4 Pataka Majapahit

Kali ini soal 4 Pataka Majapahit!
Aku sudah tahu soal 4 Pataka ini dan mempunyai pemikiran yang sama dengan penulis blog yang isinya aku kutip ini. Kok bisa, mereka di Amerika Serikat?
Dan selain karena 4 Pataka ini, juga beberapa arca Indonesia (dan Asia) yang pernah aku lihat dari foto di FB Putu Sutawijaya beberapa tahun yang lalu, aku yang anti Amerika menjadi punya rencana untuk terbang jauh ke New York yang nun jauh disono untuk mendatangi The Metropolitan Museum of Art, fufufu.

Yeah, semoga segera terkabul! Amen, amennn..
Berikut ini akan sedikit kami uraikan tentang Pataka peninggalan Kerajaan Majapahit yang seharusnya tetap ada di negara kita sendiri.
PATAKA SANG DWIJA NAGA NARESWARA
Info Majapahit
Pataka Sang Dwija Naga Nareswara dari Kerajaan Majapahit ini berbentuk Tombak Pataka Nagari sebagai perwujudan dari Naga Kembar penjaga Tirta Amertha, terbuat dari bahan tembaga. Tombak  Pataka ini di buat di era Kerajaan SINGHASARI (abad 12 – 13 Masehi), dan diwarisi oleh Kerajaan MAJAPAHIT (Wilwatikta). Merupakan satu-satunya tombak pataka Singhasari yang mampu diselamatkan oleh SANGRAMA WIJAYA pada saat keruntuhan Kerajaan Singhasari akibat serbuan Kerajaan Gelang-gelang. Pataka lainnya berhasil dikuasai dan diboyong oleh Raja Jayakatwang ke Kerajaan Gelang-gelang.
Pada Tombak Pataka ini lah pertama kali di pasang bendera Kerajaan Wilwatikta (Majapahit) ketika di proklamirkan di hutan Tarikh (setelah penyerbuan pasukan Tartar dan pasukan SANGRAMA WIJAYA atas Kerajaan Gelang-gelang). Bendera tersebut bernama : Gula – Kelapa (Merah – Putih), yang sekarang kita warisi menjadi Bendera Sang Saka Merah Putih.

Tombak Pataka ini sekarang berada di :

THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART
1000 5th Avenue, New York, NY – USA

Dengan data museum sebagai berikut :

Halberd Head with Nagas and Blades
Period: Eastern Javanese period, Singasari kingdom
Date: ca. second half of the 13th century
Culture: Indonesia (Java)
Medium: Copper Alloy
Dimensions: H.17 1/4 in. (43.8 cm); W. 9 3/4 in. ( 24.8 cm)
Classification: Metalwork
Credit Line: Samuel Eilenberg Collection, Bequest of Samuel Eilenberg, 1998
Accession Number: 2000.284.29a, b
This artwork is currently on display in Gallery 247

Hal ini cukup mengherankan saya, sebab Amerika Serikat tidak mempunyai benang merah sejarah dengan bangsa Indonesia. Mungkin artefak ini diambil oleh pemerintah kolonial Belanda dan dikirim ke Eropa, baru kemudian berpindah tangan ke Amerika Serikat (???).

Tombak Sang Dwija Naga Nareswara ini sepertinya pernah di singgung dalam prasasti tahun 1305 AD bagian II  yang menjelaskan nama abhiseka Kertarajasa Jayawardhana (Bhre Wijaya / pendiri kerajaan Majapahit). Dikatakan bahwa nama beliau terdiri dari 10 suku yang dapat dipecah menjadi empat kata yakni kerta, rajasa, jaya dan wardhana. Unsur kerta mengandung arti bahwa baginda memperbaiki pulau Jawa dari kekacauan yang ditimbulkan oleh penjahat-penjahat dan menciptakan kesejahteraan bagi rakyat. Unsur rajasa mengandung arti bahwa baginda berjaya mengubah suasana gelap menjadi suasana terang-benderang akibat kemenangan beliau terhadap musuh-musuhnya. Unsur jaya mengandung arti bahwa baginda memiliki lambang kemenangan berupa senjata tombak berujung mata tiga (trisula muka) dan karena senjata tersebut segenap musuh hancur lebur. Unsur wardhana mengandung arti bahwa baginda menghidupkan segala agama, melipat gandakan hasil bumi, terutama padi demi kesejahteraan rakyatnya.

PATAKA SANG HYANG BARUNA

Info Majapahit

Pataka Kerajaan Majapahit ini bernama Sang Hyang Baruna berupa sebuah tombak (Tombak Pataka Nagari) dengan dua mata tombak kembar di atas kepala dan ekor naga, pataka ini terbuat dari bahan tembaga. Tombak Pataka ini di buat pada jaman Kerajaan SINGHASARI (abad 12 – 13 Masehi), dan diwarisi oleh Kerajaan MAJAPAHIT (Wilwatikta). Pataka ini biasa dipasang di atas kapal yang memimpin sebuah rombongan ekspedisi, untuk menandai adanya seseorang diatas kapal tersebut yang bertindak mewakili Raja atau Negara. Bendera atau panji-panji yang dipasang bernama : “Getih – Getah Samudra” (lima garis merah dan empat garis putih), sebagai bendera armada militer SINGHASARI / MAJAPAHIT. Sampai saat ini bendera ini tetap dipakai oleh TNI-AL dalam kapal-kapal perangnya di perairan internasional, dengan nama panji-panji: “Ular-ular Tempur”.

Pataka ini pertama kali di bawa oleh pasukan ekspedisi PAMALAYU dan diserahkan kembali kepada Kerajaan Majapahit sebagai penerus dari Kerajaan Singhasari. Pataka ini telah berkiprah pada “Ekspedisi PAMALAYU (Singhasari)”, “Ekspedisi Duta Besar ADITYAWARMAN ke China (Majapahit)” hal ini dilakukan dua kali, “Ekspedisi NUSANTARA oleh GAJAHMADA (Majapahit)”. Dan tetap eksis hingga saat ini, dilanjutkan oleh TNI-AL sebagai kekuatan maritim Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Tombak Pataka (Sang Hyang Baruna) ini sekarang berada di :
THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART
1000 5th Avenue, New York, NY – USA

Dengan data museum sebagai berikut :
Halberd Head with Naga and Blades
Period: Eastern Javanese period, Singasari kingdom
Date: ca. second half of the 13th century
Culture: Indonesia (Java)
Medium: Copper alloy
Dimensions: H.17 1/2 in. (44.4 cm); Gr. W. 8 1/4 in. (21 cm)
Classification: Metalwork
Credit Line: Samuel Eilenberg Collection, Gift of Samuel Eilenberg, 1996
Accession Number: 1996.468a, b
This artwork is currently on display in Gallery 247

Satu hal yang amat mengganjal di hati (sebagai masyarakat pewaris Majapahit) adalah : Mengapa Pataka Majapahit ini sampai bisa berada di Amerika Serikat yang nota bene tidak memiliki hubungan kesejarahan dengan bangsa kita ?

Bendera Getih – Getah – Samudra

SANG PELOPOR DAN PENERUS PATAKA “SANG HYANG BARUNA”

Dalam menjalankan politik NUSANTARA (penyatuan seluruh kepulauan nusantara di bawah panji-panji Kerajaan Majapahit), terdapat 3 nama besar yang cukup disegani dalam pelaksanaannya.

Yang pertama adalah: ADITYAWARMAN (dengan pangkat tertingi Wredhamantri), adalah keluarga raja yang meniti kariernya di dunia militer sebagai penerus ayahandanya (keluarga Raja Singhasari) MAHESA ANABRANG yang bergelar ADWAYABRAHMA. Kedua-duanya dikenal tangguh di medan pertempuran, jago strategi dan ulet menjalankan misi diplomatik (MAHESA ANABRANG adalah pimpinan misi diplomatik ekspedisi PAMALAYU Singhasari ke Kerajaan DHARMASRAYA, jejak ini diikuti putranya: ADITYAWARMAN yang melakukan “mission imposible” dengan melakukan kunjungan diplomatik ke Kaisaran China. Padahal baru 2 dekade pasukan Tartar ini digempur dalam pertempuran tanah Jawa oleh Bhre WIJAYA, dan mereka sedang mempersiapkan gempuran balasan). KehandalanADITYAWARMAN sebagai duta-lah yang bisa menetralisir keadaan dan bahkan menemukan kesepahaman dalam hubungan diplomatik antar negara. Baik ayah dan anak ini ketika melakukan tugasnya : membawa Tombak Pataka SANG HYANG BARUNA.

Yang kedua dan ketiga adalah dua serangkai: Panglima Laut Rakarian Tumenggung MPU NALA dan Mahapatih Amangkubhumi MPU MADA. Keduanya secara bahu-membahu menjalankan tugas penyatuan Nusantara dengan konsisten dibidangnya masing-masing. MPU NALA adalah generasi kedua panglima armada laut Kerajaan Majapahit, ayahandanya dikenal sebagai panglima laut yang memimpin rombongan pertama ekspedisi Pamalayu Singhasari menuju Kerajaan Tumasik (Singapura) di selat Malaka. Maka penunjukannya sebagai Panglima Laut di era pemerintahan Rani TRIBHUWANA TUNGGADEWI ini bersifat mutlak, mengingat banyak pelaut-pelaut yang dahulu mengabdi kepada ayahandanya telah bersumpah setia mendukung kepemimpinannya mengarungi samudra. Dikenal jago pertempuran laut dan pandai menyatukan pasukan laut yang berasal dari beberapa negara bawahan.

Mahapatih Amangkubhumi MPU MADA adalah tokoh kunci dari politik penyatuan Nusantara lewat SUMPAH PALAPA-nya. Seorang militer tulen yang memulai karirnya dari bawah sebagai bekel bhayangkara dan dikenal cerdas mempelajari ilmu pemerintahan. Pemikirannya banyak dipengaruhi oleh politik NUSANTARA Kerajaan Singhasari Raja SRI KERTANEGARA dan hal ini cocok dengan pemikiran Rani Majapahit (TRIBHUWANA TUNGGADEWI yang juga cucu dari SRI KERTANEGARA) yang mendapat pemahaman serupa dari ibundanya : DYAH AYU GAYATRI.

Keteguhan hati sang MPU MADA dalam mencapai cita-citanya diujinya sendiri dalam berbagai medan pertempuran pada separuh masa kehidupannya. Kemampuannya yang ulet, luwes sekaligus tegas dan tangguh telah mewariskan kepada kita wilayah Negara INDONESIA Raya yang luas ini.

Dalam menjalankan ekspedisinya, kapal panglimanya selalu membawa Tombak Pataka Sang Hyang BARUNA dan mengibarkan panji-panji kebesaran Majapahit (Getih – Getah – Samudra).

Rupanya perjalanan sejarah tersebut diabadikan secara konsisten oleh TNI-AL sebagai kekuatan maritim INDONESIA. Panji-panji Maritim Majapahit tetap dipakai hingga saat ini, bahkan GAJAHMADA dibuatkan monumennya di Markas Komando TNI-AL Surabaya. Keduanya baik MPU NALA maupun  MPU MADA, namanya diabadikan sebagai nama kapal perang : KRI. NALA dan KRI. GAJAHMADA.

PATAKA SANG PADMANABA WIRANAGARI Tombak Pataka Nagari kerajaan Majapahit yang ketiga terbuat dari bahan tembaga bernama Sang Padmanaba Wiranagari (Teratai Kemuliaan Pembela Negeri).

Info Majapahit
Tombak Pataka ini di buat di era Kerajaan SINGHASARI (abad 12 – 13 Masehi), dan diwarisi oleh Kerajaan WILWATIKTA (MAJAPAHIT). Adalah Pataka yang direbut kembali oleh para senopati Singhasari eks ekspedisi PAMALAYU di Kerajaan Jayakatwang Kediri. Pasukan ini merasa terluka hatinya dikarenakan kerajaan Singhasari diruntuhkan Jayakatwang ketika mereka tidak berada di tempat, sehingga tidak bisa membela negara. Ketika mereka pamit melakukan tindakan perebutan kembali pataka-pataka Singhasari sebagai wujud pengembalian kehormatan Singhasari kepada SANGRAMA WIJAYA sempat tidak diijinkan. Karena SANGRAMA WIJAYA masih trauma akan perang saudara yang baru saja dijalaninya (Raja JAYAKATWANG adalah sepupu SRI KERTANEGARA yang sekaligus besannya, dan masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan SANGRAMA WIJAYA melalui kakeknya NARASINGAMURTI).
Kemudian para senopati ini nekat berangkat setelah berpamitan kepada Prameswari TRIBHUWANESWARI (yang juga putra pertama SRI KERTANEGARA dan istri SANGRAMA WIJAYA). TRIBHUNARESWARI tidak menjawab YA atau TIDAK, hanya bersabda : PENUHI DHARMAMU SEBAGAI KSATRYA. Dan ini yang menjadi legitimasi bagi para senopati ekspedisi PAMALAYU merebut kembali panji pataka peninggalan Singhasari yang ada di Daha.
Mereka akhirnya berhasil membawa pulang 5 (lima) panji Pataka Singhasari dan meneguhkan sikap para kerabat di wilayah Daha (yang masih bingung harus bersikap mengabdi kepada siapa), bahwa Majapahit adalah penerus Singhasari yang sah dan penerus Rajasawangsa.
Pada Tombak Pataka ini lah pertama kali di pasang Lambang Kerajaan Wilwatikta (Majapahit). Ada 4 (empat) kali perubahan lambang negara Majapahit yang pernah ditambatkan pada Pataka ini.
Pada foto diatas adalah lambang kedua yang dipakai pada masa pemerintahan Rani TRIBHUWANA TUNGGADEWI dan Raja SRI RAJASANAGARA DYAH HAYAM WURUK, dimana Majapahit mengalami masa keemasannya. Mengenai keempat Lambang Negara Majapahit dapat anda lihat pada catatan yang lain. Semua Lambang Kerajaan (keempat-empatnya) bernama: SURYA WILWATIKTA. Banyak yang menyebutnya juga sebagai SURYA MAJAPAHIT.

Tombak Pataka ini sekarang berada di :
THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART
1000 5th Avenue, New York, NY – USA

Dengan data museum sebagai berikut :
Top of a ScepterPeriod: Eastern Javanese period, Singasari kingdom
Date: ca. second half of the 13th century
Culture: Indonesia (Java)
Medium: Copper alloy
Dimensions: H. 16 1/16 in. (40.8 cm)
Classification: Metalwork
Credit Line: Samuel Eilenberg Collection, Gift of Samuel Eilenberg, 1987
Accession Number: 1987.142.184
This artwork is currently on display in Gallery 247

Hal ini cukup mengherankan saya, apa hubungan Amerika Serikat dengan sejarah bangsa Indonesia. Mungkin artefak ini diambil oleh pemerintah kolonial Belanda dan dikirim ke Eropa, baru kemudian berpindah tangan ke Amerika Serikat (???).
SANG HYANG NAGA AMAWABHUMI

Pataka Kerajaan Majapahit ke 4 berbentuk tombak naga berbahan tembaga yang dikenal dengan sebutan Sang Hyang Naga Amawabhumi yang artinya Naga Penjaga Keadilan.

SUSUNAN PENGADILAN
Info Majapahit
Semua keputusan dalam pengadilan di ambil atas nama Raja yang disebut Sang Amawabhumi yang artinya : orang yang mempunyai atau menguasai negara. Dalam Mukadimah Kutara Manawa (Undang-Undang jaman Majapahit) ditegaskan demikian : Semoga Sang Amawabhumi teguh hatinya dalam menetapkan besar kecilnya denda, jangan sampai salah. Jangan sampai orang yang bertingkah salah, luput dari tindakan. Itulah kewajiban Sang Amawabhumi, jika beliau mengharapkan kerahayuan negaranya.
Dalam soal pengadilan Raja dibantu oleh dua orangdharmadhyaksa, yaitu Dharmadhyaksa Kasaiwan (kepala agama Siwa) dan Dharmadhyaksa Kasogatan (kepala agama Budha) dengan sebutan Dang Acarya. Karena kedua agama tersebut merupakan agama utama dalam Kerajaan Majapahit, maka segala perundang-undangan didasarkan kepada kedua agama tersebut.
Kedudukan Dharmadhyaksa dapat disamakan dengan Hakim Tinggi, mereka itu dibantu oleh lima orang upapatti yang artinya pembantu dharmadhyaksa. Mereka tersebut dalam beberapa piagam atau prasasti biasa disebut dengan sang pamegat atau disingkat samgat artinya sang pemutus alias hakim. Baik Dharmadhyaksa maupun Upapatti bergelar Dang Acarya. Pada mulanya terdapat lima Sang Pamegat yaitu Sang Pamegat TirwanSang Pamegat KandamuhiSang Pamegat ManghuriSang Pamegat Jambi dan Sang Pamegat Pamotan, kelimanya termasuk golongan Kasaiwan.
Pada masa pemerintahan Dyah Hayamwuruk, ditambah dengan dua orang upapatti dari golongan Kasogatan yaitu Sang Pamegat Kandangan Tuha dan Sang Pamegat Kandangan Rare, sehingga keseluruhan pejabat pengadilan ada dua orang dharmadhyaksa dan tujuh orang upapatti.

Demikian uraian kami tentang empat pataka Kerajaan Majapahit (taken from here).

Wew *nahan nafas dari tadi*.
Bayangin, Tombak Pataka Nagari misalnya. Itu adalah benda yang pernah dipakai untuk mengibarkan bendera Majapahit! Asli. Berarti benda itu pernah dilihat, bahkan dipegang oleh para tokoh yang selama ini hanya kita baca kisahnya dari buku dan internet (Gajah Mada, Tribuana Tunggadewi, Hayamwuruk, dll).
Wuish, kurang keren gimana coba?

Prasasti Era Majapahit

Baru saja aku nemu tulisan menarik mengenai prasasti era Mojopahit! Jadi aku copy kesini, lah *nyengirkuda*.

Prasasti adalah bukti sumber tertulis yang sangat penting dari masa lalu yang isinya antara lain mengenai kehidupan masyarakat misalnya tentang administrasi dan birokrasi pemerintahan, kehidupan ekonomi, pelaksanaan hukum dan keadilan, sistem pembagian bekerja, perdagangan, agama, kesenian, maupun adat istiadat (Noerhadi 1977: 22).

Seperti juga isi prasasti pada umumnya, prasasti dari masa Majapahit lebih banyak berisi tentang ketentuan suatu daerah menjadi daerah perdikan atau sima. Meskipun demikian, banak hal yang menarik untuk diungkapkan di sini, antara lain, yaitu:

Prasasti Kudadu (1294 M)

Mengenai pengalaman Raden Wijaya sebelum menjadi Raja Majapahit yang telah ditolong oleh Rama Kudadu dari kejaran balatentara Yayakatwang setelah Raden Wijaya menjadi raja dan bergelar Krtajaya Jayawardhana Anantawikramottunggadewa, penduduk desa Kudadu dan Kepaa desanya (Rama) diberi hadiah tanah sima.

Prasasti Sukamerta (1296 M) dan Prasasti Balawi (1305 M)
Mengenai Raden Wijaya yang telah memperisteri keempat putri Kertanegara yaitu Sri Paduka Parameswari Dyah Sri Tribhuwaneswari, Sri Paduka Mahadewi Dyah Dewi Narendraduhita, Sri Paduka Jayendradewi Dyah Dewi Prajnaparamita, dan Sri Paduka Rajapadmi Dyah Dewi Gayatri, serta menyebutkan anaknya dari permaisuri bernama Sri Jayanegara yang dijadikan raja muda di Daha.

Prasasti Wingun Pitu (1447 M)
Mengungkapkan bentuk pemerintahan dan sistem birokrasi Kerajaan Majapahit yang terdiri dari 14 kerajaan bawahan yang dipimpin oleh seseorang yang bergelar Bhre, yaitu Bhre Daha, Kahuripan, Pajang, Werngker, Wirabumi, Matahun, Tumapel, Jagaraga, Tanjungpura, Kembang Jenar, Kabalan, Singhapura, Keling, dan Kelinggapura.

Prasasti Canggu (1358 M)
Mengenai pengaturan tempat-tempat penyeberangan di Bengawan Solo.
Prasasti Biluluk (1366 M0, Biluluk II (1393 M), Biluluk III (1395 M).
Menyebutkan tentang pengaturan sumber air asin untuk keperluan pembuatan garam dan ketentuan pajaknya.

Prasasti Karang Bogem (1387 M)
Menyebutkan tentang pembukaan daerah perikanan di Karang Bogem.
Prasasti Marahi Manuk (tt) dan Prasasti Parung (tt)
Mengenai sengketa tanah. Persengketaan ini diputuskan oleh pejabat kehakiman yang menguasai kitab-kitab hukum adata setempat.

Prasasti Katiden I (1392 M)
Menyebutkan tentang pembebasan daerah bagi penduduk desa Katiden yang meliputi 11 wilayah desa. Pembebasan pajak ini karena mereka mempunyai tugas berat, yaitu menjaga dan memelihara hutan alang-alang di daerah Gunung Lejar.

Prasasti Alasantan (939 M)
Menyebutkan bahwa pada tanggal 6 September 939 M, Sri Maharaja Rakai Halu Dyah Sindok Sri Isanawikrama memerintahkan agar tanah di Alasantan dijadikan sima milik Rakryan Kabayan.

Prasasti Kamban (941 M)
Meyebutkan bahwa apada tanggal 19 Maret 941 M, Sri Maharaja Rake Hino Sri Isanawikrama Dyah Matanggadewa meresmikan desa Kamban menjadi daerah perdikan.

Prasasti Hara-hara (Trowulan VI) (966 M).
Menyebutkan bahwa pada tanggal 12 Agustus 966 M, mpu Mano menyerahkan tanah yang menjadi haknya secara turun temurun kepada Mpungku Susuk Pager dan Mpungku Nairanjana untuk dipergunakan membiayai sebuah rumah doa (Kuti).

Prasasti Wurare (1289 M)
Menyebutkan bahwa pada tanggal 21 September 1289 Sri Jnamasiwabajra, raja yang berhasil mempersatukan Janggala dan Panjalu, menahbiskan arca Mahaksobhya di Wurane. Gelar raja itu ialaha Krtanagara setelah ditahbiskan sebagai Jina (dhyani Buddha).

Prasasti Maribong (Trowulan II) (1264 M)
Menyebutkan bahwa pada tanggal 28 Agustus 1264 M Wisnuwardhana memberi tanda pemberian hak perdikan bagi desa Maribong.

Prasasti Canggu (Trowulan I)
Mengenai aturan dan ketentuan kedudukan hukum desa-desa di tepi sungai Brantas dan Solo yang menjadi tempat penyeberangan. Desa-desa itu diberi kedudukan perdikan dan bebas dari kewajiban membayar pajak, tetapi diwajibkan memberi semacam sumbangan untuk kepentingan upacara keagamaan dan diatur oleh Panji Margabhaya Ki Ajaran Rata, penguasa tempat penyeberangan di Canggu, dan Panji Angrak saji Ki Ajaran Ragi, penguasa tempat penyeberangan di Terung (taken from here).

Malayapura

Agak memalukan memang, tapi untuk pertama kalinya aku membaca nama “Malayapura”, pagi tadi.

Saat ini aku agak demam dan flu. Mata yang sedikir berair membuatku berpikir aku salah baca. Namun setelah agak melotot, ternyata benar.. nama yang aku baca adalah “Malayapura”. Hmm, menarik!

Malayapura merupakan salah satu dari kata-kata yang dipahatkan pada Arca Amoghapasa oleh Adityawarman pada tahun 1347. Dari kaitan terjemahan teks dari manuskrip tersebut, Malayapura dirujuk menjadi nama kerajaan Melayu yang diproklamirkan oleh Adityawarman diDharmasraya. Dalam perjalanan sejarah kerajaan ini, Adityawarman kemudian memindahkan ibukotanya ke daerah pedalaman Minangkabau yang kemudian dikenal juga dengan kerajaan Pagaruyung. Arca Amoghapasa, adalah sebuah patung batu yang menggambarkan Amoghapasa, suatu pengejawantahan boddisatwa Awalokiteswara, dan Adityawarman menyatakan bahwa patung ini melambangkan dirinya. Arca Amoghapasa ini sebelumnya merupakan hadiah dari Kertanagara, raja Singhasari, untuk Srimat Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa, raja Melayu di Dharmasraya. Berita ini tersebut dalam manuskrip yang terpahat dalam Prasasti Padang Roco yang merupakan alas dari Arca Amoghapasa. Arti kata Malayapura terbentuk dari dua kata malaya dan pura, malaya identik dengan melayu sedangkan pura bermakna kota atau kerajaan, sehingga jika digabungkan bermakna Kota Melayu atau Kerajaan Melayu (taken from here).

Dan setelah membaca penjelasan singkat dari Wikipedia, ada satu kalimat yang menarik:

Arca Amoghapasa, adalah sebuah patung batu yang menggambarkan Amoghapasa, suatu pengejawantahan boddisatwa Awalokiteswara, dan Adityawarman menyatakan bahwa patung ini melambangkan dirinya. Arca Amoghapasa ini sebelumnya merupakan hadiah dari Kertanagara, raja Singhasari, untuk Srimat Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa, raja Melayu di Dharmasraya (taken from here).

Wow, aku teringat akan sebuah arca luar biasa yang aku temui di Museum Gajah. Aku ingat betul arca itu karena pahatannya indah dengan detail menawan yang khas. Setelah aku dekati, ternyata arca itu buatan era Singhasari (yang memang terkenal jago memahat) dan diberikan sebagai hadiah kepada seorang raja yang tidak aku ingat namanya. Tunggu, aku bongkar dulu external HD-ku deh.

Nah, ini dia fotonya:

P1110402 copy

Hauhauaha *lega, bisa nemuin fotonya!* dan ini keterangannya:

P1110401 copy

Untung, aku foto tuh arca. Dan kini, saatnya menggali lebih banyak informasi mengenai Malayapura :).

How the Apostles Died

HOW THE APOSTLES DIED

1. Matthew
Suffered martyrdom in Ethiopia, Killed by a sword wound.

2. Mark (not an apostle,but one of the first missionaries)
Died in Alexandria, Egypt , after being dragged by Horses through the streets until he was dead.

3. Luke ( not an apostle, but was Paul’s doctor)
Was hanged in Greece as a result of his tremendous Preaching to the lost.

4. John
Faced martyrdom when he was boiled in huge Basin of boiling oil during a wave of persecution In Rome. However, he was miraculously delivered From death. John was then sentenced to the mines on the prison Island of Patmos. He wrote his prophetic Book of Revelation on Patmos . The apostle John was later freed and returned to serve As Bishop of Edessa in modern Turkey. He died as an old man, the only apostle to die peacefully

5. Peter
He was crucified upside down on an x-shaped cross. According to church tradition it was because he told his tormentors that he felt unworthy to die In the same way that Jesus Christ had died.

6. James
The leader of the church in Jerusalem , was thrown over a hundred feet down from the southeast pinnacle of the Temple when he refused to deny his faith in Christ. When they discovered that he survived the fall, his enemies beat James to death with a fuller’s club.
*This was the same pinnacle where Satan had taken Jesus during the Temptation*

7. James the Son of Zebedee
He was a fisherman by trade when Jesus Called him to a lifetime of ministry. As a strong leader of the church, James was ultimately beheaded at Jerusalem. The Roman officer who guarded James watched amazed as James defended his faith at his trial. Later, the officer Walked beside James to the place of execution. Overcome by conviction, he declared his new faith to the judge and Knelt beside James to accept beheading as a Christian.

8. Bartholomew
Also known as Nathaniel Was a missionary to Asia. He witnessed for our Lord in present day Turkey. Bartholomew was martyred for his preaching in Armenia where he was flayed to death by a whip.

9. Andrew
Was crucified on an x-shaped cross in Patras, Greece. After being whipped severely by seven soldiers they tied his body to the cross with cords to prolong his agony. His followers reported that, when he was led toward the cross, Andrew saluted it in these words: ‘I have long desired and expected this happy hour. The cross has been consecrated by the body of Christ hanging on it.’ He continued to preach to his tormentors For two days until he expired.

10. Thomas
Was stabbed with a spear in India during one of his missionary trips to establish the church in the Sub-continent.

11. Jude
Was killed with arrows when he refused to deny his faith in Christ.

12. Matthias
The apostle chosen to replace the traitor Judas Iscariot, was stoned and then beheaded.

13. Paul
Was tortured and then beheaded by the evil Emperor Nero at Rome in A.D. 67. Paul endured a lengthy imprisonment, which allowed him to write his many epistles to the churches he had formed throughout the Roman Empire. These letters, which taught many of the foundational Doctrines of Christianity, form a large portion of the New Testament.

14. Simon the Zealot
Simon was traditionally martyred by being sawn in half.

15. Philip
Philip evangelized in Phrygia where hostile Jews had him tortured and then crucified upside down. Some sources have him being stoned

This site is protected by wp-copyrightpro.com