa (1256) Rani Jiwana Wijayatunggadewi bergilir mendaki tahta Wilwatikta didampingi raja putera Singasari.
  2. Atas perintah ibunda Rajapatni sumber bahagia dan pangkal kuasa. Beliau jadi pengemban dan pengawas raja muda, Sri Baginda Wilwatikta.
  3. Tahun Saka Api memanah ari (1253) Sirna musuh di sadeng, Keta diserang. Selama bertahta, semua terserah kepada menteri bijak, Mada namanya.
  4. Tahun saka panah musim mata pusat (1265) Raja Bali yang alpa dan rendah budi diperangi, gugur bersama balanya menjauh segala yang jahat, tenteram.
  5. Begitu ujar Dang Acarya Ratnamsah. Sungguh mengharukan ujar Sang Kaki. Jelas keunggulan Baginda di dunia. Dewa asalnya, titisan Girinata.
  6. Barangsiapa mendengar kisah raja, tak puas hatinya. Pasti takut melakukan tindak jahat, menjauhkan diri dari tindak durhaka.
  7. Paduka empu minta maaf berkata: “Hingga sekian kataku, sang rakawi. Semoga bertambah pengetahuanmu, Bagai buahnya gubahlah pujasastra”
  8. Habis jamuan rakawi dengan sopan minta diri kembali ke Singasari. Hari surut sampai pesanggrahan lagi. Paginya berangkat menghadap Baginda.

Pupuh 50

  1. Tersebut Baginda Raja berangkat berburu. Berlengkap dengan senjata, kuda dan kereta. Dengan bala ke hutan Nandawa, rimba belantara. Rungkut rimbun penuh gelagah rumput rampak.
  2. Bala bulat beredar membentuk lingkaran. Segera siap kereta berderet rapat. Hutan terkepung, terperanjat kera menjerit. Burung ribut beterbangan berebut dulu.
  3. Bergabung sorak orang berseru dan membakar. Gemuruh bagaikan deru lautan mendebur. Api tinggi menyala menjilat udara. Seperti waktu hutan Kandawa terbakar.
  4. Lihat rusa-rusa lari lupa daratan. Bingung berebut dahulu dalam rombongan. Takut miris menyebar, ingin lekas lari malah menengah berkumpul tumpuk timbun.
  5. Banyaknya bagai benteng di dalam Gobajra. Penuh sesak bagai lembu di Wresabapura. Celeng, banteng, rusa, kerbau, kelinci, biawak, kucing, kera, badak dan lainnya.
  6. Tertangkap segala binatang dalam hutan. Tak ada yang menentang, semua bersatu. Srigala gagah, yang bersikap tegak-teguh. Berunding dengan singa sebagai ketua.

Pupuh 51

  1. Izinkanlah saya bertanya kepada raja satwa. Sekarang raja merayah hutan, apa yang diperbuat? Menanti mati sambil berdiri ataukah kita lari Atau tak gentar serentak melawan, jikalau diserang?
  2. Seolah-olah demikian kata serigala dalam rapat. Kijang, kasuari, rusa dan kelinci serempak menjawab: “Hemat patik, tidak ada jalan lain kecuali lari. Lari mencari keselamatan diri sedapat mungkin.”
  3. Banteng, kerbau, lembu serta harimau serentak berkata: “Amboi! Celaka bang kijang, sungguh binatang hina lemah. Bukanlah sifat perwira lari atau menanti mati. Melawan dengan harapan menang, itulah kewajiban.”
  4. Jawab singa: “Usulmu berdua memang pantas diturut. Tapi harap dibedakan yang dihadapi baik atau buruk. Jika penjahat, terang kita lari atau kita lawan. Karena sia-sia belaka jika mati terbunuh olehnya.
  5. Jika kita menghadapi tripaksa, resi Siwa-Budha seyogyanya kita ikuti saja jejak sang pendeta. Jika menghadapi raja terburu, tunggu mati saja. Tak usah engkau merasa enggan menyerahkan hidupmu.
  6. Karena raja berkuasa mengakhiri hidup makhluk, Sebagai titisan Bhatara Siwa berupa narpati. Hilang segala dosanya makhluk yang dibunuh beliau. Lebih utama daripada terjun ke dalam telaga.
  7. Siapa diantara sesame akan jadi musuhku? Kepada Tripaksa aku takut, lebih utama menjauh. Niatku jika berjumpa raja, akan menyerahkan hidup. Mati olehnya, tak akan lagi bagai binatang.”

Pupuh 52

  1. Bagaikan katanya: “Marilah berkumpul!” Kemudian serentak maju berdesak. Prajurit darat yang terlanjur langkahnya tertahan tanduk satwa, lari kembali.
  2. Tersebut adalah prajurit berkuda. Bertemu celeng sedang berdesuk kumpul. Kasihan! Beberapa mati terbunuh dengan anaknya dirayah tak berdaya.
  3. Lihatlah celeng jalang maju menerjang. Berempat, berlima, gemuk, tinggi, marah, buas membekos-bekos, matanya merah liar dahsyat, saingnya seruncing golok.

Pupuh 53

  1. Tersebut pemburu kijang rusa riuh seru menyeru. Ada satu yang tertusuk tanduk, lelah lambat jalannya. Karena luka kakinya, darah deras meluap-luap. Lainnya mati terinjak-injak, menggelimpang kesakitan.
  2. Bala kembali berburu, berlengkap tombak serta lembing. Berserak kijang rusa di samping bangkai bertumpuk timbun. Banteng serta binatang galak lainnya bergerak menyerang. Terperanjat bala raja bercicir lari tunggang langgang.
  3. Ada yang lari berlindung di jurang, semak, kayu rimbun. Ada yang memanjat pohon, ramai mereka berebut puncak. Kasihanilah yang memanjat pohon tergelincir ke bawah! Betisnya segera diseruduk dengan tanduk, pingsanlah!
  4. Segera kawan-kawan datang menolong dengan kereta. Menombak, melembing, menikam, melanting, menjejak-jejak. Karenanya badak mundur, meluncur berdebak gemuruh. Lari terburu, terkejar; yang terbunuh bertumpuk timbun.
  5. Ada pendeta Siwa-Budha yang turut menombak, mengejar disengau harimau, lari diburu binatang mengancam. Lupa akan segala darma, lupa akan tata sila, turut melakukan kejahatan, melupakan darmanya.

Pupuh 54

  1. Tersebutlah baginda telah mengendarai kereta kencana. Tinggi lagi indah ditarik lembu yang tidak takut bahaya. Menuju hutan belantara, mengejar buruan ketakutan. Yang menjauhkan diri lari bercerai-berai meninggalkan bangkai.
  2. Celeng, kaswari, rusa, dan kelinci tinggal dalam ketakutan. Baginda berkuda mengejar yang riuh lari bercerai-berai. Menteri, tanda, dan pujangga di punggung kuda turut memburu. Binatang jatuh terbunuh, tertombak, terpotong, tertusuk, tertikam.
  3. Tanahnya luas lagi rata, hutannya rungkut, di bawah terang. Itulah sebabnya kijang dengan mudah dapat diburu kuda. Puaslah hati baginda, sambil bersantap dihadap pendeta. Bercerita tentang caranya berburu, menimbulkan gelak tawa.

Pupuh 55

  1. Terlangkahi betapa narpati  sambil berburu menyerap sari keindahan. Gunung dan hutan, kadang-kadang kepayahan kembali ke rumah perkemahan. Membawa wanita seperti cengkerama; di hutan bagai menggempur Negara. Tahu kejahatan satwa, beliau tak berdosa terhadap darma ahimsa.
  2. Tersebutlah beliau bersiap akan pulang, rindu kepada keindahan pura. Tatkala subakala berangkat menuju Banyu Hanget, Banir dan Talijungan. Bermalam di Wedwawedan, siangnya menuju Kuwarahan, Celong dan Dadamar. Garuntang, Pagar Telaga, Pahanjangan, sampai disitu perjalanan beliau.
  3. Siangnya perjalanan melalui Tambak, Rabut, Wayuha terus ke Belanak. Menuju Pandakan, Banaragi, sampai Pandamayan beliau lalu bermalam. Kembali ke Selatan, ke Barat menuju Jejawar di kaki gunung berapi. Disambut penonton bersorak gembira, menyekar sebentar di candi makam.

Pupuh 56

  1. Adanya candi makam tersebut sudah sejak zaman dahulu. Didirikan oleh Sri Kertanegara, moyang baginda raja. Di situ hanya jenazah beliau saja yang dimakamkan. Karena beliau dulu memeluk dua agama Siwa-Budha.
  2. Bentuk candi berkaki Siwa, berpuncak Budha, sangat tinggi. Didalamnya terdapat arca Siwa, indah tak dapat dinilai. Dan arca Maha Aksobhya bermahkota tinggi tak bertara. Namun telah hilang; memang sudah layak, tempatnya di nirwana.

Pupuh 57

  1. Konon kabarnya tepat ketika arca Hyang Aksobya hilang. Ada pada Baginda guru besar, masyhur, pada Paduka. Putus tapa, sopan suci penganut pendeta Sakyamuni. Telah terbukti bagai mahapendeta, terpundi sasantri.
  2. Senang berziarah ke tempat suci, bermalam di candi. Hormat mendekati Hyang arca suci, khidmat berbakti sembah. Menimbulkan iri di dalam hati pengawas candi suci. Ditanya, mengapa berbakti kepada arca dewa Siwa.
  3. Pada Paduka menjelaskan sejarah candi makam suci. Tentang adanya arca Aksobya indah, dahulu di atas. Sepulangnya kembali lagi ke candi menyampaikan bakti, kecewa! Tercengang memandang arca Maha Aksobya hilang.
  4. Tahun Saka Api Memanah Halilintar (1253) itu hilangnya arca. Waktu hilangnya halilintar menyambar candi ke dalam. Benarlah kabaran pendeta besar bebas dari prasangka. Bagaimana membangun kembali candi tua terbengkalai?
  5. Tiada ternilai indahnya, sungguh seperti surge turun. Gapura luar, mekala serta bangunanya serba permai. Hiasang di dalamnya nagapuspa yang sedang berbunga. Disisinya lukisan puteri istana berseri-seri.
  6. Sementara Baginda girang cengkrama menyerap pemandangan. Pakis berserak di tengah tebar bagai bulu dada. Ketimur arahnya dibawah terik matahari, Baginda meninggalkan candi, pekalongan girang ikut jurang curam.

Pupuh 58

  1. Tersebut dari Jajawa Baginda berangkat ke Desa Padameyan. Berhenti di Cunggrang, mencari pemandangan, masuk hutan rindang. Kea rah asrama para pertapa di lereng kaki gunung menghadap jurang. Luang jurang ternganga-nganga ingin menelan orang yang memandang.
  2. Habis menyerap pemandangan, masih pagi kereta telah siap. Ke Barat arahnya menuju gunung melalui jalannya dahulu. Tiba di penginapan Japan, barisan tentara datang menjemput. Yang tinggal di pura iri kepada yang gembira pergi menghadap.
  3. Pukul tiga itulah waktu baginda bersantap bersama-sama. Paling muka duduk baginda, lalu dua paman berturut tingkat. Raja Matahun dan Paguhan bersama permaisuri agak jauhan di sisi Sri Baginda; terlangkahi betapa lamanya bersantap.

Pupuh 59

  1. Paginya pasukan kereta Baginda berangkat lagi. Sang pujangga menyidat jalan ke Rabut, Tugu, Pengiring. Singgah di Pahyangan, menemui kelompok sanak kadang. Dijamu sekadarnya, karena kunjungannya mendadak.
  2. Banasara dan Sangkan Adoh telah dilalui. Pukul dua Baginda telah sampai di perbatasan kota. Sepanjang jalan berdesuk-desuk, gajah, kuda, pedati, kerbau, banteng dan prajurit darat sibuk berebut jalan.
  3. Teratur rapi mereka berarak di dalam deretan. Narpati Pajang, permaisuri dan pengiring paling muka. Di belakangnya, tidak jauh , berikut narapati Lasem. Terlampau indah keretanya, menyilaukan yang memandang.
  4. Rani Daha, Rani Wengker semuanya urut belakang. Disusul rani Jiwana bersama laki dan pengiring. Bagai penutup kereta Baginda serombongan besar. Diiringi beberapa ribu oerwira dan para menteri.
  5. Tersebutlah orang yang rapat tampak menambak tepi jalan. Berjejal ribut menanti kereta Baginda berlintas. Tergopoh-gopoh perempuan ke pintu berebut tempat. Malahan ada yang lari telanjang lepas sabuk lainnya.
  6. Yang jauh tempatnya, memanjat kekayu berebut tinggi. Duduk berdesak-desakan di dahan, tak pandang tua muda. Bahkan ada juga yang memanjat batang kelapa kuning. Lupa malu dilihat orang, karena terpekur memandang.
  7. Gemuruh dengung gong menampuk Sri Baginda raja datang. Terdiam duduk merunduk segenap orang di jalanan. Setelah raja lalu, berarak pengiring di belakang. Gajah, kuda, keledai, kerbau berduyun beruntun-runtun.

Pupuh 60

  1. Yang berjalan rampak berarak-arak. Barisan pikulan berjalan belakang. Lada, kesumbu, kapas, buah kelapa, buah pinang, asam dan wijen terpikul.
  2. Di belakangnya oemikul barang berat. Sengkeyegan lambat berbimbingan tangan kanan menuntun kirik dan kiri genjik. Dengan ayam itik di keranjang merunduk.
  3. Jenis barang terkumpul dalam pikulan. Buah kecubung, rebung, slundang, cempaluk, nyiru, kerucut, tempayan, dulang, periuk gelaknya seperti hujan panah jatuh.
  4. Tersebut Baginda telah masuk pura. Semua bubar ke rumah masing-masing. Ramai bercerita tentang hal yang lalu. Membuat girang semua sanak kadang.

Pupuh 61

  1. Waktu lalu; Baginda tak lama di istana. Tahun saka dua gajah bulan (1282) Badrapada, beliau berangkat menuju Tirib dan Sempur. Nampak sangat banyak binatang di dalam hutan.
  2. Tahun saka tiga badan dan bulan (1283) Waisaka, baginda raja berangkat menyekar ke Palah. Dan mengunjungi Jumble untuk menghibur hati. Di Lawang Wentar, Blitar menentramkan cita.
  3. Dari Blitar ke selaan jalannya mendaki. Puhonnya jarang, layu lesu kekurangan air. Sampai Lodaya bermalam beberapa hari. Tertarik keindahan lautan, menyisir pantai.
  4. Meninggalkan Lodaya menuju desa Simping. Ingin memperbaiki candi makam leluhur. Menaranya rusak, dilihat miring ke barat. Perlu ditegakkan kembali agak ke timur.

 

Pupuh 62

  1. Perbaikan disesuaikan dengan bunyi prasasti, yang dibaca lagi. Diukur panjang lebarnya; disebelah timur sudah ada tugu asrama gurung-gurung diambil sebagai denah candi makam. Untuk gantinya diberikan Ginting, Wisnurare di Bajradara.
  2. Waktu pulang mengambil jalan Jukung, Jnyanabadra terus ke timur. Berhenti di Bajralaksmi dan bermalam di candi Surabawana. Paginya berangkat lagi, berhenti di Bekel, sore sampai pura. Semua pengiring bersowang sowing pulang ke rumah masing-masing.

Pupuh 63

  1. Tersebut paginya Sri Naranata dihadapan para menteri semua. Dimuka para Arya, lalu Pepatih, duduk teratur di Manguntur. Patih Amangkubumi Gadjah Mada tampil ke muka sambil berkata: “Baginda akan melakukan kewajiban yang tak boleh diabaikan”.
  2. Atas perintah Sang Rani Sri Tribuwana Wijayatunggadewi, supaya pesta Serada Sri Rajapatni dilangsungkan Sri Baginda. Di istana pada tahun saka bersirah empat (1284) bulan Badrapada. Semua pembesar dan wredda menteri diharap memberi sumbangan.”
  3. Begitu kata sang patih dengan ramah, membuat gembira Baginda. Sorenya datang para pendeta, para budiman, sarjana dan menteri yang dapat pinjaman tanah dengan Ranadiraja sebagai kepala. Bersama-sama membicarakan biaya di hadapan Sri Baginda.
  4. Tersebutlah sebelum bulan Badrapada menjelang surutnya Srawana. Semua pelukis berlipat giat menghias “tempat singa” di setinggil. Ada yang mengetam baik makanan, bokor-bokoran, membuat arca. Pandai emas dan perak turut sibuk bekerja membuat persiapan.

Pupuh 64

  1. Ketika saatnya tiba, tempat telah teratur sangat rapi. Balai Witana terhias indah, dihadapan rumah-rumahan. Satu diantaranya berkaki batu karang, bertiang merah. Indah dipandang, semua menghadap kea rah tahta Baginda.
  2. Barat, mandapa dihias janur rumbai, tempat duduk para raja. Utara, serambi dihias berlapis ke timur, tempat duduk. Para isteri, pembesar, menteri dan pujangga, serta pendeta. Selatan, beberapa serambi berhias bergas untuk abdi.
  3. Demikian persiapan Sri Baginda memuja Budha Sakti. Semua pendeta Budha berdiri dalam lingkaran bagai saksi. Melakukan upacara, dipimpin oleh pendeta Stapaka. Tenang, sopan, budiman faham tentang sastra tiga tantra.
  4. Umumnya melintasi seribu bulan, masih belajar tutur. Tubuhnya sudah rapuh, selama upacara harus dibantu. Empu dari Paruh selaku pembantu berjalan di lingkaran. Mudra, tantra, dan japa dilakukan tepat menurut aturan.
  5. Tanggal dua belas nyawa dipanggil dari surge dengan doa. Disuruh kembali atas doa dan upacara yang sempurna. Malamnya memuja arca bunga bagai penampung jiwa mulia. Dipimpin Dang Acarya, mengheningkan cipta, mengucapkan puja.

Pupuh 65

  1. Pagi purnamakala arca bunga dikeluarkan untuk upacara/ Gemuruh disambut dengan dengung salung, tambur, terompet serta gendering. Didudukkan diatas singgasana, besarnya setinggi orang berdiri. Berderet beruntun-runtun semua pendeta tua muda memuja.
  2. Berikut para raja, parameswari dan putera mendekati arca. Lalu patih dipimpin Gadjah Mada maju ke muka berdatangan sembah. Para bupati pesisir dan pembesar daerah dari empat penjuru. Habis berbakti sembah, kembali mereka semua duduk rapi teratur.
  3. Sri Nata Paguhan paling dahulu menghaturkan sajian makanan sedap. Bersusun timbun seperti pohon dan sirih bertutup kain sutera. Persembahan raja Matahun arca banteng putih seperti lembu Nandini. Terus menerus memuntahkan harta dan makanan dari mulutnya.
  4. Raja wengker mempersembahkan sajian berupa rumah dengan taman bertingkat. Disertai penyebaran harta di lantai balai besar berhambur-hamburan. Elok persembahan raja Tumapel berupa perempuan cantik manis dipertunjukkan selama upacara untuk menharu-rindukan hati.
  5. Paling hebat persembahan Sri Baginda berupa gunung besar Mandara. Digerakkan oleh sejumlah dewa dana danawa dhsyat menggusarkan pandang. Ikan lembora besar berlembak-lembak mengebaki kolam bujur lebar. Bagaikan sedang mabuk diayun gelombang ditengah-tengah lautan besar.
  6. Tiap hari persajian makanan yang dipersembahkan dibagi-bagi. Agar para wanita, menteri, pendeta dapat makanan sekenyangnya. Tidak terlangkahi para ksatria, arya dan abdi di pura. Tak putusnya makanan sedap nyaman diedarkan kepada bala tentara.

Pupuh 66

  1. Pada hari keenam pagi Sri Baginda bersiap mempersembahkan persajian. Pun para ksatria  dan pembesar mempersembahkan rumah-rumahan yang terpikul. Dua orang pembesar mempersembahkan perahu yang melukiskan kutipan kidung. Seperahu sungguh besarnya, diiringi gong dan bubar mengguntur menggembirakan.
  2. Esoknya Patih Mangkubumi Gadjah Mada sore-sore menghadap sambil menghaturkan persajian. Berbagai ragamnya, berduyun-duyun, ada yang berupa perahu, gunung, rumah, ikan…
  3. Sungguh-sungguh mengagumkan persembahan Baginda raja pada hari yang ketujuh. Beliau menabur harta, membagi-bagi bahan pakaian dan hidangan makanan. Luas merata kepada empat kasta, dan terutama kepada para pendeta. Hidangan jamuan kepada pembesar abdi dan niata mengalir bagai air.
  4. Gemeruduk dan gemuruh para penonton dari segenap arah, berdesak-sesak. Ribut berebut tempat melihat peristiwa di balai agung serta pura leluhur. Sri Nata menari di balai Witana khusus untuk para puteri dan para istri. Yang duduk rapat rapi berimpit, ada yang ngelamun karena tercengang memamndang.
  5. Segala macam kesenangan yang menggembirakan hati rakyat diselenggarakan. Nyanyian, wayang, topeng silih berganti setiap hari dengan paduan suara. Tari perang prajurit, yang dahsyat berpukul-pukulan, menimbulkan gelak mengakak. Terutama derma kepada orang yang menderita membangkitkan gembira rakyat.

Pupuh 67

  1. Pesta serada yang diselenggarakan serba meriah dan khidmat. Pasti membuat gembira jiwa Sri Rajapatni yang sudah mangkat. Semoga beliau melimpahkan berkat kepada Baginda raja. Sehingga jaya terhadap musuh selama ada bulan dan surya.
  2. Paginya pendeta Budha datang menghormati, memuja dengan sloka. Arwah Prajnyaparamita yang sudah berpulang ke Budhaloka. Segera arca bunga diturunkan kembali dengan upacara. Segala macam makanan dibagikan kepada segenap abdi.
  3. Lodang lega rasa Baginda melihat perayaan langsung lancer. Karya yang masih menunggu, menyempurnakan candi di Kamal Pandak. Tanahnya telah disucikan tahun dahana tujuh surya (1274) dengan persajian dan puja kepada Brahma oleh Jnyanawidi.

Pupuh 68

  1. Demikian sejarah Kamal menurut tutur yang dipercaya. Dan Sri Nata Panjalu di Daha, waktu bumi Jawa dibelah karena cinta raja Erlangga kepada kedua puteranya.
  2. Ada pendeta Budhamajana putus dalam tantra dan yoga. Diam di tengah kuburan Lemah Cittra, jadi pelindung rakyat. Waktu ke Bali berjalan kaki, tenang menapak di air lautan. Hyang Mpu Barada nama beliau, faham tentang tiga zaman.
  3. Girang beliau menyambut permintaan Erlangga membelah Negara. Tapal batas Negara ditandai air kendi, mancur dari langit. Dari barat ke timur sampai laut; sebelah utara, selatan. Yang tidak jauh, bagaikan dipisahkan oleh samudera besar.
  4. Turun dari angkasa sang pendeta berhenti di pohon asam. Selesai tugas kendi suci ditaruhkan di dusun Palungan. Marah terhambat pohon asam tinggi yang puncaknya mengait jubah. Mpu Barada terbang lagi, mengutuk asam agar jadi kerdil.
  5. Itulah tugu batas gaib yang tidak akan mereka lalui. Itu pula sebabnya dibangun candi, memadu Jawa lagi. Semoga baginda serta rakyat tetap tegak, teguh, waspada. Berjaya dalam memimpin Negara, yang sudah bersatu padu.

Pupuh 69

  1. Prajnaparamitapuri itulah nama candi makam yang dibangun. Arca Sri Rajapatni diberkahi oleh pendeta Jnyanawidi. Telah lanjut usia, faham akan tantra, menghimpun ilmu Negara. Laksana titisan Empu Bharada, menggembirakan hati Baginda.
  2. Di Bayalangu akan dibangun pula candi makam Sri Rajapatni. Pendeta Jnyanawidi lagi yang ditugaskan memberkahi tanahnya. Rencananya telah disetujui oleh sang menteri demung Boja. Wisesapura namanya, jika candi sudah berdiri sempurna dibangun.
  3. Candi makam Sri Rajapatni tersohor sebagai tempat keramat. Tiap bulan Badrapada disekar oleh para menteri dan pendeta. Di tiap daerah, rakyat serentak membuat peringatan dan memuja. Itulah surganya, berkat berputera, bercucu narendra utama.

Pupuh 70

  1. Tersebut pada tahun saka angin delapan utama (1285) baginda menuju Simping demi pemindahan candi makam. Siap lengkap segala persajian tepat menurut adat. Pengawasnya Rajaparakrama memimpin upacara.
  2. Faham tentang tatwopadesa dan kepercayaan Siwa. Memangku jabatannya semenjak mangkat Kertarajasa. Ketika menegakkan menara dan mekala gapura. Bangsawan agung Arya Krung, yang diserahi menjaganya.
  3. Sekembalinya dari Simping, segera masuk pura. Terpaku mendengar Adimenteri Gadjah Mada sakit. Pernah mencurahkan tenaga untuk keluhuran Jawa. Di Pulau Bali serta Kota Sadeng memusnahkan musuh.

Pupuh 71

  1. Tahun saka tiga angin utama (1253) beliau mulai memikul tanggung jawab. Tahun rasa (1286) beliau mangkat; Baginda gundah, terharu bahkan putus asa. Sang Dibyacita Gadjah Mada cinta kepada sesame tanpa pandang bulu. Insaf bahwa hidup tidak baka, karenanya beramal tiap hari.
  2. Baginda segera bermusyawarah dengan kedua rama serta ibunda. Kedua adik dan kedua ipar tentang calon pengganti Ki Patih Mada yang layak akan diangkat hanya calon yang sungguh mengenal tabiat rakyat. Lama timbang menimbang, tetapi seribu sayang tidak ada yang memuaskan.
  3. Baginda berpegang teguh. Adimenteri Gadjah Mada tak akan diganti. Bila karenanya timbul keberatan, beliau sendiri bertanggung jawab. Memilih enam menteri yang menyampaikan urusan Negara ke istana. Mengetahui segala perkara, sanggup tunduk kepada pimpinan Baginda.

Pupuh 72

  1. Itulah putusan rapat tertutup. Hasil yang diperoleh perundingan. Terpilih sebagai wredda menteri karib Baginda bernama Mpu Tadi.
  2. Penganut karib Sri Baginda Nata. Pahlawan perang bernama Mpu Nala. Mengetahui budi pekerti rakyat. Mancanegara bergelar tumenggung.
  3. Keturunan orang cerdik dan setia. Selalu memangku pangkat pahlawan. Pernah menundukkan Negara  Dompo, Serba ulet menanggulangi musuh.
  4. Jumlahnya bertambah dua menteri. Bagai pembantu utma Baginda. Bertugas mengurus soal perdata. Dibantu oleh para upapati.
  5. Mpu Dami menjadi menteri muda. Selalu ditaati di istana. Mpu Singa diangkat sebagai saksi. Dalam segala perintah Baginda.
  6. Demikianlah titah Sri Baginda Nata. Puas, taat, teguh segenap rakyat. Tumbuh tambah hari setia baktinya. Karena Baginda yang memerintah.

Pupuh 73

  1. Baginda makin keras berusaha untuk dapat bertindak lebih bijak. Dalam pengadilan tidak serampangan, tapi tepat mengikuti undang-undang. Adil segala keputusan yang diambil, semua pihak merasa puas. Masyhur nama beliau, mampu menembus zaman, sungguhlah titisan Bhatara.
  2. Candi makam serta bangunan para leluhur sejak zaman dahulu kala yang belum siap diselesaikan, dijaka dan dibina dengan seksama. Yang belum punya prasasti disuruh buatkan piagam oleh ahli sastra. Agar kelak jangan sampai timbul perselisihan, jikalau sudah temurun.
  3. Jumlah candi makam raja seperti berikut, mulai dengan Kagenengan disebut pertama karena tertua: Tumapel, Kidal, Jajagu, Wedwawedan. Di Tuban, Pikatan, Bakul, Jawa-jawa, Antang Trawulan Kalang, Brat dan Jago. Lalu Blitar, Sila Petak, Ahrit, Waleri, Bebeg, Kukap, Lumbang dan Puger.

 

 

Pupuh 74

  1. Makam rani: Kamal Pandak, Segala, Simping, Sri Ranggapura serta candi Budi Kuncir, bangunan baru Prajnyaparamitapuri di Bayalangu yang baru saja dibangun.
  2. Itulah dua puluh tujuh candi raja. Pada Saka tujuh guru candra (1287) bulan Badra, dijaga petugas atas perintah raja. Diawasi oleh pendeta ahli sastra.

Pupuh 75

  1. Pembesar yang bertugas mengawasi seluruhnya sang Wiradikara orang utama, yang seksama dan tawakal membina semua candi. Setia kepada baginda, hanya memikirkan kepentingan bersama. Segan mengambil keuntungan berapa pun penghasilan candi makam.
  2. Desa-desa perdikan ditempatkan di bawah perlindungan Baginda Darmadyaksa Kasewan bertugas membina tempat ziarah dan pemujaan. Darmadyaksa Kasogatan disuruh menjaga biara kebudhaan. Menteri ber-haji bertugas memelihara semua pertapaan.

Pupuh 76

  1. Desa perdikan Siwa yang bebas dari pajak: Biara Relung Kunci, Kapulungan, Roma, Wwatan, Iswaragreha, Palabdi, Tanjung, Kutalamba, begitu pula Taruna. Parahyangan, Kuti Jati, Candi Lima, Nilakusuma, Harimananda, Uttamasuka, Prasada-haji, Sadeng, Panggumpulan, Katisanggraha. Begitu pula Jayasuka.
  2. Tak ketinggalan: Spatika, Yang Jayamanalu, Haribawana, Candi Pangkal, Pigir, Nyudonto, Katuda, Srangan, Kapukuran, Dayamuka, Kalinandana, Kanigara, Rambut, Wuluhan, Kinawung, Sukawijaya, dan lagi Kajaha, demikian pula Campen, Ratimanatasrama, Kula, Kaling ditambah sebutan lagi Batu Putih.
  3. Desa perdikan kasogatan yang bebas dari pajak: Wipulahara, Kutahaji, Jantraya, Rajadanya, Kuswanata, Surayasa, Jarak, Lagundi, serta Wadari. Wewe Pacekan, Pasuruan, Lemah Surat, Sangan serta Pangiketan. Panghawan, Damalang, Tepasjita, Wanasrama, Jenar, Samudrawela, dan Pamulang.
  4. Baryang Amretawardani, Wetlwetihn, Kawinayan Patemon serta Kanuruhan. Engtal, Wengker, Banyu Jiken, Batabata, Pagagan, Sibok dan Engtal Wetan. Pindatuha, telang, Suraba, itulah yang terpenting, sebuah suka Sukalila. Tak disebut perdikan tambahan seperti Pogara, Kulur, Tangkil, dan sebagainya.

Pupuh 77

  1. Selanjutnya, disebut berturut desa kebudhaan Bjradara: Isanabajra, Naditara, Mukuh, Sambang, Tanjung, Amretasaba, Bangbang, Bodimula, Waharu Tampak, serta Puruhan dan Tadata.Tidak juga terlangkahi Kumuda, Ratna serta Nadinagara.
  2. Wungajaya, Palandi, Tangkil, Asahing, Samici, serta Acitahen. Nairanjana, Wijayawaktra, Mageneng, Pojahan, dan Balamasin. Krat, Lemah Tulis, Ratnapangkaya, Panumbangan serta Kahuripan. Keraki, Telaga Jambala, Jungul ditambah lagi Wisnuwala.
  3. Badur, Wirun, WUngkilur, Mananggung, Watukura serta Bajrasana. Pajambayan, Salaten, Simapura, Tambvak Laleyan, Pilangu, Pohaji, Wangkali, Biru, Lembah, Dalinan, Pangadwan yang terakhir. Itulah desa kebudhaan Bajradara yang sudah berprasasti.

Pupuh 78

  1. Desa Keresian seperti berikut: Sampud, Rupit dan Pilan. Pucangan, Jagadita, Pawitra, masih sebuah lagi Butun. Di situ terbentang taman, didirikan lingga dan saluran air. Yang mulia Mahaguru – demikian sebutan beliau.
  2. Yang diserahi tugas menjaga sejak dulu menurut piagam. Selanjutnya desa perdikan tanpa candi, diantaranya yang penting: Bangawan Tunggal, Sidayatra, Jaya Sidahajeng, Lwah Kali dan Twas. Wasita, Palah, Padar, Siringan. Itulah desa perdikan Siwa.
  3. Wangjang Bajrapura, Wanara, Makiduk, Hansen, Guha dan Jiwa. Jumpud, Soba, Pamuntaran dan Baru, perdikan Budha utama. Kajar, Dana Hanyar, Turas, Jalagri, Centing, Wekas. Wandira, Wandayan, Gatawang, Kulapayan dan Talu pertapaan resi.
  4. Desa perdikan Wisnu berserak di Barwan serta Kamangsian, Batu, Tanggulian, Dakulut, Galuh, Makalaran, itu yang penting. Sedang, Medang, Hulun Hyan, Parung Langge, Pasajan, Kelut, Andelmat, Pradah, Geneng, Panggawan, sduah sejak lama bebas pajak.
  5. Terlewati segala dukuh yang terpencar di seluruh Jawa. Begitu pula asrama tetap yang bercandi serta yang tidak. Yang bercandi menerima bantuan tetap dari Baginda raja. Begitu juga dukuh pengawas, tempat belajar upacara.

Pupuh 79

  1. Telah diteliti sejarah berdirinya segala desa di Jawa. Perdikan, candi, tanah pusaka, daerah dewa, biara dan dukuh. Yang berpiagam dipertahankan, yang tidak segera diperintahkan pulang kepada dewan desa di hadapan Sang Arya Ranadiraja.
  2. Segenap desa sudah diteliti menurut perintah Raja Wengker. Raja Singasari bertitah mendaftar jiwa serta seluk salurannya. Petugas giat menepati perintah, berpegang kepada aturan. Segenap penduduk jawa patuh mengindahkan perintah baginda raja.
  3. Semua tata aturan patuh diturut oleh Pulau Bali. Candi, asrama, pesanggrahan telah diteliti sejarah tegaknya. Pembesar kebudhaan Baduhulu, Badaha Lo Gajah ditugaskan membina segenap candi, bekerja rajin dan mencatat semuanya.

Pupuh 80

  1. Perdikan kebudhaan Bali seperti berikut: Biara Baharu (Hanyar), Kadikaranan, Purwanagara, Wirabahu, Adiraja, Kuturan. Itulah enam kebudhaan Bajradara, biara kependetaan. Terlangkahi biara dengan bantuan Negara seperti Arya-dadi.
  2. Berikut candi makam di Bukit Sulang, Lemah Lampung dan Anyawasuda, Tatagatapura, Grehastadata, sangat masyhur, dibangun atas piagam pada tahun saka Angkasa Rasa Surya (1260) oleh Sri Baginda Jiwana. Yang memberkahi tanahnya, membangun candinya: upasaka wredda menteri.
  3. Semua perdikan dengan bukti prasasti dibiarkan tetap berdiri. Terjaga dan terlindungi segala bangunan setiap orang budiman. Begitulah tabiat raja utama, Berjaya, berkuasa, perkasa. Semoga kelak para raja sudi membina semua bangunan suci.
  4. Maksudnya agar musnah semua durjana dari muka bumi laladan. Itulah tujuan melintas, menelusur dusun-dusun sampai di tepi laut. Menentramkan hati pertapa, yang rela tinggal di pantai, gunung dan hutan. Lega bertapa brata dan bersamadi demi kesejahteraan Negara.

Pupuh 81

  1. Besarlah minat Baginda untuk tegaknya tripaksa. Tentang piagam beliau bersikap agar tetap diindahkan. Begitu pula tentang pengeluaran undang-undang, supaya laku utama, tata sila dan adat-tutur diperhatikan.
  2. Itulah sebabnya sang caturdwija  mengejar laku utama. Resi, Wipra, pendeta Siwa Budha teguh mengindahkan tutur. Catur Asrama  terutama catur basma tunduk rungkup tekun. Melakukan tapa brata, rajin mempelajari upacara.
  3. Semua anggota empat kasta teguh mengindahkan ajaran. Para menteri dan arya pandai membina urusan Negara. Para puteri dan ksatria berlaku sopan, berhati teguh. Waisya dan Sudra dengan gembira menepati tugas darmanya.
  4. Empat kasta yang lahir sesuai dengan keinginan Hyang Mahatinggi. Konon, tunduk rungkup kepada kuasa dan perintah baginda. Teguh tingkah tabiatnya, juga ketiga golongan terbawah, Candala, Mleca dan Tucamencoba mencabut cacat-cacatnya. Begitulah tanah Jawa pada zaman pemerintahan Sri Nata.

Pupuh 82

  1. Penegakan bangunan – bangunan suci membuat gembira rakyat. Baginda menjadi teladan di dalam menjalankan enam darma. Para ibu kagum memandang, setuju dengan tingkah laku sang prabu.
  2. Sri Nata Singasari membuka lading luas di daerah Sagala. Sri Nata Wengker membuka hutan Surabana, Pasuruan, Pajang. Mendirikan perdikan Budha di Rawi, Locanapura, Kapulungan. Baginda sendiri membuka lading Watsari di Tigawangi.
  3. Semua menteri mengenyam tanah palenggahan yang cukup luas. Candi, Biara dan Lingga utama dibangun tak ada putusnya. Sebagai tanda bakti kepada dewa, leluhur, para pendeta. Memang benar budi luhur tertabur mengikuti jejak Sri Nata.

Pupuh 83

  1. Begitulah keluhuran Sri Baginda ekanata di Wilwatikta. Terpuji bagaikan bulan di musim gugur, terlalu indah terpandang. Durjana laksana tunjung merah, sujana seperti teratai putih. Abdi, harta, kereta, gajah, kuda berlimpah-limpah bagai samudera.
  2. Bertambah masyhur keluhuran Pulau Jawa di seluruh jagat raya. Hanya Jambudwipa dan Pulau Jawa yang disebut Negara utama. Banyak pujangga dan dyaksa serta para upapati, tujuh jumlahnya. Panji Jiwalekan dan Tenggara yang menonjol bijak di dalam kerja.
  3. Masyhurlah nama pendeta Brahmaraja bagai pujangga, ahli tutur. Putus dalam tarka, sempurna dalam seni kata serta ilmu naya. Hyang Brahma, sopan, suci, ahli weda, menjalankan nam laku utama. Bhatara Wisnu dengan cipta dan mantera membuat sejahtera Negara.
  4. Itulah sebabnya berduyun-duyun tamu asing datang berkunjung dari Jambudwipa, Kamboja, Cina, Yamana, Campa dan Kamataka. Goda serta Saim mengarungi lautan bersama para pedagang. Resi dan pendeta, semua merasa puas menetap dengan senang.
  5. Tiap bulan Palguna Sri Nata dihormati di seluruh Negara. Berdesak-desak para pembesar, empat penjuru, para prabot desa hakim dan pembantunya, bahkan pun dari Bali mengaturkan upeti. Pekan penuh sesak pembeli penjual, barang terhampar di dasaran.
  6. Berputar keliling gamelan dalam tanduan di arak rakyat ramai. Tiap bertabuh tujuh kali, pembawa sajian menghadap ke pura. Korban api, ucapan mantra dilakukan para pendeta Siwa-Budha. Mulai tanggal delapan petang demi keselamatan Baginda.

Pupuh 84

  1. Tersebut pada tanggal empat belas bulan petang, Baginda berkirap. Selama kirap keliling kota busana Baginda serba kencana. Ditatang jempana kencana, panjang berarak beranur runtun. Menteri, sarjana, pendeta beriring dalam pakaian seragam.
  2. Mengguntur gaung gong dan salung, disambut terompet meriah sahut menyahut. Bergerak barisan pujangga menampung beliau dengan puja sloka. Gubahan kawi raja dari pelbagai kota dari seluruh jawa.Tanda bakti Baginda perwira bagai Rama, mulia bagai Sri Kresna.
  3. Telah naik Baginda di tahta mutu-manikam, bergebar pencar sinar. Seolah-olah Hyang Trimurti datang mengucapkan puji astuti. Yang Nampak, semua serba mulia, sebab Baginda memang raja agung. Serupa jelmaan Sang Sudodana putera dan Jina bawana.
  4. Sri Nata Pajang dengan Sang Permaisuri berjalan paling muka. Lepas dari Singgasana yang diarak pengiring terlalu banyak. Menteri Pajang dan Paguhan serta pengiring jadi satu kelompok. Ribuan jumlahnya, berpakaian seragam membawa panji dan tunggul.
  5. Raja Lasem dengan permaisuri serta pengiring di belakangnya. Lalu Raja Kediri dengan permaisuri serta menteri dan tentara. Berikut maharani Jiwana dengan suami dan para pengiring. Sebagai penutup Baginda dan para pembesar seluruh Jawa.
  6. Penuh berdesak-desak para penonton ribut berebut tempat. Di tepi jalan kereta dan pedati berjajar rapat memanjang. Tiap rumah mengibarkan bendera dan panggung membujur sangat panjang. Penuh sesak perempuan tua muda, berjejal berimpit –impitan.
  7. Rindu sendu hatinya seperti baru pertama kali menonton. Terlangkahi peristiwa pagi, waktu Baginda mendaki setinggil. Pendeta menghaturkan kendi berisi air suci didulang berukir. Menteri serta pembesar tampil ke muka menyembah bersama-sama.

Pupuh 85

  1. Tanggal satu bulan Caitra bala tentara berkumpul bertemu muka. Menteri, perwira, para arya dan pembantu raja semua hadir. Kepala daerah, ketua desa, para tamu dari luar kota. Begitu pula para ksatria, pendeta, dan Brahmana utama.
  2. Maksud pertemuan agar para warga mengelakkan watak jahat. Tetapi menganut ajaran Rajakapakapa, dibaca tiap Caitra. Menghindari tabiat jahat, seperti suka mengambil milik orang. Memiliki harta benda dewa, demi keselamatan masyarakat.

Pupuh 86

  1. Dua hari kemudian berlangsung perayaan besar. Di utra kota terbentang lapangan bernama Bubat. Sering dikunjungi Baginda, naik tandu bersudut tiga. Diarak abdi berjalan, membuat kagum tiap orang.
  2. Bubat adalah lapangan luas lebar dan rata. Membentang ke timur setengah krosa sampai jalan raya. Dan setengah krosa ke utara bertemu tebing sungai. Dikelilingi bangunan menteri di dalam kelompok.
  3. Menjulang sangat tinggi bangunan besar di tengah padang. Tiangnya penuh berukir dengan isi dongeng parwa. Dekat disebelah baratnya bangunan serupa istana. Tempat menampung Baginda di panggung pada bulan Caitra.

Pupuh 87

  1. Panggung berjajar membujur ke utara menghadap barat. Bagian utara dan selatan untuk para raja dan arya. Para menteri dan dyaksa duduk teratur menghadap timur. Dengan pemandangan bebas luas sepanjang jalan raya.
  2. Disitulah Baginda member rakyat santapan mata: pertunjukan perang tanding, perang pukul, desuk mendesuk, perang keris, adu tinju, tarik tambang, menggembirakan sampai tiga empat hari lamanya baru selesai.
  3. Seberangkat Baginda, sepi lagi, panggungnya dibongkar. Segala perlombaan bubar; rakyat pulang bergembira. Pada Caitra bulan petang Baginda menjamu para pemenang. Yang pulang menggondol pelbagai hadiah bahan pakaian.

Pupuh 88

  1. Segenap ketua desa dan wedana tetap tinggal, paginya mereka dipimpin Arya Ranadikara menghadap baginda minta diri di pura. Bersama Arya Mahadikara, kepala pancatanda dan padelegan. Sri Baginda duduk di atas tahta, dihadap para abdi dan pembesar.
  2. Berkatalah Sri Nata Wengker di hadapan para pembesar dan wedana: “Wahai, tunjukkan cinta serta setai baktimu kepada Baginda raja. Cintailah rakyat bawahanmu dan berusahalah memajukan dusunmu. Jembatan, Jalan Raya, Beringin, Bangunan dan Candi supaya dibina.
  3. Terutama dataran tinggi dan sawah, agar tetap subur, peliharalah. Perhatikan tanah rakyat, jangan sampai jatuh ketangan petani besar. Agar penduduk jangan sampai terusir dan mengungsi ke desa tetangga. Tepati segala peraturan untuk membuat desa bertambah besar.
  4. Sri Nata Kartawardhana setuju dengan anjuran pembesar desa. “Harap dicatat nama penjahat dan pelanggaran setiap akhir bulan. Bantu pemeriksaan tempat durjana, terutama pelanggar susila. Agar bertambah kekayaan baginda demi kesejahteraan Negara.
  5. Kemudian bersabda Baginda Nata Wilwatikta memberi anjuran: “Para Budiman yang berkunjung kemari, tidak boleh dihalang-halangi. Rajakarya, terutama beacukai, pelawang, supaya dilunasi. Jamuan kepada para tetamu budiman supaya diatur pantas.

Pupuh 89

  1. Undang-undang sejak pemerintahan ibunda harus ditaati. Hidangan makanan sepanjang hari harus dimasak pagi-pagi. Jika ada tamu loba tamak mengambil makanan, merugikan, biar mengambilnya, tetapi laporkan namanya kepada saya.
  2. Negara dan desa berhubungan rapat seperti singa dan hutan. Jika desa rusak, Negara akan kekurangan bahan makanan. Kalau tidak ada tentara, Negara lain mudah menyerang kita. Karenanya peliharalah keduanya, itu perintah saya!”.
  3. Begitulah perintah Baginda kepada wedana, yang tunduk mengangguk. Sebagai tanda mereka sanggup mengindahkan perintah beliau. Menteri, upapati, serta para pembesar menghadap bersama. Tepat pukul tiga mereka berkumpul untuk bersantap bersama.
  4. Bangunan sebelah timur laut telah dihiasi gilang cemerlang. Di tiga sudut ruang para wedana  duduk teratur menganut sudut. Santapan sedap mulai dihidangkan di atas dulang serba emas. Segera deretan depan berhadap-hadapan di muka Baginda.
  5. Santapan terdiri dari daging kambing, kerbau, burung, rusa, madu, ikan, telur, domba, menurut adat agama dari zaman purba makanan pantangan: daging anjing, cacing, tikus, keledai dan katak. Jika dilanggar mengakibatkan hinaan musuh, mati dan noda.

Pupuh 90

  1. Dihidangkan santapan untuk orang banyak. Makanan serba banyak serba sedap. Berbagai-bagai ikan laut dan ikan tambak. Berderap cepat datang menurut acara.
  2. Daging katak, cacing, keledai, tikus, anjing hanya dihidangkan kepada para penggemar. Karena asalnya dari berbagai desa mereka diberi kegemaran, biar puas.
  3. Mengalir berbagai minuman keras segar: Tuak nyiur, Tal, Arak kilang, tuak rumbya. Itulah hidangan minuman utama. Wadahnya emas berbentuk aneka ragam.
  4. Porong dan guci berdiri terpencar-pencar. Berisi minuman keras dari aneka bahan. Beredar putar seperti air mengalir. Yang gemar, minum sampai muntah serta mabuk.
  5. Merdu merayu nyanyian para biduan. Melagukan puji-pujian Sri Baginda. Makin deras peminum melepaskan nafsu. Habis lalu waktu, berhenti gelak gurau.

Pupuh 91

  1. Pembesar daerah angin membadut dengan para lurah. Diikuti lagu, sambil bertandak memilih pasangan. Solah tingkahnya menarik gelak, menggelikan pandangan. Itulah sebabnya mereka memperoleh hadiah kain.
  2. Disuruh menghadap baginda, diajak minum bersama. Menteri upapati berurut minum bergilir menyanyi. Nyanyian Manghuri Kandamuhi dapat sorak pujian. Baginda berdiri, mengimbangi ikut melaras lagu.
  3. Tercengang dan terharu hadirin mendengar suara merdu. Semerbak meriah bagai gelak merak di dahan kayu. Seperti madu bercampur dengan gula terlalu sedap manis. Resap membaru kalbu bagai desiran buluh perindu.
  4. Arya Ranadikara lupa bahwa Baginda berlaku bersama Arya Mahadikara, mendadak berteriak bahwa para pembesar ingin beliau menari topeng. “Ya!” jawab beliau; segera masuk untuk persiapan.
  5. Sri Kertawardana tampil ke depan menari panjak. Bergegas lekas panggung disiapkan ditengah mandapa. Sang permaisuri berhias jamang laras menyanyikan lagu. Luk suaranya mengharu rindu, tingkahnya memikat hati.
  6. Bubar mereka itu ketika Sri Baginda keluar. Lagu rayuan Baginda bergetar menghanyutkan rasa, Diiringkan rayuan sang permaisuri rapi rupendah. Resap meremuk rasa merasuk tulang sumsum pendengar.
  7. Sri Baginda warnawan telah mengenakan tampuk topeng. Delapan pengiringnya dibelakang, bagus, bergas pantas keturunan arya, bijak, cerdas, sopan tingkah lakunya. Inilah sebabnya banyolannya selalu tepat kena.
  8. Tari Sembilan orang telah dimulai dengan banyolan. Gelak tawa terus menerus, sampai perut kaku beku. Babak yang sedih meraih tangis, mengaduk haru dan rindu. Tepat mengenai sasaran menghanyutkan hati penonton.
  9. Silam matahari waktu lingsir, perayaan berakhir. Para pembesar minta diri mencium duli paduka. Katanya: “Lenyap duka oleh suka, hilang dari bumi!”. Terlangkahi pujian Baginda waktu masuk istana.

Pupuh 92

  1. Begitulah suka mulia Baginda raja di pura, tercapai segala cita. Terang baginda sangat memperhatikan kesejahteraan rakyat dan Negara. Meskipun masih muda dengan suka rela berlaku bagai titisan Budha. Dengan laku utama beliau memadamkan api kejahatan durjana.
  2. Terus membumbung ke angkasa kemasyhuran dan keperwiraan Sri Baginda. Sungguh beliau titisan Bhatara Girinata untuk menjaga buana. Hilang dosanya orang yang dipandang dan musnah letanya abdi yang disapa.
  3. Inilah sebabnya keluhuran beliau masyhur terpuji di tiga jagat. Semua orang tinggi, sedang dan rendah menuturkan kata-kata pujian. Serta berdoa agar Baginda tetap subur bagai gunung tempat berlindung. Berusia panjang sebagai bulan dan matahari cemerlang menerangi bumi.

Pupuh 93

  1. Semua pendeta dari tanah asing menggubah pujian Baginda. Sang pendeta Budhaditya menggubah rangkaian sloka Bogawali. Tempat tumpah darahnya Kancipuri di Sadwihara di Jambudwipa.Brahma Sri Mutali Saherdaya menggubah pujian sloka indah.
  2. Begitu pula para pendeta di Jawa, pujangga, sarjana sastra. Bersama-sama merumpaka sloka pujasastra untuk nyanyian. Yang terpenting pujasastra di prasasti, gubahan upapati Sudarma. Berupa kakawin, hanya boleh diperdengarkan di dalam istana.

Pupuh 94

  1. Mendengar pujian para pujangga pura bergetar mencakar udara, Prapanca bangkit turut memuji Baginda, meski tak akan sampai pura. Maksud pujiannya agar Baginda gembira jika mendengar gubahannya. Berdoa demi kesejahteraan Negara, terutama Baginda dan rakyat.
  2. Tahun saka gunung gajah budi dan janma (1287) bulan Aswina hari purnama. Siaplah kakawin pujaan tentang perjalanan keliling Negara. Segenap desa tersusun dalam rangkaian, pantas disebut Desawarnana. Dengan maksud, agar Baginda ingat jika membaca hikmat kalimat.
  3. Sia-sia lama bertekun menggubah kakawin menyurat di atas daun lontar. Yang pertama “Tahun Saka”, yang kedua “Lambang” kemudian “Parwasagara”. Berikut yang keempat “Bismacarana”, akhirnya cerita “Sugataparwa”. Lambang dan Tahun Saka masih akan diteruskan, sebab memang belum siap.
  4. Meskipun tidak semahir para pujangga di dalam menggubah kakawin, terdorong cinta bakti kepada Baginda, ikut membuat pujasastra berupa karya kakawiin, sederhana tentang rangkaian sejarah desa. Apa boleh buat harus berkorban rasa, pasti akan ditertawakan.

Pupuh 95

  1. Nasib badan dihina oleh para bangsawan, canggung tinggal di dusun. Hati gundah kurang senang, sedih, rugi tidak mendengar ujar manis. Teman karib dan orang budiman meninggalkan tanpa belas kasihan. Apa gunanya mengenai ajaran kasih, jika tidak diamalkan?
  2. Karena kemewahan berlimpah, tidak ada minat untuk beramal. Buta, tuli, tak Nampak sinar memancar dalam kesedihan, kesepian. Seyogyanya ajaran sang Mahamuni diresapi bagai pegangan. Mengharapkan kasih yang tak kunjung datang, akan membawa mati muda.
  3. Segera bertapa brata di lereng gunung, masuk ke dalam hutan. Membuat rumah dan tempat persajian ditempat sepi dan bertapa. Halaman rumah ditanami pohon kamala, asana, tingg-tinggi. Memang Kamalasana nama dukuhnya sudah lama dikenal.

Pupuh 96

  1. Prapanca itu pra lima buah. Cirinya: cakapnya lucu, pipinya sembab, matanya ngeliyap, gelaknya terbahak-bahak.
  2. Terlalu kurang ajar, tidak pantas ditiru. Bodoh tidak menuruti ajaran tutur. Carilah pimpinan yang baik dalam tatwa. Pantasnya ia dipukul berulang kali.

Pupuh 97 

  1. Ingin menyamai Mpu Winada. Mengumpulkan harta benda. Akhirnya hidup sengsara. Tapi tetap tinggal tenang.
  2. Winada mengejar jasa. Tanpa ragu uang dibagi. Terus bertapa brata. Mendapat pimpinan hidup.
  3. Sungguh handal dalam yuda. Yudanya belum selesai ingin mencapai nirwana, jadi pahlawan pertapa.

Pupuh 98

  1. Beratlah bagi para pujangga menyamai Winada, bertekun dalam tapa. Membalas dengan cinta kasih perbuatan mereka yang senang menghina orang-orang yang puas dalam ketenangan dan menjauhkan diri dari segala tingkah, menjauhkan diri dari kesukaan dan kewibawaan dengan harapan akan memperoleh faedah. Segan meniru perbuatan mereka yang dicacat dan dicela di dalam pura (taken from here).

Dua Dinasti di Kerajaan Mataram Kuna: Tinjauan Prasasti Kalasan (by Santiko Hariani)

Abstract. Who was the ruler at center of Java in 8th-10th centuries at Ancient Mataram Kingdom is still a debatable problem. There are two opinion groups. The one opinion states that there are two dynasties (Sanjaya dynasty and Syailendra dynasty), and the other opinion declares only one dynasty based on assumption Rakai Panagkaran, The son of King Sanjaya, changed his religion to Buddha Mahayana. Based on retranslation inscription of Kalasan, there were two kings on this inscription, namely Śri Mahārāja Dyah Pañcapanam Panamkarana and King Śailendravamsatilaka that was remain as “raja bawahan” (“lower king”) of Śri Mahārāja Dyah Pañcapanam Panamkarana who still had Siwa religion. Rakai Panangkaran was remain as King of Sanjaya Dynasty (Sanjayavamśa) and Śailendravamsatilaka was becoming a king in his “Growing Kingdom”.

Key Words: Śańkara, anŗtagurubhayas, Dhātŗ, inscription of Kalasan, Śailendravamsatilaka.

Penelitian arkeologi mengenai kerajaan Matarām Hindu (Matarām Kuna) sangatlah menarik, tidak saja mengenai tinggalan arkeologi berupa sarana ritual yang secara umum disebut candi sangat berlimpah, tetapi juga tentang tokoh-tokoh sejarah yang bertanggung jawab akan kehadiran sarana ritual keagamaan tersebut. Candi-candi dari wilayah Jawa Tengah ini mempunyai gaya arsitektural yang sangat unik, yang memper- lihatkan kemahiran si seniman (śilpin) dalam usahanya menuangkan pengalaman dengan Tuhannya ke dalam karya seni yang indah dan megah, sehingga orang-orang Belanda yang datang ke Jawa pada abad 18, sangat mengagumi karya seni keagamaan tersebut. Karya seni keagamaan itu mereka sebut kesenian Klasik, karena mengingatkan mereka pada kesenian Romawi dan Yunani yang dikenal sebagai “Classical Period”.

Di samping itu, candi-candi tersebut masih dikelompokkan berdasarkan gaya arsitektural dan latar belakang keagamaan- nya. Kelompok candi-candi tipe utara, bersifat agama Siwa, misalnya candi Dieng, Gedongsanga, Prambanan, dan candi-candi tipe selatan yang berlatar belakang agama

Buddha, misalnya candi Kalasan, Sari, Plaosan dan lain-lain.

Penelitian mengenai tokoh-tokoh yang terkait dengan bangunan-bangunan suci tersebut telah banyak dilakukan dengan memakai data sumber tertulis khususnya prasasti, di antaranya Prasasti Tuk Mas, Prasasti Canggal (654 Saka/732 Masehi), Prasasti Kalasan (700 Saka/778 Masehi), Prasasti Kelurak (704 Saka/782 Masehi) dan sebagainya, serta berita-berita Cina.

Kerajaan Matarām Kuna

Nama kerajaan tertua yang disebut dalam sumber prasasti di wilayah Jawa Tengah adalah kerajaan Matarām1) yang lebih dikenal sebagai kerajaan Matarām Kuna untuk membedakan dengan kerajaan Mataram Islam, dengan rajanya bernama Sanjaya. Prasasti tersebut adalah prasasti Canggal (654 Saka/732 Masehi), yang ditemukan di halaman percandian di atas gunung Wukir di Kecamatan Salam, Magelang. Prasasti Canggal memakai huruf Pallawa, berbahasa Sansekerta, dan mem- bicarakan raja Sanjaya yang beragama Siwa, yang mendirikan sebuah linga di bukit Sthīranga. Selain Prasasti Canggal, nama Sanjaya disebut di Prasasti Mantyasih yang dikeluarkan oleh Rakai Watukura Dyah Balitung tahun 907 Masehi. Dalam Prasasti Mantyasih terdapat daftar nama raja-raja yang memerintah di Medang (rahyangta rumuhun ri mdang ri poh pitu). Dalam daftar tersebut, Rakai Matarām Sang Ratu Sanjaya disebut pertama, yang kemudian diikuti oleh sederetan nama raja yang bergelar Śri Mahārāja (Soemadio II, 1993:100 dst).

Rakai Matarām Sang Ratu Sanjaya dianggap sebagai pendiri dinasti Sanjaya (Sanjayavamśa) yang berkuasa di kerajaan Matarām. Namun penelitian yang me- rekonstruksi jalannya sejarah Matarām kuna, telah menghasilkan nama Śailendravamśa di samping Sanjayawamśa. Śailendrawamśa ditemui dalam beberapa prasasti, antara lain dalam Prasasti Kalasan (700 Saka/778 Masehi), Prasasti Kalurak (704 Saka/782 Masehi), Prasasti Abhayagiriwihara dari bukit Ratu Baka (714 Saka/792 Masehi), Prasasti Kayumwungan (824 Masehi), dan sebagainya.

Berita prasasti sangatlah penting untuk penelitian arkeologi, namun banyak- nya jumlah prasasti tidak menjamin dapat mengungkapkan data yang kita harapkan untuk diketahui. Misalnya perihal kerajaan Matarām Kuna masih banyak masalah yang belum terungkap:

  1. Siapakan pendiri Sanjayavamśa dan siapakah pendiri Śailendrawamśa?
  2. Ada berapa wangsa-kah di wilayah Jawa Tengah periode Matarām Kuna?
  3. Benarkan raja kedua dalam daftar Prasasti Mantyasih yaitu Śri Mahārāja Panangkaran berganti agama, yang semula beragama Siwa beralih memeluk agama Buddha Mahayana?

    Dalam makalah ini tidak akan dibicarakan lagi pendapat-pendapat tersebut, kecuali pendapat Boechari, yang mengemukakan hanya ada satu dinasti di Matarām Kuna, karena Rakai Panangkaran lengkapnya Rakai Panangkaran Dyah Śankhara Śri Sangramadhananjaya adalah anak Sanjaya yang berganti agama dari agama Siwa ke agama Buddha Mahayana. Pendapat Boechari ini berdasarkan pem- bacaannya pada sebuah prasasti yang dipahat di atas batu dan dijadikan koleksi Bapak Adam Malik. Prasasti berbahasa Sansekerta ini bagian atas rusak sehingga tidak ada nama prasasti atau pun angka tahunnya. Boechari memberi nama prasasti Śankhara, sesuai dengan nama anak raja pada prasasti tersebut, dan usia prasasti diperkirakan antara Prasasti Canggal dan Prasasti Hampran (750 Masehi) (Soemadio II, 1993:102-103). Prasasti Śankhara pernah ditranskripsi dan di- terjemahkan oleh Boechari, tetapi belum diterbitkan.2)

Secara garis besar Prasasti Śankhara membicarakan ayah Śankhara yang sangat patuh kepada gurunya, memberi “emas yang enam” kepada Śankhara dengan sebuah janji (?) yang harus dipenuhi. Kemudian ayah Śankhara jatuh sakit selama 8 hari kemudian meninggal. Melihat keadaan itu, Śankhara menjadi takut pada “guru yang tidak benar” lalu meninggalkan agama Siwa dan memeluk agama Buddha Mahayana.

Menurut Boechari, ayah Śankhara adalah raja Sanjaya, sedangkan Śankhara sendiri adalah Rakai Panangkaran, ia me- mindahkan pusat kerajaannya ke timur. Letak ibu kotanya yang baru, kemungkinan di sekitar Sragen, di sebelah timur Bengawan Solo atau di daerah Purwodadi/Grobogan. Setelah itu ia membangun beberapa candi Buddha, yaitu candi Kalasan, Sewu, Plaosan Lor, dan sebagainya. Dari uraiannya tersebut Boechari telah mengidentifikasikan Panang- karan dengan “Śailendrawanśatilaka” yang disebut dalam beberapa prasasti, bahkan menurut Boechari, apabila Panangkaran identik dengan Śailendravamśatilaka, maka seperti yang tertera dalam Prasasti Nalanda, ia berputera Samaragravira dan Balaputra-dewa, raja Sriwijaya, adalah cucunya (Soemadio II, 1993:109-110).

Pendapat bahwa Rakai Panangkaran berpindah agama, menurut Boechari tertera dalam Prasasti Śankhara, khususnya bait 3 yang diawali dengan kalimat:

So ‘yam tyaktānyabhaktir jagadaśi- vaharāc chamkarāc chamkarākhyah… Terjemahannya sebagai berikut: “Ia, yang bernama Śankhara, setelah meninggalkan kebaktian kepada (dewa) yang lain, dari Śankhara yang melenyapkan ketidak- tenteraman di dunia”3).

Pada dasarnya penulis setuju dengan terjemahan tersebut di atas, hanya ada sedikit perbedaan, sebagai berikut:

“Ia yang bernama Śankhara, yang kebaktiannya ke yang lain telah ditinggalkan, daripada Śankhara, Siwa yang menguasai dunia….”4)

Dari terjemahan tersebut, penulis meragukan bahwa Śankhara berpindah agama, apalagi ke agama Buddha Mahayana. Pendapat ini diperkuat oleh syair pada bait 4, dikatakan setelah ia mendirikan prasāda untuk Dhātŗ, ia membicarakan moksa yang merupakan kebahagiaan tertinggi. Moksa diperoleh oleh para vratin (pertapa) yang suci melalui pengetahuan (jñāna), yang diperoleh dari puteri Dhātŗ (Saraswati ?). (śreyo moksān na param adhikam kathyate jñānavidbhir, moksās so’pi vratibhir anaghair labhyate jñānahetoh , tac ca jñānam vratibhir amalam labhyate yat prasādād, dhatuh putrī janaya tu(s)tarām vanditā (n)ah kavitvam).

Konsep moksa tidak dipakai dalam agama Buddha. Demikian pula pada bait penutup selain Bhiksu dan Sanggha, disebut tokoh/ kelompok lain, yaitu puteri Dhātŗ, vratin, kulapati, raja (nrpatir) pelindung para Dasyu, sehingga dengan menyebut Buddha dan Bhiksu tidak menjamin raja beragama Buddha. Bagian ini sebagai penutup prasasti yang mendoakan semua yang disebut bernasib baik.

Perlu dikemukakan disini, pada baris selanjutnya (pada bait 3) terdapat kata “anŗtagurubhayas”6) yang diartikan “takut pada guru yang tidak benar” (Soemadio II, 1993:109), kemungkinan terkait dengan janji Śankhara yang disebut pada awal-awal prasasti. Tidak jelas isi janjinya, kemung- kinan Śankhara berjanji kepada guru mem- buatkan bangunan suci untuk Dhātŗ dengan “emas yang enam” itu sebagai biayanya, dengan harapan agar ayahnya sembuh? Tetapi ketika ayahnya meninggal, Śankhara menyalahkan gurunya, yang disebut anŗtaguru-. Namun kemudian, karena takut pada gurunya, ia dengan kemauannya sendiri (svātmabuddhes) memenuhi janjinya dengan membuat prāsāda tersebut.

Untuk memperkuat pendapat bahwa Panangkaran bukan raja dari dinasti Śailendra dan tidak beragama Buddha, akan penulis sampaikan terjemahan Prasasti Kalasan, prasasti berbahasa Sansekerta, memakai huruf Pra-Nagari dari tahun 700 Saka/778 Masehi, sebagai berikut:
Namo bhagavatyai āryātārāyai

  1. yā tārayatyamitaduhkhabhavādbhi magnam lokam vilokya vidhivattrividhair upayaih Sā 8) vah surendranaralokavi bhūtisāram tārā diśatvabhimatam jagadekatārā
  2. āvarjya 9) mahārājam dyāh pañcapanam panamkaranām Śailendra rājagurubhis tārābhavanam hi kāritam śrīmat
  3. gurvājñayā kŗtajñais 10) tārādevī kŗtāpi tad bhavanam vinayamahāyānavidām bhavanam cāpyāryabhiksūnām
  4. pangkuratavānatīripanāmabhir ādeśaśastribhīrājñah Tārābhavanam kāritam idam api cāpy āryabhiksūnam
  5. rājye pravarddhamāne 11) rājñāh śailendravamśatilakasya śailendrarajagurubhis tārābhavanam kŗtam kŗtibhih
  6. śakanŗpakālātītair varsaśataih saptabhir mahārājah akarod gurupūjārtham 12) tārābhavanam panamkaranah
  7. grāmah kālasanāmā dattah samghāyā sāksinah kŗtvā pankuratavānatiripa desādhyaksān mahāpurusān
  8. bhuradaksineyam 13) atulā dattā samghāyā rājasimhena śailendrarajabhūpair anuparipālyārsantatyā
  9. sang pangkurādibhih sang tāvānakādibhih sang tīripādibhih pattibhiśca sādubhih , api ca,
  10. sarvān evāgāminah pārthivendrān bhūyo bhūyo yācate rājasimhah, sāmānyoyam dharmmasetur narānām kāle kāle pālanīyo bhavadbhih
  11. anena punyena vīhārajena pratītya jāta 14) arthavibhāgavijñāh bhavantu sarve tribhavopapannā janājinānām anuś?sanajñāh
  12. kariyānapanamkaranah śrimān abhiyācate bhāvinŗpān, bhūyo bhūyo vidhivad vīhāraparipālan ārtham iti.

Terjemahan:

Hormat untuk Bhagavatī Ārya Tārā

  1. Setelah melihat mahluk2 di dunia yang tenggelam dalam kesengsaraan, ia menyeberangkan (dengan) Tiga Pe- ngetahuan yang benar, Ia Tarā yang menjadi satu-satunya bintang pedoman arah di dunia dan (tempat) dewa-dewa.
  2. Sebuah bangunan suci untuk Tārā yang indah benar2 telah disuruh buat oleh guru- guru raja Śailendra, setelah memperoleh persetujuan Mahārāja dyāh Pancapana anamkarana
  3. Dengan perintah guru, sebuah bangunan suci untuk Tārā telah didirikan, dan demikian pula sebuah bangunan untuk para bhiksu yang mulia ahli dalam ajaran Mahāyana, telah didirikan oleh para ahli
  4. Bangunan suci Tārā dan demikian juga itu (bangunan) milik para bhiksu yang mulia telah disuruh dirikan oleh para pejabat raja, yang disebut Pangkura, Tavana, Tiripa.
  5. Sebuah bangunan suci Tārā telah didirikan oleh guru-guru raja Śailendra di kerajaan Permata Wangsa Śailendra yang sedang tumbuh
  6. Mahārāja Panangkarana mendirikan bangunan suci Tārā untuk menghormati guru pada tahun yang telah berjalan 700 tahun.
  7. Desa bernama Kalasa telah diberikan untuk Samgha setelah memanggil para saksi orang-orang terkemuka penguasa desa yaitu Pangkura, Tavana, Tiripa.
  8. Sedekah “bhura” yang tak ada bandingannya diberikan untuk Sangha oleh “raja yang bagaikan singa” (rājasimha-) oleh raja-raja dari wangsa Śailendra dan para penguasa selanjutnya berganti-ganti.
  9. Oleh para Pangkura dan pengikutnya, sang Tavana dan pengikutnyam sang Tiripa dan pengikutnya, oleh para prajurit, dan para pemuka agama, kemudian selanjutnya,
  10. “Raja bagaikan singa” (rājasimhah) minta berulang-ulang kepada raja-raja yang akan datang supaya Pengikat Dharma agar dilindungi oleh mereka yang ada selama-lamanya.
  11. Baiklah, dengan menghibahkan vihara, segala pengetahuan suci, Hukum Sebab Akibat, dan kelahiran di tiga dunia (sesuai) ajaran Buddha, dapat difahami.
  12. Kariyana Panangkarana minta berulang -ulang kepada yang mulia raja-raja yang akan datang senantiasa melindungi vihara yang penting ini sesuai peraturan.

Berdasarkan terjemahan prasasti tersebut, dalam Prasasti Kalasan terdapat dua orang raja, yaitu Śri Mahārāja Dyāh Pancapana Panamkarana dan raja Śailendravamsatilaka (permata wangsa Śailendra). Bahwa ada dua orang raja pada Prasasti Kalasan, telah dikemukakan oleh Van Naerssen (1947) dan J.G.de Casparis (1950). Menurut mereka, Rakai Panangkaran adalah raja bawahan raja Śailendravamsatilaka, yang disuruh membangun Tārābhavanam untuk raja Śailendra (Sumadio II, 1984:89-90). Namun sebalik- nya, menurut pendapat penulis, justru Śailendravansatilaka-lah raja bawahan Panangkaran, dengan alasan sebagai berikut:

  1. Rakai Panangkaran bergelar “Śri Mahārāja”, sedangkan Śailendravam-śatilaka bergelar “rāja” saja
  2. Tārābhavanam didirikan “di kerajaan Śailendravamśatilaka yang sedang tumbuh/ berkembang” (5. rājye pravard dhamane rājñah śailendravamśatila- kasya ….).
  3. Untuk mendirikan bangunan suci itu pun raja Śailendra mengutus guru-gurunya minta perkenan Śri Mahārāja dyāh Pancapana Panamkarana. Kalau Panangkaran raja bawahannya, mengapa ia harus minta ijin pada Panangkaran terlebih dulu?
  4. Usaha guru-guru itu disetujui oleh Panangkaran untuk tujuan “gurupūjārtham” yang berarti “ber- tujuan menghormat Guru”. Dengan demikian persetujuan Panangkaran untuk mendirikan Tārābhavanam adalah “untuk menghormat guru” (guru- pūjārtham) yang menghadap Panang- karan untuk minta perkenan mendirikan Tarabhavanam, dan bukan karena Panangkaran beragama Buddha Maha- yana yang berkepentingan dengan pemujaan di Tārābhavanam tersebut. Bahwa seorang raja bawahan maupun rakyat tidak harus mempunyai agama yang sama dengan rajanya, dibuktikan oleh banyaknya sisa-sisa candi Saiwa di sekitar candi Borobudur. 15)
  5. Dari prasasti Kalasan ini kita ketahui raja Śailendravamśatilaka, mungkin baru datang atau baru mendirikan kerajaannya, dan menjadi raja bawahan Śri Mahārāja Panangkaran, seorang raja Sanjayavamśa., anak raja Sanjaya.

Selanjutnya Raja Śailendravamśa- tilaka disebut dalam beberapa prasasti, yaitu Prasasti Kelurak (782 Masehi), Prasasti Abhayagirivihara di bukit Ratu Baka (792 Masehi), Prasasti Kayumwungan (824 Masehi), Prasasti Ligor B (775 Masehi), dan Prasasti Nalanda (abad 9). Dalam Prasasti Kelurak, Śailendravamsatilaka yang bergelar Śri Wirawairimathana (pembunuh musuh yang gagah berani), ia mendirikan sebuah bangunan suci untuk Mañjusri atau Mañjugosha, diresmikan oleh gurunya pendeta Kumaragosha yang datang dari Gaudidvipa. Bangunan suci yang disebut dalam Prasasti Kelurak adalah candi Sewu, walaupun bukan bentuknya yang sekarang, karena candi Sewu dibangun tiga kali (Kusen, 1991-1992:57; Santiko, 2010).

Rupanya raja Śailendravamśatilaka tahun 782 keadaannya sudah lebih baik daripada saat mendirikan Tārābhavanam di “grāma-kālasanāma–” tahun 778 Masehi. Pada Prasasti Nalanda dari raja Devapaladeva dari abad 9, kita jumpai nama Śailendravamśatilaka yang bergelar Śri Viravairimathana. Ia raja Jawa, berputera Samaratunga yang kawin dengan Tārā, anak raja Dharmasetu dari Somawamśa. Dari pernikahan ini lahirlah raja Balaputradewa, raja Sriwijaya, yang beragama Buddha, dan telah mendirikan sebuah vihara di Nalanda (Sumadio II, 1993:112).

Dengan adanya pendapat 2 dinasti di Jawa tengah, maka Samaratungga bukan anak Panangkaran, melainkan anak raja Śailendravamśatilaka yang memerintah di Jawa. Bagaimana kelanjutan hubungan kedua dinasti raja tersebut, hingga kini berbagai penelitian masih mengikuti pendapat De Casparis tentang terjadinya hubungan pernikahan antara Rakai Pikatan (Sanjaya- vamśa) dengan Pramodhawarddhani, puteri Samarotungga (De Casparis 1956).

Penutup

Berdasarkan terjemahan Prasasti Kalasan (700 Saka/778 Masehi), di wilayah Jawa Tengah abad 8-10 terdapat 2 dinasti, yaitu dinasti Sanjaya (Sanjayavamśa) dan dinasti Śailendra (Śailendravamśa). Raja Śailendravamśa ketika itu berkedudukan sebagai raja bawahan Śri Mahārāja Dyāh Pancapana Panangkarana. Oleh karenanya untuk mendirikan Tārābhavanam di kerajaan- nya sendiri pun yang dikatakan sedang berkembang / tumbuh (…rājye pravarddhamane…), ia harus minta ijin terlebih dahulu ke Śri Mahārāja Panam- karana, melalui guru-gurunya.

Rakai Panangkaran tidak beralih agama, ia menyetujui pendirian Tārā- bhavanam untuk “menghormati” para guru (gurupūjārtham). Mungkin hal ini pulalah alasan yang dipakai oleh raja Śailendra untuk mengirim guru-gurunya minta perkenan Maharaja Panangkaran untuk mendirikan Tarabhavanam.

Catatan:

 

1)  Nama Holing kita kenal dari berita Cina dari dinasti Tang (618-906 Masehi), yang menyebut Jawa dengan Holing sampai tahun 818 Masehi, kemudian berubah menjadi She- p’o. Selain berita Cina tidak (belum?) ditemukan prasasti yang menyebut/ membicarakan Holing.

 

2)  Transkrip dan terjemahan sementara dari Prof.Boechari, penulis dapat dari Dr Ninie Susanti.

 

3)  Penulis tidak yakin benar apakah terjemahan ini adalah terjemahan Boechari.

 

4)  Kata “hara” dari akar hr, berarti “mengambil, mengangkat, membawa, menguasai”, tetapi dalam kitab-kitab Purāna, Siwa sebagai “Hara” juga berarti “melenyapkan kesusahan”

 

5)  Dhātŗ adalah nama lain dewa Brahmā, tetapi puteri Brahmā, tidak pernah disinggung baik dalam Purāna, maupun mitos, kalau isteri Brahma, yaitu Saraswati sering disinggung, mungkin Dhatr disini yang dimaksud adalah Saraswati, apalagi ia memberi wejangan para Vratin dalam usaha mencapai moksa.

 

6)  Pada transkrip yang penulis dapat, kata ini berbunyi “amŗtagurubhayas” bukan “anŗtagurubhayas”.

 

7)  Transkripsi prasasti Kalasan penulis memakai trankripsi Himansu Bhusan Sarkar (l971)

yang dibandingkan dengan transkripsi Lokesh Chandra (1974).

 

8)  Korelasi “sah….yah” diterjemahkan dengan “ia….yang”, ia …itu”

 

9)  Kata āvarjya, dari akar vrj+ā, dalam bentuk absolutif.

 

10)  Kata “krtajnais-“ mempunyai arti yang sama dengan “karmajnais-“ dalam prasasti Dinoyo yang berarti “para ahli” (Sarkar, 1971: 39, catatan no.37).

 

11)  Kata “pravarddhamane” dari akar vŗdh yang berarti tumbuh, dibentuk dalam partisipium aktif dengan akhiran kasus lokatif karena menjelaskan “rājye”, yang berarti “ di kerajaan yang sedang tumbuh/berkembang”.

 

12)  “ gurupūjārtham” berarti “ bertujuan menghormat guru “

 

13)  Bhuradaksina, kata “bhura” ada beberapa arti, banyak, luas, bersinar

 

14)  Kata pratītyajata-, menurut Lokesh Chandra (1994:73) pengertiannya disamakan dengan pengertian pratītyasamutpada-

 

15)  Pada tahun 1973 dan 1975, penulis melakukan survei di sekitar candi Borobudur dalam radius 10 km (tahun 1973) dan dalam radius 5 km (tahun 1975) dengan memakai laporan N.J.Krom dan Verbeek (1914-1924) sebagai acuan. Ternyata sekitar 50 (thn 1975 ada 30, dan selebihnya tahun 1973) terdapat sisa candi Saiwa dari batu bata ada di sekitar candi Borobudur, termasuk candi Bowongan (radius 3 km).

DAFTAR RUJUKAN

Boechari. Transkripsi Sementara Prasasti Batu Koleksi Bapak Adam Malik. Belumterbit.

Casparis, J.G.de, 1950. Inscriptie Uit de Sailendra-tijd (Prasasti Indonesia I). Bandung: Sumur.

Casparis, J.G.de. 1956. Selected Inscription from the 7th to the 9th Century AD. Bandung: Masa Baru.

Chandra, L. 1994. The Sailendra of Java, Journal of the Asiatic Society of Bombay, volume 67-68 (New Series).

Poesponegoro, M.D., dan Notosusanto, N. 1993. Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka.

Santiko, H. 2010. “Sifat Keagamaan Candi Sewu dan Candi Prambanan”, dalam Menjaga Warisan Umat Manusia, Pameran Candi Prambanan dan Candi Sewu.

Sarkar, H.B. 1971. Corpus of the Inscription of Java (up to 928 AD), vol I, Calcutta: Firma K.LMukhopadhyaya.

Van Naerssen. 1947. “The Sailendras Interregnum, dalam India Antiqua,” hal. 249.

Taken from here.

Amangkurat

Lagi tertarik dengan “Amangkurat” (akibat baca-baca soal Sultan Agung). Sayang, informasi dari Wikipedia terlalu flat untuk Amangkurat I, maka saya pun menjelalah dan menemukan tulisan ini:

Dalam pelajaran sejarah di sekolah, diajarkan kepada kita tentang kebesaran kerajaan-kerajaan di nusantara. Sriwijaya, Majapahit dan Mataram adalah kerajaan nusantara yang pernah memiliki wilayah yang sangat luas. Kerajaan Mataram memang tidak seluas Sriwijaya dan Majapahit, tapi wilayahnya mencakup hingga pulau Jawa dan Madura. Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo atau lebih dikenal dengan Sultan Agung merupakan raja Mataram terbesar yang bercita-cita mempersatukan nusantara. Pada masanya, kekuasaan Mataram mencapai Palembang di Sumatera dan Sukadana di Kalimantan. Sultan Agung juga menjalin hubungan diplomatic dengan Makassar, kerajaan terkuat di Sulawesi saat itu. Sultan Agung berhasil menjadikan Mataram sebagai kerajaan besar yang tidak hanya dibangun di atas pertumpahan darah dan kekerasan, namun melalui kebudayaan rakyat yang adiluhung dan mengenalkan sistem-sistem pertanian. Sultan Agung menaruh perhatian besar pada kebudayaan Mataram. Ia memadukan Kalender Hijriyah yang dipakai di pesisir utara dengan Kalender Saka yang masih dipakai di pedalaman. Hasilnya adalah terciptanya Kalender Jawa Islam sebagai upaya pemersatuan rakyat Mataram. Selain itu Sultan Agung juga dikenal sebagai penulis naskah berbau mistik, berjudul Sastra Gending. (sumber: Wikipedia) Namun sepeninggal Sultan Agung, Mataram mengalami kemunduran hingga masa keruntuhannya. Sunan Amangkurat I, penerus Sultan Agung, justru membawa Mataram pada sejarahnya yang paling kelam.

Dalam kitab Babad Tanah Jawi karangan Meinsma, masa pemerintahan Amangkurat I digambarkan sebagai berikut: “Ketika itu raja bertindak sekehendaknya sendiri, tidak seperti biasanya. Ia sering melakukan tindak kekerasan, dan selalu bermain siasat. Para Bupati, para mantri dan keluarga istana bertindak semaunya dengan menyalah-gunakan kedudukan mereka. Tertib bernegara rusak. Seluruh penduduk Mataram dirundung ketakutan. Sering terjadi gerhadan bulan dan matahari. Hujan menyalahi musim dan bintang berekor terlihat setiap malam. Terjadi pula hujan abu dan gempa bumi. Banyak pertanda jelek menampakkan diri. Ini semua petunjuk bahwa negara akan rusak.”

Ada empat episode yang ingin saya tuliskan, yang menandai sejarah kelam Sunan Amangkurat ketika memerintah Mataram.

1.Pemindahan ibukota dari Karta ke Plered Sifat-sifat otoriter Amangkurat telah terlihat setelah ia terpilih jadi Sultan Mataram tahun 1646 M. Pertama-tama ia memindahkan ibukota kerajaan dari Kota Gede ke Plered tahun 1647 M. Kepada rakyatnya ia memerintahkan “Kamu semua harus membuat batu bata, karena saya mau angkat kaki dari Karta, saya ingin membangun kota di Plered” (Meinsma, 1874). Berbeda dengan keraton di Karta (Kota Gede) yang terbuat dari kayu, kali ini Amangkurat I membangun Keraton yang terbuat dari batu bata dan dikelilingi parit besar. Pada tahun 1668, ketika utusan Belanda, Abraham Verspreet mengunjungi keraton Plered, ia menggambarkan keraton tersebut sebagai sebuah pulau di tengah danau. Pemindahan ibukota dengan bentuk keratonnya yang dikelilingi parit besar ini di kemudian hari ternyata secara tepat menggambarkan kepribadian Amangkurat yang terasing dari rakyatnya. Hal ini juga menandakan ketakutannya yang akut akan keamanan dirinya, yag sebenarnya merupakan buah dari pemerintahannya yang otoriter dan kekejamannya yang tak terperikan. Sebuah laporan umum VOC di Batavia tahun 1659, menyatakan keyakinannya bahwa apabila peperangan terjadi, Sang Sultan “tidak akan mudah meninggalkan istana Mataram karena di luar istana itu ia tidak merasa aman; dan ia pun tidak akan mempercayakan sebagian kekuatan tentaranya kepada pembesar manapun, karena kelaliman pemerintahan yang dilakukannya menjadikan ia ditakuti dan dibenci setiap orang”. (sumber: Sejarah Gelap Mataram)

2.Korban-korban Pemerintahannya yang Otoriter Masa pemerintahan Sunan Amangkurat I dipenuhi dengan drama politik yang mencekam. Siasat dan intrik politik, pengkhianatan, pembunuhan dan pemberontakan terjadi silih berganti. Pada masanya, banyak pembunuhan dilakukan untuk membungkam siapa saja yang menentang pemerintahannya. Sebaliknya, banyak pula pemberontakan yang dilakukan oleh penguasa lokal yang sebelumnya setia di bawah pemerintahan Sultan Agung. Korban pertama pembunuhan yang dilakukan di awal pemerintahannya adalah Tumenggung Wiraguna, yang sebenarnya merupakan abdi dalem senior di masa Sultan Agung. Pada awal pemerintahannya, Amangkurat mengirim Tumenggung Wiraguna untuk menumpas ekspansi pasukan Bali di Blambangan. Di tempat yang jauh dari keluarga dan para pendukungnya itu, Wiraguna dibunuh. Tidak hanya itu, Amangkurat juga memerintahkan untuk membunuh semua yang terlibat mendukung Tumenggung Wiraguna.Perintah tersebut mengakibatkan terbunuhnya banyak wanita dan anak-anak yang tak bersalah, termasuk keluarga Tumenggung. Adik Amangkurat, Pangeran Alit merasa turut terancam karena sebenarnya ia termasuk ke dalam kelompok Tumenggung Wiraguna. Ketika seluruh teman-teman terbaiknya telah dibantai, Pangeran Alit mulai mendekati ulama-ulama untuk meminta perlindungan. Di saat yang sama ia mengumpulkan kawan-kawannya untuk melancarkan serangan terhadap sang Kakak. Dalam sebuah pertempuran yang tak seimbang, pasukan Amangkurat dengan mudah menghabisi pasukan pendukung Pangeran Alit, hingga menyisakan Pangeran Alit seorang. Menurut catatan Belanda yang dipercaya, Amangkurat akhirnya membiarkan para mantrinya untuk membunuh Pangeran Alit atas alasan “pembelaan diri”. Dengan itu bersihlah tangan sang Amangkurat dari darah adiknya sendiri. Pada tahun 1659, Amangkurat kembali melakukan pembunuhan. Kali ini terhadap mertuanya sendiri, Pangeran Pekik beserta anggota keluarganya yang dituduh merencanakan pembunuhan terhadap Amangkurat. Pangeran Pekik dari Surabaya dibantai bersama dengan sebagian besar anggota keluarganya pada 1659. Paman raja pun, yang merupakan saudara laki-laki Sultan Agung, Pangeran Purbaya, hampir saja dibunuh. Beruntung ibu suri kerajaan turun tangan untuk menyelamatkannya.

3.Ribuan Santri dan Ulama Dibantai Kekejaman Amangkurat yang semakin merajalela tak hanya memperbanyak musuh dan melahirkan pemberontakan penguasa-penguasa lokal, namun juga menumbuhkan perlawanan rakyat. Dan perlawanan rakyat semakin menguat dengan dukungan moral dari para ulama. Terlebih, kekuasaan Amangkurat yang berkolaborasi dengan kepentingan VOC, semakin menambah kebencian dan perlawanan rakyat, yang didukung para ulama. Puncaknya, karena perlindungan para ulama kepada Pangeran Alit, maka Amangkurat beralih mengarahkan permusuhannya kepada para ulama. Amangkurat I mendaftar para ulama terkemuka beserta keluarga dan pengikutnya. Mereka kemudian dikumpulkan di halaman istana lalu dibantai. Menurut seorang pejabat VOC Rijklof van Goens, antara 5000 dan 6000 orang pria, wanita, dan anak-anak tewas dalam peristiwa itu. (sumber: Amangkurat I, Raja Tiran dari Tanah Jawa)

4.Kematiannya yang Tragis Di antara pemberontakan-pemberontakan yang muncul karena penentangannya terhadap kekuasaan Amangkurat, muncul kekuatan baru yang dipimpin Trunojoyo dari Madura menentang kekuasaan Mataram. Kekuatan Trunojoyo bertambah kuat seiring meningkatnya ketidakpuasan para pejabat dan masyarakat Mataram terhadap Amangkurat. Untuk menghadapi kekuatan Trunojoyo, Amangkurat mulai mendekati VOC untuk membantunya. Pada bulan Desember 1676 VOC mengutus Speelman ke Jepara dengan 1200 orang tentara untuk membantu angkatan perang Amangkurat. Sebagai gantinya, VOC menuntut Amangkurat mengganti kerugian perang dan memberikan sebagian daerah kekuasaanya. Singkatnya, tanggal 28 Juni 1677 pasukan Trunajaya berhasil mengalahkan kekuatan Mataram-VOC dan memasuki keraton Plered. Namun sebelumnya, Amangkurat I beserta beberapa anggota keluarga dan putranya telah melarikan diri dari Keraton, dan bermaksud menuju Batavia untuk berlindung ke Belanda. Sialnya, di Karanganyar, rombongan raja dirampok oleh warga desa yang tidak tahu identitas mantan junjungannya tersebut. Ia pun harus rela menyerahkan emas dan uang yang dibawanya. Dalam pelariannya, Amangkurat I jatuh sakit. Menurut Babad Tanah Jawi, kematiannya dipercepat oleh air kelapa beracun pemberian putranya, Mas Rahmat. Meski demikian, ia tetap menunjuk Mas Rahmat sebagai raja selanjutnya, tapi disertai kutukan bahwa keturunannya kelak tidak ada yang menjadi raja, kecuali satu orang dan itu pun hanya sebentar. Akhirnya Amangkurat I meninggal di desa Wanayasa, Banyumas. Raja yang semasa jayanya pernah membantai ribuan ulama itu, dishalatkan lalu dibawa ke Tegalwangi. Pada 13 Juli 1677, Amangkurat I dikebumikan di Tegalwangi. Tiga belas serdadu VOC menghadiri pemakamannya (taken from here).

Saya tambahkan artikel pendukung tulisan diatas:

AMANGKURAT I: RAJA TIRAN DARI TANAH JAWA

Mataram adalah salah satu kerajaan besar yang pernah berdiri di tanah Jawa. Selain kehadirannya yang bertepatan dengan masa VOC, raja-raja yang memerintah Mataram pun terkenal ambisius dan haus kekuasaan.

Mataram berdiri akhir abad ke-15 lewat serangkaian suksesi berdarah, yang mewarnai pergeseran kekuasaan di Jawa pasca runtuhnya imperium Majapahit. Kerajaan baru itu hanya perlu enam dasawarsa untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil yang bertebaran di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur pasca berakhirnya imperium Majapahit. Penaklukan ini mewariskan ketegangan politik, ekonomi, dan budaya yang berlarut-larut sesudahnya.

Kesuksesan politik ekspansi Mataram mencapai puncak ketika Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613-1646) memerintah. Dialah raja terbesar dinasti Mataram. Pada masa pemerintahannya, wilayah kekuasaan Mataram meliputi seluruh Jawa Madura (kecuali Batavia dan Banten) dan beberapa daerah di luar Jawa, seperti Palembang, Jambi, dan Banjarmasin. Selain dikenal sebagai raja yang sukses dan kreatif, Sultan Agung dikenal pula sebagai raja yang ambisius dan brutal tatkala menghadapi lawan-lawan politiknya.

Kisah Mataram yang paling menarik justru terjadi pada masa pemerintahan Susuhunan Amangkurat I alias Sunan Tegalwangi (1645-1677), putra sekaligus pewaris tahta Sultan Agung. Masa pemerintahannya terkenal penuh intrik. Amangkurat I lebih banyak mewarisi kebrutalan saja, tanpa mewarisi kreativitas dan sukses ayahnya. Kalau Sultan Agung menaklukkan, membujuk dan melakukan manuver politik guna mencapai ambisinya, Amangkurat I hanya bisa menuntut dan membunuh. Ia tidak menghiraukan keseimbangan politik yang diperlukan untuk memimpin negeri penuh intrik seperti Mataram pada masa itu. Ia memusatkan kekuasaan hanya untuk memenuhi kepentingannya sendiri.

Menurut sejarawan Belanda, Prof. H.J. de Graaf, masa pemerintahan Amangkurat I adalah masa penuh teror. Raja tiran ini melumuri tangannya dengan darah ribuan ulama, saudara-saudaranya, pejabat bawahannya, bahkan istri-istri dan anak-anak. Tak heran bila kemudian muncul barisan sakit hati di kalangan pendukung kerajaan: para bangsawan istana, pembesar negara, bangsawan di daerah taklukan, serta kaum agamawan.

Senada dengan yang diungkapkan de Graaf, penulis Babad Tanah Djawi (kitab sejarah Kerajaan Mataram) mengungkapkan, “Pada zaman itu, semua yang diinginkan sang nata (raja) bertentangan dengan adat. Beliau sering menggunakan kekerasan terhadap orang lain dan sering menjatuhkan hukuman mati di depan umum. Para bupati, mantri, dan pangeran saling mencuri lungguh (tanah). Tata kerajaan semakin lama semakin hancur…”. Kejayaan Mataram yang susah payah dibangun Sultan Agung, diruntuhkan sendiri oleh anaknya yang tidak terkendali.

“KEBIJAKAN” SANG RAJA

Amangkurat I memperlihatkan perangai buruknya sejak awal pemerintahannya. Pada 1637, ketika masih berstatus sebagai putra mahkota, dia terlibat skandal yang melibatkan istri seorang abdi dalem senior, Tumenggung Wiraguna. Pada 1647 Amangkurat mengutus Wiraguna ke Ujung Timur untuk menghadapi pasukan Bali. Namun, belum sempat ia menunaikan tugasnya, orang-orang suruhan Amangkurat I membunuhnya di perjalanan. Sesudah itu, keluarga Wiraguna di Mataram, para pengikutnya, dan orang-orang yang terlibat skandal tahun 1637 ditumpas habis, termasuk saudaranya sendiri Pangeran Alit.

Sebelum terbunuh, Pangeran Alit sempat meminta perlindungan kepada para ulama. Akibatnya Amangkurat I berganti memusuhi para ulama. Amangkurat I mendaftar para ulama terkemuka beserta keluarga dan pengikutnya. Mereka kemudian dikumpulkan di halaman istana lalu dibantai. Menurut seorang pejabat VOC Rijklof van Goens, antara 5000 dan 6000 orang pria, wanita, dan anak-anak tewas dalam peristiwa itu.

Di antara orang terkemuka yang menjadi korban keberingasan raja adalah ayah mertuanya sendiri, Pangeran Pekik dari Surabaya yang dibantai bersama dengan sebagian besar anggota keluarganya pada 1659. Paman raja pun, yang merupakan saudara laki-laki Sultan Agung, Pangeran Purbaya, hampir saja dibunuh. Beruntung ibu suri kerajaan turun tangan untuk menyelamatkannya.

Terbunuhnya Pangeran Pekik mengakibatkan hubungan raja dengan putranya memburuk. Pangeran Pekik adalah kakek si putra mahkota. Hubungan antara ayah dan anak tersebut semakin memburuk, setelah keduanya terlibat dalam perebutan wanita. Seperti halnya sang ayah, Adipati Anom—kelak naik tahta dengan gelar Amangkurat II (1677-1703)—terkenal ambisius dan sangat doyan “main” perempuan. Ia kerap menghabiskan malam-malamnya dengan para selir dan putri-putri istana.

Rijklof van Goens yang diutus VOC kepada Amangkurat I, dibuat geleng-geleng kepala melihat “kemampuan” raja dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya. Ia mengatakan, sebagaimana dikutip Onghokham dan MC Ricklefs: “Sistem pemerintahan semacam ini tidak pernah terbayangkan di Belanda, …orang-orang tua dibunuh untuk melowongkan tempat-tempat bagi mereka yang muda”.

Amangkurat I sempat mengungkapkan kepada van Goens bahwa ia harus melakukan segala macam cara untuk menjaga kestabilan kerajaan, termasuk dengan membantai lawan-lawan politiknya, atau mereka yang dicurigai akan mengganggu keamanan. Amangkurat I pun mengungkapkan bahwa rakyat tidak mempunyai hak untuk mendapatkan kemakmuran. Karena itu, dia tidak perlu mengindahkan kemakmuran mereka, sebab, kekuasaannya akan terancam kalau rakyatnya makmur dan pintar (Burger, 1962: 80).

Sebagai realisasi dari politiknya itu, pada 1641-1646, Raja melarang rakyatnya melakukan perdagangan antar pulau (laut). Perdagangan luar negeri hanya dapat dijalankan bila ada izin dari raja. Saat itu, raja lah yang memegang monopoli perdagangan beras. Orang yang berani mengeksport beras akan dijatuhi hukuman mati.

Untuk memperkaya diri, Amangkurat I menerapkan pajak yang tinggi kepada rakyat dan kerajaan-kerajaan taklukannya. Raja pun sangat senang bila mendapatkan hadiah-hadiah dari para bawahannya, termasuk dari VOC di Batavia yang memiliki kepentingan untuk mendapatkan suplay beras dari Mataram. Menurut sejarawan Australia, MC Rickleft, sebelum menjerat Mataram dengan utang dan perjanjian, VOC sering memberi hadiah raja dengan barang-barang mewah, seperti kuda, perhiasan, ataupun perempuan.

AKHIR KEHIDUPAN SANG RAJA

Gaya pemerintahannya yang despotis (menindas), mengakibatkan raja yang bergelar Sayyidin Panatagama ini selalu dihantui ketakutan. Dia tidak berani meninggalkan istananya di Plered yang dikawal ketat. Dia pun tidak berani mempercayakan pimpinan pasukan utama kepada orang lain. Dengan demikian, kekejamannya sedikit demi sedikit mulai melemahkan posisinya. Kondisi ini menyebabkan para sekutu dan vasal Mataram mulai berani melawan kekuasaan Amangkurat I.

Akhir kekuasaan Amangkurat I terbilang tragis. Jeratan VOC dan pemberontakkan yang dilakukan Trunajaya—yang awalnya berkolaborasi dengan putra mahkota—benar-benar meluluhlantakkan kekuasaannya. Dalam keadaan sakit, ia melarikan diri ke Jepara.  Sialnya, di Karanganyar, rombongan raja dirampok oleh warga desa yang tidak tahu identitasnya mantan junjungannya tersebut. Ia pun harus rela menyerahkan emas dan uang yang dibawanya.

Di Tegalwangi, tidak jauh dari kota Tegal kini. Raja yang semasa jayanya pernah membantai ribuan ulama itu, dishalatkan lalu dibawa ke Tegal. Pada 13 Juli 1677, Amangkurat I dikebumikan di Tegalwangi. Tiga belas sedadu VOC menghadiri pemakamnya (taken from here).

Walau demikian, kedua tulisan diatas belum tentu akurat informasinya. Namun untuk pencarian tahap awal (baru saja mulai Googling hari ini), keduanya cukup memberikan gambaran dasar.

Muncul & Berkembangnya Hindu Buddha

1. MUNCULNYA AGAMA HINDU di INDIA
Perkembangan agama Hindu-Budha tidak dapat lepas dari peradaban lembah Sungai Indus, di India. Di Indialah mulai tumbuh dan berkembang agama dan budaya Hindu dan Budha. Dari tempat tersebut mulai menyebarkan agama Hindu-Budha ke tempat lain di dunia. Agama Hindu tumbuh bersamaan dengan kedatangan bangsa Aria (cirinya kulit putih, badan tinggi, hidung mancung) ke Mohenjodaro dan Harappa (Peradaban Lembah Sungai Indus) melalui celah Kaiber (Kaiber Pass) pada 2000-1500 SM dan mendesak bangsa Dravida (berhidung pesek, kulit gelap) dan bangsa Munda sebagai suku bangsa asli yang telah mendiami daerah tersebut. Bangsa Dravida disebut juga Anasah yang berarti berhidung pesek dan Dasa yang berarti raksasa. Bangsa Aria sendiri termasuk dalam ras Indo Jerman. Awalnya bangsa Aria bermatapencaharian sebagai peternak kemudian setelah menetap mereka hidup bercocok tanam. Bangsa Aria merasa ras mereka yang tertinggi sehingga tidak mau bercampur dengan bangsa Dravida. Sehingga bangsa Dravida menyingkir ke selatan Pegunungan Vindhya.
Orang Aria mempunyai kepercayaan untuk memuja banyak Dewa (Polytheisme), dan kepercayaan bangsa Aria tersebut berbaur dengan kepercayaan asli bangsa Dravida yang masih memuja roh nenek moyang. Berkembanglah Agama Hindu yang merupakan sinkretisme (percampuran) antara kebudayaan dan kepercayaan bangsa Aria dan bangsa Dravida. Terjadi perpaduan antara budaya Arya dan Dravida yang disebut Kebudayaan Hindu (Hinduisme). Istilah Hindu diperoleh dari nama daerah asal penyebaran agama Hindu yaitu di Lembah Sungai Indus/ Sungai Shindu/ Hindustan sehingga disebut kebudayaan Hindu yang selanjutnya menjadi agama Hindu. Daerah perkembangan pertama agama Hindu adalah di lembah Sungai Gangga, yang disebut Aryavarta (Negeri bangsa Arya) dan Hindustan (tanah milik bangsa Hindu).

DEWA
Orang Arya percaya dan memuja banyak dewa (Polytheisme). Bagi mereka, tiap-tiap dewa merupakan lambang kekuatan terhadap alam sehingga perlu disembah/ dipuja dan dihormati. Contoh dewa dalam kepercayaan bangsa Arya:
Pretivi sebagai dewa Bumi, Surya sebagai Dewa Matahari, Vayu sebagai Dewa Angin, Varuna sebagai Dewa Laut, Agni sebagai Dewa Api.
Dalam ajaran agama Hindu dikenal 3 dewa utama, yaitu:
Brahma sebagai dewa pencipta segala sesuatu.
Wisnu sebagai dewa pemelihara alam
Siwa sebagai dewa perusak
Ketiga dewa tersebut dikenal dengan sebutan Tri Murti

KITAB SUCI
Kitab suci agama Hindu disebut Weda (Veda) artinya pengetahuan tentang agama. Pemujaan terhadap para dewa-dewa dipimpin oleh golongan pendeta/Brahmana. Ajaran ritual yang dijadikan pedoman untuk melaksanakan upacara keagamaan yang ditulis oleh para Brahmana disebut kitab Veda/Weda yang terdiri dari 4 bagian, yaitu:
•Reg Veda, berisi tentang ajaran-ajaran Hindu, merupakan kitab tertua (1500-900 SM) kira-kira muncul saat bangsa Aria ada di Punjab.
•Yajur Veda, berisi doa-doa yang dibacakan waktu diselenggarakan upacara agama, lahir saat bangsa Aria menguasai daerah Gangga Tengah.
•Sama Veda, berisi nyanyian puji-pujian yang wajib dinyanyikan saat diselenggarakan upacara agama.
•Atharwa Veda, berisi kumpulan mantera-mantera gaib, doa-doa untuk menyembuhkan penyakit. Doa/mantra muncul saat bangsa Arya menguasai Gangga Hilir.

Selain itu terdapat kitab-kitab sebagai berikut.
Kitab Brahmanas berisi pedoman ritual keagamaan bagi para Brahmana. Kitab Brahmana merupakan tafsir dari kitab Weda
Upanishad berisi khotbah-khotbah gaib. Kitab Upanisad berisi ajaran tentang cara-cara menghindarkan diri dari samsara.
Aranyakas berisi kitab untuk para pertapa.

Om merupakan simbol agama Hindu jika diucapkan secara sangat sakral sama saja dengan berdoa itu sendiri.

SISTEM KASTA
Sistem kemasyarakatan yang tercipta dalam masyrakat Hindu menurut Kitab Rig-Vega adalah sebagai berikut:
-Mereka hidup di desa, mata pencaharian mereka beternak dan bertani. Mereka mengenal pertenunan, pembuatan barang keramik dan pertukangan.
-Kepala pemerintahan tertinggi, raja yang berkuasa turun temurun. Dibantu dewan tertua dan kaum Brahmana.
-Mengenal pembagian masyarakat atas kasta-kasta tertentu, yaitu Brahmana, Ksatria, Waisya dan Sudra. Pembagian tersebut didasarkan pada tugas/ pekerjaan mereka.
•Brahmana bertugas mengurus soal kehidupan keagamaan, terdiri dari para pendeta.
Keberadaan kasta ini ada pada posisi paling penting dan punya pranan yang sangat besar bagi berjalannya pemerintahan. Mereka adalah orang yang paling mengerti menegnai seluk beluk agama Hindu, serta menjadi penasehat raja.
•Ksatria berkewajiban menjalankan pemerintahan termasuk pertahanan Negara. Yang termasuk dalam kasta ini adalah para bangsawan, raja dan keluarganya, para pejabat pemerintah. Kasta ini memiliki kedudukan yang penting dalam pemerintahan, punya banyak hak tetapi tidak memiliki kewajiban untuk membayar pajak, memberikan persembahan, dsb.
•Waisya bertugas berdagang, bertani, dan berternak. Mereka yang tergolong dalam kasta ini adalah para pedagang besar (saudagar),para pengusaha. Dalam golongan masyarakat biasa kasta ini cukup memiliki peran penting.
•Sudra bertugas sebagai petani/ peternak, para pekerja/ buruh/budak. Mereka adalah para pekerja kasar. Mereka mempunyai banyak kewajiban terutama wajib kerja tetapi keberadaannya kurang diperhatikan.
Di luar kasta tersebut terdapat kasta Paria terdiri dari pengemis dan gelandangan.

Pembagian kasta muncul sebagai upaya pemurnian terhadap keturunan bangsa Aria sehingga dilakukan pelapisan yang bersumber pada ajaran agama. Pelapisan tersebut dikenal dengan Caturwangsa/Caturwarna, yang berarti empat keturunan/ empat kasta. Pembagian kasta tersebut didasarkan pada keturunan. Dalam konsep Hindu sesorang hanya dapat terlahir sebagai Hindu bukan menjadi Hindu.
Perkawinan antar kasta dilarang dan jika terjadi dikeluarkan dari kasta dan masuk dalam golongan kaum Paria seperti bangsa Dravida. Paria disebut juga Hariyan dan merupakan mayoritas penduduk India.

KEMUNDURAN AGAMA HINDU
Pada abad ke 6 SM agama Hindu mengalami kemunduran (kemunduran bukan berarti hilang sama sekali) disebabkan oleh faktor-faktor, yaitu:
1.Kaum Brahmana terlalu memonopoli upacara keagamaan.
Masyarakat umum tidak tahu mengenai seluk beluk (detail) agama Hindu hanya pendetalah yang tahu karena mereka yang menguasai bahasa Sansekerta (bahasa yang digunakan dalam kitan suci Weda). Hal ini menyebabkan muncul rasa anti agama sebab seakan-akan agama Hindu hanya untuk kaum brahmana atau paling tidak kasta ksatria tapi untuk rakyat biasa tidak akan memberikan pengaruh baik.
2.Adanya sistem kasta dalam agama Hindu
Sistem kasta dalam agama Hindu membedakan derajat dan martabat manusia berdasarkan kelahirannya. Golongan Brahmana berada pada kasta tertinggi sementara Masyarakat biasa terutama Sudra berada pada kasta terendah yang dibebankan kewajiban yang berat. Karena kedudukannya tertinggi maka tak jarang kaum pendeta bertindak sewenang-wenang.
3.Timbul golongan yang berusaha mencari jalan sendiri untuk mencapai hidup abadi yang sejati. Golongan tersebut disebut golongan Buddha yang dihimpun oleh Sidharta.

B.MUNCUL dan BERKEMBANGNYA AGAMA BUDHA di INDIA
MASUKNYA AGAMA BUDHA DI INDIA
Agama Budha tumbuh di India tepatnya bagian Timur Laut. Muncul sekitar 525 SM. Agama Budha muncul dan dikenalkan oleh Sidharta (semua harapan dikabulkan). Agama Budha muncul disebabkan karena :
•Sidharta melihat adanya dominasi golongan Brahmana atas ajaran dan ritual keagamaan dalam masyarakat India. Lagipula hanya kaum brahmana yang menguasai kitab suci Weda sementara kasta lain tau mengenai ajaran Hindu dari Brahmana tanpa boleh mempelajari langsung ajaran Hindu. Dalam kegiatan pemerintahan pun Brahmana turut campur tangan.
•Sidharta memandang bahwa adanya sistem kasta dalam agama Hindu dapat memecah belah masyarakat, bahkan sistem kasta dianggap membedakan derajat dan martabat manusia berdasarkan kelahiran. Padahal setiap manusia itu sama kedudukannya.
Itulah fenomena yang ada di lingkungannya sementara itu satu hal yang membuat Sidharta akhirnya berusaha untuk menentang adat dan tradisi yang ada adalah karena beliau melihat adanya kenyataan hidup bahwa manusia akan tua, sakit, mati, dan hidup miskin yang intinya bahwa bagi Sidharta kehidupan adalah suatu “PENDERITAAN”. Oleh karena itu manusia harus dapat menghindarkan diri dari penderitaan (samsara), dan demi mencari cara atau jalan untuk membebaskan diri dari penderitaan guna mencapai kesempurnaan maka beliau meninggalkan istana dengan segala kemewahannya melakukan meditasi tepatnya di bawah pohon Bodhi di daerah Bodh Gaya. Dalam meditasinya tersebut akhirnya Sidharta memperoleh penerangan agung dan saat itulah terlahir/ tercipta agama Budha. Agama Budha lahir sebagai upaya pengolahan pemikiran dan pengolahan diri Sidharta sehingga menemukan cara yang terbaik bagi manusia agar dapat terbebas dari penderitaan di dunia sehingga dapat mencapai kesempuirnaan (nirwana) dan berharap tidak akan terlahir kembali di dunia untuk merasakan penderitaan yang sama.
Menurut agama Budha kesempurnaan (Nirwana) dapat dicapai oleh setiap orang tanpa harus melalui bantuan pendeta/ kaum Brahmana berbeda dengan ajaran Hindu dimana hanya pendeta yang dapat membuat orang mencapai kesempurnaan.
Dalam Budha, setiap orang mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk mencapai kesempurnaan tersebut asalkan ia mampu mengendalikan dirinya sehingga terbebas dari samsara 9kesengsaraan).
Sidharta Gautama dikenal sebagai Budha atau seseorang yang telah mendapat pencerahan. Sidharta artinya orang yang mencapai tujuan. Sidharta disebut juga Budha Gautama yang berarti orang yang menerima bodhi.

KITAB SUCI
Ajaran agama Budha dibukukan dalam kitab Tripitaka (dari bahasa Sansekerta Tri artinya tiga dan pitaka artinya keranjang). Kitab Tripitaka terdiri atas 3 kumpulan tulisan, yaitu :
1.Sutta (Suttanata) Pitaka berisi kumpulan khotbah, pokok-pokok atau dasar ajaran sang Buddha
2.Vinaya Pitaka berisi kodefikasi aturan-aturan yang berkenaan dengan kehidupan pendeta atau segala macam peraturan dan hukum yang menentukan cara hidup para pemeluknya.
3.Abhrdharma Pitaka berisi filosofi (falsafah agama), psikologi, klasifikasi, dan sistematisasi doktrin

KOTA SUCI
Ada 4 tempat yang dianggap suci oleh umat Budha karena berhubungan dengan kehidupan Sidharta. Keempat tempat tersebut adalah sebagai berikut :
1.Taman Lumbini di Kapilawastu sebagai tempat kelahiran Sidharta (563 SM). Sementara itu masa kecil Sidharta di lewatkan di daerah Kapilawastu tersebut.
2.Bodh Gaya sebagai tempat Sidharta menerima penerangan agung.
3.Benares (Taman Rusa) sebagai tempat Sidharta pertama kali mengajarkan ajarannya.
4.Kusinegara merupakan tempat wafat Sidharta (482 SM)
Peristiwa kelahiran, menerima penerangan agung dan kematian Sidharta terjadi pada tanggal yang bersamaan yaitu waktu bulan purnama pada bulan Mei. Sehingga ketiga peristiwa tersebut dirayakan umat Budha sebagai Triwaisak.

PERKEMBANGAN AGAMA BUDHA
Perkembangan Agama Budha mencapai puncaknya kejayaannya pada masa pemerintahan raja Ashoka dari Dinasti Maurya. Ia mampu menjadikan ¾ wilayah India menganut agama Budha dan Ia menetapkan agama Budha sebagai agama resmi negara. Perkembang agama Budha saat itu cepat serta dapat diterima masyarakat India. Selain faktor utama ini terdapat juga faktor pendukung diantaranya adalah sebagai berikut.
1.Penyebaran agama Budha dilakukan dengan mengunakan bahasa rakyat sehari-hari seperti bahasa Prakrit, dan bukan bahasa Sansekerta yang hanya dikuasai dan dimengerti oleh kaum Brahmana.
2.Ajaran agama Budha dapat diterima/ dianut dan disebarkan pada siapapun tidak hanya pada golongan tertentu sehingga dapat disebut ajaran Sidharta ini bersifat non-eksklusif.
3.Dalam agama Budha tidak dikenal adanya sistem kasta sebab sistem ini dipandang akan membedakan masyarakat atas harkat dan martabatnya. Sehingga dalam Budha laki-laki ataupun perempuan, miskin atupun kaya sama saja semuanya punya hak yang sama dalam kehidupan ini.

PERPECAHAN AGAMA BUDHA
Setelah 100 tahun wafatnya Sang Budha timbul bermacam-macam penafsiran terhadap hakikat ajaran Budha. Perpecahan dalam agama Budha terjadi karena masing-masing mempunyai pandangan/ aliran sendiri. Diantaranya aliran yang terkenal yaitu Hinayana dan Mahayana.
1.Hinayana artinya kendaraan kecil. Menurut aliran ini tiap orang wajib berusaha sendiri untuk mencapai nirwana. Untuk mencapai Nirwana sangat tergantung pada usaha diri melakukan meditasi. Hinayana, lebih tertutup hanya mengejar pembebasan bagi diri sendiri. Yang berhak menjadi Sanggha adalah para biksu dan biksuni yang berada di Wihara. Ajarannya lebih mendekati Budha semula. Pengikutnya sebagian besar berada di daerah Srilanka, Myanmar (Birma), dan Muangtai.
2.Mahayana artinya kendaraan besar. Mahayana, sifatnya terbuka. Penganut aliran ini mengajarkan pembebasan bagi diri sendiri serta bermisi pembebasan bagi orang lain. Setiap orang berhak menjadi Sanggha sejauh sanggup menjalankan ajaran dan petunjuk sang Budha. Jadi aliran Mahayana mengajarkan untuk mencapai Nirwana setiap orang harus mengembangkan kebijaksanaan dan sifat welas asih (belas kasih). Setiap manusia berusaha hidup bersama/ membantu setiap orang lain dalam mencapai Nirwana. Ajarannya sudah berbeda dengan ajaran Budha semula. Para pengikutnya sebagian besar ada di daerah Indonesia, Jepang, Cina, dan Tibet.

AJARAN SANG BUDHA
Budha mengajarkan 4 kenyataan dalam hidup, yaitu bahwa:
1.Hidup merupakan samsara
2.Samsara disebabkan oleh nafsu yang menguasai manusia
3.Samsara dapat dihilangkan dengan menghilangkan nafsu
4.Untuk menghilangkan nafsu, ditempuh delapan jalur kebenaran.
Delapan Jalan Kebenaran :
– Mempunyai pandangan yang benar – Punya penghidupan yang benar
– Mempunyai niat yang benar – Berusaha yang benar
– Berbicara yang benar – Memperhatikan hal-hal yang benar
– Berbuat yang benar – Bersemadi yang benar

Tiga Kebaktian (Tri Dharma)dalam agama Budha :
1.Berbakti kepada Sang Budha
2.Berbakti kepada ajaran-ajarannya
3.Berbakti kepada Sanggha (jemaat Perkumpulan)

Tridharma jika diucapkan oleh seseorang yang mau masuk agama budha adalah sebagai berikut.
1.Saya mencari perlindungan pada Budha
2.Saya mencari perlindungan pada Dharma
3.Saya mencari perlindungan pada Sanggha

Selain Tridarma dalam agama Budha dikenal juga Triratna yang berarti tiga mutiara, terdiri dari Budha, Dharma, dan Sanggha.
Budha, yaitu Sidharta yang telah dianggap sebagai dewa
Dharma, yaitu kewajiban yang harus ditaati oleh umat Buddha.
Sanggha, yaitu aturan/ perkumpulan dalam agama Budha

KEMUNDURAN AGAMA BUDHA
Kemunduran agama Budha di India disebabkan karena :
1.Setelah Asoka wafat (232 SM) tidak ada raja yang mau melindungi dan mengembangkan agama Budha di India.
2.Agama Hindu berusaha memperbaiki kelemahan-kelemahannya sehingga pengikutnya bertambah banyak.

PERSAMAAN dan PERBEDAAN AGAMA HINDU-BUDHA
Persamaan Hindu dan Budha :
Sama-sama tumbuh dan berkembang di India
Selalu berusaha untuk meletakkan dasar-dasar ajaran kebenaran dalam kehidupan manusia di dunia ini. Diarahkan pada tindakan-tindakan yang dibenarkan oleh agama.
Tujuan untuk menyelamatkan umat manusia dari rasa kegelapan/ mengantarkan umat manusia untuk dapat mencapai tujuan hidupnya yaitu kesempurnaan.

Perbedaan Hindu dan Budha :
HINDU BUDHA
Muncul sebagai perpaduan budaya bangsa Aria dan bangsa Dravida Muncul sebagai hasil pemikiran dan pencerahan yang diperoleh Sidharta dalam rangka mencari jalan lain menuju kesempurnaan(nirwana)
Kitab sucinya, WEDA Kitab Sucinya, TRIPITAKA
Mengakui 3 dewa tertinggi yang disebut Trimurti Mengakui Sidharta Gautama sebagai guru besar/ pemimpin agama Budha
Kehidupan masyarakat dikelompokkan menjadi 4 golongan yang disebut Kasta (kedudukan seseorang dalam masyarakat diterima secara turun-temurun/didasarkan pada keturunan).Tidak diakui adanya kasta dan memandang kedudukan seseorang dalam masyarakat adalah sama.

Adanya pembedaan harkat dan martabat/hak dan kewajiban seseorang Tidak mengenal pembagian hak antara pria dan wanita
Agama Hindu hanya dapat dipelajari oleh kaum pendeta/Brahmana dan disebarkan/ diajarkan pada golongan tertentu sehingga sering disebut agamanya kaum brahmana.Agama Budha dapat dipelajari dan diterima oleh semua orang tanpa memandang kasta
Agama Hindu hanya bisa dipelajari dengan menggunakan bahasa Sansekerta Agama Budha disebarkan pada rakyat dengan menggunakan bahasa rakyat sehari-hari, seperti bahasa Prakrit
Kesempurnaan (Nirwana) hanya dapat dicapai dengan bantuan/bimbingan pendeta.Setiap orang dapat mencapai kesempurnaan dengan usaha sendiri yaitu dengan meditasi
Seorang terlahir sebagai Hindu bukan menjadi Hindu sehingga kehidupan telah ditentukan sejak lahir. Kehidupannya ditentukan oleh darma baik yang berhasil dilakukan semasa hidup
Mengenal adanya kelahiran kembali setelah kematian (reinkarnasi).Tidak menenal reinkarnasi tetapi mengenal karma
Dibenarkan untuk mengadakan upacara korban.Tidak dibenarkan mengadakan upacara korban

C. MASUKNYA AGAMA HINDU dan BUDHA DI INDONESIA
Persebaran agama dan budaya Hindu-Budha dari India ke Indonesia melalui jalur lalu lintas perdagangan dan pelayanan. Sejak awal abad 1 M Indonesia telah menjalin hubungan dagang dengan negara lain. Hal ini, dikarenakan letak geografis Indonesia yang sangat strategis sehingga memungkinkan hubungan dagang dengan negara lain. Pelayaran di Indonesia awalnya dilakukan hanya sebagai lalu lintas utama penghubung antarpulau tetapi kemudian hal tersebut mendorong adanya aktivitas perdagangan. Pelayaran perdagangan tersebut akhirnya dilakukan bukan hanya di Indonesia saja. Hal ini disebabkan karena :
•Setelah ditemukan jalur melalui laut antara Romawi dan Cina maka perlayaran dan perdagangan Asia semakin ramai. Sehingga wilayah yang dilalui jalur perlayaran dan perdagangan tersebut ikut aktif dalam perdagangan. Indonesia sebagai wilayah yang strategis menjalin hubungan dengan Cina dan India. Wilayah Indonesia yang berada di sebelah Timur India menyebabkan para pelaut India lebih mudah mencapai Indonesia dan terbentuklah perdagangan antara India dan Indonesia.
•Didukung adanya pola angin musim yang berubah arah setiap 6 bulan.
•Didukung adanya perluasan kekuasaan kerajaan Cina yang membawa kekuasaannya ke Asia Tenggara mendorong timbul perdagangan maritim di Asia Barat ke Cina Selatan melalui Indonesia. Perdagangan di Asia Barat didukung oleh para pedagang India.
•Barang perdagangan: emas, kayu cendana, rempah-rempah, kayu wangi, kapur barus, dan kemenyan dari India sampai Indonesia.

Melalui perdagangan tersebut berkembanglah kebudayaan Asing termasuk India serta Agama Hindu dan Budha yang dianut oleh sebagian besar pedagang India. Agama tersebutlah yang kemudian dianut oleh raja-raja di Indonesia yang selanjutnya mempengaruhi segala aspek kehidupan masyarakat di Indonesia.

Masuknya dan berkembangnya Agama Hindu di Indonesia
Terdapat beberapa teori mengenai siapakah yang membawa masuknya agama dan kebudayaan Hindu di Indonesia. Teori-teori tersebut antara lain:
1.Teori Sudra (dikemukakan oleh Van Feber)
Inti dari teori ini adalah bahwa masuk dan berkembangnya agama Hindu ke Indonesia dibawa oleh orang-orang India yang berkasta Sudra.

Pendapat dari Van Feber adalah bahwa:
Orang India berkasta Sudra (pekerja kasar) menginginkan kehidupan yang lebih baik daripada mereka tinggal menetap di India sebagai pekerja kasar bahkan tak jarang mereka dijadikan sebagai budak para majikan sehingga mereka pergi ke daerah lain bahkan ada yang sampai ke Indonesia.
Orang berkasta sudra yang berada pada kasta terendah di India tidak jarang dianggap sebagai orang buangan sehingga mereka meninggalkan daerahnya pergi ke daerah lain bahkan keluar dari India hingga ada yang sampai ke Indonesia agar mereka mendapat kedudukan yang lebih baik dan lebih dihargai.

Bantahan ahli terhadap teori ini adalah sebagai berikut.
Golongan Sudra tidak menguasai seluk beluk ajaran agama Hindu sebab mereka tidak menguasai bahasa Sansekerta yang digunakan dalam Kitab Suci Weda (terdapat aturan dan ajaran agama Hindu). Terlebih tidak sembarang orang dapat menyentuhnya, membaca dan mengetahui isinya.
Tujuan utama golongan Sudra meninggalkan India adalah untuk mendapat penghidupan dan kedudukan yang lebih baik (memperbaiki keadaan/kondisi mereka). Sehingga jika mereka ke tempat lain pasti hanya untuk mewujudkan tujuan utama mereka bukan untuk menyebarkan agama Hindu.
Dalam sistem kasta posisi kaum sudra ada pada kasta terendah sehingga tidak mungkin mereka mau menyebarkan agama Hindu yang merupakan milik kaum brahmana, kasta diatasnya. Jika mereka menyebarkan agama Hindu berarti akan lebih mengagungkan posisi kasta brahmana, kasta yang telah menempatkan mereka pada kasta terendah.

2.Teori Waisya (dikemukakan oleh NJ.Krom)
Inti dari teori ini yaitu bahwa masuk dan berkembangnya agama Hindu ke Indonesia dibawa oleh orang India berkasta Waisya yaitu golongan pedagang.
Mereka datang dan berperan sebagai penyebar agama Hindu ke Indonesia. Seperti bangsa Gujarat yang menjadi pedagang pada zaman Islam atau bangsa Barat pada zaman modern.
Menurut NJ.Krom ada 2 kemungkinan Agama Hindu disebarkan oleh pedagang:
Para pedagang dari India melakukan perdagangan dan akhirnya sampai ke Indonesia memang hanya untuk berdagang. Melalui interaksi perdagangan itulah agama Hindu disebarkan pada rakyat Indonesia.
Para pedagang dari India yang singgah di Indonesia kemudian mendirikan pemukiman sembari menunggu angin musim yang baik untuk membawa mereka kembali ke India. Merekapun akan berinteraksi dengan penduduk sekitar dan menyebarkan agama pada penduduk lokal Indonesia. Selanjutnya jika ada yang tertarik dengan penduduk setempat dan memutuskan untuk menikah serta berketurunan maka melalui keturunan inilah agama Hindu disebarkan ke masyarakat sekitar.

Faktor yang memperkuat teori dari NJ. Krom adalah bahwa:
Teori ini mudah diterima oleh akal sebab dalam kehidupan, faktor ekonomi menjadi sangat penting dan perdagangan merupakan salah satu bentuk dalam kegiatan berekonomi. Sehingga melalui kegiatan perdagangan dirasa akan lebih mudah untuk berhubungan dengan orang dari berbagai daerah.
Adanya bukti yang menunjukkan bahwa terdapat perkampungan para pedagang India di Indonesia yang disebut Kampung Keling yang terletak di beberapa daerah di Indonesia seperti di Indonesia bagian Barat (Sumatera)

Bantahan para ahli terhadap teori ini :
oMotif mereka datang sekedar untuk berdagang bukan untuk menyebarkan agama Hindu sehingga hubungan yang terbentuk antara penduduk setempat bahkan pada raja dengan para saudagar (pedagang India) hanya seputar perdagangan dan tidak akan membawa perubahan besar terhadap penyebaran agama Hindu.
oMereka lebih banyak menetap di daerah pantai untuk memudahkan kegiatan perdagangannya. Mereka datang ke Indonesia untuk berdagang dan jika mereka singgah mungkin hanya sekedar mencari perbekalan untuk perjalanan mereka selanjutnya atau untuk menunggu angin yang baik yang akan membawa mereka melanjutkan perjalanan. Sementara itu kerajaan Hindu di Indonesia lebih banyak terletak di daerah pedalaman seperti Pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Sehingga, penyebarluasan agama Hindu tidak mungkin dilakukan oleh kaum Waisya yang menjadi pedagang.
oMeskipun ada perkampungan para pedagang India di Indonesia tetapi kedudukan mereka tidak berbeda dengan rakyat biasa di tempat itu, mereka yang tinggal menetap sebagaian besar hanyalah pedagang-pedagang keliling sehingga kehidupan ekonomi mereka tidak jauh berbeda dengan penduduk setempat. Sehingga pengaruh budaya yang mereka bawa tidaklah membawa perubahan besar dalam tatanegara dan kehidupan keagamaan masyarakat setempat.
oKaum Waisya tidak mempunyai tugas untuk menyebarkan agama Hindu sebab yang bertugas menyebarkan agama Hindu adalah Brahmana. Lagi pula para pedagang tidak menguasai secara mendalam ajaran agama Hindu dikarenakan mereka tidak memahami bahasa Sansekerta sebagai pedoman untuk membaca kitab suci Weda.
oTulisan dalam prasasti dan bangunan keagamaan Hindu yang ditemukan di Indonesia berasal dari bahasa Sansekerta yang hanya digunakan oleh Kaum Brahmana dalam kitab-kitab Weda dan upacara keagamaan.

3.Teori Ksatria (dikemukakan oleh FDK Bosch)
Inti dari teori ini adalah bahwa golongan bangsawan/ksatria dari India yang membawa masuk dan menyebarkan agama Hindu di Indonesia.

Menurut FDK Bosch ada 3 alasan mengapa Agama Hindu disebarkan oleh bangsawan:
Raja dan bagsawan serta ksatria dari India yang kalah perang meninggalkan daerahnya menuju ke daerah lain termasuk Indonesia. Mereka berusaha menaklukkan daerah baru di Indonesia dan membentuk pemerintahan baru seperti ketika mereka di India. Dari situ mereka mulai menanamkan ajaran agama Hindu pada penduduk setempat.
Kekacauan politik di India menyebabkan para ksatria melarikan diri sampai di Indonesia dan sesampainya di Indonesia mereka membentuk dan mendirikan koloni (tanah jajahan) dan mulai menyebarkan agama Hindu.
Adapula raja dan para bangsawan India yang sengaja datang ke Indonesia untuk menyerang dan menaklukkan suku-suku di Indonesia. Setelah mereka berhasil maka akan mendirikan kerajaan dan mulai menyebarkan agama Hindu.
Teori Ksatria sering juga disebut dengan teori Kolonisasi . Hal ini disebabkan karena dilakukan penyerbuan dan penklukkan.

Bantahan terhadap teori ini :
•Tidak mungkin pelarian ksatria dari India bisa mendapatkan kedudukan mulia sebagai raja di wilayah lain, sedangkan di Indonesia masa itu, seseorang dapat menjadi pemimpin suatu wilayah karena dia dirasa mempunyai kemampuan lebih daripada yang lainnya. Tidak mungkin rakyat menginginkan orang yang telah mengalahkan rakyat di wilayah itu untuk menjadi raja mereka karena mereka pasti harus hidup dalam tekanan dari orang yang tidak mereka kenal.

•Tidak ada bukti yang kuat baik itu di Indonesia maupun di India bahwa penyerbuan yang dilakukan bertujuan untuk menyebarkan agama Hindu. Selain itu tidak ada bukti pendudukan atas beberapa daerah di Indonesia oleh bangsa India yang bertujuan untuk menyebarkan agama. Padahal suatu penaklukkan pasti akan dicatat sebagai sebuah kemenangan. Memang pernah ada serbuan dari bangsa India yang terjadi 2 kali dalam waktu singkat oleh kerajaan Colamandala (raja Rajendra Coaldewa) atas kerajaan Sriwijaya yaitu pada tahun 1023 M dan 1030 M. Meskipun berhasil menawan raja Sriwijaya tetapi serangan tersebut berhasil dipatahkan/dikalahkan.

•Jika terjadi kolonisasi /penaklukkan pasti akan disertai dengan pemindahan segala aspek/unsur budaya masyarakat India secara murni di Indonesia seperti sistem kasta, tatakota, pergaulan, bahasa, dsb. Tetapi kehidupan masyarakat di Indonesia tidak menunjukkan hal yang sama persis (tidak asli) dengan kehidupan masyarakat India dari sini dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi penguasaan secara mendasar pada segala aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Budaya Indonesia memiliki peran yang besar dalam proses pembentukan budaya India-Indonesia sehingga yang tampak adalah bentuk akulturasi budayanya.

4.Teori Brahmana (dikemukakan oleh J.C. Van Leur)
Inti dari teori ini adalah bahwa yang membawa masuk dan menyebarkan agama Hindu di Indonesia adalah kaum brahmana dari India. Teori ini memang paling mudah diterima.
Menurut J.C. Van Leur beberapa alasan mengapa Agama Hindu disebarkan oleh brahmana:
-Agama Hindu adalah milik kaum Brahmana sehingga merekalah yang paling tahu dan paham mengenai ajaran agama Hindu. Urusan keagamaan merupakan monopoli kaum Brahmana bahkan kekuasaan terbesar dipegang oleh kaum Brahmana sehingga hanya golongan Brahmana yang berhak dan mampu menyiarkan agama Hindu.
-Prasasti Indonesia yang pertama menggunakan berbahasa Sansekerta, sedangkan di India sendiri bahasa itu hanya digunakan dalam kitab suci dan upacara keagamaan Hindu. Bahasa Sansekerta adalah bahasa kelas tinggi sehingga tidak semua orang dapat membaca dan menulis bahasa Sansekerta. Di India hanya kasta Brahmana yang menguasai bahasa Sansekerta sehingga hanya kaum Brahmana-lah yang dapat dan boleh membaca kitab suci Weda.
-Karena kepala suku yang ada di Indonesia kedudukannya ingin diakui dan kuat seperti raja-raja di India maka mereka dengan sengaja mendatangkan kaum Brahmana dari India untuk mengadakan upacara penobatan dan mensyahkan kedudukan kepala suku di Indonesia menjadi raja. Dan mulailah dikenal istilah kerajaan. Karena upacara penobatan tersebut secara Hindu maka secara otomatis rajanya juga dinyatakan beragama Hindu, jika raja beragama Hindu maka rakyatnyapun akan mengikuti rajanya beragama Hindu.
-Ketika menobatkan raja kaum Brahmana pasti membawa kitab Weda ke Indonesia. Sebelum kembali ke India tak jarang para Brahmana tersebut akan meniggalkan Kitab Weda-nya sebagai hadiah bagi sang raja. Kitab tersebut selanjutnya akan dipelajari oleh sang raja dan digunakan untuk menyebarkan agama Hindu di Indonesia.
-Para brahmana sengaja didatangkan ke Indonesia karena raja yang telah mengenal Brahmana secara khusus meminta Brahmana untuk mengajar di lingkungan istananya. Dari hal inilah maka agama dan budaya India dapat berkembang di Indonesia. Sejak itu mulailah secara khusus kepala suku-kepala suku yang lain yang tertarik terhadap budaya dan ajaran Hindu mengundang kaum Brahmana untuk datang dan mengajarkan agama dan budaya India kepada masyarakat Indonesia.
-Teori ini didukung dengan adanya bukti bahwa terdapat koloni India di Malaysia dan pantai Timur Sumatera (populer dengan nama Kampung Keling) yang banyak ditempati oleh orang Keling dari India Selatan yang memerlukan kaum Brahmana untuk upacara agama (perkawinan dan kematian).

Bantahan terhadap teori ini :
Mempelajari bahasa Sansekerta merupakan hal yang sangat sulit jadi tidak mungkin dilakukan oleh raja-raja di Indonesia yang telah mendapat kitab Weda untuk mengetahui isinya bahkan menyebarkan pada yang lain. Sehingga pasti memerlukan bimbingan kaum Brahmana dalam mempelajarinya.
Menurut ajaran Hindu kuno seorang Brahmana dilarang untuk menyeberangi lautan apalagi meninggalkan tanah airnya. Jika ia melakukan hal tersebut maka ia akan kehilangan hak akan kastanya. Sehingga mendatangkan para Brahmana ke Indonesia bukan merupakan hal yang wajar.

Dari keempat teori tersebut teori yang paling tepat dan disepakati ahli mengenai masuknya agama Hindu dan Budha di Indonesia adalah teori Brahmana, yaitu bahwa brahmana/ pendeta dari Indialah yang membawa masuk agama dan budaya Hindu-Budha ke Indonesia. Istilah pendeta juga digunakan dalam agama Budha.
Adapun prosesnya sebagai berikut.

Masuknya Agama Hindu ke Indonesia :
Para pendeta dari India mempunyai misi/tugas khusus untuk menyebarkan agama Hindu, pada akhirnya sampai juga mereka ke Indonesia melalui jalur perdagangan. Setiba di Indonesia mereka akan melakukan upacara pengembalian kasta agar mereka memiliki hak untuk menyebarkan ajaran agama. Selanjutnya mereka akan menemui penguasa lokal (kepala suku). Jika penguasa lokal tersebut tertarik dengan ajaran Hindu maka para pendeta bisa langsung mengajarkan dan menyebarkannya. Adapula penguasa lokal yang kemudian dinobatkan jadi raja serta diHindukan, sehingga jika rajanya beragama Hindu maka akan lebih mudah untuk menyebarkan agama Hindu di daerahnya.
Proses ini tidak dapat terjadi hanya satu kali langsung diterima tetapi membutuhkan proses yang lama.

Masuknya Agama Budha ke Indonesia :
Dalam ajaran agama budha juga terdapat misi khusus untuk menyebarkan agama Budha, misi tersebut dikenal dengan Dharmadhuta. Untuk menjalankan misinya tersebut maka pendeta Budha melalui jalur pelayaran dan perdagangan menuju ke Indonesia. Setibanya di Indonesia mereka akan menemui raja/ penguasa lokal setempat guna meminta izin untuk menyebarkan agama Budha. Selanjutnya mereka mulai mengajarkan dan menyebarkan agama Budha, jika pengusa lokal tertarik dan memutuskan untuk menganut ajaran agama Budha itu akan menjadi semakin mudah bagi perkembangan agama Budha di daerah tersebut. Jikapun raja tidak tertarik menganut agama Budha tapi memberi izin pada para pendeta tersebut untuk menyebarkan agama Budha maka mereka akan mendirikan perkumpulan umat/ jemaat Budha yang disebut Sangha.

Dari keempat teori yang ada menurut para ahli tidak ada yang cocok menyatakan proses perkembangan agama dan budaya Hindu-Budha di Indonesia sehingga mereka mengemukakan suatu teori baru untuk menjelaskan proses perkembangan agama Hindu-Budha di Indonesia yaitu Teori Arus Balik.
Teori Arus Balik sepakat bahwa yang membawa masuk agama dan budaya Hindu-Budha di Indonesia adalah para pendeta India, tetapi yang menyebarkan agama Hindu-Budha ke rakyat Indonesia bukan para pendeta India melainkan orang Indonesia yang diutus oleh raja Indonesia untuk mempelajari agama dan budaya para pendeta India di negara asalnya yaitu India. Setelah utusan tersebut menguasai ajaran agama maka mereka akan kembali ke Indonesia dan menyampaikan pada raja. Raja yang telah mendapat laporan selanjutnya akan meminta utusan tersebut menyebarkan dan mengajarkan pengetahuan yang di peroleh dari India tersebut pada penduduk/ rakyat kerajaan tersebut. Maka semakin berkembanglah ajaran agama baik Hindu maupun Budha dan terbentuklah kerajaan yang berciri baik itu Hindu maupun Budha.

Jadi kesimpulan proses masuk dan berkembangnya agama dan budaya Hindu-Budha ke Indonesiaadalah sebagai berikut.

Agama Budha
Agama Budha masuk ke Indonesia dibawa oleh para pendeta didukung dengan adanya misi Dharmadhuta, kitab suci agama Budha ditulis dalam bahasa rakyat sehari-hari, serta dalam agama Budha tidak mengenal sistem kasta. Para pendeta Budha masuk ke Indonesia melalui 2 jalur lalu lintas pelayaran dan perdagangan, yaitu melalui jalan daratan dan lautan. Jalan darat ditempuh lewat Tibet lalu masuk ke Cina bagian Barat disebut Jalur Sutra, sedangkan jika menempuh jalur laut, persebaran agama Budha sampai ke Cina melalui Asia Tenggara. Selanjutnya sampai ke Indonesia mereka akhirnya bertemu dengan raja dan keluarganya serta mulai mengajarkan ajaran agama Budha, pada akhirnya terbentuk jemaat kaum Budha. Bagi mereka yang telah mengetahui ajaran dari pendeta India tersebut pasti ingin melihat tanah tempat asal agama tersebut secara langsung yaitu India sehingga mereka pergi ke India dan sekembalinya ke Indonesia mereka membawa banyak hal baru untuk selanjutnya disampaikan pada bangsa Indonesia. Unsur India tersebut tidak secara mentah disebarkan tetapi telah mengalami proses penggolahan dan penyesuaian. Sehingga ajaran dan budaya Budha yang berkembang di Indonesia berbeda dengan di India.

Agama Hindu
Para pendeta Hindu memiliki misi untuk menyebarkan agama Hindu dan melalui jalur perdagangan akhirnya sampai di Indonesia. Selanjutnya mereka akan menemui penguasa lokal (kepala suku). Jika penguasa lokal tersebut tertarik dengan ajaran Hindu maka para pendeta bisa langsung mengajarkan dan menyebarkannya. Dalam ajaran agama Hindu konsepnya adalah seseorang terlahir sebagai Hindu bukan menjadi Hindu maka untuk menerima ajaran agama Hindu orang Indonesia harus di-Hindu-kan melalui upacara Vratyastoma dengan pertimbangan kedudukan sosial/ derajat yang bersangkutan (memberi kasta). Hubungan India-Indonesia berlanjut dengan adanya upaya para kepala suku/ raja lokal untuk menyekolahkan anaknya/ utusan khusus ke India guna belajar budaya India lebih dalam lagi. Setelah kembali ke tanah air mereka kemudian menyebarkan kebudayaan India yang sudah tinggi. Bahkan tak jarang mereka mendatangkan para Brahmana India untuk melakukan upacara bagi para penguasa di Indonesia, seperti upacara Abhiseka, merupakan upacara untuk mentahbiskan seseorang menjadi raja. Jika di suatu wilayah rajanya beragama Hindu maka akan memperkuat proses penyebaran agama Hindu bagi rakyat di daerah tersebut (taken from here).

Kitab Peninggalan Kerajaan Hindu Buddha

Kitab merupakan sebuah karya sastra para pujangga pada masa lampau yang dapat dijadikan petunjuk untuk mengungkap suatu peristiwa di masa lampau. Para pujangga biasanya menulis atas perintah raja. Itulah sebabnya isi tulisannya banyak menulis keagungan dan kebesaran raja yang bersangkutan. Diantara kitab-kitab yang terkenal pada masa kerajaan Hindu-Budha:
1.) Pada zaman Kediri dihasilkan kitab:
· Arjunawiwaha
Merupakan karya Mpu Kanwa pada tahun 1030 M, pada masa pemerintahan Airlangga.
Isinya meriwayatkan Arjuna yang bertapa untuk mendapatkan senjata guna keperluan perang melawan Kurawa.
· Kresnayana
Karya Mpu Triguna. Memuat riwayat Kresna semasa kecil. Cerita yang mirip dengan Kresnayana adalah cerita dalam kitab Hariwangsa karya Mpu Panuluh, yang digubah pada zaman Raja Jayabaya, dan berisi kisah perkawinan Kresna dengan Dewi Rukhimi.
· Smaradahana
Karya Mpu Dharmaja pada masa Sri Kameswara. Mengisahkan hilangnya suami istri Dewa Kama dan Dewi Ratih karena api yang keluar dari mata ketiga Dewa Syiwa.
· Baratayudha
Karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh. Isinya tentang peperangan 18 hari antara keluarga Pandawa dan Kurawa.
· Gatotkacasraya
Karangan Mpu Panuluh, menceritakan perkawinan Abimanyu, putra Arjuna, dengan Siti Sundhari atas bantuan Gatotkaca, putra Bima.Ditulis pada zaman Raja Jayabaya.

2) Pada zaman Majapahit I
· Negarakertagama
Ditulis pada zaman pemerintahan Hayam Wuruk oleh Mpu Prapanca. Mengenai kerajaan Singasari dari masa pemerintahan Ken Arok, raja pertama Singosari hingga Hayam Wuruk.
· Sutasoma
Karangan Mpu Tantular. Menceritakan Sutasoma, putra raja yang kemudian mendalami agama Budha. Dalam kitab ini terdapat kata Bhinneka tunggal ika,tan hana dharma mangrwa. Kata bhinneka tunggal ika inilah yang kemudian menjadi semboyan persatuan kita.
· Arjunawijaya
Karangan Mpu Tantular. Kitab mengisahkan raja Arjuna Sasrabahu dan Patih Sumantri melawan Raksasa Rahwana.
· Kutaramanawa
Ditulis oleh Gajah Mada. Disusun berdasarkan kitab hukum Kutarasastra dan kitab hukum Munawasastra, dan kemudian disesuaikan dengan hukum adat pada waktu itu.

3) Pada zaman Majapahit II
· Pararaton
Pararaton berisi dongeng dan mitos. Pengarangnya sampai sekarang belum diketahui. Terdiri atas 2 bagian. Bagian pertama berisi riwayat Ken Arok sampai raja-raja Sigasari. Bagian kedua mengisahkan Kerajaan Majapahit mulai dari Raden Wijaya, Jayanegara, pemberontakan Ronggolawe dan Sora, Perang Bubad, dan daftar raja sesudah Hayam Wuruk.
· Tantu Panggelaran
· Calon Arang
· Sundayana
· Paman Canggah
· Usana Bali
· Cerita Parahiyangan
· Bubhuksah dan Gagang Aking
Pada masa Islam muncul banyak karya sastra seperti:
Hikayat Pandawa Lima, Hikayat Perang Pandawa Jaya, Hikayat Sri Rama, Hikayat Maharaja Rahwana, Hikayat Pancatantra.

Selain kitab ada pula cerita panji seperti:
Syair Ken Tambunan, Lelakon Mahesa Kuitir, Syair Panji Sumirang, Cerita Wayang Kinundang, Hikayat Panji Kuda Sumirang, Hikayat Cekal Wenengpati, Hikayat Panji Wilakusuma.

Selain itu terdapat pula kitab suluk (kitab yang bercorak magis, berisi ramalan, penentuan hari baik dan buruk, dan pemberian makna terhadap suatu kejadian) seperti:
Suluk Sukrasa, menceritakan Ki Sukrasa yang mencari ilmu untuk mendapatkan kesempurnaan.
Suluk Wujil, berisi wejanagan Sunan Bonang kepada Wujil, bekas abdi Raja Majapahit.
Suluk Malang Sumirang, berisi pujian dan mengungkapkan seseorang yang telah mencapai kesempurnaan dan bersatu dengan Tuhan YME.

Kitab yang ditulis oleh para pujangga dari kerajaan Islam di Indonesia diantaranya:
a) Kitab Bustanu’Issalatin, ditulis oleh Nuruddin ar-Raniri dari Aceh.Berisi mengenai adat-istiadat Aceh dan ajaran agama Islam
b) Kitab Sastra Gending, ditulis oleh Sultan Agung dari Mataram. Berisi tentang ajaran-ajaran filsafat. Serta kitab Nitisruti, Nitisastra, dan Astabrata yang bersumber pada kitab Ramayana. Berisi tentang tabiat baik.
c) Kitab Ade Allopiloping Bicaranna Pabbahi’e oleh Amanna Gappa dari Makasar. Berisi tentang hukum-hukum perniagaan bagi kerajaan Makasar (taken from here).

Dwarapala Singhasari

img_4361-copy

Foto diatas, luar biasa cantiknya!

Bayangkan saja, andai…….. keadaan disekitar situs-situs di Indonesia dibiarkan asli, duh.. aura anggunnya pasti luar biasa!

Sekarang sih sering kali sekeliling situs dibabat dan dijadikan permadani rumput yang mulus seperti lapangan golf. Cantik, tapi ga natural.. (ini pendapat pribadi ya).

Sesaji Sebelum Candi Berdiri

CANDI merupakan banggunan penting bagi masyarakat Hindu Budha di Nusantara. Ia menjadi tempat pemujaan para dewa. Dalam membangun bangunan suci itu ada benda-benda yang ditanam yang disebut peripih.

“Ada yang disebut dengan peripih. Itu sesuatu yang ditanam. Sampai masa yang lebih modern di Jawa dan di Bali ada kebiasaan menanam (pendeman) untuk bangunan suci. Ini cara untuk menarik energi alam semesta yang positif,” jelas arkeolog Universitas Gadjah Mada, Djaliati Sri Nugrahani kepada Historia.

Djaliati menjelaskan bahwa peripih adalah benda-benda yang diletakkan dalam satu wadah. Wadah ini yang kemudian akan ditanam oleh para pembangun candi di tempat-tempat tertentu di dalam candi.

“Jangan salah kaprah, peripih itu isinya, bukan kotak atau wadahnya, wadahnya namanya kotak peripih,” tegasnya. “Bendanya bermacam-macam, ada yang disebut nawaratna atau sembilan permata, ini mewakili delapan dewa di penjuru mata angin, lalu ada pula yang diisi biji-bijian. Kalau di Bali kan ada misalnya yang memendam kepala kerbau.”

Menurutnya, pemilihan benda itu tergantung dari tujuan pembangunan candi. Misalnya, untuk candi yang diperuntukkan memuja kesuburan, maka peripih akan berwujud biji-bijian. Sementara yang berupa nawaratnabiasanya khusus untuk pemujaan dewa.

Lebih lanjut, berdasarkan letaknya, bervariasi. Paling umum ditemukan di sumuran candi berupa rongga memanjang seperti sumur, di bawah arca perwujudan, dalam bilik candi. “Tidak bisa digeneralisir, bisa juga di pinggir-pinggir pintu masuk, atau di bawah kemuncak,” papar dosen yang biasa dipanggil Nia itu.

Sementara, R. Soekmono dalam disertasinya, Candi, Fungsi, dan Pengertiannya menulis, peripih diartikan sebagai wadah zat inti kedewaan dari Sang Dewa. Peripih bisa ditemukan baik pada candi Hindu maupun candi Budha.

Peripih adalah wahana kehadiran dewa. Ia dianggap lebih penting dari arca yang hanya representasi dari bentuk luar sang dewa,” tulisnya.

Soekmono juga melengkapi pembahasannya soal abu yang sering ditemukan sebagai pendaman di dasar candi. Menurutnya ini yang sering mengecoh masyarakat, bahwa candi adalah makam. Kenyataannya, abu itu bukan abu manusia (raja), tetapi abu binatang yang dijadikan korban.

Peripih memberi hidup pada candi, memberi benih agar garbhagrha (bilik candi, red) mempunyai kekuatan dan esensi dewa yang dipuja dan yang arcanya ada di garbhagrha itu,” tulis Edi Sedyawati dalam Candi Indonesia: Seri Jawa (taken from here).

Anyer Sebelum 1883

Sebelum Krakatau meletus, Anyer adalah sebuah bandar yang ramai, tempat pertemuan antara kapal-kapal layar Cina yang hendak pulang dengan yang hendak meneruskan pelayaran ke barat.

Letusan Krakatau pada 1883 menyapu habis pantai dan desa-desa. Pelabuhan alamnya menjadi dangkal. Tinggal menjadi tujuan wisata laut. Maka orang sudah tidak mengingat lagi bahwa tempat ini pernah menjadi medan perlawanan rakyat melawan Kompeni Belanda.

13445323_10207817583690625_2599856543273790041_n

Sumber narasi: Jalan Raya Pos Jalan Raya Daendels, Pramoedya, hlm 28.
Gambar ilustrasi: lithograf Anyer karya A. Salm

Prasasti Bandar Alim

Prasasti Bandar Alim

Oleh : Drs. Harmadi.

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul MENELUSUR MISTERI MEDANG – KAHURIPAN.

Raja Sindok meninggal tahun 947 Masehi dan makamnya di dharmakan sebagai Isyana Bajra. Dengan meninggalnya Raja Sindok, Medang seakan tenggelam dalam sejarah karena Raja-raja penggantinya sangat pelit mewariskan bukti peninggalan bagi generasi sekarang dalam menelusur sejarah.

Namun demikian, paling tidak Prasasti Bandar Alim yang ditulis oleh KAKI MANTA tahun 907 Caka (985 Masehi) yang diketemukan di Bandar Alim Desa Demangan Kecamatan Tanjunganom beberapa tahun lalu, paling tidak telah memberikan sumbangan yang tiada terhinggabagi penelusuran sejarah, khususnya Kerajaan Medang di Nganjuk. Namun ketiadaan sponsor cukup menghambat penelusuran lebih lanjut.

Prasasti catur muka yang dibuat pada Batu Andesit dengan ukuran tinggi 180 cm, dan lebar 90 cm serta ketebalan tepi + 20 cm dan tengah + 25 cm, menyebutkan bahwa Watu Galuh adalah sebuah kota wilayah Kerajaan Medang bumi Mataram (I mdang I bhumi mataran I watu galuh).

Pada bagian lain, prasasti Bandar Alim menyebut Dewa Lokapala, yang dalam buku Ramayana adalah kelompok dewa yang menjaga 8 penjuru angin (astadikpalaka), yaitu : Indra, Yama, Surya, Candra, Anila (Bayu), Kuwera, Baruna dan Agni.

Nama Lokapala dalam prasasti Calcuta yang ditulis oleh Erlangga tahun 1041 Masehi, meskipun tidak secara jelas dinyatakan, namun diketahui bahwa Lokapala adalah suami dari Isana Tunggawijaya anak mPu Sindok dengan Rakryan Binihaji Rakryan Mangibit.

Sangat memungkinkan bahwa penyebutan Dewa dimuka Lokapala pada prasasti Bandar Alim, adalah dewamurti (anggapan titisan dewa) terhadap Lokapala almarhum, suami dari Isanattunggawijaya. Dengan demikian bahwa Raja yang memerintah Kaki Manta untuk menulis prasasti tersebut adalah Raja pengganti Isanattunggawijaya, yaitu Makuthawangsa wardhana, yang berarti bahwa pada tahun 907 Caka atau tahun 985 Masehi, Kerajaan Medang diperintah oleh raja dengan abhiseka nama Makuthawangsa wardhana yang memerintah Medang hingga digantikan oleh Sri Darmawangsa Teguh, saudara laki-laki dari Gunapriyadharmapadni (Ibu Erlangga).

II. MASA TEGUH DHARMAWANGSA

A. PEMERINTAHAN DAN HUBUNGAN LUR NEGERI

Tidak begitu jelas tahun berapa Dharmawangsa Teguh dengan abhiseka Sri Dharmawangsa Teguh Ananta Wikrama Dharmatunggadewa naik tahta menjadi Raja Medang menggantikan kedudukan Makuthawangsa Wardhana, mengingat bahwa pada tahun 985 Masehi, Makuthawangsa Wardhana masih membuat prasasti di Bandar Alim Tanjunganom Nganjuk, sedangkan Dharmawangsa pada tahun 990 M sudah melakukan aktivitas menyerang Kerajaan Sriwijaya di Palembang.

Beberapa pakar sejarah menganalisa masa pemerintahan Dharmawangsa dimulai tahun 996 Masehi yang berlangsung hingga tahun 1016 Masehi. Menurut hemat penulis, justru penyerangan ke Palembang tersebut Dharmawangsa sudah menjadi Raja, sehingga berwenang membuat kebijakan melaksanakan ambisi menyerang Kerjaan lain, yang berarti dia naik tahta beberapa tahun sebelum tahun agresinya ke Palembang 990 M.

Di bidang politik, bahwa hubungan diplomatik dengan India yang telah dirintis sejak pemerintahan mPu Sindok, masih diteruskan oleh Dharmawangsa, dan bahkan diperluas, karena dinasti Cola yang berkuasa di India utara saat itu memberikan kesempatan yang luas. Banyak pelajar dari Medang yang diberi kesempatan menuntut ilmu di Perguruan Nelanda, umumnya mereka mempelajari tentang bahasa, budaya, agama, astronomi, sejarah dan sastra.

Selain dengan India, Medang juga menjalin hubungan perdagangan dengan Cina. Bahan perdagangan utama yang didatangkan dari Cina adalah Tembikar dan Mata Uang perunggu/tahil, sebaliknya dari Medang, Cina memperoleh rempah-rempah, emas dan perak. Mata perdagangan emas dan perak dari Jawa itulah yang kemudian Raja-raja Jawa dianggap terkaya nomor 2 setelah Arab, anggapan itulah yang merangsang tentara Tar Tar melakukan perampokan besar-besaran kepada Jayakatwang tahun 1292 M.

Hubungan diplomatik dan perdagangan tersebut memperoleh saingan Sriwijaya yang telah terlebih dahulu menjalin hubungan dengan Cina, hal demikian dianggap merupakan penghalang keleluasaan Medang mengembangkan sayap.

Untuk memperlemah pesaingnya tersebut, pada tahun 990 Masehi, Dharmawangsa Teguh mengirimkan tentaranya ke Palembang dalam jumlah yang lumayan besar. Beberapa daerah pinggiran berahsil direbut tanpa perlawanan berarti dari Sriwijaya, dan daerah-daerah yang direbut dipertahankan untuk jangka waktu tertentu, yang tentu menghabiskan enerji dan logistik tanpa mampu mengembangkan peperangan. Hal demikian memang disengaja oleh Sriwijaya, karena dianggap daerah-daerah yang direbut oleh Medang adalah daerah yang tidak strategis dan tidak berpotensi.

Meskipun serangan ke Palembang tahun 990 Masehi dianggap ekspansi yang sia-sia karena tidak mengurangi kekuatan dan kekuasaan Sriwijaya menjalin hubungan dengan China , namun bagi Sriwijaya bahwa serangan dan pendudukan tentara Medang di Palembang wilayah Srwiijaya, merupakan catatan tersendiri yang kelak akan diperhitungakan.

B. PERKEMBANGAN SASTRA

Masa pemerintahan Sri Dharmawangsa Teguh Raja Medang ke 4 dan penyandang dinasti Isana, merupakan masa yang cerah bagi pengembangan ilmu pengetahuan, agama dan sastra, padepokan dan mandala yang keberadaannya jauh dari pusat keramaian seperti di lereng gunung Wilis, justru mendapat perhatian tersendiri.

Serat Sang hyang Kamahayanikam dan Kitab Brahmandapuruna yang dikarang pada masa Raja Sindok, masih tetap menjadi tuntunan pokok bagi pra siswa dan pelengkap perpustakaan istana.

Salah satu Mandala yang cukup disegani adalah yang berada di Makutho, lereng Gunung Wilis yang kelak menjadi salah satu tempat bagi Erlangga belajar mengenai hakekat hidup dan kehidupan, dan ilmu tentang kepemimpinan.

Perhatian dan fasilitas yang diberikan oleh Prabu Sri Dharmawangsa Teguh menjadikan Pustaka Sastra Jawa mengalami perkembangan yang sangat pesat, karya sastra yang diproduksi, yang hampir semuanya merupakan derivasi dari epos Mahabharata antara lain :
1.Kitab Mahabharata derivasi
2.Kitab Uttarakanda
3.Kitab Adiparwa
4.Kitab Sabhaparwa
5.Kitab Wirathaparwa
6.Kitab Udyogaparwa
7.Kitab Bhismaparwa
8.Kitab Asramawasaparwa
9.Kitab Mosalaparwa
10.Kitab Prasthanikaparwa
11.Kitab Swargarohanaparwa
12.Kitab Kunjorokarno

C. PRALAYA

Serangan tahun 990 Masehi yang sia-sia tersebut, untuk beberapa waktu lamanya tidak ada reaksi pembalasan dari Sriwijaya, kecuali hanya berakibat pasang surutnya hubungan masing-masing kerajaan tersebut dengan Cina.

Walau demikian, Sriwijaya telah memperhitungkan sebuah pembalasan dengan cermat, dan menyerahkan segala sesuatunya kepada sekutu Sriwijaya yang berada di Jawa Tengah, yaitu Raja Wora-Wari yang pusat pemerintahannya tidak terlalu jauh dari Medang yang berada di Jawa Timur, yang oleh beberapa pengamat sejarah dolokalosir di Banyumas selatan. Oleh karena itu pimpinan Kerajaan Wora-wari segera mengirim pasukan telik sandi untuk mempelajari sudut-sudut kelemahan Medang, termasuk kapan saat yang tepat untuk melakukan penyerangan.

Kesempatan yang sangat baik yang dilakukan oleh Raja Wora-Wari menyerang jantung ibukota Medang, adalah pada saat Dharmawangsa teguh mengadakan pesta pernikahan putrinya dengan Erlangga anak Gunapriyadhrmapadni yang kawin dengan Udayana Raja Bali.

Tahun 1016 Masehi, bersamaan dengan berlangsungnya kesibukan perta perhelatan akbar di Medang, dan ditengah lengahnya kewaspadaan karena tertutup keramaian tontonan, perhatian semua hadirin dikejutkan oleh kobaran api dimana-mana, disusul berhamburannya para prajurit Kerajaan Wora-Wari menerobos arena pesta, membabat, membantai semua yang ada, tanpa mengenal ampun dan belas kasihan.

Penyerangan tiba-tiba yang disertai pembumi hangusan semua bangunan di lokasi pesta, membuat paniknya suasana, dan merobah sontak seketika dari kegembiraan dan keceriaan menjadi hiruk pikuk kacau tidak karuan dipenuhi jerit tangis memilukan, disertai kobaran api yang menjilat-jilat langit ibukota Medang membara.

Tiada perlawanan, tentara Wora-Wari yang sepertinya sudah kerasukan setan, bak air bah tanpa hambatan menendang menerjang apa dan siapa saja yang berada dihadapannya, tidak peduli laki-laki, perempuan atau kanak-kanak, tidak peduli Raja, pendeta, prajurit ataupun tamu, semuanya dibabat habis dibinasakannya. Suasana carut marut kacau demikian tak ubahnya seperti pralaya atau kiamat.

Dan memang ternyata hampir semuanya tidak tersisa, harta benda dan nyawa, semuanya melayang oleh badai serangan bala tentara Kerajaan Wora-Wari sekutu Sriwijaya ditanah Jawa, termasuk Raja, seluruh keluarga dan Gunapriya Dharmapadni atau Mahendradata ibunda Erlangga gugur bersama mereka. Hanya mempelai berdua bersama SEOrang teman setia Narotama yang mayatnya tidak ada diantara mayat-mayat lain yang berserakan, karena mereka bertiga sempat meloloskan diri dan lari ke arah barat.

III. KERAJAAN WENGKER

Telah kami tulis pada edisi-edisi terdahulu dalam episode ?Misteri Situs Selopuro dan Wengker?, bahwa serangan dari Kerajaan Wora-Wari yang disertai pembumihangusan terhadap bangunan-bangunan Kraton, tidak dilanjutkan dengan penguasaan wilayah, karena begitu selesai melakukan penyerangan dan pembumi hangusan, bala tentara ini langsung di tarik kembali ke Jawa Tengah, sehingga dengan gugurnya Sri Dharmawangsa dan hampir semua keluarganya membuat vacum tampuk kekuasaan Kerajaan Medang.

Satu-satunya yang masih bisa diharapkan adalah Erlangga bersama isterinya, namun pengantin baru yang sempat lari pada malam pralaya tersebut tidak pernah ada kabar berita tentang keberadaannya. Suasana Medang mengambang dengan ketiadaan penguasa tersebut berlangsung hingga beberapa tahun kemudian.

Merasa tidak ada lagi yang mengikat, kesempatan seperti itu sangat menguntungkan bagi kerajaan-kerajaan vasal yang ingin melepaskan diri, memperkuat kedaulatan sendiri tanpa menggantungkan ikatan dan dominasi kemaharajaan Medang yang sudah jelas telah hancur lebur, termasuk dalam hal ini adalah Kerajaan Wengker di Lereng Gunung Wilis yang segera tanggap terhadap situasi yang ada.

Kerajaan Wengker menjadi semakin kuat besar dan makmur, karena pandai memanfaatakn semua peluang yang ada dengan mengkoordinir kerajaan-kerajaan vasal lainnya yang ragu-ragu dan lemah. Dan karena keberhasilannya mengkoordinir kerajaan-kerajaan vasal lainnya, telah membuat Raja Wengker berkeinginan untuk menjadi Seorang Maharaja dengan wilayah yang semakin luas.

Kedigdayaan Kerajaan Wengker inilah nantinya yang akan menjadi penghalang tersendiri bagi usaha-usaha Erlangga menghimpun puing-puing bekas Kerajaan Sang mertuanya, dan kedigdayaan Raja Wengker nantinya yang mengilhami lahirnya Kitab Arjunawiwaha karangan mPu Kanwa.

IV. MASA ERLANGGA

A. KISAH PERJALANAN

Lolos dari lobang jarum, Erlangga, isteri dan Narotama meneruskan perjalanan ke arah Gunung Wilis, konon menurut isteri yang juga saudara sepupunya itu, bahwa di Gunung Wilis ada beberapa Mandala dan Padepokan yang para Rsi dan Siswanya sebagian besar berasal dari keluarga istana, dan samar-samar mereka juga pernah mendengar yang salah satunya berada di Makutho, namun ke arah mana yang harus dilalui, mereka juga tidak mengetahuinya.

Itulah barangkali kisah perjalanan dan pengalaman mereka yang paling menyedihkan, bulan madu ke Pulau Bali yang telah direncanakannya gagal tersaput pralaya, ternyata bulan madu mereka jalani dalam pelarian yang tidak tentu arah, lapar haus, lelah cemas ketakutan dan harapan yang selalu silih berganti adalah hal yang mesti dihadapi setiap hari, kehujanan, kepanasan, naik turun gunung sudah biasa dilalui, dan seakan sudah menyatu dengan nada nafas mereka.

Merasa yakin bahwa yang dituju benar, mereka memasuki sebuah pintu Padepokan, mereka mengutarakan niatnya untuk menimba ilmu meskipun sebenarnya di dalam hati mereka sekaligus perlindungan. Namun setelah beberapa hari telah dilaluinya, harapan itu sirna karena ternyata Padepokan itu tidak cocok bagi Erlangga, ada suatu kedustaan dan kenistaan yang dilakukan oleh para Guru, ada sesuatu yang berlawanan antara ajaran dengan kenyataan yang ada di Padepokan.

Tidak cocok dengan Padepokan pertama, mereka berguru pada Padepokan yang lain yang kondisi bangunannya lebih mewah daripada Padepokan pertama. Kali inipun tidak ada ubahnya seperti Padepokan pertama, bahkan terkesan lebih urakan, untuk kedua kalinya mereka harus pergi daripada terlanjur larut dalam keberangasan dan kenistaan.

Menghadapi pengalaman dari dua Padepokan yang tutup luarnya sama yaitu kesucian, namun didalamnya tidak pantas disebut sebagai tempat kegiatan belajar mengajar tentang pekerti luhur dan keutamaan mendapatkan kesucian, membuat Erlangga hampir putus asa, hampir patah semangat. Kalau demikian kenyataan yang ada, tidak mungkin dia akan memperoleh ilmu dan dukungan untuk mengembalikan pamor Kerajaan Medang, tidak mungkin dia akan mendapatkan dukungan mengembalikan kedaulatan Medang, tidak mungkin dia akan dapat membangun kembali Kerajaan yang sudah menjadi puing-puing, atau apakah memang begitu takdir yang telah digariskan oleh Dewata Agung?, apakah sebagai anak muda dia harus menyerah pada kenyataan?

Perjalanan panjang yang penuh penderitaan, mengharuskan mereka menjalani topo broto amesu rogo, hingga mereka merasa lebih dekat dengan Dewata Agung, senantiasa memohon agar penderitaan bertubi-tubi yang mereka alami segera berakhir.

Mereka menyadari betapa kecilnya manusia yang ternyata tidak dapat berbuat apa-apa bila dibandingkan dengan kekuasaan-Nya yang tanpa batas. Barangkali lakon yang mereka alami adalah sebuah ujian dari-Nya untuk menemukan kebahagiaan kelak, apabila memang demikian pada akhirnya nanti, justru mereka merasa ditakdirkan sebagai manusia yang sangat beruntung, karena telah diberi sarat pengalaman, dan kebahagiaan akan lahir belakangan, dan bukannya sebaliknya, karena penderitaan telah mereka alami sebelumnya.

Penderitaan yang mereka alami dianggap sebagai lelaku broto, melahirkan ketajaman batin, hanya mampu berserah diri, seakan ada yang membimbing, hingga pada akhirnya, ayunan langkah kaki mereka telah sampai pada sebuah Padepokan yang cukup bersih dan tertata rapi, dimana air gemericik mengalir tiada henti menghiasi kolam alami yang dingin sejuk dan indah pada taman yang semerbak mewangi oleh bunga-bungan mekar berseri.

Sejenak ketenangan dan kesejukan alami merasuk dihati mereka masing-masing, melupakan kelelahan dan kepedihan dari perjalanan panjang mereka yang tidak menentu arah dan tujuan, kecuali hanya menghindar dari malapetaka dan kejaran yang dilakukan oleh musuh yang telah menghabisi keluarga mereka.

Tegur sapa telah mengusir kekakuan antara tuan rumah dengan tamunya. Tuan rumah yang ramah dan santun telah memperkenalkan diri bahwa dia adalah mPu Kanwa Wiku dan Pujangga, dan juga sudah kenal dengan Prabu Dharmawangsa.

Oleh Sang Wiku, Erlangga dan rombongan dipersilahkan tinggal di Padepokan (mandala), sambil menunggu situasi betul-betul aman dari kemungkinan kejaran tentara Wora-Wari. Kesempatan demikian dimanfaatkan oleh Erlangga membaca buku-buku perpustakaan mPu Kanwa yang cukup banyak. Dari beberapa buku (baca rontal), ternyata sebagian adalah karya Sang Wiku sendiri, bahkan beberapa diantaranya pernah dilihat oleh Erlangga di perpustakaan Medang.

B. ASTO BROTO

Tertarik oleh karya-karya itu, Erlangga kemudian menyatakan niatnya berguru sekaligus meminta nasehat bagaimana menghadapi hidup seperti yang dialaminya ini, di usia muda telah kenyang dengan penderitaan pahit dan getir.

Dikit demi sedikit ilmu demi ilmu telah diajarkan kepada Erlangga yang cerdas, sopan dan berkepribadian, serta disenangi oleh sesama siswa mPu Kanwa. Nasehat yang diberikan, disesuaikan dengan kisah penderitaan Erlangga sendiri sebagai calon pemimpin, yaitu tentang bagaimana watak yang harus dimiliki oleh SEOrang pemimpin apabila ingin dicintai oleh semua kawulo.

Hal itu dimaksudkan agar kelak apabila Erlangga telah menjadi SEOrang Raja, dapat berlaku adil dan bijaksana terhadap semua kawulo tanpa pilih kasih, kawulo merasa terlindungi oleh kekuasaannya, yang kehadirannya selalu diharapkan oleh semua orang.

Mpu Kanwa yang yakin benar bahwa Erlangga mempunyai wahyu keprabon, merasa perlu memberikan gemblengan serta bekal tersendiri agar pembentukan kepribadian lebih mengarah, semangat hidup dan semangat perjuangan yang hampir padam, dapat lebih berkobar namun terkendali, dan untuk itu pengendaliannya adalah melalui praktek yoga (prasasti Pucangan, 1041, de Casparis, 1958).

Seorang pemimpin bukanlah kawulo, namun SEOrang pemimpin hendaknya dapat merasakan apa yang dialami oleh kawulo, penuh tepo seliro, mengerti penderitaan dan susahnya serta serba keterbatasan rakyat kecil. Jangan pernah merasa pintar sendiri, mudah menyalahkan ketidak mampuan anak buah, sebab dengan mudah menyalahkan anak buah demikian, berarti dia tidak mampu menjadi pemimpin.

Terlebih bagi SEOrang pimpinan yang dapat menjadi pejabat karena pengangkatan, bisa saja terangkatnya karena faktor keberuntungan atau kedekatan dengan pimpinan yang lebih atas maupun faktor lainnya, seringkali kredibilitasnya menjadi bahan taruhan oleh banyak orang.

Pimpinan yang tidak dapat menjadi pemimpin, seringkali menjadi cemoohan. Pimpinan maupun pemimpin, dapat saja suatu saat menjadi kawulo, apabila keberuntungan tidak lagi berpihak kepadanya. Untuk itu haruslah selalu siap dan legowo apabila betul-betul terjadi perubahan seperti itu.

Lebih lanjut mPu Kanwa memberikan gambaran tentang sifat-sifat yang dimiliki oleh kelompok Dewa Lokapala sebagaimana ajaran Astobroto dalam Kekawin Ramayana yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin maupun calon pemimpin seperti diri Erlangga, yaitu :

Pertama sifat Baskoro (Matahari)
Seorang pemimpin harus dapat meniru sifat Matahari yang mampu memberikan penerangan kepada jagad raya beserta isinya, memberi kehidupan bagi seluruh makhluk yang ada di dunia. Pemimpin harus dapat memberi semangat dan motivasi kepada yang dipimpinnya, agar kawulo dapat memanfaatkan hidup ini semaksimal mungkin bagi hidup dan kehidupannya, agar bermanfaat bagi orang banyak. Jangan mudah menyerah terhadap apa yang telah diterimanya, tapi berusahalah terus tanpa mengenal putus asa. Penderitaan dalam pengembaraan yang lalu, adalah cambuk semangat untuk meraih cita-cita. Hanya dengan semangat dan usaha, cita-cita untuk merebut kembali tahta Sang Mertua pasti akan tercapai.

Kedua Sifat Condro (Bulan)
Seorang pemimpin harus mampu meniru watak Condro yang dapat membuat suasana damai, yaitu harus mampu menciptakan suasana tertib, aman, nyaman dan sejuk, sehingga bawahan merasa terayomi tanpa merasa takut akan gangguan dan ancaman. Andaikan ada perasaan cemas dihati sang pemimpin, janganlah diperlihatkan kepada bawahan, bahkan pemimpin harus dapat memberikan motivasi bahwa tidak ada yang perlu dicemaskan dan dikhawatirkan. Tuhan pastimenolong hamba-Nya, apabila hamba itu memintanya dengan sungguh-sungguh.

Ketiga watak Kartiko (Bintang)
Setiap gerak langkah dan perbuatan pemimpin, harus dapat menjadi cermin contoh dan suri tauladan bagi pengikutnya. Segala perbuatan pemimpin haruslah dapat ditiru oleh kawulo. Sekali sang pemimpin berbuat menyimpang dari norma, untuk selamanya bawahan tidak akan pernah mau mengikuti dan mengakuinya lagi. Oleh sebab itu pikirkanlah terlebih dahulu sebelum berbuat, agar masyarakat tetap setia.

Keempat watak Bayu (Angin)
Bayu atau angin selalu ada dimana-mana walaupun didalam perut sekalipun. Bahkan untuk bernafas, semua makhluk memerlukannya.
Pemimpin harus dapat manjing ajur ajer (jw), harus dapat bergaul dengan siapapun juga, strata manapun, agar dapat menyelami peri kehidupan serta suasana pikir kawulo, mampu menciptakan rasa empaty yang tinggi, mampu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, karena sebetulnya orang lain itu sama dengan kita juga. Disamping itu lancarnya hubungan informal, akan melancarkan tugas-tugas formal.

Kelima Watak Dahono (Mendung)
Mendung yang selalu angkuh dan berwibawa, yang tidak akan minggir walaupun matahari meneriakinya.
Pemimpin harus mampu menjaga kewibawaannya. Untuk itu jangan mudah bicara asal bicara, setiap bicara yang dikeluarkannya haruslah bermakna (sabdo pandito Ratu), adil, seimbang, setiap informasi haruslah dikonfirmasi terlebih dahulu dari kedua fihak sebelum mengambil keputusan, kalau tidak, bawahan akan mengkerdilkan kepemimpinannya.

Keenam Watak Agni (Api)
Api akan melalap apa saja yang ada disekitarnya tanpa ampun dan kompromi, tapi api tidak akan membakar benda-benda tertentu yang karena sifatnya, tidak akan mudah terbakar. Pemimpin harus tegas dan tanpa ragu-ragu dalam mengambil keputusan, jangan mangro tingal, jangan setengah-setengah, jujur dan adil, jauh dari KKN, tidak mudah menge;uarkan keputusan yang pada akhirnya akan ada koreksi karena kesalahan. Pemimpin harus mau menghargai pendapat yang benar walaupun pendapat tersebut berseberangan dengan pendapat pemimpin.

Ketujuh watak Samodro (Lautan)
Samodro maha luas tidak terbatas, dengan volume yang tidak terukur, mampu menampung apa saja. Agar menjadi pemimpin yang sempurna dan berpandangan luas, harus memiliki banyak pengalaman dan pengetahuan. Jangan pernah menganggap pengalaman yang tidak menyenangkan akan tidak bermanfaat dikemudian hari. Pengalaman seburuk apapun, pasti akan berguna dikemudian hari, oleh karena itu pemimpin harus selalu menimba pengetahuan dimanapun dia berada. Pemimpin yang luas pengalamannya, akan menelorkan keputusan yang bijaksana.

Kedelapan watak Kuwera (Bumi)
Bumi adalah ibu Pertiwi yang penuh belas kasih, ikhlas berkorban menjadi tumpuan segala makhluk di persada ini. Bumi diindentikkan dengan watak jujur, suci, ikhlas, murah hati, mau menerima saran dan pendapat, menghargai ide, menghargai siapapun yang berani mengemukakan pendapat, menghargai jasa orang lain walau sekecil apapun jasa yang diberikan oleh orang itu, mengorangkan orang, membimbing yang lemah dengan kasih. Dengan demikian, kawulo pasti akan mencintai sang pemimpin, mengasihi Sang pemimpin, dan mau berkorban demi Sang pemimpin dengan ikhlas.

C. MEMBANGUN DARI SISA
Dengan bimbingan mPu Kanwa dan dorongan semangat serta bantuan kekuatan dari para siswa Mandala, dimulailah membangun kembali dari sisa-sisa reruntuhan kedaulatan kerajaan Medang di tempat yang baru, karena menurut keyakinan bahwa lahan dan bahan dari bekas reruntuhan lama, diyakini kurang baik apabila dipergunakan kembali.

Ditempat baru dan istana baru, Erlangga memproklamasikan bahwa Kerajaan yang baru, tetap bersama Medang, dan dia mengangkat dirinya sebagai Raja penerus dinasti Isana, serta mengangkat Narotama sebagai Patih dan mPu Kanwa sebagai Penasehat Kerajaan merangkap sebagai Pujangga Kraton Medang.

Setelah pembenahan kedalam Kraton dirasa telah memenuhi apa yang diharapkan dan memadai, barulah dimulai langkah-langkah keluar dengan mengirim utusan kepada Kerajaan-kerajaan sekitar yang dahulu menjadi vasal Kerajaan Medang, untuk bergabung kembali dibawah panji-panji Medang, serta mengakui Kemaharajaan Erlangga sebagai penerus dinasti Isana. Kepada mereka yang membangkang, tidak ada jalan lain untuk kompromi, kecuali harus ditundukkan dengan kekuatan angkatan bersenjata.

Beberapa Raja langsung menyatakan kesediannya bergabung kembali sebagaimana sebelum ada serangan Wora-Wari, serta mengakui kedaulatan Erlangga sebagai Raja Medang yang baru, namun ada beberapa yang minta waktu berpikir beberapa saat, dan ada beberapa yang langsung menolak karena merasa Medang telah hancur, kerajaan vasal telah berdiri dan berdaulat sendiri, serta memandang kekuatan Erlangga belum seberapa, termasuk pada kategori terakhir adalah Kerajaan Wengker yang telah merasa cukup kuat menghadapi kekuatan Erlangga yang belum terkoordinir penuh.

Prasasti Pucangan (1041) dan prasasti Baru, mencatat peperangan yang dilakukan oleh Erlangga sebagai berikut :
-Tahun 1028 M, memerangi Raja Wengker ? gagal
-Tahun 1029 M, memerangi Raja Wuratan ? menang
-Tahun 1030 M, memerangi Raja Wengker ? gagal
-Tahun 1931 M, memerangi anak Raja Wengker
-Tahun 1030 M, memerangi Raja Hasin
-Tahun 1032 M, memerangi Raja Wora-Wari
-Tahun 1035 M, memerangi Raja Wengker

Pada prasasti Terep (1032 M) ada indikasi bahwa Erlangga pernah mengalami kekalahan dalam suatu peperangannya, yang kemudian meninggalkan kratonnya yang berada di Wwatan Mas (Supratikno Raharjo, 2002 ? Drs.Santoso, 1971).

Bukan pekerjaan yang mudah bagi Erlangga untuk membangun kembali kerajaan yang telah hancur berkeping-keping, cerai berai hangus tidak bersisa kecuali tinggal nama, tiada sanak saudara yang diharapkan dapat membantu, karena semuanya telah dibinasakan oleh Wora-Wari.

Sebuah perjuangan yang sangat berat luar biasa, semuanya harus dimulai dari nol, dari yang sama sekali tidak ada menjadi ada, segala sesuatu harus dipersiapkan sendiri tanpa ada dukungan, jaminan, harta benda, kekuatan dan kepercayaan dari siapapun, kecuali rasa percaya diri dan keyakinan luar biasa akan keberhasilan mewujudkan angan-angannya untuk membangun kembali Kerajaan Medang, membangkitkan kembali Medang, melestarikan wangsa Isana sampai kapanpun.

Suatu hal pokok yang menjadi modal awal memulai perjuangannya adalah ketekatan, dirinya sendiri, isterinya, Narotama, mPu Kanwa dan para brahmana semua murid mPu Kanwa, serta kesediaan sebagian raja-raja vasal untuk bergabung kembali dengan Medang baru.

Walaupun dnegan tertatih-tatih, tahap demi tahap namun dilandasi oleh semangat yang tinggi, akhirnya Erlangga berhasil menyusun struktur tata pemerintahan yang sederhana, dilengkapi dengan personil sementara. Semangat adalah modal pokok untuk maju, dan ternyata pengalaman telah membuktikan bahwa dengan modal semangat itu pulalah yang menjadikan Erlangga SEOrang Raja.

Setelah penataan struktur tata pemerintahan kedalam dirasa telah tertata sebagaimana yang diharapkan, pada tahun 1028 Masehi, mulailah Erlangga memerangi Kerajaan-kerajaan vasal yang tetap membandel, yang memaksa Erlangga harus menggunakan kekuatan bersenjata untuk menundukkanya.

Peperangan pertama ke Kerajaan Wengker mengalami kekalahan, bahkan gagal total karena tentara Erlangga belum berpengalaman menghadapi perang yang sebenarnya.

Kekalahan atas serangannya ke Wengker, tidak membuat Erlangga berkecul hati, ia kemudian mengalihkan sasarannya menyerang Raja Wuratan setahun kemudian, yaitu tahun 1029 Masehi, yang dengan mudah Wuratan dapat ditundukkan.

Dengan keberhasilannya menundukkan Raja Wuratan, berarti juga jumlah kekuatan tentaranya menjadi bertambah. Pada tahun 1030, Erlangga kembali menyerang Kerajaan Wengker untuk yang kedua kalinya, dan kali inipun masih mengalami kekalahan yang bahkan lebih besar daripada kekalahan yang terdahulu, karena lebih banyak prajuritnya yang gugur.

Kekalahannya yang kedua terhadap Wengker, tidak membuat Erlangga patah semangat, pada tahun itu pula perhatian diarahkan emmerangi Raja Hasin, dan pada tahun 1031 Masehi memerangi Anak Raja Wengker.

Pada tahun 1032 Masehi, sebagian tentaranya yang telah berpengalaman dalam beberapa kali peperangan, dikirin ke Jawa Tengah (Banyumas Selatan?) untuk menghajar musuh utamanya, yaitu Raja Wora-Wari yang pada 16 tahun sebelumnya telah menciptakan api neraka dalam peristiwa Pralaya Medang membara, dimana ibundanya dan kedua mertuanya mengalami ajal. Dan sejak penyerangannya ke Jawa Tengah, Wora-Wari tidak pernah lagi muncul ke permukaan sejarah.

Dua kali kekalahannya melawan Raja Wengker, membuat Erlangga semakin khawatir akan perkembangan kekuatan Raja Wengker yang semakin lama semakin membahayakan bagi Kerajaan Medang dimasa depan, karena sejak berdaulat sendiri, wilayah kekuasaan Wengker menjadi semakin luas, besar, kuat dan makmur, sehingga akan semakin sulit ditundukkan.

Diantara beberapa kali peperangannya, ternyata Kerajaan Wengker adalah yang paling tangguh. Peperangan yang dilakukan tahun 1028 Masehi, sama sekali tidak membuahkan hasil, karena banyak tentaranya yang gugur.

Serangan kedua tahun 1030 Masehi pun juga mengalami kegagalan. Barangkali kegagalan pada serangan kedua inilah yang diasumsikan penyebab Erlangga meninggalkan kratonnya yang berada di Wwatan Mas.

Pendapat tentang ?kekalahan adalah kemenangan yang tertunda?, Erlangga kemudian mempelajari sisi kelemahan dirinya sendiri dan ketangguhan Wengker yang tidak mudah dikalahkannya, maka disusunlah strategi baru yang merupakan gabungan dari 3 cara yang diterapkan secara bersamaan dan saling dukung mendukung satu sama lain, yaitu : yudha, cyama dan dana (Drs.Santoso, 1971), atau taktik memecah belah, mengadu domba dan menguasai, membiayai oposisi untuk mendeskreditkan penguasa Wengker, dan penggunaan kekuatan bersenjata setelah terlebih dahulu berhasil menyelundupkan telik sandi untuk bekerja dikalangan musuh.

Dengan melakukan ketiga cara tersebut secara bersamaan, barulah pada peperangan terakhir tahun 1035 Masehi, Kerajaan Wengker dapat ditundukkan oleh Erlangga setelah mana Raja Wengker dapat dibunuh oleh prajuritnya sendiri, yang sebetulnya adalah tentara Erlangga yang diselundupkan dan menjadi prajurit kepercayaan Raja Wengker.

Dengan demikian dapat diasumsikan bahwa perjuangan Erlangga untuk memulihkan keutuhan kembali wilayah Kerajaan Medang, tidaklah begitu mudah, namun memerlukan perjuangan yang panjang, penuh pengorbanan dan perlu waktu yang cukup lama, dan Kerajaan Wengker adalah target yang tersulit dan terlama untuk menundukkannya.

D. SILSILAH ERLANGGA

Prasasti Calcuta yang dibuat oleh Raja Erlangga tahun 1041 M bila dikonfirmasikan dengan sumber lain, rupanya kurang tegas menjelaskan silsilah yang sebenarnya kecuali garis keturunan dari ibunya saja, tanpa menyebutkan yang lain seperti siapa Dharmawangsa dan lain-lain.Uraian yang akan memberikan gambaran lebih jelas adalah sebagai berikut :

1.mPu Sindok atau Sri Isana Wikramadharmattunggadewa mempunyai 2 orang isteri yang pernah mencuat dalam prasasti, yaitu :
a.Rakryan Binihaji Rakryan Mangibit (Permaisuri)
b.Sri Parameswari Dyah Kbi (Anak Rakryan Bawang/Selir)
2.Dari perkawinannya dengan Rakryan Binihaji Rakryan Mangibit, mPu Sindok mempunyai SEOrang anak perempuan yang kemudian menggantikan kedudukannnya menjadi Raja Medang ke 2 dengan abhiseka nama Sri Isana Tunggawijaya, yang kemudian kawin dengan Sri Lokapala yang diketahui beragama Budha.
3.Perkawinan Isana Tunggawijaya dengan Lokapala melahirkan anak perempuan yang kemudian menjadi Raja Medang ke 3 dengan nama Makuthawangsa Wardhana.
4.Makuthawangsa Wardhana mempunyai 2 orang anak laki-laki dan perempuan, yaitu :
a.Dharmawangsa Teguh yang kemudian menjadi Raja Medang ke 4 menggantikan Makuthawangsa Wardhana
b.Mahendradata Gunapriya Dharmapadni (Ibu Erlangga)
5.Mahendradata dikawin oleh Dharma Udayana Marwadewa Raja Bali dinasti Marwadewa, dan hidup di Bali
6.Dari perkawinan Mahendradata dan Raja Udayana, melahirkan SEOrang anak yang diberi nama Erlangga.
Erlangga lahir di Bali pad atahun 1000 Masehi, yang pada usia 16 tahun diambil menantu oleh pamannya sendiri Raja Medang ke 4 Sri Dharmawangsa Teguh, yang pada pesta perkawinannya tahun 1016 Masehi, diserbu oleh bala tentara kerajaan Wora-Wari, menyebabkan semua keluarganya meninggal dunia termasuk kedua mertua dan ibunya sendiri, sedangkan Erlangga beserta isteri dan SEOrang teman setianya Narotama berhasil meloloskan diri.

E. ARJUNO WIWOHO

Syahdan, Bethoro Syakera diancam bahaya, karena ada SEOrang Raja Raksasa Newoto Kawoco sakti mandraguna tidak mempan oleh senjata apapun beristana di Gunung Mahameru Selatan, bermaksud akan menghancurkan ka Indran apabila permintaannya memperisteri bidadari Dewi Suprobo tidak dikabulkan oleh para Dewa. Meskipun sakti mondroguno, Newoto Kawoco ditakdirkan dapat dikalahkan oleh manusia yang lebih sakti.

Mendapat ancaman tersebut Bethoro Indro menitahkan mencari bantuan manusia yang lebih sakti daripada Newoto Kawoco. Kebetulan Sang Arjuno sedang bertapa dengan maksud untuk mendapatkan kesaktian agar menang dalam setiap kali peperangan, serta menjauhkan dari nafsu duniawi.

Menurut evaluasi para Dewa, bahwa bertapanya Arjuno telah hampir sempurna, dan sudah waktunya para Dewa mengabulkan permintaan Arjuno, namun terlebih dahulu harus diuji mental dan nafsunya, dengan cara menurunkan tujuh Bidadari yang cantik-cantik, dipimpin Tilutomo dan Suprobo untuk menggoda Sang Tapa.

Godaan para Bidadari tidak berhasil,dan Arjuno tetap pada posisi tapa. Hal demikian justru mengkhawatirkan Bethoro Indro, jangan-jangan karena keasyikannya bertapa Arjuno telah melupakan dunia. Kalau demikian halnya, bagaimana untuk menghentikan keangkaramurkaan Newoto Kawoco ?

Untuk membuktikan sendiri Bethoro Indro beralih rupa menjadi SEOrang Rsi tua yang bungkuk dan lemah, mendatangi Arjuno yang disamping kanan kirinya ada beberapa senjata.

Dalam dialognya, Resi menanyakan kepada Arjuno tentang maksud keberadaan senjata, yang menandakan bahwa Sang Tapa masih mempunyai nafsu membunuh, ingin berkuasa, ingin menang sendiri, hal demikian jelas sangat tidak cocok dengan kelayakan dunia pertapa. Alangkah lebih baiknya apabila maksud bertapanya diarahkan ke kebaikan, pekerti luhur, laku utomo. Bagaimana akan dapat minum air amrta, kalau yang diminum justru racun. Memanjakan panca indera berarti seseorang akan tertutup oleh hawa nafsu. Apabila manusia kalah oleh nafsu, dia aka diperbudak oleh nafsu untuk selamanya. Kalau yang dicari harta benda yang mendapatkannya tidak halal, sama halnya menghidupi anak isterinya dengan racun, dan yang akan terjadi adalah bahwa anak dan isterinya akan termakan oleh racun itu, atau akan menjadi manusia yang tidak sempurna hidupnya, karena tubuhnya telah keracunan, pertumbuhan daging tulang dan darahnya karena racun. Hal demikian jelas merupakan awal dari kesengsaraan yang dibuat sendiri.

Argumentasi Arjuno kepada Sang Resi bahwa keberadaan senjata tersebut adalah berkaitan dengan laku utomo dari darah ksatria, mempunya kewajiban mengharumkan keutamaan nama dan kerajaan. Dia belum pantas mati sebelum berbhakti kepada bangsa dan negara. Mati memang tujuan tiap manusia, namun selagi manusia itu hidup, harus diisi dengan amalan positif agar hidup ini tidak sia-sia.

Setelah ujian yang diberikan oleh Resi dipandang cukup, kemudian Resi beralih rupa pada ujud semula sebagai Bethoro Indro, dan memberikan anugerah berupa panah Pasyupati dan api yang menyatu dengan panah, lengkap dengan gendhewa dan mahkota yang tidak ada bandingannya, sebuah suf dan terompah yang dapat dipakai mengangkasa, serta bonus ajaran tentang ilmu perang.

Untuk mengetahui titik kelemahan (Pengapesan Jw) Prabu Newoto Kawoco, para Dewa mengirim Suprobo kepadanya, berpura-pura mau dijadikan isteri sesuai permintaannya. Dengan kelihaian rayuan Suprobo, Prabu Newoto Kawoco akhirnya mau menceritakan letak rahasia kesaktiannya di ujung lidahnya.

Menyadari bahwa telah terlanjur menceritakan rahasia kesaktiannya yang juga merupakan naas/pengapesannya kepada Suprobo, yang disinyalir atas pengaturan siasat para Dewa, Newoto Kawoco mengamuk, segera mengirim berpuluh-puluh ribu tentara Raksasa menggempur Kahyangan permukiman para dewa, yang disepanjang perjalanannya menimbulkan kerusakan hebat disana-sini.

Keangkaramurkaan Raja raksasa yang sakti mondroguno tersebut akhirnya dapat dihentikan, setelah Arjuno melepaskan jemparing Pasyupati yang tepat mengenai ujung lidahnya, menamatkan riwayat Newoto Kawoco, gugur ing madyaning palangan.

Kitab Arjuno Wiwoho dengan bentuk kekawin ke atas, ditulis oleh mPu Kanwa Maharsi, sekaligus penasehat spiritual dan penasehat perang Erlangga, juga merangkap pujangga istana. Mpu Kanwa terlibat langsung dalam setiap peperangan Erlangga.

Kitab tersebut sebenarnya adalah dokumentasi kisah nyata perjuangan Erlangga, yang dimulai dari wiwoho (pesta pernikahan) Erlangga dengan anak Dharmawangsa, yang ditengah-tengah pesta pernikahannya diserang oleh Kerajaan Wora-Wari tahun 1016 Masehi, hingga dia bersama isteri dan kawan setianya sempat meloloskan diri, terlunta-lunta hidup di hutan lereng Gunung Wilis, hingga pakaian yang dikenakannya habis tercabik-cabik oleh ranting hutan dan menggantinya dengan kulit kayu.

Selanjutnya Erlangga memasuki 2 perguruan (padepokan), yang ternyata keduanya tidak cocok dihatinya, kemudian dengan harapan yang hampir putus asa, memasuki suatu Mandala yang memberi harapan besar dan menggugah semangatnya kembali. Disitulah dia mendapatkan segala sesuatu yang sangat berguna kelak, yaitu ilmu kepemimpinan asto broto, belajar Agama dan praktek Yoga.

Dengan dukungan mPu Kanwa dan murid-muridnya, Erlangga mulai menyusun kembali Kerajaan Medang yang telah porak poranda, dan menaklukkan Kerajaan-kerajaan vasal yang dahulu berada dibawah kekuasaan Dharmawangsa Teguh. Namun untuk menaklukkan Wengker yang telah menjadi besar, bukanlah sesuatu yang mudah, karena memerlukan waktu selama 7 tahun dengan beberapa kali peperangan.

Penaklukkan Wengker, adalah setelah Erlangga berhasil menyelundupkan mata-matanya, yang oleh Raja Wengker di rekrut menjadi pengawal pribadi Raja, sehingga Erlangga dapat mengetahui secara detail titik kekuatan dan kelemahan Wengker. Pengawal inilah yang kemudian berhasil membunuh Raja Wengker dalam pelariannya ke Mbarat (Drs. Santoso, 1971).

Dengan mengambil tokoh-tokohnya dari dunia pewayangan (Mahabharata) yang dikemas sedemikian rupa, dengan memasukkan unsur-unsur filsafati tentang hidup dan kehidupan, kitab tersebut menjadi sangat menarik sampai sekarang. Menurut catatan Supomo, 1985, mPu Kanwa menggandakan kitab ini 30 buah.

Selain itu, kitab tersebut juga digubah kedalam sastra bentuk prosa dengan judul ?Serat Wiwoho Jarwo? dan digelar dalam pewayangan ringgit purwo, dengan lakon :
1.Wahyu Makutho Romo
2.Begawan Mintorogo
3.Begawan Ciptoning/Ciptoening
4.dan lakon-lakon sempalan lainnya

F. TITISAN WISNU
Kesengsaraan hidup yang dengan terpaksa dijalaninya di hutan bersama isteri dan Narotama tanpa bisa berganti pakaian, sampai-sampai pakaian yang dikenakannya telah hancur tercabik oleh ranting-ranting kayu hutan yang dilewatinya, dan keadaan telah memaksa untuk menggantinya dengan kulit kayu (walkaladhara).

Perjalanan hidup yang telah dilakoni mulai dari hutan sampai ke kehidupan di asrama bersama para siswa beberapa tahun lamanya, memberi arti tersendiri bagi Erlangga, karena dari sesama siswa, dia memperoleh banyak gambaran tentang berbagai karakter manusia yang ternyata satu sama lain berbeda. Dari pergaulan bersama mereka, Erlangga langsung maupun tidak langsung telah mendapatkan pengalaman tentang seni memimpin sesama manusia, dan dari praktek yoga di asrama, Erlangga bisa tahu bagaimana mengenal diri sendiri dan bagaimana cara yang sebaik-baiknya memimpin diri sendiri (prasasti Pucangan, 1041 M).

Justru dengan banyaknya pahit getirnya pengalaman yang telah dilakoninya, dan tekunnya upaya memperoleh pengetahuan di asrama, membuat Erlangga menjadi SEOrang Maharaja yang mampu mengendalikan diri sendiri, selalu mawas diri, selalu mengutamakan kebutuhan rakyat banyak, hampir-hampir tidak pernah berfikir untuk kepentingan diri sendiri.

Semua kebutuhan rakyat Medang, adalah menjadi prioritas pemikirannya, terutama yang mengarah pada tujuan kesejahteraan secara adil dan merata. Beberapa waduk, bendungan dan prasarana pengairan bagi persawahan dan perikanan dibangun di beberapa tempat (prasasti Kamalagyan, 1037 M). Pembukaan persawahan baru sebagai awalan acara penetapan Sima yang dilakukan pada masa Sindok, masih diteruskan pada masa Erlangga, hingga beras sebagai komoditas utama berproduksi nelimpah ruah.

Untuk memperlancar perdagangan internasional dan interinsuler, dilakukan perluasan pelabuhan laut Kembang Putih di Tuban, dan perbaikan dermaga Sungai Brantas di Ujung Galuh Jombang.

Ramainya lalu lintas pelayaran nasional yang menyusuri Sungai Brantas, dapat diketahui antara lain dari prasasti Kamalagyan, 1037 M, yang menuliskan perasaan para nahkoda dan pedagang dari wilayah nusantara (para puhawang prabanyaga sangkaring dwipantara) yang bersuka ria karena perjalanan mereka melalui Sungai Brantas telah kembali lancar (de Casparis 1958, Supratikno Raharjo, 2002).

Tampaan pimpinan Mandala dan kehidupan keagamaan bersama para siswa di asrama, menjadikan Erlangga SEOrang Raja yang sangat menghormati semua agama di Medang, karena dia menyadari sepenuhnya bahwa semua agama bertujuan sama, yaitu kebaikan dan kesucian, baik untuk hubungan sesama manusia, dan suci dalam hubungannya dengan Hyang Moho Widhi Waseso. Dengan mempelajari agama dan Yoga, orang akan mampu menguasai hakekat hidup, mampu mengendalikan hawa nafsu dan selalu mensyukuri hidup sebagai suatu anugerah.

Untuk itu pada jamannya, kehidupan beragama dikembangkan, tri kerukunan hidup umat beragama yaitu kerukunan intern sesama agama, antar umat beragama dan antara umat beragama dengan pemerintah Kerajaan, benar-benar terpelihara dengan baik, bahkan sesekali dilakukan acara pujian kepada Budha, Siwa dan Rsi serta Brahma bersama-sama.

Untuk memelihara kehidupan beragama, beberapa bangunan keagamaan didirikan, tempat-tempat suci mendapatkan perhatian dari Kerajaan. Tokoh-tokoh agama Budha, Siwa dan Rsi ditempatkan pada kedudukan terhormat di istana (prasasti baru, 1030 M dan prasasti Pucangan, 1041 M).

Pada akhir masa pemerintahannya, Erlangga berupaya meneruskan estafet kepemimpinannya dengan menyerahkan jabatan kemaharajaan kepada putri mahkota Kilisuci. Namun Kilisuci tidak berminat menjadi Raja, bahkan lebih tertarik menjadi pertapa di Gua Selomangleng.

Atas penolakan putri mahkota tersebut, kemudian Erlangga membagi Kerajaan Medang menjadi 2, dengan garis perbatasan Sungai Brantas kepada 2 orang anak laki-lakinya yang lahir dari 2 orang selirnya:

a.Sebelah utara Brantas diberi nama Kerajaan Jenggolo, dengan ibukota Kahuripan, untuk putranya Garasakan.
b.Sebelah selatan Brantas diberi nama Kerajaan Penjalu atau Kediri, dengan ibukota di Dahapura, untuk putranya Samara Wijaya.

Setelah membagi dua kerajaan untuk kedua orang putranya dan dirasa telah memenuhi rasa keadilan, Erlangga mengundurkan diri, turun dari tahta Keprabon, memilih kembali pada kehidupan semula sebagai SEOrang pertapa, kembali pada kesucian, mendekat kepada Sang Moho Agung, hingga akhir hayatnya tahun 1049 Masehi, dan mendapat julukan Sang Prabu Apuspala Jatiningrat, Maharaja Erlanggyabhisekanira.

Erlangga adalah tokoh kharismatik yang sempurna sebagai SEOrang maharaja, karena mengawali perjuangannya SEOrang diri, tanpa bantuan dan fasilitas dari siapapun hingga Medang terbangun kembali, bahkan lebih gemilang daripada masa sebelumnya.

Oleh karena itu Erlangga dianggap sebagai pahlawan perang dan pelindung rakyatnya, Raja yang sangat memperhatikan kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya, yang memfasilitasi pendidikan dan kesusasteraan, serta memelihara tri kerukunan hidup umat beragama, adil bijaksana, yang selalu dapat menempatkan diri dimanapun dia berada, SEOrang Raja yang memang ditakdirkan menjadi SEOrang pemimpin karena bakat, yang disempurnakan oleh gemblengan perjalanan hidupnya.

Karena kemampuannya yang luar biasa itu, kualitas kepemimpinannya dianggap setarap dengan kualitas kepemimpinan Dewa Wisnu, dan dianggap sebagai awatara (titisan) Wisnu, sehingga pada saat peringatan meninggalnya, dibangun sebuah patung Wisnu dalam posisi duduk, naik kendaraan Garuda Kedewataan, diapit dua arca isterinya, yaitu Dewi Sri dan Dewi Laksmi.

V. KEDATUAN (KEDATON)

Sulitnya melacak situs istana raja, menyebabkan sejarah itu sendiri menjadi misteri dan samar-samar, sehingga memunculkan beberapa teori yang mungkin bertentangan antara yang satu dengan lainnya. Dugaan sementara yang menyebabkan bangunan istana tersebut tidak meninggalkan bekas antara lain :

1.Teror bumi hangus bangunan Istana yang dilakukan oleh tentara Wora-Wari, menyebabkan hampir semua bangunan istana musnah terbakar dalam peristiwa pralaya 1016 M.

2.Letusan Gunung Kelud yang memuntahkan jutaan meter kubik material mengalir melalui kali Semut, kali Putih, kali Badak, kali Gedeg, kali Dermo, kali Sukorejo, kali Ngobo, dan kali Sarinjing masuk ke kali Brantas, menghancurkan semua bangunan di sepanjang aliran sungai, serta merobah arah aliran Brantas, termasuk merusak bangunan-bangunan monumental Kerajaan Medang.

3.Bahan bangunan Istana Raja berasal dari bahan material yang tidak tahan lama seperti kayu, bambu, daun dari pohon jenis palma sebagaimana yang tertulis dalam kronik Cina abad X bahwa istana Raja terbuat dari bahan kayu.

Meskipun bukti-bukti peninggalan tidak dapat menunjukkan lokasi yang tepat, namun dari beberapa prasasti baik yang terbuat dari batu, lempengan tembaga ataupun rontal dan lain sebagainya, kiranya paling tidak, dapat dipakai sebagai bahan perkiraan daerak letak istana Raja pada masa itu.

Beberapa pernyataan yang dapat dipakai sebagai bahan dugaan tersebut menurut de Casparis 1986/1987-Supratikno Raharjo, 2002 sebagai berikut :
(1). Sri maharaja makadatwan I tamwlang (prasasti Turyyan, 929 Masehi)
(2). Sri maharaja katalayah sangke wwatan mas mara I patakan (prasasti terep, 1032 Masehi)
(3). Makatewaka pandri sri maharaja makadatwan I kahuripan (Kamalagyan, 1037 M)

Selanjutnya pada tulisan lain disebutkan :
(1). Kadatwan ????. Sri maharaja I bhumi mataram (Turyyan, 929 M)
(2). Kadatwan????…i mdang I bhumi mataram (Anjuk Ladang, 937 M)
(3). I mdang I bhumi mataram I watu galuh (Paradah II, 943)

Dari beberapa pernyataan diatas, kesimpulan sementara yang patut dikemukakan adalah :
1.Bahwa pada tahun 929 Masehi, istana Raja Sindok dari Kerajaan Medang, bertempat di kota Tamwlang
2.Bahwa pada tahun 1037 Masehi, istana Raja Erlangga dari Kerajaan Medang berada di ikukota Kahuripan.
3.Prasasti Terep 1032 M menulis bahwa pada tahun 1032 sri maharaja terdesak (dalam suatu peperangan), hingga meninggalkan tempat Wwatan mas menuju Patakan, namun tidak menjelaskan posisi Wwatan mas sebagai kedaton atau hanya markas pertahanan.
4.Prasasti Paradah II dan Prasasti Bandar Alim, sama-sama mengatakan mataram I watu galuh, tanpa menyebut kedatuan

Praduga Penulis :

1.Nama Kerajaan mulai dari mPu Sindok sampai Erlangga, tetap bernama Kerajaan Medang.

2.Istana Raja pada awalnya berada di Trayang (Ngronggot). Trayang adalah pergeseran pengucapan dari Tamwlang ? Turyyan ? Trayang. Bandingkan dengan kata atuha menjadi ? Ngantang, Rarae menjadi Pare, Kamalagyan menjadi Kemlagi. Barangkali wilayah Trayang dahulu meliputi daerah yang lebih luas, termasuk Klurahan dimana diketemukan beberapa peninggalan kuno.

3.Watu Galuh sebagaimana disebut dalam prasasti Paradah II tahun 943 M dan Prasasti Bandar Alim 985 M, merupakan salah satu pelabuhan yang sangat penting bagi lalu lintas sungai Brantas lama bagi perdagangan interinsuler, sehingga Raja merasa perlu suatu pengakuan sebagai wilayah Medang.

4.Wwatan Mas sebagaimana disebut pada prasasti Terep 1032 Masehi, ada yang mengasumsikan Bajulan sekarang, dapat saja diperkirakan sebagai Kedaton, namun menurut hemat penulis, lebih cenderung hanya sebagai markas pertahanan Erlangga dalam rangka mendekati lokasi sasaran untuk menyerang Kerajaan Wengker di Ngetos, yang kemudian ditinggal menyingkir ke Patakan karena terdesak kalah dalam suatu peperangan.

5.Kahuripan sebagaimana disebut dalam prasasti Kamalagyan, jelas merupakan kedaton Raja Erlangga yang dibangun setelah kraton Dharmawangsa Teguh di Trayang dibumi hanguskan oleh Raja Wora-Wari tahun 1016 Masehi.
Yang tersirat dalam prasasti Wurare, bahwa kota Kahuripan berada di sebelah utara Sungai Brantas lama, sehingga patut diduga bahwa kota Kahuripan dimaksud, sekarang menjadi Dusun Koripan Desa Kampungbaru Kecamatan Tanjunganom, yang letaknya tidak terlalu jauh dari kraton lama di Trayang Ngronggot, yang barangkali bekas lokasinya tertimbun oleh material letusan Gunung Kelut.

Sebagai salah satu gambaran tentang dahsyatnya letusan Gunung Kelut, dapat dipakai sebagai bandingan berikut :
a.Letusan tahun 1919, volume air yang dimuntahkan sebanyak 40 juta M3, material 323 juta M3, tanaman rusak 13.120 Ha, dan korban manusia 5.110 jiwa meninggal.
b.Letusan tanggal 31 Agustus 1951, volume air 1,8 juta M3, material 200 juta M3, dan tanaman rusak 7.000 Ha
c.Letusan tahun 1966, volume air 20,3 juta M3, material 90 juta M3, tanaman rusak 12.820 Ha, dan korban manusia 282 meninggal (Susilo Suharto, SH, 1973)

6.Prasasti Wurare menyebutkan bahwa menjelang Erlangga mengundurkan diri, telah memecah kerajaan menjadi 2 untuk ke dua orang anak laki-lakinya yang lahir dari 2 orang selirnya, karena Kilisuci putri mehkotanya menolak menjadi Raja Medang menggantikan ayahandanya Erlangga, dan memilih menjadi pertapa di Gua Selomangleng.
a.Kerajaan Panjalu atau Kadhiri beribu kota di Dhahanapura untuk putranya Samara Wijaya.
b.Jenggolo dengan ibukota di Kahuripan untuk putranya yang bernama Garasakan.
Sebagai batas wilayah dari kedua Kerajaan tersebut adalah Sungai Brantas yang pada saat itu alirannya tidak seperti sekarang. Sebelah selatan Sungai wilayah Panjalu atau Kadhiri, sedangkan sebelah utara Sungai wilayah Jenggolo.

Eksistensi Kahuripan semakin lama menjadi mengecil, karena sepeninggal Erlangga kedua Kerajaan tersebut selalu dilanda peperangan saudara sampai dengan Prabu Mapanji Joyobhoyo memerintah Kadhiri tahun 1135 ? 1157 Masehi, dan para Raja-raja kemudian memilih domisili di Dhahanapura.

Peristiwa pembagian wilayuah Kerajaan oleh Erlangga, kemudian melahirkan mitos mPu Bharadah. Perang saudara antara Panjalu dengan Jenggolo menginspirasi lahirnya Kitab Bharoto Yudo, yang telah membawa korban salah satu pengarangnya yaitu mPu Sedah.

Kahuripan walaupun tidak sebesar jaman Erlangga, namun tetap eksis berperan dalam sejarah Kadhiri, Singosari maupun Mojopahit, seperti :
-Tribhuwonottunggodewi sebelum menjadi Raja Mojopahit, terlebih dahulu menjadi Rajamuda di Kahuripan, sedangkan patihnya Gajahmada.
-Hayam wuruk anak Tribhuwonottunggodewi, sebelum menjadi Maharaja Mojopahit, pernah menjadi raja muda di Jiwana. Jiwana adalah nama lain dari Kahuripan.
-Gajahmada pertama kali menjabat sebagai Patih adalah di Kerajaan vasal Kahuripan, kemudian dipindah menjadi Patih di Khadiri, dan terakhir Mahapatih Mojopahit.

Demikian tulisan ini semoga bermanfaat.
Ganungkidul, Mei 2005

Taken from here.

Prasasti Telahap (Prasasti Tinulad)

Prasasti Telahap tahun 820 Saka (11 Maret 899 M), dikeluarkan oleh Raja Balitung. Kalau dilihat isinya memang kacau dan banyak kesalahan, karena itu ditengarai sebagai prasasti tinulad.

Ini memang fenomena menarik karena biasanya prasasti batu adalah prasasti yang asli dan salinan (otentik) adalah prasasti tembaga. Kalau urusan disalin lagi (tinulad) itu biasanya pada prasasti-prasasti tembaga.

Sekarang tinggal dilihat dari segi paleografi apakah prasasti batu Telahap itu di-tulad dari jaman Majapahit? Karena kalau tidak salah di dekat itu juga ada prasasti Penampihan tahun 1362 Saka (1440 M), sekarang di Musnas.

Para sarjana berpendapat bahwa prasasti Telahap adalah prasasti tertua Raja Balitung, sehingga dijadikan patokan awal pemerintahan Balitung. Tapi dari prasasti Wanua Tengah III diketahui bahwa Balitung mulai memerintah pada tanggal 10 Mei 898 M.

Taken from here.

Bicara soal prasasti tinulad, di Candi Penampihan, ini adalah prasasti yang membuat saya tahu, bahwa pada jaman dahulu pun ada “copy paste”!

“Tinulad”. Artinya prasasti lama yang dituliskan kembali oleh generasi kemudian. Raja yang bertahta di suatu masa meminta citralekha (petugas pemahat prasasti) untuk menulis ulang prasasti yang pernah diterbitkan raja terdahulu, biasanya untuk mengukuhkan legitimasinya sebagai penerus keturunan raja tersebut. Tinulad adalah sebuah istilah, bukan nama prasasti tsb (taken from here).

Dan saya juga baru ngeh, bahwa nama prasastinya sendiri adalah “Telahap”.
Tulisan mengenai Candi Penampihan dan foto prasasti tinulad-nya, ada di laurentiadewi.com (read here).

This site is protected by wp-copyrightpro.com