Prasasti dari Candi Jago

Mirip sekali dengan apa yang terjadi dengan postingan prasasti Jragung.
Rangkaian aksara-aksara nan rumit dengan sedikitnya pengetahuan dan sumber, lambat laun diberikan sedikit petunjuk. Begitu lama gambar ini sudah dicoba dialihaksarakan, namun lagi-lagi bertemu dengan kendala.
Aksara yang dipakai dalam prasasti ini adalah aksara Nagari. Namun, entah Nagari jenis mana. Sejauh yang saya cari infonya di internet, Nagari punya banyak varian, jadi saya bingung, ini varian yang mana. Apakah termasuk Nepālākṣara, Bengala Kuno, atau Kutila. Saya harap pembaca yang punya info lebih bisa memberi info lebih 🙂
Prasasti beraksara Nagari dari Jajaghu ini punya titik terang baru (lihat tulisan sebelumnya mengenai ini disini).
Selagi saya mencari-cari info mengenai jenis aksara dalam prasasti ini, saya coba jalan-jalan ke perpustakaan digital Cambridge yang khusus membidangi manuskrip Sansekerta (click here: perpustakaan digital ini benar-benar bisa diandalkan!).
Ketika membaca informasi salah satu kolofon manuskrip, saya menemukan kemiripan beberapa baris teks dengan isi prasasti. Maka saya dalami pencarian di internet.
Voi la! Ternyata kalimat-kalimat pada prasasti ini merupakan formula, jadi pola-polanya bisa dilacak. Jika dilihat dari formulanya, teks prasasti bisa dibagi menjadi 2 bagian, yaitu: (1) formula pertama yang berisi ye-te dan (2) formula kedua yang menyatakan pemberi/pendonor “sesuatu”. Berikut penjelasannya.

1) Formula pertama, berbunyi:
1. ye dharmā hetu prabhavā hetunteṣānta-
2. thāgato hyavadāt teṣāñca yo
3. nirodhaḥ evamvādī mahā śramaṇaḥ |

2) Formula kedua, berbunyi…
4. deya(dharmo)yaṁ pravaramahāyāna(yane)yā-
5. yinaḥ paramaratnopasakaḥ śrī ma-
6. hārājādhirājaḥ śrī kṛtanagra vi-
7. krama(jñā)navajrottuṁgadeva mahā-
8. rājaḥ  yadatra puṇyan tadbhavatvācā-
9. ryopadhyāyamātāpitṛpūrvvaṁgamaṁ
10. kṛtvā sakalasattvarāseranutta-
11. rajñānaphalavāptaya (i?)ti ||

Gambar 1. Close Up dan Penjelasan Garis-garis Pahatan Aksara dari Prasasti Amoghapasa di Candi Jago

Formula pertama sering disebut formula ye-te atau pratītyasamutpāda gāthā. Disebut ye-te karena 2 baris ayat ini di mulai dengan ye dharmā… dan teṣām ca yo…. Formula ini sangat sering saya baca ditemukan di situs-situs berbau Buddhisme di Indonesia. Pratītyasamutpāda gāthā adalah ayat/verso dari ringkasan ajaran Buddha mengenai “sebab musabab yang saling bergantungan”.
Sedangkan formula kedua merupakan satu formula yang sering dijumpai pada benda-benda yang didonasikan dalam praktik Buddhisme Tantrayana dan Vajrayana. Formula ini menginformasikan keberadaan pemberi atau donatur kepada khalayak. Menurut Kim (2010), formula ini berbunyi:

deyadharmo ‘yam pravaramahāyānayāyina [-yāyinyā for female] . . .
yadatra puṇyaṁ tadbhavatu ācāryopadhyāyamātāpitṛpūrvaṁgamaṁ
kṛtvā sakalasatvarāser-anuttarajñānaphalavāptaya iti 

Terjemahannya kira-kira begini : “may it be for attaining the result of the supreme knowledge of a mass of all living beings beginning with their teacher, preceptor, mother, and father

Bahasa Inggris saya kurang bagus, mudah-mudahan terjemahan ini tidak melenceng. Berikut terjemahan bahasa Indonesianya: “inilah pemberian dari (si anu) sang penganut Mahayāna sejati. Kebajikan apapun yang timbul akibat persembahan ini, semoga bermanfaat bagi pencapaian semua makhluk atas pengetahuan sejati. Dimulai dari guru, pembimbing, ibu, dan ayahnya.”

Nah, pada formula kedua, terlihat nama si pemberi dana, yaitu śrī mahārājādhirājaḥ śrī kṛtanagra vikrama(jñā)navajrottuṁgadeva mahārājaḥ.
Apakah ini merupakan raja Kṛtanagara dari Singasari? Karena yang diketahui bahwa raja ini merupakan penganut Tantrayana sejati, masuk akal jika beliau memberikan arca Amoghapaśa di candi Jago.
Menurut Kim (2010), pemberian dana berupa arca juga bertujuan untuk merepresentasikan si pemberi dalam bentuk visual pada prasasti tersebut. Jadi, jika dikaitkan dengan pernyataan ini, raja Kṛtanagara mengidentikkan dirinya dengan bodhisattva Amoghapaśa di candi Jago.
Mudah-mudahan tulisan ini dapat bermanfaat. Namun mohon maaf jika ada kesalahan di sana-sini. Oleh karena itu dimohonkan saran dari para pembaca untuk perbaikannya…

Referensi

  1. Kim, J. (2012). Unheard Voices: Women’s Roles in Medieval Buddhist Artistic Production and   Religious Practices in South Asia. Journal of the American Academy of Religion , 200–232.
  2. Yuyama, Akira. (2010). Prajñā-pāramitā-ratna-guna-Samcaya-gāthā: Sanskrit Recension A. New York: Cambridge University Press.
  3. http://cudl.lib.cam.ac.uk/collections/sanskrit
  4. http://Socrates.leidenuniv.nl, OD. 3518

 

Taken from here.

Dan masih mengenai arca

Candi Jago merupakan salah satu candi Buddhis di Nusantara. Berlokasi di Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.
Candi ini mula-mula didirikan atas perintah raja Kṛtanagara untuk menghormati ayahandanya, raja Wiṣṇuwardhana, yang mangkat pada tahun 1268. Dan kemudian Adityawarman mendirikan candi tambahan dan menempatkan Arca Mañjuśrī didirikan pada masa Kerajaan Singhasari pada abad ke-13.
Candi Jago merupakan candi satu-satunya di Jawa Timur yang peninggalannya berupa arca-berdiri masih tersisa dengan utuh. Salah satunya adalah arca perwujudan Kṛtanagara sebagai Amoghapaśa dengan bahan perunggu dan tinggi 22 cm.
Amoghapaśa sendiri adalah seorang figur Buddhis yang disebut juga Amoghapaśa Lokeśvara; manifestasi bodhisattva Avalokiteśvara. Amoghapaśa dikenal pada awal abad ke-6, namun perannya sebagai manifestasi Avalokiteśvara mungkin baru dikenal belakangan setelah tulisan Sakyasribhadra (1127-1225).
Gambar 1. Arca Amoghapaśa (OD-3517).

Gambar 2. Ukiran prasasti di belakang arca perunggu Amoghapaśa (OD-3518).
Sepengamatan saya, prasasti ini tidak memiliki angka tahun; baik tertulis langsung dengan angka maupun candrasengkala. Aksara Nāgarī yang digunakan berasal dari India bagian timur. Ada yang beranggapan bahwa aksara-aksara ini berasal dari daerah Bengal.
Prasasti ini terdiri dari 11 baris tidak termasuk dengan simbol menyerupai huruf s di bagian atas prasasti. Aksara tipe ini sangat mirip dengan aksara kuna Nepal; Newari/ Prachalit. Aksara yang aus dan kurang jelas terlihat di gambar membuat saya sulit mengalihaksarakan prasasti ini, apalagi aksara ini memang aksara langka di Nusantara.
Hal yang paling menyulitkan adalah bentuk konjungsi dari aksara. Konjungsi dan pemakaian diakritik ini tidak bisa diterka begitu saja karena memang kluster aksara yang membentuk suatu iregularitas. Selain itu kluster yang dibentuk baik gabungan antara konsonan-vokal maupun konsonan-konsonan sangat mirip/ susah dibedakan.
Contoh: pada kluster hya, pemakaian diakritik -u mirip dengan bentuk non-initial ta (kasus nu yang mirip dengan tta)Aksara yang berkembang di daerah India timur ini biasa dipakai menulis kitab Buddhis pada zaman itu disamping aksara Lantsa/ Rañjanā. Contoh kitab yang menggunakan aksara ini adalah Guhyasamaja Tantra.
Agama Buddha yang pada masa itu terdesak oleh Islam menyingkir ke daerah Burma, Nepal, Tibet, Kamboja, dan Nusantara. Nampaknya aksara ini bisa masuk ke Nusantara karena Kṛtanagara yang notabene seorang penganut Buddha Tantra mendapat pengaruh dari ajaran Tantrisme, entah langsung dari India atau negara yang dijadikan pelarian tadi.
Alih-aksara:
Devanagari
१। ये धर्मा हेतु प्रभवा हेतुन्तेषन्त
२। थागतो ह्यवदत् तेषाञ्च यो नि
३। रोधः एवम् वादी महाश्रमणः।
४। देय(धर्मोयं?) प्रवर महा(यान/यने)या=
५। यिनः परमरत्नोपासकः श्री म=
६। हाराजाधिराजः श्री कृतनगर वि=
७। क्रम (ज्ञ?)नवज्रोत्तुंगदेव महा=
८। राजः यदत्र पुण्यं तद्भवत्वाचा=
९। र्योपाध्याय मातापितृपूर्व्वंगमं
१०। कृत्वा सकलसत्वरशेरनुत्त=
११। रज्ञानफलावाप्तय(?)ति॥
Latin
1. ye dharmā hetu prabhavā hetunteṣānta
2. thāgato hyavadat teṣāñca yo ni
3. rodhaḥ evamvādī mahāśramaṇaḥ |
4. deyadha(rmoyaṁ?) pravara mahā(yane/yāna)yā
5. yinaḥ paramaratnopāsakaḥ śrī ma
6. hārājādhirājaḥ śrī kṛtanagara vi
7. krama (jña?)navajrottuṁgadeva mahā
8. rājaḥ yadatra puṇyan tad bhavatvācā
9. ryopādhyāya mātāpitṛpūrvvaṁgamaṁ
10. kṛtvā sakalasatvaraśeranutta
11. rajñānaphalāvāptaya (?)ti ||
Baris satu sampai tiga merupakan śloka Buddhis umum yang sering dijumpai dalam prasasti-prasasti Buddhis berbahasa Sansekerta. Ada yang menganggap ayat ini merupakan rangkuman dari pengajaran Pratitya Samutpada/ Paticca Samuppada atau Buddhist creed.
Ayat-ayat dari awal vinaya “ye dharmā hetuprabhavā” adalah kata-kata yang diucapkan oleh Arahat Assaji (Sansekerta: Aśvajit) untuk Upatissa, kemudian menjadi dikenal sebagai Sariputta (Sansekerta: Sariputra). Sariputta kemudian meneruskan kata-kata ini kepada Kolita.
Sariputta bersama dengan Kolita teman masa kecilnya, kemudian disebut Moggallāna (Sansekerta: Maudgalyayana), adalah dua siswa utama Sang Buddha Gotama.
Ayat versi bahasa Paḷi terdapat pada Vinaya Piṭaka, Mahāvaggapāḷi, Mahākhandhako. Bunyinya sebagai berikut:
 
ये धम्मा हेतुप्पभवा, तेसं हेतुं तथागतो आह।
तेसञ्‍च यो निरोधो, एवंवादी महासम
 
Ye dhammā hetuppabhavā, tesaṃ hetuṃ tathāgato āha;
Tesañca yo nirodho, evaṃvādī mahāsamaṇo
 
Dari hal-hal yang timbul dari penyebab,
Tathāgata telah mengatakan penyebabnya,
Dan juga apa penghentian mereka.
Ini adalah doktrin Pertapa Agung
Referensi:
http://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Jago
http://nalandatranslation.org/offerings/choosing-the-right-word/dependent-arising-tendrel/
http://www.visiblemantra.org/dharma-hetuprabhava.html
socrates.leidenuniv.nl/
tipitaka.org/
Ann R. Kinney, Marijke J. Klokke, Lydia Kieven. 2003. Worshiping Siva and Buddha: The Temple Art of East Java. Hawaii: University of Hawaii Press.
Chatterjee, Bijan Raj; Chakravarti, Niranjan Prasad. 1933. India and Java, Part II: Inscriptions (2nd ed.) . Calcutta : Prabasi Press.
J. G. de Casparis. 1975. Indonesian Palaeography: A History of Writing in Indonesia from the Beginnings to C. A.D. 1500, Volume 4, Masalah 1. Leiden: BRILL.

Prasasti Dinoyo

Prasasti Dinoyo (disebut juga Dinaya dan Kanjuruhan) adalah sebuah prasasti yang sangat penting bagi sejarah Indonesia, khususnya bagi Jawa Timur. Prasasti batu ini terpecah menjadi tiga bagian dan ditemukan pada waktu berlainan. Pecahan pertama ditemukan di desa Merjoyo (sebelah barat desa Dinoyo) dan dua pecahan berikutnya di desa Merjosari (di sebelah barat Merjoyo) (Meulen, 1976: 445). Tulisan mengenai prasasti ini dipublikasi oleh Bosch pada tahun 1916, 1923, dan 1924 dalam jurnal berbahasa Belanda.[i] Selain Bosch, dua orang epigraf lain seperti Casparis[ii] dan Damais[iii] juga sempat memublikasikan tulisannya. Berdasarkan tulisan-tulisan para ahli prasasti tersebut, dapat diketahui bahwa pernah berdiri suatu kerajaan bernama Kanjuruhan di Jawa Timur pada abad ke-8 Masehi.

Prasasti Dinoyo ditulis dengan bahasa Sansekerta. Pada pecahan prasasti paling atas, diketahui bahwa tahun diterbitkannya prasasti adalah 682 Śaka. Prasasti ini disusun oleh 9 sloka dengan tiga jenis metrum (anuṣṭubh, vasantatilakā, dan sragdharā). Aksara yang digunakan adalah aksara Kawi Awal. Jika diperhatikan, bentuk aksaranya identik dengan aksara pada prasasti Sankhara – hanya saja diukir dengan kurang rapi dan proporsional. Aksara sepertinya dibuat dengan gaya natural seperti tulisan tangan. Aksara yang dibuat miring seperti ingin disamakan dengan penulisan aksara di lontar yang mengesankan kecepatan penulisan.

Isi prasasti Dinoyo dapat dibagi menjadi beberapa poin sebagai berikut.

  1. Penyebutan anggota keluarga raja.
  2. Adanya praktik pemujaan Agastya.
  3. Dibangunnya tempat suci yang disebut Walahājirimyah.
  4. Penggantian arca Agastya dari kayu menjadi arca batu.
  5. Adanya upacara keagamaan untuk meresmikan bangunan.
  6. Pemberian raja berupa tanah, hewan ternak, dan perumahan bagi penduduk dan rohaniawan untuk menjaga kelestarian tempat ibadah.
  7. Pemberian layanan khusus bagi para peziarah.
  8. Ancaman bagi para penentang keputusan raja.

[i] F. D. K. Bosch, “De Sanskrit-inscriptie op den steen van Dinaja”, TBG 57 (1915/16), pp. 410-444; ld., “De Sanskrit-inscriptie op den steen van Dinaja”, Oudheidkundig Verslag 1923, pp. 29-35; ld., “Het Lingga-heiligdom van Dinaja”, TBG 64 (1924), pp. 227-291

[ii] J. G. de Casparis, “Nogmaals de Sanskrit-inscriptie op den steen van Dinojo”, TBG 81 (1941), pp. 499-514; ld., Selected Inscriptions from the 7th to the 9th Century, Bandung 1956, p. 279.

[iii] L.-Ch. Damais, “Epigraphische aantekeningen”, TBG 83 (1949), pp. 24-25; ld., “Etudes d’épigraphie indonésienne” III (BEFEO 46, 1952), p. 22, and IV (BEFEO 47, 1955), p. 204.

Gambar 1. Keadaan Prasasti yang Baru Ditemukan Bagian Tengahnya (Perpustakaan Universitas Leiden, OD-743)

Alih Aksara

Alih aksara dan terjemahan dalam bahasa Inggris dikutip dari Chatterjee & Chakravarti, 1933: 36-40. Di dalam tulisan yang didasarkan pada pembacaan Bosch ini, Chatterjee dan Chakravarti memberikan komentarnya yang kemudian saya sunting seperlunya.

Keterangan Alih Aksara:

(…)      = bagian prasasti yang terpisah

{…}       = menandakan pada atau nomor śloka

[…]      = bagian yang seharusnya ada di prasasti

Gambar 2. Repro Prasasti (Sumber: pribadi)

Metrum; Anuṣṭubh‚ V. 13 ; Vasantatilakā, V. 35, 8, 9: Sragdharā, V. 6, 7

Devanagari:

  1. (स्वस्ति शक वर्षातीत 1 ६८२)
  2. आसीत् (नरपतिः धीमान् 2 देवसिंहः प्र)
  3. तापवान् {।} येन गुप्त 3 (परीभाति पूतिकेश्वा)
  4. रपाविता ॥ {2॥} लिम्वः अपि तन (यः तस्य 4 गजयानः )
  5. इति स्मृतः {।} ररक्ष स्वर्ग्गगे ताते (सुताञ् पुरुषान् मह 5)
  6. {3॥} लिम्वस्य दुहिता जज्ञे प्रद (पुत्रस्य भुपतेः {।} उत्तेज)
  7. ना इति6 महिषी जननी यस्य धीमतः॥ {3॥} अ (ननः (?) कलश)
  8. जे भगवति अगस्त्ये7 भक्तः8 द्विजातिहितकृद् गज (यानना मा) {।}
  9. मौलैः सनायकगणैः समकारयत् तद् रम्यन् मह
  10. र्षिभवनम् वलहाजिरिम्यः॥ {4॥} पूर्व्वैः कृताम् तु सुरदा रुमयी [ं] ॥
  11. समीक्ष्य कीर्त्तिप्रियः तल9 गलप्रतिमां मनस्वी10 {।} आज्ञा
  12. प्य शिल्पिनम् अरम् सः11 च दीर्घदर्श्शी12 कृष्णाद्भुतोपलम
  13. यीम् नृपतिः चकार13 ॥ {5॥}राज्ञागस्तः शकाब्दे नयन वसु
  14. रसे मार्ग्गशीर्षे च मासे अद्रर्त्थे शुक्र वारे प्रतिप
  15. द दिवसे16 पक्षसन्धौ ध्रुवे 15 {।} ऋत्विग्भिः वेदविद्भिः यतिवर 16
  16. सहितैः स्थापकाद्यैः समौमैः17 कर्मज्ञैः कुम्भलग्ने सुदृढ
  17. मतिमता स्थापितः कुम्भयोनिः॥ {18॥} क्षेत्रम् गावः सुपुष्पाः महिष
  18. गणयुताः दासदासीपुरोगाः18 दत्ता राज्ञा महर्षि प्रवरचरुह
  19. विस्स्नानसम्बर्धनादि {।} व्यापाराथम् द्विजानाम् भवनमपि गृहमु
  20. त्तरम् च अद्भुतम् च19 विश्रम्भाय अतिथीनाम्20 यवयवि
  21. कशय्या21च्छादनै सुप्रयुक्तम्॥ {7॥} ये बान्धवाः नृपसुताः च
  22. समन्त्रिमुख्याः दत्तौ नृपस्य यदि ते प्रतिकूलाचित्ताः {।} नास्ति
  23. क्यदोष कुटिलाः नरके पतेयुः न अमूत्र22 च नेह च गतिम्
  24. (…) ां लभन्ते॥ {8॥} वंश्याः नृपस्य रुचिताः यदि दति वृद्धौ आस्तिक्य
  25. (शुद्धमतयः…) पूजाः। दानाद्य23पुण्ययजनाद्ध्ययना
  26. (दिशीलाः रक्षन्तु रज्यम् [अखिलं]) नृपतिः यथाएवम्24

Latin

  1. (svasti śaka varṣātīta 1 682)
  2. āsīt (narapatiḥ dhīmān 2 devasiṃhaḥ pra)
  3. tāpavān {|} yena gupta 3 (parībhāti pūtikeśvā)
  4. rapāvitā || {2||} limvaḥ api tana (yaḥ tasya 4 gajayānaḥ )
  5. iti smṛtaḥ {|} rarakṣa svarggage tāte (sutāñ puruṣān maha 5)
  6. || {3||} limvasya duhitā jajñe prada (putrasya bhupateḥ {|} utteja)
  7. nā iti6 mahiṣī jananī yasya dhīmataḥ|| {3||} a (nanaḥ (?) kalaśa)
  8. je bhagavati agastye7 bhaktaḥ8 dvijātihitakṛd gaja (yānanā mā) {|}
  9. maulaiḥ sanāyakagaṇaiḥ samakārayat tad ramyan maha
  10. rṣibhavanam valahājirimyaḥ|| {4||} pūrvvaiḥ kṛtām tu suradā rumayī[ṃ] ||
  11. samīkṣya kīrttipriyaḥ tala9 galapratimāṃ manasvī10 {|} ājñā
  12. pya śilpinam aram saḥ11 ca dīrghadarśśī12 kṛṣṇādbhutopalama
  13. yīm nṛpatiḥ cakāra 13 || {5||}rājñāgastaḥ śakābde nayana vasu
  14. rase mārggaśīrṣe ca māse adrartthe śukra vāre pratipa
  15. da divase 14 pakṣasandhau dhruve 15 {|} ṛtvigbhiḥ vedavidbhiḥ yativara 16
  16. sahitaiḥ sthāpakādyaiḥ samaumaiḥ 17 karmajñaiḥ kumbhalagne sudṛḍha
  17. matimatā sthāpitaḥ kumbhayoniḥ|| {18||} kṣetram gāvaḥ supuṣpāḥ mahiṣa
  18. gaṇayutāḥ dāsadāsīpurogāḥ18 dattā rājñā maharṣi pravaracaruha
  19. vissnānasambardhanādi {|} vyāpārātham dvijānām bhavanamapi gṛhamu
  20. ttaram ca adbhutam ca19 viśrambhāya atithīnām20 yavayavi
  21. kaśayyā21cchādanai suprayuktam|| {7||} ye bāndhavāḥ nṛpasutāḥ ca
  22. samantrimukhyāḥ dattau nṛpasya yadi te pratikūlācittāḥ {|} nāsti
  23. kyadoṣa kuṭilāḥ narake pateyuḥ na amūtra22 ca neha ca gatim
  24. (…)-āṃ labhante|| {8||} vaṃśyāḥ nṛpasya rucitāḥ yadi dati vṛddhau āstikya
  25. (śuddhamatayaḥ…) pūjāḥ| dānādya23puṇyayajanāddhyayanā
  26. (diśīlāḥ rakṣantu rajyam [akhilaṃ]) nṛpatiḥ yathā evam24||

Catatan

  1. Baca tītaḥ (तीतः) atau  tīte (तीते).
  2. Baca āsīnnarapirdhīmān (आसीन्नरपिर्धीमान्).
  3. Baca guptaḥ (गुप्तः) atau guptā (गुप्ता). Pada parībhāti terjadi perpanjangan aksara bha menyesuaikan dengan metrik Sansekerta yaitu anustubh.
  4. Baca limvopitanayastasya (लिम्वोपितनयस्तस्य).
  5. Mungkin harus dibaca sutānyopuruṣānmahān (सुतान्योपुरुषान्महान्)
  6. Baca bhūpateruttejaneti (भूपतेरुत्तेजनेति).
  7. Baca bhagavatyagastye (भगवत्यगस्त्ये).
  8. Baca bhakto (भक्तो).
  9. Baca kīrttipriyastala (कीर्त्तिप्रियस्तल).
  10. Bosch membaca manasvi (मनस्वि).
  11. Baca sa (स).
  12. Bosch salah mengalih-aksarakannya menjadi adhīrgha (अधीर्घ ). Lebih sesuai ca dīrgha (च दीर्घ).
  13. Baca nṛpatiścakāra (नृपतिश्चकार ).
  14. Secara tatabahasa, seharusnya ditulis pratipadvisase (प्रतिपद्विससे), namun penulisan di prasasti diperlukan demi sistem metrik.
  15. Penulis kembali mengritisi Bosch yang mebaca aksara ini sebagai dhruveśe (ध्रुवेशे). Penulis membacanya dhruvecha (ध्रुवेछ).
  16. Baca ṛtvigbhirvedadavidbhiryati (ऋत्विग्भिर्वेददविद्भिर्यति).
  17. Menurut Bosch: maunaiḥ (मौनैः). Namun penulis membacanya maulaiḥ (मौलैः).
  18. Baca puṣpā (पुष्पा), -yutā (युता), purogā (पुरोगा). Bosch membaca dasī (दसी).
  19. Baca gṛhamuttarañcādbhutañca (गृहमुत्तरञ्चाद्भुतञ्च). Menurut metrik, seharusnya gṛhāmuttarañcādbhutañca ( गृहामुत्तरञ्चाद्भुतञ्च ).
  20. Bosch membaca atithinām (अतिथिनाम् ).
  21. Bosch dua kali melakukan ralat. Dia menulis śayya (शय्य)menjadi śaya  (शय). Namun yang pasti adalah śayyā (शय्या).
  22. Pada bait ini baca bandhavā  nṛpasutāśca (बन्धवा नृपसुताश्च), -mukhyā (मुख्या), -cittā  (चित्ता), -kuṭilā (कुटिला), dan -pateyuramūtra (पतेयुरमूत्र).
  23. Baca dānādi (दानादि).
  24. Pada bait 9, baca: -viśyā (विश्या), -rucitā (रुचिता), dānādipuṇya- (दानादिपुण्य-), śīlā ( शीला), rājyamakhilaṁ nṛpatiyathevaṁ (राज्यमखिलं नृपतियथेवं).

__________________________________________________________

Terjemahan bahasa Inggris

Hail! (In) the Saka year 682 having elapsed:

(v. 1) There was the wise and mighty king Devasiṁha, protected by whom shines all round (the shrine) purified by Putikeśvara.

(v. 2) His son, the great Limva, known as Gajayana, also protected (the people as if they were his own sons), when his father had gone to heaven.

(v. 3) Limva had a daughter born unto him who was the consort of the wise king Jananiya (?), the son of Prada and was known by the name of Uttejana.

(v. 4) That one of the name of Gajayana, who was devoted and did good to the twiceborn (Brahmans), who was (?) … to Lord Agastya, born of a pitcher (Kalaśa)—had with (the help of) his ministers and leaders of army (?) caused to be built the charming abode (i. e. temple) of the sage…

(v. 5) The highminded and foresighted (king), the lover of fame, having seen the established image, founded by his ancestors, to be made of devadaru wood, ordered the sculptor and had a wonderful image of black marble prepared.

(v. 6) In the Śaka year 682, in the month of Margasirsha, on Friday, in Ardra (nakṣatra), on the first day of the of the bright fortnight, at the junctureṇf the (two) Pakṣas (fortnights), in the Dhruva (yoga) and in Kumbha lagna was established by the king, of firm intellect, (the image of) Agastya, whose source was a pitcher, with (the assistance of) the officiating priests, versed in the Vedas, together with the best of ascetics, architects, ministers and experts.

(V. 7) Land, cows decorated with flowers, together with herds of buffaloes and preceded by male and female servants— (all these) were given by the king to provide for objects like caru (oblation of boiled rice), havis (oblation of melted butter), ablutions and others, as well as a house for the twiceborn and further, a wonderful abode for the accomodation of guests, well furnished with beds (i. e. mattresses) made of barley straw and together with other paraphernalia (literally, covers).

(V 8) The (future) relations and sons of kings, together with their chief ministers, if they shall be opposed to this gift of the king, may these, perverted by the sin of nonbelieving, fall into hell and neither in this world nor in the next may they attain the best course.

(V 9) In case the descendants of the king are inclined to the augmentation of the gift, may they with their intellect purified by faith…and accustomed to meritorious deeds like (making) gifts, (performance of) sacrifices and study (of the sacred taxts)—protect the whole kingdom in the same way as the (present) king.

Referensi

Chatterjee, B. R., & Chakravarti, N. P. (1933). India and Java, Part II: Inscriptions (2nd ed.). Calcutta: Prabasi Press.

Meulen, W. v. (1976). The Puri Putikesvarapavita and the Pura Kañjuruhan. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 132(4), 445-462.

Soekmono, R. (1995). The Javanese Candi: function and meaning. Leiden: Brill.

Taken from here.

Agak memalukan, untuk orang yang lahir di Malang, baru mengetahui bahwa Malang adalah sebuah daerah sarat dengan peninggalan arkeologi yang penting, juga memukau.

Sebutlah Candi Songgoriti, yang konon menjadi tempat Mpu Gandring yang ternama itu, mencuci kerisnya (read here mengenai keris Mpu Gandring yang dipesan Ken Arok). Candi Sumberawan, sebagai satu-satunya candi berstupa di Jawa Timur. Candi Badut, candi tertua di Jawa Timur (walau ada orang yang bilang bahwa Candi Songgoritilah candi tertua di Jawa Timur).

Dan keberadaan Prasasti Dinoyo ini semacam penegas, bahwa area Malang dan sekitarnya memang ‘sesuatu’.

Wangsa Sanjaya

Wangsa Sanjaya adalah suatu dinasti yang berkuasa di Kerajaan Medang periode Jawa Tengah (atau lazim disebut Kerajaan Mataram Kuno). Wangsa ini, bersama-sama dengan Wangsa Sailendra memerintah Kerajaan Medang.

 

Asal usul

Istilah Wangsa Sanjaya diperkenalkan oleh sejarawan bernama Dr. Bosch dalam karangannya yang berjudul Sriwijaya, de Sailendrawamsa en de Sanjayawamsa (1952). Ia menyebutkan bahwa, di Kerajaan Medang terdapat dua dinasti yang berkuasa, yaitu dinasti Sanjaya dan Sailendra. Istilah Wangsa Sanjaya merujuk kepada nama pendiri Kerajaan Medang, yaitu Sanjaya yang memerintah sekitar tahun 732. Berdasarkan Prasasti Canggal (732 M) diketahui Sanjaya adalah penerus raja Jawa Sanna, menganut agama Hindu aliran Siwa, dan berkiblat ke Kunjarakunja di daerah India, dan mendirikan Shivalingga baru yang menunjukkan membangun pusat pemerintahan baru.Menurut penafsiran atas naskah Carita Parahyangan yang disusun dari zaman kemudian, Sanjaya digambarkan sebagai pangeran dari Galuh yang akhirnya berkuasa di Mataram. Ibu dari Sanjaya adalah Sanaha, cucu Ratu Shima dari Kerajaan Kalingga di Jepara. Ayah dari Sanjaya adalah Sena/Sanna/Bratasenawa, raja Galuh ketiga. Sena adalah putra Mandiminyak, raja Galuh kedua (702-709 M). Dikemudian hari, Sanjaya yang merupakan penerus Kerajaan Galuh yang sah, menyerang Galuh dengan bantuan Tarusbawa, raja Sunda. Penyerangan ini bertujuan untuk melengserkan Purbasora.

Saat Tarusbawa meninggal pada tahun 723, kekuasaan Sunda dan Galuh berada di tangan Sanjaya. Di tangannya, Sunda dan Galuh bersatu kembali. Tahun 732, Sanjaya menyerahkan kekuasaan Sunda-Galuh kepada putranya Rarkyan Panaraban (Tamperan). Di Kalingga, Sanjaya memegang kekuasaan selama 22 tahun (732-754), yang kemudian diganti oleh puteranya dari Déwi Sudiwara, yaitu Rakai Panangkaran. Secara garis besar kisah dari Carita Parahyangan ini sesuai dengan prasasti Canggal.

Rakai Panangkaran dikalahkan oleh dinasti pendatang dari Sumatra yang bernama Wangsa Sailendra. Berdasarkan penafsiran atas Prasasti Kalasan (778 M), pada tahun 778 raja Sailendra yang beragama Buddha aliran Mahayana memerintah Rakai Panangkaran untuk mendirikan Candi Kalasan.

Sejak saat itu Kerajaan Medang dikuasai oleh Wangsa Sailendra. Sampai akhirnya seorang putri mahkota Sailendra yang bernama Pramodawardhani menikah dengan Rakai Pikatan, seorang keturunan Sanjaya, pada tahun 840–an. Rakai Pikatan kemudian mewarisi takhta mertuanya. Dengan demikian, Wangsa Sanjaya kembali berkuasa di Medang.

Teori yang menolak

Poerbatjaraka menolak keberadaan Wangsa Sanjaya. Menurutnya, Wangsa Sanjaya tidak pernah ada, karena Sanjaya sendiri adalah anggota Wangsa Sailendra. Dinasti ini mula-mula beragama Hindu, karena istilah Sailendra bermakna “penguasa gunung” yaitu sebutan untuk Siwa.

Selain itu, istilah Sanjayawangsa tidak pernah dijumpai dalam prasasti mana pun, sedangkan istilah Sailendrawangsa ditemukan dalam beberapa prasasti, misalnya prasasti Ligor, prasasti Kalasan, dan prasasti Abhayagiriwihara.

Poerbatjaraka berpendapat bahwa, Sanjaya telah memerintahkan agar putranya, yaitu Rakai Panangkaran pindah agama, dari Hindu menjadi Buddha. Teori ini berdasarkan atas kisah dalam Carita Parahyangan bahwa Rahyang Sanjaya menyuruh Rahyang Panaraban untuk berpindah agama. Dengan demikian, yang dimaksud dengan istilah “raja Sailendra” dalam prasasti Kalasan tidak lain adalah Rakai Panagkaran sendiri.

Carita Parahyangan memang ditulis ratusan tahun sesudah kematian Sanjaya. Meskipun demikian, kisah di atas seolah terbukti dengan ditemukannya prasasti Raja Sankhara yang mengisahkan tentang seorang pangeran bernama Sankhara yang pindah agama karena ayahnya meniggal dunia akibat menjalani ritual terlalu berat. Sayangnya, prasasti ini telah hilang dan tidak jelas angka tahunnya, serta tidak menyebutkan nama ayah Sankhara tersebut.

Jadi, teori Poerbatjaraka menyebutkan bahwa hanya ada satu dinasti saja yang berkuasa di Kerajaan Medang, yaitu Wangsa Sailendra yang beragama Hindu Siwa. Sejak pemerintahan Rakai Panangkaran, dinasti Sailendra terpecah menjadi dua. Agama Buddha dijadikan agama resmi negara, sedangkan cabang Sailendra lainnya ada yang tetap menganut agama Hindu, misalnya seseorang yang kelak menurunkan Rakai Pikatan.

Kalender Sanjaya

Meskipun istilah Sanjayawangsa tidak pernah dijumpai dalam prasasti mana pun, namun istilah Sanjayawarsa atau “Kalender Sanjaya” ditemukan dalam prasasti Taji Gunung dan prasasti Timbangan Wungkal.

Kedua prasasti tersebut dikeluarkan oleh Mpu Daksa dengan tujuan untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah keturunan asli Sanjaya, sang pendiri kerajaan. Tahun 1 Sanjayawarsa sama dengan tahun 717 Masehi. Tidak diketahui dengan pasti apakah tahun 717 ini merupakan tahun kelahiran Sanjaya, ataukah tahun berdirinya kerajaan.

Daftar raja-raja yang memerintah

Daftar para raja Medang sebelum Dyah Balitung yang tertulis dalam prasasti Mantyasih menurut teori Bosch adalah daftar para raja Wangsa Sanjaya, sekaligus juga silsilah keluarga mulai dari Sanjaya sampai Balitung.

Para raja tersebut antara lain sebagai berikut.

Sejarawan Slamet Muljana berpendapat lain. Menurutnya, daftar tersebut bukan silsilah Wangsa Sanjaya, melainkan daftar para raja yang pernah berkuasa di Kerajaan Medang. Pendapatnya itu berdasarkan atas julukan Rakai Panangkaran dalam prasasti Kalasan, yaitu Sailendrawangsatilaka atau “permata Wangsa Sailendra”. Jadi menurutnya tidak mungkin apabila Rakai Panangkaran adalah putra Sanjaya.

Analisis Slamet Muljana terhadap beberapa prasasti, misalnya prasasti Kelurak, prasasti Nalanda, ataupun prasasti Kayumwungan menyimpulkan bahwa Rakai Panangkaran, Rakai Panunggalan, Rakai Warak, dan Rakai Garung adalah anggota Wangsa Sailendra, sementara sisanya adalah anggota Wangsa Sanjaya, kecuali Rakai Kayuwangi yang berdarah campuran.

Raja sesudah Balitung

Raja sesudah Dyah Balitung adalah Mpu Daksa yang memperkenalkan pemakaian “Kalender Sanjaya” untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah keturunan asli sang pendiri kerajaan. Selain itu, kemungkinan besar Daksa juga merupakan cucu Rakai Pikatan sebagaimana yang tertulis dalam prasasti Telahap.

Daksa digantikan oleh menantunya, bernama Dyah Tulodhong, yaitu putra dari seseorang yang dimakamkan di Turu Mangambil. Tidak diketahui dengan pasti apakah Tulodhong ini merupakan keturunan Sanjaya atau bukan.

Menurut sejarawan Boechari, pemerintahan Tulodhong berakhir akibat pemberontakan Dyah Wawa, putra Rakryan Landhayan. Dalam hal ini juga tidak dapat dipastikan apakah Wawa keturunan Sanjaya atau bukan.

Raja selanjutnya bernama Mpu Sindok yang diperkirakan sebagai cucu Mpu Daksa. Jika benar demikian, maka Mpu Sindok dapat disebut sebagai keturunan Sanjaya pula, meskipun ia dianggap telah mendirikan dinasti baru bernama Wangsa Isana.

Taken from here.

Prasasti Raja Medang Periode Jawa Timur & Jawa Tengah

Dalam bahasa Sansekreta, prasasti yang bermakna harfiah ‘pujian’ tersebut lazim dipadankan oleh kaum arkeolog sebagai inskripsi (inscription). Bagi masyarakat awam, prasasti sering disebut sebagai batu bertulis atau batu bersurat. Sekalipun diketahui, prasasti tidak selamanya terbuat dari batu.
Berdasarkan kesimpulan dari berbagai pendapat para sejarawan, arkeolog, atau ahli epigraf; prasasti merupakan salah satu jenis artefak dimana fungsinya bukan sekadar sebagai pujian; akan tetapi sebagai piagam, maklumat, surat keputusan, undang-undang, atau dokumen yang dituliskan pada bahan keras dan berdaya tahan lama, misal: batu (andesit, pualam, kapur, atau basalt); lempengan logam (tembaga, perunggu, perak, atau emas); daun (lontar atau tal); tanah liat (tablet); atau kertas.
Dalam arkeologi, prasasti batu lazim diistilahkan sebagai upala prasasti, prasasti logam diistilahkan sebagai tamra prasasti, dan prasasti lontar disebut tripta prasasti.
Prasasti adalah sebagai tanda berakhirnya masa pra sejarah dan bermulanya masa sejarah. Masa dimana sebagian masyarakat saat itu mulai dapat menulis dan membaca. Sekalipun kebanyakan prasasti tidak dikeluarkan oleh masyarakat, melainkan para raja yang tengah berkuasa di kerajaan tertentu. Karenanya sebagian dari prasasti yang ada cenderung memuat pujian-pujian pada seorang raja. Sekalipun demikian, banyak prasasti yang tidak memuat pujian-pujian terhadap raja.
Pengertian lain, terdapat pula prasasti-prasasti yang berisikan tentang penetapan terhadap desa sebagai sima swatantra (daerah perdikan atau daerah bebas pajak), keputusan pengadilan tentang perkara perdata (jayapatra atau jayasong), tanda atas kemenangan (jayacikna), persoalan utang-piutang (suddhapatra), dsb.
Diketahui bahwa prasasti tidak selamanya ditulis dengan huruf Pallawa atau Sansekreta, melainkan dengan huruf Prenagari, Jawa Kuna, Melayu Kuna, Sunda Kuna, dan Bali Kuna. Sementara itu, penulisan prasasti pula menggunakan bahasa yang sangat variatif. Disamping bahasa Sansekreta, prasasti ditulis dengan bahasa Jawa Kuna, Bali Kuna, Sunda Kuna, dsb.
Hasil penelitian dari para sejarawan, arkeolog, dan ahli epigraf menunjukkan bahwa prasasti tertua di bumi Nusantara adalah Prasasti Yupa dari kerajaan Kutai (Kalimantan Timur) yang dikeluarkan pada abad 5 M. Prasasti yang ditulis di atas batu dengan huruf Pallawa dan bahasa Sansekreta tersebut memuat tentang hubungan geneologis semasa pemerintahan Mulawarwan.
Seiring dengan perkembangan zaman, prasasti demi prasasti kemudian banyak dikeluarkan pada abad 8 – 14 M. Prasasti dan Raja-Raja Medang Prasasti merupakan bukti sejarah yang dapat menunjukkan tentang catatan-catatan (peristiwa-peristiwa) orisinal pada zamannya.
Dengan demikian, seseorang dengan berbekal kemampuan cukup untuk membaca aksara dan bahasa yang digunakan pada prasasti tersebut akan dapat mengetahui tentang catatan-catatan sejarah masa silam, terutama yang berkaitan dengan sejarah raja-raja Jawa (baca: raja-raja Medang sejak pemerintahan Wisnuwarman hingga Dharmawangsa Teguh).
Berikut adalah prasasti-prasasti yang berkaitan dengan sejarah raja-raja Medang periode Jawa Tengah dan Jawa Timur:
1. Prasasti Ligor B dan Kalurak.
Dari Prasasti Ligor B yang diterjemahkan Dr. Chabra menyebutkan bahwa Wisnuwarman yang memerintah Kerajaan Medang periode Jawa Tengah pada 775-782 tersebut sebagai sarwwarimadawimathana. Sang pembunuh musuh-musuh perwira. Sementara dalam Prasasti Kalurak yang dikeluarkan pada tahun 782, Slamet Muljana menyebutkan bahwa Wisnuwarman sebagai wairiwarawiramardana (pelindung dunia). Jika kebenaran teori Slamet Muljana tidak tersangkalkan, maka penulisan prasasti tersebut merupakan tanda kekuasaan Dinasti Syailendra atas tlatah Ligor yakni pada tahun 778-787. Di dalam Prasasti Kalurak menyebutkan tentang nama Dharanindra. Raja Medang periode Jawa Tengah ke 3 yang memerintah pada 782-812 dengan gelar Sri Sanggrama Dananjaya. Sementara Slamet Muljana mengidentikkan Dharanindra yang mampu meluaskan wilayah kekuasaan Medang hingga Semenanjung Malaya dan daratan Indo China tersebut dengan Sri Maharaja Rakai Panunggalan.
2. Prasasti Kayumwungan, Tri Tepusan, Munduan, Plaosan, dan Wantil
Prasasti Kayumwungan menyebut nama Pramodawardhani yang memerintah Medang periode Jawa Tengah pada tahun 833-856 sebagai putri dari Samaratungga. Prasasti tersebut pula menerangkan, bahwa Pramodawardhani telah meresmikan bangunan Jinalasa yang bertingkat-tingkat. Bangunan yang dimaksud adalah Kamulan Bhumisambhara atau kini dikenal dengan candi Borobudur. Hubunganantara Pramodawardhani dengan candi Borobudur pula disebutkan pada Prasasti Tri Tepusan yang berangka tahun 842. Pada prasasti tersebut dijelaskan bahwa Pramodawardhani yang menurut Dr Casparis bergelar Sri Kahulunan tersebut telah membebaskan pajak pada beberapa desa yang seluruh penduduknya merawat bangunan Jinalaya. Lain Prasasti Kayumwungan dan Tri Tepusan, lain pula dengan Prasasti Munduan (807). Prasasti tersebut menerangkan tentang jarak usia Pramodawardhani dengan Rakai Pikatan suaminya yang sangat jauh. Hasil dari penikahan keduanya, Pramodawardhani melahirkan dua putra yakni Rakai Gurungwangi Dyah Saladu (Prasasti Plasosan) dan Rakai Kayuwangi (Prasasti Wantil).
3. Prasasti Mantyasih dan Nalanda.
Pada Prasasti Mantyasih yang dikeluarkan Dyah Balitung pada 907 menerangkan bahwa raja ke 2 Medang Periode Jawa Tengah dengan pusat pemerintahan Mataram Kuno adalah Rakai Panangkaran Dyah Pancapana. Sementara raja Medang ke 5 adalah Rakai Garung yang memerintah sesudah Rakai Warak. Raja Medang ke 4 yang menurut teori Slamet Muljana dengan berdasar Prasasti Nalanda identik dengan nama Samaragrawira (ayah dari Balaputradewa).
4. Prasasti Argapura, Tulang Air, Gandasuli, dan Siwagreha
Bersumber pada Prasasti Argapura, Rakai Pikatan yang merupakan raja Medang periode Jawa Tengah ke 6 pada 838-855 tersebut bernama asli Mpu Manuku. Kemudian dari Prasasti Tulang Air yang berangka tahun 850 dapat diperoleh keterangkan, bahwa Mpu Manuku menggunakan nama gelar Rakai Patapan. Dengan demikian Rakai Pikatan yang berasal dari Dinasti Sanjaya tersebut adalah identik dengan Mpu Manuku atau Rakai Patapan. Sesudah Mpu Palar meninggal, Rakai Pikatan kembali bertanggung jawab atas tlatah Patapan (Prasastri Gandasuli). Sementara pada Prasasti Siwagreha yang dikeluarkan pada 12 November 658, Rakai Pikatan disebut sebagai pendiri bangunan suci Siwagreha (candi Siwa). Bila menilik ciri-cirinya, bangunan Siwagreha identik dengan salah satu candi utama di komplek candi Prambanan.
5. Prasasti Poh Dulur dan Munggu Antan
Prasasti Poh Dulur yang dikeluarkan pada 890 menyebutkan tentang nama Maharaja Rakai Limus Dyah Dewendra, raja Medang periode Jawa Tengah yang memerintah pada 885-887. Sementara pada Prasasti Munggu Antan menyebutkan nama Rakai Gurungwangi Dyah Badra. Raja Medang periode Jawa Tengah yang mulai memerintah pada tahun 887.

6. Prasasti Panunggalan, Telahap, Watukura, Telang, Poh, dan Kubu-Kubu
Prasasti Panunggalan yang dikeluarkan pada 19 November 896 menyebut nama Sang Watuhumalang Mpu Teguh. Namun prasasti tersebut tidak menyebut Watuhumalang sebagai raja Medang periode Jawa Tengah, melainkan sebagai haji (raja bawahan). Sedangkan Prasasti Telahap menjelaskan bahwa yang menjadi raja Medang bukan Watuhumalang, melainkan Dyah Balitung. Dari sini Poerbatjaraka dan Boechari menganalisis bahwa Dyah Balitung menjabat sebagai raja Medang sesudah menikahi putri Watuhumalang. Selama menjabat sebagai raja, Dyah Balitung mengangkat Mpu Daksa sebagai Rakryan Mapatih (Prasasti Watukura, 27 Juli 902). Selain itu, Dyah Balitung pula memerintahkan pada Rakai Welar Mpu Sudarsana untuk membangun komplek penyeberangan ‘Paparahuan’ di tepian Sungai Bengawan Solo (Prasasti Telang, 11 Januari 904), membebaskan pajak pada warga desa Poh yang telah merawat bangunan suci Sang Hyang Caitya dan Silungkung (Prasasti Poh, 17 Juli 905), serta memberikan anugerah berupa desa Kubu-Kubu pada Rakryan Hujung Dyah Mangarak dan Rakryan Matuha Dyah Majawuntan yang berhasil menaklukkan daerah Bantan (Prasasti Kubu-Kubu 17 Oktober 905).

7. Prasasti Timbangan Wungkal dan Taji Gunung
Bersumber dari Prasasti Timbangan Wungkal yang berangka tahun 913 dapat diketahui, Mpu Daksa (Sri Maharaja Daksottama Bahubajra Pratipaksaksaya Uttunggawijaya) merupakan putra Rakai Gurungwangi (cucu Rakai Pikatan) yang menjabat sebagai raja Medang periode Jawa Tengah (910-919) dengan pusat pemerintahan di Poh Pitu. Lebih jauh Prasasti Taji Gunung yang berangka tahun 910 menjelaskan bahwa Mpu Daksa menjabat sebagai raja sesudah melakukan kudeta terhadap kekuasaan Dyah Balitung.

8. Prasasti Ratihang, Lintakan, dan Harinjing
Merunut pada Prasasti Ratihang, Dyah Tulodong telah menikahi Rakryan Layang (putri Dyah Balitung) sebelum menjabat sebagai raja Medang (898-910). Dyah Tulodong yang bergelar Rakai Layang (Prasasti Lintakan, 12 Juli 919) telah mengangkat Mpu Ketuwijaya (Sri Ketudhara Manimantaprabha Prabhusakti) sebagai Rakryan Mapatih Hino dan Mpu Sindok sebagai Rakryan Halu. Semasa menjabat sebagai raja, Dyah Tulodong membebaskan desa Culangi sebagai daerah bebas pajak. Anugerah ini diberikan pada 12 putra Bhagawanta Bhari yang telah berjasa membangun bendungan pencegah banjir. Berita ini telah dituliskan dalam Prasasti Harinjing yang dikeluarkan pada 19 September 921.
9. Prasasti Culangi dan Wulakan
Prasasti Culangi yang dikeluarkan pada 7 Maret 927 menyebutkan bahwa Dyah Wawa yang memerintah Medang pada 924-028 bergelar Rakai Sumba atau Rakai Pangkaja. Sementara Prasasti Wulakan yang dikeluarkan pada 14 Pebruari 928 menyebut nama Dyah Wawa sebagai putra dari Rakryan Landheyan.
10. Prasasti-Prasasti Warisan Mpu Sindok
Semasa terjadi letusan gunung Merapi yang disertai gempa bumi vulkanik pada sekitar tahun 928-929, Mpu Sindok memindahkan istana Medang dari Poh Pitu (Jawa Tengah) ke Tamlang yang kemudian di Watungaluh (Jawa Timur). Selama menjabat sebagai penguasa pertama di Kerajaan Medang periode Jawa Timur, Mpu Sindok meninggalkan banyak prasasti, antara lain:

-Prasasti Turyan (929). Prasasti ini berisi tentang permohonan Dang Atu Mpu Sahitya pada Mpu Sindok, agar tanah di sebelah barat sungai desa Turyan dijadikan bangunan suci.

-Prasasti Linggasutan (929). Prasasti ini berisi tentang penetapan desa Linggasutan sebagai sima swatantra.

-Prasasti Gulung-Gulung (929). Prasasti ini berisi tentang permohonan Rakai Hujung Mpu Madhura pada Mpu Sindok agar sawah di desa Gulung-Gulung dijadikan sima swatantra.

-Prasasti Cunggrang (929). Prasasti ini berisi tentang penetapan Mpu Sindok atas desa Cunggrang sebagai sima swatantra.

-Prasasti Jru-Jru (930). Prasasti ini berisi tentang permohonan Rakai Hujung Mpu Madhura pada Mpu Sindok agar desa Jru-Jru sebagai sima swatantra.

-Prasasti Waharu (931). Prasasti ini berisi tentang penganugerahan Mpu Sindok pada penduduk desa Waharu yang dipimpin oleh Buyut Manggali.

-Prasasti Sumbut (931). Prasasti ini berisi tentang penetapan desa Sumbut sebagai sima swatantra.

-Prasasti Wulig (935). Prasasti ini berisi tentang peresmian bendungan di Wuatan Wulas dan Wuatan Tamya yang dilakukan Rakryan Mangibil (selir Mpu Sindok).

-Prasasti Anjluka (937). Prasasti ini berisi tentang penetapan Mpu Sindok atas desa Anjluka sebagai sima swatantra.

11. Prasasti Gedangan
Prasasti Gedangan (950) menyebutkan bahwa Sri Isyana Tunggawijaya (raja Medang periode Jawa Timur ke dua) telah menganugerahkan desa Bungur Lor dan Asana pada para pendeta Buddha di Bodhinimba.
12. Prasasti Pucangan
Prasasti Pucangan menyebutkan bahwa Sri Makutawangsawardhana merupakan Sri Isyana Tunggawijaya dan Sri Lokapala. Selain menjelaskan tentang Sri Makutawangsawardhana yang memiliki putri bernama Mahendradatta (ibu dari Airlangga), Prasasti Pucangan pula menjelaskan tentang runtuhnya kerajaan Medang periode Jawa Timur semasa pemerintahan Dhamawangsa Teguh. Runtuhnya kerajaan Medang tersebut kemudian dikenal dengan istilah Mahapralaya. Catatan Akhir Pasca peristiwa Mahapralaya (kematian/kehancuran maha dahsyat) yang terjadi pada tahun 1007 atau sebagian sejarawan menafsirkan pada tahun 1016 (sasalancana abdi vadane) tersebut, riwayat kerajaan Medang telah berakhir. Namun melalui prasasti-prasasti yang ditinggalkan, nama kerajaan Medang baik pada periode Jawa Tengah maupun Jawa Timur tetap eksis hingga kini. Disitulah letak kedahsyatan fungsi (makna) prasasti dalam sejarah peradaban manusia.
Daftar Referensi:
  • Muljana, Slamet, 2005, Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara, terbitan ulang 1968, Yogyakarta: LKIS
  • R. Ng. Poerbotjaraka, 1952, Riwajat Indonesia, djilid 1, Criwijaya de Sanjaya en de Cailandrawamca, BKI
  • Purwadi, 2007, Sejarah Raja-Raja Jawa, Yogyakarta, Media Ilmu
  • Adji, Krisna Bayu dkk, 2011, Ensklopedi Raja-Raja Jawa Dari Kalingga Hingga Kasultanan Yogyakarta, Yogyakarta, Araska
  • http://id.wikipedia.org -http://www.artikata.com

Gajah Mada yang Misterius dan Babad Gajah Maddha

Gajah Mada itu sosok yang misterius. Tidak diketahui asal usulnya. Nah, siang ini aku menemukan sesuatu yang menarik: Babad Gajah Maddha! Tidak sekalipun sebelum ini aku tahu mengenai keberadaan Babad Gajah Maddha dan seharian setelahnya aku browsing kesana kemari, mencari isi dan penjelasan Babad Gajah Maddha..
Lontar Babad Gajah Maddha, menguraikan perihal asal usul Mahapatih Gajah Mada, seorang Patih Amangkubhumi dari kerajaan Majapahit yang terkenal dengan Sumpah Palapa nya dalam usahanya mempersatukan seluruh wilayah Nusantara di bawah payung kerajaan Majapahit.
Ringkasannya:
Tersebutlah Brahmana Suami-Istri di wilatikta, yang bernama Curadharmawysa dan Nariratih, keduanya disucikan (Diabhiseka menjadi pendeta) oleh Mpu Ragarunting di Lemah Surat. Setelah disucikan lalu kedua suami istri tersebut diberi nama Mpu Curadharmayogi dan istrinya bernama Patni Nuriratih. Kedua pendet tersebut melakukan Bharata (disiplin) Kependetaan yaitu :Sewala-brahmacari” artinya setelah menjadi pendeta suami istri tersebut tidak boleh berhubungan sex layaknya suami istri lagi.
Selanjutnya Mpu Curadharmayogi mengambil tempat tinggal (asrama) di Gili Madri terletak di sebelah selatan Lemah Surat, Sedangkan Patni Nariratih bertempat tinggal di rumah asalnya di wilatikta, tetapi senantiasa pulang ke asrama suaminya di gili madri untuk membawa santapan,dan makanan berhubungan jarak kedua tempat tinggal mereka tidak begitu jauh.
Pada suatu hari Patni Nariratih mengantarkan santapan untuk suaminya ke asrama di gili madri, tetapi sayang pada saat hendak menyantap makanan tersebut air minum yang disediakan tersenggol dan tumpah (semua air yang telah dibawa tumpah),sehingga  Mpu Curadharmayogi mencari air minum lebih dahulu yang letaknya agak jauh dari tempat itu arah ke barat. Dalam keadaan Patni Nariratih  seorang diri diceritakan timbulah keinginan dari Sang Hyang Brahma untuk bersenggama dengan Patni Nariratih. Sebagai tipu muslihat segerah Sang Hyang Brahma berganti rupa (berubah wujud,(“masiluman”)) berwujud seperti Mpu Curadharmayogi sehingga patni Nariratih mengira itu adalah suaminya.
Segera Mpu Curadharmayogi palsu (Mayarupa) merayu Patni Nariratih untuk melakukan senggama, Tetapi keinginan tersebut ditolak oleh Patni Nariratih,oleh karena sebagai pendeta sewala-brahmacari sudah jelas tidak boleh lagi mengadakan hubungan sex,oleh karena itu Mpu Curadharmayogi palsu tersebut memperkosa Patni Nariratih.
Setelah kejadian tersebut maka hilanglah Mpu Curadharmayogi palsu,dan datanglah Mpu Curadharmayogi yang asli (Jati). Patni Nariratih menceritakan peristiwa yang baru saja menimpa dirinya kepada suaminya dan akhirnya mereka berdua menyadari,bahwa akan terdjadi suatu peristiwa yang akan menimpa mereka kelak. Kemudian ternyata dari kejadian yang menimpa Patni Nariratih akhirnya mengandung.
Menyadari hal yang demikian tersebut mereka berdua lalu mengambil keputusan untuk meninggalkan asrama itu, mengembara ke hutan-hutan, jauh dari asramanya tidak menentu tujuannya, hingga kandungan patni Nariratih bertambah besar. Pada waktu mau melahirkan mereka sudah berada didekat gunung Semeru dan dari sana mereka menuju kearah Barat Daya, lalu sampailah disebuah desa yang bernama desa Maddha. Pada waktu itu hari sudah menjelang malam dan Patni Nariratih sudah hendak melahirkan,lalu suaminya mengajak ke sebuah “Balai Agung” yang terletak pada kahyangan didesa Maddha tersebut.
Bayi yang telah dilahirkan di bale agung itu, segera ditinggalkan oleh mereka berdua menuju ke sebuah gunung. Bayi tersebut dipungut oleh seorang penguasa didesa Maddha, lalu oleh seorang patih terkemuka di wilatikta di bawa ke wilatikta dan diberi nama “Maddha”

INTERPRETASI/TAFSIRAN dari Isi

1. Pada halaman 2a Lontar Babad Gajah Maddha (sealanjutnya di singkat dengan B.G.M) dikatakan bahwa oran tua Gajah Mada berasal dari Wilatikta yang disebut juga Majalangu (B.G.M hal.1b)
Disebelah selatan “Lemah Surat” terletak “Giri Madri” yang dikatakan berada dekat dengan Wilatikta (B.M.G Hal.6a)pada B.M.G hal.6b dikatakan hampir setiap hari Patni Nariratih pulang pergi dari wilatikta,megantar makanan suaminya di asramanya di gili Madri yang terletak disebelah selatan wilatikta. Hal ini berarti Gili Madri terletak disebelah selatan Lemah Surat dan juga disebelahselatan Wilatikta. Jarak antara Gili Madri dengan Wilatikta dikatakan dekat.Tetapijarak antara Lemah Surat dengan Wilatikta begitu pula arah dimana letak Lemah Surat dari Wilatikta tidak disebutkan dalam B.G.M
2. Pada B.G.M hal. 12a yang menyebutkan tentang kelahiran Gajah Mada, ada kalimat yang berbunyi “On Cri Caka warsa jiwa mrtta yogi swaha” kalimat ini adalah Candrasangkala yang bermaksud kemungkinan sebagi berikut:
On Cri Cakawarsa        = Selamatlah Tahun Saka
Jiwa                = 1 (satu)
mrtta                = 2 (Dua)
Yogi                = 2 (Dua)
Swaha                = 1 (satu)
jadi artinya : Selamat Tahun Saka 1221 atau tahun (1299 Masehi)seandainya itu  benar maka gajah mada dilahirkan pada tahun 1299 Masehi.
3. Mengenai nama Maddha B.G.M hal.10b – 11a disebutkan sebagai berikut:
Karena malu terhadap gurunya yakni : Mpu Ragarunting, begitu juga terhdap orang banyak, maka setelah kandungan Patni Nariratih membesar, lalu disjak ia oleh suaminya meninggalkan asrama pergi mengembara kedalam hutan dan gunung yang sunyi. Akhirnya pada malam hari,waktu bayi hendak lahir,mereka berdua menuju kesebuah desa yang bernama Maddha terletak di dekat kaki gunung semeru. didesa itulah sang Bayi dilahirkan disebuah “Bale-Agung” yang ada di Kahyangan (Temple) desa tersebut. Bayi tersebut dipungut oleh seorang penguasa desa Maddha,kemudian dibawa ke Wilatikta oleh seorang patihdan kemudian diberi nama Maddha jadi jika demikian halnya nama Maddha berasal dari nama desa.
Nama Gajah oleh B.G.M sama sekali tidak disebutkan.kemungkinan besar nama gajah adalah nama  kemungkinan nama tambahan atau nama julukan atau bisa juga nama Jabatan (Abhiseka) bagi sebutan orang Kuat (?)
dengan demikian Gajah Mada berarti Orang kuat yang berasal dari Maddha.
4. Mengenai nama orang Tua Gajah Mada, ayahnya bernama Curadharmawyasa dan ibunya bernama Nariratih (B.G.M. hal 2a) Setelah mereka disucikan (Abhiseka menjadi pendeta) oleh Mpu Ragarunting di Lemah Surat,nama mereka berubah menjadi Curadharmayogi dan Patni Nariratih (B.G.M hal 3b) meraka berdua adalah brahmana (B.G.M hal. 2a)
Adapun didalam B.G.M hal. 9b, yang menyebutkan bahwa Patni Nariratih bersenggama dengan Dewa Brahma yang berganti rupa seperti suaminya sehingga Gajah Mada seolah-olah dilahirkan atas hasil senggama antara Patni Nariratih dengan Dewa Brahma, dapat kita tafsirkan sebagai berikut:
Pengungkapan Mitos demikian itu sudah tentu sukar diterima oleh akal mengingat motif yang demikian itu sudah banyak terdapat pada penulisan-penulisan babad, maka perlulah dicari Latar belakang dari hal-hal yang dimythoskan itu.
Perkiraan yang dapat kami tangkap adalah:
a. Mpu Curadharmayogi dan istrinya Patni Nariratih adalah melakukan brata “Sewala Brahmacari” yang berarti sejak mereka menjadi pendeta mereka tidak diperbolehkan untuk berhubungan sex atau senggama oleh karena itu mereka berpisah tempat Sang suami ber asrama di Gili Madri sedangkan Sabng istri bertempat tinggal di Wilatikta tetapi kedua suami istri ini masih saling bertemu karena sang istri acapkali membawakan makanan untuk sang suami.
b. Pada suatu ketika yaitu pada hari Coma, Umanis, Tolu, Cacil ka daca (senin, Legi, Tolu ,bulan april) Patni Nariratih membawakan suaminya santapan. Pada waktu hendak makan,air minum tiba-tiba tumpah.Dengan tidak sadar keluarlah kata-kata dari Patni Nariratih : “ih ah palit dewane plet”yang maksudnya kemaluan suaminya kelihatan (B.G.M ha. 7a). Dalam B.G.M hal.7b dikatakan bahwa kata-kata tersebut didengar oleh Dewa Brahma. disinilah menurut Interpretasi kami bahwa yang mendengar hal tersebut tidak lain adalah suaminya sendiri, sehingga timbuh hasrat birahi ingin bersenggama dengan suaminya,Akhirnya senggama tersebut terjadi antara Patni Nariratih dengan suaminya sendiri
Mengapa demikian, karena menurut interpretasi kami, Brahma adalah sebagai dewa pencipta/penumbuh (konsep trimurti) dan ini sering digunakan sebagai mythologi sebagai sumber kelahiran seseorang yang ke-namaan atau termasyur.
Jadi logislah disin untuk menyembunyikan perbuatan Mpu Curadharmayogi maka dipakailah Dewa Brahma sebagai gantinya. Mengapa dikatakan senggama itu terjadi dengan Dewa Brahma, Kiranya ini untuk menyembunyikan perbuatan Mpu Curadharmayogi sebagai seorang”Sewala-brahmacari” itulah sebabnya setelah Patni Nariratih hamil mereka segera pergi dari asrama unuk menyembunyikan diri.
c. Mengenai Lahirnya Sang bayi pada balai agung di sebuah kahyangan di desa maddha. ini kira-kiranya memang diusahakan oleh Mpu Curadharmayogi dan Patni Nariratih menurut penafsiran kami:
Balai Agung adalah merupakan sebuah balai yang patut ada di dalam sebuah “Kahyangan Desa”(Pura desa) yang berfungsi sebagai tempat membersihkan diri dari noda-noda spritual.
Hal yang demikian ini dapat dibandingkan dengan keadaan di Bali sampai sekarang, Bahwa Bale-Agung terletak didalam Pura Desa yaitu salah satu Kahyangan Tiga yang ada pada tiap-tiap desa. Pura Desa ini adalah Sthana Dewa Brahma dalam fungsi sebagi pencipta. Jadi logislah orang tua Gajah Mada mengusahakan Balai Agung sebagai tempat untuk melahirkan bayi dengan maksud :
– Proses kelahiran berjalan lancar bayi terhindar dari noda-noda spritual
– Supaya bayi tersebut dianggap dilahirkan dari sumber pebcipta
-Supaya ada orang yang memungut dan memeliharanya.
Ki Patih Gajah Mada, Mahapatih kerajaan Majapahit yang terkenal dan sangat dikagumi , ternyata adalah murid dari KI Hanuraga, sesepuh Generasi III, Paiketan Paguron Suling Dewata .
Menurut Parampara Perguruan Seruling Dewata, khususnya saat menceritakan kisah ketua angkatan ke III, Ki Hanuraga ( atau Ksatria Suling Gading ), tersirat kisah hidup Gajahmada. Gajahmada, lahir di desa Mada, Mada Karipura, beliau ditemukan sekarat oleh seorang Maha Yogi Ki Hanuraga, di Jawa Ki Hanuraga di kenal dengan nama Begawan Hanuraga sedangkan di Bali beliau dikenal dengan nama dengan sebutan Mahayogi Hanuraga (Sesepuh Generasi III Perguruan Seruling Dewata) beliau menguasai 72 kitab pusaka yang mempelajari 72 ilmu silat dan diwarisi oleh sesepuh sesepuh sebelumnya seperti Ki Mudra dan Ki Madra sesepuh Generasi II, serta Ki Budhi Dharma sesepuh generasi I yang di diksa pada abad ke 5 – caka tahun ke 63 – bulan ke 11- hari ke 26 (caka warsa 463). Mengenai Gajahmada, diceritakan, bahwa Gajahmada kecil bernama I Dipa, dia memanggil Ki Hanuraga dengan sebutan Eyang Wungkuk, dan belajar ilmu kanuragan selama 5 tahun sambil mempelajari ilmu ketata Negaraan, I Dipa (Gajah Mada Kecil) adalah seorang yg tdk memiliki siapa-siapa (sebatang kara), sebagai pengembala kambing. Perkenalan Mahayogi Hanuraga dgn I Dipa (Gajah Mada Kecil), terjadi saat Ki Hanuraga melakukan pengembaraan ke tiga kalinya mengelilingi Nusantara (kala itu di sebut Nusa Ning Nusa), sebelum Mahayogi sakti ini kembali ke Pertapaan Candra Parwata di Gunung Batukaru di Bali ketika usia beliau sudah sepuh (tua), sesuai tradisi Perguruan sebagai seorang Mahayogi harus kembali ke pertapaan. Mahayogi Hanuraga menemukan Gajahmada, dipinggiran hutan dalam keadaan pingsan, antara hidup dan mati, karena kasihan Maha Yogi Ki Hanuraga mengobati dan menyembuhkan luka dalam Gajahmada. Dari Ki Hanuraga-lah I Gajahmada, belajar ilmu silat dan kanuragan, serta mengajari ilmu Tata Negara dan tercatat sebagai siswa Paiketan Paguron Suling Dewata di bawah bimbingan langsung sesepuh Generasi III Ki Hanuraga. Gajahmada Kecil sering di ejek oleh teman temannya, karena dia memiliki kuping yg lebih besar dari kuping orang normal, sehingga dia di panggil I Gajah dari Desa Mada. Kelak semua tahu bahwa nama Gajahmada inilah yang akhirnya menjadi terkenal di seluruh Nusantara sebagai Mahapatih yang maha sakti (di sadur dari Majalah Watukaru, Majalah bulanan Perguruan Seruling Dewata).
Berikut beberapa petikan yang diambil dari Parampara Perguruan mengenai Ki Gajahmada dan Ki Soma Kepakisan, seperti yang dituturkan oleh Ki Hanuraga atau Ksatria Suling gading, sesepuh Generasi Ke III, Perguruan Seruling Dewata .
Ki Gajahmada ini adalah pengembaraanku yang ketiga dan merupakan yang terakhir menjelajahi Nusantara. ketika aku melangkahkan kakiku dengan santai di pinggiran hutan dekat sebuah desa yang bernama desa Mada atau lengkapnya Madakaripura pada sebidang tanah datar pandangan mataku tertumbuk pada seorang anak yang sedang mengelepar bergulingan di tanah seperti sedang sekarat. aku segera melompat ringan dan setelah dekat ternyata seorang anak berusia sekitar empat belas tahunan. tubuhnya sebenarnya tegap, tapi entah kenapa mengelepar gelepar seperti sekarat menahan siksaan berat, tubuhnya memancarkan sinar merah, dan hijau berganti ganti, berkali kali anak itu ingin berbicara kepadaku, tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnua hanya tangannya saja yang menunjuk nunjuk sebuah goa di pinggir hutan. dengan sigap aku melompat ke mulut goa, didalam goa aku melihat seekor ular naga Wilis sebesar pohon pisang yang panjangnya sekitar delapan depa, mati kehabisan darah, dan ada bekas gigitan di tubuh ular naga wilis ini, didekat bangkai ular naga wilis ada cahaya merah, setelah ku dekati ternyata ”Ong Brahma” sebuah jamur berwarna merah sebesar niru, yang sebagian besar habis tercabik cabik, ”Ong Brahma” adalah sebuah mustika langka yang menjadi rebutan kaum persilatan karena mampu melipatgandakan tenaga panas menjadi seribu kali lipat. rupanya ular naga wilis ini adalah penjaga Ong Brahma yang langka ini.bersyukur anak ini berjodoh dan bertemu denganku , jika tidak bertemu pesilat berilmu tinggi anak ini dapat dipastikan kematiannya, sebab minum darah ular saja bisa mati membeku kedinginan apalagi makan ”Ong Brahma” akan kepanasan darah mengering . jika makan keduanya akan tersiksa panas dan dingin secara bergantian dan akhinya mati.tenaga dalam yang berhawa panas dan dingin yang bergejolak saling mematikan , aku isap habis habisan dengan tenaga sakti isap bhumi, diselaraskan dalam dirinya, lalu disalurkan kembali ke tubuh anak ini sehingga seluruh nadi terbuka, seluruh garanthi ( simpul nadhis ) terbuka, tujuh cakra besar terbuka dan Kundalini terbangkitkan seketika, tenaga dalam masih berlebihan terpaksa dibagi ke 108 nadis di seluruh tubuh anak ini , baru dapat membebaskan anak ini dari kematian. dari kemalangan terancam kematian mengerikan , berubah menjadi keberuntungan luar biasa, impian seluruh dunia persilatan dengan terbukanya seluruh nadhis, garanthi, cakra dan bangkitnya kundalini, orang biasa membutuhkan latihan puluhan tahun untuk mencapai tingkatan seperti ini. setelah setengah hari anak ini pingsan, akhirnya sadar juga, wajahnya cemerlang berseri seri, begitu anak ini sadar langsung berlutut dihadapanku, rupanya anak ini sadar juga bahwa aku telah menyelamatkan jiwanya, setelah mengucapkan terimakasih anak ini mulai menuturkan riwayat hidupnya.anak ini bercerita namanya ” Dipa” , tidak tahu siapa orang tua kandungnya sejak kecil ia sudah menjadi tapa daksa (anak yatim piatu), dan harus bekerja pada tuan tanah untuk menanggung hidupnya dia ditugaskan mengembala sapi, anak yang kehilangan sapi dihukum keras dicambuk, dipukuli bahkan jika berkali kali dipotong tangan atau kakinya. anak ini bercerita bahwa dia telah kehilangan kambing 3 kali dan tentunya dia takut kembali karena akan menerima hukuman yang sangat berat bisa bisa di hukum potong tangan atau kaki, sehingga untuk menghindari hukuman tersebut dia mencari ular naga wilis yang memakan kambingnya dan melarikannya ke dalam goa, ketika dililit sama ular naga wilis , Dipa menggigit tubuh ular dan meminum darahnya, ketika ular itu mati kerena kehabisan darah, ia merasa haus dan kelelahan dan melihat jamur merwarna merah yang meneteskan air dan ia pun langsung meminumnya dan meremas remas jamur tersebut agar mendapatkan lebih banyak air karena rasa haus sehabis berkelahi dengan ular naga wilis. syukur hamba (Dipa) bertemu dengan tuan (Ki Hanuraga) , dan nyawa hamba berhasil diselamatkan, sekarang hamba rasanya kuat, segar bugar, mulai sekarang hamba berguru kepada Tuan dan ikut kemanapun Tuan pergi, daripada hamba kembali ke desa akhirnya di hukum potong tangan atau potong kaki dan menjadi cacat seumur hidup.aku tersenyum dan menerimanya sebagai siswa, namun aku hanya berjanji mengajarkannya selama lima tahun saja, Dipa sering menyebutku dengan Eyang Wungkuk, aku terpaksa menetap di hutan bersama Dipa selama lima tahun mengajarinya ilmu silat dan ilmu ketatanegaraan. aku menyimpulkan bahwa Tenaga dalam Dipa sudah sangat dahsyat melebihi pendekar tangguh , sehingga aku hanya perlu mengajarkan ilmu silat dan senjata serta tehnik bertarung . kalau memungkinkan mengajarkan ilmu ketatanegaraan, siapa tahu ia mengabdi di sebuah kerajaan di kemudian hari. mulai saat itu anak yang bernama Dipa mulai digembleng ilmu ilmu rahasia Gunung Watukaru, baerlatih siang dan malam, tahan terhadap rasa sakit dan rasa lelah, tiada menghiraukan lapar dan haus, berlatih tanpa henti, tidak menghiraukan panasnya matahari dan teriknya hujan berlatih dan terus berlatih, tiada hari tanpa berlatih.
Ki Soma Kepakisan, tepat sebulan, aku dan Dipa tinggal di pondok terpencil, tiba tiba datanglah seorang pendeta tua dengan seorang muridnya yang masih muda berusia sekitar 20 tahunan. Pendeta ini terluka parah, isi dada dan organ dalam yang lain telah hancur terguncang, pendeta ini bernama Maharsi Gunadewa dan muridnya bernama Soma Kepakisan. Maharsi Gunadewa terluka dalam yang sangat parah setelah terlibat pertarungan dengan saudara seperguruannya memperebutkan buku warisan perguruan yang mana dalam pertarungan itu ia dikalahkan oleh adik seperguruannya dan dengan sisa tenaganya ia berusaha mengajak murid kesayangannya melarikan diri, rencananya ia akan ke Gunung Watukaru di bali Dwipa, agar muridnya mendapatkan pelajaran yang sempurna. aku memperkenalkan diriku sebagai Begawan Hanuraga, pewaris Paiketan Paguron Suling Dewata di gunung Watukaru, mendengar namaku sang Maharsi tersenyum puas, sambil berbicara terpurus purus Sang Maharsi memohon agar menerima muridnya menjadi murid Gunung Watukaru, akupun menyanggupi agar Dipa ada teman berlatih. hasilnya akan jauh lebih baik ketimbang berlatih sendiri. Sang Maharsi Gunadewa tersenyum puas, sambil berkata ”perjalananku tidak sia sia“, iapun meninggal sambil tersenyum puas. Mulai saat itu aku membina dua siswa di tanah Jawa, semuanya sangat berbakat hampir sama bakat dan semangatnya dengan semangatku dimasa muda dulu. aku betul betul puas dengan kemajuan kedua muridku ini, kemajuan yang pesat dalam waktu yang sangat singkat. ternyata kemajuan yang dicapai kedua muridku ini selalu seimbang, Dipa mempunyai tenaga dalam yang sangat kuat karena meminum darah ular naga wilis dan jamur merah ”Ong Brahma“, sedangkan Soma juga sama kuatnya karena pernah memakan mustika perguruannya berupa telur penyu ribuan tahun dan telur rajawali putih ribuan tahun. ditempat terpencil ini tak sia sia penyepianku selama lima tahun di tanah Jawa, dapat dipastikan aku berhasil membina dua ksatria lelananging jagat, setelah dirtempa dengan ilmu kawisesan dan kedigjayaan, dibawah bimbinganku Dipa dan Soma berlatih dengan sungguh sungguh, tiada henti, ditempa teriknya matahari, dibawah guyuran hujan, berlatih dikegelapan malam. Ditempa berbagai ilmu dahsyat Gunung Watukaru, tiga ratus enam puluh gerakan melemaskan tulang, delapan belas macam kuda kuda, delapan belas pukulan, delapan belas tendangan, delapan belas tangkisan, delapan belas ilmu pergeseran kaki, delapan belas ilmu berguling, delapan belas ilmu mengelak, delapan belas ilmu penyatuan tenaga tangan, dan delapan belas ilmu sapuan. selanjutnya aku ajarkan Lima macam ilmu silat dasar yang disebut Ilmu Silat Depok, Ilmu Silat Setembak, Ilmu Silat Kerta Wisesha, Ilmu Silat Panca Sona, Ilmu Silat Tat Twam Asi, setiap silat dasar terdiri dari 36 jurus dasar, dan hanya memerlukan 42 hari Dipa dan Soma berhasil menguasai kelima ilmu dasar tersebut. Sehingga Dipa dan Soma sudah siap menerima ilmu tertinggi dari puncak barat Gunung Watukaru yang berjumlah 72 dari Paiketan Paguron Suling Dewata, Ilmu silat Bhumi dan Langit, ilmu silat delapan penjuru angin, ilmu silat ombak samudra dan seterusnya (di sadur dari majalah Watukaru, edisi 2 dan 3), seperti akhirnya kita ketahui dalam sejarah, bahwa ke dua murid Ki Hanuraga, Dipa/ Gajahmada dan Soma Kepakisan, sangat terkenal dalam dunia persilatan, bahkan Dipa/ Gajahmada akhirnya menjadi Mahapatih pada kerajaan Majapahit yang merupakan kerajaan paling besar di jamannya serta berjasa dalam mempersatukan Nusantara dengan pasukan khususnya yang terkenal dengan nama Gajah Kencana, sementara Soma Kepakisan sangat terkenal di Bali dimana keturunan beliau menjadi raja raja di Bali di bawah kekuasaan Majapahit (taken from here).
Btw, siapakah Gajah Mada?

Gajah Mada ialah Majapahit yang mengantarkan Majapahit ke puncak kejayaannya. Gajah Mada diperkirakan lahir pada tahun 1300 di lereng pegunungan Kawi – Arjuna, daerah yang kini dikenal sebagai kota Malang (Jawa Timur). Sejak kecil, Gajah Mada sudah menunjukkan kepribadian yang baik, kuat dan tangkas. Kecerdasannya telah menarik hati seorang patihMajapahit yang kemudian mengangkatnya menjadi anak didiknya. Beranjak dewasa terus menanjak karirnya hingga menjadi Kepala (bekelBhayangkari (pasukan khusus pengawal raja). Karena berhasil menyelamatkan Prabu Jayanegara (1309-1328) dan mengatasi pemberontakan Ra Kuti, ia kemudian diangkat sebagaiPatih Kahuripan pada 1319. Dua tahun kemudian ia diangkat sebagai Patih Kediri.

Gajah Mada adalah seorang mahapatih kerajaan Majapahit yang didaulat oleh para ahli sejarah Indonesia sebagai seorang pemimpin yang telah berhasil menyatukan nusantara. Sumber-sumber sejarah yang menjadi bukti akan hal ini banyak ditemukan diberbagai tempat. Di antaranya di Trowulan, sebuah kota kecil di Jawa Timur yang dahulu pernah menjadi ibu kota kerajaan Majapahit. Kemudian di Pulau Sumbawa, di mana sebuah salinan kitab Negarakertagama di temukan. Prasasti dan candi adalah peninggalan-peninggalan masa lalu yang menjadi bukti lain pernah jayanya kerajaan Majapahit di bawah pimpinan mahapatih Gajah Mada, dengan rajanya yang berkuasa Sri Rajasanagara (Dyah Hayam Wuruk).
Peristiwa pemberontakan yang paling berdarah pada masa pemerintahan Sri Jayanegara, rajaMajapahit yang kedua. Pemberontakan yang dilakukan oleh Dharmaputra Winehsuka di bawah pimpinan Ra Kuti – rekan Gajah Mada dalam keprajuritan – sampai mampu melengserkan sang prabu Jayanegara dari singgasananya untuk sementara dan mengungsi ke pegunungan kapur utara, sebuah daerah yang diberi nama Bedander.
Ra Kuti, Ra Tanca, Ra Banyak, Ra Wedeng, dan Ra Yuyu pada mulanya adalah prajurit-prajurit yang dianggap berjasa kepada negara. Oleh karenanya sang prabu Jayanegara memberikan gelar kehormatan berupa Dharmaputra Winehsuka kepada kelima prajurit tersebut. Entah oleh sebab apa, mereka, dipimpin oleh Ra Kuti melakukan makar mengajak pimpinan pasukanJala Rananggana untuk melakukan pemberontakan terhadap istana. Pada waktu ituMajapahit memiliki tiga kesatuan pasukan setingkat divisi yang dinamakan Jala YudhaJala Pati, dan Jala Rananggana. Masing-masing kesatuan dipimpin oleh perwira yang berpangkatTumenggung.
Gajah Mada, pada waktu itu masih menjadi seorang prajurit berpangkat Bekel. Pangkat bekel dalam keprajuritan pada saat itu setingkat lebih tinggi dari lurah prajurit, namun masih setingkat lebih rendah dari Senopati. Pangkat di atas Senopati adalah Tumenggung, yang merupakan pangkat tertinggi.

Gajah Mada membawahi satu kesatuan pasukan setingkat kompi yang bertugas menjaga keamanan istana. Nama pasukan ini adalah Bhayangkari. Jumlahnya tidak lebih dari 100 orang, namun pasukan Bhayangkari ini adalah pasukan khusus yang memiliki kemampuan di atas rata-rata prajurit dari kesatuan mana pun.

Informasi tentang adanya pemberontakan tersebut diperoleh dari seseorang yang memberitahu Gajah Mada akan adanya bahaya yang akan datang menyerang istana pada pagi hari. Tidak dijelaskan siapa dan atas motif apa seseorang tersebut memberikan informasi tersebut kepada Gajah Mada. Satu hal yang cukup jelas bahwa orang tersebut mengetahui rencana makar dan kapan waktu dilakukan makar tersebut menandakan bahwa informan tersebut memiliki hubungan yang cukup dekat dengan pihak pemberontak.
Mendapatkan informasi tersebut Gajah Mada segera melakukan koordinasi dengan segenap jajaran telik sandi yang dimiliki pasukan Bhayangkari, tidak ketinggalan terhadap telik sandi pasukan kepatihan. Saat itu mahapatih masih dijabat oleh Arya Tadah, yang memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Gajah Mada.

Gajah Mada juga melakukan langkah koordinasi kekuatan terhadap tiga kesatuan pasukan utama Majapahit dengan cara menghubungi masing-masing pimpinannya. Tidak mudah bagi seorang bekel untuk bisa melakukan hal ini karena ia harus bisa menemui para Tumenggung yang berpangkat dua tingkat di atasnya. Namun, Arya Tadah yang tanggap akan adanya bahaya, telah membekali Gajah Mada dengan lencana kepatihan, sebuah tanda bahwa Gajah Mada mewakili dirinya dalam melaksanakan tugas tersebut.

Dua dari tiga pimpinan pasukan berhasil dihubungi. Namun keduanya menyatakan sikap yang berlainan. Pasukan Jala Yudha bersikap mendukung istana, sedangkan pasukan Jala Pati memilih bersikap netral. Pimpinan pasukan Jala Rananggana tidak berhasil ditemui karena pada saat itu kesatuan pasukan tersebut telah mempersiapkan diri di suatu tempat yang cukup jauh dari istana untuk mengadakan serangan dadakan keesokan harinya. Yang selanjutnya terjadi adalah perang besar yang melibatkan ketiga kesatuan utama pasukan Majapahit. Akhirnya peperangan tersebut dimenangkan oleh pihak pemberontak, dan memaksa sang Prabu Jayanegara mengungsi ke luar istana dilindungi oleh segenap kekuatan pasukan Bhayangkari.
Namun, tidak seluruh anggota pasukan Bhayangkari yang memihak raja. Hal ini tentu menyulitkan tindakan penyelamatan sang prabu karena setiap saat di mana saja, musuh dalam selimut bisa bertindak mencelakai sang prabu. Hal ini yang mendorong Gajah Mada melakukan tindakan penyelamatan yang rumit sampai membawa sang prabu ke Bedander, sebuah daerah di pegunungan kapur utara.
Dengan kecerdikannya, memanfaatkan kekuatan dan jaringan yang dimiliki, akhirnya Gajah Mada berhasil mengembalikan sang prabu ke istana. Prabu Sri Jayanegara memang selamat dari kejaran Ra Kuti dan pengikut-pengikutnya. Namun, sembilan tahun kemudian, salah seorang Dharmaputra Winehsuka yang telah diampuni dari kesalahan akibat terlibat dalam pemberontakan tersebut, melakukan tindakan yang sama sekali tidak terduga: yaitu membunuh sang prabu saat diminta untuk mengobati bisul sang prabhu. Dia adalah Ra Tanca, yang akhirnya langsung dibunuh oleh Gajah Mada (taken from here).

Pada tahun 1329, Patih Majapahit pada waktu itu Arya Tadah (Mpu Krewes) ingin mengundurkan diri dari jabatannya. Ia menunjuk Gajah Mada yang pada waktu itu menjabat Patih Kadiri sebagai penggantinya, namun Gajah Mada sendiri tidak langsung menyetujuinya. Ia ingin membuat jasa terhadap Majapahit terlebih dahulu, dengan jalan menundukkan Sadeng dan Keta yang saat itu sedang memberontak terhadap Majapahit. Alkisah, Sadeng dan Keta akhirnya tunduk di bawah kaki Majapahit, dan Gajah Mada pun resmi diangkat sebagai Mahapatih Majapahit oleh Tribhuwanottunggadewi pada tahun 1334.
Pada acara pelantikannya, dengan menghunus keris pusakanya (Surya Panuluh, yang sebelumnya adalah milik Kertarajasa Jayawardhana), Gajah Mada pun mengangkat Sumpah bakti terhadap Majapahit yang terkenal dengan Sumpah Amukti Palapa  yang pada dasarnya adalah pernyataan program politik Gajah Mada untuk mempersatukan Nusantara di bawah telapak kaki Majapahit.
Sumpah Palapa ini sangat menggemparkan para undangan yang hadir saat pelantikan Gajah Mada tersebut. Adalah Ra Kembar yang mengejek Gajah Mada, Jabung Trewes dan Lembu Peteng tertawa terpingkal-pingkal mendengar sumpah tersebut. Gajah Mada merasa terhina oleh mereka, karena sumpah tersebut diucapkannya dengan kesungguhan hatinya. Maka ia pun turun dari mimbar (paseban), menghadap kaki Ratu dan menyatakan kesedihannya atas penghinaan tersebut. Akhirnya setelah Gajah Mada resmi diangkat menjadi Mahapatih Majapahit, iapun kemudian satu-persatu menyingkirkan Ra Kembar, sekaligus membalaskan dendamnya karema Ra Kembar telah mendahuluinya menyerbu Sadeng. Berikutnya Jabung Trewes dan Lembu Peteng, serta Warak ikut pula disingkirkannya.
Program politik Gajah Mada ini berbeda dengan program politik pendahulunya yaitu Kertarajasa dan Jayanegara. Kedua raja terdahulu ini memilih Mahapatih Majapahit dari orang-orang terdekat di sekitarnya, yang dianggap telah berjasa kepadanya, akibatnya pada masa pemerintahan kedua raja terdahulu itu, mereka hanya sibuk memadamkan pemberontakan-pemberontakan terhadap Majapahit, tanpa dapat memperhatikan atau menjalankan perluasan wilayah kerajaan Majapahit.
Politik penyatuan Nusantara ini dibuktikan dengan sungguh-sungguh oleh Gajah Mada dengan memperkuat armada dan pasukan Majapahit serta dibantu oleh Adityawarman, melaksanakan politik ekspansi dan perluasan wilayah kekuasaan Majapahit sampai ke tanah seberang. Atas jasa-jasanya tersebut, Adityawarman kemudian diangkat menjadi raja di tanah Melayu pada tahun 1347, untuk menanamkan pengaruh atau kekuasaan Majapahit di wilayah Sumatera sampai ke Semenanjung Tanah Melayu.
Daerah-daerah yang berhasil dikuasai oleh Majapahit di bawah perjuangan Gajah Mada pada waktu itu adalah : Bedahulu (Bali) dan Lombok pada tahun 1343, Palembang, Swarnabhumi (Sriwijaya), Tamiang, Samudra Pasai dan negeri-negeri lain di Swarnadwipa (Sumatera), Pulau Bintan, Tumasik (Singapura), Semenanjung Malaya dan sejumlah negeri lain di Kalimantan seperi Kapuas, Katingan, Sampit, Kotalingga (Tanjunglingga), Kotawaringin, Sambas, Lawai, Kandangan, Landak, Samadang, Tirem, Sedu, Brunei (Pu-ni), Kalka, Saludung, Solok, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, Tanjungkutei dan Malano.
Politik penyatuan Nusantara ini berbuah meredanya pertumpahan darah antar kerajaan-kerajaan tersebut yang semula selalu saling mengintai dan berupaya saling menguasai melalui jalan peperangan, yang tentunya menimbulkan banyak korban, terutama rakyat jelata yang tidak tahu apa-apa. Dengan penyatuan di bawah telapak kaki Majapahit (yang ber-semboyan Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa dan Mitreka Satata), terbukti berhasil menekan peperangan sehingga membuat kerajaan-kerajaan bawahan tersebut lebih menaruh perhatian kepada upaya-upaya meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya secara menyeluruh. Selain itu, dengan politik penyatuan Nusantara ini, membuat Majapahit menjadi lebih kuat terutama dalam menghadapi ancaman penjajah asing pada waktu itu (Tartar/Tiongkok), sehingga dapat menggantinya menjadi hubungan kerjasama di bidang budaya dan perdagangan yang menguntungkan kedua belah pihak (taken from here).
Dan kalau menurut Wikipedia:

Gajah Mada (wafat k. 1364) adalah seorang panglima perang dan tokoh yang sangat berpengaruh pada zaman kerajaan Majapahit. Menurut berbagai sumber mitologi, kitab, danprasasti dari zaman Jawa Kuno, ia memulai kariernya tahun 1313, dan semakin menanjak setelah peristiwa pemberontakan Ra Kuti pada masa pemerintahan Sri Jayanagara, yang mengangkatnya sebagai Patih.[1] Ia menjadi Mahapatih (Menteri Besar) pada masa Ratu Tribhuwanatunggadewi, dan kemudian sebagai Amangkubhumi (Perdana Menteri) yang mengantarkan Majapahit ke puncak kejayaannya.[4]

Gajah Mada terkenal dengan sumpahnya, yaitu Sumpah Palapa, yang tercatat di dalam Pararaton.[5] Ia menyatakan tidak akan memakan palapa sebelum berhasil menyatukan Nusantara. Meskipun ia adalah salah satu tokoh sentral saat itu, sangat sedikit catatan-catatan sejarah yang ditemukan mengenai dirinya. Wajah sesungguhnya dari tokoh Gajah Mada, saat ini masih kontroversial.[6] Banyak masyarakat Indonesia masa sekarang yang menganggapnya sebagai pahlawan dan simbol nasionalisme Indonesia[7] dan persatuan Nusantara.[8]

Tidak ada informasi dalam sumber sejarah yang tersedia saat pada awal kehidupannya, kecuali bahwa ia dilahirkan sebagai seorang biasa yang naik dalam awal kariernya menjadi Begelen atau setingkat kepala pasukan Bhayangkara pada Raja Jayanagara (1309-1328) terdapat sumber yang mengatakan bahwa Gajah Mada bernama lahir Mada[9] sedangkan nama Gajah Mada[10] kemungkinan merupakan nama sejak menjabat sebagai patih.[11]

Dalam pupuh Désawarnana atau Nāgarakṛtāgama karya Prapanca yang ditemukan saat penyerangan Istana Tjakranagara di Pulau Lombok pada tahun 1894[12] terdapat informasi bahwa Gajah Mada merupakan patih dari Kerajaan Daha dan kemudian menjadi patih dari Kerajaan Daha dan Kerajaan Janggala yang membuatnya kemudian masuk kedalam strata sosial elitis pada saat itu dan Gajah Mada digambarkan pula sebagai “seorang yang mengesankan, berbicara dengan tajam atau tegas, jujur dan tulus ikhlas serta berpikiran sehat”.[4][13][14]

Menurut Pararaton, Gajah Mada sebagai komandan pasukan khusus Bhayangkara berhasil memadamkan Pemberontakan Ra Kuti, dan menyelamatkan Prabu Jayanagara (1309-1328) putraRaden Wijaya dari Dara Petak. Selanjutnya pada tahun 1319 ia diangkat sebagai Patih Kahuripan, dan dua tahun kemudian ia diangkat sebagai Patih Kediri.

Pada tahun 1329, Patih Majapahit yakni Arya Tadah (Mpu Krewes) ingin mengundurkan diri dari jabatannya. Dan menunjuk Patih Gajah Mada dari Kediri sebagai penggantinya. Patih Gajah Mada sendiri tak langsung menyetujui, tetapi ia ingin membuat jasa dahulu pada Majapahit dengan menaklukkan Keta dan Sadeng yang saat itu sedang memberontak terhadap Majapahit. Keta dan Sadeng pun akhirnya dapat ditaklukan. Akhirnya, pada tahun 1334, Gajah Mada diangkat menjadi Mahapatih secara resmi oleh Ratu Tribhuwanatunggadewi(1328-1351) yang waktu itu telah memerintah Majapahit setelah terbunuhnya Jayanagara.

Ketika pengangkatannya sebagai patih Amangkubhumi pada tahun 1258 Saka (1336 M) Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa yang berisi bahwa ia akan menikmati palapa atau rempah-rempah (yang diartikan kenikmatan duniawi) bila telah berhasil menaklukkan Nusantara. Sebagaimana tercatat dalam kitab Pararaton dalam teks Jawa Pertengahan yang berbunyi sebagai berikut:

Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tañjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompu, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa

Bila dialih-bahasakan mempunyai arti[15] :

Ia, Gajah Mada sebagai patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa, Gajah Mada berkata bahwa bila telah mengalahkan (menguasai) Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa, bila telah mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa.

Walaupun ada sejumlah pendapat yang meragukan sumpahnya, Gajah Mada memang hampir berhasil menaklukkan Nusantara. Dimulai dengan penaklukan ke daerah Swarnnabhumi(Sumatera) tahun 1339, pulau Bintan, Tumasik (sekarang Singapura), Semenanjung Malaya, kemudian pada tahun 1343 bersama dengan Arya Damar menaklukan Bedahulu (di Bali) dan kemudian penaklukan Lombok, dan sejumlah negeri di Kalimantan seperti Kapuas, Katingan, Sampit, Kotalingga (Tanjunglingga), Kotawaringin, Sambas, Lawai, Kendawangan, Landak, Samadang, Tirem, Sedu, Brunei, Kalka, Saludung, Sulu, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, Tanjungkutei dan Malano.

Pada zaman pemerintahan Prabu Hayam Wuruk (1350-1389) yang menggantikan Tribhuwanatunggadewi, Gajah Mada terus melakukan penaklukan ke wilayah timur seperti Logajah,Gurun, Sukun, Taliwung, Sapi, Gunungapi, Seram, Hutankadali, Sasak, Bantayan, Luwu, Buton, Banggai, Kunir, Galiyan, Salayar, Sumba, Muar (Saparua), Solor, Bima, Wandan (Banda), Ambon, Wanin, Seran, Timor, dan Dompo.

Terdapat dua wilayah di Pulau Jawa yang terbebas dari invasi Majapahit yakni Pulau Madura dan Kerajaan Sunda karena kedua wilayah ini mempunyai keterkaitan erat dengan Narrya Sanggramawijaya atau secara umum disebut dengan Raden Wijaya pendiri Kerajaan Majapahit (Lihat: Prasasti Kudadu 1294 [16] dan Pararaton Lempengan VIII, Lempengan X s.d. Lempengan XII [17] dan Invasi Yuan-Mongol ke Jawa pada tahun 1293) sebagaimana diriwayatkan pula dalam Kidung Panji Wijayakrama.

Dalam Kidung Sunda[18] diceritakan bahwa Perang Bubat (1357) bermula saat Prabu Hayam Wuruk mulai melakukan langkah-langkah diplomasi dengan hendak menikahi Dyah Pitaloka Citraresmi putri Sunda sebagai permaisuri. Lamaran Prabu Hayam Wuruk diterima pihak Kerajaan Sunda, dan rombongan besar Kerajaan Sunda datang ke Majapahit untuk melangsungkan pernikahan agung itu. Gajah Mada yang menginginkan Sunda takluk, memaksa menginginkan Dyah Pitaloka sebagai persembahan pengakuan kekuasaan Majapahit. Akibat penolakan pihak Sunda mengenai hal ini, terjadilah pertempuran tidak seimbang antara pasukan Majapahit dan rombongan Sunda di Bubat; yang saat itu menjadi tempat penginapan rombongan Sunda. Dyah Pitaloka bunuh diri setelah ayah dan seluruh rombongannya gugur dalam pertempuran. Akibat peristiwa itu langkah-langkah diplomasi Hayam Wuruk gagal dan Gajah Mada dinonaktifkan dari jabatannya karena dipandang lebih menginginkan pencapaiannya dengan jalan melakukan invasi militer padahal hal ini tidak boleh dilakukan.

Dalam Nagarakretagama diceritakan hal yang sedikit berbeda. Dikatakan bahwa Hayam Wuruk sangat menghargai Gajah Mada sebagai Mahamantri Agung yang wira, bijaksana, serta setia berbakti kepada negara. Sang raja menganugerahkan dukuh “Madakaripura” yang berpemandangan indah di Tongas, Probolinggo, kepada Gajah Mada. Terdapat pendapat yang menyatakan bahwa pada 1359, Gajah Mada diangkat kembali sebagai patih; hanya saja ia memerintah dari Madakaripura.[19]

Disebutkan dalam Kakawin Nagarakretagama bahwa sekembalinya Hayam Wuruk dari upacara keagamaan di Simping, ia menjumpai bahwa Gajah Mada telah sakit. Gajah Mada disebutkan meninggal dunia pada tahun 1286 Saka atau 1364 Masehi.

Raja Hayam Wuruk kehilangan orang yang sangat diandalkan dalam memerintah kerajaan. Raja Hayam Wuruk pun mengadakan sidang Dewan Sapta Prabu untuk memutuskan pengganti Gajah Mada. Namun tidak ada satu pun yang sanggup menggantikan Patih Gajah Mada. Hayam Wuruk kemudian memilih empat Mahamantri Agung dibawah pimpinan Punala Tanding untuk selanjutnya membantunya dalam menyelenggarakan segala urusan negara. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Mereka pun digantikan oleh dua orang mentri yaitu Gajah Enggon dan Gajah Manguri. Akhirnya Hayam Wuruk memutuskan untuk mengangkat Gajah Enggon sebagai Patih Mangkubumi menggantikan posisi Gajah Mada.

Lukisan kontemporer Gajah Mada karya I Nyoman Astika.

Sebagai salah seorang tokoh utama Majapahit, nama Gajah Mada sangat terkenal di masyarakat Indonesia pada umumnya. Pada masa awal kemerdekaan, para pemimpin antara lain Sukarno dan Mohammad Yamin sering menyebut sumpah Gajah Mada sebagai inspirasi dan “bukti” bahwa bangsa ini dapat bersatu, meskipun meliputi wilayah yang luas dan budaya yang berbeda-beda. Dengan demikian, Gajah Mada adalah inspirasi bagi revolusi nasional Indonesia untuk usaha kemerdekaannya dari kolonialisme Belanda.

Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta adalah universitas negeri yang dinamakan menurut namanya. Satelit telekomunikasi Indonesia yang pertama dinamakan Satelit Palapa, yang menonjolkan perannya sebagai pemersatu telekomunikasi rakyat Indonesia. Banyak kota di Indonesia memiliki jalan yang bernama Gajah Mada, namun menarik diperhatikan bahwa tidak demikian halnya dengan kota-kota di Jawa Barat.

Buku-buku fiksi kesejarahan dan sandiwara radio sampai sekarang masih sering menceritakan Gajah Mada dan perjuangannya memperluas kekuasaan Majapahit di nusantara dengan Sumpah Palapanya, demikian pula dengan karya seni patung, lukisan, dan lain-lainnya (taken from here).

4 Pataka Majapahit

Kali ini soal 4 Pataka Majapahit!
Aku sudah tahu soal 4 Pataka ini dan mempunyai pemikiran yang sama dengan penulis blog yang isinya aku kutip ini. Kok bisa, mereka di Amerika Serikat?
Dan selain karena 4 Pataka ini, juga beberapa arca Indonesia (dan Asia) yang pernah aku lihat dari foto di FB Putu Sutawijaya beberapa tahun yang lalu, aku yang anti Amerika menjadi punya rencana untuk terbang jauh ke New York yang nun jauh disono untuk mendatangi The Metropolitan Museum of Art, fufufu.

Yeah, semoga segera terkabul! Amen, amennn..
Berikut ini akan sedikit kami uraikan tentang Pataka peninggalan Kerajaan Majapahit yang seharusnya tetap ada di negara kita sendiri.
PATAKA SANG DWIJA NAGA NARESWARA
Info Majapahit
Pataka Sang Dwija Naga Nareswara dari Kerajaan Majapahit ini berbentuk Tombak Pataka Nagari sebagai perwujudan dari Naga Kembar penjaga Tirta Amertha, terbuat dari bahan tembaga. Tombak  Pataka ini di buat di era Kerajaan SINGHASARI (abad 12 – 13 Masehi), dan diwarisi oleh Kerajaan MAJAPAHIT (Wilwatikta). Merupakan satu-satunya tombak pataka Singhasari yang mampu diselamatkan oleh SANGRAMA WIJAYA pada saat keruntuhan Kerajaan Singhasari akibat serbuan Kerajaan Gelang-gelang. Pataka lainnya berhasil dikuasai dan diboyong oleh Raja Jayakatwang ke Kerajaan Gelang-gelang.
Pada Tombak Pataka ini lah pertama kali di pasang bendera Kerajaan Wilwatikta (Majapahit) ketika di proklamirkan di hutan Tarikh (setelah penyerbuan pasukan Tartar dan pasukan SANGRAMA WIJAYA atas Kerajaan Gelang-gelang). Bendera tersebut bernama : Gula – Kelapa (Merah – Putih), yang sekarang kita warisi menjadi Bendera Sang Saka Merah Putih.

Tombak Pataka ini sekarang berada di :

THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART
1000 5th Avenue, New York, NY – USA

Dengan data museum sebagai berikut :

Halberd Head with Nagas and Blades
Period: Eastern Javanese period, Singasari kingdom
Date: ca. second half of the 13th century
Culture: Indonesia (Java)
Medium: Copper Alloy
Dimensions: H.17 1/4 in. (43.8 cm); W. 9 3/4 in. ( 24.8 cm)
Classification: Metalwork
Credit Line: Samuel Eilenberg Collection, Bequest of Samuel Eilenberg, 1998
Accession Number: 2000.284.29a, b
This artwork is currently on display in Gallery 247

Hal ini cukup mengherankan saya, sebab Amerika Serikat tidak mempunyai benang merah sejarah dengan bangsa Indonesia. Mungkin artefak ini diambil oleh pemerintah kolonial Belanda dan dikirim ke Eropa, baru kemudian berpindah tangan ke Amerika Serikat (???).

Tombak Sang Dwija Naga Nareswara ini sepertinya pernah di singgung dalam prasasti tahun 1305 AD bagian II  yang menjelaskan nama abhiseka Kertarajasa Jayawardhana (Bhre Wijaya / pendiri kerajaan Majapahit). Dikatakan bahwa nama beliau terdiri dari 10 suku yang dapat dipecah menjadi empat kata yakni kerta, rajasa, jaya dan wardhana. Unsur kerta mengandung arti bahwa baginda memperbaiki pulau Jawa dari kekacauan yang ditimbulkan oleh penjahat-penjahat dan menciptakan kesejahteraan bagi rakyat. Unsur rajasa mengandung arti bahwa baginda berjaya mengubah suasana gelap menjadi suasana terang-benderang akibat kemenangan beliau terhadap musuh-musuhnya. Unsur jaya mengandung arti bahwa baginda memiliki lambang kemenangan berupa senjata tombak berujung mata tiga (trisula muka) dan karena senjata tersebut segenap musuh hancur lebur. Unsur wardhana mengandung arti bahwa baginda menghidupkan segala agama, melipat gandakan hasil bumi, terutama padi demi kesejahteraan rakyatnya.

PATAKA SANG HYANG BARUNA

Info Majapahit

Pataka Kerajaan Majapahit ini bernama Sang Hyang Baruna berupa sebuah tombak (Tombak Pataka Nagari) dengan dua mata tombak kembar di atas kepala dan ekor naga, pataka ini terbuat dari bahan tembaga. Tombak Pataka ini di buat pada jaman Kerajaan SINGHASARI (abad 12 – 13 Masehi), dan diwarisi oleh Kerajaan MAJAPAHIT (Wilwatikta). Pataka ini biasa dipasang di atas kapal yang memimpin sebuah rombongan ekspedisi, untuk menandai adanya seseorang diatas kapal tersebut yang bertindak mewakili Raja atau Negara. Bendera atau panji-panji yang dipasang bernama : “Getih – Getah Samudra” (lima garis merah dan empat garis putih), sebagai bendera armada militer SINGHASARI / MAJAPAHIT. Sampai saat ini bendera ini tetap dipakai oleh TNI-AL dalam kapal-kapal perangnya di perairan internasional, dengan nama panji-panji: “Ular-ular Tempur”.

Pataka ini pertama kali di bawa oleh pasukan ekspedisi PAMALAYU dan diserahkan kembali kepada Kerajaan Majapahit sebagai penerus dari Kerajaan Singhasari. Pataka ini telah berkiprah pada “Ekspedisi PAMALAYU (Singhasari)”, “Ekspedisi Duta Besar ADITYAWARMAN ke China (Majapahit)” hal ini dilakukan dua kali, “Ekspedisi NUSANTARA oleh GAJAHMADA (Majapahit)”. Dan tetap eksis hingga saat ini, dilanjutkan oleh TNI-AL sebagai kekuatan maritim Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Tombak Pataka (Sang Hyang Baruna) ini sekarang berada di :
THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART
1000 5th Avenue, New York, NY – USA

Dengan data museum sebagai berikut :
Halberd Head with Naga and Blades
Period: Eastern Javanese period, Singasari kingdom
Date: ca. second half of the 13th century
Culture: Indonesia (Java)
Medium: Copper alloy
Dimensions: H.17 1/2 in. (44.4 cm); Gr. W. 8 1/4 in. (21 cm)
Classification: Metalwork
Credit Line: Samuel Eilenberg Collection, Gift of Samuel Eilenberg, 1996
Accession Number: 1996.468a, b
This artwork is currently on display in Gallery 247

Satu hal yang amat mengganjal di hati (sebagai masyarakat pewaris Majapahit) adalah : Mengapa Pataka Majapahit ini sampai bisa berada di Amerika Serikat yang nota bene tidak memiliki hubungan kesejarahan dengan bangsa kita ?

Bendera Getih – Getah – Samudra

SANG PELOPOR DAN PENERUS PATAKA “SANG HYANG BARUNA”

Dalam menjalankan politik NUSANTARA (penyatuan seluruh kepulauan nusantara di bawah panji-panji Kerajaan Majapahit), terdapat 3 nama besar yang cukup disegani dalam pelaksanaannya.

Yang pertama adalah: ADITYAWARMAN (dengan pangkat tertingi Wredhamantri), adalah keluarga raja yang meniti kariernya di dunia militer sebagai penerus ayahandanya (keluarga Raja Singhasari) MAHESA ANABRANG yang bergelar ADWAYABRAHMA. Kedua-duanya dikenal tangguh di medan pertempuran, jago strategi dan ulet menjalankan misi diplomatik (MAHESA ANABRANG adalah pimpinan misi diplomatik ekspedisi PAMALAYU Singhasari ke Kerajaan DHARMASRAYA, jejak ini diikuti putranya: ADITYAWARMAN yang melakukan “mission imposible” dengan melakukan kunjungan diplomatik ke Kaisaran China. Padahal baru 2 dekade pasukan Tartar ini digempur dalam pertempuran tanah Jawa oleh Bhre WIJAYA, dan mereka sedang mempersiapkan gempuran balasan). KehandalanADITYAWARMAN sebagai duta-lah yang bisa menetralisir keadaan dan bahkan menemukan kesepahaman dalam hubungan diplomatik antar negara. Baik ayah dan anak ini ketika melakukan tugasnya : membawa Tombak Pataka SANG HYANG BARUNA.

Yang kedua dan ketiga adalah dua serangkai: Panglima Laut Rakarian Tumenggung MPU NALA dan Mahapatih Amangkubhumi MPU MADA. Keduanya secara bahu-membahu menjalankan tugas penyatuan Nusantara dengan konsisten dibidangnya masing-masing. MPU NALA adalah generasi kedua panglima armada laut Kerajaan Majapahit, ayahandanya dikenal sebagai panglima laut yang memimpin rombongan pertama ekspedisi Pamalayu Singhasari menuju Kerajaan Tumasik (Singapura) di selat Malaka. Maka penunjukannya sebagai Panglima Laut di era pemerintahan Rani TRIBHUWANA TUNGGADEWI ini bersifat mutlak, mengingat banyak pelaut-pelaut yang dahulu mengabdi kepada ayahandanya telah bersumpah setia mendukung kepemimpinannya mengarungi samudra. Dikenal jago pertempuran laut dan pandai menyatukan pasukan laut yang berasal dari beberapa negara bawahan.

Mahapatih Amangkubhumi MPU MADA adalah tokoh kunci dari politik penyatuan Nusantara lewat SUMPAH PALAPA-nya. Seorang militer tulen yang memulai karirnya dari bawah sebagai bekel bhayangkara dan dikenal cerdas mempelajari ilmu pemerintahan. Pemikirannya banyak dipengaruhi oleh politik NUSANTARA Kerajaan Singhasari Raja SRI KERTANEGARA dan hal ini cocok dengan pemikiran Rani Majapahit (TRIBHUWANA TUNGGADEWI yang juga cucu dari SRI KERTANEGARA) yang mendapat pemahaman serupa dari ibundanya : DYAH AYU GAYATRI.

Keteguhan hati sang MPU MADA dalam mencapai cita-citanya diujinya sendiri dalam berbagai medan pertempuran pada separuh masa kehidupannya. Kemampuannya yang ulet, luwes sekaligus tegas dan tangguh telah mewariskan kepada kita wilayah Negara INDONESIA Raya yang luas ini.

Dalam menjalankan ekspedisinya, kapal panglimanya selalu membawa Tombak Pataka Sang Hyang BARUNA dan mengibarkan panji-panji kebesaran Majapahit (Getih – Getah – Samudra).

Rupanya perjalanan sejarah tersebut diabadikan secara konsisten oleh TNI-AL sebagai kekuatan maritim INDONESIA. Panji-panji Maritim Majapahit tetap dipakai hingga saat ini, bahkan GAJAHMADA dibuatkan monumennya di Markas Komando TNI-AL Surabaya. Keduanya baik MPU NALA maupun  MPU MADA, namanya diabadikan sebagai nama kapal perang : KRI. NALA dan KRI. GAJAHMADA.

PATAKA SANG PADMANABA WIRANAGARI Tombak Pataka Nagari kerajaan Majapahit yang ketiga terbuat dari bahan tembaga bernama Sang Padmanaba Wiranagari (Teratai Kemuliaan Pembela Negeri).

Info Majapahit
Tombak Pataka ini di buat di era Kerajaan SINGHASARI (abad 12 – 13 Masehi), dan diwarisi oleh Kerajaan WILWATIKTA (MAJAPAHIT). Adalah Pataka yang direbut kembali oleh para senopati Singhasari eks ekspedisi PAMALAYU di Kerajaan Jayakatwang Kediri. Pasukan ini merasa terluka hatinya dikarenakan kerajaan Singhasari diruntuhkan Jayakatwang ketika mereka tidak berada di tempat, sehingga tidak bisa membela negara. Ketika mereka pamit melakukan tindakan perebutan kembali pataka-pataka Singhasari sebagai wujud pengembalian kehormatan Singhasari kepada SANGRAMA WIJAYA sempat tidak diijinkan. Karena SANGRAMA WIJAYA masih trauma akan perang saudara yang baru saja dijalaninya (Raja JAYAKATWANG adalah sepupu SRI KERTANEGARA yang sekaligus besannya, dan masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan SANGRAMA WIJAYA melalui kakeknya NARASINGAMURTI).
Kemudian para senopati ini nekat berangkat setelah berpamitan kepada Prameswari TRIBHUWANESWARI (yang juga putra pertama SRI KERTANEGARA dan istri SANGRAMA WIJAYA). TRIBHUNARESWARI tidak menjawab YA atau TIDAK, hanya bersabda : PENUHI DHARMAMU SEBAGAI KSATRYA. Dan ini yang menjadi legitimasi bagi para senopati ekspedisi PAMALAYU merebut kembali panji pataka peninggalan Singhasari yang ada di Daha.
Mereka akhirnya berhasil membawa pulang 5 (lima) panji Pataka Singhasari dan meneguhkan sikap para kerabat di wilayah Daha (yang masih bingung harus bersikap mengabdi kepada siapa), bahwa Majapahit adalah penerus Singhasari yang sah dan penerus Rajasawangsa.
Pada Tombak Pataka ini lah pertama kali di pasang Lambang Kerajaan Wilwatikta (Majapahit). Ada 4 (empat) kali perubahan lambang negara Majapahit yang pernah ditambatkan pada Pataka ini.
Pada foto diatas adalah lambang kedua yang dipakai pada masa pemerintahan Rani TRIBHUWANA TUNGGADEWI dan Raja SRI RAJASANAGARA DYAH HAYAM WURUK, dimana Majapahit mengalami masa keemasannya. Mengenai keempat Lambang Negara Majapahit dapat anda lihat pada catatan yang lain. Semua Lambang Kerajaan (keempat-empatnya) bernama: SURYA WILWATIKTA. Banyak yang menyebutnya juga sebagai SURYA MAJAPAHIT.

Tombak Pataka ini sekarang berada di :
THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART
1000 5th Avenue, New York, NY – USA

Dengan data museum sebagai berikut :
Top of a ScepterPeriod: Eastern Javanese period, Singasari kingdom
Date: ca. second half of the 13th century
Culture: Indonesia (Java)
Medium: Copper alloy
Dimensions: H. 16 1/16 in. (40.8 cm)
Classification: Metalwork
Credit Line: Samuel Eilenberg Collection, Gift of Samuel Eilenberg, 1987
Accession Number: 1987.142.184
This artwork is currently on display in Gallery 247

Hal ini cukup mengherankan saya, apa hubungan Amerika Serikat dengan sejarah bangsa Indonesia. Mungkin artefak ini diambil oleh pemerintah kolonial Belanda dan dikirim ke Eropa, baru kemudian berpindah tangan ke Amerika Serikat (???).
SANG HYANG NAGA AMAWABHUMI

Pataka Kerajaan Majapahit ke 4 berbentuk tombak naga berbahan tembaga yang dikenal dengan sebutan Sang Hyang Naga Amawabhumi yang artinya Naga Penjaga Keadilan.

SUSUNAN PENGADILAN
Info Majapahit
Semua keputusan dalam pengadilan di ambil atas nama Raja yang disebut Sang Amawabhumi yang artinya : orang yang mempunyai atau menguasai negara. Dalam Mukadimah Kutara Manawa (Undang-Undang jaman Majapahit) ditegaskan demikian : Semoga Sang Amawabhumi teguh hatinya dalam menetapkan besar kecilnya denda, jangan sampai salah. Jangan sampai orang yang bertingkah salah, luput dari tindakan. Itulah kewajiban Sang Amawabhumi, jika beliau mengharapkan kerahayuan negaranya.
Dalam soal pengadilan Raja dibantu oleh dua orangdharmadhyaksa, yaitu Dharmadhyaksa Kasaiwan (kepala agama Siwa) dan Dharmadhyaksa Kasogatan (kepala agama Budha) dengan sebutan Dang Acarya. Karena kedua agama tersebut merupakan agama utama dalam Kerajaan Majapahit, maka segala perundang-undangan didasarkan kepada kedua agama tersebut.
Kedudukan Dharmadhyaksa dapat disamakan dengan Hakim Tinggi, mereka itu dibantu oleh lima orang upapatti yang artinya pembantu dharmadhyaksa. Mereka tersebut dalam beberapa piagam atau prasasti biasa disebut dengan sang pamegat atau disingkat samgat artinya sang pemutus alias hakim. Baik Dharmadhyaksa maupun Upapatti bergelar Dang Acarya. Pada mulanya terdapat lima Sang Pamegat yaitu Sang Pamegat TirwanSang Pamegat KandamuhiSang Pamegat ManghuriSang Pamegat Jambi dan Sang Pamegat Pamotan, kelimanya termasuk golongan Kasaiwan.
Pada masa pemerintahan Dyah Hayamwuruk, ditambah dengan dua orang upapatti dari golongan Kasogatan yaitu Sang Pamegat Kandangan Tuha dan Sang Pamegat Kandangan Rare, sehingga keseluruhan pejabat pengadilan ada dua orang dharmadhyaksa dan tujuh orang upapatti.

Demikian uraian kami tentang empat pataka Kerajaan Majapahit (taken from here).

Wew *nahan nafas dari tadi*.
Bayangin, Tombak Pataka Nagari misalnya. Itu adalah benda yang pernah dipakai untuk mengibarkan bendera Majapahit! Asli. Berarti benda itu pernah dilihat, bahkan dipegang oleh para tokoh yang selama ini hanya kita baca kisahnya dari buku dan internet (Gajah Mada, Tribuana Tunggadewi, Hayamwuruk, dll).
Wuish, kurang keren gimana coba?

Prasasti Era Majapahit

Baru saja aku nemu tulisan menarik mengenai prasasti era Mojopahit! Jadi aku copy kesini, lah *nyengirkuda*.

Prasasti adalah bukti sumber tertulis yang sangat penting dari masa lalu yang isinya antara lain mengenai kehidupan masyarakat misalnya tentang administrasi dan birokrasi pemerintahan, kehidupan ekonomi, pelaksanaan hukum dan keadilan, sistem pembagian bekerja, perdagangan, agama, kesenian, maupun adat istiadat (Noerhadi 1977: 22).

Seperti juga isi prasasti pada umumnya, prasasti dari masa Majapahit lebih banyak berisi tentang ketentuan suatu daerah menjadi daerah perdikan atau sima. Meskipun demikian, banak hal yang menarik untuk diungkapkan di sini, antara lain, yaitu:

Prasasti Kudadu (1294 M)

Mengenai pengalaman Raden Wijaya sebelum menjadi Raja Majapahit yang telah ditolong oleh Rama Kudadu dari kejaran balatentara Yayakatwang setelah Raden Wijaya menjadi raja dan bergelar Krtajaya Jayawardhana Anantawikramottunggadewa, penduduk desa Kudadu dan Kepaa desanya (Rama) diberi hadiah tanah sima.

Prasasti Sukamerta (1296 M) dan Prasasti Balawi (1305 M)
Mengenai Raden Wijaya yang telah memperisteri keempat putri Kertanegara yaitu Sri Paduka Parameswari Dyah Sri Tribhuwaneswari, Sri Paduka Mahadewi Dyah Dewi Narendraduhita, Sri Paduka Jayendradewi Dyah Dewi Prajnaparamita, dan Sri Paduka Rajapadmi Dyah Dewi Gayatri, serta menyebutkan anaknya dari permaisuri bernama Sri Jayanegara yang dijadikan raja muda di Daha.

Prasasti Wingun Pitu (1447 M)
Mengungkapkan bentuk pemerintahan dan sistem birokrasi Kerajaan Majapahit yang terdiri dari 14 kerajaan bawahan yang dipimpin oleh seseorang yang bergelar Bhre, yaitu Bhre Daha, Kahuripan, Pajang, Werngker, Wirabumi, Matahun, Tumapel, Jagaraga, Tanjungpura, Kembang Jenar, Kabalan, Singhapura, Keling, dan Kelinggapura.

Prasasti Canggu (1358 M)
Mengenai pengaturan tempat-tempat penyeberangan di Bengawan Solo.
Prasasti Biluluk (1366 M0, Biluluk II (1393 M), Biluluk III (1395 M).
Menyebutkan tentang pengaturan sumber air asin untuk keperluan pembuatan garam dan ketentuan pajaknya.

Prasasti Karang Bogem (1387 M)
Menyebutkan tentang pembukaan daerah perikanan di Karang Bogem.
Prasasti Marahi Manuk (tt) dan Prasasti Parung (tt)
Mengenai sengketa tanah. Persengketaan ini diputuskan oleh pejabat kehakiman yang menguasai kitab-kitab hukum adata setempat.

Prasasti Katiden I (1392 M)
Menyebutkan tentang pembebasan daerah bagi penduduk desa Katiden yang meliputi 11 wilayah desa. Pembebasan pajak ini karena mereka mempunyai tugas berat, yaitu menjaga dan memelihara hutan alang-alang di daerah Gunung Lejar.

Prasasti Alasantan (939 M)
Menyebutkan bahwa pada tanggal 6 September 939 M, Sri Maharaja Rakai Halu Dyah Sindok Sri Isanawikrama memerintahkan agar tanah di Alasantan dijadikan sima milik Rakryan Kabayan.

Prasasti Kamban (941 M)
Meyebutkan bahwa apada tanggal 19 Maret 941 M, Sri Maharaja Rake Hino Sri Isanawikrama Dyah Matanggadewa meresmikan desa Kamban menjadi daerah perdikan.

Prasasti Hara-hara (Trowulan VI) (966 M).
Menyebutkan bahwa pada tanggal 12 Agustus 966 M, mpu Mano menyerahkan tanah yang menjadi haknya secara turun temurun kepada Mpungku Susuk Pager dan Mpungku Nairanjana untuk dipergunakan membiayai sebuah rumah doa (Kuti).

Prasasti Wurare (1289 M)
Menyebutkan bahwa pada tanggal 21 September 1289 Sri Jnamasiwabajra, raja yang berhasil mempersatukan Janggala dan Panjalu, menahbiskan arca Mahaksobhya di Wurane. Gelar raja itu ialaha Krtanagara setelah ditahbiskan sebagai Jina (dhyani Buddha).

Prasasti Maribong (Trowulan II) (1264 M)
Menyebutkan bahwa pada tanggal 28 Agustus 1264 M Wisnuwardhana memberi tanda pemberian hak perdikan bagi desa Maribong.

Prasasti Canggu (Trowulan I)
Mengenai aturan dan ketentuan kedudukan hukum desa-desa di tepi sungai Brantas dan Solo yang menjadi tempat penyeberangan. Desa-desa itu diberi kedudukan perdikan dan bebas dari kewajiban membayar pajak, tetapi diwajibkan memberi semacam sumbangan untuk kepentingan upacara keagamaan dan diatur oleh Panji Margabhaya Ki Ajaran Rata, penguasa tempat penyeberangan di Canggu, dan Panji Angrak saji Ki Ajaran Ragi, penguasa tempat penyeberangan di Terung (taken from here).

Malayapura

Agak memalukan memang, tapi untuk pertama kalinya aku membaca nama “Malayapura”, pagi tadi.

Saat ini aku agak demam dan flu. Mata yang sedikir berair membuatku berpikir aku salah baca. Namun setelah agak melotot, ternyata benar.. nama yang aku baca adalah “Malayapura”. Hmm, menarik!

Malayapura merupakan salah satu dari kata-kata yang dipahatkan pada Arca Amoghapasa oleh Adityawarman pada tahun 1347. Dari kaitan terjemahan teks dari manuskrip tersebut, Malayapura dirujuk menjadi nama kerajaan Melayu yang diproklamirkan oleh Adityawarman diDharmasraya. Dalam perjalanan sejarah kerajaan ini, Adityawarman kemudian memindahkan ibukotanya ke daerah pedalaman Minangkabau yang kemudian dikenal juga dengan kerajaan Pagaruyung. Arca Amoghapasa, adalah sebuah patung batu yang menggambarkan Amoghapasa, suatu pengejawantahan boddisatwa Awalokiteswara, dan Adityawarman menyatakan bahwa patung ini melambangkan dirinya. Arca Amoghapasa ini sebelumnya merupakan hadiah dari Kertanagara, raja Singhasari, untuk Srimat Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa, raja Melayu di Dharmasraya. Berita ini tersebut dalam manuskrip yang terpahat dalam Prasasti Padang Roco yang merupakan alas dari Arca Amoghapasa. Arti kata Malayapura terbentuk dari dua kata malaya dan pura, malaya identik dengan melayu sedangkan pura bermakna kota atau kerajaan, sehingga jika digabungkan bermakna Kota Melayu atau Kerajaan Melayu (taken from here).

Dan setelah membaca penjelasan singkat dari Wikipedia, ada satu kalimat yang menarik:

Arca Amoghapasa, adalah sebuah patung batu yang menggambarkan Amoghapasa, suatu pengejawantahan boddisatwa Awalokiteswara, dan Adityawarman menyatakan bahwa patung ini melambangkan dirinya. Arca Amoghapasa ini sebelumnya merupakan hadiah dari Kertanagara, raja Singhasari, untuk Srimat Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa, raja Melayu di Dharmasraya (taken from here).

Wow, aku teringat akan sebuah arca luar biasa yang aku temui di Museum Gajah. Aku ingat betul arca itu karena pahatannya indah dengan detail menawan yang khas. Setelah aku dekati, ternyata arca itu buatan era Singhasari (yang memang terkenal jago memahat) dan diberikan sebagai hadiah kepada seorang raja yang tidak aku ingat namanya. Tunggu, aku bongkar dulu external HD-ku deh.

Nah, ini dia fotonya:

P1110402 copy

Hauhauaha *lega, bisa nemuin fotonya!* dan ini keterangannya:

P1110401 copy

Untung, aku foto tuh arca. Dan kini, saatnya menggali lebih banyak informasi mengenai Malayapura :).

How the Apostles Died

HOW THE APOSTLES DIED

1. Matthew
Suffered martyrdom in Ethiopia, Killed by a sword wound.

2. Mark (not an apostle,but one of the first missionaries)
Died in Alexandria, Egypt , after being dragged by Horses through the streets until he was dead.

3. Luke ( not an apostle, but was Paul’s doctor)
Was hanged in Greece as a result of his tremendous Preaching to the lost.

4. John
Faced martyrdom when he was boiled in huge Basin of boiling oil during a wave of persecution In Rome. However, he was miraculously delivered From death. John was then sentenced to the mines on the prison Island of Patmos. He wrote his prophetic Book of Revelation on Patmos . The apostle John was later freed and returned to serve As Bishop of Edessa in modern Turkey. He died as an old man, the only apostle to die peacefully

5. Peter
He was crucified upside down on an x-shaped cross. According to church tradition it was because he told his tormentors that he felt unworthy to die In the same way that Jesus Christ had died.

6. James
The leader of the church in Jerusalem , was thrown over a hundred feet down from the southeast pinnacle of the Temple when he refused to deny his faith in Christ. When they discovered that he survived the fall, his enemies beat James to death with a fuller’s club.
*This was the same pinnacle where Satan had taken Jesus during the Temptation*

7. James the Son of Zebedee
He was a fisherman by trade when Jesus Called him to a lifetime of ministry. As a strong leader of the church, James was ultimately beheaded at Jerusalem. The Roman officer who guarded James watched amazed as James defended his faith at his trial. Later, the officer Walked beside James to the place of execution. Overcome by conviction, he declared his new faith to the judge and Knelt beside James to accept beheading as a Christian.

8. Bartholomew
Also known as Nathaniel Was a missionary to Asia. He witnessed for our Lord in present day Turkey. Bartholomew was martyred for his preaching in Armenia where he was flayed to death by a whip.

9. Andrew
Was crucified on an x-shaped cross in Patras, Greece. After being whipped severely by seven soldiers they tied his body to the cross with cords to prolong his agony. His followers reported that, when he was led toward the cross, Andrew saluted it in these words: ‘I have long desired and expected this happy hour. The cross has been consecrated by the body of Christ hanging on it.’ He continued to preach to his tormentors For two days until he expired.

10. Thomas
Was stabbed with a spear in India during one of his missionary trips to establish the church in the Sub-continent.

11. Jude
Was killed with arrows when he refused to deny his faith in Christ.

12. Matthias
The apostle chosen to replace the traitor Judas Iscariot, was stoned and then beheaded.

13. Paul
Was tortured and then beheaded by the evil Emperor Nero at Rome in A.D. 67. Paul endured a lengthy imprisonment, which allowed him to write his many epistles to the churches he had formed throughout the Roman Empire. These letters, which taught many of the foundational Doctrines of Christianity, form a large portion of the New Testament.

14. Simon the Zealot
Simon was traditionally martyred by being sawn in half.

15. Philip
Philip evangelized in Phrygia where hostile Jews had him tortured and then crucified upside down. Some sources have him being stoned

This site is protected by wp-copyrightpro.com